Anda di halaman 1dari 4

Perlukah Peraturan Daerah Penanggulangan

Gelandangan dan Pengemis?


Oleh : Septyarto Priandono, SH.

Masalah gelandangan, pengemis, dan anak jalanan merupakan sebuah problem yang dihadapi
oleh hampir semua kota-kota besar di dunia, tidak terkecuali Yogyakarta. Hampir setiap
perempatan jalan, tempat-tempat wisata, rumah ibadah, hingga ke perkampungan tak luput
menjadi sasaran gelandangan dan pengemis.
Sebagai provinsi yang mengedepankan pariwisata sebagai potensi unggulan, rupanya Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota menjadi jengah dengan kehadiran gelandangan,
pengemis dan anak jalanan yang membuat kota menjadi terlihat kumuh. Pemerintah Daerah tentu
khawatir jika citra kota pariwisata akan rusak dan para turis merasa tidak nyaman dengan
kehadiran gelandangan, pengemis dan anak jalanan sehingga menyurutkan niat mereka untuk
berwisata kembali ke Yogyakarta. Hal lain yang mungkin membuat Pemerintah Daerah merasa
terganggu adalah bahwa ada anggapan bahwa Kota Yogyakarta merupakan surga bagi
gelandangan, pengemis dan anak jalanan. Entah anggapan ini berasal dari mana.
Masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan ini rupanya cukup memusingkan Pemerintah
Daerah sehingga mereka berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Jika
dibiarkan kota menjadi kumuh tetapi bila ditangani akan mendapat tentangan dari banyak pihak
yang mengatasnamakan pembela hak asasi manusia. Salah satu alternatif penyelesaian masalah
tersebut adalah dengan membuat rancangan peraturan daerah tentang penanggulangan
gelandangan, pengemis dan anak jalanan. Diharapkan, dengan ditetapkannya rancangan
peraturan daerah tersebut maka masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan akan teratasi
dan aparat pemerintah daerah mempunyai payung hukum untuk membersihkan jalan-jalan di
seluruh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari gelandangan, pengemis dan anak jalanan.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah permasalahan gelandangan, pengemis dan anak jalanan
yang identik dengan kemiskinan ini akan selesai melalui pembuatan regulasi yang baru
(peraturan daerah)? Apakah peraturan perundang-undangan yang sudah ada masih kurang
sehingga perlu dibuat peraturan baru? Apakah peraturan yang sudah ada sebenarnya sudah cukup
tetapi belum dilaksanakan secara maksimal, baik itu sosialiasi atau pelaksanaan aturannya atau
optimalisasi tugas pokok dan fungsi dari instansi-instansi yang membidangi dan yang terkait.
Yang patut diwaspadai adalah jangan-jangan regulasi baru yang dibuat justru menimbulkan
masalah karena cara penanganan masalah yang tidak tuntas dan hanya menitikberatkan kepada
penegakan hukum (pidana) sehingga mengundang kritik tajam dari berbagai pihak pembela hak
asasi manusia.

Jika tujuannya hanya ingin membersihkan seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dari
gelandangan, pengemis dan anak jalanan, maka Pasal 504 dan Pasal 505 KUHP sudah lebih dari
cukup sebagai dasar para penegak hukum, dalam hal ini polisi, untuk bertindak. Pada
kenyataannya polisi justru terlihat enggan untuk menangkap gelandangan, pengemis dan anak
jalanan, yang paling mudah terlihat, ada di perempatan jalan. Belum jelas apa alasan polisi untuk
tidak melaksanakan tugas mereka itu, tetapi bagi Pemerintah Daerah mengupas masalah polisi
yang tidak bertindak itu tidak akan menyelesaikan masalah. Bagi Pemerintah Daerah yang
dibutuhkan adalah payung hukum untuk membersihkan jalan-jalan dari gelandangan, pengemis
dan anak jalanan sehingga tindakan mereka memenuhi legal formal, karena jika menggunakan
Pasal 504 dan Pasal 505 KUHP maka perangkat daerah dalam hal ini Satpol PP tidak
mempunyai kewenangan untuk merazia gelandangan, pengemis dan anak jalanan.
Sebuah pertanyaan lanjutan, jika Rancangan Peraturan Daerah tentang Gelandangan, pengemis
dan anak jalanan ini ditetapkan, kemudian terjadi razia besar-besaran terhadap gelandangan,
pengemis dan anak jalanan sehingga mereka semua terkumpul dengan jumlah yang belum dapat
dibayangkan, hendak diapakan mereka? (Info dari satpol PP Kota Yogyakarta, sampai awal
Agustus terkumpul 2.000 gelandangan, pengemis dan anak jalanan hasil razia). Apakah pantipanti sosial sudah siap menerima mereka, apakah koordinasi antar instansi juga sudah siap?
Apakah keuangan daerah sudah siap untuk menyantuni mereka/mengembalikan ke tempat asal?
Apakah lapangan pekerjaan sudah disiapkan? Apakah Apakah Rumah Tahanan Negara atau
Lembaga Pemasyarakatan di Yogyakarta sanggup menampung mereka? Apakah mekanisme
yang terdapat di dalam batang tubuh Rancangan Peraturan Daerah tersebut akan dapat menjawab
pertanyaan dan masalah tadi?
Sebelum Rancangan Peraturan Daerah tersebut hendak ditetapkan justru sebaiknya dilakukan
koordinasi yang matang atau penguatan jejaring kerja sama agar nantinya tidak saling melempar
tanggung jawab diantara sesama instansi Pemerintah Daerah, menyiapkan sarana dan prasarana,
dan mencoba menyadari dan memahami tanggung jawab dan wewenang yang sebenarnya sudah
diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang ada.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan
Gelandangan dan Pengemis sebenarnya sudah cukup memberikan kewenangan kepada
Pemerintah Daerah dalam hal Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Tanggung jawab
dan wewenang yang diberikan oleh Undang-Undang sudah serta merta melekat menjadi urusan
daerah tanpa harus dirumuskan kembali dalam sebuah peraturan daerah (kecuali jika memang
diperintahkan oleh peraturan di atasnya) sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Mungkin saja peraturan daerah tersebut tidak
dibutuhkan setelah koordinasi, sarana dan prasarana, tugas pokok dan fungsi setiap instansi
Pemerintah Daerah dioptimalkan.
Masalah yang mungkin mengganjal bagi Pemerintah Daerah adalah gugatan dari aktivis pembela
hak asasi manusia atau pihak-pihak lain adalah apa dasar hukum Satpol PP untuk merazia
gelandangan, pengemis dan anak jalanan. Secara runtut kita dapat melihat ketentuan Pasal 148

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah yang bunyinya sebagai
berikut:
Untuk membantu Kepala Daerah dalam menegakkan Peraturan Daerah dan penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai
perangkat Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada
Peraturan Pemerintah.
Jadi tugas-tugas Satuan Polisi Pamong Praja adalah membantu Kepala Daerah dalam:
1. Menegakkan Peraturan Daerah.
2. penyelenggaraan ketertiban umum.
3. penyelenggaraan ketentraman masyarakat.
Pengertian ketertiban umum dan ketentraman masyarakat sangat luas, substansinya tidak hanya
dan tidak harus ada di dalam Peraturan Daerah tetapi juga ada di dalam Peraturan Perundangundangan yang ada ditingkat yang lebih tinggi serta di berbagai bidang, dan itu juga menjadi
tugas Kepala Daerah untuk menerapkan dan menegakkan peraturan perundang-undangan
sebagaimana diatur di dalam Pasal 27 huruf e Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
Cara pandang selama ini terhadap Razia gelandangan, pengemis dan anak jalanan memang perlu
dirubah. Razia jangan selalu dikaitkan dengan penegakan ketentuan pidana di dalam Peraturan
Daerah tetapi sebagai suatu tugas membantu Kepala Daerah menerapkan Peraturan Perundangundangan dalam menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, yang salah
satunya adalah dengan mewujudkan kesejahteraan sosial melalui penanggulangan Gelandangan
dan Pengemis.
Jadi sah-sah saja Satpol PP melakukan razia karena sebetulnya payung hukum sudah lengkap,
sudah cukup. Pemerintah Daerah tidak perlu memaksakan diri untuk mengarahkannya kepada
pelanggaran ketentuan pidana di dalam sebuah Peraturan Daerah sehingga harus mengangkat
penyidik pegawai negeri sipil dan menciptakan kewenangan untuk penyidikan.
Harus diingat bahwa tidak semua pelanggaran Peraturan Daerah dapat disidik oleh penyidik
pegawai negri sipil karena tidak semua pelanggaran Peraturan Daerah langsung mengarah
kepada ketentuan pidana melainkan merupakan pelanggaran administratif saja. Untuk
menyelesaikan pelanggaran administratif tidak membutuhkan penyidik pegawai negri sipil dan
hanya memerlukan petugas atau pegawai biasa. Setiap orang sebenarnya boleh menangkap
seseorang yang tertangkap tangan melakukan tindak pidana dan menyerahkannya kepada polisi,
jika demikian apalagi terhadap Satpol PP yang jelas diberi tugas oleh Undang-undang untuk
menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.
Penegakan ketentuan pidana dalam penanggulangan gelandangan dan pengemis merupakan
ultimum remidium dan baru diterapkan setelah dilakukan tahapan seleksi yang merupakan tindak
lanjut dari razia. Penegakan ketentuan pidana ini sebaiknya berkoordinasi dengan polisi, dengan
begitu kita mencoba mendudukkan kembali suatu perkara pada porsinya masing-masing. Pasal

91 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mengamanatkan bahwa porsi penyidikan tindak


pidana diletakkan dalam kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengkaitkan
tugas razia dengan ketentuan pidana dan kewenangan penyidikan akan mempersulit Satpol PP
sendiri. Polisi sebagai penegak hukum harus mau melaksanakan tugasnya dan dengan jujur mau
mengakui bahwa masalah gelandangan dan pengemis merupakan tanggung jawabnya juga.
Berangkat dari kewenangan-kewenangan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat
disimpulkan bahwa Satpol PP tidak memerlukan Peraturan Daerah baru untuk melakukan razia
terhadap Gelandangan dan Pengemis. Yang harus kita pastikan adalah setelah razia dilakukan
memang ada suatu upaya yang terpadu dan berkesinambungan untuk mengentaskan kemiskinan
sebagai kewajiban Pemerintah Daerah dalam memenuhi hak asasi manusia di wilayahnya.
Karena itu sebelum razia besar-besaran dilaksanakan maka segala sarana dan prasarana,
koordinasi, penguatan lembaga perlu dipersiapkan terlebih dahulu agar upaya yang dimaksudkan
untuk memenuhi hak asasi manusia tersebut menjadi sia-sia dan menimbulkan masalah baru.
Upaya paksa memang pasti akan terjadi, kejar-kejaran dengan aparat, dan sedikit kekerasan pasti
akan terjadi. Hal tersebut tidak bisa dihindari dan harus dimaklumi, tetapi tentu ada batas-batas
agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Tugas kita semua untuk ikut mengawasi agar
tidak terjadi suatu tindakan berlebihan yang akan dilakukan oleh aparat.