Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN

MASALAH ETIK MORAL DALAM PRAKTIK KEBIDANAN

TINGKAT II C

CICI WULANDARI

(13211458)

DESFITA PUTRI

(13211459)

MERI JUWITA FITRI

(13211475)

WITA SURVINA SARI

(13211507)

ZESRANITA YASMI

(13211512)

DOSEN PEMBIMBING :
NUR FADJRI NILAKESUMA, S.Keb. Bd.

PRODI D III KEBIDANAN

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG


TA : 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin dan
ridho-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang Masalah Etik Moral Dalam
Praktik Kebidanan ini dengan baik. Makalah ini disusun sebagai tugas Mata Kuliah Etika
Profesi Dan Hukum Kesehatan.
Adapun makalah ini disusun untuk menambah pengetahuan kita semua tentang
bagaimana masalah etik moral yang mungkin terjadi dalam praktik bidan, langkah-langkah
penyelesaian masalah, penggunaan informed choice dan informed consent dalam praktik
kebidanan.
Tak lupa kami sebagai penyusun mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing,
yaitu ibu Nur Fadjri Nilakesuma, S.Keb. Bd,. karena telah membimbing kami untuk menyusun
makalah sederhana ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan
kelemahannya serta jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya, kami sebagai penyusun sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.

Padang, 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 1


DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3
BAB I .............................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 4
1.

Latar Belakang ......................................................................................................................... 4

2.

Permasalahan ........................................................................................................................... 5

3.

Tujuan ...................................................................................................................................... 5

BAB II............................................................................................................................................. 6
PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 6
MASALAH MASALAH ETIK MORAL DALAM PRAKTEK KEBIDANAN ....................... 7
1.

Masalah-Masalah Etik Moral Yang Mungkin Terjadi Dalam Praktik Kebidanan .................. 7

2.

Langkah-Langkah Penyelesaian Masalah ............................................................................... 8

3.

Informed Choice ...................................................................................................................... 8

a.

Pilihan dapat diperluas dan menghindari konflik .................................................................... 9

b.

Beberapa jenis pelayanan yang dapat dipilih klien ................................................................. 9

4.

Informed Consent .................................................................................................................. 10

a.

Dimensi Informed Consent .................................................................................................... 10

b.

Syarat sahnya perjanjian atau consent ................................................................................... 11

c.

Segi Hukum Informed Consent ............................................................................................. 12

d.

Masalah yang lazim terjadi pada informed consent .............................................................. 13

BAB III ......................................................................................................................................... 14


PENUTUP..................................................................................................................................... 14
1.

Kesimpulan ............................................................................................................................ 14

2.

Saran ...................................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 15

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Fungsi pengetahuan etik bagi bidan adalah memberikan bantuan yang positif bagi
bidan untuk menghindarkan dari prasangka dalam melakukan pekerjaannya. Etik memliki
dimensi kode etik, yaitu : anggota profesi & klien, anggota profesi & sistem kesehatan,
anggota profesi & profesi kesehatan, sesama anggota profesi.
Kode etik merupakan suatu pernyataan komprehensif profesi yang memberikan
tuntunan bagi bidan untuk melaksanakan praktek kebidanan baik yang berhubungan
dengan klien, keluarga masyarakat, teman sejawat, profesi dan dirinya sendiri.
Kode etik memiliki prinsip, yaitu :

Menghargai otonomi

Melakukan tindakan yang benar

Mencegah tindakan yang dapat merugikan

Memperlakukan manusia secara adil

Menjelaskan dengan benar

Menepati janji yang telah disepakati

Menjaga kerahasiaan

Kode etik suatu profesi adalah berupa norma-norma yang harus diindahkan oleh
setiap anggota profesi yang bersangkutan di dalam melaksanakan tugas profesinya dan
dalam hidupnya di masyarakat.
Norma-norma tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi anggota profesi tentang
bagaimana mereka harus menjalankan profesinya dan larangan-larangan, yaitu ketentuan
tentang apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat oleh anggota profesi, tidak saja dalam
menjalankan tugas profesinya, melainkan juga menyangkut tingkah laku pada umumnya
dalam pergaulan sehari-hari di dalam masyarakat.

Kode etik memiliki tujuan, yaitu menjunjung tinggi martabat dan citra profesi,
menjaga & memelihara kesejahteraan para anggota, meningkatkan pengabdian para
anggota profesi dan meningkatkan mutu profesi.

2. Permasalahan
a. Bagaimana masalah-masalah etik moral yang mungkin terjadi dalam praktik bidan ?
b. Bagaimana langkah-langkah penyelesaian masalah dalam praktik kebidanan ?
c. Apa itu informed choice ?
d. Apa itu informed consent ?

3. Tujuan
a. Mahasiswa mampu mengenali masalah-masalah etik moral yang mungkin terjadi
dalam praktik kebidanan.
b. Mahasiswa mampu mengetahui dan mengenali langkah-langkah penyelesaian
masalah dalam praktik kebidanan.
c. Mahasiswa mampu mengetahui tentang informed choice.
d. Mahasiswa mampu mengetahui tentang informed consent.

BAB II
PEMBAHASAN
Etik sebagai filsafat moral, mencari jawaban untuk menentukan serta mempertahankan
secara rasional teori yang berlaku tentang benar salah, baik buruk, yang secara umum dipakai
sebagai suatu perangkat prinsip moral yang menjadi pedoman suatu tindakan.
Bidan dihadapkan pada dilema etik; membuat keputusan dan bertindak didasarkan atas
keputusan yang dibuat berdasarkan intuisi;
mereflekasikan pada pengalamannya atau
pengalaman rekan kerjanya.
Terdapat 4 prinsip etika yg umumnya digunakan dalam praktek kebidanan :

Autonomy
Memperhatikan penguasaan diri, hak akan kebebasan & pilihan individu.

Beneficence
Memperhatikan peningkatan kesejahteraan klien berbuat yg terbaik untuk
orang lain.

Non Malefecence
Menimbulkan kerugian untuk orang lain dan jangan membuat kerugian.

Justice
Memperhatikan keadilan & keuntungan.

MASALAH MASALAH ETIK MORAL DALAM PRAKTEK KEBIDANAN

1. Masalah-Masalah Etik Moral Yang Mungkin Terjadi Dalam Praktik Kebidanan


Bidan harus memahami dan mengerti situasi etik moral, yaitu :
a. Untuk melakukan tindakan yang tepat dan berguna
b. Untuk mengetahui masalah yang perlu diperhatikan
c. Kesulitan dalam mengatasi situasi :
Kerumitan situasi dan keterbatasan pengetahuan bidan.
Pengertian bidan terhadap situasi sering diperbarui oleh kepentingan,
prasangka, dan faktor-faktor subyektif lain.
Masalah etik moral yang mungkin terjadi :
a. Tuntutan bahwa etik adalah hal penting dalam kebidanan karena :
Bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat
Bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil
b. Untuk dapat menjalankan praktik kebidanan dengan baik dibutuhkan :
Pengetahuan klinik yang baik
Pengetahuan yang up to date
Memahami issue etik dalam pelayanan kebidanan
c. Harapan bidan dimasa depan :
Bidan dikatakan profesional, apabila menerapkan etika dalam
menjalankan praktik kebidanan (Daryl Koehn ,Ground of Profesional
Ethis,1994)
Dengan memahami peran bidan, yaitu tanggung jawab profesionalisme
terhadap patien atau klien akan meningkat.
Bidan berada dalam posisi baik, yaitu memfasilitasi klien dan
membutuhkan

peningkatan

pengetahuan

tentang

etika

untuk

menerapkan dalam strategi praktik kebidanan

2. Langkah-Langkah Penyelesaian Masalah


a. Melakukan penyelidikan yang memadai.
b. Menggunakan sarana ilmiah dan keterangan para ahli.
c. Memperluas pandangan tentang situasi.
d. Kepekaan terhadap pekerjaan.
e. Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.

3. Informed Choice
Informed choice adalah membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang
alternatif asuhan yang akan dialaminya.
Menurut kode etik kebidanan internasionl (1993) bidan harus menghormati hak
informed choice ibu dan meningkatkan penerimaan ibu tentang pilihan dalam asuhan dan
tanggungjawabnya terhadap hasil dari pilihannya.
Definisi informasi dalam konteks ini meliputi : informasi yang sudah lengkap
diberikan dan dipahami ibu, tentang pemahaman resiko, manfaat, keuntungan dan
kemungkinan hasil dari tiap pilihannya.
Pilihan (choice) berbeda dengan persetujuan (consent) :
Persetujuan atau consent penting dari sudut pandang bidan karena
berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua
prosedur yang akan dilakukan bidan.
Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa
asuhan kebidanan, yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang
sesungguhnya dan menerapkan aspek otonomi pribadi menentukan
pilihannya sendiri.

a. Pilihan dapat diperluas dan menghindari konflik


Memberi informai yang lengkap pada ibu, informasi yang jujur, tidak bias dan
dapat dipahami oleh ibu, menggunakan alternatif media ataupun yang lain, sebaiknya
tatap muka.
Bidan dan tenaga kesehatan lain perlu belajar untuk membantu ibu menggunakan
haknya dan menerima tanggungjawab keputusan yang diambil.
Hal ini dapat diterima secara etika dan menjamin bahwa tenaga kesehatan sudah
memberikan asuhan yang terbaik dan memastikan ibu sudah diberikan informasi yang
lengkap tentang dampak dari keputusan mereka.
Untuk pemegang kebijakan pelayanan kesehatan perlu merencanakan,
mengembangkan sumber daya, memonitor perkembangan protokol dan petunjuk teknis
baik di tingkat daerah, propinsi untuk semua kelompok tenaga pemberi pelayanan bagi
ibu.
Menjaga fokus asuhan pada ibu dan evidence based, diharapkan konflik dapat
ditekan serendah mungkin
Tidak perlu takut akan konflik tetapi mengganggapnya sebagai sutu kesempatan
untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang obyektif bermitra dengan
wanita dari sistem asuhan dan tekanan positif pada perubahan.

b. Beberapa jenis pelayanan yang dapat dipilih klien


Bentuk pemeriksaan ANC dan skrining laboratorium ANC.
Tempat melahirkan.
Masuk ke kamar bersalin pada tahap awal persalinan.
Di dampingi waktu melahirkan.
Metode monitor DJJ.
Augmentasi, stimulasi, induksi.
Mobilisasi atau posisi saat persalinan.
Pemakaian analgesia.
Episiotomi.
Pemecahan ketuban.
Penolong persalinan.
Keterlibatan suami pada waktu melahirkan.
Teknik pemberian minuman pada bayi.
Metode kontrasepsi.

4. Informed Consent
Pesetujuan yang diberikan pasien atau walinya yang berhak terhadap bidan, untuk
melakukan suatu tindakan kebidanan kepada pasien setelah memperoleh informasi
lengkap dan dipahami mengenai tindakan yang akan dilakukan. Informed consent
merupakan suatu proses. Secara hukum informed consent berlaku sejak tahun 1981 PP
No.8 tahun 1981.
Informed consent bukan hanya suatu formulir atau selembar kertas, tetapi bukti
jaminan informed consent telah terjadi. Merupakan dialog antara bidan dan pasien di
dasari keterbukaan akal pikiran, dengan bentuk birokratisasi penandatanganan formulir.
Informed consent berarti pernyataan kesediaan atau pernyataan setelah mendapat
informasi secukupnya sehingga setelah mendapat informasi sehingga yang diberi
informasi sudah cukup mengerti akan segala akibat dari tindakan yang akan dilakukan
terhadapnya sebelum ia mengambil keputusan.
Berperan dalam mencegah konflik etik tetapi tidak mengatasi masalah etik,
tuntutan, pada intinya adalah bidan harus berbuat yang terbaik bagi pasien atau klien.

a. Dimensi Informed Consent


Dimensi hukum, merupakan perlindungan terhadap bidan yang
berperilaku memaksakan kehendak, memuat :
o Keterbukaan informasi antara bidan dengan pasien.
o Informasi yang diberikan harus dimengerti pasien.
o Memberi kesempatan pasien untuk memperoleh yang terbaik.
Dimensi Etik, mengandung nilai nilai :
o Menghargai otonomi pasien.
o Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila
diminta atau dibutuhkan.
o Bidan menggali keinginan pasien baik secara subyektif atau
hasil pemikiran rasional.

10

b. Syarat sahnya perjanjian atau consent


Adanya kata sepakat
Sepakat dari pihak bidan maupun klien tanpa paksaan, tipuan maupun
kekeliruan setelah diberi informasi sejelas jelasnya.
Kecakapan
Artinya seseorang memiliki kecakapan memberikan persetujuan, jika
orang itu mampu melakukan tindakan hukum, dewasa dan tidak gila.
Bila pasien seorang anak, yang berhak memberikan persetujuan adalah
orangtuanya, pasien dalam keadaan sakit tidak dapat berpikir
sempurna sehingga ia tidak dapat memberikan persetujuan untuk
dirinya sendiri, seandainya dalam keadaan terpaksa tidak ada
keluarganya dan persetujuan diberikan oleh pasien sendiri dan bidan
gagal dalam melakukan tindaknnya maka persetujuan tersebut
dianggap tidak sah.
Contoh : Bila ibu dalam keadaan inpartu mengalami kesakitan hebat,
maka ia tidak dapat berpikir dengan baik, maka persetujuan tindakan
bidan dapat diberikan oleh suaminya, bila tidak ada keluarga atau
suaminya dan bidan memaksa ibu untuk memberikan persetujuan
melakukan tindakan dan pada saat pelaksanaan tindakan tersebut
gagal, maka persetujuan dianggap tidak sah.
Suatu hal tertentu
Obyek persetujuan antara bidan dan pasien harus disebutkan dengan
jelas dan terinci.
Contoh : Dalam persetujuan ditulis dengan jelas identitas pasien
meliputi nama, jenis kelamin, alamat, nama suami, atau wali.
Kemudian yang terpenting harus dilampirkan identitas yang membuat
persetujuan.

11

Suatu sebab yang bertentangan dengan UU


Isi persetujuan tidak boleh bertentangan dengan undang undang, tata
tertib, kesusilaan, norma dan hukum.
Contoh : abortus provokatus pada seorang pasien oleh bidan, meskipun
mendapatkan persetujuan si pasien dan persetujuan telah disepakati
kedua belah pihak tetapi dianggap tidak sah sehingga dapat dibatalkan
demi hukum.

c. Segi Hukum Informed Consent


Pernyataan dalam informed consent menyatakan kehendak kedua belah
pihak, yaitu pasien menyatakan setuju atas tindakan yang dilakukan bidan dan
formulir persetujuan ditandatangani kedua belah pihak, maka persetujuan
tersebut mengikat dan tidak dapat dibatalkan oleh salah satu pihak.
Informed consent tidak meniadakan atau mencegah diadakannya tuntutan
dimuka pengadilan atau membebaskan Rumah Sakit atau Rumah Bersalin
terhadap tanggungjawabnya bila ada kelalaian. Hanya dapat digunakan
sebagai bukti tertulis adanya izin atau persetujuan dari pasien terhadap
diadakannya tindakan.
Formulir yang ditandatangani pasien atau wali pada umumnya berbunyi
segala akibat dari tindakan akan menjadi tanggung jawab pasien sendiri dan
tidak menjadi tanggung jawab bidan atau rumah bersalin. Rumusan tersebut
secara hukum tidak mempunyai kekuatan hukum, mengingat seseorang tidak
dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya atas kesalahan yang belum
dibuat.

12

d. Masalah yang lazim terjadi pada informed consent


Pengertian kemampuan secara hukum dari orang yang akan menjalani
tindakan, serta siapa yang berhak menandatangani.
Masalah wali yang sah, timbul apabila pasien atau ibu tidak mampu secara
hukum untuk menyatakan persetujuannya.
Masalah informasi yang diberikan, seberapa jauh informasi dianggap telah
dijelaskan dengan cukup jelas, tetapi juga tidak terlalu rinci sehingga
dianggap menakut nakuti.
Dalam memberikan informasi apakah diperlukan saksi, apabila diperlukan
apakah saksi perlu menanda tanagani form yang ada. Bagaimana menentukan
saksi?
Dalam keadaan darurat, misal kasus perdarahan pada bumil dan keluarga
belum bisa dihubungi, dalam keadaan begini siapa yang berhak memberikan
persetujuan, sementara pasien perlu segera ditolong.

13

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Etik sebagai filsafat moral, mencari jawaban untuk menentukan serta
mempertahankan secara rasional teori yang berlaku tentang benar salah, baik buruk, yang
secara umum dipakai sebagai suatu perangkat prinsip moral yang menjadi pedoman suatu
tindakan. Bidan dihadapkan pada dilema etik membuat keputusan dan bertindak
didasarkan atas keputusan yang dibuat berdasarkan intuisi mereflekasikan pada
pengalamannya atau pengalaman rekan kerjanya.

2. Saran
Bidan dituntut berperilaku hati-hati dalam setiap tindakan, dalam memberikan
asuhan kebidanan dengan menampilkan perilaku yang ethis dan profesional sehingga,
tidak merugikan diri sendiri dan klien.

14

DAFTAR PUSTAKA
Setiawan, SH, M.Kes, 2010, Kumpulan Naskah Etika Kebidanan dan Hukum
Kesehatan, Trans Info Media, Jakarta.
http://modulkesehatan.blogspot.com/2012/12/teori-teori-yang-mendasari
pengambilan.html

15