Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DITINJAU DARI LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS DI PT INDUSTRI JAMU DAN FARMASI SIDO MUNCUL Tbk. (PERIODE 2012-2013)

Diajukan sebagai salah satu bagian tugas mata kuliah Kuliah Lapangan

Oleh: Dessy Natalia

142110164

mata kuliah Kuliah Lapangan Oleh: Dessy Natalia 142110164 PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UPN “VETERAN”

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UPN “VETERAN” YOGYAKARTA JUNI 2014

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DITINJAU DARI LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS DI PT INDUSTRI JAMU DAN FARMASI SIDO MUNCUL Tbk. (PERIODE 2012-2013)

Oleh: Dessy Natalia

142110164

Disetujui dan disahkan sebagai Laporan Kuliah Lapangan

Yogyakarta, 18 Juni 2014

Dosen pembimbing,

Sri Hastuti, S.E., M.Si., Ak., CA NPY: 2 7905 11 0303 1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan laporan kuliah lapangan tentang ANALISIS KINERJA KEUANGAN DITINJAU DARI LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS DI PT INDUSTRI JAMU DAN FARMASI SIDO MUNCUL Tbk. (PERIODE 2012-2013)” dengan baik. Laporan ini saya buat dengan tujuan untuk memberikan wawasan bagi para pembaca dari sisi pemilik perusahaan maupun investor tentang apa saja cara penilaian kinerja dari suatu perusahaan, khususnya pada PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Selain itu, laporan ini saya buat untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh nilai dalam mata kuliah Kuliah Lapangan yang ada di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sri Hastuti selaku dosen pembimbing dari mata kuliah ini, serta seluruh pihak yang sudah membantu dan memberikan masukan untuk penyelesaian laporan ini. Terbatasnya pengetahuan dan sempitnya waktu yang diberikan mungkin menjadikan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini. Sebagai penutup, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga pembaca. Terima kasih.

Yogyakarta, Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN

JUDUL

 

i

HALAMAN

PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR

ISI

iv

DAFTAR

TABEL

vi

BAB

I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

3

1.3 Tujuan

3

1.4 Manfaat

4

BAB

II PENDEKATAN MASALAH

5

2.1 Teori

5

2.1.1

Analisis Rasio

5

2.2 Gambaran Umum Perusahaan

19

2.2.1 Profil Perusahaan

19

2.2.1.1

Bidang dan Kegiatan Usaha

21

2.2.2 Visi dan Misi Perusahaan

22

2.2.2.1 Visi

22

2.2.2.2 Misi

22

2.2.3 Struktur Organisasi Perusahaan

23

2.3 Pembahasan dan Deskripsi Data

24

2.3.1

Perhitungan Analisis Rasio

24

BAB III PENUTUP

32

3.1 Simpulan

32

3.2 Saran

32

33

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

35

DAFTAR TABEL

Tabel

2.1

24

Tabel

2.2

25

Tabel

2.3

25

Tabel

2.4

26

Tabel

2.5

26

Tabel

2.6

27

Tabel

2.7

27

Tabel

2.8

28

Tabel

2.9

28

Tabel

2.10

29

Tabel

2.11

30

Tabel

2.12

30

Tabel

2.13

31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kuliah Lapangan adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa Strata 1 (S1) Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi UPN “Veteran” Yogyakarta.Jumlah SKS adalah sebanyak 2 SKS dengan prasyarat jumlah SKS yang telah ditempuh sebanyak 100 SKS. Kuliah Lapangan dilaksanakan di tiga perusahaan di kotaSemarang yang dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 Mei 2014, dimana dua perusahaan bergerak di bidang produksi obat herbal (jamu) dan satu perusahaan lainnya bergerak di bidang produksi berbagai olahan dari susu sapi. Dua perusahaan yang bergerak di bidang produksi obat herbal adalah PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.dan PTNyonya Meneer, sedangkan perusahaan yang bergerak di bidang produksi berbagai olahan dari susu sapi adalah PT Cimory (Cisarua Montain Diary). PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. bermula dari sebuah industri rumah tangga pada tahun 1940, dikelola oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta, dan dibantu oleh tiga orang karyawan.Banyaknya permintaan terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi jamu dalam bentuk yang praktis (serbuk). Seiring dengan kemajuan usaha tersebut, maka pada tahun 1951 didirikan perusahan sederhana dengan nama Sido Muncul yang berarti "Impian yang Terwujud" dengan lokasi di Jl. Mlaten Trenggulun, Semarang.Dengan produk pertama dan andalan adalah Jamu Tolak Angin, produk jamu buatan Ibu Rakhmat mulai mendapat tempat di hati masyarakat sekitar dan permintaannya pun selalu meningkat. Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten Trenggulun ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat, dan di tahun 1984 pabrik dipindahkan ke

Lingkungan Industri Kecil di Jl. Kaligawe, Semarang. Saat ini PT Sido Muncul didukung lebih dari 2000 karyawan dengan tingkat pendidikan bervariasi dan ditempatkan sesuai dengan keahlian, kemampuan dan kapasitasnya masing-masing.Sebagai pendukung, PTSido Muncul juga memiliki tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti biologi, ekonomi, farmasi, pertanian, hukum, teknologi pangan, teknik kimia, teknik elektro, dll. Ibu Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Pada masa pendudukan Belanda tahun 1900an, di masa-masa penuh keprihatinan dan sulit itu suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia.Ibu Meneer mencoba meramu jamuJawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh.Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan.Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar.Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneeryang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia.Selain mendirikan pabrik, Nyonya Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang.Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar. PT Cisarua Mountain Dairy didirikan pada tanggal 30 September 2005 oleh Bapak Bambang Sutantio.Pada saat awal didirikan produksi belum mulai berjalan tetapi baru dimulai pada tanggal 6 Februari 2006.Perusahaan ini selain bertujuan komersil, juga bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat sekitarnya, khususnya para peternak sapi perah. Salah satu contohnya, membeli hasil susu perahan dari peternak sapi perah dengan harga yang lebih tinggi bila dibandingkan harga eceran yang biasa. Untuk perencanaan jangka

panjang perusahaan mengharapkan adanya pemberdayaan para peternak sapi perah di daerah sekitar sehingga membuka lapangan pekerjaan dan terbentuknya kemandirian para peternak sapi perah sehingga dapat terus menghasilkan susu sapi segar yang berkualitas. Jadi, dengan terjalinnya kerja sama antara PT Cisarua Mountain Dairy dan para peternak sapi di daerah Cisarua dan sekitarnya, industri susu segar lokal akan terus bertahan dan berkembang. Dari ketiga perusahaan diatas, penulis memutuskan untuk melakukan penelitian lebih dalam di PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. khususnya dalam hal analisis kinerja keuangan ditinjau dari likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas pada periode 2012-2013.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana kinerja keuangan pada perusahaan PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012-2013 ditinjau dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas?

1.3 Tujuan Berdasarkan masalah pokok dalam penelitian ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis/mengetahui kinerja keuangan pada PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012-2013 ditinjau dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas,dan rasio profitabilitas.

1.4 Manfaat

a. Bagi Perusahaan

1.

Membantu memberikan masukan kepada manajemen dalam menilai kinerja keuangan yang telah dicapai.

2. Digunakan sebagai bahan pertimbangan manajemen dalam pengambilan keputusan mengenai bidang keuangan perusahaan sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.

b. Bagi Mahasiswa Memberikan pembelajaran bagi mahasiswa dalam menganalisis laporan keuangan sebuah perusahaan.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai bahan acuan atau referensi bagi penelitian selanjutnya yang meneliti mengenai penilaian atas kinerja perusahaan dengan menggunakan analisis laporan keuangan pada suatu perusahaan.

BAB II PENDEKATAN MASALAH

2.1 Teori

Menurut Sundjaja, dkk. (2010: 173), ukuran kinerja dapat dianalisis dalam

lima kelompok, yaitu:

1)

Rasio Likuiditas

2)

Rasio Aktivitas

3)

Rasio Hutang

4)

Rasio Profitabilitas

5)

Rasio Pasar

Analisis laporan keuangan akan lebih tajam apabila angka-angka

keuangan dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut dapat berupa

standar internal yang ditetapkan oleh manajemen, perbandingan historis atau

membandingkan angka-angka keuangan dengan angka-angka masa sebelumnya,

pembandingan dengan perusahaan atau industri sejenis. Tanpa pembandingan,

tidak akan diketahui apakah kinerja suatu perusahaan menunjukkan perbaikan

atau sebaliknya menunjukkan penurunan.

2.1.1 Analisis Rasio Menurut Munawir (2004: 37), analisis rasio adalah suatu metode

analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau

laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan

tersebut.Menurut Hanafi (2005:77), analisis rasio adalah penggabungan yang

menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam

laporan keuangan, hubungan antara unsur laporan tersebut dinyatakan dalam

bentuk matematis yang sederhana.

Analisis rasio merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan

dalam analisis laporan keuangan dengan kata lain diantara alat-alat analisis

yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan suatu

perusahaan di bidang keuangan adalah analisis rasio keuangan (Financial

Ratio Analysis).

Menurut Keown, dkk. (2002:60), tujuan dari analisis rasio adalah

untuk membantu manager finansial memahami apa yang perlu dilakukan oleh

perusahaan, berdasarkan informasi yang tersedia dan sifatnya terbatas.

Analisis rasio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern

perusahaan saja melainkan juga pihak luar dan ini berbeda menurut

kepentingan khusus dari analisis atau pihak yang berkepentingan.

Analisis rasio berguna bagi para analisis intern untuk membantu

manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasil operasinya, memperbaiki

kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan

kesulitan keuangan.

Analisis Rasio Likuiditas Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan

perusahaanmembayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat

1)

jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.Likuiditas tidak

hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi

juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu

menjadi uang kas.

Riyanto (2008:25) menyatakan bahwa likuiditas adalah masalah yang

berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi

kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.Suatu perusahaan yang

mempunyai alat-alat likuid sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi

segala kewajiban finansialnya yang segera harus terpenuhi, dikatakan bahwa

perusahaan tersebut likuid, dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak

mempunyai alat-alat likuid yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban

finansialnya yang segera harus terpenuhi dikatakan perusahaan tersebut

insolvable.

Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan

memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui

sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang

lancar. Dengan demikian rasio likuiditas berpengaruh dengan kinerja

keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga

saham perusahaan.

a) Current Ratio (Rasio Lancar)

aktiva lancar dan

kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk

mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka

pendeknya.Current ratio menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi

kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dan kewajiban

lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka

pendeknya.

Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya

masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga

kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada

akhirnya dapat mengurangi kemampulabaan perusahaan (Sawir,

2009:10).Apabila mengukur tingkat likuiditas dengan menggunakan current

ratio sebagai alat pengukurnya, maka tingkat likuiditas atau current ratio

suatu perusahaan dapat dipertinggi dengan cara (Riyanto, 2001:28):

1. Dengan utang lancar tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva

Current

ratio

merupakan

perbandingan

antara

lancar.

2. Dengan aktiva lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi jumlah

utang lancar.

3. Dengan mengurangi jumlah utang lancar sama-sama dengan

mengurangi aktiva lancar.

Current ratio dapat dihitung dengan formula:

b) Quick Ratio (Rasio Cepat)

Rasio ini disebut juga acid test rasio yang juga digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Penghitungan quick ratio dengan mengurangkan aktiva lancar dengan persediaan. Hal ini dikarenakan persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang likuiditasnya rendah dan sering mengalami fluktuasi harga serta menimbulkan kerugian jika terjadi likuiditas. Jadi rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar.

Sawir (2009:10) mengatakan bahwa quick ratio umumnya dianggap baik adalah semakin besar rasio ini maka semakin baik kondisi perusahaan. Quick ratio dapat dihitung dengan formula:

c) Cash Ratio (Rasio Kas)

Rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan posisi kas yang dapat menutupi hutang lancar dengan kata laincash ratio merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan kas yang dimiliki dalam manajemen kewajiban lancar tahun yang bersangkutan. Cash ratio dapat dihitung dengan formula:

d) Modal Kerja Bersih (Net Working Capital)/NPW

yang

ditanamkan dalam aktiva lancar, oleh karena itu dapat berupa kas, piutang,

surat-surat berharga, persediaan dan lain-lain. Modal kerja bruto adalah

keseluruhan dari aktiva/harta lancar yang terdapat dalam sisi debet neraca.

Modal kerja bersih adalah keseluruhan harta lancar dikurangi utang lancar.

Dengan perkataan lain modal kerja bersih adalah selisih antara aktiva lancar

dikurangi dengan hutang lancar.

Menurut

Wasis

(1991,

p.63),

modal

kerja

adalah

dana

Modal Kerja Bersih dapat dihitung dengan formula:

2) Analisis Rasio Aktivitas

yang mengukur seberapa efektif

perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya.

Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan

dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Rasio-rasio aktivitas menganggap

bahwa sebaiknya terdapat keseimbangan yang layak antara penjualan dan

berbagai unsur aktiva misalnya persediaan, aktiva tetap dan aktiva lainnya.

Aktiva yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan

mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva

tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva

lain yang lebih produktif. Yang termasuk ke dalam rasio aktivitas adalah

sebagai berikut:

Rasio

aktivitas

adalah

rasio

a) Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam

dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari

inventory dan tendensi untuk adanya overstock (Riyanto, 2008:334).Rasio

perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang

dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup populer untuk menilai

efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen

mengontrol modal yang ada pada persediaan.

Rasio perputaran persediaan dihitung dengan formula:

b) Perputaran Piutang Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan

yang erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu

pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang

tersebut yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan piutang

rata-rata.

Perputaran piutang dapat diukur dengan rumus:

c) Rata-Rata Periode Tagih

yang diperlukan untuk menagih

piutang. Rasio tersebut bermanfaat untuk mengevaluasi kebijakan pinjaman

dan kebijakan penagihan.

Rata-rata periode tagih dapat diukur dengan rumus:

Adalah

jumlah

rata-rata

waktu

d) Rata-Rata Periode Bayar

Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk membayar

hutang usaha. Rata-rata periode bayar dapat diukur dengan rumus:

e) Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover)

Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap.Fixed assets turnover mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap (Sawir, 2003:17). Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Kalau perputarannya lambat (rendah), kemungkinan terdapat kapasitas terlalu besar atau ada banyak aktiva tetap namun kurang bermanfaat, atau mungkin disebabkan hal-hal lain seperti investasi pada aktiva tetap yang berlebihan dibandingkan dengan nilai output yang akan diperoleh. Jadi semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut. Perputaran aktiva tetap dihitung dengan rumus:

f) Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover)

Total assets turnover merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu.Total assets turnover merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu (Syamsuddin, 2009:19). Total assets turnover merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini

semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain jumlah aset yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila assets turnover nya ditingkatkan atau diperbesar. Total assets turnover ini penting bagi para kreditur dan pemilik perusahaan, tapi akan lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya penggunaan seluruh aktiva dalam perusahaan. Perputaran total aktiva dihitung sebagai berikut:

3) Analisis Rasio Hutang

Menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial baik jangka waktu pendek atau panjang apabila sekiranya perusahaan dilikuidasi.Suatu perusahaan yang solvable berarti bahwa perusahaan tersebut mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutang- hutangnya begitu pula sebaliknya perusahaan yang tidak mempunyai kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya disebut perusahaan yang insolvable. Rasio hutang terdiri dari:

a) Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio atau Ratio

Leverage) Menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang pada pihak luar dan digunakan untuk mengukur hingga sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang.Struktur modal adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan pengimbangan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri.Modal sendiri adalah modal yang berasal dari perusahaan itu sendiri (cadangan, laba) atau berasal dari mengambil bagian, peserta, atau pemilik (modal saham, modal peserta dan lain-lain) (Riyanto, 2008:22).

Jadi dapat disimpulkan bahwa debt to equity ratio merupakan

perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan hutang jangka panjang)

dan modal yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajibannya dengan menggunakan modal yang ada.

Rasio hutang modal dihitung dengan formula:

Menurut Syafri (2008:303) semakin kecil rasio hutang modal maka

semakin baik dan untuk keamanan pihak luar rasio terbaik jika jumlah modal

lebih besar dari jumlah hutang atau minimal sama.

b) Rasio Hutang (Debt Ratio) Rasio ini merupakan perbandingan antara total hutang dengan total

aktiva. Sehingga rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi

oleh aktiva. Menurut Sawir (2008:13) debt ratio merupakan rasio yang

memperlihatkan proposi antara kewajiban yang dimiliki dan seluruh kekayaan

yang dimiliki.

Rasio ini dihitung dengan rumus:

Apabila debt ratio semakin tinggi, sementara proporsi total aktiva

tidak berubah maka hutang yang dimiliki perusahaan semakin besar. Total

hutang semakin besar berarti rasio financial atau rasio kegagalan perusahaan

untuk mengembalikan pinjaman semakin tinggi.

Dan sebaliknya apabila debt ratio semakin kecil maka hutang yang

dimiliki perusahaan juga akan semakin kecil dan ini berarti risiko financial

perusahaan mengembalikan pinjaman juga semakin kecil.

c) Times Interest Earned / Coverage Ratio (Rasio Penutupan) Times interest earned merupakan perbandingan antara laba bersih

sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga dan merupakan rasio yang

mencerminkan besarnya jaminan keuangan untuk membayar bunga utang

jangka panjang.Sawir (2008: 14) mengatakan bahwa rasio ini juga disebut

dengan rasio penutupan (coverage ratio), yang mengukur kemampuan

pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT) dan

mengukur sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan

kegagalan dari pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman.

Time Interest Earned dapat dihitung dengan rumus:

Jadi rasio hutang merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

semua kewajibannya, untuk melunasi seluruh hutangnya yang ada dengan

menggunakan seluruh aset yang dimilikinya apabila sekiranya perusahaan

dilikuidasi.Dengan demikian rasio solvabilitas berpengaruh dengan kinerja

keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga

saham perusahaan.

4) Analisis Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan

juga memberikan gambaran tentang tingkat efektivitas manajemen dalam

melaksanakan kegiatan operasinya.Efektivitas manajemen disini dilihat dari

laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini

disebut juga rasio rentabilitas.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan

kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan

dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah

karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Syafri, 2008:304).

Rasio yang termasuk rasio profitabilitas antara lain:

a) Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

yang mengukur efisiensi

pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan

kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien (Sawir,

2009:18).Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan

dengan sales. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan

operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok

penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula

sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi

perusahaan (Syamsuddin, 2009:61).

Margin laba kotor dihitung dengan formula:

Gross

profit

margin

merupakan

rasio

b) Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.

Semakin tinggi net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan.

Margin Laba Bersih dihitung dengan rumus:

c) Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin) Adalah ukuran persentasi dari setiap hasil sisa penjualan sesudah

semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi kecuali bunga dan pajak atau laba

bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan.Margin laba operasi

mengukur laba yang dihasilkan murni dari operasi penjualan tanpa melihat

beban keuangan (bunga) dan beban dari pemerintah (pajak).

Margin laba operasi dihitung dengan rumus:

d) Hasil Atas Total Aset (Return On Investment) Return on investment merupakan perbandingan antara laba bersih

setelah pajak dengan total aktiva. Return on investment adalah merupakan

rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam

menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia

didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63).

Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu

perusahaan.Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa

besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva (Syafri,

2008:63).

Hasil atas total aset dihitung dengan rumus:

e) Hasil Atas Ekuitas (Return On Equity) Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah

pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari

penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik

pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang

mereka investasikan di dalam perusahaan (Syafri, 2008:305).

Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah

perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur

tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri

atau pemegang saham perusahaan (Sawir 2009: 20). ROE menunjukkan

rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas usaha.

Hasil atas ekuitas dapat dihitung dengan formula:

f) Pendapatan per Saham (Earning per Share)

Earning per share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar

kemampuan per lembar saham dalam menghasilkan laba (Syafri,

2008:306).Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah

rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin,

2009:66). Oleh karena itu pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang

saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik akan earning per

share. Earning per share adalah suatu indikator keberhasilan perusahaan.

Pendapatan per saham dihitung dengan rumus:

5) Analisis Rasio Pasar Rasio pasar merupakan sekumpulan rasio yang menghubungkan harga

saham dengan laba dan nilai buku per saham. Rasio ini memberikan petunjuk

mengenai apa yang dipikirkan investor atas kinerja perusahaan di masa lalu

serta prospek di masa mendatang (Moeljadi, 2006:75).

Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor)

atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau

membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan

nilai buku saham (Sutrisno, 2003:256).

Menurut Hanafi (2004:43), rasio pasar mengukur harga pasar saham

perusahaan relatif terhadap nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih

banyak berdasar pada sudut pandang investor ataupun calon investor,

meskipun pihak manajemen juga berkepentingan terhadap rasio ini. Rasio

modal saham atau rasio pasar terdiri dari:

a) Rasio Harga Pasar/Pendapatan (Price Earning Ratio)

(PER)

menunjukkan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah

dari laba yang dilaporkan.Oleh para investor rasio ini digunakan untuk

memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang

akan datang. Kesediaan para investor untuk menerima kenaikan PER sangat

Menurut

Moeljadi

(2006:75),

Price

Earning

Ratio

bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat

pertumbuhan yang tinggi, biasanya memiliki PER yang tinggi. Sebaliknya

perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memiliki

PER yang rendah pula (Prastowo 2005:96).

Price Earning Ratio dihitung dengan rumus:

b) Rasio Harga Pasar/Nilai Buku (Market to Book Value Ratio) Rasio ini menunjukkan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang

telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio

ini, semakin besar tambahan wealth (kekayaan) yang dinikmati oleh pemilik

perusahaan (Husnan, 2006:76).Menurut Prastowo (2005:99), jika harga pasar

berada di bawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahaan tidak

cukup potensial. Bila seorang investor pesimistik atau prospek terhadap suatu

saham, banyak saham dijual pada harga di bawah nilai bukunya. Sebaliknya

jika investor optimistik maka saham dijual dengan harga di atas nilai bukunya.

Market to Book Value Ratio dihitung dengan rumus:

c) Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio) Dividend yield adalah dividen yang dibayarkan dibagi dengan harga

saham sekarang (Jones, 2004:41).Dividend yield dinyatakan dalam bentuk

persentase yang merupakan salah satu komponen dari total return (Total

Return = Yield + Price Change).

Dividend yield merupakan sebagian dari total return yang akan

diperoleh investor. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek

pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena

dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Kemudian karena

perusahaan dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga pasar saham

yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk

perusahaan macam ini akan cenderung lebih rendah (Hanafi, 2004:43)

Dividend Yield Ratio dihitung dengan rumus:

d) Rasio Pembayaran Deviden (Dividend Payout Ratio) Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen

kepada investor. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan

kembali ke perusahaan (Hanafi, 2004:44).

Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan

mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan

yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai rasio yang tinggi.

Pembayaran dividen juga merupakan kebijakan dividen perusahaan. Menurut

Alwi (2003:78), semakin besar rasio ini maka semakin lambat atau kecil

pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Dividend Payout Ratio dapat dihitung dengan rumus :

2.2 Gambaran Umum Perusahaan

2.2.1 Profil Perusahaan

Awal usaha industri jamu Perseroan bermula dari sebuah industri

rumah tangga yang dikelola oleh Ibu Rahmat Sulistio pada 1940 di

Yogyakarta, dengan dibantu oleh tiga orang karyawan. Banyaknya permintaan

terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi

jamu dalam bentuk yang praktis(serbuk).Seiring dengan kemajuan usaha

tersebut, pengolahan jamu dipindahkan dari Yogyakarta ke Semarang.

Pada tahun 1951 berdirilah perusahaan sederhana dengan nama Sido

Muncul yang berarti “Impian yang Terwujud” dengan pabrik pertamanya

berlokasi di Jl. Mlaten Trenggulun, Semarang.Pada 1970, dibentuk persekutuan komanditer dengan nama CV Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul. Kemudian pada 1975, bentuk usaha industri jamu berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul, dimana seluruh usaha dan aset dari CV Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul dimasukkan ke dalam dan dilanjutkan oleh perseroan terbatas tersebut. Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten Trenggulun ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat, dan pada 1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jl. Kaliwage, Semarang. Guna mengakomodir permintaan pasar yang terus bertambah, maka pabrik mulai dilengkapi dengan mesin-mesin modern, demikian pula jumlah karyawannya bertambah sesuai kapasitas yang dibutuhkan. Untuk mengantisipasi kemajuan masa mendatang, Perseroan merasa perlu untuk membangun unit pabrik yang lebih besar dan modern, maka pada 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik di Klepu, Ungaran, oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu.Pabrik baru yang berlokasi di Klepu, kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas sekitar 30 hektar tersebut diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia saat itu pada 11 November 2000. Saat peresmian pabrik, Perseroan sekaligus menerima dua sertifikat, yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (“CPOTB”) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (“CPOB”) setara dengan farmasi, dan sertifikat inilah yang menjadikan Perseroan sebagai satu- satunya pabrik jamu berstandar farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas sekitar 8 hektar dan sisanya menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik.

2.2.1.1 Bidang dan Kegiatan Usaha Sesuai Pasal 3 Anggaran Dasar terakhir Perseroan berdasarkan Akta Pernyataan Persetujuan Bersama Seluruh Pemegang Saham Perseroan Terbatas PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk No. 33 tanggal 18 September 2013 yang dibuat dihadapan Fathiah Helmi, SH, Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-49556.AH.01.02 Tahun 2013 tanggal 24 September 2013 dan telah terdaftar dalam Daftar Perseroan No.AHU-0089234.AH.01.09 Tahun 2013 tanggal 24 September 2013, ruang lingkup kegiatan usaha Perseroan adalah bergerak dalam perindustrian jamu dan farmasi, perdagangan, pengangkutan darat, jasa, dan pertanian. Untuk menjalankan kegiatan usaha tersebut Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha sebagai berikut :

a. Menjalankan usaha perindustrian, yang meliputi usaha obat-obatan (farmasi), jamu, bahan jamu, kosmetik, minuman dan makanan yang berkaitan dengan kesehatan, serta alat-alat elektronik yang berhubungan dengan kesehatan.

b. Menjalankan usaha perdagangan, termasuk dagang impor, ekspor, interinsulair, keagenan, leveransir, grosir, pengadaan (supplier), dan distributor obat-obatan (farmasi), jamu, bahan jamu, kosmetika, minuman dan makanan yang berkaitan dengan kesehatan serta alat-alat elektronik yang berhubungan dengan kesehatan, baik untuk Perseroan sendiri maupun atas dasar komisi untuk dan atas nama pihak lain.

c. Menjalankan usaha pengangkutan darat, yang meliputi ekspedisi dan pergudangan serta transportasi pengangkutan dalam rangka menjalankan usaha perindustrian dan perdagangan tersebut di atas.

d. Menjalankan usaha jasa pelayanan kebugaran, menggunakan alat-alat elektronik yang berhubungan dengan kesehatan dan jasa pelayanan kesehatan, kecuali jasa dalam bidang hukum dan pajak.

e. Menjalankan usaha pertanian, yang meliputi konservasi tanaman obat dan satwa untuk dipergunakan sebagai objek penelitian bahan-bahan jamu dan kosmetik, serta menyediakan sarana kunjungan di lingkungan konversi, tanaman obat dan satwa, yang semuanya itu guna menunjang usaha-usaha industri jamu dan farmasi tersebut di atas.

2.2.2

Visi dan Misi Perusahaan

2.2.2.1

Visi:

Menjadi perusahaan obat herbal, makanan-minuman kesehatan, dan pengolahan bahan baku herbal yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

2.2.2.2

Misi:

1. Mengembangkan produk-produk berbahan herbal yang rasional, aman dan jujur berdasarkan penelitian.

2. Mengembangkan penelitian obat-obat herbal secara berkesinambungan.

3. Membantu dan mendorong pemerintah, institusi pendidikan, dunia kedokteran agar lebih berperan dalam penelitian dan pengembangan obat dan pengobatan herbal.

4. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membina kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami, dan pengobatan secara naturopathy.

5. Melakukan corporate social responsibility (CSR) yang intensif.

6. Mengelola perusahaan yang berorientasi ramah lingkungan.

7. Menjadi perusahaan obat herbal yang mendunia.

2.2.3 Struktur Organisasi

RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM DEWAN KOMISARIS DIREKSI DIREKTUR UTAMA KOMITE AUDIT SEKRETARIS AUDIT INTERNAL PERUSAHAAN
RAPAT UMUM PEMEGANG
SAHAM
DEWAN KOMISARIS
DIREKSI
DIREKTUR UTAMA
KOMITE AUDIT
SEKRETARIS
AUDIT INTERNAL
PERUSAHAAN
DIREKTUR
DIREKTUR
DIREKTUR PERUSAHAAN
OPERASIONAL
PERUSAHAAN
MANAJER
PRODUKSI
MANAJER PRODUK
MANAJER KEUANGAN
MANAJER
PENELITIAN
DAN
MANAJER
MANAJER AKUNTANSI
PENGEMBANG
PENELITIAN
AN
MANAJER
MANAJER PROMOSI
LOGISTIK
MANAJER
SUMBER DAYA
MANUSIA

2.3 Pembahasan dan Deskripsi Data

2.3.1 Perhitungan Analisis Rasio Perhitungan analisis rasio yang dilakukan oleh penulis berdasarkan

data- data yang diambil dari laporan keuangan PT. Industri Jamu dan Farmasi

Sido Muncul Tbk selama periode tahun 2012 dan 2013. Rasio keuangan

terdiri dari 5 (lima) jenis, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio hutang,

rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Namun, penulis hanya membatasi analisis

rasio PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. pada analisis rasio

likuiditas, rasio hutang, dan rasio profitabilitas.

Analisis Likuiditas

1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Tabel 2.1 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Current Ratio (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Aktiva Lancar

Hutang Lancar

Current

Ratio

Interpretasi

2012

1.584.850

837.684

1,89

Naik

2013

2.366.390

324.747

7,28

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Bila dilihat pada Tabel 2.1, terjadi peningkatan rasio lancar pada tahun

2013 dibanding tahun sebelumnya.Ini dikarenakan aktiva lancar di tahun 2013

terjadi peningkatan yang cukup banyak apabila dibandingkan peningkatan

terhadap hutang lancarnya. Angka rasio lancar pada tahun 2013 bisa dikatakan

mendekati baik (Rasio Lancar = 2).

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Tabel 2.2 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Quick Ratio (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Aktiva Lancar-

Hutang

Quick

Interpretasi

Persediaan

Lancar

Ratio

2012

1.349.310

837.684

1,61

Naik

2013

2.078.661

324.747

6,40

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Karena rasio cepat terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya,

biasanya diikuti juga dengan peningkatan rasio cepat yang bisa dilihat pada

tabel. Namun apabila persediaan terlalu banyak, maka akan menurunkan rasio

cepat dari perusahaan karena sifat dari persediaan yang kurang likuid.

3. Rasio Kas (Cash Ratio)

Tabel 2.3 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Cash Ratio (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Kas

Hutang Lancar

Cash

Interpretasi

Ratio

2012

410.731

837.684

0,49

Naik

2013

1.348.955

324.747

4,15

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Terlihat bahwa rasio kas pada tahun 2013 naik signifikan dibanding

tahun sebelumnya yang dikarenakan kas yang tersedia pada tahun 2013 naik

hingga 3 kali lipat. Namun, semakin banyak kas yang ada maka akan

mengurangi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba.

4. Modal Kerja Bersih (Net Working Capital)/NWC

Tabel 2.4 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Net Working Capital (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Aktiva Lancar

Hutang Lancar

NWC

Interpretasi

2012

1.584.850

837.684

747.166

Naik

2013

2.366.390

324.747

2.041.643

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Adanya

peningkatan

modal

kerja

bersih

pada

tahun

2013

mengindikasikan bahwa terjadi juga peningkatan didalam investasi

perusahaan dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat

berharga), piutang dagang dan persediaan dibandingkan tahun 2012.

Analisis Hutang

1. Rasio

Hutang

Leverage)

Terhadap

Ekuitas

(Debt

to Equity

Ratio

atau

Ratio

Tabel 2.5 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Debt to Equity Ratio (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Hutang Jangka

Panjang

Ekuitas Pemegang Saham

Debt to

Equity

Ratio

(%)

Interpretasi

2012

8.664.000

1.304.651

664,08

Turun

2013

1.304.000

2.625.456

49,66

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Terdapat penurunan rasio hutang terhadap ekuitas pada tahun 2013

mengindikasikan bahwa hutang jangka panjang perusahaan hanya sebesar

6,56% dari modal sendiri, dan perusahaan lebih menyukai menerbitkan saham

baru dibandingkan menggunakan hutang jangka panjang.

2. Rasio Hutang (Debt Ratio)

Tabel 2.6 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Debt Ratio (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Total Hutang

Total Aktiva

Debt Ratio

(%)

Interpretasi

2012

846.348

326.051

259,57

Turun

2013

2.150.999

2.951.507

72,87

Sumber: Laporan Keuangan PTIndustri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Terdapat penurunan rasio hutang pada tahun 2013 dibandingkan tahun

2012 yang menggunakan hutang sebesar 27,30% dari total aktiva perusahaan.

Semakin rendah persentase hutang, maka semakin baik bagi keuangan

perusahaan.

3. Times Interest Earned/Coverage Ratio (Rasio Penutupan)

Tabel 2.7 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Times Interest Earned (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Laba Sebelum Bunga dan Pajak

Beban Bunga

Times

Interest

Earned

(%)

Interpretasi

2012

514.329

708

72,64

Naik

2013

595.914

13.256

4.495,42

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Terjadi kenaikan pada rasio penutupan pada tahun 2013 menjadi

4.495,42 menunjukkan situasi yang aman, meskipun barangkali juga

menunjukkan terlalu rendahnya penggunaan utang perusahaan.

Analisis Profitabilitas

1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Tabel 2.8 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Gross Profit Margin (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Laba Kotor

Penjualan

Gross

Profit

Margin

(%)

Interpretasi

2012

920.647

2.391.667

38,49

Naik

2013

1.010.781

2.372.364

42,60

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Terdapat kenaikan profit margin yang tinggi pada tahun 2013 yang

menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada

tingkat penjualan tertentu.

2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)/NPM

Tabel 2.9 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Net Profit Margin/NPM (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Laba Bersih Setelah

Penjualan

NPM

Interpretasi

Pajak (EAT)

(%)

2012

387.538

2.391.667

16,20

Naik

2013

405.943

2.372.364

17,11

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Terjadi kenaikan persentase margin laba bersih pada tahun 2013 yang

disebabkan oleh laba bersih setelah pajak tahun 2013 yang meningkat bila

dibandingkan pada tahun 2012, namun volume penjualan tahun 2013 dibawah

volume penjualan tahun 2012.

3. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin)

Tabel 2.10 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Operating Profit Margin (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Laba Operasi Bersih (EBIT)

Penjualan

Operating

Profit

Margin

(%)

Interpretasi

2012

514.329

2.391.667

21,50

Naik

2013

595.914

2.372.364

25,11

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Berdasarkan rasio laba operasi bersih terhadap penjualan, maka

diketahui bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi

bersih dari penjualan pada tahun 2013 tinggi dan mencapai target apabila

dibandingkan dengan tahun 2012.

4. Hasil Atas Total Aset (Return On Investment)/ROI

Tabel 2.11 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Return on Investment/ROI (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Laba Bersih Setelah Pajak (EAT)

Total Aktiva

ROI

Interpretasi

(%)

2012

387.538

2.150.999

18,01

Turun

2013

405.943

2.951.507

13,75

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Berdasarkan Return on Investment, maka diperoleh bahwa kinerja

perusahaan mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan oleh profit

margin yang menurun namun total aktiva yang terus meningkat. Jika

penurunan ROI ini terus terjadi, maka akan mengakibatkan menurunnya

kepercayaan investor atau pemilik modal kepada perusahaan, sehubungan

dengan turunnya kemampuan investasi perusahaan.

5. Hasil Atas Ekuitas (Return on Equity)/ROE

Tabel 2.12 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Return on Equity/ROE (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Laba Bersih Setelah Pajak (EAT)

Ekuitas

ROE

Interpretasi

(%)

2012

387.538

1.304.651

29,70

Turun

2013

405.943

2.625.456

15,46

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Dari tabel di atas diperoleh bahwa kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba di tahun 2013 menurun apabila dibandingkan dengan

tahun 2012 karena kenaikan ekuitas tidak diiringi dengan kenaikan laba bersih

setelah pajak.

6. Pendapatan per Saham (Earning per Share)/EPS

Tabel 2.13 PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Earning per Share/EPS (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Pendapatan Bagi Pemegang Saham

Lembar

Saham

EPS (%)

Interpretasi

2012

387.538

1,13

342.954

Turun

2013

406.936

15,07

27

Sumber: Laporan Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. tahun 2012, 2013

Pendapatan per saham pada tahun 2013 pun mengalami penurunan

bila dibandingkan dengan tahun 2012 karena laba bersih sebelum pajak yang

menurun mengakibatkan pendapatan bagi pemegang saham ikut berkurang,

namun jumlah lembar saham yang diterbitkan perusahaan naik hingga 25%.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan Simpulan dari penelitian ini adalah:

1. Rasio likuiditas, secara keseluruhan keadaan perusahaan berada dalam keadaan baik, meskipun selama kurun waktu dari tahun 2012-2013 berfluktuasi. Makin tinggi nilai rasio likuiditas, menandakan bahwa keadaan perusahaan berada dalam kondisi baik atau liquid.

2. Rasio solvabilitas, keadaan perusahaan tahun 2012-2013 berada pada posisi solvable. Hal ini dapat dilihat bahwa keadaan modal perusahaan cukup untuk menjamin hutang yang diberikan oleh kreditor.

3. Rasio profitabilitas secara keseluruhan dari tahun 2012-2013 keadaan perusahaan berada dalam posisi baik karena mengalami peningkatan seiring kemampuan perusahaan dalam meningkatkan laba dan efisiensi dalam menggunakan sumberdaya.

3.2 Saran

Saran yang dapat disampaikansebagai berikut:

1. Perusahaan harus meningkatkan likuiditasnya, meski pun dalam kondisiliquid tapi akanlebih baik jika perusahaan meningkatkan likuiditasnya untuk menjaga kepercayaan bagi para kreditur.

2. Solvabilitas perusahaan berada pada posisi baik. Keadaan ini harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo.

3. Profitabilitas perusahaan berada pada posisi yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam keadaan baik dan keadaan ini harus tetap dipertahankan oleh perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Iskandar. Z. 2003. Pasar Modal Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama. Jakarta:

Yayasan Pancur Siwa.

Bambang Riyanto. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE.

Hanafi, Mahmud M. 2004. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.

Harahap, Sofyan Syafri. 2008. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Husnan Suad dan Rekan. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta:

UPP STIM YKPN.

Jones, Charles P. 2004. Investment Analysis and Management 9 th ed. New York: John Wiley and Sons.

J. Keown, Arthur dkk. 2002. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Lukman Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi dalam Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan (Edisi Baru). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Mahmud. M. Hanafi. 2004. Manajemen Keuangan, Edisi 2004/2005. Yogyakarta:

BPPF.

Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, BPFE:

Yogyakarta.

Munawir, S. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Prastowo, Dwi dan Rifka Juliaty. 2005. Analisis Laporan Keuangan Konsep dan Aplikasi.Upp.Amp YKPN.Yogyakarta.

Riyanto, Bambang. 2008. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:

BPFE.

Sawir,

Agnes.

2003.

Analisis

Kinerja

Keuangan

dan

Perencanaan

Keuangan

Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Sawir,

Agnes.

2008.

Analisis

Kinerja

Keuangan

dan

Perencanaan

Keuangan

Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Sawir,

Agnes.

2009.

Analisis

Kinerja

Keuangan

dan

Perencanaan

Keuangan

Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Sido

Muncul.

2013.

Annual

Report.

unduh tanggal 09 Juni 2014).

Suad Husnan & Rekan. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Sundjaja, Ridwan S., Inge Barlian, dan Dharma Putra Sundjaja. 2010. Manajemen Keuangan 1. Bandung: Literata Lintas Media.

Sutrisno.2003.

Yogyakarta:

Manajemen

Keuangan

Teori

Konsep

dan

Aplikasi.

EKONISIA.

Syafri, Sofyan. 2008. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

LAMPIRAN