Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DITINJAU DARI LIKUIDITAS,


SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS DI PT INDUSTRI JAMU DAN
FARMASI SIDO MUNCUL Tbk.
(PERIODE 2012-2013)
Diajukan sebagai salah satu bagian tugas mata kuliah Kuliah Lapangan

Oleh: Dessy Natalia


142110164

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UPN VETERAN YOGYAKARTA
JUNI 2014

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DITINJAU DARI LIKUIDITAS,


SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS DI PT INDUSTRI JAMU DAN
FARMASI SIDO MUNCUL Tbk.
(PERIODE 2012-2013)

Oleh: Dessy Natalia


142110164

Disetujui dan disahkan sebagai


Laporan Kuliah Lapangan

Yogyakarta, 18 Juni 2014

Dosen pembimbing,

Sri Hastuti, S.E., M.Si., Ak., CA


NPY: 2 7905 11 0303 1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan laporan kuliah lapangan tentang
ANALISIS

KINERJA

KEUANGAN

DITINJAU

DARI

LIKUIDITAS,

SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS DI PT INDUSTRI JAMU DAN


FARMASI SIDO MUNCUL Tbk. (PERIODE 2012-2013) dengan baik.
Laporan ini saya buat dengan tujuan untuk memberikan wawasan bagi para
pembaca dari sisi pemilik perusahaan maupun

investor tentang apa saja cara

penilaian kinerja dari suatu perusahaan, khususnya pada PT Industri Jamu dan
Farmasi Sido Muncul Tbk. Selain itu, laporan ini saya buat untuk memenuhi salah
satu syarat memperoleh nilai dalam mata kuliah Kuliah Lapangan yang ada di
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sri Hastuti selaku dosen
pembimbing dari mata kuliah ini, serta seluruh pihak yang sudah membantu dan
memberikan masukan untuk penyelesaian laporan ini. Terbatasnya pengetahuan dan
sempitnya waktu yang diberikan mungkin menjadikan laporan ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini.
Sebagai penutup, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga
pembaca. Terima kasih.

Yogyakarta, Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................ii
KATA PENGANTAR .............................................................................................iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iv
DAFTAR TABEL .................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 3
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 3
1.4 Manfaat ................................................................................................... 4
BAB II PENDEKATAN MASALAH ...................................................................... 5
2.1 Teori ........................................................................................................ 5
2.1.1 Analisis Rasio ............................................................................... 5
2.2 Gambaran Umum Perusahaan ............................................................... 19
2.2.1 Profil Perusahaan ........................................................................ 19
2.2.1.1 Bidang dan Kegiatan Usaha .......................................... 21
2.2.2 Visi dan Misi Perusahaan ........................................................... 22
2.2.2.1 Visi ................................................................................ 22
2.2.2.2 Misi ............................................................................... 22
2.2.3 Struktur Organisasi Perusahaan .................................................. 23
2.3 Pembahasan dan Deskripsi Data ........................................................... 24
2.3.1 Perhitungan Analisis Rasio ......................................................... 24
4

BAB III PENUTUP ................................................................................................ 32


3.1 Simpulan ................................................................................................. 32
3.2 Saran ....................................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 33


LAMPIRAN ............................................................................................................ 35

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 .................................................................................................................. 24


Tabel 2.2 .................................................................................................................. 25
Tabel 2.3 .................................................................................................................. 25
Tabel 2.4 .................................................................................................................. 26
Tabel 2.5 .................................................................................................................. 26
Tabel 2.6 .................................................................................................................. 27
Tabel 2.7 .................................................................................................................. 27
Tabel 2.8 .................................................................................................................. 28
Tabel 2.9 .................................................................................................................. 28
Tabel 2.10 ................................................................................................................ 29
Tabel 2.11 ................................................................................................................ 30
Tabel 2.12 ................................................................................................................ 30
Tabel 2.13 ................................................................................................................ 31

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kuliah Lapangan adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa Strata 1
(S1) Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta.Jumlah
SKS adalah sebanyak 2 SKS dengan prasyarat jumlah SKS yang telah
ditempuh sebanyak 100 SKS.
Kuliah Lapangan dilaksanakan di tiga perusahaan di kotaSemarang
yang dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 Mei 2014, dimana dua perusahaan
bergerak di bidang produksi obat herbal (jamu) dan satu perusahaan lainnya
bergerak di bidang produksi berbagai olahan dari susu sapi. Dua perusahaan
yang bergerak di bidang produksi obat herbal adalah PTIndustri Jamu dan
Farmasi Sido Muncul Tbk.dan PTNyonya Meneer, sedangkan perusahaan
yang bergerak di bidang produksi berbagai olahan dari susu sapi adalah PT
Cimory (Cisarua Montain Diary).
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. bermula dari sebuah
industri rumah tangga pada tahun 1940, dikelola oleh Ibu Rahkmat Sulistio di
Yogyakarta, dan dibantu oleh tiga orang karyawan.Banyaknya permintaan
terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi
jamu dalam bentuk yang praktis (serbuk). Seiring dengan kemajuan usaha
tersebut, maka pada tahun 1951 didirikan perusahan sederhana dengan nama
Sido Muncul yang berarti "Impian yang Terwujud" dengan lokasi di Jl.
Mlaten Trenggulun, Semarang.Dengan produk pertama dan andalan adalah
Jamu Tolak Angin, produk jamu buatan Ibu Rakhmat mulai mendapat tempat
di hati masyarakat sekitar dan permintaannya pun selalu meningkat. Dalam
perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten Trenggulun ternyata
tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan
pasar yang terus meningkat, dan di tahun 1984 pabrik dipindahkan ke

Lingkungan Industri Kecil di Jl. Kaligawe, Semarang. Saat ini PT Sido


Muncul didukung lebih dari 2000 karyawan dengan tingkat pendidikan
bervariasi dan ditempatkan sesuai dengan keahlian, kemampuan dan
kapasitasnya masing-masing.Sebagai pendukung, PTSido Muncul juga
memiliki tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti biologi, ekonomi,
farmasi, pertanian, hukum, teknologi pangan, teknik kimia, teknik elektro, dll.
Ibu Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah
dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Pada masa
pendudukan Belanda tahun 1900an, di masa-masa penuh keprihatinan dan
sulit itu suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia.Ibu
Meneer mencoba meramu jamuJawa yang diajarkan orang tuanya dan
suaminya sembuh.Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu
Jawa untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar
yang membutuhkan.Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan
jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab
dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha
keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar.Pada tahun 1919
atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneeryang
kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di
Indonesia.Selain mendirikan pabrik, Nyonya Meneer juga membuka toko di
Jalan Pedamaran 92, Semarang.Perusahaan keluarga ini terus berkembang
dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar.
PT Cisarua Mountain Dairy didirikan pada tanggal 30 September 2005
oleh Bapak Bambang Sutantio.Pada saat awal didirikan produksi belum mulai
berjalan tetapi baru dimulai pada tanggal 6 Februari 2006.Perusahaan ini
selain bertujuan komersil, juga bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat
sekitarnya, khususnya para peternak sapi perah. Salah satu contohnya,
membeli hasil susu perahan dari peternak sapi perah dengan harga yang lebih
tinggi bila dibandingkan harga eceran yang biasa. Untuk perencanaan jangka
8

panjang perusahaan mengharapkan adanya pemberdayaan para peternak sapi


perah di daerah sekitar sehingga membuka lapangan pekerjaan dan
terbentuknya kemandirian para peternak sapi perah sehingga dapat terus
menghasilkan susu sapi segar yang berkualitas. Jadi, dengan terjalinnya kerja
sama antara PT Cisarua Mountain Dairy dan para peternak sapi di daerah
Cisarua dan sekitarnya, industri susu segar lokal akan terus bertahan dan
berkembang.
Dari ketiga perusahaan diatas, penulis memutuskan untuk melakukan
penelitian lebih dalam di PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
khususnya dalam hal analisis kinerja keuangan ditinjau dari likuiditas,
solvabilitas, dan profitabilitas pada periode 2012-2013.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi masalah pokok
dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kinerja keuangan pada perusahaan
PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012-2013 ditinjau
dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas?

1.3

Tujuan
Berdasarkan masalah pokok dalam penelitian ini, tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis/mengetahui kinerja keuangan pada
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012-2013 ditinjau
dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas,dan rasio profitabilitas.

1.4

Manfaat
a. Bagi Perusahaan
1. Membantu memberikan masukan kepada manajemen dalam menilai
kinerja keuangan yang telah dicapai.

2. Digunakan

sebagai

bahan

pertimbangan

manajemen

dalam

pengambilan keputusan mengenai bidang keuangan perusahaan


sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
b. Bagi Mahasiswa
Memberikan pembelajaran bagi mahasiswa dalam menganalisis laporan
keuangan sebuah perusahaan.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan acuan atau referensi bagi penelitian selanjutnya yang
meneliti mengenai penilaian atas kinerja perusahaan dengan menggunakan
analisis laporan keuangan pada suatu perusahaan.

10

BAB II
PENDEKATAN MASALAH
2.1 Teori
Menurut Sundjaja, dkk. (2010: 173), ukuran kinerja dapat dianalisis dalam
lima kelompok, yaitu:
1) Rasio Likuiditas
2) Rasio Aktivitas
3) Rasio Hutang
4) Rasio Profitabilitas
5) Rasio Pasar
Analisis laporan keuangan akan lebih tajam apabila angka-angka
keuangan dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut dapat berupa
standar internal yang ditetapkan oleh manajemen, perbandingan historis atau
membandingkan angka-angka keuangan dengan angka-angka masa sebelumnya,
pembandingan dengan perusahaan atau industri sejenis. Tanpa pembandingan,
tidak akan diketahui apakah kinerja suatu perusahaan menunjukkan perbaikan
atau sebaliknya menunjukkan penurunan.

2.1.1

Analisis Rasio
Menurut Munawir (2004: 37), analisis rasio adalah suatu metode
analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau
laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan
tersebut.Menurut Hanafi (2005:77), analisis rasio adalah penggabungan yang
menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam
laporan keuangan, hubungan antara unsur laporan tersebut dinyatakan dalam
bentuk matematis yang sederhana.
Analisis rasio merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan
dalam analisis laporan keuangan dengan kata lain diantara alat-alat analisis
yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan suatu
11

perusahaan di bidang keuangan adalah analisis rasio keuangan (Financial


Ratio Analysis).
Menurut Keown, dkk. (2002:60), tujuan dari analisis rasio adalah
untuk membantu manager finansial memahami apa yang perlu dilakukan oleh
perusahaan, berdasarkan informasi yang tersedia dan sifatnya terbatas.
Analisis rasio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern
perusahaan saja melainkan juga pihak luar dan ini berbeda menurut
kepentingan khusus dari analisis atau pihak yang berkepentingan.
Analisis rasio berguna bagi para analisis intern untuk membantu
manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasil operasinya, memperbaiki
kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan
kesulitan keuangan.

1) Analisis Rasio Likuiditas


Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan
perusahaanmembayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat
jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.Likuiditas tidak
hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi
juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu
menjadi uang kas.
Riyanto (2008:25) menyatakan bahwa likuiditas adalah masalah yang
berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi
kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.Suatu perusahaan yang
mempunyai alat-alat likuid sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi
segala kewajiban finansialnya yang segera harus terpenuhi, dikatakan bahwa
perusahaan tersebut likuid, dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak
mempunyai alat-alat likuid yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban
finansialnya yang segera harus terpenuhi dikatakan perusahaan tersebut
insolvable.

12

Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan


memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui
sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang
lancar. Dengan demikian rasio likuiditas berpengaruh dengan kinerja
keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga
saham perusahaan.
a) Current Ratio (Rasio Lancar)
Current ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan
kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk
mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka
pendeknya.Current ratio menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi
kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dan kewajiban
lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka
pendeknya.
Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya
masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga
kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada
akhirnya

dapat

mengurangi

kemampulabaan

perusahaan

(Sawir,

2009:10).Apabila mengukur tingkat likuiditas dengan menggunakan current


ratio sebagai alat pengukurnya, maka tingkat likuiditas atau current ratio
suatu perusahaan dapat dipertinggi dengan cara (Riyanto, 2001:28):
1. Dengan utang lancar tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva
lancar.
2. Dengan aktiva lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi jumlah
utang lancar.
3. Dengan mengurangi jumlah utang lancar sama-sama dengan
mengurangi aktiva lancar.

13

Current ratio dapat dihitung dengan formula:

b) Quick Ratio (Rasio Cepat)


Rasio ini disebut juga acid test rasio yang juga digunakan untuk
mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya.Penghitungan quick ratio dengan mengurangkan aktiva lancar
dengan persediaan.
Hal ini dikarenakan persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang
likuiditasnya rendah dan sering mengalami fluktuasi harga serta menimbulkan
kerugian jika terjadi likuiditas. Jadi rasio ini merupakan rasio yang
menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi
hutang lancar.
Sawir (2009:10) mengatakan bahwa quick ratio umumnya dianggap
baik adalah semakin besar rasio ini maka semakin baik kondisi perusahaan.
Quick ratio dapat dihitung dengan formula:

c) Cash Ratio (Rasio Kas)


Rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan posisi kas yang dapat
menutupi hutang lancar dengan kata laincash ratio merupakan rasio yang
menggambarkan kemampuan kas yang dimiliki dalam manajemen kewajiban
lancar tahun yang bersangkutan.
Cash ratio dapat dihitung dengan formula:

14

d) Modal Kerja Bersih (Net Working Capital)/NPW


Menurut Wasis (1991, p.63), modal kerja adalah dana yang
ditanamkan dalam aktiva lancar, oleh karena itu dapat berupa kas, piutang,
surat-surat berharga, persediaan dan lain-lain. Modal kerja bruto adalah
keseluruhan dari aktiva/harta lancar yang terdapat dalam sisi debet neraca.
Modal kerja bersih adalah keseluruhan harta lancar dikurangi utang lancar.
Dengan perkataan lain modal kerja bersih adalah selisih antara aktiva lancar
dikurangi dengan hutang lancar.
Modal Kerja Bersih dapat dihitung dengan formula:

2) Analisis Rasio Aktivitas


Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif
perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya.
Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan
dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Rasio-rasio aktivitas menganggap
bahwa sebaiknya terdapat keseimbangan yang layak antara penjualan dan
berbagai unsur aktiva misalnya persediaan, aktiva tetap dan aktiva lainnya.
Aktiva

yang

rendah

pada

tingkat

penjualan

tertentu

akan

mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva


tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva
lain yang lebih produktif. Yang termasuk ke dalam rasio aktivitas adalah
sebagai berikut:

a) Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)


Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam
dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari
inventory dan tendensi untuk adanya overstock (Riyanto, 2008:334).Rasio
perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang

15

dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup populer untuk menilai
efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen
mengontrol modal yang ada pada persediaan.
Rasio perputaran persediaan dihitung dengan formula:

b) Perputaran Piutang
Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan
yang erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu
pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang
tersebut yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan piutang
rata-rata.
Perputaran piutang dapat diukur dengan rumus:

c) Rata-Rata Periode Tagih


Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk menagih
piutang. Rasio tersebut bermanfaat untuk mengevaluasi kebijakan pinjaman
dan kebijakan penagihan.
Rata-rata periode tagih dapat diukur dengan rumus:

d) Rata-Rata Periode Bayar


Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk membayar
hutang usaha. Rata-rata periode bayar dapat diukur dengan rumus:
16

e) Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover)


Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva
tetap.Fixed assets turnover mengukur efektivitas penggunaan dana yang
tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka
menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan
oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap (Sawir, 2003:17).
Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan
menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan.
Kalau perputarannya lambat (rendah), kemungkinan terdapat kapasitas terlalu
besar atau ada banyak aktiva tetap namun kurang bermanfaat, atau mungkin
disebabkan hal-hal lain seperti investasi pada aktiva tetap yang berlebihan
dibandingkan dengan nilai output yang akan diperoleh. Jadi semakin tinggi
rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut.
Perputaran aktiva tetap dihitung dengan rumus:

f) Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover)


Total assets turnover merupakan perbandingan antara penjualan
dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan
kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu.Total assets
turnover merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan
keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu
(Syamsuddin, 2009:19).
Total assets turnover merupakan rasio yang menggambarkan
perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini

17

semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih
laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam
menghasilkan penjualan. Dengan kata lain jumlah aset yang sama dapat
memperbesar volume penjualan apabila assets turnover nya ditingkatkan atau
diperbesar.
Total assets turnover ini penting bagi para kreditur dan pemilik
perusahaan, tapi akan lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena
hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya penggunaan seluruh aktiva dalam
perusahaan.
Perputaran total aktiva dihitung sebagai berikut:

3) Analisis Rasio Hutang


Menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
finansial baik jangka waktu pendek atau panjang apabila sekiranya perusahaan
dilikuidasi.Suatu perusahaan yang solvable berarti bahwa perusahaan tersebut
mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutanghutangnya begitu pula sebaliknya perusahaan yang tidak mempunyai
kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya disebut perusahaan
yang insolvable. Rasio hutang terdiri dari:
a) Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio atau Ratio
Leverage)
Menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi
hutang-hutang pada pihak luar dan digunakan untuk mengukur hingga sejauh
mana perusahaan dibiayai oleh hutang.Struktur modal adalah pembelanjaan
permanen dimana mencerminkan pengimbangan antara hutang jangka panjang
dan modal sendiri.Modal sendiri adalah modal yang berasal dari perusahaan
itu sendiri (cadangan, laba) atau berasal dari mengambil bagian, peserta, atau
pemilik (modal saham, modal peserta dan lain-lain) (Riyanto, 2008:22).
18

Jadi dapat disimpulkan bahwa debt to equity ratio merupakan


perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan hutang jangka panjang)
dan modal yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajibannya dengan menggunakan modal yang ada.
Rasio hutang modal dihitung dengan formula:

Menurut Syafri (2008:303) semakin kecil rasio hutang modal maka


semakin baik dan untuk keamanan pihak luar rasio terbaik jika jumlah modal
lebih besar dari jumlah hutang atau minimal sama.
b) Rasio Hutang (Debt Ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara total hutang dengan total
aktiva. Sehingga rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi
oleh aktiva. Menurut Sawir (2008:13) debt ratio merupakan rasio yang
memperlihatkan proposi antara kewajiban yang dimiliki dan seluruh kekayaan
yang dimiliki.
Rasio ini dihitung dengan rumus:

Apabila debt ratio semakin tinggi, sementara proporsi total aktiva


tidak berubah maka hutang yang dimiliki perusahaan semakin besar. Total
hutang semakin besar berarti rasio financial atau rasio kegagalan perusahaan
untuk mengembalikan pinjaman semakin tinggi.
Dan sebaliknya apabila debt ratio semakin kecil maka hutang yang
dimiliki perusahaan juga akan semakin kecil dan ini berarti risiko financial
perusahaan mengembalikan pinjaman juga semakin kecil.

19

c) Times Interest Earned / Coverage Ratio (Rasio Penutupan)


Times interest earned merupakan perbandingan antara laba bersih
sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga dan merupakan rasio yang
mencerminkan besarnya jaminan keuangan untuk membayar bunga utang
jangka panjang.Sawir (2008: 14) mengatakan bahwa rasio ini juga disebut
dengan rasio penutupan (coverage ratio), yang mengukur kemampuan
pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT) dan
mengukur sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan
kegagalan dari pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman.
Time Interest Earned dapat dihitung dengan rumus:

Jadi rasio hutang merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi


semua kewajibannya, untuk melunasi seluruh hutangnya yang ada dengan
menggunakan seluruh aset yang dimilikinya apabila sekiranya perusahaan
dilikuidasi.Dengan demikian rasio solvabilitas berpengaruh dengan kinerja
keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga
saham perusahaan.
4) Analisis Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan
juga memberikan gambaran tentang tingkat efektivitas manajemen dalam
melaksanakan kegiatan operasinya.Efektivitas manajemen disini dilihat dari
laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini
disebut juga rasio rentabilitas.
Rasio

profitabilitas

merupakan

rasio

yang

menggambarkan

kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan


dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah
karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Syafri, 2008:304).

20

Rasio yang termasuk rasio profitabilitas antara lain:


a) Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi
pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan
kemampuan

perusahaan

untuk

berproduksi

secara

efisien

(Sawir,

2009:18).Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan


dengan sales. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan
operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok
penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula
sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi
perusahaan (Syamsuddin, 2009:61).
Margin laba kotor dihitung dengan formula:

b) Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)


Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.
Semakin tinggi net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan.
Margin Laba Bersih dihitung dengan rumus:

c) Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin)


Adalah ukuran persentasi dari setiap hasil sisa penjualan sesudah
semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi kecuali bunga dan pajak atau laba
bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan.Margin laba operasi
mengukur laba yang dihasilkan murni dari operasi penjualan tanpa melihat
beban keuangan (bunga) dan beban dari pemerintah (pajak).
Margin laba operasi dihitung dengan rumus:

21

d) Hasil Atas Total Aset (Return On Investment)


Return on investment merupakan perbandingan antara laba bersih
setelah pajak dengan total aktiva. Return on investment adalah merupakan
rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam
menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia
didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63).
Semakin

tinggi

rasio

ini

semakin

baik

keadaan

suatu

perusahaan.Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa


besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva (Syafri,
2008:63).
Hasil atas total aset dihitung dengan rumus:

e) Hasil Atas Ekuitas (Return On Equity)


Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah
pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari
penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik
pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang
mereka investasikan di dalam perusahaan (Syafri, 2008:305).
Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah
perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur
tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri
atau pemegang saham perusahaan (Sawir 2009: 20). ROE menunjukkan
rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas usaha.
Hasil atas ekuitas dapat dihitung dengan formula:

f) Pendapatan per Saham (Earning per Share)


Earning per share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar
kemampuan

per

lembar

saham

dalam

menghasilkan

laba

(Syafri,

22

2008:306).Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah


rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin,
2009:66). Oleh karena itu pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang
saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik akan earning per
share. Earning per share adalah suatu indikator keberhasilan perusahaan.
Pendapatan per saham dihitung dengan rumus:

5) Analisis Rasio Pasar


Rasio pasar merupakan sekumpulan rasio yang menghubungkan harga
saham dengan laba dan nilai buku per saham. Rasio ini memberikan petunjuk
mengenai apa yang dipikirkan investor atas kinerja perusahaan di masa lalu
serta prospek di masa mendatang (Moeljadi, 2006:75).
Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor)
atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau
membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan
nilai buku saham (Sutrisno, 2003:256).
Menurut Hanafi (2004:43), rasio pasar mengukur harga pasar saham
perusahaan relatif terhadap nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih
banyak berdasar pada sudut pandang investor ataupun calon investor,
meskipun pihak manajemen juga berkepentingan terhadap rasio ini. Rasio
modal saham atau rasio pasar terdiri dari:
a) Rasio Harga Pasar/Pendapatan (Price Earning Ratio)
Menurut Moeljadi (2006:75), Price Earning

Ratio

(PER)

menunjukkan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah


dari laba yang dilaporkan.Oleh para investor rasio ini digunakan untuk
memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang
akan datang. Kesediaan para investor untuk menerima kenaikan PER sangat

23

bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat


pertumbuhan yang tinggi, biasanya memiliki PER yang tinggi. Sebaliknya
perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memiliki
PER yang rendah pula (Prastowo 2005:96).
Price Earning Ratio dihitung dengan rumus:

b) Rasio Harga Pasar/Nilai Buku (Market to Book Value Ratio)


Rasio ini menunjukkan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang
telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio
ini, semakin besar tambahan wealth (kekayaan) yang dinikmati oleh pemilik
perusahaan (Husnan, 2006:76).Menurut Prastowo (2005:99), jika harga pasar
berada di bawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahaan tidak
cukup potensial. Bila seorang investor pesimistik atau prospek terhadap suatu
saham, banyak saham dijual pada harga di bawah nilai bukunya. Sebaliknya
jika investor optimistik maka saham dijual dengan harga di atas nilai bukunya.
Market to Book Value Ratio dihitung dengan rumus:

c) Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio)


Dividend yield adalah dividen yang dibayarkan dibagi dengan harga
saham sekarang (Jones, 2004:41).Dividend yield dinyatakan dalam bentuk
persentase yang merupakan salah satu komponen dari total return (Total
Return = Yield + Price Change).
Dividend yield merupakan sebagian dari total return yang akan
diperoleh

investor.

Biasanya

perusahaan

yang

mempunyai

prospek

pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena
dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Kemudian karena
perusahaan dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga pasar saham

24

yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk
perusahaan macam ini akan cenderung lebih rendah (Hanafi, 2004:43)
Dividend Yield Ratio dihitung dengan rumus:

d) Rasio Pembayaran Deviden (Dividend Payout Ratio)


Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen
kepada investor. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan
kembali ke perusahaan (Hanafi, 2004:44).
Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan
mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan
yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai rasio yang tinggi.
Pembayaran dividen juga merupakan kebijakan dividen perusahaan. Menurut
Alwi (2003:78), semakin besar rasio ini maka semakin lambat atau kecil
pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Dividend Payout Ratio dapat dihitung dengan rumus :

2.2 Gambaran Umum Perusahaan


2.2.1

Profil Perusahaan
Awal usaha industri jamu Perseroan bermula dari sebuah industri

rumah tangga yang dikelola oleh Ibu Rahmat Sulistio pada 1940 di
Yogyakarta, dengan dibantu oleh tiga orang karyawan. Banyaknya permintaan
terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi
jamu dalam bentuk yang praktis(serbuk).Seiring dengan kemajuan usaha
tersebut, pengolahan jamu dipindahkan dari Yogyakarta ke Semarang.
Pada tahun 1951 berdirilah perusahaan sederhana dengan nama Sido
Muncul yang berarti Impian yang Terwujud dengan pabrik pertamanya

25

berlokasi di Jl. Mlaten Trenggulun, Semarang.Pada 1970, dibentuk


persekutuan komanditer dengan nama CV Industri Jamu & Farmasi Sido
Muncul. Kemudian pada 1975, bentuk usaha industri jamu berubah menjadi
Perseroan Terbatas dengan nama PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul,
dimana seluruh usaha dan aset dari CV Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul
dimasukkan ke dalam dan dilanjutkan oleh perseroan terbatas tersebut.
Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten
Trenggulun ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang
besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat, dan pada 1984 pabrik
dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jl. Kaliwage, Semarang. Guna
mengakomodir permintaan pasar yang terus bertambah, maka pabrik mulai
dilengkapi dengan mesin-mesin modern, demikian pula jumlah karyawannya
bertambah sesuai kapasitas yang dibutuhkan.
Untuk mengantisipasi kemajuan masa mendatang, Perseroan merasa
perlu untuk membangun unit pabrik yang lebih besar dan modern, maka pada
1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik di Klepu,
Ungaran, oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan disaksikan Direktur
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu.Pabrik baru yang berlokasi
di Klepu, kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas sekitar 30 hektar tersebut
diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik
Indonesia saat itu pada 11 November 2000. Saat peresmian pabrik, Perseroan
sekaligus menerima dua sertifikat, yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional
yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara
dengan farmasi, dan sertifikat inilah yang menjadikan Perseroan sebagai satusatunya pabrik jamu berstandar farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari
bangunan pabrik seluas sekitar 8 hektar dan sisanya menjadi kawasan
pendukung lingkungan pabrik.

26

2.2.1.1 Bidang dan Kegiatan Usaha


Sesuai Pasal 3 Anggaran Dasar terakhir Perseroan berdasarkan Akta
Pernyataan Persetujuan Bersama Seluruh Pemegang Saham Perseroan
Terbatas PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk No. 33 tanggal 18
September 2013 yang dibuat dihadapan Fathiah Helmi, SH, Notaris di Jakarta,
yang telah memperoleh persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
No. AHU-49556.AH.01.02 Tahun 2013 tanggal 24 September 2013 dan telah
terdaftar dalam Daftar Perseroan No.AHU-0089234.AH.01.09 Tahun 2013
tanggal 24 September 2013, ruang lingkup kegiatan usaha Perseroan adalah
bergerak dalam perindustrian jamu dan farmasi, perdagangan, pengangkutan
darat, jasa, dan pertanian. Untuk menjalankan kegiatan usaha tersebut
Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha sebagai berikut :
a. Menjalankan usaha perindustrian, yang meliputi usaha obat-obatan
(farmasi), jamu, bahan jamu, kosmetik, minuman dan makanan yang
berkaitan dengan kesehatan, serta alat-alat elektronik yang berhubungan
dengan kesehatan.
b. Menjalankan usaha perdagangan, termasuk dagang impor, ekspor,
interinsulair, keagenan, leveransir, grosir, pengadaan (supplier), dan
distributor obat-obatan (farmasi), jamu, bahan jamu, kosmetika, minuman
dan makanan yang berkaitan dengan kesehatan serta alat-alat elektronik
yang berhubungan dengan kesehatan, baik untuk Perseroan sendiri
maupun atas dasar komisi untuk dan atas nama pihak lain.
c. Menjalankan usaha pengangkutan darat, yang meliputi ekspedisi dan
pergudangan serta transportasi pengangkutan dalam rangka menjalankan
usaha perindustrian dan perdagangan tersebut di atas.
d. Menjalankan usaha jasa pelayanan kebugaran, menggunakan alat-alat
elektronik yang berhubungan dengan kesehatan dan jasa pelayanan
kesehatan, kecuali jasa dalam bidang hukum dan pajak.

27

e. Menjalankan usaha pertanian, yang meliputi konservasi tanaman obat dan


satwa untuk dipergunakan sebagai objek penelitian bahan-bahan jamu dan
kosmetik, serta menyediakan sarana kunjungan di lingkungan konversi,
tanaman obat dan satwa, yang semuanya itu guna menunjang usaha-usaha
industri jamu dan farmasi tersebut di atas.

2.2.2

Visi dan Misi Perusahaan

2.2.2.1 Visi:
Menjadi perusahaan obat herbal, makanan-minuman kesehatan, dan
pengolahan bahan baku herbal yang dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat dan lingkungan.
2.2.2.2 Misi:
1. Mengembangkan produk-produk berbahan herbal yang rasional,
aman dan jujur berdasarkan penelitian.
2. Mengembangkan

penelitian

obat-obat

herbal

secara

berkesinambungan.
3. Membantu dan mendorong pemerintah, institusi pendidikan, dunia
kedokteran

agar

lebih

berperan

dalam

penelitian

dan

pengembangan obat dan pengobatan herbal.


4. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membina
kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami,
dan pengobatan secara naturopathy.
5. Melakukan corporate social responsibility (CSR) yang intensif.
6. Mengelola perusahaan yang berorientasi ramah lingkungan.
7. Menjadi perusahaan obat herbal yang mendunia.

28

2.2.3

Struktur Organisasi
RAPAT UMUM PEMEGANG
SAHAM
DEWAN KOMISARIS

DIREKSI

DIREKTUR UTAMA

SEKRETARIS
PERUSAHAAN

DIREKTUR
PERUSAHAAN

MANAJER PRODUK

MANAJER
PENELITIAN

MANAJER PROMOSI

KOMITE AUDIT

AUDIT INTERNAL

DIREKTUR PERUSAHAAN

MANAJER KEUANGAN

MANAJER AKUNTANSI

DIREKTUR
OPERASIONAL
MANAJER
PRODUKSI
MANAJER
PENELITIAN
DAN
PENGEMBANG
AN
MANAJER
LOGISTIK
MANAJER
SUMBER DAYA
MANUSIA

29

2.3 Pembahasan dan Deskripsi Data


2.3.1 Perhitungan Analisis Rasio
Perhitungan analisis rasio yang dilakukan oleh penulis berdasarkan
data- data yang diambil dari laporan keuangan PT. Industri Jamu dan Farmasi
Sido Muncul Tbk selama periode tahun 2012 dan 2013. Rasio keuangan
terdiri dari 5 (lima) jenis, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio hutang,
rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Namun, penulis hanya membatasi analisis
rasio PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. pada analisis rasio
likuiditas, rasio hutang, dan rasio profitabilitas.

Analisis Likuiditas
1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Tahun
2012
2013

Tabel 2.1
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Current Ratio
(dalam jutaan rupiah)
Current
Aktiva Lancar
Hutang Lancar
Interpretasi
Ratio
1.584.850
837.684
1,89
Naik
2.366.390
324.747
7,28

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Bila dilihat pada Tabel 2.1, terjadi peningkatan rasio lancar pada tahun
2013 dibanding tahun sebelumnya.Ini dikarenakan aktiva lancar di tahun 2013
terjadi peningkatan yang cukup banyak apabila dibandingkan peningkatan
terhadap hutang lancarnya. Angka rasio lancar pada tahun 2013 bisa dikatakan
mendekati baik (Rasio Lancar = 2).

30

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Tahun
2012
2013

Tabel 2.2
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Quick Ratio
(dalam jutaan rupiah)
Aktiva LancarHutang
Quick
Interpretasi
Persediaan
Lancar
Ratio
1.349.310
837.684
1,61
Naik
2.078.661
324.747
6,40

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Karena rasio cepat terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya,
biasanya diikuti juga dengan peningkatan rasio cepat yang bisa dilihat pada
tabel. Namun apabila persediaan terlalu banyak, maka akan menurunkan rasio
cepat dari perusahaan karena sifat dari persediaan yang kurang likuid.

3. Rasio Kas (Cash Ratio)

Tahun
2012
2013

Tabel 2.3
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Cash Ratio
(dalam jutaan rupiah)
Kas
Hutang Lancar
Cash
Interpretasi
Ratio
410.731
837.684
0,49
Naik
1.348.955
324.747
4,15

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Terlihat bahwa rasio kas pada tahun 2013 naik signifikan dibanding
tahun sebelumnya yang dikarenakan kas yang tersedia pada tahun 2013 naik
hingga 3 kali lipat. Namun, semakin banyak kas yang ada maka akan
mengurangi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba.

31

4. Modal Kerja Bersih (Net Working Capital)/NWC

Tahun

Tabel 2.4
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Net Working Capital
(dalam jutaan rupiah)
Aktiva Lancar Hutang Lancar
NWC
Interpretasi

2012

1.584.850

837.684

747.166

2013

2.366.390

324.747

2.041.643

Naik

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Adanya
mengindikasikan

peningkatan
bahwa

modal

terjadi

kerja

juga

bersih

peningkatan

pada

tahun

didalam

2013

investasi

perusahaan dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat


berharga), piutang dagang dan persediaan dibandingkan tahun 2012.

Analisis Hutang
1. Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio atau Ratio
Leverage)

Tahun

2012
2013

Tabel 2.5
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Debt to Equity Ratio
(dalam jutaan rupiah)
Hutang Jangka
Ekuitas Pemegang Debt to Interpretasi
Panjang
Saham
Equity
Ratio
(%)
8.664.000
1.304.651
664,08
Turun
1.304.000
2.625.456
49,66

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Terdapat penurunan rasio hutang terhadap ekuitas pada tahun 2013
mengindikasikan bahwa hutang jangka panjang perusahaan hanya sebesar

32

6,56% dari modal sendiri, dan perusahaan lebih menyukai menerbitkan saham
baru dibandingkan menggunakan hutang jangka panjang.

2. Rasio Hutang (Debt Ratio)


Tabel 2.6
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Debt Ratio
(dalam jutaan rupiah)
Tahun
Total Hutang
Total Aktiva
Debt Ratio Interpretasi
(%)
2012
846.348
326.051
259,57
Turun
2013
2.150.999
2.951.507
72,87
Sumber: Laporan Keuangan PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul
Tbk. tahun 2012, 2013
Terdapat penurunan rasio hutang pada tahun 2013 dibandingkan tahun
2012 yang menggunakan hutang sebesar 27,30% dari total aktiva perusahaan.
Semakin rendah persentase hutang, maka semakin baik bagi keuangan
perusahaan.

3. Times Interest Earned/Coverage Ratio (Rasio Penutupan)

Tahun

2012
2013

Tabel 2.7
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Times Interest Earned
(dalam jutaan rupiah)
Laba Sebelum Bunga Beban Bunga
Times
Interpretasi
dan Pajak
Interest
Earned
(%)
514.329
708
72,64
Naik
595.914
13.256 4.495,42

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013

33

Terjadi kenaikan pada rasio penutupan pada tahun 2013 menjadi


4.495,42 menunjukkan situasi yang aman, meskipun barangkali juga
menunjukkan terlalu rendahnya penggunaan utang perusahaan.

Analisis Profitabilitas
1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Tabel 2.8
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Gross Profit Margin
(dalam jutaan rupiah)
Tahun
Laba Kotor
Penjualan
Gross
Interpretasi
Profit
Margin
(%)
2012
920.647
2.391.667
38,49
Naik
2013
1.010.781
2.372.364
42,60
Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul
Tbk. tahun 2012, 2013
Terdapat kenaikan profit margin yang tinggi pada tahun 2013 yang
menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada
tingkat penjualan tertentu.

2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)/NPM

Tahun

Tabel 2.9
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Net Profit Margin/NPM
(dalam jutaan rupiah)
Laba Bersih Setelah
Penjualan
NPM Interpretasi
Pajak (EAT)

(%)

2012

387.538

2.391.667

16,20

2013

405.943

2.372.364

17,11

Naik

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
34

Terjadi kenaikan persentase margin laba bersih pada tahun 2013 yang
disebabkan oleh laba bersih setelah pajak tahun 2013 yang meningkat bila
dibandingkan pada tahun 2012, namun volume penjualan tahun 2013 dibawah
volume penjualan tahun 2012.

3. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin)


Tabel 2.10
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Operating Profit Margin
(dalam jutaan rupiah)
Tahun
Laba Operasi Bersih
Penjualan
Operating Interpretasi
(EBIT)
Profit
Margin
(%)
2012
514.329
2.391.667
21,50
Naik
2013
595.914
2.372.364
25,11
Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul
Tbk. tahun 2012, 2013
Berdasarkan rasio laba operasi bersih terhadap penjualan, maka
diketahui bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi
bersih dari penjualan pada tahun 2013 tinggi dan mencapai target apabila
dibandingkan dengan tahun 2012.

35

4. Hasil Atas Total Aset (Return On Investment)/ROI

Tahun
2012
2013

Tabel 2.11
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Return on Investment/ROI
(dalam jutaan rupiah)
Laba Bersih Setelah
Total Aktiva ROI Interpretasi
Pajak (EAT)
(%)
387.538
2.150.999 18,01
Turun
405.943
2.951.507 13,75

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Berdasarkan Return on Investment, maka diperoleh bahwa kinerja
perusahaan mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan oleh profit
margin yang menurun namun total aktiva yang terus meningkat. Jika
penurunan ROI ini terus terjadi, maka akan mengakibatkan menurunnya
kepercayaan investor atau pemilik modal kepada perusahaan, sehubungan
dengan turunnya kemampuan investasi perusahaan.

5. Hasil Atas Ekuitas (Return on Equity)/ROE

Tahun
2012
2013

Tabel 2.12
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Return on Equity/ROE
(dalam jutaan rupiah)
Laba Bersih Setelah
Ekuitas
ROE
Interpretasi
Pajak (EAT)
(%)
387.538
1.304.651
29,70
Turun
405.943
2.625.456
15,46

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Dari tabel di atas diperoleh bahwa kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba di tahun 2013 menurun apabila dibandingkan dengan

36

tahun 2012 karena kenaikan ekuitas tidak diiringi dengan kenaikan laba bersih
setelah pajak.

6. Pendapatan per Saham (Earning per Share)/EPS

Tahun
2012
2013

Tabel 2.13
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Earning per Share/EPS
(dalam jutaan rupiah)
Pendapatan Bagi
Lembar
EPS (%) Interpretasi
Pemegang Saham
Saham
387.538
1,13 342.954
Turun
406.936
15,07
27

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul


Tbk. tahun 2012, 2013
Pendapatan per saham pada tahun 2013 pun mengalami penurunan
bila dibandingkan dengan tahun 2012 karena laba bersih sebelum pajak yang
menurun mengakibatkan pendapatan bagi pemegang saham ikut berkurang,
namun jumlah lembar saham yang diterbitkan perusahaan naik hingga 25%.

37

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
Simpulan dari penelitian ini adalah:
1. Rasio likuiditas, secara keseluruhan keadaan perusahaan berada dalam
keadaan baik, meskipun selama kurun waktu dari tahun 2012-2013
berfluktuasi. Makin tinggi nilai rasio likuiditas, menandakan bahwa keadaan
perusahaan berada dalam kondisi baik atau liquid.
2. Rasio solvabilitas, keadaan perusahaan tahun 2012-2013 berada pada posisi
solvable. Hal ini dapat dilihat bahwa keadaan modal perusahaan cukup
untuk menjamin hutang yang diberikan oleh kreditor.
3. Rasio profitabilitas secara keseluruhan dari tahun 2012-2013 keadaan
perusahaan berada dalam posisi baik karena mengalami peningkatan seiring
kemampuan perusahaan dalam meningkatkan laba dan efisiensi dalam
menggunakan sumberdaya.

3.2

Saran
Saran yang dapat disampaikansebagai berikut:
1. Perusahaan
kondisiliquid

harus
tapi

meningkatkan
akanlebih

likuiditasnya,

baik

jika

meski

perusahaan

pun

dalam

meningkatkan

likuiditasnya untuk menjaga kepercayaan bagi para kreditur.


2. Solvabilitas perusahaan berada pada posisi baik. Keadaan ini harus
dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam melunasi
kewajibannya pada saat jatuh tempo.
3. Profitabilitas perusahaan berada pada posisi yang baik. Hal ini menunjukkan
bahwa keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam keadaan
baik dan keadaan ini harus tetap dipertahankan oleh perusahaan.

38

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Iskandar. Z. 2003. Pasar Modal Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama. Jakarta:
Yayasan Pancur Siwa.
Bambang Riyanto. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat.
Yogyakarta: BPFE.
Hanafi, Mahmud M. 2004. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
Harahap, Sofyan Syafri. 2008. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Husnan Suad dan Rekan. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta:
UPP STIM YKPN.
Jones, Charles P. 2004. Investment Analysis and Management 9thed. New York: John
Wiley and Sons.
J. Keown, Arthur dkk. 2002. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba
Empat.
Lukman Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi
dalam Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan (Edisi Baru).
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Mahmud. M. Hanafi. 2004. Manajemen Keuangan, Edisi 2004/2005. Yogyakarta:
BPPF.
Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, BPFE:
Yogyakarta.
Munawir, S. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
Prastowo, Dwi dan Rifka Juliaty. 2005. Analisis Laporan Keuangan Konsep dan
Aplikasi.Upp.Amp YKPN.Yogyakarta.
Riyanto, Bambang. 2008. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
BPFE.

39

Sawir, Agnes. 2003. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan


Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sawir, Agnes. 2008. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan
Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sawir, Agnes. 2009. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan
Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sido

Muncul.
2013.
Annual
Report.
http://www.sidomuncul.com/download/annual_report_sidomuncul_2013.pdf(di
unduh tanggal 09 Juni 2014).

Suad Husnan & Rekan. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP
STIM YKPN.
Sundjaja, Ridwan S., Inge Barlian, dan Dharma Putra Sundjaja. 2010. Manajemen
Keuangan 1. Bandung: Literata Lintas Media.
Sutrisno.2003. Manajemen Keuangan Teori Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta:
EKONISIA.
Syafri, Sofyan. 2008. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.

40

LAMPIRAN

41

Anda mungkin juga menyukai