Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

DIPLOMASI DAN POLITIK LUAR NEGERI

( Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Politik dan Hubungan Internasional)

Oleh :
IMAM SHOLIHIN (090210302042)
ANGGI BAGUS BUDI P. (090210302082)
RENGGA SETYA BUDI (090210302093)
IWAN FALS (090210302095)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan


makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang diplomasi
dan politik luar negeri. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai
aspek.. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang diplomasi dan politik luar negeri dan sengaja
dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat
dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia hubungan internasional.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru/dosen pembimbing
yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penggunaan kata diplomasi sudah sering kita dengar, mulai dari
percakapan sehari-hari hingga pada tataran hubungan antar negara atau
percakapan dalam suatu forum internasional. Dalam percakapan sehari-hari, orang
biasa menggunakan kata diplomasi dengan maksud menyebut seseorang yang
memiliki kemampuan bertutur kata yang baik, teratur dan sistematis. Dalam The
Advance Learners Dictionary of Current English, menguraikan kata diplomasi
sebagai skill in making arrangements (keterampilan melakukan pengaturanpengaturan), cleverness in dealing with peoples so that they remain friendly and
willing to help (kepintaran dalam berurusan dengan orang-orang sehingga
mereka tetap bersahabat dan bersedia membantu) dan Yusuf Badri menambahkan
bahwa

diplomasi

bukan

hanya willing

to

help tetapi

juga willing

to

agree (bersedia untuk menyetujui). Diplomasi dalam konteks ini juga dimaknai
sebagai kemampuan seseorang dalam membujuk atau merayu seseorang untuk
mengikuti keinginan yang membujuk. Sedangkan diplomasi di fora internasional
dimaknai sebagai pembicaraan formal ataupun formal antara dua atau lebih negara
(atau aktor non negara) dalam membicarakan suatu hal yang berkaitan dengan
berbagai kepentingannya. Makna ini yang menjadi ulasan dan rujukan di berbagai
literatur diplomasi.
Politik luar negeri secara umum dapat diartikan sebagai pengejawantahan
kepentingan

nasional

suatu

negara

terhadap

negara

lain.

Sedangkan Gibson dan The Road to Foreign Policy, menjelaskan politik luar
negeri sebagai rencana yang komprehensif yang dibuat dengan baik, didasarkan
pada pengetahuan dan pengalaman untuk menjalankan bisnis pemerintahan
dengan negara lain. Politik luar negeri ditujukan untuk peningkatan dan
perlindungan bangsa. Hubungan antara politik luar negeri dan diplomasi sangat

dekat sekali ibarat dua sisi mata uang. Keduanya saling melengkapi dalam upaya
memajukan kepentingan nasional, walaupun keduanya tidak sama. Tugas utama
politik luar negeri adalah proses penilaian yang berkesinambungan dari
kemampuan dan kehendak sendiri serta negara lain. Diplomasi bertugas untuk
memberikan masukan yang tepat sebagai dasar penilaian. Politik Luar negeri
sebagai substansi hubungan luar negeri dan diplomasi sebagai proses dengan
mana kebijaksanaan dijalankan. Seprti yang dinytakan JR. Childs bahwa politik
luar negeri adalah substansi hubungan luar negeri sedangkan diplomasi dalah
mekanisme dari hubungan luar negeri atau politik uar negeri.

1.2. Pembatasan Masalah


-

Diplomasi dan interaksi antar negara.

Politik luar negeri bebas aktif.

1.3. Perumusan Masalah


-

Bagaimana penjelasan diplomasi dan interaksi antar negara?

apa yang dimaksud politik luar negeri bebas aktif?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Diplomasi dan Interaksi Antar Negara
Definsi diplomasi sangat beragam mulai dari definsi yang terdapat dalam
berbagai kamus hingga para ahli hubungan internasional.
1.Menurut kamus
a. Kamus Besar Bahasa Indonesia:
-

urusan atau penyelenggaraan perhubungan resmi antara satu negara dengan


negara lain.

urusan kepentingan sebuah negara dengan perantaraan wakil-wakilnya di


negara lain.

pengetahuan dan kecakapan dalam hal perhubungan antara negara dan


negara.

2.Menurut para ahli


a. Sir Ernest Satow dalam Guide to Diplomatic Practice: the aplication of
intellegence

and

tact

to conduct

of

official

relations

between

the government of independent states (penerapan kepandaian dan taktik


pada pelaksanaan hubungan resmi antara pemerintah negara-negara
berdaulat).
b. K. Panikar dalam The Principle and Practice of Diplomacy: seni
mengedepankan kepentingan suatu negara dalam hubungannya dengan
negara lain.
c. Ivo D. Duchacek: praktek pelaksanaan politik luar negeri suatu negara
melalui cara negosiasi dengan negara lain.
d. Harold Nicholson: diplomasi mencakup lima hal yaitu politik luar negeri,
negosiasi, mekanisme pelaskanaan negosiasi tersebut, suatu cabang dinas

luar negeri dan keahlian (dalam arti baik) serta taktik licik (dalam arti
buruk) dalam pelaksanaan negosiasi.
e. Clausewitz: perang merupakan kelanjutan diplomasi dengan cara lain.
f. Dean A. Minix dan Sandra M. Hawley dalam Global Politics: management
of relations between states and between states and other actors (non state
actors).
g. WW. Kulski: perumusan dan pelasksanaan politik luar negeri
Dengan merujuk ke berbagai definisi tersebut, maka diplomasi setidaknya
mengandung lima aspek, yaitu:
1. Hubungan antara negara dengan negara dan hubungan antara negara dan
aktor bukan negara.
2. Proses perumusan dan pelaksanaan politik luar negeri.
3. Mempunyai tujuan memajukan dan melindungi kepentingan nasional.
4. Suatu seni dalam berunding.
5. Perang sebagai bentuk lain diplomasi.
Penggunaan kata diplomasi sudah sering kita dengar, mulai dari
percakapan sehari-hari hingga pada tataran hubungan antar negara atau
percakapan dalam suatu forum internasional.
Dalam percakapan sehari-hari, orang biasa menggunakan kata diplomasi
dengan maksud menyebut seseorang yang memiliki kemampuan bertutur kata
yang baik, teratur dan sistematis. Dalam The Advance Learners Dictionary of
Current English, menguraikan kata diplomasi sebagai skill in making
arrangements (keterampilan melakukan pengaturan-pengaturan), cleverness in
dealing with peoples so that they remain friendly and willing to help (kepintaran
dalam berurusan dengan orang-orang sehingga mereka tetap bersahabat dan
bersedia membantu) dan Yusuf Badri menambahkan bahwa diplomasi bukan
hanya willing to help tetapi juga willing to agree (bersedia untuk menyetujui).
Diplomasi dalam konteks ini juga dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam
membujuk atau merayu seseorang untuk mengikuti keinginan yang membujuk.

Sedangkan diplomasi di fora internasional dimaknai sebagai pembicaraan formal


ataupun formal antara dua atau lebih negara (atau aktor non negara) dalam
membicarakan suatu hal yang berkaitan dengan berbagai kepentingannya. Makna
ini yang menjadi ulasan dan rujukan di berbagai literatur diplomasi.
Kata diplomasi sendiri berasal dari kata Yunani. SL Roy menyebut kata
diploun sebagai asal mula kata diplomasi yang berarti melipat. Sedangkan
Yusuf Badri menyebutkan kata ziplwma atau duplicata yang berarti
digandakan atau dilipat dua. Menurut Nicholson, pada masa Kekaisaran
Romawi semua paspor, yang melewati jalan milik negara dan surat-surat jalan
dicetak pada piringan logam dobel, dilipat dan dijahit jadi satu dalam cara yang
khas. Surat jalan ini disebut diplomas. Selanjutnya kata ini berkembang dan
mencakup pula dokumen-dokumen resmi yang bukan logam, khususnya yang
memberikan hak istimewa tertentu atau menyangkut perjanjian dengan suku
bangsa asing di luar bangsa Romawi. Karena perjanjian ini semakin menumpuk,
arsip kekaisaran menjadi beban dengan dokumen-dokumen kecil yang tak
terhitung jumlahnya yang dilipat dan diberikan dalam cara khusus. Oleh karena
itu dirasa perlu untuk memperkerjakan seseorang yang terlatih untuk mengindeks,
menguraikan dan memeliharanya. Isi surat resmi negara yang dikumpulkan dan
disimpan di arsip, yang dimaknai sebagai pelaksanaan politik luar negeri dalam
hubungan internasional dikenal pada zaman pertengahan abad XVIII. Menurut
Ernest Satow, Burke memaknai kata diplomasi untuk menunjukan keahlian atau
keberhasilan dalam melakukan hubungan internasional dan perundingan di tahun
1796. Orang yang melakukan tugas tersebut dikenal sebagai diplomaticus atau
diplomatique atau disebut juga seorang archivaris.
Perkembangan arti diplomasi yang berasal dari kata menggandakan
menjadi pekerjaan seorang archivaris dan kemudian menjadi yang berhubungan
dengan pelaksanaan politik luar negeri, bagi sebagai pihak sulit untuk menerima
keterkaitan logikanya. Akar kata diplomasi, digandakan atau dilipat dua,
secara

etimologi

berkaitan

dengan

kata duplicity

(sengaja

menipu),

dubois (meragukan) dan semua arti kata yang berarti bermuka dua. Seperti

orang Bulgaria menyebut da (ya) dengan menggelengkan kepalanya. Dengan


demikian berdasarkan akar katanya diplomasi lebih mencerminkan kebohongan.
Pemikiran ini akan sesuai dengan prinsip seorang diplomat yaitu right or wrong
is my country (benar ataupun salah adalah negara saya). Prinsip ini juga
mencerminkan nilai-nilai kebohongan. Namun demikian dengan perkembangan
praktek-praktek diplomasi prinsip ini kurang relevan dipertahanan. Oleh karena
itu tidak tepat untuk mengatakan bahwa diplomasi identik dengan kebohongan.
Francois de Calliares semasa pemerintahan Louis XIV dari Perancis
mengemukakan the use of deceit in diplomacy is by its very nature limited, since
there is no curse that come quicker to roost than a lie that has been found out
(penggunaan kebohongan dalam diplomasi pada dasarnya adalah sangat terbatas
sekali secara alamiah, karena tidak ada suatu kutukan yang begitu cepat
tersebarkan dari suatu kebohongan yang terungkap). Masuknya nilai-nilai
kebohongan dalam kamus diplomasi merupakan akibat gurauan Sir Henry Wotton
(duta besar raja Inggris, James I untuk Venesia) yang mengemukakan bahwa An
Ambassador is an honest man, sent to lie abroad for the good of his country
(seorang duta besar adalah s eorang yang jujur, dikirim ke luar negeri untuk
berbohong demi negerinya).
Fungsi Diplomasi
Lord Strang (Foreign Office):
Fungsi utama diplomasi adalah menyelesaikan berbagai perbedaan
internasinal dengan ketenangan dan bersahabat melalui perundingan yang
diperlancar dengan hubungan pribadi yang naik dan saling pengertian.
N.A. Maryan Green (International Law of Peace):
1. Representing
2. Negotiating
3. Protecting
4. Reporting

5. Promoting
Konvensi Vienna 1961 (Artikel 3) :
1. Mewakili negara pengirim di negara penerima.
2. Melindungi kepentingan negara pengirim dengan negara penerima.
3. Melakukan perundingan dengan negara penerima.
4. Mencari informasi di negara penerima untuk negara pengirim atau
menyampaikan informasi negara untuk negera penerima.
5. Meningkatkan

hubungan

persahabatan

antar negara

pengirim

dan

penerima serta memajukan hubungan ekonomi, budaya dan ilmu


pengetahuan.
Conway W. Henderson :
1. Representing State Interest
2. Symbolic Representation
3. Obtaining Information
4. Promoting & Protecting the Interest of Nationals
5. Policymaking by Diplomats
Tugas Diplomasi
1. Menetapkan tujuan berdasarkan kekuatan sesungguhnya dan kekuatan
potensial yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut.
2. Menilai Tujuan negara lain dan kekuatan sesungguhnya dan potensial yang
tersedia untuk mencapi tujuan tesebut.
3. Menetapkan seberapa jauh tujuan-tujuan yang berbeda ini cocok satu sama
lain.
4. Menggunakan sarana-sarana yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Interaksi Antar Negara


Hubungan Internasional merupakan kajian yang dapat dikatakan sebuah
ilmu baru. Ilmu Hubungan Internasional pada dasarnya mempelajari mengenai
bentuk interaksi antar negara dan bangsa berdaulat yang melewati batas-batas
teritorialnya. Hubungan Internasional pada awalnya hanya bentuk kontak atau
interaksi antar negara dalam masalah politik saja. Namun, seiring berkembangnya
zaman, negara maupun aktor non-negara mulai tertarik pada isu-isu internasional
yang mengalami transformasi akan isu-isu di luar isu politik, seperti isu ekonomi,
lingkungan hidup, kejahatan transnasional, hak asasi manusia, terorisme, sosial
dan kebudayaan.
Istilah Hubungan Internasional memiliki keterkaitan dengan semua bentuk
interaksi diantara masyarakat dari setiap negara, baik oleh pemerintah atau rakyat
dari negara yang bersangkutan. Dalam mengkaji ilmu Hubungan Internasional,
yang meliputi kajian politik luar negeri, serta semua segi hubungan di antara
negara-negara di dunia, yang juga meliputi kajian terhadap lembaga perdagangan
internasional, pariwisata, perdagangan internasional, transportasi, komunikasi, dan
perkembangan nilai-nilai dan etika internasional.
Menurut Holsti dalam bukunya Politik Internasional: Suatu Kerangka
Analisis, Hubungan Internasional dapat mengacu pada semua bentuk interaksi
antar anggota masyarakat yang berlainan, baik yang disponsori pemerintah
maupun tidak. Hubungan Internasional akan meliputi analisa kebijakan luar negeri
atau proses politik antar bangsa, tetapi dengan memperhatikan seluruh segi
hubungan itu.
Hubungan Internasional dapat dilihat dari berkurangnya peran negara
sebagai aktor dalam politik dunia dan meningkatnya peranan aktor-aktor
nonnegara. Batas-batas yang memisahkan bangsa-bangsa semakin kabur dan tidak
relevan. Bagi beberapa aktor non-negara bahkan batas-batas wilayah secara
geografis tidak dihiraukan.
Hubungan Internasional didefenisikan sebagai studi tentang interaksi antar
beberapa aktor yang berpartisipasi dalam politik internasional, yang meliputi
negara-negara, organisasi internasional, organisasi non-pemerintahan, kesatuan

10

sub-nasional seperti birokrasi dan pemerintahan domestik serta individu-individu.


Tujuan dasar studi Hubungan Internasional adalah mempelajari perilaku
internasional yaitu perilaku para aktor negara maupun aktor non-negara, di dalam
arena transaksi internasional. Perilaku ini bisa berwujud kerjasama, pembentukan
aliansi, perang, konflik serta interaksi dalam organisasi internasional.

2.2. Politik Luar Negeri Bebas Aktif


Rumusan yang ada pada alinea I dan alinea IV Pembukaan UUD 1945
merupakan dasar hukum yang sangat kuat bagi politik luar negeri RI. Namun dari
rumusan tersebut, kita belum mendapatkan gambaran mengenai makna politik
luar negeri yang bebas aktif.
Berikut ini kutipan beberapa pendapat mengenai pengertian bebas dan
aktif.
B.A Urbani menguraikan pengertian bebas sebagai berikut : perkataan
bebas dalam politik bebas aktif tersebut mengalir dari kalimat yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai berikut : supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas. Jadi menurut pengertian ini, dapat diberi definisi sebagai
berkebebasan politik untuk menentukan dan menyatakan pendapat sendiri,
terhadap tiap-tiap persoalan internasional sesuai dengan nilainya masing-masing
tanpa apriori memihak kepada suatu blok.
Mochtar Kusumaatmaja merumuskan bebas aktif sebagai berikut : Bebas,
dalam pengertian bahwa Indonesia tidak memihak pada kekuatan-kekuatan yang
pada dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa sebagaimana dicerminkan
dalam Pancasila. Aktif, berarti bahwa di dalam menjalankan kebijaksanaan luar
negerinya,

Indonesia

tidak

bersifat

pasif-reaktif

atas

kejadiankejadian

internasionalnya, melainkan bersifat aktif.


A.W Wijaya merumuskan: Bebas, berarti tidak terikat oleh suatu ideologi
atau oleh suatu politik negara asing atau oleh blok negara-negara tertentu, atau
negara-negara adikuasa (super power). Aktif artinya dengan sumbangan realistis

11

giat mengembangkan kebebasan persahabatan dan kerjasama internasional dengan


menghormati kedaulatan negara lain.
Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan oleh para founding fathers
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pada sejarahnya mengalami gejolak yang
cukup marak dari kalangan internal maupun eksternal. Tantangan yang dihadapi
tidak hanya bersifat serangan terbuka namun juga tekanan politik dari dalam
negeri. Dimana pada saat itu Indonesia belum mendapat pengakuan sebagai
negara yang merdeka dan independen dari kalangan internasional, di samping itu
Indonesia juga harus menghadapi kekuatan Belanda yang ingin kembali
menguasai Indonesia setelah lepas dari penjajahan Jepang.
Secara teoritis dasar pembentukan politik luar negeri berdasarkan yang
diajukan oleh Graham Alison maka proses pembentukan politik luar negeri
Indonesia bebas aktif merupakan hasil dari model Rasional Aktor, yang mana
tokohnya adalah Ir. Muhamad Hatta. Seperti diketahui dalam keterangan sebagai
pemerintah tentang politiknya dimuka sidang badan pekerja KNIP di Yogyakarta,
yang diajukannya pada tanggal 2 september 1948. pidatonya yang kemudian
diberi judul Mendayung Antara Dua Karang.
Dalam keterangan pemerintah tanggal 2 september 1948 itu Bung Hatta
bertanya, mestikah kita bangsa Indonesia, yang memperjuangkan kemerdekaan
bangsa dan negara kita, hanya harus memilih antara pro Rusia dan pro Amerika?
Apakah kita tak ada pendirian yang lain harus kita ambil dalam mengejar cita-cita
kita?.
Kemudian Bung Hatta melanjutkan pemerintah berpendapat bahwa
pendirian yang harus kita ambil ialah supaya kita jangan menjadi obyek dalam
pertarungan internasional, melainkan kita harus tetap menjadi subyek yang
menentukan sikap kita sendiri, berhak memperjuangkan tujuan kita sendiri, yaitu
Indonesia merdeka seluruhnya.

12

Kutipan penjelasan Bung Hatta jauh kemudian pada bulan januari 1976
mengenai politik, bebas aktif tersebut, sebagai berikut: Dalam bulan september
1948 sebagai wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri
Pertahanan,saya memberi keterangan kepada Badan Pekerja KNIP tentang
kedudukan dan politik Negara Republik Indonesia dewasa itu. RI menghadapi
berbagai kesulitan yang tidak sedikit. Sejak keterangan saya itu politik luar negeri
Republik Indonesia di sebut politik bebas aktif. Bebas, artinya menentukan jalan
sendiri, tidak terpengaruh oleh pihak manapun juga;Aktif, artinya menuju
perdamaian dunia dan bersahabat dengan seluruh bangsa.
Tampak jelas bahwa ide dasar politik luar negeri bebas aktif yang
dikemukakan oleh Hatta sama sekali bukan retorika kosong mengenai
kemandirian dan kemerdekaan, akan tetapi dilandasi pemikiran rasional dan
bahkan kesadaran penuh akan prinsip-prinsip realisme dalam menghadapi
dinamika politik internasional dalam konteks dan ruang waktu yang spesifik.
Bahkan dalam pidato tahun 1948 tersebut, Hatta dengan tegas menyatakan,
percaya akan diri sendiri dan berjuang atas kesanggupan kita sendiri tidak berarti
bahwa kita tidak akan mengambil keuntungan daripada pergolakan politik
internasional.
Dari sekian penjabaran diatas dapat kita elaborasikan pengertian politik luar
Indonesia sebagai berikut.Politik Luar Negeri yang bebas aktif mengandung dua
unsur pokok. Pertama, "bebas" biasanya diartikan tidak terlibat dalam aliansi
militer atau pakta pertahanan dengan kekuatan-kekuatan luar yang merupakan
ciri Perang Dingin. Dalam arti lebih luas Politik Luar Negeri yang bebas
menunjukkan tingkat nasionalisme yang tinggi, yang menolak keterlibatan
atau ketergantungan terhadap pihak luar yang dapat mengurangi kedaulatan
Indonesia. Kedua, kata "aktif" menunjukkan bahwa Politik Luar Negeri Indonesia
tidaklah pasif dan hanya mengambil sikap netral dalam menghadapi
permasalahan-permasalahan international. Muqadimah UUD 45 secara jelas
menuntut Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan dan ikut
memajukan perdamaian dunia.

13

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Semakin berkembangnya aktor non-negara, perubahan agenda dalam
politik internasional, dan perkembangan ICT memicu berkembangnya diplomasi
publik. Diplomasi publik muncul dengan mengutamakan pendekatan-pendekatan
soft power dalam implementasinya. Diplomasi publik semakin mengemuka
karena memiliki beberapa kelebihan, salah satunya berbiaya rendah. Diplomasi
publik muncul sebagai alternatif instrumen politik luar negeri yang dapat
dilakukan dan dikembangkan oleh negara-negara yang memiliki kapasitas power
terbatas seperti halnya Indonesia.
Agar dapat berfungsi optimal dalam artian dapat mencapai tujuan-tujuan
poltik luar negeri, pelaksanaan diplomasi publik harus memperhatikan strategi
komunikasi. Tahapan menginformasikan, melibatkan, dan mempengaruhi
dibangun pada level domestik dan internasional.

14

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ideelok.com/politik/politik-luar-negeri-bebas-aktif-republikindonesia

http://putradamhuji.blogspot.com/2010/08/diplomasi-dan-politik-luarnegri.html

http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&i
d=101:diplomasi-publik-dalam-politik-luarnegeri&catid=34:mkp&Itemid=61

http://younkhendra.wordpress.com/2009/11/13/politik-luar-negeri-dandiplomasi-indonesia/

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/01/politik_luar_negeri_indonesia.pdf

http://www.kemlu.go.id/Pages/Orgz.aspx?IDP=6&IDP2=44&l=id

15