Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KEGIATAN PPDH

BAGIAN REPRODUKSI DAN KEBIDANAN

PRAKTIKUM BREEDING SOUNDNESS EVALUATION (BSE):


EVALUASI SEMEN SEGAR PADA SAPI
Disusun Oleh :
Khusnul Khotimah, SKH

B94144124

Muttaqinullah RS, SKH

B94144127

Nelda Fiza Nora, SKH

B94144128

Saras Nindya Murti, SKH

B94144138

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Latar Belakang
BSE merupakan metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui kapasitas
reproduksi dari seekor pejantan berdasarkan standar pengukuran dan interpretasi
kriteria tertentu yang terkait dengan kemampuan untuk berkembang biak serta
fertilitas, berdasarkan pengukuran perkembangan testis dan karakteristik semen
(LeaMaster dan DuPonte, 2007).
BSE dilakukan dengan prinsip yang sangat akurat, sehingga dengan
demikian didapatkan pejantan fertile yang unggul. Proses identifikasi dalam BSE
terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu; pertama melakukan physical
examination untuk mengetahui kondisi fisik pejantan secara umum, seperti
melakukan pengamatan terhadap Body Condition Score (BCS), pemeriksaan mata,
kaki, persendian, dan kecacatan, kedua pemeriksaan libido dan kemampuan kawin
dari pejantan unggul yang digunakan, ketiga pemeriksaan terhadap organ genital
seperti pemeriksaan terhadap penis untuk melihat adanya kerusakan fisik, palpasi
scrotum dan testis untuk mengetahui abnormalitas yang dapat menyebabkan
kegagalan fertilitas, palpasi rektal untuk mengetahui adanya abnormalitas pada
urethra, kelengkapan kelenjar assesoris, dan vas deferens, keempat dengan
melakukan pengukuran lingkar skrotum dan yang kelima yaitu evaluasi semen.
Evaluasi sperma meliputi pengamatan terhadap motilitas dan morfologi dari
spermatozoa (LeaMaster dan DuPonte, 2007).
Keberhasilan dalam membuahi sel telur sangat dipengaruhi dari kualitas
spermatozoa, spermatozoa merupakan sel gamet yang dihasilkan oleh testis, yang
terdiri dari bagian kepala (head), midpiece dan bagian ekor (tail) (Senger 2005).
Kualitas spermatozoa yang baik sangat dipengaruhi oleh kesehatan ternak,
kebutuhan pakan dan nutrisi serta organ reproduksi jantan. Tujuan dilakukan
pengamatan BSE adalah untuk menilai apakah hewan pejantan yang di uji
merupakan pejantan yang fertil serta memiliki spermatozoa yang layak digunakan
dalam proses inseminasi buatan (IB).
Tujuan
Tujuan praktikum BSE adalah mengetahui dan melakukan evaluasi semen
segar pada sapi.

Penampungan dan Evaluasi Semen


Penampungan semen dilakukan pada pagi hari dengan menggunkan vagina
buatan. Jenis sapi jantan yang ditampung semennya adalah Frisien Holstein (FH).
Semen yang telah diperoleh dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis.
Pemeriksaan makroskopis dilakukan segera setelah semen diperoleh terhadap
volume, pH, konsistensi, bau dan warna, sedangkan pemeriksaan mikroskopis
ditujukan untuk mengetahui kualitas spermatozoa. Pemeriksaan ini meliputi: (1)
gerakan massa, dilakukan dengan cara meneteskan sperma pada objek glass
kemuadian diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10. Dinilai dengan
skor sangat baik (+++), baik (++), rendah(+), yang mejadi patokan penilaian
adalah tebal tipis gelombang sperma dan kecepatan gelombang sperma
berpigerak. (2) gerakan individu, sperma pada pengamatan gerakan massa
diencerkan dengan NACl sebanyak 4-5 tetes kemudian diambil 1 tetes dan
diletakkan pada objek glass baru. Diamati pada mikroskop dengan perbesaran
40x10. (3) motilitas progresif, menggunakan obyek gelas yang ditutup dengan
gelas penutup dan diamati menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran
10 x 40. Persentase motilitas dinilai secara subyektif dengan membandingkan
spermatozoa hidup bergerak ke depan (progresif) dengan yang tidak progresif.
Penilaian yang diberikan dari angka 0% (4) viabilitas dilakukan dengan
menggunakan pewarna eosin 2%, kemudian dilakukan ulasan secara cepat dan
difiksasi pada hot plate. Pemeriksaan dilakukan di bawah mikroskop cahaya
dengan pembesaran 10 x 40, terhadap sepuluh lapang pandang. (5) konsentrasi
spermatozoa dilakukan dengan dua metode yaitu estimasi, dinilai dengan
mengukur kerapatan antarsperma dengan 3 kategori yaitu densum, semi densum,
rarum dan counting chamber (Neubauer chamber) dari 5 kotak hitung.
Persiapan Media Pengencer
Semen yang telah dievaluasi akan dienerkan untuk selanjutnya akan disimpan
dalam bentuk smen beku dan semen cair. Bahan pengencer yang digunakan adalah
tris-kuning telur dan sitrat-kuning telur. Proses persiapan semen cair dimulai dari
penghitungan bahan pengencer seperti tabel 1. Kemudian penambahan kuning
telur, perbandingan kuning telur dengan buffer adalah 1:4. Setelah itu, dihitung
terlebih dahulu volume total semen cair. Kemudian mencampur semen dengan
bahan pengencer dan antibiotik. Setelah homogen disimpan pada lemari es.
Volume total =Volume semen x konsentrasi x motilitas
Dosis IB
= 1 cc x 700.106 x 90%
25.106
= 25,2 cc
Volume total semen dan pengencer sebesar 25,2 cc, dengan rincian 1cc semen dan
24,2 cc pengencer.

Tabel 1 Perhitungan bahan pengencer semen

Sitrat Fruktosa Buffer

Buffer Tris

Natrium Sitrat

1.16 gr

Tris

1.98 gr

Fruktosa

0.62

Fruktosa

0.78

Aquadest

Ad 50 ml

Asam sitrat

1.08 gr

Aquadest

Ad 50 ml

Persiapan Semen Bekum


a. Tris Kuning Telur Semen Beku
Prosedur penyiapan buffer hingga penyiapan kuning telur sama dengan
prosedur sebelumnya. Perbandingan antara Na sitrat dan tris dengan
kuning telur dan gliserol, masing-masing adalah sebagai berikut untuk
pengenceran sebanyak 25 ml:
Tris + gliserol + kuning telur Tris 74% = 74/100 x 25 ml = 18.5 ml
Kuning telur 20% = 20/100 x 25 ml
= 5 ml
Gliserol 6% = 6/100 x 25 ml= 1.5 ml
b. Sitrat Kuning Telur Semen Beku
Prosedur penyiapan buffer hingga penyiapan kuning telur sama dengan
prosedur sebelumnya.
Na Sitrat + gliserol + kuning telur Na sitrat 74% = 74/100 x 25 ml
= 18.5 ml
Kuning telur 20% = 20/100 x 25 ml
= 5 ml
Gliserol 6% = 6/100 x 25 ml= 1.5 ml
Antibiotik yang digunakan dalam pengencer semen adalah penicillin dan
streptomycin. Pengencer dicampur dengan antibiotik, kemudian ditambahkan
semen sapi segar. Volume antibiotik yang digunakan, masing-masing adalah:
Penicillin Sediaan 100.000 IU/ml, dosis 500-1.000 ml, volume pengencer
semen 25 ml. Volume yang digunakan: 25 ml/100.000 IU x 1.000
ml = 0.25 ml
Streptomycin Sediaan 500 mg/ml, dosis 0.5-1 mg, volume pengencer semen 25
ml. Volume yang digunakan: 25 ml/500 mg x 1 mg = 0.05 ml.
Setelah diketahui jumlah volume pengencer sampel semen dibagi dua
bagian, satu bagian diencerkan dengan Sitrat-kuning telur dan satu bagian lagi
diencerkan Tris-kuning telur melalui metode pengenceran satu tahap (one step
method). Pengenceran dengan metode satu tahap, dilakukan dengan cara
memasukkan pengencer melalui dinding gelas erlenmeyer yang berisi semen
secara perlahan hingga seluruh pengencer tercampur homogen. Pencampuran
antara semen segar dan pengencer dilakukan pada suhu kamar yang bersuhu 30C.
1. Ekuilibrasi
Proses ekuilibrasi dilakukan setelah sampel semen dicampur dengan
masing-masing bahan pengencer pada gelas erlenmeyer yang telah diberi label
SKT (sitrat kuning telur) dan TKT (tris-kuning telur), berlangsung selama 2 jam

di dalam lemari pendingin (refrigerator) bersuhu 5C. Selama proses ekuilibrasi


berlangsung, sampel semen pada setiap perlakuan pengencer sitrat dan tris-kuning
telur dilakukan penambahan gliserol sebanyak 7% dari total volume pengencer
secara perlahan-lahan melalui dinding gelas Erlenmeyer (proses gliserolisasi)
sampai seluruhnya tercampur merata.
2. Pengisian straw (packing)
Pengisian straw dilakukan dengan menggunakan filler (mikropipet) yang
dihubungkan dengan slang plastik pada alat penghisap. Bagian ujung ministraw
yang terbuka ditutup dengan cryoseal atau alat sealer. setiap perlakuan diulang 4
kali.
3. Pembekuan Semen
Pembekuan semen dilakukan secara manual menggunakan kotak
styrofoam. Di dalam setiap ruang pembekuan terdapat wadah aluminium
penampung N2 cair,. Bagian atas kotak Styrofoam diisolasi dengan kaca setebal 5
mm, dan pada setiap ruangan diberi lubang untuk memasukkan sensor
thermometer digital saat mengamati suhu pembekuan. Proses pembekuan pada
setiap ruangan, diawali dengan menuangkan N2 cair ke dalam wadah aluminium
pada setiap ruang pembekuan setinggi 5 cm. Selanjutnya straw diletakkan pada
rak yang ada, dengan bagian atas ditutup kaca sebagai isolator.
4. Evaluasi Semen Beku
Evaluasi semen beku dilakukan setelah straw di thawing di dalam minitub
bersuhu 39C selama 2 menit, sampai semen dalam straw benar-benar mencair,
kemudian sampel semen dikeluarkan untuk dievaluasi secara mikroskopis sesuai
dengan peubah yang diamati.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Semen Segar Sapi dan Domba
Hasil pengamatan terhadap karakteristik makroskopis dan mikroskopis
semen segar sapi dan domba dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik semen segar sapi
Keterangan
Ulangan ke-

Pengamatan
1

Putih kekuningan

Putih kekuningan

6.4

6.4

Sedang

sedang

Khas

Khas

++

++

Gerakan Individu (1-5)

Motilitas Progresif (0-100%)

90

80

-Estimasi

700

680

-Counting chamber

54

48

Hidup

85%

80%

Mati

15%

20%

Makroskopis
Volume (ml)
Warna
pH
Konsistensi
Bau
Mikroskopis
Gerakan Spermatozoa
Gerakan massa (+/++/+++)

Konsentrasi Spermatozoa (106/ml)

Presentase hidup (viabilitas %)

Pengamatan makroskopis dan mikroskopis yang telah dilakukan, diketahui


bahwa volume semen sapi yang diperoleh adalah 6 ml, hasil tersebut sesuai
dengan pernyataan Garner dan Hafez (2000) bahwa volume semen sapi berkisar
antara 5-8 ml/ejakulasi, warna semen putih kekuningan, konsistensi semen adalah
sedang, pH yang diperoleh 6.4 dan nilai pH masih berada pada kisaran pH normal
semen sapi (Garner dan Hafez, 2000) yaitu 5-7, dan semen berbau khas, semen
yang normal tidak berbau busuk jika berbau busuk berarti semen telah
terkontaminasi dengan bakteri dan ini sangat tidak diharapkan.
Pemeriksaan mikroskopis semen sapi didapatkan hasil bahwa semen
memiliki gerakan massa ++, gerakan individu ulangan pertama dan kedua adalah
4, motilitas progresif ulangan pertama 90% dan kedua 80%, konsentrasi

spermatozoa untuk estimasi ulangan pertama dan kedua adalah 700 dan 680, dan
penghitungan counting chamber ulangan pertama 54 juta/ml dan kedua 48 juta/ml,
serta viabilitas spermatozoa hidup dan mati pada ulangan pertama dan kedua
adalah 85 dan 80% (hidup), dan 15 dan 20% (mati). Hasil yang diperoleh sesuai
dengan Garner dan Hafez (2000) yang menyatakan bahwa, motilitas dan
persentase hidup spermatozoa berkisar antara 60%-80%, namun konsentrasi yang
didapatkan dibawah nilai yang disebutkan Garner dan Hafez (2000) yaitu 10002000 juta/ml, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh lingkungan dan faktor nutrisi
pakan yang diberikan pada ternak.
Semen Beku Sapi dengan Pengencer Tris Kuning Telur dan Sitrat Kuning
Telur (Post Thawing)
Hasil yang didapatkan dari evaluasi semen beku trdapat dalam Tabel 3 di bawah
ini.
Tabel 3 Hasil Pengmatan Semen Beku Sapi.
Pengencer/Parameter

Semen Cair

Setelah
Ekulibrasi

Post Thawing
Suhu 37oC

Air Kran

Tris-KT-Gliserol
Rataan Motilitas (%)

50

30

28

15

Rataan Viabilitas (%)


Na sitrat-KT-Gliserol

39

30

52.4

42.4

Rataan Motilitas (%)


Rataan Viabilitas (%)

55
74.5

35
70.5

15
49

10
38

Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam tabel, nilai persentase semen


cair sebelum diekuilibrasi lebih tinggi dibandingkan dengan semen setelah
ekuilibrasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh sperma mengalami kematian akibat
waktu yang terlalu lama. Semen yang telah dibekukan, setelah itu dithawing pada
suhu 27oC dan dithawing pada air kran (suhu 37 oC). Parameter yang diamati
adalah motilitas dan viabilitas. Motilitas dilihat dengan menambahkan NaCl 0.9%
pada 1 tetes spermatozoa pada object glass yang ditutup cover glass. Viabilitas
mengamati permatozoa yang hidup dan mati dengan menggunakan eosin nigrosin.
Spermatozoa yang mati permebilitas membrannya meningkat atau menyerap warna,
sedangkan spermatozoa yang hidup tidak menyerap warna. Sel spermatozoa yang
tidak menyerap warna akan berwarna jernih sedangkan sel spermatozoa yang
menyerap warna akan berwarna seperti diserap (Tambing et al. 2001). Motilitas dan
viabilitas sperma saat post thawing pada suhu 27 oC dan air kran dengan pengencer
tris dan Na sitrat terdapat pada grafik di bawah ini.
Grafik 1 Motilitas dan viabilitas pengencer

27oC

27oC

Penambahan bahan pengencer bertujuan untuk menyediakan sumber


energi bagi sperma sehingga menjamin kelangsungan hidup sperma selama
penyimpanan (preservasi) atau pembekuan (kriopreservasi). Syarat penting bahan
pengencer sperma adalah mampu menyediakan zat-zat makanan sebagai sumber
energi, mencegah terjadinya cold shock sewaktu preservasi dan kriopreservasi,
menjaga pH dan tekanan osmotik yang sama dengan sperma (Salisbury dan Van
demark 1985). Pengenceran juga dapat memberi perlindungan terhadap cold
shock yang terjadi saat pembekuan dan sebagai penyanggah untuk menjaga
kestabilan pH (Mumu 2009). Witarsa (2001), menyatakan bahwa daya hidup
spermatozoa pasca thawing minimal 40%, jika kurang dari 40% maka semen beku
tersebut tidak layak diinseminasikan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa
semen yang telah dibekukan tersebut layak untuk diinseminasikan.
Kematian spermatozoa karena cold shock pada saat pendinginan dan
pembekuan dapat diperkecil dengan menambahkan bahan yang bersifat
krioprotektan ke dalam pengencer. Penggunaan giserol sering ditambahkan ke
dalam pembuatan pengencer untuk semen beku. Pengaruh perlindungannya yaitu
memodifisier kristal-kristal es yang terbentuk selama proses pembekuan, sehingga
kerusakan organel-organel sel spermatozoa dapat dihindarkan. Bila organelorganel sel spermatozoa rusak, seperti mitokondria maka rantai oksidasi akan
terputus sehingga proses metabolisme tidak dapat berlangsung dan akhirnya sel
mati (Siswanto 2008). Peranan lain dari gliserol adalah mencegah terjadinya
dehidrasi, karena memiliki daya pengikat air yang kuat. Sifat demikian
mempengaruhi tekanan uap, sehingga titik beku medium menurun, akibatnya sel
spermatozoa akan memperoleh kesempatan lebih lama untuk mengeluarkan air.
Mazur (1980), mengatakan bahwa gliserol dapat mencegah pengumpulan
molekul-molekul H2O dan kristalisasi es pada daerah titik beku larutan. Suhu
yang digunakan utnuk thawing adalah suhu 27 C dan air kran dengan suhu 37 C.
Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa karakteristik spermatozoa yang di
thawing pada suhu 27 C lebih baik dari pada spermatozoa yang di thawing pada
suhu 37 C. Hasil tersebut berbeda dengan pendapat Salim et al. (2012) yang
menyatakan bahwa karakteristik spermatozoa yang di thawing pada suhu yang
semakin rendah dan durasi thawing yang panjang dapat menyebabkan terjadinya
penurunan kualitas spermatozoa.
Karakteristik Semen Cair Sapi pada Pengencer Tris Kuning Telur dan Sitrat
Kuning Telur

Semen cair adalah semen segar yang telah diberi bahan pengencer dan
disimpan pada suhu 5C serta dapat digunakan dalam jangka waktu 3 sampai
dengan 4 hari. Tujuan dari penyimpanan pada suhu rendah adalah untuk
mengurangi laju metabolisme sperma. Laju metabolisme sperma bertambah 2 kali
lipat setiap kenaikan suhu sebesar 100C, maka dari itu penyimpanan semen pada
suhu 40C diharapkan dapat mengurangi laju metabolisme sperma (Parks 2014).
Sperma sangat sensitif terhadap suhu dingin, dibutuhkan bahan pengencer yang
dapat melindungi dan memberi nutrisi pada sperma, contohnya kuning telur. Di
samping itu, bahan pengencer semen harus mengandung sumber nutrisi, buffer,
bahan anti cold shock, antibiotik, dan krioproktektan yang dapat melindungi
sperma (Toelihere 1979). Sumber nutrisi yang paling banyak digunakan adalah
karbohidrat terutama fruktosa yang paling mudah dimetabolisasi oleh
spermatozoa (Toelihere 1993). Buffer berfungsi sebagai pengatur tekanan osmotik
dan juga berfungsi menetralisir asam laktat yang dihasilkan dari sisa metabolisme
spermatozoa. Bahan anti cold shock yang umum ditambahkan adalah kuning telur
atau kacang kedelai (Aboagla dan Terada 2004), yang dapat melindungi
spermatozoa pada saat perubahan suhu dari suhu ruang (28 oC) pada saat
pengolahan ke suhu ekuilibrasi (5oC). Tujuan lain penambahan bahan pengencer
ke dalam semen yaitu untuk memperbanyak volume semen sehingga jumlah
betina yang dapat difertilisasi secara buatan menjadi lebih banyak (Campbell et
al. 2003). Bahan pengencer yang digunakan adalah tris-kuning telur dan sitratkuning telur, tris (hydroxymethyl) aminomethan yang mempunyai kemampuan
sebagai penyangga yang baik dengan toksisitas yang rendah dalam konsentrasi
yang tinggi (Steinbach dan Foote 1967). Hasil yang didapatkan dari evaluasi
pembuatan semen cair terdapat dalam tabel 4, dan grafik 3 di bawah ini.
Tabel 4. Karakteristik motilitas dan viabilitas semen cair sapi dalam pengencer tris kuning
telur dan natrium sitrat kuning telur
Pengencer

Hari Ke-

Motilitas (%)

Tris-Kuning Telur

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

75
45
35
10
3
55
35
25
6
2

Natrium SitratKuning Telur

Grafik 3 Motilitas dan Viabiltas Semen Cair

Viabilitas (%)
Hidup (%)
Mati (%)
40
60
36
64
30
70
25
75
20
80
80
20
55
45
30
70
15
85
0
100

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terjadi penurunan motilitas sperma


pada masa penyimpanan secara bertahap hingga hari ke-5 pada kedua pengencer
yaitu tris-kuning telur dan sitrat-kuning telur. Motilitas adalah gerak maju
kedepan dari spermatozoa secara progresif. Pada hari pertama motilitas sperma
dengan pengencer tris-kuning telur sebesar 75%, menurun hingga 45% pada hari
berikutnya, terus menurun hingga hari ke-5 hingga motilitas progresifnya hanya
mencapai 3%. Motilitas sperma pada pengencer sitrat-kuning telur pada hari
pertama sebesar 55%, menurun hingga 35% pada hari kedua, hingga mencapai 2%
pada hari kelima. Menurut Setiadi dan Julizar (2001), fenomena penurunan
motilitas spermatozoa setelah penyimpanan yang lama lebih diakibatkan oleh
menurunnya zat makanan spermatozoa dan pengaruh zat toksik hasil sampingan
dari proses metabolisme spermatozoa. Rizal et al. (2002) menambahkan bahwa
motilitas spermatozoa sangat bergantung pada suplai energi berupa adenosin
triphosphate (ATP) hasil dari proses metabolisme sel. Semakin tinggi suhu
penyimpanan
spermatozoa,
mengakibatkan
metabolisme
spermatozoa
berlangsung lebih cepat sehingga sumber energi yang digunakan semakin cepat
habis. Metabolisme tersebut akan mempercepat terbentuknya asam laktat.
Tingginya asam laktat menyebabkan perubahan pH yang berakibat kematian
sperma.
Semen dengan bahan pengencer tris-kuning telur memiliki motilitas lebih
tinggi jika dibandingkan dengan semen dengan bahan pengencer sitrat-kuning
telur. Ha ini dikarenakan pengencer tris bersama asam sitrat berperan sebagai
penyangga untuk mempertahankan perubahan pH akibat terbentuknya asam laktat
hasil metabolisme spermatozoa juga berperan untuk mempertahankan tekanan
osmolaritas dan keseimbangan elektrolit karena mengandung garam dan asam
amino. Selain itu Mathew et al. (1984) mengemukakan bahwa tris sebagai
penyangga amine telah digunakan secara efektif untuk mempertahankan pH
secara fisiologik.
Semen cair yang layak pada sapi untuk digunakan untuk inseminasi buatan
hanya sampai hari kedua penyimpanan pada pengencer tris-kuning telur dan hari
pertama pada pengencer sitrat-kuning telur, yaitu saat motilitasnya masih diatas
40% (Hafez 2000). Viabilitas sperma berbanding lurus terhadap penurunan

motilitas progresif sperma, semakin rendah motlitas semakin rendah pula


viabilitas sperma hidup.
KESIMPULAN
Semen sapi segar yang dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis
menunjukkan hasil yang cukup baik dan layak untuk dilakukan pengolahan semen
lanjut (semen cair dan beku). Hasil yang didapatkan dari pengolahan lanjut semen
cair dan beku juga menunjukkan bahwa semen sapi tersebut layak untuk
diinseminasikan.

DAFTAR PUSTAKA
Aminah S Dan Layla Z. 2001. Daya Tahans Hidup Spermatozoa Kambing
Dengan Menggunakan Larutan Pengencer Tris, Air Kelapa, Skim, Dan
Susu Murni, Buletin Teknik Pertanian 6(2):66-68
Basyah MA. 1993. Pengawetan semen kambing peranakan ettawah dengan
pengencer sitrat kuning telur. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Syiah Kuala, Banda Aceh.
Dahmani, Y. 2011. Semen Evaluation Methods in Cattle.Magapor R&D
Department. http://www.magapor.com/images/Veterinarios/iDoc_18.pdf.
Diakses tanggal 6 Desember 2013.
Garner DL. 2005. Breeding Soundness Exams. Proceedings, Apllied Reproductive
Strategies in Beef Cattle. Reno Nevada October 27 and 28, 2005,
University Of Nevada, hlm 173-184.
Garner DL dan Hafez ESE. 2000. Spermatozoa and Seminal Plasma. In:
Reproduction in Farm animals. 7th Ed. Hafes ESE & B Hafez (Eds).
Williams & Wilkins: Baltimore.
Hafez ESE. 1987. Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger: Philadelphia.
Hafez ESE & B Hafez. 2000. Reproduction in farm animals. 7th Ed. Lippicott
Williams & Wilkins: Baltimore.
Hartanti D Setiatin ET dan Sutopo. 2012. Perbandingan penggunaan pengencer
semen sitrat kuning telur dan tris kuning telur terhadap persentase daya
hidup spermatozoa sapi jawa brebes. Anim Agricul Jourl, 1( 1) 33 42
Herdis. 2005. Optimalisasi Inseminasi Buatan Melalui Aplikasi Teknologi
Laserpunktur pada Domba Garut (Ovis aries). (Disertasi). Bogor: Institut
Pertanian Bogor
Herdis, Kusuma Ida dan Angga IW. 2009. Pengaruh Penambahan -Tokoferol
Pada Media Pengencer Tris Kuning Telur Terhadap Kualitas Semen Cair
Domba Garut. Jurnal Sain dan Teknologi, 11(3):175-180
Mazur P. 1980. Fundamental aspects of the freezing of cells, with emphasis on
mammalian ova and embryos. 9th International Conggress on Animals
Reproduction & AI. 1 : 99 114.
Mumu MI. 2009. Viabilitas Semen Sapi Si-mental Yang Dibekukan Menggunakan
Kriopektan Gliserol. Journal Agroland 16 (2) : 172-179.
Partodiharjo S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Ed. Ke-3. Jakarta: Mutiara
Sumber Widya
Permatasari WD, Setiatin ET & Samsudewa D. 2013. Study on egg yolk diluents
and its effects on semen quality in Java cattle. Anim Agri J 2(1): 143-151.
Poolperm, P. 2001. Factors Influencing Semen Quality and Fertility in Boars.
PhD. Diss. North Carolina State University
Rae DW. 1999. Bull Breeding Soundness Evaluation and Venereal Disease Testing
[terhubung berkala]. [diunduh 2013 desember 17]. Tersedia pada
http://www.animal.ifas.ufl.edu/extension/beef/shortcourse/1999/RAE.pdf.

Ridwan. 2009. Pengaruh Pengencer Semen Terhadap Abnormalitas Dan Daya


Tahan Hidup Spermatozoa Kambing Lokal Pada Penyimpanan Suhu 5c.
J. Agroland 16 (2):187192
Rizal M, Toelihere MR, Yusuf TL, Purwantara B dan Situmorang P. 2003.
Kriopreservasi semen domba garut dalam pengencer tris dengan
konsentrasi laktosa yang berbeda. Edia Kedokteran hewan 19:79-83
Siregar TN dan HAmdan. 2004. Evaluasi daya tahan hidup spermatozoa kambing
peranakan ettawah dalam beberapa pengencer sederhana. J Sain Vet,
22(2):60-64.
Singh MP, Sinha AK, Singh BK. 1995. Effect cryoprotectants on certain seminals
attributes and on the fertility of buck spermatozoa. Theriogenology
43:1047-1053
Siswanto 2008. Kualitas semen di dalam pengencer tris dan natrium sitrat dengan
berbagai sumber karbohidrat dan level gliserol pada proses kriopreservasi
semen rusa timor (Cervus timorensis) [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Solihati N, Idi R, Rasad SD, Rizal M & Fitriati M. 2008. Kualitas spermatozoa
cauda epididymis sapi Peranakan Ongol (PO) dalam pengencer susu, tris
dan sitrat kuning telur pada penyimpanan 4-5 C. Anim. Prod. 10 (1):22-29.
Tambing SN, Gazali M, dan Purwantara B. 2001. Pemberdayaan teknologi
inseminasi buatan pada ternak kambing. Wartazoa. 1 (11).
Toelihere MR. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa: Bandung.
Qomariyah, S. Mihardja dan R. Idi. 2001. Pengaruh kombinasi telur dengan air
kelap terhadap daya tahan dan abnormalitas spermatozoa domba Priangan
pada penyimpanan 50C, Prosiding Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner, Puslitbang Bioteknologi LIPI. Bogor. 172-177
Wijono DB, Komarudin L, Affandhy, A Rasyid. 1995. Peranan skor kondisi badan
dan berat badan terhadap elisiensi penggunaan pejantan sapi potong
sebagai sumber semen yang optimal. Sub Balitnak Klepu. Semarang.
Witarsa. 2001. Evaluasi Semen. Bandung (ID): BIB Lembang.
Yuliyanti, F. 2001. Pengaruh Berbagai Media Pengencer terhadap Kualitas Semen
Kalkun Lokal. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung,
Lampung (tidak dipublikasikan)