Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO), Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu
dengan kadar Hb dalam darahnya kurang dari 11,0 gr%. Anemia dalam kehamilan adalah
kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar
hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II (Depkes RI, 2009).
Kebutuhan zat besi pada setiap trimester kehamilan berbeda-beda. Pada trimester
pertama, kebutuhan besi justru lebih rendah dari masa sebelum hamil. Ini disebabkan wanita
hamil tidak mengalami menstruasi dan janin yang dikandung belum membutuhkan banyak
zat besi. Kebutuhan zat besi ibu hamil pada trimester I naik dari 0,8 mg/hari, menjadi 6,3
mg/hari pada trimester III. Kebutuhan akan zat besi sangat mencolok kenaikannya, dengan
demikian kebutuhan zat besi pada trimester II dan III tidak dapat dipenuhi dari makanan saja,
walaupun makanan yang dimakan cukup baik kualitasnya dan bioavaibilitasnya, namun zat
besi juga harus disuplai dari sumber lain agar cukup.
Peningkatan volume darah terjadi selama kehamilan, mulai pada 11-12 minggu usia
kehamilan. Volume darah merah dan plasma juga meningkat seiring dengan peningkatan
curah jantung. Keadaan ini membutuhkan banyak bahan pembentuk sel darah merah seperti
zat besi, asam folat dan zat-zat lainnya pada saat kehamilan. Peningkatan kebutuhan ini
mengakibatkan kecenderungan ibu hamil mengalami anemia, dimana hemoglobin menurun.
Pada ibu hamil juga terjadi peningkatan aliran darah ke seluruh organ tubuh misalnya otak,
uterus, ginjal, payudara dan kulit. Peningkatan ini sangat penting artinya bagi pertumbuhan
dan perkembangan bayi.
Indonesian-publichealth. Anemia dan Standar Kebutuhan Fe Ibu Hamil. Available at:
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/07/standar-kebutuhan-fe-bumil.html.2013.
Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan
kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan
perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%). Riskesdas
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara kecacingan dengan anemia pada ibu hamil trimester 2 dan 3?
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1
1.3.2

Tujuan Umum
Mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil trimester 2 dan 3 akibat kecacingan.
Tujuan Khusus
1. Menilai gambaran frekuensi ibu hamil trimester 2 dan 3 yang mengalami anemia
akibat kecacingan.
2. Menilai adanya hubungan antara kecacingan dan anemia pada ibu hamil trimester
2 dan 3.

1.4 Hipotesis
Terdapat hubungan antara kecacingan dan anemia pada ibu hamil trimester 2 dan 3.
1.5 Manfaat Penelitian
Bagi Instalasi/Profesi Kesehatan
Institusi yang terkait dapat melakukan upaya promotif dan preventif yang berkenaan

dengan masalah anemia pada ibu hamil trimester 2 dan 3 akibat kecacingan.
Bagi Pengembangan Penelitian
Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai hubungan antara

kecacingan dengan anemia pada ibu hamil trimester 2 dan 3.


Bagi Pelayanan Masyarakat
Sebagai informasi baru bagi petugas kesehatan khususnya dokter Puskesmas
untuk melakukan usaha pencegahan terjadinya anemia, khususnya akibat
kecacingan pada ibu hamil trimester 2 dan 3.
Sebagai sumber informasi bagi anggota keluarga ibu hamil khususnya suami
agar dapat memberikan perhatian dan dukungan untuk mencegah terjadinya
anemia pada trimester 2 dan 3.
Memberikan informasi mengenai hubungan kecacingan dengan anemia pada
ibu hamil trimester 2 dan 3.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Anemia Pada Ibu Hamil


Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh seseorang.
Anemia dapat terjadi karena kurangnya haemoglobin yang berarti juga minimnya oksigen ke
seluruh tubuh. Apabila oksigen dalam tubuh berkurang maka orang tersebut akan menjadi lemah,
lesu dan tidak bergairah. Indikasinya penyakit ini bisa diketahui dengan memeriksa kelopak mata
bawah bagian dalam, ujung kuku, tangan dan kaki, jari-jari tangan dan mukosa mulut.

Menurut WHO seseorang dinyatakan anemia bila kadar hemoglobin pada laki-laki
dewasa < 13 g/dl, pada anak umur 12-13 dan wanita dewasa tidak hamil < 12 g/dl, pada umur 6
bulan sampai 5 tahun dan wanita hamil < 11 g/dl. Pada anak umur 5-11 tahun dinyatakan anemia
bila kadar hemoglobin < 11.5 g/dl.
Anemia dalam kehamilan paling sering dijumpai adalah anemia akibat kekurangan zat
besi (Fe). Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang intake unsur zat besi ke dalam tubuh
melalui makanan, karena gangguan absorbsi, gangguan penggunaan atau terlalu banyak zat besi
yang keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. Keperluan zat besi akan bertambah dalam
kehamilan, terutama dalam trimester II hal ini disebabkan meningkatnya kebutuhan janin yang
dikandung oleh ibu.
Anemia gizi adalah keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit, dan sel darah
merah lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa
unsur makanan yang esensial. Anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat,
dan/atau vitamin B12.
2.2. Klasifikasi Anemia
Berdasarkan penyebab terjadinya anemia, secara umum anemia dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:

2.2.1. Anemia Defisiensi Besi


Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi
tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang yang pada akhirnya pembentukan
hemoglobin berkurang. Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi,
gangguan absorpsi serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun. Anemia jenis ini
merupakan anemia yang paling sering terjadi.
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi, sehingga cadangan besi makin
menurun. Apabila cadangan kosong, maka keadaan ini disebut iron depleted state. Jika

kekurangan besi berlanjut terus maka penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga
dapat menimbulkan anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada
beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut dan faring serta
berbagai gejala lainnya. Gejala yang khas pada anemia jenis ini adalah kuku menjadi rapuh dan
menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok, gejala seperti ini disebut koilorika. Selain itu,
anemia jenis ini juga mengakibatkan permukaan lidah menjadi licin, adanya peradangan pada
sudut mulut dan nyeri pada saat menelan. Selain gejala khas tersebut pada anemia defisiensi besi
juga terjadi gejala umum anemia seperti lesu, cepat lelah serta mata berkunang-kunang.
2.2.2. Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel
darah baru. Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis),
keracunan dan sinar rontgen atau radiasi. Mekanisme terjadinya anemia jenis ini adalah karena
kerusakan sel induk dan kerusakan mekanisme imunologis. Anemia jenis ini biasanya ditandai
dengan gejala perdarahan seperti petikie dan ekimosis (perdarahan kulit), perdarahan mukosa
dapat berupa epistaksis, perdarahan sub konjungtiva, perdarahan gusi, hematemesis melena dan
pada wanita dapat berupa menorhagia. Perdarahan organ dalam lebih jarang dijumpai, tetapi jika
terjadi perdarahan pada otak sering bersifat fatal. Komplikasi yang dapat terjadi adalah gagal
jantung akibat anemia berat dan kematian akibat infeksi yang disertai perdarahan.

2.2.3. Anemia Megaloblastik


Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan defisiensi vitamin Basam folat.
Anemia jenis ini ditandai dengan adanya sel megaloblast dalam sumsum tulang belakang. Sel
megaloblast adalah sel prekursor eritrosit dengan bentuk sel yang besar. Timbulnya megaloblast
adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena terjadi gangguan sintesis DNA sel-sel eritoblast
akibat defiensi asam folat dan vitamin asam folat berfungsi dalam pembentukan DNA inti sel dan
secara khusus untuk vitamin dalam pembentukan myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada
inti eritoblast ini maka maturasi inti lebih lambat, sehingga kromatin lebih longgar dan sel
menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat. Sel eritoblast dengan ukuran yang lebih

besar serta susunan kromatin yang lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast. Sel
megaloblast ini fungsinya tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang sehingga
terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang berujung pada terjadinya
anemia.
Kekurangan asam folat berkaitan dengan berat lahir rendah, ablasio plasenta dan Neural
Tube Defect (NTD). NTD yang terjadi bisa berupa anensefali, spina bifida (kelainan tulang
belakang yang tidak menutup), meningo-ensefalokel (tidak menutupnya tulang kepala).
Kelainan-kelainan tersebut disebabkan karena gagalnya tabung saraf tulang belakang untuk
tertutup.
Anemia defisiensi vitamin B12

dan asam folat memiliki gejala yang sama seperti

terjadinya ikterus ringan dan lidah berwarna merah. Tetapi pada defisiensi vitamin B12 disertai
gejala neurologik seperti mati rasa.
2.2.4. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis adalah penghancuran
atau pemecahan sel darah merah sebelum waktunya. Hemolisis berbeda dengan proses penuaan
yaitu pemecahan eritrosit karena memang sudah cukup umurnya. Pada dasarnya anemia
hemolitik dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu anemia hemolitik karena faktor di
dalam eritrosit sendiri (intrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat herediter dan anemia
hemolitik karena faktor di luar eritrosit (ekstrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat
didapatkan seperti malaria dan transfusi darah.
Proses hemolisis akan mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin yang akan
mengakibatkan anemia. Hemolisis dapat terjadi perlahan-lahan, sehingga dapat diatasi oleh
mekanisme kompensasi tubuh tetapi dapat juga terjadi tiba-tiba sehingga segera menurunkan
kadar hemoglobin.
Seperti pada anemia lainnya pada penderita anemia hemolitik juga mengalami lesu, cepat
lelah serta mata berkunang-kunang. Pada anemia hemolitik yang disebabkan oleh faktor genetik
gejala klinik yang timbul berupa ikterus, splenomegali, kelainan tulang dan ulkus pada kaki.

2.3. Mekanisme terjadinya Anemia Gizi Pada Ibu Hamil


Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan
akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Kebutuhan ibu selama kehamilan adalah
800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu.
Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3 mg besi/hari.
Volume darah ibu bertambah lebih kurang 50% yang menyebabkan konsentrasi sel darah
merah mengalami penurunan. Keadaan ini tidak normal bila konsentrasi turun terlalu rendah
yang menyebabkan Hb sampai <11 gr%. Meningkatnya volume darah berarti meningkat pula
jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah sebagai kompensasi
tubuh untuk menormalkan konsentrasi hemoglobin.
Pada kehamilan, fetus menggunakan sel darah merah ibu untuk pertumbuhan dan
perkembangan terutama pada tiga bulan terakhir kehamilan. Bila ibu telah mempunyai banyak
cadangan zat besi dalam sumsum tulang sebelum hamil maka pada waktu kehamilan dapat
digunakan untuk kebutuhan bayinya.
Akan tetapi bila pembentukan sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya
plasma sehingga terjadi pengenceran darah yang menyebabkan konsentrasi atau kadar
hemoglobin tidak dapat mencapai normal sehingga akan terjadi anemia. Akan tetapi bila
pembentukan sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi
pengenceran darah yang menyebabkan konsentrasi atau kadar hemoglobin tidak dapat mencapai
normal sehingga akan terjadi anemia.
2.4. Gejala Anemia Gizi Pada Ibu Hamil
Gejala yang khas pada anemia jenis ini adalah kuku menjadi rapuh dan menjadi cekung
sehingga mirip seperti sendok, gejala seperti ini disebut koilorika. Selain itu, anemia jenis ini
juga mengakibatkan permukaan lidah menjadi licin, adanya peradangan pada sudut mulut dan
nyeri pada saat menelan. Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering
pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun, konsentrasi hilang,
nafas pendek (pada anemia parah). Keluhan anemia yang paling sering dijumpai dimasyarakat

adalah yang lebih dikenal dengan 5L yaitu lesu, lemah, letih, lelah dan lalai. Disamping itu
penderita kekurangan zat besi akan menurunkan daya tahan tubuh yang mengakibatkan mudah
terkena infeksi.
2.5. Dampak Anemia Gizi Pada Ibu Hamil dan Janin
Anemia selama kehamilan menyebabkan ibu tidak begitu mampu untuk menghadapi
kehilangan darah dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi. Jika terjadi anemia kegagalan
jantung cenderung terjadi. Anemia juga dapat menimbulkan hipoksia fetal, persalinan premature
dan berpengaruh terhadap kematian ibu.
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi
dengan anemia akan mengurangi metabolisme tubuh sehingga menggangu pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim. Akibatnya bayi dapat lahir dengan cacat bawaan, lahir dengan
anemia, gangguan/hambatan pada pertumbuhan sel tubuh maupun sel otak janin sehingga pada
ibu hamil dapat mengalami keguguran, lahir sebelum waktunya, BBLR, perdarahan sebelum dan
waktu melahirkan serta pada anemia berat dapat menimbulkan kematian ibu dan bayi. Penderita
kekurangan besi akan turun daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terkena penyakit infeksi.

2.6. Penyebab Anemia Pada Ibu Hamil


Secara umum ada tiga penyebab anemia pada ibu hamil yaitu:
2.6.1. Kehilangan Banyak Darah
Banyaknya darah yang keluar berperan pada kejadian anemia karena wanita tidak
mempunyai persediaan Fe yang cukup dan absorbsi Fe ke dalam tubuh tidak dapat menggantikan
hilangnya Fe saat menstruasi. Perdarahan patologis juga dapat diakibatkan oleh penyakit/infeksi
kecacingan berhubungan positif terhadap terjadinya anemia.
Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan
di negara-negara berkembang. Berbagai data dari hasil penelitian berbagai negara berkembang di

Asia, Afrika dan Amerika Latin, dan menempatkan kecacingan seperti infeksi cacing gelang pada
tempat ketiga setelah penyakit diare dan tuberkulosis, infeksi cacing tambang pada tempat
keempat dan infeksi cacing cambuk pada tempat ketujuh. Infeksi kecacingan pada manusia baik
oleh cacing gelang, cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan
yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan
timbulnya anemia defisiensi besi.
Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing.
terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan
darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja.
Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang
banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka. orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia.
Perdarahan itu terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat
perembesan darah disekitar tempat hisapan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam
perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat
karena turn over sel epithel usus sangat cepat
Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi
yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri . walaupun ini
masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan
infeksi cacing ini
Untuk mengetahui banyaknya cacing tambang didalam usus dapat dilakukan dengan
menghitung banyaknya telur dalam tinja. Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/ gram
tinja. berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang didalam perut dan dapat menyebabkan darah
yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah
berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. Bila terdapat 20.000 telur/gram tinja berarti ada
kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat
2.6.2. Asupan Fe yang Tidak Memadai

Hanya sekitar 25% WUS memenuhi kebutuhan Fe sesuai angka kecukupan gizi yaitu 26
mikogram/hari. Secara rata-rata wanita mengonsumsi 6,5g per hari melalui diet makanan.
Kecukupan intake Fe tidak hanya dipenuhi dari konsumsi makanan sumber Fe (daging sapi,
ayam, ikan, telur dan lain-lain), tetapi dipengaruhi oleh variasi penyerapan Fe. Variasi ini
disababkan oleh perubahan fisiologis tubuh seperti hamil dan menyusui sehingga meningkatkan
kebutuhan Fe bagi tubuh, tipe Fe yang dikonsumsi. Jenis Fe yang dikonsumsi jauh lebih penting
daripada jumlah Fe yang dimakan. Heme iron dari Hb dan mioglobin hewan lebih mudah
dicerna. Non heme iron yang membentuk 90% Fe dari makanan non daging tidak mudah diserap
oleh tubuh.
2.6.3. Peningkatan Kebutuhan Fisiologi
Peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah merah yang lazim
berlangsung pada masa pertumbuhan bayi, masa pubertas, masa kehamilan dan menyusui.
Kebutuhan Fe meningkat selama hamil untuk memenuhi kebutuhan Fe akibat peningkatan
volume darah, untuk menyediakan Fe bagi janin dan plasenta, dan untuk menggantikan
kehilangan darah saat persalinan. Peningkatan absorps Fe selama trimester II kehamilan
membantu peningkatan kebutuhan. Beberapa studi menggambarkan hubungan suplementasi Fe
selama kehamilan dan peningkatan konsentrasi Hb pada trimester III kehamilan dapat
meningkatkan berat lahir bayi dan usia kehamilan.
2.7. Kebutuhan Zat Gizi Pada Ibu Hamil
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan
perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai 40
mgr. Di samping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel
darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita
mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi. Jumlah zat besi
yang dibutuhkan pada wanita hamil jauh lebih besar dari pada tidak hamil. Pada saat hamil
trimester I kebutuhan zat besi sedikit karena tidak terjadinya menstruasi dan pertumbuhan janin
lambat. Menginjak kehamilan trimester II (dua) sampai trimester III (tiga) terjadi pertambahan

sel darah merah sampai 35% yang ekuivalen dengan 450 mg besi. Pertambahan ini disebabkan
oleh meningkatnya kebutuhan oksigen oleh janin yang harus diangkut oleh sel darah merah.
Kemudian saat melahirkan akan terjadi kehilangan darah dan diperlukan pertambahan
besi 300-350 mg. Diperkiakan wanita hamil sampai melahirkan memerlukan zat besi kurang
lebih 40 mg//hari atau dua kali lipat kebutuhan daripada saat kondisi normal (tidak hamil). Tidak
mengherankan bila banyak wanita hamil akhirnya menderita anemia gizi besi karena kebutuhan
meningkat, tetapi konsumsi makanannya tidak memenuhi syarat gizi.
Kebutuhan zat besi selama kehamilan akan meningkat, hal ini bertujuan untuk memasok
tumbuh kembang janin selama dalam kandungan karena pertumbuhan janin memerlukan banyak
sekali zat besi selain itu untuk pertumbuhan plasenta dan peningkatan volume darah ibu, jumlah
yang diperlukan sekitar 1000 mg selama hamil.
Wanita hamil biasanya tidak hanya diberi preparat besi tetapi juga asam folat karena
anemia pada kehamilan selain disebabkan oleh defisiensi zat besi juga oleh kekurangan asam
folat. Penelitian di Universitas California menyatakan bahwa asupan asam folat sebanyak 0,4 mg
sehari dapat mencegah kecacatan.

2.8. Epidemiologi Anemia Pada Ibu Hamil


2.8.1. Distribusi dan Frekuensi
a. Menurut Orang
Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan usia yang
mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan
keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat
menyebabkan ibu mengalami anemia. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2008,
prevalensi anemia pada tahun 1999-2005 di dunia masih tinggi dimana prevalensi pada balita

47,4%, anak usia sekolah 25,4%, wanita tidak hamil 30,2%, wanita hamil 41,8%, pada lansia
23,9% dan terendah pada laki-laki 12,7%.
hasil survei yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2005 di 4 kabupaten/kota
di Sumatera Utara yaitu Medan, Binjai, Deli Serdang dan Langkat prevalensi anemia pada
pekerja wanita 40,5%. Pada tahun 2007 di Baltimurung Sulawesi Selatan menemukan hubungan
umur ibu dengan kejadian anemia dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah
responden dengan umur < 20 tahun dan >35 tahun sebanyak 20 (74,1%) orang dan pada umur
20-35 tahun sebanyak 51 (50.5%) orang yang menderita anemia.
b. Menurut Tempat
Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di Negara sedang berkembang
ketimbang Negara yang sudah maju. Prevalensi anemia ibu hamil pada tahun 2005 di beberapa
Negara terbelakang sangat tinggi seperti di Kongo adalah 67,30%, di Nigeria 65,51% dan di
Eithopia 62,68%. Prevalensi ini mulai berkurang di Negara berkembang seperti di India 44,33%
dan Indonesia 44,33%. Sedangkan di Negara maju prevalensi anemia pada ibu hamil sangat
rendah yaitu 11,46% di Prancis dan 5,7% di United States.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan PT Merck Tbk di Jawa Timur, Jawa Barat,
dan Sumatera Utara prevalensi anemia cukup tinggi. Di Jawa Timur dengan melibatkan 5.959
peserta tes darah di tiga kota, Kediri, Jombang, dan Mojokerto, didapat 33% di antaranya
anemia. Di Jawa Barat dengan peserta tes darah sebanyak 7.439 di tiga kota, Garut, Tasikmalaya,
dan Cirebon, 41% di antaranya anemia. Sedangkan di Sumatera Utara dengan peserta tes darah
sebanyak 9.377 orang di tiga kota, Medan, Pematang Siantar, dan Kisaran, didapati 33% di
antaranya anemia.
c. Menurut Waktu
Pada suatu penelitian yang diadakan di beberapa praktek bidan swasta dalam kotamadya
Medan, ditemukan bahwa terjadi peningkatan penderita anemia dengan makin tuanya usia
kehamilan. Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil pada trimester I kehamilan adalah 20%,
trimester II sebesar 70%, dan trimester III sebesar 70%. Hal ini disebabkan karena pada trimester

pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan
pertumbuhan janin masih lambat. Menginjak trimester kedua hingga ketiga, volume darah dalam
tubuh wanita akan meningkat sampai 35%, ini ekuivalen dengan 450 mg zat besi untuk
memproduksi sel-sel darah merah. Sel darah merah harus mengangkut oksigen lebih banyak
untuk janin. Sedangkan saat melahirkan, perlu tambahan besi 300 350 mg akibat kehilangan
darah. Sampai saat melahirkan, wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg per hari atau dua kali
lipat kebutuhan kondisi tidak hamil.
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 1986 proporsi
ibu hamil yang menderita anemia adalah 73,3% menurun pada tahun 1992 menjadi 63,5%, pada
tahun 1995 menurun menjadi 50,9%, tahun 2001 menurun lagi menjadi 40,1%. Hasil Riskesdas
2007 proporsi ibu hamil yang anemia adalah 24,5% . Hal ini menunjukkan keberhasilan program
pemerintah dalam hal penanggulangan anemia pada ibu hamil.
2.8.2. Determinan
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil adalah:
a. Usia
Umur ideal untuk kehamilan yang risikonya rendah adalah pada kelompok umur 20-35
tahun. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, perempuan yang
mengalami kehamilan pada usia berisiko tinggi (35 tahun ke atas) 4,6% tidak pernah
memeriksakan kehamilan, dan yang berusia < 20 tahun 5,1% memeriksakan kehamilan pada
dukun.
Kehamilan pada remaja putri sangat berisiko terhadap dirinya karena pertumbuhan linier
(tinggi badan) pada umumnya baru selasai pada usia 16-18 tahun, dan dilanjutkan dengan
pematangan rongga panggul beberapa tahun setelah pertumbuhan linier selesai.
b. Umur Kehamilan
Kebutuhan akan berbagai zat gizi termasuk zat besi pada trimester I meningkat secara
minimal. Setelah itu sepanjang trimester II dan III, kebutuhan akan terus membesar sampai pada

akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu,
yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara.
Persentase responden yang menderita anemia tertinggi dijumpai pada umur kehamilan
triwulan II (50%) dan triwulan ke III (37,50%). Hal ini disebabkan karena kebutuhan zat besi
pada triwulan II dan III meningkat dengan pesat untuk janin, plasenta dan penambahan volume
darah ibu.
c. Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran dapat menyebabkan hasil kehamilan yang kurang baik. Jarak dua
kehamilan yang terlalu pendek akan mempengaruhi daya tahan dan gizi ibu yang selanjutnya
akan mempengaruhi hasil produksi. Menurut Depkes RI jumlah kelahiran yang baik agar
terwujudnya keluarga sejahtera dan sehat adalah berjumlah 2 anak saja dengan jarak kelahiran
sama dengan atau lebih dari 3 tahun. Menurut penelitian yang ibu hamil yang jarak kelahiran
anaknya < 2 tahun sebagian besar menderita anemia. Seorang wanita yang melahirkan berturutturut dalam jangka waktu pendek tidak sempat memulihkan kesehatannya serta harus membagi
perhatian kepada kedua anak dalam waktu yang sama.
d. Konsumsi Tablet Fe
Kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi zat besi dengan cara yang benar akan memnuhi
kebutuhan zat besi dalam tubuh yang bisa meningkatkan kualitas kehamilan. Banyak hal yang
membuat ibu hamil tidak patuh mengkonsumsi zat besi yang terdapat dalam tablet tambah darah
yang diprogramkan pemerintah. Salah satunya adalah gangguan pencernaan dapat berupa mual
dan muntah. Sehingga hal ini perlu mendapat perhatian khusus terutama dari pemberian
pelayanan kesehatan misalnya bidan dan dokter. Jumlah tablet zat besi yang dikonsumsi ibu
hamil adalah minimal 90 tablet dan dianjurkan kepada ibu hamil untuk mengkonsumsi tablet
tambah darah dengan dosis satu kali sehari selama masa kehamilan dan 40 hari setelah
melahirkan.
e. Penghasilan

Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah status
ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan
makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga dan harga bahan
makanan itu sendiri. Keluarga dengan pendapaan terbatas kemungkinan besar kurang dapat
memenuhi kebutuhan makanannya, terutama memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya.
Dari hasil penelitianmenyatakan bahwa keluarga yang pendapatnya di atas UMR dapat
memenuhi kebutuhan gizi keluarganya terutama ibu hamil sehingga diasumsikan dapat
mencegah terjadinya anemia sedangkan keluarga dengan pendapatan di bawah UMR dapat
diasumsikan belum memenuhi kebutuhan hidup keluarganya termasuk gizi ibu hamil.
f. Pendidikan
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku untuk
hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap
informasi-informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari,
khusunya tingkat pendidikan wanita sangat mempengaruhi kesehatannya.
Dari hasil penelitian, menyatakan ada hubungan yang signifikan antara pendidikan
dengan status anemia, karena dengan tingkat pendidikan ibu yang rendah diasumsikan
pengetahuannya tentang gizi rendah, sehingga berpeluang untuk terjadinya anemia sebaliknya
jika ibu hamil berpendidikan tinggi maka kemungkinan besar pengetahuannya tentang gizi juga
tinggi, sehingga diasumsikan kecil peluang terjadinya anemia.
g. Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan terhadap ibu hamil oleh petugas
kesehatan untuk memelihara kehamilannya yang dilaksanakan sesuai standar pelayanan antenatal
yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan. Tujuan pelayanan antenatal adalah
mengantarkan ibu hamil agar dapat bersalin dengan sehat dan memperoleh bayi yang sehat,
mendeteksi dan mengantisipasi dini kelainan kehamilan dan deteksi serta antisipasi dini kelainan
janin.

Pelayanan antenatal meliputi lima hal yang dikenal dengan istilah 5T yaitu timbang berat
badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, nilai status imunisasi TT dan pemberian
tablet tambah darah. Konsumsi zat besi sangat diperlukan oleh Ibu hamil yang ditujukan untuk
mencegah ibu dan janin dari anemia, dan faktor risiko lainnya. Diharapkan ibu hamil dapat
mengonsumsi tablet Fe lebih dari 90 tablet selama kehamilan. Berdasarkan laporan Riskesdas
(2010) 80,7% ibu hamil tablet/membeli tablet Fe, dengan jumlah hari minum 0-30 hari (36,3%),
90 hari atau lebih (18%), 60-89 hari (8,3%), dan 31-59 hari (2,8%). Dijumpai 38% ibu hamil di
Sumatera Utara dan 3,6% di DI Yogyakarta yang tidak pernah minum tablet Fe.
K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat
pelayanan antenatal yang dilakukan pada trimester pertama kehamilan. Sedangkan K4 adalah
kunjungan ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan ante natal minimal 4 kali yaitu 1 kali pada
trimester pertama kehamilan, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga.
2.9. Pencegahan
2.9.1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu
penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan
perlindungan kesehatan adalah tiga aspek utama di dalam pencegahan primer. Dalam hal ini
pencegahan primer ditujukan kepada ibu hamil yang belum anemia. Tujuan pencegahan ini untuk
mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau
mencegah berkembangnya faktor risiko.
Pencegahan primer meliputi:
a. Edukasi (Penyuluhan)
Petugas kesehatan dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan nutrition
education berupa dorongan agar ibu hamil mengkonsumsi bahan makanan yang tinggi Fe dan
konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah minimal selama 90 hari. Edukasi tidak hanya
diberikan pada saat ibu hamil, tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya, dimulai jauh
sebelum peristiwa melahirkan. Selain itu, petugas kesehatan juga dapat berperan sebagai

konselor atau sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai cara mencegah anemia
pada kehamilan.
Suplementasi Fe adalah salah satu strategi untuk meningkatkan intake Fe yang berhasil
hanya jika individu mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor yang mendukung rendahnya
tingkat kepatuhan tersebut, salah satunya adalah efek samping yang tidak nyaman dari
mengkonsumsi Fe adalah melalui pendidikan tentang pentingnya suplementasi Fe dan efek
samping akibat minum Fe.
b. Suplementasi Fe (Tablet Besi)
Anemia defisiensi besi dicegah dengan memelihara keseimbangan antara asupan Fe dan
kehilangan Fe. Jumlah Fe yang dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan ini bervariasi antara
satu wanita dengan yang lainnya tergantung pada riwayat reproduksi. Jika kebutuhan Fe tidak
cukup terpenuhi dari diet makanan, dapat ditambah dengan suplemen Fe terutama bagi wanita
hamil dan masa nifas. Suplemen besi dosis rendah (30mg/hari) sudah mulai diberikan sejak
kunjungan pertama ibu hamil.
c. Fortifikasi Makanan dengan Zat Besi
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara terpusat merupakan
inti pengawasan anemia di berbagai Negara. Fortifikasi makanan merupakan cara terampuh
dalam pencegahan defisiensi besi. Produk makanan fortifikasi yang lazim adalah tepung gandum
serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan bubur jagung serta beberapa produk susu.
2.9.2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi untuk
menenmukan status patogenik setiap individu di dalam populasi. Pencegahan sekunder bertujuan
untuk menghentikan perkembangan penyakit menuju suatu perkembangan kearah kerusakan atau
ketidakmampuan. Dalam hal ini pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan
pada ibu hamil yang sudah mengalami gejala-gejala anemia atau tahap pathogenesis yaitu mulai

pada fase asimtomatis sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau gangguan
kesehatan.
Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan diantaranya adalah :
a. Skrining diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus diobati dalam
mengurangi morbiditas anemia. Bagi wanita hamil harus dilakukan skrining pada
kunjungan I dan rutin pada setiap trimester. Skrining dilakukan dengan pemeriksaan
hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia,
apakah ibu hamil masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. selain itu, juga
dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung seperti tekanan darah,
nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga, tenaga kesehatan
dapat memberikan tindakan yang sesuai dengan hasil tersebut. Jika anemia berat ( Hb < 9
g/dl) dan Hct <27%) harus dirujuk kepada dokter ahli yang berpengalaman untuk
mendapat pertolongan medis.
b. Pemberian

terapi

dan

Tablet

Fe

Jika ibu hamil terkena anemia, maka dapat ditangani dengan memberikan terapi oral dan
parenteral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu hamil ke rumah sakit untuk
diberikan transfusi (jika anemia berat).
2.9.3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan
menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah terjadi dan
menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini pencegahan tersier ditujukan kepada ibu hamil yang
mengalami anemia yang cukup parah dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit ke arah
yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup klien seperti untuk mengurangi atau
mencegah terjadinya kerusakan jaringan, keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah
serangan ulang dan memperpanjang hidup. Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil
diantaranya yaitu :
a.Memeriksa

ulang

secara

teratur

kadar

b. Mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada

hemoglobin

ibu hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap mengkonsumsi makanan
yang adekuat setelah persalinan.

Ibu
Hamil
BAB
III
KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL
Trimester 2 dan 3
3.1 Kerangka Konsep

Tidak Mendapat Tablet Fe

Mendapat Tablet Fe

Anemia

Kecacingan

3.2 Variabel Penelitian


3.2.1

Variabel Tergantung
Anemia

3.2.2

Variabel Bebas
Kecacingan

3.3 Definisi Operasional

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional jenis
analitik, dimana peneliti mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
Berdasarkan klasifikasi waktu, pendekatan dilakukan dengan mengunakan studi
potong lintang (cross sectional), dimana subjek diamati pada satu waktu, dimana

pengukuran variabel sobjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut, namun tidak dapat
menentukan pengelompokan antara sebab dan akibat dari variabel-variabel yang diteliti.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan dimulai sejak
November 2014 sampai dengan Desember 2014. Kami melakukan pemeriksaan feses
pada ibu hamil yang telah melakukan pemeriksaan laboratorium darah saat kunjungan
ANC ke Puskesmas di wilayah Kecamatan Pasar Minggu.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah seluruh ibu hamil yang mengalami anemia di
trimester 2 dan 3, yang berada di Kecamatan Pasar Minggu yang berada di lima
kelurahan, yaitu sebanyak sekian

4.3.2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


a. Kriteria Inklusi
- Ibu hamil trimester 2 dan 3
- Mendapat atau tidak mendapat tablet Fe
b. Kriteria Eksklusi
- Mempunyai penyakit kronis yang menimbulkan anemia, seperti gagal
ginjal
- Sedang mengalami pendarahan

4.3.3 Sampel Penelitian


Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan berdasarkan purposive
sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan pada pertimbangan subjektif
bahwa sampel tersebut dapat memberikan informasi yang memadai untuk
menjawab pertanyaan penelitian. Kami mengambil sampel berdasarkan data
anemia pada ibu hamil trimester 2 dan 3 yang terbanyak dari beberapa kelurahan
di Kecamatan Pasar Minggu, yaitu Pejaten Barat 1, Pejaten Barat 2, Pejaten Barat
3, Pasar Minggu 2 dan Kebagusan.
Selanjutnya, sampel diambil dengan menggunakan teknik cluster sampling,
yaitu proses penarikan sampel secara acak pada kelompok individu dalam
populasi yang terjadi secara ilmiah. Kami mengambil sampel 5 RW dari masingmasing kelurahan. Dan kami mengambil 13 sampel dari masing-masing RW.

Perhitungan Sampel
Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus
populasi infinit :
No
Z
P

Z2 x P x Q
d2

= Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96


= Prevalensi anemia pada ibu hamil 37,1% = 0,37 (Berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kemenkes RI Tahun 2013)
= Prevalensi/proporsi yang tidak mengalami peristiwa yang diteliti
1 0,371 = 0,629

= Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p <10% adalah 0,05

No

= (1,96)2 x 0,371 x 0,629 = 358,58 Pembulatan 359 sampel


(0,05)2
Besar populasi finit didapatkan dengan menggunakan rumus :
n
=
n0
(1 + n0/N)
= Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit
= Besar sampel dari populasi yang infinit
= Besar sampel populasi finit

n
n0
N

Karena jumlah ibu hamil trimester 2 dan 3 yang tinggal di Kecamatan Pasar
Minggu sebanyak 1.063, maka :
n

359
1 + (359/1063)

= 268.37 Pembulatan 268 sampel

Rincian pengambilan sampel di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan :


22 September 2014 (Kecamatan Pasar Minggu) : 70 sampel
29 September 2014 (Kecamatan Kebagusan) : 70 sampel
6 Oktober 2014 (Kecamatan Jati Padang)
: 20 sampel

4.4 Bahan dan Instrumen Penelitian


4.4.1 Pengumpulan Data

Data primer
Data yang diperoleh dengan cara langsung yaitu menggunakan alat bantu
berupa kuesioner dan pemeriksaan feses yang berkaitan dengan variabel yang

akan diteliti.
Data sekunder
Data yang diperoleh dari dokumen-dokumen, catatan-catatan, arsip resmi,
serta literatur lainnya yang relevan dalam melengkapi data primer penelitian.

4.4.2 Instrumen Penelitian

Tabel 4. Instrumen Penelitian


No
1.

Instrumen
Pemeriksaan Feses

2.

Kuesioner phbs

Fungsi
Untuk mengetahui adanya telur cacing
dalam feses ibu hamil.
Untuk mengetahui resiko terjadinga
kecacingan pada ibu hamil.

4.5 Pengolahan Data


1. Cleaning
Kuesioner dan hasil pemeriksaan feses yang terkumpul diperiksa kelengkapannya,
apakah data yang terkumpul sesuai dengan yang dibutuhkan peneliti. Kelengkapan
jawaban, kejelasan tulisan, serta kesesuaian jawaban di kuesioner diperhatikan dan
dinilai.
2. Coding and entry
Memberi kode atau label pada data yang akan dianalisa. Pengkodean dilakukan
untuk memberikan kode yang spesifik untuk tiap jawaban responden dan memudahkan
proses pencatatan data. Hasil pengkodean data kemudian dimasukkan ke dalam komputer
untuk dianalisa.

4.6 Analisis Data


1. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan frekuensi dan presentase dari
tiap variabel yang diteliti. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel atau diagram.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melakukan analisis terhadap dua variabel, yaitu
variabel bebas dan variabel tergantung. Uji hipotesis menggunakan statistika non
parametrik dengan Uji Chi Square (x2). Tingkat kemaknaan yang digunakan adalah p
<0,005. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 22.

4.7 Penyajian Data

Data yang telah terkumpul dan diolah akan disajikan dalam bentuk, yaitu :
a. Tekstular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat
b. Tabular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabel

4.8 Alur Kerja Penelitian

DAFTAR PUSTAKA