Anda di halaman 1dari 27

KORTIKOSTEROID

SISTEMIK

PENDAHULUAN
Merupakan terapi umum pada dermatologi
Fungsi utama
Imunosupresif
Antiinflamasi
Antiproliferasi
Vasokonstriktif

Regulasi dan Sintesis


ACTH diproduksi
oleh sel basofil
pituitari anterior
Kortisol
diproduksi oleh
zona fasikulata
korteks adrenal

Regulasi dan Sintesis


Hipotalamus

Pituitari
Anterior

Korteks
Adrenal

CRH

ACTH

Cortisol

Karakteristik
Keadaan normal <5% kortisol bebas yang
merupakan bentuk aktif
Sisanya dalam bentuk inaktif, terikat dengan CBG
atau transcortin atau berikatan dengan albumin.
Sekresi :10 20 mg , puncak jam 8 pagi
Waktu paruh : 90 menit
Metabolisme : hepar
Eksresi : ginjal & hepar

Mekanisme Aksi
Regulasi transkripsi
formasi prostaglandin dan leukotrien
sintesis molekul pro-inflamasi (sitokin,
interleukin, molekul adhesi, protease)

Indikasi
Serious blistering diseases (pemfigus, TEN, herpes
gestasionis, dll.)
Penyakit jaringan ikat (dermatomiositis, SLE, dll.)
Vaskulitis
Dermatosis neutrofilik
Sarkoidosis
Lepra tipe I reaktif
Hemangioma pada anak
Sindrom Kasabach-Merritt
Panikulitis
Urtikaria/angioedema

Indikasi
Terapi pendek glukokortikoid
Dermatitis kontak
Dermatitis atopik
Fotodermatitis
Dermatitis eksfoliativa
Eritroderma

Indikasi
Sebagai terapi tambahan yang digunakan
sebelum tidur (penyakit tidak responsif
terhadap terapi konservatif)
Akne dan hirsutisme (sindrom androgenital)

Potensi
glukokortikoid

Potensi
mineralokortikoid

Waktu paruh
(menit)

Durasi aksi
(jam)

Short-acting
Hidrokortison
(kortisol)

20

0,8

90

8 12

Kortison

25

30

8 12

Prednison

0,25

60

24 36

Prednisolon

0,25

200

24 36

Metilprednisolon

180

24 36

Triamsinolon

300

24 36

0,75

200

36 54

Intermediateacting

Long acting
Deksametason

KONTRAINDIKASI KORTIKOSTEROID
Kontraindikasi absolut
Infeksi jamur sistemik
Herpes simplex keratitis
Hipersensitivitas

Kontraindikasi relatif

Sistem saraf
: Depresi berat, psikosis
Okular
: Katarak, glaucoma
Kardiovaskular : Hipertensi, gagal jantung
Gastrointestinal : Ulkus peptikum
Metabolik
: DM
Kehamilan
Muskuloskeletal : Osteoporosis
Infeksi
: TB aktif, (+) tuberculin test

Penggunaan Terapi Glukokortikoid


Prinsip Dasar
1. Efektivitas dengan efek samping
2. Terapi alternatif
3. Penyakit penyerta
4. Faktor predisposisi pada pasien

Administrasi

Oral
Intramuskular
Intravena
Intralesi

Per Oral
Jangka pendek : < 3 minggu
Jangka panjang : > 3 minggu
Jenis : Prednisone 1 mg/kg BB/hari

Intramuskuler
Pada pasien dengan gangguan GI
Jenis: Betametason & Deksametason (long
acting)
Kerugian: abses steril (cold abcess),
subcutaneous fat atrophy, dan efek sistemik,
yaitu gangguan menstruasi dan purpura

Intravena
Pada life-threatening dermatoses (vaskulitis
sistemik, SLE )
Jenis: Methylprednisone 10-15 mg/kg BB/ hari
selama 5 hari berturut-turut
Monitor kardiovaskular: aritmia dan sudden
death
Infus kalium

Intralesi
Tidak dapat dengan topikal & sistemik
Triamcinolone acetonide
Bergantung pada:
- Lokasi lesi
- Sifat lesi
mg/ml)

: pada muka (2mg/ml)


: lesi dermal tebal, keloid (20-40

Komplikasi terapi
Osteoporosis
Aterosklerosis
Supresi aksis HPA
Sindrom putus obat
Interaksi obat
Efek samping imunologi

Efek Samping
Kortikosteroid
Meningkat aktivitas osteoklas dan menurunkan
aktivitas osteoblas
osteoporosis

Efek Metabolisme
Kortikosteroid
Glukoneogenesis dan lipogenesis
Resistensi insulin
Hiperlipidemia dan DM

Efek Kardiovaskular
Kortikosteroid
Agen vasokonstriktif + retensi natrium
hipertensi

Efek Gastrointestinal
Kortikosteroid
Mukosa lambung + produksi HCL
Ulkus peptikum

Efek Kutaneus
Perubahan warna : purpura, hiperpigmentasi,
striae
Perubahan bentuk : acneiform eruption, atrofi
Lainnya : alopecia, hirsutisme

Withdrawal Syndrome
Kortikosteroid eksogen
Supresi poros HPA
Insufisiensi adrenal
Sindrom putus obat

Tindakan Pencegahan
Diet tinggi protein dan rendah garam
Pemberian KCl 3 x 500 mg sehari (dewasa) jika
terjadi defisiensi kalium.
ACTH setiap 4 minggu sekali
Antibiotik, diperlukan bila dosis prednison >
40 mg sehari
Antasida

Anda mungkin juga menyukai