Anda di halaman 1dari 27

BAB II

LANDASAN TEORI
II.1. Tinjauan Pustaka
II.1.1. Kandidiasis
II.1.1.1. Sinonim
Kandidosis,

thrush,

dermatokandidiasis,

bronkomikosis,

mikosis vulvovaginitis, muguet, moniliasis (Rippon, 1974).


II.1.1.2. Definisi
Kandidiasis adalah penyakit infeksi primer atau sekunder
yang menyerang kulit, kuku, selaput lendir dan alat dalam yang
disebabkan oleh berbagai spesies Candida (Rippon, 1974; Sutanto
I. et al, 2008).
II.1.1.3. Epidemiologi
Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, dapat menyerang
semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Hubungan ras
dengan penyakit ini tidak jelas tetapi insiden diduga lebih tinggi di
negara berkembang. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada daerah
tropis dengan kelembaban udara yang tinggi (Kuswadji, 2008;
Siregar, 2004). Infeksi superfisialis pada umumnya disebabkan
oleh Candida albicans, sedangkan infeksi sistemik lebih bervariasi,
kurang lebih 50% disebabkan oleh Candida non Candida albicans
(Sutanto I. et al, 2008).
II.1.1.4. Etiologi
Spesies yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia
diantaranya, Candida albicans, Candida parapsilosis, Candida
glabrata, Candida krusei, Candida guilliermondii dan Candida
tropicalis. Candida albicans merupakan penyebab tersering (60
75 %) berbagai manifestasi klinik (Syarifuddin, 2002).

II.1.1.5. Faktor Risiko


Faktor risiko yang berperan dalam perubahan sifat Candida
dari komensal menjadi patogen meliputi keadaan fisiologik
maupun non-fisiologik. Pada keadaan fisiologik faktor yang
berpengaruh antara lain kehamilan, usia pasien yang sangat muda
atau sangat tua serta siklus menstruasi pada pasien wanita,
sedangkan beberapa faktor yang turut mempengaruhi perubahan
tersebut dalam keadaan non-fisiologik dianataranya adalah trauma
yang menyebabkan kerusakan kulit (maserasi kulit pada tukang
cuci) atau kerusakan mukosa mulut, keadaan malnutrisi (defisiensi
riboflavin), penyakit endokrin seperti diabetes melitus serta
penyakit keganasan. Disamping itu pengobatan dengan antibiotik,
kortikosteroid, sitostatik maupun imunospuresan juga dapat
meningkatkan prevalensi kandidiasis. Dewasa ini faktor utama
penyebab perubahan sifat dari komensal menjadi patogen adalah
keadaan defisiensi imun terutama pada penderita HIV-AIDS
(Sutanto I. et al, 2008). Faktor risiko berperan dalam meningkatkan
pertumbuhan Candida albicans serta memudahkan invasi jamur ke
dalam jaringan tubuh manusia karena adanya perubahan dalam
sistem pertahanan tubuh.
II.1.1.6. Patogenesis
Kelainan yang disebabkan oleh spesies Candida ditentukan
oleh interaksi yang kompleks antara patogenitas fungi dan
mekanisme pertahanan host. Faktor penentu patogenitas Candida
adalah jenis spesies penyebab, daya lekat, dimorfisme, toksin dan
enzim (Marcilla, Valentin & Sentandreu, 1998; Chaffin et al.,
1998). Mekanisme pertahanan host meliputi sawar mekanik yaitu
lapisan kulit yang utuh tanpa ada luka, substansi antimikrobial nonspesifik, fagositosis dan intracellular killing, serta respon imun
spesifik host (Marcilla, Valentin & Sentandreu, 1998; Chaffin et
al., 1998).

Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel pejamu


menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi. Secara
umum, diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan sel
pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel
mikroorganisme, adhesin dan reseptor. Manoprotein merupakan
molekul Candida albicans yang mempunyai aktivitas adhesif.
Kitin, komponen kecil yang terdapat pada dinding sel Candida
albicans juga berperan dalam aktivitas adhesif. Setelah terjadi
proses penempelan, Candida albicans berpenetrasi ke dalam sel
epitel mukosa. Dalam hal ini enzim yang berperan adalah
aminopeptidase dan asam fosfatase. Apa yang terjadi setelah
proses penetrasi tergantung dari keadaan imun dari pejamu
(Marcilla, Valentin & Sentandreu, 1998; Chaffin et al., 1998).
II.1.1.7. Klasifikasi
Berdasarkan lokasinya kandidiasis dibagi menjadi kandidiasis
superfisialis dan kandidiasis sistemik atau invasif (Sutanto I. et al,
2008). Kandidiasis superfisialis merupakan bentuk infeksi yang
paling sering terjadi, ditandai dengan infeksi yang terjadi terbatas
di permukaan kulit atau mukosa, permukaan lesi memberikan
gambaran seperti beludru (velvety appearance) karena dilapisi
plaque berwarna putih. Umumnya kandidiasis superfisialis
mengenai daerah kulit yang sering basah dan lembab, seperti di
daerah kulit genital, daerah kulit bayi yang tertutup popok, aksila,
daerah kuku ataupun mukosa mulut yang biasanya terdapat di
permukaan lidah, palatum dan mukosa bukal (Tyasrini, Winata &
Susantina, 2006).
Kandidiasis sistemik adalah infeksi Candida spp. yang
mengenai parenkim organ dalam, seperti jantung, ginjal, hepar,
limpa, paru-paru, mata dan otak. Selain itu juga sering
bermanifestasi sebagai kandidemia. Bentuk kandidiasis ini ditandai
dengan terbentuknya abses di parenkim organ (Tyasrini, Winata &
Susantina, 2006; Sutanto I. et al, 2008).

II.1.1.8. Gejala Klinis


Gejala klinis yang terlihat bervariasi tergantung dari bagian
tubuh yang terinfeksi. Gejala klinis berdasar lokasinya dapat dilihat
sebagai berikut :
II.1.1.8.1. Thrush
Infeksi jamur di dalam mulut, lesi berupa bercak berwarna
putih menempel pada lidah dan pinggiran mulut, sering
menimbulkan rasa nyeri. Bercak ini bisa dilepas dengan mudah
oleh jari atau sendok. Thrush pada penderita dewasa bisa
merupakan pertanda adanya gangguan kekebalan tubuh.
(Kuswadji, 2008).

Gambar 2.1. Trush Infection


(Sumber : http://www.graphicshunt.com)
II.1.1.8.2. Perlche
Suatu infeksi Candida di sudut mulut yang menyebabkan
fisura kecil. Keadaan ini dapat berasal dari gigi palsu yang
letaknya bergeser dan menyebabkan kelembaban di sudut
mulut sehingga menyebabkan tumbuh jamur (Kuswadji, 2008).
II.1.1.8.3. Kandidiasis Kutis Generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga pada lipat
payudara, intergluteal dan umbilikus. Sering disertai glositis,
stomatitis dan paronikia. Lesi berupa ekzematoid, dengan
vesikel-vesikel dan pustul-pustul. Penyakit ini sering terdapat

10

pada bayi, karena ibunya menderita kandidiasis vagina atau


karena gangguan imunologik (Kuswadji, 2008).
II.1.1.8.4. Kandidiasis Intertriginosa
Kelainan ini sering terjadi pada orang-orang gemuk,
menyerang lipatan-lipatan kulit yang besar. Lesi di daerah
lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara,
antara jari tangan atau kaki, glans penis dan umbilikalis,
berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan
eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa
vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila
pecah meninggalkan daerah yang erosif dengan pinggir yang
kasar dan berkembang seperti lesi primer (Kuswadji, 2008).

Gambar 2.2. Candidiasis Intertriginosa


(Sumber : http://ibmi.mf.uni-lj.si/mmd/derma/eng/sz00/sldr00066.html)
II.1.1.8.5. Infeksi Vagina (Vulvovaginitis)
Sering ditemukan pada wanita hamil, penderita diabetes
atau pemakai antibiotik. Gejalanya berupa keluarnya cairan
putih atau kuning dari vagina disertai rasa panas, gatal dan
kemerahan di sepanjang dinding dan daerah luar vagina
(Kuswadji, 2008).
II.1.1.8.6. Infeksi Penis (Balanitis)
Sering terjadi pada penderita diabetes atau pria yang mitra
seksualnya menderita infeksi vagina. Biasanya infeksi

11

menyebabkan ruam merah bersisik pada bagian bawah penis,


kadang menimbulkan nyeri (Kuswadji, 2008).
II.1.1.8.7. Kandidosis Paru
Candida albicans dapat menyebabkan infeksi primer dan
sekunder pada paru. Gejala menyerupai infeksi pada paru
oleh sebab mikroorganisme lain yaitu suhu tubuh meningkat,
nyeri dada, batuk berdahak dengan dahak kental yang dapat
bercampur darah (Kuswadji, 2008).
II.1.1.8.8. Paronikia dan Onikomikosis
Infeksi jamur pada kuku dan jaringan sekitarnya. Infeksi
ini menyebabkan rasa nyeri dan peradangan di daerah sekitar
kuku. Kadang-kadang kuku rusak dan menebal. Hal ini sering
diderita oleh orang-orang yang pekerjaannya berhubungan
dengan air (Kuswadji, 2008).
II.1.1.9. Prognosis
Prognosis

kandidiasis

superfisialis

pada

pasien

imunokompeten cukup baik, sedangkan pada penderita HIV/AIDS,


penggunaan obat antiretroviral menurunkan angka kandidiasis
orofaring secara bermakna. Pada kandidiasis sistemik, diagnosis
dini dan pemberian dosis antifungi yang sesuai memberikan
prognosis cukup baik, kecuali bila keadaan penyakit sudah lanjut
(Sutanto I. et al, 2008).
II.1.2. Candida albicans
II.1.2.1. Sinonim
Candida stellatoidea dan Oidium albicans (Hendrawati, 2008).
II.1.2.2. Taksonomi (Hendrawati, 2008)
Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Class

: Saccharomycetes

12

Ordo

: Saccharomycetales

Family

: Saccharomycetaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans (C.P. Robin) Berkhout 1923

II.1.2.3. Morfologi
Candida albicans merupakan jamur dimorfik yaitu jamur
yang mempunyai dua morfologi, kedua morfologi itu adalah
bentuk ragi dan bentuk hifa atau miselial (Chaffin et al., 1998;
Molero et al., 1998). Pada keadaan normal yaitu pada suhu 37C
dengan pH yang relatif rendah, Candida albicans berada dalam
bentuk ragi, yang merupakan sel tunggal. Dalam bentuk ini,
Candida albicans bereproduksi dengan membentuk blastospora,
yaitu spora yang dibentuk dengan pembentukan tunas. Dalam
proses ini, sel ragi Candida albicans membentuk tunas yang
kemudian tumbuh semakin besar dan akhirnya melepaskan diri
melalui proses budding. Pada pengamatan secara mikroskopik, sel
ragi Candida albicans dapat terlihat dalam bentuk bertunas tunggal
ataupun multipel (Molero et al., 1998; Tyasrini, Winata &
Susantina, 2006).

Gambar 2.3. Budding Cells of Candida albicans


(Sumber : http://thunderhouse4-yuri.blogspot.com)
Pada kondisi tertentu, termasuk pada saat menginfeksi,
organisme ini dapat mengalami perubahan morfologi menjadi lebih

13

bersifat invasif, yaitu bentuk hifa atau miselial atau filamentous


(Molero et al., 1998; Tyasrini, Winata & Susantina, 2006). Transisi
morfologi ini merupakan bentuk adaptasi Candida albicans
terhadap lingkungan sekitarnya, diantaranya yaitu suhu (37C), pH
yang relatif netral (6,5), asam amino dan beberapa hormon manusia
tertentu (Chaffin et al., 1998; Zheng H. & Yu Y., 2011). Dalam
bentuk miselial, Candida albicans membentuk hifa dan pseudohifa.
Hifanya memiliki bentuk menyerupai tabung. Hifa terbentuk dari
blastospora yang terus menerus mengalami pertumbuhan pada
apeksnya, yang pada stadium awal terlebih dahulu membentuk
germ tube, sehingga tidak terdapat septum antara blastospora dan
bagian sel yang tumbuh (Molero et al., 1998; Tyasrini, Winata &
Susantina, 2006). Pseudohifa terbentuk dari sel tunas, seperti
blastospora, yang bermultiplikasi, tetapi sel anak tidak lepas dari
sel induknya dan terus menerus memanjang sehingga menyerupai
hifa, sehingga terdapat septum antara blastospora dan bagian sel
yang tumbuh, serta pada bagian ini terdapat bagian yang
menyempit (Chaffin et al., 1998; Tyasrini, Winata & Susantina,
2006).

Gambar 2.4. Gambaran Mikroskopik Candida albicans


(a) Hifa Candida albicans
(Sumber : http://adasidna.blogspot.com)
(b) Sel Candida albicans secara mikroskopik
(Sumber : http://thunderhouse4-yuri.blogspot.com)

14

Hasil terbaik untuk pemeriksaan mikroskopis terhadap


Candida albicans diperoleh bila isolasi (inkubasi) berasal dari
cornmeal tween 80 agar dan pada suhu 25 C selama 72 jam
(DayJo, 2003). Candida albicans memperlihatkan sekelompok
blastokonidia yang berbentuk bulat di sepanjang hifa dan terutama
pada bagian septum. Selain itu juga dapat dilihat hifa serta hifa
semu. Candida albicans, bersama dengan Candida dubliniensis,
adalah dua jenis Candida spp. yang memperlihatkan spora tipe
aseksual yaitu klamidokonidium. Klamidokonidia berbentuk bulat
besar dengan dinding tebal dan berada di terminal (DayJo, 2003).
Dinding sel C. albicans memiliki dua fungsi, yaitu sebagai
pelindung dan juga sebagai target dari beberapa antimikotik. Selain
itu, dinding sel juga berperan dalam proses penempelan dan
kolonisasi serta bersifat antigenik. Dari semua fungsi tersebut,
fungsi utama dinding sel adalah memberi bentuk pada sel dan
melindungi sel ragi dari lingkungannya. Melalui pemeriksaan di
bawah mikroskop elektron, dinding sel C. albicans memiliki
struktur yang berlapis-lapis, maksimal 6 lapis dengan ketebalan
yang berbeda beda, tebalnya 100 sampai 400 nm dan dipengaruhi
oleh usia serta lingkungan pertumbuhannya (Odds, 1988).
Komponen utama dinding sel Candida albicans adalah
glukan, kitin dan manoprotein (Chaffin et al., 1998). Komponen
terbanyak adalah manoprotein (manan yang berikatan dengan
protein) dengan jumlah sekitar 15-30% dari berat kering dinding
sel, sedangkan komponen lainnya memiliki komposisi seperti
berikut : -1,3-D-glukan dan 1,6-D-glukan sekitar 47-60%, kitin
sekitar 0,6-9%, protein 6-25% dan lipid 1-7% (Odds, 1988).
Disamping itu juga terdapat komponen minor yaitu lemak dan
garam anorganik. Komposisi dinding sel pada sel ragi dan hifa
relatif sama (Marcilla, Valentin & Sentandreu, 1998; Chaffin et al.,
1998).

15

Glucans memiliki beberapa peran berbeda dalam fisiologi


Candida

albicans,

namun

yang

terpenting

adalah

fungsi

strukturalnya. Kitin, walaupun merupakan komponen yang paling


sedikit, namun memiliki peran penting dalam menjaga integritas
struktur dinding sel (Marcilla, Valentin & Sentandreu, 1998).
Manoprotein dan protein lain tersusun dominan di lapisan luar
dinding sel dan sebagian terdistribusi di seluruh lapisan dinding sel,
termasuk di bagian dalam.
Manoprotein menempel secara kovalen pada rangka glucans dan protein. Manoprotein merupakan pencetus respon
imun pada inang selama kandidiasis dan diduga terlibat dalam
menentukan morfologi sel. Manoprotein mempunyai aktivitas
imunomodulasi terhadap respon imun tubuh inang sehingga dapat
mengatur seluruh sistem imun, termasuk natural killer cell, sel
fagositik (makrofag), respon imun seluler dan respon imun humoral
(Marcilla, Valentin & Sentandreu, 1998; Chaffin et al., 1998).
Lapisan luar dinding sel dapat membentuk fimbria, yang
terutama tersusun oleh glikoprotein. Fimbria terdapat pada bentuk
ragi dan miselium. Fimbria dapat menjadi perantara dalam adhesi
Candida alcibans pada reseptor glikosfingolipid di permukaan sel
epitel manusia (Chaffin et al., 1998).
II.1.2.4. Biakan
Morfologi koloni C. albicans pada medium padat agar
Sabouraud Dekstrosa, umumnya berbentuk bulat dengan diameter
2-4 mm, permukaan sedikit cembung, halus, licin dan kadangkadang sedikit berlipat-lipat terutama pada koloni yang telah tua.
Umur biakan mempengaruhi ukuran koloni. Warna koloni putih
kekuningan dan berbau asam seperti aroma tape (DayJo, 2003).
Pada medium tertentu, di antaranya corn-meal agar, ricecream

agar

atau

agar

dengan

0,1%

glukosa

terbentuk

klamidospora terminal berdinding tebal dalam waktu 24-36 jam


(DayJo, 2003). Pada medium agar eosin metilen biru dengan

16

suasana

CO2 tinggi,

dalam

waktu

24-48

jam

terbentuk

pertumbuhan khas menyerupai kaki laba-laba atau pohon cemara.


Pada medium yang mengandung faktor protein, misalnya putih
telur, serum atau plasma darah dalam waktu 1-2 jam pada suhu
37C terjadi pembentukan kecambah dari blastospora (DayJo,
2003).

Gambar 2.5. Candida albicans on Sabouraud-Dextrose Agar


(Sumber : http://thunderhouse4-yuri.blogspot.com)
II.1.2.5. Patogenitas dan Virulensi
Patogenitas adalah kemampuan suatu mikroorganisme untuk
menyebabkan penyakit. Virulensi kuman adalah derajat patogenitas
yang dinyatakan dengan jumlah mikroorganisme atau mikrogram
toxin yang dibutuhkan untuk membunuh binatang percobaan
dengan syarat-syarat tertentu (Natalia P., 2009).
Seperti patogen lainnya, Candida albicans memiliki beberapa
faktor virulensi, seperti pengenalan terhadap host, biomolekul,
perubahan morfologi dari bentuk ragi menjadi filamentosa dan
enzim fosfolipase. Faktor-faktor virulensi tersebut memungkinkan
Candida albicans untuk menempel dan berpenetrasi ke jaringan
host dengan melibatkan interaksi molekul-molekul spesifik antara
sel jamur dengan host (Zheng H. & Yu Y., 2011).

17

Saat ini perubahan bentuk dari sel ragi menjadi hifa


merupakan salah satu faktor virulensi yang memungkinkan
Candida albicans menempel pada permukaan jaringan host hingga
melakukan invasi. Perubahan ini sangat dipengaruhi oleh
lingkungan eksternalnya (Zheng H. & Yu Y., 2011).
Selain faktor-faktor tersebut di atas, membran plasma
Candida albicans juga berperan penting dalam virulensi jamur
dengan cara menjadi barrier yang melindungi sel serta menjadi
kunci saat berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, mensekresi
faktor-faktor virulensi, menentukan morfogenesis serta sintesis
dinding sel (Douglas et al., 2011).
II.1.2.6. Patogenesis
Patogenesis adalah mekanisme infeksi dan mekanisme
penyakit (Wanenoor, 2010). Rippon (1974) mengemukakan bahwa
bentuk blastospora diperlukan untuk memulai suatu lesi pada
jaringan. Sesudah terjadi lesi, dibentuk hifa yang melakukan invasi.
Dengan proses tersebut terjadilah reaksi radang. Pada kandidiasis
akut biasanya hanya terdapat blastospora, sedang pada yang
menahun didapatkan miselium (Tyasrini, Winata & Susantina,
2006).
II.1.2.7. Reaksi Biokimia
Candida albicans membutuhkan senyawa organik sebagai
sumber karbon dan sumber energi untuk pertumbuhan dan proses
metabolismenya.

Unsur

karbon

ini

dapat

diperoleh

dari

karbohidrat. Jamur ini merupakan organisme anaerob fakultatif


yang mampu melakukan metabolisme sel, baik dalam suasana
anaerob maupun aerob. Proses peragian (fermentasi) pada Candida
albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob (Hendrawati,
2008).
Karbohidrat yang tersedia dalam larutan dapat dimanfaatkan
untuk melakukan metabolisme sel dengan cara mengubah

18

karbohidrat menjadi CO2 dan H2O dalam suasana aerob, sedangkan


dalam suasana anaerob hasil fermentasi berupa asam laktat atau
etanol dan CO2. Proses akhir fermentasi anaerob menghasilkan
persediaan bahan bakar yang diperlukan untuk proses oksidasi dan
pernafasan. Pada proses asimilasi, karbohidrat dipakai oleh
Candida albicans sebagai sumber karbon maupun sumber energi
untuk melakukan pertumbuhan sel (Hendrawati, 2008).
Pada proses fermentasi, jamur ini menunjukkan hasil
terbentuknya gas dan asam pada glukosa dan maltosa, terbentuknya
asam pada sukrosa dan tidak terbentuknya asam dan gas pada
laktosa. Pada proses asimilasi menunjukkan adanya pertumbuhan
pada glukosa, maltosa dan sukrosa namun tidak menunjukkan
pertumbuhan pada laktosa (Hendrawati, 2008).
II.1.2.8. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Candida
albicans
C. albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi
pertumbuhannya akan lebih baik pada pH antara 4,5-6,5 dan
maksimal pada pH 7. Jamur ini dapat tumbuh dalam perbenihan
o

pada suhu 28-37 C (Molero et al., 1998; Hendrawati, 2008).


Organisme ini dapat berada dalam bentuk miselium pada
lingkungan dengan suhu 37-40C dan pH yang relatif netral,
sedangkan umumnya berada dalam bentuk ragi pada lingkungan
dengan pH yang relatif lebih rendah (Molero et al., 1998).
II.1.3. Antifungi
II.1.3.1. Jenis Antifungi
II.1.3.1.1. Berdasarkan Cara Kerja
Berdasarkan cara kerjanya antifungi di bagi menjadi dua
jenis, yaitu yang bekerja membunuh jamur atau disebut
sebagai fungisidal atau sebagai penghambat pertumbuhan
jamur atau disebut fungistatik.

19

II.1.3.1.2. Berdasarkan Kegunaan dan Bentuk Sediaan


Berdasarkan kegunaan terdapat dua macam yakni
antifungi sistemik dalam bentuk oral dan parenteral dan
antifungi topikal dalam bentuk krim, salep maupun losio.
II.1.3.2. Obat Antifungi untuk Candida albicans
Berdasarkan klasifikasinya, dimana infeksi Candida albicans
dapat terjadi secara superfisial dan sistemik maka terapi yang
tersediapun disesuaikan dengan keadaan penyakitnya. Oleh sebab
itu, terapi kandidiasis terbagi menjadi dua yaitu terapi topikal
untuk kelainan yang bersifat superfisialis dan terapi sistemik untuk
kelainan sistemik.
Obat obat yang tersedia diantaranya yaitu amfoterisin B,
flusitosin, nistatin, golongan imidazol (mikonazol, klotrimazol,
tiokonazol, isokonazol, ketokonazol, ekonazol) dan golongan
triazol (itrakonazol, flukonazol, vorikonazol, terconazol).
II.1.4. Tanjung (Mimusops elengi Linn.)
II.1.4.1. Sinonim
Mimusops patvifolia R. BR.; M. timorensrs Burch.
II.1.4.2. Taksonomi (Purba, 2011)
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Class

: Dicotyledoneae

Ordo

: Ebenales

Famili

: Sapotaceae

Genus

: Mimusops

Spesies

: Mimusops elengi Linn.

II.1.4.3. Nama Daerah


Nama daerah untuk pohon Tanjung (Mimusops elengi Linn.),
sebagai berikut :

20

Sumatera : Tanjung (Bulung); Tanjung (Kangean); Kaherise


(Sangir); Tanjung laut (Melayu); Keupula cang
(Aceh)
Jawa

: Tanjung (Jawa Tengah)

Bali

: Angkatan, Tanjung, Wilaja

Sulawesi : Tanjong (Sulawesi Selatan), Rekes


NTB

: Tanju (Bima)

II.1.4.4. Morfologi
Tanjung merupakan tumbuhan berupa pohon dengan tinggi
mencapai 10-15 meter. Banyak ditemukan ditaman-taman maupun
pinggir jalan karena termasuk jenis pohon perindang. Akar
tumbuhan ini berbentuk pipih dan berwarna hitam kecoklatan, jenis
akar tunggang. Batang pohon Tanjung (Mimusops elengi Linn.)
berkayu berwarna coklat kehitaman atau abu-abu kehitaman di
bagian luar dan berwarna merah gelap di bagian dalamnya,
berbentuk bulat dan bercabang-cabang, daun pohon Tanjung
(Mimusops elengi Linn.) tunggal, berseling, mengkilap, berbentuk
bulat-lonjong dengan panjang antara 5-16 cm, lebar 3-7 cm, ujung
tumpul, tepi rata dan pangkal yang runcing, pertulangan daun
bersifat menyirip serta berwarna hijau. Bunga pohon Tanjung
(Mimusops elengi Linn.) bentuknya menyerupai bintang, berwarna
putih gading, tunggal dengan daun kelopak yang menyempit,
bunganya memiliki panjang 1 cm dan biasanya ditemukan di
ketiak daun. Pada umumnya lama waktu yang dibutuhkan oleh
pohon Tanjung setelah berbunga hingga menghasilkan buah adalah
8 sampai 10 minggu. Buahnya berbentuk oval dengan panjang 2-3
cm, jika masih muda berwarna hijau sedangkan bila sudah matang
akan berwarna kekuningan hingga oranye. Dalam buahnya dapat
ditemukan satu hingga dua biji yang berbentuk oval, mengkilat,
padat dan berwarna coklat dengan ukuran panjang 1,7-1,9 cm dan
lebar 1,2-1,5 cm (Baliga et al, 2011; Gopalkrishnan et al, 2010).

21

(a)

(c)

(b)

(d)

(c)

(d)

(e)

(f)

Gambar 2.6. Tanaman Tanjung (Mimusops elengi Linn.) : (a) Pohon;


(b) Daun; (c) Bunga; (d) Kulit batang; (e) Buah dan (f) Biji
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, kecuali gambar (c))

22

II.1.4.5. Kandungan Fitokimia dalam Biji Tanjung (Mimusops elengi


Linn.)
Pada penelitian ini fokus peneliti adalah biji Tanjung
(Mimusops elengi Linn.) sehingga pada bagian ini dijabarkan lebih
lanjut mengenai kandungan fitokimia yang terdapat pada biji
Tanjung (Mimusops elengi Linn.).
Komponen kimia yang terkandung dalam biji Tanjung
(Mimusops elengi Linn.) meliputi alkaloid, saponin, tanin, fenolik,
flavonoid, triterpenoid, dan glikosida (Hasil Ekstraksi Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik).
II.1.4.5.1. Senyawa Alkaloid
Alkaloid dari tanaman kebanyakan merupakan senyawa
amina tersier dan yang lainnya terdiri dari nitrogen primer,
sekunder dan quartener. Semua alkaloid mengandung paling
sedikit satu atom nitrogen, biasanya bersifat basa dan
sebagian besar atom nitrogen ini merupakan cincin aromatis.
Alkaloid memiliki aktivitas fisiologis luas, dibiosintesis dari
asam amino, biasa terdapat sebagai garam organik dalam
tumbuhan. Berdasarkan asam amino penyusunnya, alkaloid
dibedakan menjadi :
-

Alkaloid asiklis yang berasal dari asam amino ornitin


dan lisin

Alkaloid indol yang berasal dari triptofan

Alkaloid
fenilalanin,

aromatis
tirosin

jenis
dan

(Mustarichie R. et al, 2011)

fenilalanin

berasal

dari

3,4-dihidrosifenilalanin

23

OPO3H2

N
N
H

CH3
Higrin

CH3

CH3

Philosobin

(a)

(b)

H3CO

CH3

H3CO
OCH3

CH
3

Mezkalin
(c)
Gambar 2.7. Contoh Senyawa Alkaloid : (a) Alkaloid Asiklis;
(a) Alkaloid Indol dan (c) Alkaloid Fenilalanin
(Sumber : Mustarichie R., 2011)
II.1.4.5.2. Senyawa Saponin
Saponin mempunyai bagian utama berupa turunan
triterpen dengan sedikit steroid. Residu gula dihubungkan oleh
gugus OH biasanya C3-OH dari aglikon (monodesmoside
saponin) dan jarang dengan 2 gugus OH atau satu gugus OH
dan satu gugus karboksil (bis-desmiside saponin) (Mustarichie
R. et al, 2011).

24

HO

OH

HO

Digitogenin
Gambar 2.8. Contoh Senyawa Saponin
(Sumber : Mustarichie R., 2011)
II.1.4.5.3. Senyawa Tanin
Tanin merupakan gambaran umum untuk senyawa
golongan polimer fenolik. Tanin merupakan bahan yang dapat
merubah kulit mentah menjadi kulit siap pakai karena
kemampuannya

menyambung

silangkan

protein

dan

mengendapkan gelatin dalam larutan (Mustarichie R. et al,


2011).
II.1.4.5.4. Senyawa Fenolik
Senyawa

fenolik terdiri dari sebuah cincin fenol

tersubstitusi. Asam sinamat dan asam kaffeat biasanya


mewakili kelompok besar dari turunan senyawa fenilpropan
yang mempunnyai tingkat oksidasi tinggi (Mustarichie R. et al,
2011).
OH
OCH3

HO

CH2
O

Catechol

Eugenol

Gambar 2.9. Contoh Senyawa-Senyawa Golongan Fenol


(Sumber : Mustarichie R., 2011)

25

II.1.4.5.5. Senyawa Flavonoid


Flavonoid merupakan bagian dari senyawa fenolik,
golongan ini memberikan warna pada buah dan bunga.
Flavonoid telah banyak dikarakterisasi dan digolongkan
berdasarkan struktur kimianya. Flavonoid adalah senyawa
fenolik yang terhidroksilasi dan merupakan senyawa C6-C3-C6
dimana C6 diganti dengan cincin benzene dan C3 adalah rantai
alifatik yang terdiri dari cincin piran. Ada 7 tipe flavonoid,
yaitu flavon, flavonol, khalkon, xanton, isoflavon dan biflavon
(Mustarichie R. et al, 2011).

Flavon
O

O
Gambar 2.10. Contoh Senyawa Golongan Flavonoid
(Sumber : Mustarichie R., 2011)
II.1.4.5.6. Senyawa Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya
berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis
diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu skualena,
senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh
tinggi dan bersifat optis aktif (Nasution A.R., 2010).
II.1.4.5.7. Senyawa Glikosida
Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua
bagian senyawa, yaitu gula yang biasa disebut glikon dan
bukan gula yang disebut aglikon. Keduanya dihubungkan oleh
suatu bentuk ikatan berupa jembatan oksigen (Oglikosida,
dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida, adenosine), jembatan

26

sulfur (S-glikosida, sinigrin), maupun jembatan karbon (Cglikosida, barbaloin) (Nadjib A., 2010).
II.1.4.6. Manfaat
Dewasa ini dengan semakin berkembangnya teknologi dan
ilmu pengetahuan berkorelasi dengan penelitian di berbagai negara.
Baliga et al (2011), dalam tulisannya memaparkan dari beberapa
hasil penelitian terdahulu diketahui bahwa Tanjung (Mimusops
elengi Linn.) memiliki banyak manfaat. Manfaat tersebut meliputi :
-

efek sebagai antibakteri

efek antikariogenik

efek sebagai antifungi

efek sebagai antioksidan

efek terhadap gastroprotektif

efek terhadap penyakit diabetik

efek hipotensif

efek antikanker
Pada penggunaan sebagai obat tradisional bagian tumbuhan

yang sering digunakan adalah kulit batang, daun, bunga dan buah.
Pada umumnya kulit batang direbus dan digunakan sebagai obat
demam serta obat kumur untuk gigi yang goyah maupun sebagai
antihelmintik, daun dimanfaatkan dengan cara dibuat menjadi
bentuk sigaret yang dihisap dan dapat menyembuhkan radang
selaput lendir hidung maupun mulut (Heyne, 1987). Air rebusan
bunga Tanjung (Mimusops elengi Linn.) digunakan sebagai
antidiuretik, antitoksin maupun menyembuhkan leukorea dan
menorrhagia. Buah pohon ini efektif mencegah disentri kronik dan
konstipasi (Baliga et al, 2011). Heyne (1987) menyatakan akar
yang diremas dalam air, biasa dipakai orang berkumur untuk
menghilangkan sariawan mulut dan sakit tenggorokan.

27

II.1.4.7. Mekanisme Kerja Fitokimia dalam Ekstrak Biji Tanjung


(Mimusops elengi Linn.) sebagai Antifungi
Dari beragam komponen yang terkandung dalam ekstrak biji
Tanjung (Mimusops elengi Linn.), beberapa senyawa memiliki
aktivitas sebagai antifungi, yaitu golongan fenol, alkaloid,
saponin dan flavonoid.
Golongan

alkaloid

adalah

golongan

senyawa

yang

mempunyai struktur heterosiklik dan mengandung atom nitrogen


di dalam intinya (pembawa sifat basa/alkalis). Sifat umum yang
dimiliki oleh golongan senyawa ini : basa, rasa pahit, umumnya
berasal dari tumbuhan dan berkhasiat secara farmakologis
(Musyaffa, 2010). Alkaloid dapat menghambat pertumbuhan
Candida

albicans,

Candida

neoformans,

Epidermophyton

floccosum, dan Tricophyton sp., yaitu dengan menghambat


biosintesis asam nukleat (Kusumaningtyas et al, 2008).
Senyawa lainnya adalah saponin yaitu jenis glikosida yang
banyak ditemukan dalam tumbuhan (Rizatullah, 2010). Saponin
dapat membentuk kompleks dengan sterol dan mempengaruhi
permeabilitas membran kapang dan khamir Candida albicans
(Kusumaningtyas et al, 2008).
Selain kedua senyawa tersebut, juga terdapat senyawa
flavonoid, yaitu senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom
karbon, terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan
menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri dari tiga atom karbon
(Doloksaribu, 2011). Flavonoid mempunyai aktivitas anti-kapang
dan khamir

pada

Candida albicans

dengan

menganggu

pembentukan pseudohifa selama proses patogenesis. Walaupun


demikian belum diketahui senyawa dominan yang berfungsi
sebagai anti-kapang dan khamir (Kusumaningtyas et al, 2008).

28

II.1.5. Metode Ekstraksi


Ekstraksi adalah proses penarikan zat pokok yang diinginkan dari
bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih di mana
zat yang diinginkan larut. Hasil dari ekstraksi disebut ekstrak yaitu
sediaan sari pekat tumbuh-tumbuhan atau hewan yang diperoleh dengan
cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan obat menggunakan
pelarut yang sesuai (Ansel, 1989).
Metode dasar dari ekstraksi diantaranya yaitu perkolasi, soxhletasi,
refluks, destilasi uap air dan maserasi. Pemilihan metode ekstraksi
ditentukan berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah
obat dan daya penyesuaian tiap macam metode ekstraksi dan
kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati
sempurna dari obat. Sifat dari bahan mentah obat merupakan faktor
utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi
(Ansel, 1989).
Faktor faktor yang berpengaruh terhadap proses ekstraksi adalah
lama ekstraksi, suhu dan jenis pelarut yang digunakan (Khopkar, 2003).
Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih suatu pelarut
adalah sifat pelarut tersebut dimana pelarut polar akan melarutkan
senyawa polar demikian sebaliknya pelarut non-polar akan melarutkan
senyawa non-polar dan pelarut semi polar akan cenderung melarutkan
senyawa semi polar (Priyatmoko W., 2008). Selain itu, pemilihan
pelarut

juga

harus dipilih

berdasarkan kemampuannya

dalam

melarutkan jumlah yang maksimum dari zat aktif dan seminimum


mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan (Ansel, 1989).
Pelarut yang digunakan pada penelitian ini adalah etanol 96%,
karena pelarut tersebut bersifat polar, dimana pada umumnya zat aktif
yang terkandung dalam biji suatu tanaman bersifat polar sehingga
pelarut etanol tersebut mampu berpenetrasi ke dalam sel biji Tanjung
(Mimusops elengi Linn.) dan menyari/menarik zat-zat aktif yang
terkandung dalam sel biji Tanjung (Mimusops elengi Linn.) diantaranya
alkaloid, saponin, tanin, flavonoid dan zat aktif polar lainnya (Shantya

29

F. et al, 2011). Disamping itu, pemilihan pelarut etanol juga karena


etanol bersifat lebih selektif, netral, absorbsi baik, dapat mencegah
pertumbuhan kapang dan kuman, dapat bercampur dengan air pada
segala perbandingan serta tidak menyebabkan pembengkakan membran
sel dan dapat memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut (Rahardian S.,
2007; Fanani R., 2009).
Pada penelitian ini metode ekstraksi yang dipilih adalah maserasi,
sebab dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan
dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan di dalam dan di luar
sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan
terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna
karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Maserasi berasal
dari bahasa Latin macerare, yang artinya merendam. Maserasi
merupakan proses penyarian dengan cara serbuk direndam sampai
meresap atau melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah
larut akan melarut (Ansel, 1989). Dalam proses maserasi, simplisia
yang akan diekstraksi biasanya ditempatkan pada wadah atau bejana
yang bermulut lebar, bejana ditutup rapat dan isinya diaduk berulangulang. Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15 - 20 C dalam
waktu 3 hari sampai bahan-bahan yang larut melarut (Ansel, 1989).
II.1.6. Uji Aktivitas Antifungi in Vitro
Uji aktivitas antifungi serupa dengan uji untuk bakteri, dimana
spora fungi atau miselium fungi dilarutkan pada larutan agen
antimikroba uji, dan selanjutnya pada interval waktu tertentu
disubkultur pada media yang sesuai. Setelah diinkubasi, pertumbuhan
fungi pun diamati dan diukur diameter yang terbentuk (Krisno A.,
2011). Metode untuk uji aktivitas antifungi meliputi :
II.1.6.1. Metode Dilusi
Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu dilusi cair (broth
dilution) dan dilusi padat (solid dilution).

30

II.1.6.1.1. Metode Dilusi Cair / Broth Dilution Test (serial dilution)


Metode ini bertujuan mengukur MIC (minimum inhibitory
concentration). Cara yang dilakukan adalah dengan membuat
seri pengenceran agen antifungi pada medium cair yang
ditambahkan dengan jamur uji. Larutan uji agen antifungi pada
kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan
jamur uji ditetapkan sebagai KHM, selanjutnya dikultur ulang
pada media cair tanpa penambahan jamur uji ataupun agen
antifungi, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Media cair yang
tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM
(Krisno A., 2011).
II.1.6.1.2. Metode Dilusi Padat
Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun
menggunakan media padat (solid) (Krisno A., 2011).
II.1.6.2. Metode Difusi
Metode yang lazim digunakan adalah metode disc diffusion
(Tes Kirby dan Bauer) (Hudzicki J., 2010). Metode ini digunakan
untuk menentukan aktivitas agen antifungi. Kertas cakram yang
berisi agen antifungi diletakkan pada media agar yang telah
diinokulasi dengan mikroorganisme uji yang kemudian akan
berdifusi pada media agar tersebut. Selanjutnya media agar
diinkubasi pada suhu 37C selama 18-24 jam dan kemudian
dilakukan pengamatan terhadap area jernih di sekitar kertas
cakram.

Area

jernih

mengindikasikan

adanya

hambatan

pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antifungi pada permukaan


media agar (Hudzicki J., 2010; Krisno A., 2011).

31

II.2.

Kerangka Teori
Ekstrak biji Tanjung
(Mimusops elengi L.)

Fenol

Alkaloid

Flavonoid

Saponin

Mendenaturasi
ikatan protein
pada membran
C. albicans

Menghambat
biosintesis
asam nukleat
C. albicans

Gangguan
difusi makanan
ke dalam sel
C. albicans

Surfaktan
berbentuk polar

Membran sel
C. albicans
lisis

Memecah
lapisan lemak
pada membran
C. albicans

Inti sel C.
albicans tidak
berkembang

Gangguan
permeabilitas
membran sel
C. albicans

Fenol
menembus ke
dalam inti
C. albicans

Sel C. albicans
membengkak
dan pecah

C. albicans
tidak dapat
berkembang

Kematian
C. albicans

Hambatan
pertumbuhan
koloni
C. albicans
1.
2.
3.
4.

Nutrien
Kadar glukosa
pH media
Suhu

Kadar Hambat Minimal


Kadar Bunuh Minimal
Candida albicans

32

II.3.

Kerangka Konsep
Variabel Independen
Pemberian ekstrak biji pohon
Tanjung (Mimusops elengi L.)
dengan konsentrasi 5%; 10%;
20%; 40%; 80% dan 100%

1.
2.
3.
4.

Variabel Dependen
Diameter Daerah Hambat
(DDH) pertumbuhan Candida
albicans di sekeliling kertas
cakram

Suhu inkubasi (37C)


Waktu inkubasi (48 jam)
Kepekatan jamur (0,5 Mc Farland)
pH medium (5,4-5,8)
Variabel Perancu Terkendali

II.4.

Hipotesis
Hipotesis adalah suatu pernyataan yang merupakan jawaban
sementara peneliti terhadap pertanyaan penelitian, yang harus dibuktikan
melalui penelitian (Dahlan M. S., 2010).
Adapun hipotesis dari penelitian ini yaitu :
1. Terdapat efektivitas antifungi dari ekstrak biji Tanjung (Mimusops
elengi Linn.) terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro.
2. Terdapat perbedaan efektivitas antifungi dari ekstrak biji Tanjung
(Mimusops elengi Linn.) terhadap konsentrasi yang berbeda yang
ditunjukkan pada pertumbuhan Candida albicans secara in vitro
dengan metode difusi cakram.