Anda di halaman 1dari 8

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

KAMPUS IV

Politik luar
negeri
republik
Indonesia

politik luar negeri


republik indonesia di
tangan masing masing
pemimpin negara

Bebas artinya menentukan jalan sendiri, tidak terpengaruh oleh


pihak manapun sedangkan aktif artinya menuju perdamaian dunia dan
bersahabat dengan segala bangsa (Bung Hatta, 1948)

2013

Politik luar negeri


republik indonesia
politik luar negeri republik indonesia
di tangan masing masing pemimpin negara

Dosen Pengampu :
Aswin Aryanto Azis, S IP. M Dev St
Disusun oleh :

BAYU BASKORO

(125120418113003)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Tahun 2013

politik luar negeri republik indonesia


di tangan masing masing pemimpin negara
Melihat politik luar negeri Indonesia dalam retang masa kepemimpinan masing-masing
presiden yang saling silih berganti mengalami perubahan dan perkambangan sangatlah
menarik. Pasca Indonesia merdeka, telah terjadi banyak hal yang dicapai dan banyak hal
pula yang perlu diperjuangkan. Pasang-surut politik dalam negeri di Indonesia yang
dinamis juga mempengaruhi pengambilan keputusan yang berhubungan dengan politik
luar ngeri yang dilakukan oleh Indonesia. Selain itu aktor pemimpin bangsa juga
merupakan penentu jalannya roda pemrintahan yang akhirnya terrefleksi kepada politik
luar negeri.
Masa Kepemimpinan Ir. Soekarno
Politik luar negeri suatu negara merupakan hasil perpaduan dan refleksi
dari politik domestik suatu negara yang dipengaruhi oleh perkembangan dan
situasi regional maupun internasional. 1 Dalam masa ORLA (Orde Lama), politik
luar negeri yang dilakukan oleh Indonesia tidak lepas dari pengaruh dinamika
politk internasional pasca Perang Dunia II yang didominasi oleh Blok Barat dan
Blok Timur dalam konteks perang dingin. Banyak negara-negara di dunia ini pun
tak lepas dari arus konstelasi tersebut, mereka berlomba untuk menjadi aliansi
Blok Barat maupun Blok Timur. Posisi ini cukup membuat Indonesia mengalami
masa-masa sulit sehingga terjadi konflik domestik antara golongan kiri yang pro
terhadap Blok Timur dan golongan kanan yang pro terhadap Blok Barat. Dalam
situasi politik seperti itu, Bung Hatta mencoba merumuskan arah politik luar
negeri Indonesia yang bebas aktif. Pidato pertamanya mengenai politi luar negeri
indonesia yang bebas aktif, beliau mengatakan:
Bebas artinya menentukan jalan sendiri, tidak terpengaruh oleh pihak
manapun sedangkan aktif artinya menuju perdamaian dunia dan bersahabat dengan
segala bangsa (Bung Hatta, 1948)
Praktek nyata dari prinsip tersebut kertuang dalam beberapa hubungan
internasional yang dilakuk oleh Indonesia yaitu, Pembentukan GNB sebagai wujud
ketidakberpihakkan Indonesia kepada Blok AS maupun Blok Soviet (wujud makna
bebas). Adanya penolakan oleh Soekarno atas intervensi AS di dalam Perang
Vietnam (wujud makna aktif), Pencarian pengakuan kedaulatan pasca
kemerdekaan
dengan
menggunakan
jalur
diplomasi
melalui
perundinganperundingan (wujud makna aktif). Pencarian pengakuan juga Hal
yang berdampak pada kondisi domestik Indonesia yang multidimensi pada masa
transisinya sebagai post colonial states. Sebagai negara yang baru saja merdeka,

Ganewati Wuryandari. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia_di Tengah Pusaran Domesti. hal 56

fokus utama dalam potiltik luar negeri yang diterapkan Indonesia adalah
pengambilan simpati dukungan dan pengakuan Internasional atas kemerdekaan
Indonesia. Fokus ini sebagai benteng yang dapat digunakan oleh Indonesia untuk
mempertahannya kadaulatannya berdasarkan konsep konstitutif, yaitu
pengakuan dari negara lain bahwa telah lahir suatu negara baru.2
Berjalan dengan waktu, pemerintahan Indonesia berjalan kearah pros kiri.
Pada masa ini Indonesia dikenal dengan politik luar negeri konfrontasi dengan
Malaysia yang dipandang sebagai antek dari neo-kolonialisme dan imperialisme
Inggris.
Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno di era ini memiliki kecenderungan
untuk menjalin hubungan dengan Uni Soviet yang berhaluan komunis. Sejumlah
monumen persahabatan Indonesia dan Uni Soviet bertebaran di berbagai wilayah
Indonesia yang antara lain :
1. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK);
2. Pabrik Baja Krakatau Steel;
3. dan jalan raya di Kalimantan dari Palangkaraya ke Sampit.
Pembangunan SUGBK mendapatkan bantuan lunak dari Uni Soviet
sejumlah 12,5 juta Dollar AS. Stadion dibangun mulai tahun 1958 dan
pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1962
Secara jelas terlihat Indonesia pada saat itu juga cenderung berporos ke
Timur dan dekat dengan negara-negara komunis seperti Cina dan Uni Soviet
dibandingkan dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat.
Presiden Soekarno juga menetapkan politik luar marcusuar di mana dibuat
poros Jakarta-Peking-Phyongyang. Hal ini menyulut kontrofersi dimata dunia
internasional, karena Indonesia yang awalnya menyatakan sikap sebagai negara
non-Blok menjadi berpindah haluan. Hal ini membuat tidak berjalan dengan
efektifnya politik luar negeri bebas aktif saat itu.
Masa Kepemimpinan Soeharto
Pergantian kekuasaan dari rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno
menuju rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto memberikan perubahan yang
cukup mendasar dalam sifat diplomasi Indonesia. Soekarno dengan haluan politik
luar negeri yang revolusioner dan anti imperialisme bersifat sangat konfrontatif.
Sebaliknya, setelah memasuki rezim Orde Baru, sifat politik luar negeri Indonesia
yang konfrontatif tersebut berganti dengan politik yang bersifat kooperatif.3
Pada rezim Orde Baru, hubungan yang tidak baik dengan Barat mulai
diperbaiki. Hal ini dilakukan terutama karena orientasi politik luar negeri Indonesia

Boer Mauna. Jilid 4. 2011. Hukum Internasional_Pengetian, Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global.
Hal 62
http://djangka.com/2012/04/30/perbandingan-politik-luar-negeri-bebas-aktif-era-orde-lama-orde-barudan-pasca-orde-baru/ (di akses tanggal 15 Juni 2013)

berubah haluan menjadi pembangunan ekonomi dalam negeri melalui kerja sama
dengan negara-negara lain.
Pada era di bawah Soeharto bisa dikatakan politik luar negeri Indonesia
lebih condong ke Barat. Pada periode Soeharto inilah Indonesia mulai meminjam
bantuan kepada lembaga keuangan milik Barat, seperti International Monetary
Fund (IMF). Dalam hal ini, Indonesia juga mulai memperbaiki hubungan kembali
dengan Malaysia di mana sempat memburuk di era Soekarno Soeharto disibukkan
dengan mengembalikan citra Indonesia di mata internasional guna mendorong
investasi di dalam negeri negeri.
Masa Kepemimpinan Bj. Habibie
Pemerintahan Indonesia pasca-orde baru meniti jalan menuju demokrasi
yang menyeluruh. Dalam kaitannya dengan kondisi dalam negeri, politik luar
negeri Indonesia sejak kejatuhan pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998 tidak
dapat dilepaskan dari perubahan politik secara besar-besaran yang mengikuti
kejatuhan pemerintahan otoritarian tersebut. Pemerintahan Habibie
merupakan salah satu yang menggambarkan pertautan antara proses
demokratisasi dan kebijakan luar negeri dari sebuah pemerintahan di masa
transisi.
Di awal masa pemerintahannya, Habibie menghadapi persoalan legitimasi
yang cukup serius. Tidak hanya menangani masalah ekonomi yang akut, tetapi
juga harus menyelesaikan masalah HAM yang dihasilkan oleh pemerintahan
terdahulu. Pemerintah berusaha mendapatkan dukungan internasional dengan
beragam cara, diantaranya, pemerintahan Habibie mengasilkan undang-undang
yang berkaian dengan perlindangan atas hak asasi manusia. Selain itu,
pemerintahan Habibie pun berhasil mendorong ratifikasi empat konvensi
internasional dalam masalah hak-hak pekerja. Pembentukan Komnas
Perempuan juga dilakukan pada masa pemerintahan Habibie.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Habibie menaikkan kembali derajat
kepercayaan internasional terhadap Indonesia. Habibie mampu memperoleh
simpati dari IMF dan Bank Dunia dengan keputusan kedua lembaga tersebut
untuk mencairkan program bantuan untuk mengatasi krisis ekonomi sebesar 43
milyar dolar dan bahkan menawarkan tambahan bantuan sebesar 14 milyar dolar.4
Hal ini memperlihatkan bahwa walaupun basis legitimasi dari kalangan domestik
tidak terlampau kuat, namun dukungan internasional yang diperoleh melalui
serangkaian kebijakan untuk memberi citra positif kepada dunia internasional
memberikan dukungan bagi keberlangsungan pemerintahan Habibie saat periode
transisi menuju demokrasi dimulai.
Pemerintahan Habibie juga memberi dampak negatif bagi kelangsungan
pemerintahan transisi. Kebijakan Habibie dalam persoalan Timor-Timur

Ibit

menunjukan hal ini dengan jelas. Habibie mengeluarkan pernyataan mengenai isu
Timor-Timur pada bulan Juni 1998 dimana ia mengajukan tawaran untuk
pemberlakuan otonomi seluas-luasnya untuk provinsi Timor Timur. Hingga pada
akhirnya Indonesia harus kehilangan Timor- Timur melalui jajak pendapat.
Masa Kepemimpinan Abdurrahman Wahid
Presiden Abdurrahman Wahid memiliki cita-cita mengembalikan citra
Indonesia di mata internasional, untuk itu dia melakukan banyak kunjungan ke
luar negeri selama satu tahun awal pemerintahannya sebagai bentuk
implementasi dari tujuan tersebut. Dalam setiap kunjungan luar negeri yang
ekstensif selama masa pemerintahannya, Abdurrahman Wahid secara konstan
mengangkat isu-isu domestik dalam pertemuannya dengan setiap kepala negara
yang dikunjunginya. Termasuk dalam hal ini adalah soal integritas teritorial
Indonesia seperti dalam kasus Aceh dan isu perbaikan ekonomi. Namun, sebagian
besar kunjungan-kunjungannya itu tidak memiliki agenda yang jelas. Bahkan,
dengan alasan yang absurd, Wahid berencana membuka hubungan diplomatik
dengan Israel yang merupakan sebuah rencana yang mendapat reaksi keras di
dalam negeri. Dan dengan tipe politik luar negeri Indonesia yang seperti ini
membuat politik luar negeri Indonesia menjadi tidak fokus yang pada akhirnya
hanya membuat berbagai usaha yang telah dijalankan oleh Abdurrahman Wahid
menjadi sia-sia karena kurang adanya implementasi yang konkrit.
Masa Kepemimpinan Megawati Soekarno Putri
Megawati secara ekstensif melakukan kunjungan ke luar negeri untuk
memperoleh dukungan internasional. Megawati antara lain mengunjungi Rusia,
Jepang, Malaysia, New York untuk berpidato di depan Majelis Umum PBB,
Rumania, Polandia, Hungaria, Bangladesh, Mongolia,Vietnam, Tunisia, Libya, Cina
dan juga Pakistan. Tetapi, Presiden Megawati menuai kritik dalam berbagai
kunjungannya tersebut, baik mengenai frekuensi ataupun substansi dari berbagai
lawatan tersebut. Diantara kontroversi tersebut adalah pembelian pesawat
tempur Sukhoi dan helikpoter dari Rusia yang merupakan buah dari kunjungan
Megawati ke Moskow.
Politik luar negeri Indonesia selama masa pemerintahan Megawati juga
dipengaruhi beragam peristiwa nasional maupun internasional. Peristiwa
serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat, pemboman di Bali 2002
dan hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003, penyerangan ke Irak yang dipimpin
Amerika Serikat dan Ingrris dan juga operasi militer di Aceh untuk menghadapi
GAM merupakan beberapa hal yang mewarnai dinamika internal dan eksternal
Indonesia. Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi isu besar mengenai perlindungan
terhadap kebebasan sipil di tengah proses demokratisasi, seiring dengan

meningkatnya kekhawatiran bahwa negara akan mendapatkan momentum untuk


mengembalikan prinsip security approach di dalam negeri.5
Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa diplomasi Indonesia kembali
menjadi aktif pada masa pemerintahan Megawati. Dalam pengertian bahwa
pelaksanaan diplomasi di masa pemerintahan Megawati kembali ditopang oleh
struktur yang memadai dan substansi yang cukup. Bahkan Departemen Luar
Negeri mengalami restrukturisasi guna memperbaiki kinerjanya. Restrukturisasi
ini sangat tepat waktu mengingat perubahan global terjadi begitu cepat,
terutama setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat. Perubahan
cepat ini memaksa setiap negara untuk mampu beradaptasi dan mengelola arus
perubahan tersebut.
Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono
Dalam pandangan Presiden Yudhoyono, prinsip bebas-aktif tidak berarti
menjadikan Indonesia tidak berani bersikap. Dengan prinsip itu, Indonesia
berjuang sebagai pelopor membebaskan bangsa-bangsa dari segala macam
penjajahan dan aktif mendorong mewujudkan tata dunia baru yang menjunjung
tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan.6
Presiden Yudhoyono menyatakan bahwa sudah waktunya Indonesia
memiliki kebijakan luar negeri baru sesuai dengan perubahan dunia saat ini.
Indonesia harus menegakkan harga dirinya dan tidak mengedepankan sikap
emosional dalam menghadapi masalah internasional. Melihat realitas yang ada,
dalam bersikap kita juga harus dapat memadukan aturan, nilai hubungan
internasional, kondisi pasar dunia, demokrasi, dan rasionalitas.
Ini tampak bahwa Indonesia tidak pandang bulu bergaul dengan negara
manapun sejauh memberikan manfaat bagi Indonesia, semisal pembelian senjata
dari Russia maupun AS (makna bebas).Indonesia juga terus berupaya mendorong
upaya damai antara Israel dan Palestina, serta saat ini Indonesia terus memediasi
konflik antara Thailand dan Kamboja (makna aktif)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa politk luar negeri di Indonesia sering terjadi
pasang-surut dalam setiap masa kepemimpinan masing-masing presiden. Setiap
pemimpin memiliki kekurangan dan kelebihan dalam melakukan politik dengan negaranegara lain yang memberikan dampak positif mau[un negatif kepada kepentingan
bangsa.

Daftar Referensi
5

http://politik.kompasiana.com/2012/03/03/perkembangan-politik-luar-negeri-indonesia-439864.html (di
akses tanggal 15 Juni 2013)
6
ibit

Ganewati Wuryandari. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia_di Tengah Pusaran


Domesti.
Boer Mauna. Jilid 4. 2011. Hukum Internasional_Pengetian, Peran dan Fungsi dalam
Era Dinamika Global.
http://djangka.com/2012/04/30/perbandingan-politik-luar-negeri-bebas-aktif-era-ordelama-orde-baru-dan-pasca-orde-baru
http://politik.kompasiana.com/2012/03/03/perkembangan-politik-luar-negeriindonesia-439864.html