Anda di halaman 1dari 17

Peran Apoteker dalam BPJS

(Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)


Lulu Margathe
148115099
Naomita Joice Y.
148115101
Widya Agriani Sidabutar 148115121

LATAR BELAKANG
Aktivitas semakin
padat

Terganggunya
kesehatan

Hak untuk
mendapatkan
kesehatan yang
maksimal

Dokter dan apoteker


merupakan tenaga
kesehatan yang turut
membantu
berjalannya program
SJSN

Indonesia mulai
menerapkan Sistem
Jaminan Kesehatan
Nasional (SJKN)

Hak asasi manusia


yang diakui oleh
segenap bangsa,
termasuk di Indonesia

KASUS
PAMEKASAN - Pasien yang menjadi peserta Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) dikenai pungutan saat meminta layanan ke Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) dr H Slamet Martodirdjo Pamekasan. Pasien yang
terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan
seharusnya memperoleh layanan kesehatan gratis, tetapi dipungut biaya
untuk pembelian obat.
Hal itu dialami Mohammad Turi, pasien asal Kelurahan Patemon.
Padahal, dia telah memiliki surat elegibilitas yang merupakan bukti sudah
terdaftar di BPJS. Namun, surat tersebut tetap saja tidak diindahkan pihak
RSUD. Buktinya, pasien masih harus mengeluarkan uang untuk memenuhi
kebutuhan obat sesuai dengan resep dokter.

Turi membeli obat di apotek di RSUD dr H Slamet Martodirdjo Pamekasan.


Meski dia telah menunjukkan kartu peserta JKN, pihak apotek menolak. Mereka
beralasan bahwa BPJS tidak melayani pengobatan yang ditulis sesuai dengan resep
dokter. ''Pada hari pertama, pihak apotek menjelaskan bahwa obat yang saya
butuhkan tidak tersedia. Saya disuruh membeli ke apotek di luar sehingga harus
mengeluarkan biaya,'' kata Turi kemarin (8/10).

Esoknya apotek di dalam RSUD telah menyediakan obat yang dibutuhkan


Turi. Tetapi, dia tetap harus menebus obat seharga ratusan ribu rupiah. Pembelian
obat itu dilakukan selama empat hari setelah pasien dinyatakan boleh pulang.
Anehnya, lanjut Turi, saat dirinya meminta kuitansi bukti pembelian obat, pihak
rumah sakit tidak mau memberikannya. ''Tapi, esoknya saya diberi kuitansi karena
petugas yang menjaga apotek berbeda,'' tuturnya.

Karena tidak puas dengan pelayanan RSUD, Turi mendatangi Kantor BPJS di
Jalan Panglegur. Dia dan keluarganya lantas mengajukan komplain lantaran
peserta BPJS masih dipungut biaya oleh pihak rumah sakit. Atas keluhan
tersebut, BPJS berjanji melakukan klarifikasi ke rumah sakit. Namun, BPJS
menyatakan, jika telah terdaftar sebagai anggota BPJS, pasien tidak dimintai
biaya pengobatan lagi.Sementara itu, Direktur RSUD dr H Slamet
Martodirdjo Pamekasan Dr Farid berjanji menjatuhkan sanksi kepada pihak
apotek bila mereka benar melakukan pungutan biaya obat kepada pasien
peserta BPJS. Dia menegaskan, kalau hal itu terjadi, pungutan tersebut
melanggar aturan. Sebab, biaya berobat pasien peserta BPJS ditanggung
negara.''Mengenai tidak tersedianya obat di apotek, seharusnya pasien
melapor ke komite medis. Selanjutnya, komite medis menyampaikan kepada
direktur untuk menyediakan obat yang kosong itu,'' jelas Farid.

ASUMSI

Dokter tidak memberikan


obat sesuai dengan
formularium nasional.

Apoteker tidak memberikan


kwitansi pada saat pasien
membeli obat sehingga uang
yang dibayar oleh pasien
digunakan untuk
kepentingan sendiri,
bukannya masuk ke rumah
sakit.

PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN YANG DILANGGAR


1. UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 23 ayat 4
Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilarang mengutamakan
kepentingan yang bernilai materi.

2.UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem


Jaminan Sosial Nasional
Pasal 22 ayat 1
Manfaat
jaminan
kesehatan
bersifat
pelayanan
perseorangan berupa pelayanan kesehatan yang mencakup
pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif,
termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang
diperlukan.

3. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial


Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 Tentang
Penyelenggaraan
Jaminan
Kesehatan
Pasal 57 ayat 1
Fasilitas kesehatan wajib memberikan pelayanan secara
paripurna termasuk penyediaan obat, bahan medis habis
pakai, alat kesehatan dan pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan.

4. Peraturan Menteri KesehatanNo. 28 Tahun


2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program
JKN
Pasal 2
a. Dana amanat dan nirlaba dengan manfaat untuk sematamata peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
d. Efisien, transparan dan akuntabel.

4. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun


2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program
JKN
Bab IV Pelayanan Kesehatan
Ketentuan Umum
10. Status kepesertaan pasien harus dipastikan sejak awal masukFasilitas Kesehatan
Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Bila pasien berkeinginan menjadi peserta JKN
dapat diberi kesempatan untuk melakukan pendaftaran dan pembayaraniuran
peserta JKN dan selanjutnya menunjukkan nomor identitaspeserta JKN selambatlambatnya 3 x 24 jam hari kerja sejak yangbersangkutan dirawat atau sebelum
pasien pulang (bila pasiendirawat kurang dari 3 hari). Jika sampai waktu yang
telahditentukan pasien tidak dapat menunjukkan nomor identitas peserta JKN maka
pasien dinyatakan sebagai pasien umum.

4. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun


2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program
JKN
Bagian C Manfaat Jaminan Kesehatan
1. Manfaat yang dijamin dalam JKN terdiri dari : (b)
Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan
Tingkat Lanjutan (FKRTL), yang mencakup : (4)Pelayanan
obat dan bahan medis habis pakai

4. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2014


tentang Pedoman Pelaksanaan Program JKN
-Bagian D
1. Pelayanan Obat
(c)Pelayanan obat untuk peserta JKN pada fasilitas kesehatan mengacu pada daftar obat
yang tercantum dalam Fornas dan harga obat yang tercantum dalam e-katalog obat.
3. Penggunaan Obat Di Luar Formularium Nasional Pada pelaksanaan pelayanan
kesehatan, penggunaan obat disesuaikan dengan standar pengobatan dan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Apabila dalam pemberian pelayanan kesehatan, pasien
membutuhkan obat yang belum tercantum di Formularium nasional, maka hal ini dapat
diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
(b)Penggunaan obat di luar Formularium nasional di FKRTL hanya dimungkinkan setelah
mendapat rekomendasi dari Ketua Komite Farmasi dan Terapi dengan persetujuan
Komite Medik atau Kepala/Direktur Rumah Sakit yang biayanya sudah termasuk dalam
tarif INA CBGs dan tidak boleh dibebankan kepada peserta.

SANKSI
UU No. 24 Tahun 2011 Tentang BPJS
Pasal 17 ayat 2
Sanksi administratif dapat berupa: teguran tertulis;
denda; dan/atau tidak mendapat pelayanan
publik tertentu.

Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pengenaan


Sanksi Administratif kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara
Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima
Bantuan Iuran dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial
Pasal 6

(1)
Pengenaan sanksi teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat
(2) huruf a diberikan paling banyak 2 (dua) kali masing-masing untuk jangka waktu
paling lama 10 (sepuluh) hari kerja.
Pasal 7
(1)
Pengenaan sanksi denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf
b diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak berakhirnya
pengenaan sanksi teguran tertulis kedua berakhir.

Pasal 8
Pengenaan sanksi tidak mendapat pelayanan publik tertentu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf c dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota atas permintaan BPJS.

SOLUSI

Apabila apoteker menemukan resep obat di luar Formularium Nasional sebaiknya segera
melaporkan kepada Komite Farmasi dan Terapi (KFT) sesuai dengan Permenkes No. 28 tahun
2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional BAB IV Pelayanan
Kesehatan.

Perlu adanya komunikasi antara dokter dengan apoteker serta penyelenggara sistem
BPJS.
Pemerintah perlu melakukan perhitungan ulang dengan memperkirakan kebutuhan tiap rumah
sakit dengan cara melakukan survei sehingga didapatkan rekap tentang obat yang dibutuhkan
tiap pasien BPJS.
Perlu dilakukan standardisasi obat yang ditegaskan pada supplier agar tidak terjadi kecurangan
pada distribusi obat yang dapat merugikan pasien.

Menghimbau kepada setiap peserta BPJS untuk melaporkan setiap kejadian yang tidak sesuai
dengan hak peserta BPJS.
Presiden atau pejabat yang ditunjuk perlu memberikan sanksi terhadap anggota dewan pengawas dan
anggota direksi badan penyelenggara jaminan sosial yang melanggar yaitu dapat dilihat pada PP RI
nomor 88 tahun 2013 pasal 3 ayat 2.

TERIMA KASIH ^_^