Anda di halaman 1dari 30

REFORMING

1. Pengertian Reforming
Reforming adalah perubahan dari bentuk molekul bensin yang bermutu
kurang baik (rantai karbon lurus) menjadi bensin yang bermutu lebih baik (rantai
karbon bercabang). Kedua jenis bensin ini memiliki rumus molekul yang sama
bentuk strukturnya yang berbeda. Oleh karena itu, proses ini juga disebut
isomerisasi. Reforming dilakukan dengan menggunakan katalis dan pemanasan.
Reforming adalah suatu proses untuk merubah struktur senyawa
hidrokarbon dalam fraksi minyak menjadi komponen blending gasoline yang
mempunyai oktan tinggi. Perubahan susunan struktur molekul yang terjadi paling
dominan dalam reaksi tersebut adalah dehidrogenasi naftena membentuk aromatik
menurut reaksi berikut :
CH

HC

CH

H3C (CH2)4 CH3

+
HC

4 H2

CH

CH
Reforming bertujuan mengubah struktur molekul rantai lurus menjadi
rantai bercabang/alisiklik/aromatik. Sebagai contoh, komponen rantai lurus (C5C6) dari fraksi bensin diubah menjadi aromatik.

Macam macam proses reforming:


1. Reforming Termis, terdiri dari :
Proses Polyforming

2. Reforming Katalis, terdiri dari:


a. Katalis Unggun Diam, terdiri dari:
- Reactor Tanpa Swing, terdiri dari:
Proses Catforming
Proses Houdriforming
Proses Platforming
Proses Sinclair Baker
Proses Platinum
- Reaktor dengan Swing, terdiri dari:
Proses Hydroforming
Proses Powerforming
Proses Ultraforming
b. Katalis Unggun Bergerak
Proses Hyperforming
Proses Thermofor (TCR)
c. Kalatis Unggun Terfluidisasi, terdiri dari:
Proses Fluid Hydroforming
d. Reforming dengan Daur Ulang, terdiri dari:
Proses Iso Plus Houdriforming
Proses Reforming

2. Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku dan Produk


2.1 Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku
1. Naftena

Gambar 1. Siklo-Heksana atau naftena - C6H12


Naftena adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur
cincin dengan rumus molekul CnH2n. Senyawa-senyawa kelompok naftena
yang banyak ditemukan adalah senyawa yang struktur cincinnya tersusun dari
5

atau

atom

karbon.

Contohnya

adalah

siklopentana

(C5H10),

metilsiklopentana (C6H12) dan sikloheksana (C6H12). Umumnya, di dalam


minyak bumi mentah, naftena merupakan kelompok senyawa hidrokarbon
yang memiliki kadar terbanyak kedua setelah n-parafin.
Naftena memiliki sifat antara lain memiliki warna merah kecoklatan,
kestabilan yang cukup tinggi, tidak cocok dengan agen dengan oksidasi tinggi ,
sangat berbahaya apabila dihirup atau dihisap karena mengandung karsinogen.
Titik didihnya 70 - 180C. Kontak dengan kulit dapat menyebabkan
kekeringan dermatitis.
Naftena adalah material yang memiliki titik didih antara gasolin dan
kerosin. Beberapa naphta digunakan sebagai :
- Pelarut dry cleaning (pencuci)
- Pelarut karet
- Bahan awal etilen
- Dalam kemileteran digunakan sebagai bahan bakar jet dikenanl sebagai jP-4

2. Katalis
Katalis yang dapat digunakan pada proses reforming ini yaitu:
a. Platina
Keterangan Umum Unsur
Nama, Lambang, Nomor

platina, Pt, 78

atom
Deret kimia

transition metals

Golongan, Periode, Blok

10, 6, d

Penampilan

grayish white

Massa atom

195.084(9) g/mol

Konfigurasi elektron

[Xe] 4f14 5d9 6s1

Jumlah elektron tiap kulit

2, 8, 18, 32, 17, 1

Ciri-ciri fisik
Fase

solid

Massa jenis (sekitar suhu

21.45 g/cm

kamar)
Massa jenis cair pada titik
lebur

19.77 g/cm

Titik lebur

2041.4 K
(1768.3 C, 3214.9
F)

Titik didih

4098 K
(3825 C, 6917 F)

Kalor peleburan

22.17 kJ/mol

Kalor penguapan

469 kJ/mol

Kapasitas kalor

(25 C) 25.86
J/(molK)

Gambar 2. Katalis Platina

Platinum adalah logam dengan putih keperak-perakan yang indah. Mudah


ditempa delam keadaan murni. Platinum memiliki koefisien muai yang hampir
sama dengan kaca silika-natroium karbonat, dan karenanya digunakan untuk
membuat elektroda bersegel dalam sistem kaca. Logam ini tidak teroksidasi di
udara pada suhu berapapun, tapi termakan oleh halogen, sianida, sulfur dan basa
kaustik.

Platinum tidak dapat larut dalam asam klorida dan asam nitrat, tapi melarut
dengan aqua regia membentuk asam kloroplatinumt.
Dalam kondisi yang sangat halus, platinum merupakan katalis yang
sempurna, yang banyak digunakan untuk menghasilkan asam sulfat. Juga
digunakan sebagai katalis dalam pemecahan produk minyak bumi. Platinum juga
banyak diminati untuk dimanfaatkan sebagai katalis dalam sel bahan bakar dan
peralatan anti polusi untuk mobil.
Anoda platinum digunakan secara ekstensif dalam sistem perlindungan
katoda untuk kapal besar dan bejana yang melewati lautan, pipa, baja dermaga
dan lain-lain. Kawat platinum yang sangat halus akan berkilau merah terang bila
ditempatkan dalam uap metil alkohol, di mana platinum berperan sebagai katalis,
untuk mengubah alkohol menjadi formaldehida. Fenomena ini digunakan secara
komersial untuk memproduksi pemantik api rokok dan pennghangat tangan.
Hidrogen dan oksigen dapat meledak dengan adanya platinum

b. Molybdenum

Gambar 3. Katalis Molybdenum


Sifat Fisik Molybdenum
Molybdenum merupakan unsur yang solid, memiliki penampilan metalik
putih keperakan. Lebih sering terlihat seperti abu-abu gelap atau hitam bubuk.
Titik lelehnya sekitar 2.610 C (sekitar 4.700 F) dan titik didih adalah 4.800
untuk 5.560 C (8.600 hingga 10.000 F). Densitasnya adalah 10,28 gram per
kubik sentimeter.

Sifat Kimia Molybdenum


Molybdenum tidak larut dalam reagen kimia yang paling umum. Reagen
kimia adalah suatu zat yang digunakan untuk mempelajari bahan-bahan lain,
seperti asam atau alkali. Sebagai contoh, molybdenum tidak larut dalam asam
klorida, asam fluorida, amonia, sodium hidroksida, atau asam sulfat encer. Reagen
Zat kimia ini sering digunakan untuk menguji bagaimana suatu zat reaktif.
Molybdenum tidak larut dalam panas sulfat atau asam nitrat, Logam ini tidak
bereaksi dengan oksigen pada suhu kamar,dan juga tidak bereaksi dengan oksigen
pada temperatur tinggi.

2.2 Sifat Fisik dan Kimia Produk


1. Gasolin
Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C5 - C10
Trayek didih : 40 - 180C
Mulanya bensin adalah produk utama dalam industri minyak bumi yang
merupakan campuran kompleks dari ratusan hidrokarbon dan memiliki rentang
o

pendidihan antara 30-200 C. Bensin adalah bahan bakar mesin siklus Otto yang
banyak digunakan sebagai bahan bakar alat transportasi darat (mobil). Kinerja
yang dikehendaki dari bensin adalah anti knocking. Knocking adalah peledakan
campuran (uap bensin dengan udara) di dalam silinder mesin dengan siklus Otto
sebelum busi menyala. Peristiwa knocking ini sangat mengurangi daya mesin.
Hidrokarbon rantai lurus cenderung membangkitkan knocking. Sementara,
hidrokarbon bercabang, siklik maupun aromatik cenderung bersifat anti knocking.
Tolok ukur kualitas anti knocking sering disebut sebagai bilangan oktan (octane
number).
Untuk meningkatkan nilai tambah fraksi nafta yang kadar oktannya masih
rendah, sekitar 40-59 akan diproses lagi di Unit Reforming yang hasilnya berupa
bensin dan residu. Untuk bensin nilai oktannya menjadi 85-90. Bensin ini bisa
diblending lagi dengan TEL (tetra ethyl lead) sehinggga nilai oktannya mencapai
95, contoh bensin beroktan 95 adalah pertamax.

3 Macam macam Proses Reforming


3.1 Reforming Termis
Proses secara termis yang sinambung digunakan untuk mengubah molekul
melalui penyusunan kembali nafta dan gasoline berkualitas anti ketuk yang
rendah menjadi komponen gasoline yang menpunyai angka oktan tinggi.
Produk sekunder dari proses ini meliputi gas gas olefin untuk umpan
polimerisasi dan tar yang digunakan untuk minyak bakar berat.
Peralatan reforming termis mirip dengan peralatan perengkahan termis,
dengan sedikit modifikasi para ahli kilang menggunakan peralatan yang sama
untuk kedua proses tersebut. Sama dengan umpan reforming katalis, tipe
umpan reforming adalah nafta ringan (virgin nafta) yang mempunyai IBP 200 250F dan FBP 300 - 400F. Gasolin alam dan fraksi perengkahan dapat
digunakan sebagai umpan. Suhu keluar pemanas adalah 950 - 1100F pada
tekanan 400 1000 psig. Nafta dari aliran samping fraksionator ditambahkan
ke effluent heater untuk menahan reaksi dekomposisi yang sangat ekstensif

Gambar 4. Diagram Alir Proses Reforming Termis

3.1.1 Proses Polyforming


Proses ini merupakan proses termis yang sinambung merubah nafta ringan
(straight run) dan ataupun gas oil bersama sama dengan gas gas
hidrokarbon sangat ringan (dominan C3 dan C4) menjadi mogas yang
mempunyai oktan tinggi dan fuel oil.

Gambar 5. Diagram Alir Proses Polyforming

Operasi dari proses ini meliputi pemasukan umpan nafta (virgin) ke dalam
absorber untuk mengambil propana (recovery C3 80 90%) dan gas gas
berat. Tekanan pada aliran campuran umpan adalah 1000 1500 psig. Aliran
quench di bagian bawah evaporator adalah 1020 1120 F turun menjadi 650
700 F. Tekanan evaporator sekitar 400 psig. Bagian lain dari bawah
evaporator di-flash untuk mendapatkan fuel oil dan gas, sedangkan overhead
evaporator dikirim ke stabilizer dimana gas gas yang dapat dikondensasikan
dipisahkan dari produk gasoline untuk dipakai kembali di absorber bersama
dengan umpan gas cair.

3.2 Reforming Katalis


Reforming katalis merupakan suatu proses untuk meningkatkan kualitas
berbagai macam nafta (virgin, thermal, dan catalytic cracking) yang
mempunyai oktan rendah menjadi komponen komponen yang mempunyai
oktan tinggi untuk blending mogas atau avgas, atau digunakan untuk bahan
baku petrokimia yaitu pengolahan aromatik untuk memproduksi BTX
(benzene-toluene-xylene). Pada proses reforming ini volatility minyak
dinaikkan dan kandungan sulfurnya dikurangi. Perbaikan bilangan oktan virgin
naphta adalah dari 20 menjadi 50 RON tanpa menggunakan pengungkit
timball. Proses reforming katalis yang komersil dapat diklasifikasikan sebagai
proses sinambung, semi regenerative dan siklus tergantung pada metoda dan
frekuensi regenerasi katalis, yang secara luas dikelompokkan menjadi:
1.

Proses katalis unggun bergerak

2.

Proses katalis unggun diam

3.

Proses katalis unggun terfluidisasikan


Proses unggun bergerak dan terfluidisasi menggunakan katalis tipe

logam oksida yang tidak murni (katalis platina dan molybdenum), dilengkapi
dengan unit regenerasi terpisah, sedangkan proses unggun diam menggunakan
katalis tipe platina dalam unit yang dilengkapi untuk sirkulasi, tanpa regenerasi
atau kadang kadang dengan regenerasi. Pada kenyataannya hampir 95%
kilang minyak menggunakan unggun diam.

3.2.1 Proses Reforming Unggun Bergerak


Proses unggun bergerak ini menggunakan reactor tunggal yang berisi
katalis yang dapat diregenerasi secara sinambung. Katalis yang dipakai adalah
campuran oksida logam berbentuk butir atau pellet yang dapat diolah
tergantung pada jenis katalis yang digunakan, yaitu mempunyai jarak didih
(IBP) sekitar 150 175 F dan FBP 400 500 F. Proses pendahuluan
terhadap umpan biasanya tidak menjadi factor yang dipertimbangkan kecuali
kalau mengandung air yang akan menurunkan aktifitas katalis.

Gambar 6. Diagram Alir Proses Reforming Unggun Bergerak

3.2.2 Proses Reforming Unggun Terfluidisasi


Proses reforming katalis menggunakan unggun terfluidisasi dari katalis
padat, merupakan suatu proses regenerasi yang sinambung dengan reactor
terpisah ataupun terintegrasi untuk menjaga aktifitas katalis dengan cara
memisahkan kokas dan sulfur. Sebagai umpan adalah nafta ringan hasil
perengkahan atau nafta ringan dicampur dengan gas daur ulang yang kaya
hydrogen. Katalis yang digunakan adalah molibdat 10% dalam alumina yang
secara material tidak dipengaruhi oleh arsen, besi, nitrogen atau sulfur dalam
jumlah normal. Kondisi operasi dalam reaktor sekitar 200 300 psig dan suhu
900 - 950F pada space velocity 0,3 0,8/jam. Kecepatan gas daur ulang
adalah 4000 6000 scf/barel umpan dengan nisbah berat antara katalis dan
minyak adalah 0,5 1,5. Kondisi regenerasi yang digunakan adalah 210 310
psig dan suhu 1000 - 1100F. Pengolahan pendahuluan terhadap umpan
biasanya tidak dilakukan kecuali untuk menyesuaikan jarak didih dalam
memproduksi aromatic. Keunggulan proses reforming ini, dapat menghasilkan
yield reformat sekitar 70 80% (v) dengan RON 93 - 98

Gambar 7. Diagram Alir Proses Unggun Terfluidisasi

Catalytic reforming (atau UOP menyebut Platforming) telah menjadi


bagian penting bagi suatu kilang di seluruh dunia selama bertahun-tahun. Fungsi
utama proses catalytic reforming adalah meng-upgrade naphtha yang memiliki
octane number rendah menjadi komponen blending mogas (motor gasoline)
dengan bantuan katalis melalui serangkaian reaksi kimia. Naphtha yang dijadikan
umpan catalytic reforming harus di-treating terlebih dahulu di unit naphtha
hydrotreater untuk menghilangkan impurities seperti sulfur, nitrogen, oksigen,
halide, dan metal yang merupakan racun berbahaya bagi katalis catalytic reformer
yang tersusun dari platina. Selain itu, catalytic reforming juga memproduksi byproduct berupa hydrogen yang sangat bermanfaat bagi unit hydrotreater maupun

hydrogen plant atau jika masih berlebih dapat juga digunakan sebagai fuel gas
bahan bakar fired heater. Butane, by-product lainnya, sering digunakan untuk
mengatur vapor pressure gasoline pool.
I.Teori Catalytic Reforming
Feed naphtha ke unit catalytic reforming biasanya mengandung C6 s/d
C11, paraffin, naphthene, dan aromatic. Tujuan proses catalytic reforming adalah
memproduksi aromatic dari naphthene dan paraffin.
Kemudihan reaksi catalytic reforming sangat ditentukan oleh kandungan
paraffin, naphthene, dan aromatic yang terkadung dalam naphtha umpan.
Aromatic hydrocarbon yang terkandung dalam naphtha tidak berubah oleh proses
catalytic reforming.
Sebagian besar napthene bereaksi sangat cepat dan efisien berubah
menjadi senyawa aromatic (reaksi ini merupakan reaksi dasar catalytic
reforming). Paraffin merupakan senyawa paling susah untuk diubah menjadi
aromatic. Untuk aplikasi low severity, hanya sebagian kecil paraffin berubah
menjadi aromatic. Sedangkan pada aplikasi high severity, konversi paraffin lebih
tinggi, tetapi tetap saja berlangsung lambat dan inefisien. Gambar berikut
menggambarkan konversi hydrocarbon yang terjadi pada operasi typical catalytic
reforming, yaitu untuk lean naphtha (high paraffin, low naphtha content) dan
untuk rich naphtha (lower paraffin, higher naphthene content) :

I.1. Reaksi-reaksi yang Terjadi di Catalytic Reforming


Reaksi-reaksi yang terjadi di catalytic reforming adalah sebagai berikut :
I.1.1.Dehidrogenasi Naphthene
Naphthene merupakan komponen umpan yang sangat diinginkan karena
reaksi dehidrogenasi-nya sangat mudah untuk memproduksi aromatic dan byproduct hydrogen.
Reaksi ini sangat endotermis (memerlukan panas). Reaksi dehidrogenasi
naphthene sangat terbantu oleh metal catalyst function dan temperatur reaksi
tinggi serta tekanan rendah.

I.1.2.Isomerisasi Napthene dan Paraffin


Isomerisasi cyclopentane menjadi cyclohexane harus terjadi terlebih
dahulu sebelum kemudian diubah menjadi aromatic. Reaksi ini sangat tergantung
dari kondisi operasi.

I.1.3.Dehydrocyclization Paraffin
Dehydrocyclization paraffin merupakan reaksi catalytic reforming yang
paling susah. Reaksi dehydrocyclization terjadi pada tekanan rendah dan
temperature tinggi.Fungsi metal dan acid dalam katalis diperlukan untuk
mendapatkan reaksi ini.

I.1.4.Hydrocracking
Kemungkinan terjadinya reaksi hydrocracking karena reaksi isomerisasi
ring dan pembentukan ring yang terjadi pada alkylcyclopentane dan paraffin dank
area kandungan acid dalam katalis yang diperlukan untuk reaksi catalytic
reforming.
Hydrocracking paraffin relative cepat dan terjadi pada tekanan dan
temperature tinggi. Penghilangan paraffin melalui reaksi hydrocracking akan
meningkatkan konsentrasi aromatic dalam produk sehingga akan meningkatkan
octane number. Reaksi hydrocracking ini tentu mengkonsumsi hydrogen dan
menghasilkan yield reformate yang lebih rendah.

I.1.5.Demetalization
Reaksi demetalisasi biasanya hanya dapat terjadi pada severity operasi
catalytic reforming yang tinggi. Reaksi ini dapat terjadi selama startup unit
catalytic reformate semi-regenerasi pasca regenerasi atau penggantian katalis.

I.1.6.Dealkylation Aromatic
Dealkylation aromatic serupa dengan aromatic demethylation dengan
perbedaan pada ukuran fragment yang dihilangkan dari ring. Jika alkyl side chain
cukup besar, reaksi ini dapat dianggap sebagai reaksi cracking ion carbonium
terhadap rantai samping. Reaksi ini memerlukan temperature dan tekanan tinggi.
Reaksi-reaksi yang terjadi pada unit catalytic reforming dapat diringkas sebagai
berikut :
Tabel I. Reaksi yang Terjadi pada Unit Catalytic Reforming
Jenis Reaksi

Catalyst Function Temperature Pressure

Naphthene dehydrogenation

Metal

Tinggi

Rendah

Naphthene Isomearization

Acid

Rendah

Parraffin Isomearization

Acid

Rendah

Metal/Acid

Tinggi

Rendah

Hydrocracking

Acid

Tinggi

Tinggi

Demethylation

Metal

Tinggi

Tinggi

Metal/Acid

Tinggi

Tinggi

Paraffin dehydrocyclization

Aromatic dealkylation

I.2. Catalytic Reforming Catalyst Dual Function Balance


Seperti terlihat pada tabel 1 (Reaksi yang terjadi pada Unit Catalytic
Reforming), sebagian reaksi menggunakan fungsi metal dari katalis dan sebagian
reaksi lainnya menggunakan fungsi acid dari katalis. Pada unit catalytic cracking
sangat penting untuk memiliki balance yang sesuai antara fungsi metal dan fungsi
acid dari katalis, seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 7. Desired Metal-Acid Balance


Pada proses catalytic reforming, sangat penting untuk meminimumkan
reaksi hydrocracking dan memaksimumkan reaksi dehydrogenation dan
dehydrocyclization.
Balance ini dijaga dengan pengendalian H2O/Cl yang tepat selama siklus
katalis semi-regeneration dan dengan menggunakan teknik regenerasi yang tepat.
Fase uap H2O dan HCl berada dalam kesetimbangan dengan permukaan chloride
dan kelompok hydroxyl.
Terlalu banyak H2O dalam fase uap akan memaksa chloride dari
permukaan katalis keluar dan menyebabkan katalis menjadi underchloride (fungsi
acid dalam katalis tidak dapat dijalankan dengan baik), sedangkan terlalu banyak
chloride dalam fase uap akan menjadikan katalis overchloride yang juga tidak
baik untuk katalis (fungsi metal dalam katalis tidak dapat dijalankan dengan baik).

I.3. Catalyst Unloading


I.3.1.Catalyst Unloading untuk Fixed Bed Catalytic Reformer
Prosedur catalyst unloading untuk fixed bed catalyst reformer serupa
dengan prosedur catalyst unloading untuk hydrotreater.
I.3.1.Catalyst Unloading untuk Catalytic Reformer-Continuous Catalytic
Regeneration
Prosedur

unloading

untuk

catalytic

reformer-CCR

lebih

susah

dibandingkan prosedur unloading untuk fixed bed catalytic reformer.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan catalyst unloading
untuk catalytic reformer-CCR adalah sebagai berikut :

Jangan pernah membiarkan udara masuk ke dalam reactor karena akan


menyebabkan spontaneous combution.

Jangan pernah membuka top dan bottom reaktor secara bersamaan karena
akan menciptakan natural chimney draft effect yang akan menarik udara
masuk ke dalam reactor.

Jangan menggunakan kayu, kanvas, atau material mudah terbakar lainnya.

Yakinkan beberapa CO2 extinguisher tersedia di sekitar lokasi unloading


dan siapkan selang water hydrant menjulur ke lokasi unloading.

Selama unloading, reaktor harus dijaga dalam kondisi inert dengan


menggunakan nitrogen blanketting sehingga katalis tidak berkontak
dengan udara.

Semua orang yang masuk ke dalam reaktor harus dilengkapi peralatan


keselamatan yang sesuai untuk confined space dan kondisi inert (breathing
apparatus).

Gunakan drum metal sebagai penampung spent catalyst dan setiap drum
harus di-purge dengan nitrogen selama proses unloading untuk mencegah
kontak katalis dengan udara.

Semua orang yang berada di sekitar area unloading harus menggunakan


pelindung muka dan mata dan menggunakan baju lengan panjang (jika
mungkin yang flame-resistant) karena sewaktu-waktu spark/api dapat saja
terjadi dengan kehadiran pyrites.

Jika timbul pyrite dalam reaktor selama proses unloading, maka naikkan
supply nitrogen semaksimal mungkin, jangan pernah menggunakan air
untuk memadamkannya, karena dapat merusak struktur katalis dan internal
reaktor.

Setelah drum berisi spent catalyst hasil unloading mengalami pendinginan


alami dan pendinginan dengan supply nitrogen ke dalam drum, maka drum
dapat ditutup dengan penutup yang sesuai untuk menghindari masuknya
moisture ke dalam drum.

I.4. Catalyst Loading


I.4.1.Catalyst Loading untuk Fixed Bed Catalytic Reformer
Prosedur catalyst loading untuk fixed bed catalyst reformer serupa dengan
prosedur catalyst loading untuk hydrotreater (silahkan merujuk ke bab
hydrotreating process).
I.4.1.Catalyst Loading untuk Catalytic Reformer-Continuous Catalytic
Regeneration
Terdapat 3 metode catalyst loading untuk catalytic reformer-CCR, yaitu:
Reactor by reactor loading procedure
Entire Reactor Stack Loading Procedure
Pneumatic Catalyst Loading Procedure
Karena prosedur ketiga metode catalyst loading di atas sangat rumit dan
sangat technical, maka ketiga metode catalyst loading tersebut tidak akan
diuraikan disini.

I.5. Catalyst Poison


Beberapa racun katalis catalytic reforming adalah sebagai berikut :
Sulfur
Konsentrasi sulfur maksimum yang diijinkan dalam umpan naphtha adalah 0,5
wt-ppm. Biasanya diusahakan kandungan sulfur dalam umpan naphtha sebesar
0,1-0,2 wt-ppm untuk menjamin stabilitas dan selektivitas katalis yang
maksimum.
Beberapa sumber yang membuat kandungan sulfur dalam umpan naphta tinggi
adalah : proses hydrotreating yang tidak baik (temperature reactor kurang tinggi
atau katalis sudah harus diganti), recombination sulfur dari naphtha hydrotreater
(dan terbentuknya sedikit olefin) akibat temperature hydrotreater yang tinggi dan
tekanan hydrotreater yang rendah, hydrotreater stripper upset, memproses feed
yang memiliki end point tinggi.
Nitrogen
Konsentrasi nitrogen maksimum yang diijinkan dalam umpan naphtha adalah 0,5
wt-ppm. Kandungan nitrogen dalam umpan naphtha akan menyebabkan
terbentuknya deposit ammonium chloride pada permukaan katalis.
Beberapa sumber yang membuat kandungan nitrogen dalam umpan naphtha tinggi
adalah : proses hydrotreating yang tidak baik (temperature reactor kurang tinggi
atau katalis sudah harus diganti), penggunaan filming atau neutralizing amine
sebagai corrosion inhibitor di seluruh area yang tidak tepat guna.
Water
Kandungan air dalam recycle gas sebesar 30 mol-ppm sudah menunjukkan
excessive water, dissolved oxygen, atau combined oxygen di unit catalytic
reforming. Tingkat moisture di atas level ini dapat menyebabkan reaksi
hydrocracking yang excessive dan juga dapat menyebabkan coke laydown. Lebih
lanjut lagi, kondisi ini akan menyebabkan chloride ter-strip dari katalis, sehingga
mengganggu kesetimbangan H2O/Cl dan menyebabkan reaksi menjadi terganggu.

Beberapa sumber yang membuat kandungan air dalam system tinggi adalah :
proses hydrotreating yang tidak sesuai, kebocoran heat exchanger yang
menggunakan pemanas/pendingin steam/water di upstream unit, system injeksi
water catalytic reforming, kebocoran naphtha hydrotreater stripper feed effluent
heat exchanger, proses drying yang tidak cukup di drying zone di dalam
regeneration tower, dan kebocoran steam jacket di regeneration section.
Metal
Karena efek reaksi irreversible, maka kontaminasi metal ke dalam katalis catalytic
reforming sama sekali tidak dibolehkan, sehingga umpan catalytic reformer tidak
boleh mengandung metal sedikit pun.
Beberapa sumber kandungan metal dalam umpan naphtha adalah : arsenic (ppb)
dalam virgin naphtha, lead mungkin timbul akibiat memproses ulang off-spec
leaded gasoline atau kontaminasi umpan dari tangki yang sebelumnya digunakan
untuk leaded gasoline, produk korosi, senyawa water treating yang mengandung
zinc, copper, phosphorous, kandungan silicon dalam cracked naphtha yang berasal
dari silicon based antifoam agent yang diijeksikan ke dalam coke chamber untuk
mencegah foaming, dan injeksi corrosion inhibitor yang berlebihan ke stripper
naphtha hydrotreater.
High feed end point
Catalytic reforming didisain untuk memproduksi aromatic hydrocarbon. Produksi
aromatic ini tidak dapat terjadi tanpa kondensasi single ring aromatic menjadi
mulgi-ring polycyclic aromatic, yang merupakan petunjuk adanya coke. Endpoint
naphtha maksimum yang diijinkan sebagai umpan catalytic reforming adalah 204
oC. Pada endpoint > 204 oC, konsentrasi polycyclic aromatic dalam umpan
naphtha akan meningkat tajam.
Jika umpan catalytic reforming merupakan hasil blending dari berbagai sumber
(straight run naphtha, hydrocracker naphtha, cracked naphtha), maka tiap arus
umpan harus dianalisa secara terpisah dan tiap stream tidak boleh memiliki

endpoint > 204 oC. Hasil blending antara high end point stream dengan low end
point stream akan mengaburkan kandungan fraksi endpoint yang tinggi.
II.Feed dan Produk Catalytic Reforming Unit
Feed unit catalytic reforming adalah heavy naphtha yang berasal dari unit
naphtha hydrotreating yang telah mengalami treating untuk menghilangkan
impurities seperti sulfur, nitrogen, oxygen, halida, dan metal yang merupakan
racun bagi katalis catalytic reforming. Boiling range umpan heavy naphtha antara
70 s/d 150 oC.
Produk unit catalytic reforming berupa high octane motor gasoline
component (HOMC) yang digunakan sebagai komponen blending motor gasoline.
Produk unit catalytic reforming ini mempunyai RONC > 95 dan bahkan dapat
mencapai RONC 100. Produk lain adalah LPG dan byproduct hydrogen. Produk
LPG dikirim ke tangki produk (jika sudah memenuhi spesifikasi produk LPG)
atau dikirim ke unit Amine-LPG recovery terlebih dahulu. By product hydrogen
dikirim ke unit hydrotreater dan hydrogen plant.

III.Aliran Proses Catalytic Reforming


III.1. Aliran Proses Semi-Regenerative Catalytic Reforming (Fixed Bed
Catalytic Reforming)
Process Flow Diagram Fixed Bed Catalytic Reforming dapat dilihat pada gambar
berikut :

Gambar 8. Process Flow Diagram Fixed Bed Catalytic Reforming

III.2.

Aliran

Proses

Catalytic

Reforming-Continuous

Catalytic

Regeneration/CCR
Process Flow Diagram Catalytic Reforming-Continuous Catalytic Regeneration
dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 9. Process Flow Diagram Catalytic Reforming-CCR (Seksi Reaktor)

IV.Variabel Proses Catalytic Reforming Unit


Beberapa variabel proses yang berpengaruh pada operasi Catalytic
Reforming adalah sebagai berikut :
IV.1. Catalyst Type
Tipe katalis berpengaruh terhadap operasi catalytic reforming terutama
dalam hal basic catalyst formulation (metal-acid loading), chloride level, platinum
level, dan activator level.
IV.2. Temperatur Reaksi
Catalytic reformer reactor catalyst bed temperature merupakan parameter
utama yang digunakan untuk mengendalikan operasi agar produk dapat sesuai
dengan spesifikasi.
Katalis catalytic reformer dapat beroperasi hingga temperatur yang cukup
tinggi, namun pada temperatur di atas 560 oC dapat menyebabkan reaksi thermal
yang akan mengurangi reformate dan hydrogen yield serta meningkatkan
kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis.
Temperatur reactor dapat didefinisikan menjadi 2 macam, yaitu :
Weighted Average Inlet Temperature (WAIT), yaitu total (fraksi berat katalis
dalam bed dikali temperature inlet bed).
Weighted Average Bed Temperature (WABT), yaitu total (fraksi berat katalis
dalam bed dikali rata-rata temperatur inlet dan outlet).
Dari kedua macam definisi tersebut di atas, WAIT paling sering digunakan
dalam perhitungan karena kemudahan perhitungan, walaupun WABT sebenarnya
adalah ukuran yang lebih baik dari kondisi reaksi dan temperatur katalis rata-rata.

IV.3. Space Velocity


Space velocity merupakan ukuran jumlah naphtha yang diproses untuk
jumlah katalis yang tertentu selama waktu tertentu. Jika volume umpan naphtha
per jam dan volume katalis yang digunakan, istilah yang digunakan adalah Liquid
Hourly Space Velocity (LHSV). Sedangkan jika berat umpan naphtha per jam dan
berat katalis yang digunakan, maka istilah yang digunakan adalah Weight Hourly
Space Velocity (WHSV).
Satuannya sama, yaitu 1/jam Semakin tinggi space velocity atau semakin
rendah residence time, maka semakin rendah octane number (RONC) produk atau
semakin rendah jumlah reaksi yang terjadi pada WAIT yang tetap. Jika space
velocity naik, untuk mempertahankan RONC produk, maka kompensasi yang
dilakukan adalah dengan menaikkan temperatur reaktor.
IV.4. Reactor Pressure
Sebenarnya lebih tepat mengatakan hydrogen partial pressure sebagai
variabel proses dibandingkan reactor pressure, namun untuk kemudahan
penggunaan, maka reactor pressure dapat digunakan sebagai variabel proses
(hydrogen partial pressure = purity hydrogen x tekanan reactor). Penyederhanaan
ini dapat diterima karena hydrogen yang ada dalam sistem merupakan produk
samping reaksi sehingga juga tergantung tekanan reaktor, berbeda dengan di unit
hydrocracker yang menggunakan supply hydrogen dari hydrogen plant.
Tekanan reaktor akan mempengaruhi struktur yield produk, kebutuhan
temperatur reaktor, dan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis.
Menurunkan tekanan reaktor akan meningkatkan jumlah hydrogen dan yield
reformate, mengurangi kebutuhan temperatur untuk membuat produk dengan
octane number yang sama, dan meningkatkan kecepatan pembentukan coke pada
permukaan katalis.

IV.5. Hydrogen/Hydrocarbon Ratio


Hydrogen/hydrocarbon ratio didefinisikan sebagai mol recycle hydrogen
per mol naphtha umpan. Kenaikan H2/HC ratio akan menyebabkan naphtha
melalui reaktor dengan lebih cepat (residence time lebih singkat), sehingga akan
menurunkan kecepatan pembentukan coke pada permukaan katalis dengan
pengaruh yang kecil terhadap kualitas dan yield produk.
V. Troubleshooting
Beberapa contoh permasalahan, penyebab, dan troubleshooting yang
terjadi di Catalytic Reforming Unit dapat dilihat dalam table II berikut ini :

Tabel II. Contoh Permasalahan, Penyebab, dan Troubleshooting Catalytic


Reforming Unit

4 Kegunaan Produk
Produk yang dihasilkan dari proses reforming ini yaitu berupa komponen
hidrokarbon yang mempunyai oktan tinggi untuk blending mogas atau avgas
seperti gasolin, atau digunakan untuk bahan baku petrokimia yaitu pengolahan
aromatik untuk memproduksi BTX (benzene-toluene-xylene).
Gasolin atau bensin digunakan sebagai bahan bakar motor, bahan bakar
penerbangan bermesin piston, umpan proses petrokomia.

TEKNOLOGI MINYAK BUMI


PROSES REFORMING

DISUSUN OLEH :
DIAN YUNITA SARI
DWI DAMAYANTI
DWI SETIA
KELAS : 5 KIB
DOSEN PEMBIMBING : IR. FADARINA, M.T

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG