Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN BAGIAN BEDAH & RADIOLOGI

Operasi Caesar Section Pada Kucing

OLEH:
Smita Siti Maulitasari, SKH
B94134352

DI BAWAH BIMBINGAN:
Dr. drh. Gunanti Soedjono, MS

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kata Caesaria berasal dari kata-kata Latin yaitu caeso matris utera yang berarti
memotong uterus induk (Johnston, 1968). Prosedur Caesar section sudah dilakukan sejak
pertengahan abad 19. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Caesar section yang pertama kali
adalah Julius Caesar (Levine 2012). Bedah Caesar (Caesar section) adalah suatu prosedur
pembedahan untuk mengeluarkan fetus dari uterus. Sectio-caesaria atau yang lebih dikenal
dengan operasi sesar merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang dokter hewan
untuk menghentikan masa kebuntingan, baik yang disebabkan oleh distokia maupun oleh sebabsebab yang lain. Dan pada kasus-kasus tertentu operasi sesar merupakan tindakan pertama untuk
menyelamatkan induk atau anak ataupun kedua-duanya.
Beberapa faktor penyebab dilakukannya operasi caesar antara lain sebagai berikut :
1. Distokia
Biasanya terjadi dikarenakan hewan betina belum dewasa tubuh. Kucing bunting yang
masih dibawah umur atau tua dianjurkan untuk caesar.
2. Dilatasi dan relaksasi cervix yang tidak sempurna
Biasanya terjadi dikarenakan kelemahan uterus dengan involusi cervix dan uterus yang
lanjut sebagai akibat torsio uteri, atau distokia dan emfisema foetalis di mana permulaan
partus tidak diperhatikan atau induk hewan tersebut ditelantarkan selama 36-48 jam.
(Tillmann 1965)
3. Fetus yang terlalu besar secara abnormal (malformasi fetus)
Biasanya dikarenakan ukuran fetus yang

terlalu besar

sedangkan daerah panggul

induknya terlalu kecil. Biasanya terjadi pada rasa anjing kecil atau kucing yang memiliki
panggul yang sempit untuk lahir normal.

Jenis kucing yang biasanya mengalami

kesulitan proses partus secara normal biasanya memiliki ciri berhidung pendek, berwajah
bulat (Brachyhepalic) seperti persia, himalayans dan siam sehingga jika dipaksakan
partus dengan proses normal (per vaginal) maka diperkirakan akan terjadi gangguan pada
induk pasca kelahiran seperti terjadinya perobekan vagina, paraplegia atau bahkan bisa
menyebabkan paralisis atau kemungkinan fetus akan mati.
4. Torsio uteri , hidrops amniion dan allantois, stenosa vagina atau pendarahan perivaginal,
mumifikasi fetus, tumor.

Akan tetapi operasi sesar umumnya dilakukan terhadap hewan yang mengalami distokia.
Indikasi untuk melakukan operasi sesar bermacam-macam, begitu pula dengan teknik yang akan
dilakukan. Hal ini sangat tergantung pada kondisi dan spesies hewan.
Operasi Caesar biasanya dilakukan setelah melakukan beberapa pemeriksaan terlebih
dahulu. Pemeriksaan pertama, pemeriksaan fisik dapat berupa palpasi abdomen dan palpasi
vagina. Pada palpasi abdomen dilakukan untuk mengetahui pergerakan fetus sedangkan palpasi
vagina dilakukan untuk mengevaluasi kelainan panggul induk, ukuran janin jika anak-anak
kucing terlalu besar atau kanal panggul terlalu sempit untuk partus secara normal maka bedah
caesar dapat dilakukan. Pemeriksaan yang kedua dilakukan USG (Ultrasonografi) untuk
mengetahui umur kebuntingan dan memprediksi kapan fetus akan partus sehingga dapat
dilakukan operasi caesar sebelum fetus partus. Pemeriksaan radiografi dapat dilakukan, namun
hanya bisa dilakukan jika umur kebuntingan sudah 35 hari. Hal ini dikarenakan organogenesis
fetus sudah sempurna di umur kebuntingan 35hari (Peter GG Jackson 2004)

Tujuan
Operasi Caesar bertujuan mengeluarkan fetus dari uterus dengan cara melakukan
penyayatan pada dinding uterus (laparotomi medianus) yang dilakukan untuk tujuan keselamatan
induk dan anak. Selain itu operasi caesar juga bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa
PPDH FKH IPB dalam mendiagnosa kelainan dan penyakit pada bagian saluran reproduksi serta
melatih keterampilan mahasiswa PPDH FKH IPB dalam melakukan operasi caesar dan
perawatan pasca operasi.

Manfaat
Operasi Caesar bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan
mahasiswa PPDH FKH IPB dalam mendiagnosa penyakit dan melakukan operasi caesar.

MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam operasi caesar kali ini di antaranya adalah stetoskop,
termometer, timbangan, set alat bedah minor (towel clamp, pinset anatomis, pinset sirurgis,

gagang scalpel, gunting lurus, gunting bengkok, arteri clamp anatomis dan sirurgis, dan needle
holder, needle segitiga), perlengkapan operator dan asisten operator (sikat, handuk, penutup
kepala, masker, baju operasi, dan sarung tangan), blade, kapas, tampon, meja operasi, lampu
penerang, tali pengikat, plester, kain kasa steril, syringe, jarum jahit, dan benang jahit (cat gut 3.0
dan silk) dan satu set cauter.
Bahan-bahan yang digunakan dalam operasi kali ini diantaranya adalah alkohol 70%,
iodine tincture 3%, atropine sulfat, xylazine HCL 2%, lidokain 2%, penicillin, terramicyin dan
NaCl fisiologis (water of irrigation).

B. Metode
Pre operasi

1. Persiapan Ruangan dan Meja Operasi


Ruang operasi dibersihkan dari baik dari kotoran ataupun debu, meja operasi dibersihkan
dengan disemprot alkohol 70%.
2. Persiapan Peralatan Operasi
Peralatan operasi yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu. Set peralatan
bedah minor yang harus dipersiapkan adalah 4 towel clamp, 1 gagang scalpel, 1 pinset anatomis,
1 pinset sirurgis, 2 gunting lurus, 1 gunting bengkok, 4 arteri klem lurus anatomis, 2 arteri klem
lurus sirurgis, 1 arteri klem bengkok anatomis, 1 arteri klem bengkok sirurgis, dan 1 needle
holder.
Alat-alat tersebut dicuci bersih terlebih dahulu, kemudian dikeringkan, lalu ditata di
dalam wadah. Alat-alat tersebut dibungkus dengan 2 lapis kain. Kain lapis pertama dibentangkan
dan wadah diposisikan di tengah kain dengan posisi simetris. Sisi kain terdekat dengan tubuh
dilipat hingga menutupi wadah dan ujung lainnya yang berseberangan dilipat mendekati tubuh
kemudian sisi kanan dilipat dan dilanjutkan dengan sisi kiri. Kain lapis kedua dibentangkan dan
wadah yang terbungkus kain pertama diletakkan di tengah kain kedua dengan posisi diagonal.
Ujung kain yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi wadah, sisi kanan dilipat dan
dilanjutkan dengan sisi kiri. Ujung yang jauh dari tubuh dilipat mendekati tubuh dan diselipkan
di penutup wadah. Peralatan yang terbungkus rapi kemudian dimasukkan ke dalam oven
sterilisasi. Proses sterilisasi dilakukan dengan suhu 120oC selama 30 menit.

Peralatan yang sudah steril harus digunakan secara aseptis dan benar. Kain terluar dibuka
di belakang meja operasi, lalu kemasan diletakkan di meja. Lipatan ditarik ke arah tubuh
pembuka, kemudian dilanjutkan dengan menarik ujung-ujung lipatan lainnya. Bungkusan
diserahkan kepada tim yang sudah steril dan diletakkan di meja yang sudah steril. Pembukaan
oleh tim yang sudah steril juga dengan menarik lipatan ke arah tubuh, diikuti ujung lainnya, dan
diletakkan di atas meja yang sudah steril.
3. Persiapan Obat-obatan
Obat-obat yang akan digunakan yaitu alkohol 70%, iodium tincture 3%, atropin sulfat,
xylazine HCl 2%, lidokain 2%, penicillin, amoxicillin, terramycin dan larutan NaCl fisiologis.
Jenis obat-obatan, kegunaan, penghitungan dosis pemberian dan rute aplikasi terdapat pada
Tabel 1.
Tabel 1 Obat-obatan yang digunakan pada pre operasi, operasi dan post operasi
Tujuan/

Sediaan

Kegunaan
Pre anaestesi

Atropin sulfat

Sedativa

Xylazine 2%

Anaestesi lokal

Lidokain 2%

Maintenance

Ketamin HCl
10%
( dosis induksi)
Penisislin

Dosis

Rute

= 0,34 ml
= 0,34 ml
2 ml
= 0,34 ml

Intramuskular
0.17 ml
50.000 IU/ 1 ml

Topikal

= 0,952 ml
Amoxicillin

Desinfektan
Antiseptic
Cairan
Fisiologis
Antiinflamasi

Alkohol 70 %
Iodium tincture
3%
NaCl 0,9%
Glukosa 5%
Methylprednisol
on

Intramuscular
Epidural

Terramycin

Antibiotik

Subkutan

= 6.8 ml

0.2 mg/kg BBx 2.7 kg =


5.4 mg

Intramuskular
Peroral (s.b.d.d
selama 5 hari
post operasi)
Topikal
Topikal
Topikal
Topikal
Peroral (s.s.d.d
5 hari post
operasi)

Atropine sulfat digunakan sebagai premedikasi. Atropin bekerja sebagai parasimpatolitik.


Atropin mempunyai cara kerja dengan menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik
kolinergik dan otot polos. Penggunaan atropine berfungsi untuk mencegah terjadinya muntah
yang diinduksi oleh penggunaan xylazine. Selain itu atropine juga berperan sebagai penghambat
terjadinya hipersalivasi yang terjadi pada fase delirium. Hipersalivasi ini dihindari karena sangat
membahayakan pasien. Saliva yang diproduksi berlebihan bisa saja masuk ke dalam saluran
pernafasan sehingga terjadi slek pneumonia. Atropin juga memiliki kemampuan meningkatkan
frekuensi denyut jantung. Fungsi ini sangat dibutuhkan karena untuk menyeimbangi efek
samping penggunaan xylazin yang menekan kerja sistem kardiovascular.
Xylazine merupakan sediaan penenang (transquillizer) dan muscle relaxant (perelaksasi
otot). Penggunaan xylazine dapat menginduksi muntah dan mengakibatkan bradicardia. Efek
samping tersebut dapat diatasi dengan pemberian atropine sebagai premedikasi anastesi. (Allen
et al. 1993)
Lidokain berperan sebagai anastesi lokal dan epidural. Lidokain termasuk kedalam
golongan anastesi lokal amida. Onset kerja lidokain cepat dengan durasi yang lama. Lidokain
bekerja dengan menghambat konduksi di sepanjang serabut syaraf secara revelsible, baik serabut
syaraf sensorik, motorik, maupun otonom. Hambatan induksi ini dilakukan dengan berikatan
secara selektif pada Na+ channel yang ada pada semua neuron. Na+ channel bertanggung jawab
menimbulkan potensial aksi sepanjang akson dan membawa pesan dari badan sel ke terminal
syaraf.
Antibiotik yang diberikan saat operasi dan pasca operasi adalah penisilin, amoxicillin,
terramycin. Penisilin merupakan antibiotik yang bersifat bakterisidal terhadap infeksi bakteri
gram negatif dan gram positif. Penisilin bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel
bakteri. Penisilin 50.000 IU/ml digunakan secara topikal pada area operasi. Amoxicillin
merupakan antibiotic turunan penisilin yang dapat melawan bakteri gram negative seperti
beberapa strain Escherichia coli dan Kleibsiella sp., serta bakteri anaerobic seperti organism
Clostridial. Amoxicillin diserap dengan baik dalam saluran pencernaan sehingga dapat diberikan
secara peroral, memiliki aktivitas bakterisidal yang cepat, dan memiliki durasi aksi yang lama.
Terramycin antibiotic bakteriostatik turunan tetracycline larut air aktivitas pendek (short-acting
water soluble). Terramycin dapat melawan bakteri gram positif aerobik dan anaerobik, bakteri
gram negative, mycoplasma, dan rickettsia. (Allen et al. 1993).

Alkohol 70% berperan sebagai desinfektan. Alkohol akan melarutkan lemak penyusun
dinding sel mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan hebat pada sel sehingga mematikan
mikroorganisme tersebut. Alkohol memiliki sifat yang mudah menguap, padahal dibutuhkan
waktu kontak dengan mikroorganisme agar bekerja dengan optimal. Oleh karena itulah, alkohol
yang digunakan sebagai desinfektan sebaiknya tidak memiliki konsentrasi lebih dari 70%.
Iodium tincture 3% berperan sebagai antiseptik yang sering digunakan pada area penyayatan
operasi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi yang terjadi selama operasi
berlangsung.
4. Persiapan Operator dan Asisten
Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain sikat, handuk, penutup kepala, masker, baju
operasi, dan sarung tangan. Baju operasi dilipat hingga bagian yang bersinggungan dengan
pasien berada di dalam. Duk dilipat hingga bagian yang bersinggungan langsung dengan
permukaan duk dilipat ke dalam. Perlengkapan tersebut dibungkus dengan 2 lapis kain seperti
membungkus peralatan, dengan urutan dari bawah: sarung tangan (dibungkus kertas/plastik),
baju operasi, handuk, 2 sikat bersih, masker, tutup kepala, kemudian dimasukkan ke dalam oven
dengan suhu 60oC selama 30 menit.
5. Persiapan Tim Bedah
Operator

: Pelaksana operasi secara langsung dan berada dalam keadaan steril.


(Smita Siti Maulitasari, SKH.)

Asisten 1

: Membantu langsung operator dan berada dalam keadaan steril.


(Yusti Maulida, SKH.)

Asisten 2

: Membantu menagani pembiusan, maintenance dan menyiapkan obat-obatan


pada saat pre dan operasi.
(Wulandari Utami, SKH)

Asisten 3

: Menangani peralatan, monitoring pembiusan; mengukur frekuensi denyut


jantung, frekuensi nafas, suhu tubuh pasien
(Cucum T, SKH)

Asisten 4

: Menjaga fetus ketika berhasil dikeluarkan melalui operasi caesar.


(Yuli Indrawati, SKH dan Jati Hermina, SKH)

TINJAUAN KASUS
Anamnesis
Kucing betina sedang dalam kondisi bunting tua.

Signalement
Nama

: Tigi

Jenis hewan

: Kucing

Ras/breed

: Domestic short hair

Warna rambut

: Cokelat, hitam, putih

Jenis Kelamin

: Betina

Umur

: 2 tahun

Berat badan

: 3.4 kg

Tanda khusus

: Tidak ada

Status Present
Perawatan

: Kurang baik

Habitus

: Jinak

Gizi

: Kurang baik

Pertumbuhan badan

: Baik

Sikap berdiri

: Tegak pada empat kaki

Suhu tubuh

: 36,0 C

Frekuensi nadi

: 118 kali/menit

Frekuensi nafas

: 40 kali/menit

Kepala dan Leher


Inspeksi
Ekspresi wajah

: Baik

Pertulangan kepala

: Kompak

Posisi tegak telinga

: Tegak ke atas

Posisi kepala

: Di atas os vertebrae

Palpasi
Mata dan orbita kiri
Palpebrae

: Terbuka sempurna

Cillia

: Melengkung keluar

Konjungtiva

: Rose, basah, licin

Membrana nictitans

: Tersembunyi

Mata dan orbita kanan


Palpebrae

: Terbuka sempurna

Cillia

: Melengkung keluar

Konjungtiva

: Merah pucat, basah, licin

Membrana nictitans

: Tersembunyi

Bola mata kanan


Sklera

: Putih

Kornea

: Bening

Iris

: Tidak ada perlekatan

Limbus

: Jelas batasnya

Pupil

: Tidak ada kelainan

Refleks pupil

: Ada

Vasa injectio

: Tidak ada

Bola mata kiri


Sklera

: Tidak terlihat

Kornea

: Tidak ada kekeruhan

Iris

: Tidak terlihat

Limbus

: Tidak terlihat

Pupil

: Tidak terlihat

Refleks pupil

: Tidak terlihat

Vasa injection

: Tidak terlihat

Hidung dan sinus-sinus

: Bersih dan kering

Mulut dan rongga mulut


Rusak/luka bibir

: Tidak ada

Mukosa

: Rose, basah, licin

Gigi geligi

: Teratur, lengkap

Lidah

: Kasar, basah

Telinga

Posisi

: Tegak ke atas

Bau

: Bau khas cerumen

Permukaan

: Licin

Krepitasi

: Tidak ada

Reflek panggilan

: Ada

Leher
Perototan

: Kokoh

Trachea

: Teraba

Esofagus

: Teraba

Thoraks (Sistem Pernafasan)


Inspeksi
Bentuk rongga

: Simetris

Tipe pernafasan

: Costo abdominal

Ritme

: Teratur

Intensitas

: Dalam

Frekuensi

: 40 kali/menit

Palpasi
Penekanan rongga

: Tidak ada reaksi kesakitan

Auskultasi
Suara pernafasan

: Bersih

Suara ikutan

: Tidak ada

Thoraks (Sistem Peredaran Darah)


Inspeksi
Ictus cordis

: Tidak ada

Auskultasi
Frekuensi

: 118 kali/menit

Intensitas

: Sedang

Ritme

: Teratur

Suara sistolik & diastolik

: Terdengar

Ekstrasistolik

: Tidak ada

Sinkron pulsus & jantung

: Sinkron

Anus
Sekitar anus

: Bersih

Refleks sphincter ani : Ada


Pembesaran kolon

: Tidak ada

Kebersihan perineal : Bersih


Hubungan dg.vulva

: Terpisah

Mukosa vagina

: Rose, mengeluarkan discharge

Kelenjar mamae

: bengkak, mulai terisi air susu.

Besar

: Sama

Letak

: simetris

Betina

Bentuk

: Tidak ada perubahan

Kesimetrisan

: Simetris

Konsistensi kelenjar

: Kenyal

Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan

: Kokoh

Perototan kaki belakang

: Kokoh

Spasmus otot

: Tidak ada

Tremor

: Tidak ada

Cara bergerak-berjalan

: Koordinatif

Cara bergerak-berlari

: Koordinatif

Palpasi
Struktur pertulangan
Kaki kiri depan

: Kokoh

Kaki kanan depan

: Kokoh

Kaki kiri belakang

: Kokoh

Kaki kanan belakang

: Kokoh

Konsistensi pertulangan

: Keras

Reaksi saat palpasi

: Tidak ada

Letak reaksi sakit

: Tidak ada

Panjang kaki depan kanan/kiri

: Sama panjang

Panjang kaki belakang kanan/kiri

: Sama panjang

Diagnosa Klinis

: Hewan sehat dan dalam kondisi bunting tua

Diagnosa Diferensial

:-

Pemeriksaan Lanjutan

: USG (Ultrasonografi) (lampiran 1)

Prognosa

: Fausta

Terapi

: Operasi caesar.

OPERASI
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan USG yang telah dilakukan, kucing dinyatakan
layak untuk dioperasi, sehingga tindakan operasi siap dilakukan. Sebelumnnya kucing
dipuasakan minimal 8 jam. Setelah itu, kucing ditimbang berat badannya dan dilakukan
pemberian premedikasi berupa atropine secara subcutan dan ditunggu selama 10-15 menit
kemudian diinjeksi dengan xylazine sebagai sedative secara intramuskular diantara
m.semitendinosus dan m.memimembranosus kemudian diberikan anestesi berupa lidokain 2% di
epidural. Setelah teranestesi, abdomen kucing

tepatnya dibagian caudal umbilical dicukur

rambutnya hingga bersih, bersih dari kotoran, dan diberi iodium tinctur 3% secara topikal. Hal
ini bertujuan untuk untuk memudahkan dalam operasi caesar dan mengurangi kontaminasi akibat
rambut yang kotor dan mungkin mengandung mikroorganisme pathogen seperti bakteri, virus,
jamur dan lain-lain. Setelah proses preparasi selesai, pasien yang telah teranasthesi di bawa ke
meja operasi kemudian keempat kaki kucing difiksir dengan tali menggunakan simpul tomful
dan bagian abdomen lokasi pembedahan ditutup dengan duk serta dipastikan lokasi penyayatan.
Pembedahan dilakukan dengan melakukan penyayatan kulit dibagian caudal umbilical
dengan jarak kurang lebih 6 sentimeter menggunakan blade dan gunting disepanjang linea alba.
Setelah rongga peritoneum terbuka, dilakukan eksplorasi terhadap uterus, kemudian kuakan
(bagian cornua uteri yang berisi fetus). Kemudian disuntikkan lidokain 2% pada bagian uterus
sebagai anastesi lokal.. Uterus sebelah kiri yang pertama kali dikeluarkan dilakukan penyayatan
pada dorsal corpus uteri (perhatikan pembuluh darah) agar fetus dapat dikeluarkan. Fetus yang
berhasilkan dikeluarkan dihilangkan cairan amnion disekitarnya agar dapat segera bernapas
kemudian keringkan cairan yang ada diseluruh tubuh. Setelah fetus dikeluarkan, hilangkan cairan
amnion pada fetus agar segera dapat bernafas.

Fetus yang hidup menunjukan pergerakan dan suara. Setelah fetus dibagian uterus
sebelah kiri dikeluarkan, selanjutnya dilakukan hal yang sama pada uterus bagian sebelah kanan.
Setelah fetus berhasil dikeluarkan semuanya, bagian dalam uterus diberikan penicillin yang telah
disiapkan dan dilakukan penjahitan dengan model jahitan sederhana menggunakan benang cut
gut 3.0 sampai uterus tertutup rapat. Selama penjahitan uterus, uterus harus dijaga agar tetap
lembab dengan memberi larutan fisiologis. Antibiotik penicilin diberikan pada permukaan
jahitan uterus yang telah selesai. Kemudian rongga abdomen dibersihkan

dari darah yang

membeku dan runtuhan jaringan yang berasal dari rongga uterus, kemudian kembalikan posisi
uterus ke tempat awal. (Peter GG Jackson 2004). Otot dijahit dan bagian lemak dihilangkan dan
ditambahkan penisillin, ketika penjahitan otot dilakukan pemberian maintenance ketamine
dosis secara intramuscular. Kemudian bagian kulit dijahit dengan jahitan sederhana
menggunakan benang silk dengan jahitan sederhana. Luka yang sudah tertutup rapat diberikan
iodin tincture 3% dan ditutup menggunakan kasa dan diberikan antibiotic terramycin secara
intramuscular. Selama operasi, dilakukan monitoring terhadap suhu, frekuensi jantung, dan
frekuensi napas setiap 15 menit sekali, serta dilakukan maintenance pembiusan apabila pasien
mulai sadar. Data monitoring pasien selama operasi dicantumkan pada Tabel 2, Tabel 3, Grafik
1, Grafik 2, Grafik 3.
Tabel 2. Monitoring pasien selama operasi
Waktu (menit)
0
Frekuensi nafas (x/menit)
44
Frekuensi denyut jantung
(x/menit)
64
Suhu rectal (C)
35.3
CRT (detik)
2
Mukosa
Rose
Tonus otot pipi
+

15
32

30
28

45
28

84
34.9
2
rose
+

88
33.5
3
rose
+

94
33
3
pucat
-

Grafik 1. Grafik frekuensi napas ketika operasi

60
44

75
44

108
104
32.5 32.6
3
3
pucat pucat
+

frekuensi napas x/menit


50
40
30

frekuensi napas
x/menit

20
10
0
0

15'

30'

45'

60'

75'

Grafik 2. Grafik frekuensi pulsus ketika operasi (x/menit)

frekuensi pulsus ( x/menit)


120
100
80
60
40
20
0

frekuensi pulsus
x/menit

15'

30'

45'

60'

75'

Grafik 3. Suhu ketika operasi

Suhu Rektal
36
35
34
suhu

33
32
31
0

15'

30'

45'

60'

75'

Tabel 3. Penambahan obat bius selama operasi


Maintenance
ke-

Waktu Pemberian
(WIB)

Keterangan

12.10

Lidokain 2%

12.30

dosis ketamine

Mulai operasi : 11.45 WIB


Selesai operasi : 12.45 WIB
Urinasi

:-

Defekasi

:-

Muntah

:-

Salivasi

:-

POST OPERASI
Setelah operasi, perkembangan kesehatan pasien harus selalu diperiksa. Pengukuran
temperatur tubuh, frekuensi nafas, frekuensi denyut jantung dilakukan setiap hari selama masa
penyembuhan. Pasien diberikan pakan bernutrisi, antibiotik peroral selama 5 hari (2 kali sehari),
perawatan luka jahitan dengan memberikan obat topical (iodine tincture), mengganti perban dan
gurita.

Tabel 4. Pemeriksaan post operasi


Parameter

Tanggal

Malam

Pagi

Malam

Pagi

Malam

09/09/14

Pagi

08/09/14

Malam

07/09/14

Pagi

06/09/14

Malam

05/09/14

108

110

108

110

115

120

122

124

123

18

22

32

35

30

29

27

28

28

35.8

37.0

38.1

38.6

38.8

38,2

37,8

38,8

38,6

Urinasi

Defekasi

Makan

Minum

frekuensi nadi
(x/menit)
frekuensi nafas
(x/menit)
suhu tubuh (C)

PEMBAHASAN
Pre operasi
Tahap pre operasi yang dilakukan bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kesterilan
operator, asisten, pasien, peralatan, dan ruangan selama berlangsungnya proses operasi agar
terhindar dari kontaminasi berbagai patogen. Selain itu, tahap persiapan ini juga untuk
mengetahui apakah pasien sedang berada dalam kondisi yang cukup sehat dan layak untuk
dilakukan tindakan operasi.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik pasien apakah terjadi
kelainan atau tidak di pasien. Pemeriksaan fisik dari regio kepala hingga ekstreminitas yang
dilakukan menunjukkan bahwa kucing dalam keadaan sehat dan tidak ditemukan kelainan.
Pengukuran temperature tubuh, frekuensi napas, dan frekuensi jantung dalam rentang normal.
tidak menunjukkan adanya kelainan.
Pemeriksaan USG (ultrasonografi) dilakukan sebagai data penunjang. Hasil USG terlihat
pada uterus ditemukannpembentukan tulang punggung yang telah sempurna yang ditunjukkan
dengan adanya hiperechoic pada hasil USG. Pembentukan tulang punggung menandakan umur
kebuntingan kucing lebih dari 45 hari (Deni Noviana et.al 2012).

Hasil USG tersebut

menunjukkan kucing bunting tua dan waktu kelahiran kurang lebih satu hari lagi hal ini
didukung dengan tingkah laku kucing yang mulai merejan atau berkontraksi.

Gambar 1. Hasil USG kucing bunting untuk mengetahui umur kebuntingan.

Pada tahap pre operasi, pasien diberikan atropin sulfat yang berperan sebagai bahan premedikasi. Pemberian atropin sulfat bertujuan untuk mencegah terjadinya hipersalivasi dan
muntah pada pasien (Plumb 2005). Setelah 10 menit sampai dengan 15 menit, dapat dilanjutkan
dengan pemberian kombinasi xylazine HCl sebagai sedative dan lidokain 2% sebagai anastesi
epidural (Plumb 2005).

Operasi
Tahap operasi dilakukan apabila pasien benar-benar sudah berada dalam kondisi terbius
agar tidak merasa sakit pada saat dilakukan penyayatan. Selain itu, operator harus memiliki
pemahaman terhadap anatomi abdomen kucing di sekitar bagian uterus untuk menghindari
terjadinya pemotongan pembuluh darah yang berada disekitar uterus. Anastesi yang digunakan
kali ini adalah lidokain 2% yang berfungsi sebagai anastesi lokal dan epidural yang dan
digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Lidokain memiliki hantaran yang
lebih cepat, lebih kuat dan lebih lama. Pada saraf otot, lidokain menyebabkan berkurangnya
respon otot atas rangsangan saraf. Sedangkan pada otot polos, lidokain menyebabkan hilangnya
tonus reflex setempat. Selain itu, apabila terjadi pendarahan yang cukup banyak maka digunakan
cauter untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Selama tahap operasi, dilakukan
pemeriksaan parameter setiap 15 menit berupa frekuensi nafas, frekuensi denyut jantung, suhu
tubuh, mukosa, Capillary Refill Time (CRT), dan tonus otot pipi.
Teknik operasi yang dilakukan pertama-tama dilakukan penyayatan kulit dibagian
medianus abdomen tepatnya dibagian caudal umbilical. Kulit disayat menggunkan blad secara
perlahan dari cranial ke caudal sepanjang 6 cm selanjutnya sayatan kulit diperlebar dengan
menggunakan gunting.

Setelah Setelah rongga peritoneum terbuka, dilakukan eksplorasi

terhadap uterus, kemudian kuakan (bagian cornua uteri yang berisi fetus). Kemudian disuntikkan
lidokain 2% pada bagian uterus sebagai anastesi lokal.Uterus sebelah kiri yang pertama kali
dikeluarkan dilakukan penyayatan pada dorsal corpus uteri (perhatikan pembuluh darah) agar
fetus dapat dikeluarkan. Fetus yang berhasilkan dikeluarkan dihilangkan cairan amnion
disekitarnya agar dapat segera bernapas kemudian keringkan cairan yang ada diseluruh tubuh.
Setelah fetus dikeluarkan, hilangkan cairan amnion pada fetus agar segera dapat bernafas.
Fetus yang hidup menunjukan pergerakan dan suara. Setelah fetus dibagian uterus
sebelah kiri dikeluarkan, selanjutnya dilakukan hal yang sama pada uterus bagian sebelah kanan.

Setelah fetus berhasil dikeluarkan semuanya, bagian dalam uterus diberikan penicillin yang telah
disiapkan dan dilakukan penjahitan dengan model jahitan sederhana menggunakan benang cut
gut 3.0 sampai uterus tertutup rapat. Pemberian penicillin topikal berfungsi sebagai bakteriostatik
terhadap bakteri-bakteri yang mungkin mengkontaminasi uterus selama proses operasi. Selama
penjahitan uterus, uterus harus dijaga agar tetap lembab dengan memberi larutan fisiologis.
Antibiotik penicilin diberikan pada permukaan jahitan uterus yang telah selesai.

Tujuan

pemberian penicillin ini sama dengan pemberian di uterus. Kemudian rongga abdomen
dibersihkan dari darah yang membeku dan runtuhan jaringan yang berasal dari rongga uterus,
kemudian kembalikan posisi uterus ke tempat awal. Otot dijahit dan bagian lemak dihilangkan
dan ditambahkan penisillin, ketika penjahitan otot dilakukan pemberian maintenance ketamine
dosis secara intramuscular. Kemudian bagian kulit dijahit dengan jahitan sederhana
menggunakan benang silk dengan jahitan sederhana. Luka yang sudah tertutup rapat diberikan
iodin tincture 3% dan ditutup menggunakan kasa dan diberikan antibiotic terramycin secara
intramuscular (Peter GG Jackson 2004).
Berdasarkan hasil monitoring menunjukkan jantung, temperatur tubuh dan frekuensi
nafas kucing cenderung menurun diawal dan ketika operasi hampir selesai frekuensi nafas dan
pulsus meningkat dan suhu tubuh tetap turun. Hal ini disebabkan oleh efek anestetik yang
mendepress sistem saraf pusat di otak, mempengaruhi thermoregulator, cardiovascular, dan
respirasi. Maintance pembiusan dilakukan ketika uterus sudah dikuak dengan lidokain 2% secara
topical dan pemberian ketamine dosis ketika fetus telah dikeluarkan semua.
Penurunan pulsus nafas, suhu dan jantung disebabkan oleh efek anastesi. Hasil
monitoring menunjukkan kondisi hewan mengalami penurunan baik pada status frekuensi
jantung dan napas selama operasi. Kucing mengalami penurunan suhu tubuh sejak awal operasi
dilakukan. Hal ini dapat diakibatkan oleh efek xylazin yang mempengaruhi pusat termoregulasi
di hipotalamus. Xylazin menghambat reseptor -2 adrenergik yang merupakan reseptor
norepinefrin sehingga terjadi vasodilatasi dan menyebabkan menurunnya tekanan darah dan
penurunan cardiac output. Penurunan cardiac output mengakibatkan penurunan jumlah darah
yang diedarkan ke seluruh tubuh, sehingga jaringan mengalami kekurangan hemoglobin dan O2.
Kurangnya kadar O2 di tubuh dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh akibat kurangnya
aktifitas otot-otot skelet. Namun dimenit ke 60 frekuensi pulsus dan nafas mengalami kenaikan.
Hal ini dapat dikarenakan pemberian ketamine sebagai maintance di menit ke 45 saat operasi.

Ketamine memiliki fungsi meningkatkan alitran darah otak dan penggunaan oksigen sehingga
terjadi stimulasi general dari pusat motorik dan perifer untuk melepaskan norepinephrin yang
membuat frekuensi denyut jantung lebih tinggi.

Table 5. Tahapan operasi caesar


Gambar

Tahapan
Penyayatan kulit

Pelebaran sayatan kulit dan rongga peritoneum

Setelah rongga peritoneum dibuka dan uterus


berhasil dikuakkan keluar

Insisi dilakukan dibagian dorsal corpus uterus


(perhatikan pembuluh darah)

Setelah berhasil mengeluarkan fetus, kantung


amnion segera dilepaskan dari fetus.

Umbilikal
diikat
sebelum
dilakukan
pemutusan. Plasenta juga dikeluarkan dari
uterus.

Penjahitan dilakukan dengan metode jahit


sederhana pada uterus dengan menggunakan
cat gut 3.0

Ketiga fetus berhasil dikeluarkan secara caesar


dan dapat bertahan hidup

Setelah penjahitan kulit selesai induk diberikan


gurita.

Post operasi
Tahap post operasi merupakan tahap pemeriksaan kesehatan hewan dan bekas luka
penyayatan, serta pemberian antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Kain kasa

dan plester dapat dibuka apabila luka yang ada sudah cukup kering, pada opersi kali ini kasa dan
plester dibuka pada hari ke-3 post operasi. Pelepasan benang jahit perlu dilakukan dikarenakan
penjahitan kulit menggunakan benang silk dengan tipe jahitan sederhana.
Berdasarkan hasil pengamatan post operasi, pasien pada hari pertama masih dalam
kondisi lemah dengan suhu 35.8 dan pulsus 100 serta nafas 20. Pasien juga masih tidak mau
makan dan belum urinasi sehingga pasien diberikan infus glukosa 5% secara subkutan. Kondisi
frekuensi nadi, nafas dan suhu kembali ke kisaran normal di hari kedua post operasi. Pasien juga
baru urinasi ketika pagi hari di hari kedua post operasi. Selain itu, nafsu makan pasien juga
langsung bangkit kembali secara bertahap setelah operasi. Kondisi urin dan feses juga normal
setelah hari ke tiga post operasi. Hal ini menunjukkan bahwa hewan dapat melakukan perbaikan
kondisi kesehatannya dengan baik setelah dioperasi. Selain itu diberikan antibiotic amoxicillin
sebanyak 3.4 ml secara peroral dua kali sehari. Dan pemberian meloxicam sebanyak 5.6 mg
secara peroral satu hari sekali.
Kondisi anak kucing setelah partus segera dibersihkan dari sisa-sisa amnion dan
diberikan penghangat. Pada hari pertama post operasi anak kucing diberikan susu bayi secara
manual menggunakan syringe. Kemudian setelahnya anak kucing disusui oleh kucing betina lain
yang kebetulan sedang dalam masa laktasi dikarenakan induk tidak mengenali anaknya dan
kesulitan untuk menyusui dikarenakan penyayatan yang dilakukan disekitar rongga abdominal.
KESIMPULAN
Tahapan-tahapan operasi caesar yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar, prosedur
operasi caesar dilakukan untuk mengeluaran fetus dari uterus dengan tujuan menyelamatkan
induk dan anak. Operasi caesar dapat dijadikan salah satu upaya untuk mengatasi kesulitan
partus seperti distokia, torsio uteri, dilatasi dan relaksasi cervik yang tidak sempurna, fetus yang
terlalu besar dan lain-lain. Prognosa dari kasus caesar pada pasien adalah fausta. Kondisi kucing
setelah operasi sudah kembali baik dan jahitan sudah kering.

DAFTAR PUSTAKA
Allen et al. 1993. Handbook of Veterinary Drugs. Philadelphia: JB Lippincott Company.
Deni noviana, Sabdi Hasan Aliambar,Mokhamd fakhrul Ulum, Riki Siswandi.2012.Diagnosis
Ultrasonografi pada hewan kecil. IPB Press:Bogor
Plumb DC. 2005. Veterinary Drug Handbook. USA: Blackwell publishing
Slatter D. 2003. Textbook of Small Animal Surgery Ed. 3. USA: Saunders
Stephen J. Roberts.1971. veterinary obstetrics and genital disease. Second edition:India
Stephen J.Richard,D.V.M.M.S. Diplomate A.C and Robert S.G. Sherding.2000.Saunders Manual
of Small Animal Practice.Second edition. Saunders Company:USA
Tilley LP, Smith JR. 1997. The 5 Minute Veterinary Consults Canine and Feline. Philadelphia:
William & Wilkins A Waverly Company, A Lea & Febiger
Tillmann.1965. Der Kaiserschitt in der Tierarztlichen Geburtshilfe. Paul Parey: Berlin, Hamburg
Peter GG Jackson.2004. Handbook of veterinary obstetrics, second edition. Elsevier:English
.

Anda mungkin juga menyukai