Anda di halaman 1dari 5

PENGAWASAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN

TUGAS 6
Untuk memenuhi tugas matakuliah Manajemen Usaha
yang dibina oleh Aisyah Larasati, S.T., M.T., MIM., Ph.D

Oleh
Dian Prayogi
Irdiana Windradini

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEJURUAN
DESEMBER 2014

Persediaan adalah istilah yang menunjukkan segala sesuatu yang disimpan untuk
memenuhi permintaan, meliputi bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau produk
akhir, bahan pembantu atau komponen-komponen lain yang menjadi bagian produk perusahaan.
Biaya persediaan perlu mem-pertimbangkan biaya-biaya berikut:
1. Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost). Biaya ini bervariasi secara langsung
dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila
kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak atau rata-rata persediaan semakin tinggi.
Adapun biaya penyimpanan meliputi (a) Biaya-biaya fasilitas penyimpanan (termasuk
penerangan, pemanas atau pendingin), (b) Biaya modal (opportunity cost of capital, yaitu
alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan), (c) Biaya kerusakan,
dan (d) Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.
2. Biaya pemesanan atau pembelian (order cost atau procurement cost). Biaya pemesanan
secara terperinci meliputi: (a) Pemrosesan pesanan, (b) Upah, (c) Biaya telepon, (d) Biaya
pemeriksaan penerimaan, (e) Biaya pengiriman ke gudang dan sebagainya. Secara normal,
biaya per pesanan (di luar biaya bahan dan potongan kualitas) tidak naik bila kuantitas
pesanan bertambah besar. Tetapi, bila semakin banyak komponen yang dipesan, jumlah
persediaan per periode turun, maka biaya pemesanan total naik.
3. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage cost). Biaya kekurangan bahan sulit
diukur dalam praktek, terutama karena kenyataan bahwa biaya ini sering disebut opportunity
cost, yang sulit diperkirakan secara objektif. Biaya kekurangan bahan meliputi: (a)
Kehilangan penjualan, (b) Kehilangan langganan, (c) Biaya pemesanan khusus.
Analisis Pengendalian Persediaan
1. Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point/ROP)
Jumlah bahan baku persediaan akan tetap optimal, jika waktu pemesanan kembali
ditentukan menggunakan model titik pemesanan kembali (ROP), yang merupakan suatu titik atau
batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pesanan harus diadakan kembali.
Secara umum model titik pemesanan kembali ditentukan oleh waktu dan tingkat pemakaian.
2. Model Economic Order Quantity (EOQ)
Model ini mengidentifikasikan kuantitas pemesanan/ pembelian optimal dengan tujuan

meminimumkan biaya persediaan yang terdiri dari biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
Tujuan dari sebagian besar model persediaan adalah meminimumkan biaya total. Model EOQ
dapat diterapkan jika asumsi-asumsi ini terpenuhi: (1) Permintaan akan produk adalah konstan,
seragam dan diketahui (deterministik), (2) Harga per unit produk adalah konstan, (3) Biaya
penyimpanan per unit per tahun (h) adalah konstan, (4) Biaya pemesanan per pesanan (k) adalah
konstan, (5) Waktu antara pesanan dilakukan dengan barang-barang diterima/ Lead time (L)
adalah konstan dan (6) Tidak terjadi kekurangan bahan atau back order.Waktu tunggu perlu
diperhatikan untuk mengatasi ketidakpastian bahan baku yang berasal dari luar perusahaan,
karena seringkali tenggang waktu yang terjadi antara pemesanan dengan saat pengiriman atau
diterimanya bahan tersebut tidak selalu sama. Selain itu, persediaan pengaman (safety stock)
berfungsi melindungi atau menjaga terjadinya kekurangan bahan baku yang lebih besar dari
perkiraan semula atau keterlambatan dalama penerimaan bahan baku yang dipesan.
Contoh Pengawasan dan Perencanaan Persediaan pada Usaha Pembuatan Roti
Kebutuhan Bahan Baku (D)
Perusahaan Y adalah usaha pembuatan roti. Perusahaan Y mem-butuhkan bahan
baku tepung dari PT E. Data kebutuhan tepung perusahaan Y pada tahun 2011 dapat dilihat
pada tabel berikut.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah

2011 (kg)
137
135
132
130
131
134
130
139
136
132
135
131
1602

Biaya Pemesanan (k)


Biaya yang dikeluarkan perusahaan Y setiap kali melakukan produksi terdiri dari biaya
telepon dan administrasi.
Biaya telepon
Biaya administrasi

10.000
5.000

Jumlah

15.000

Biaya Penyimpanan (h)


Biaya penyimpanan yang dikeluarkan perusahaan Y dapat diketahui melalui persentase
biaya penyimpanan dikalikan dengan harga bahan baku/kg, dimana persentase biaya
penyimpanan ini sudah meliputi biaya kerusakan, biaya penanganan, dan biaya sewa gedung.
Harga bahan baku tepung sebesar Rp 8500,- per kilogram dan persentase biaya penyimpanan
adalah 20 %, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.
Biaya penyimpanan

= harga bahan baku/kg x persentase biaya penyimpanan


= 8500 x = 1700/kg

Perhitungan Pengendalian Persediaan


Metode yang digunakan perusahaan Y untuk mengendalikan persediaan bahan baku
tepung adalah metode Economic Order Quantity (EOQ), dengan asumsi bahwa biaya
penyimpanan, biaya pemesanan, dan jumlah kebutuhan bahan baku konstan. Berdasarkan asumsi
tersebut perusahaan Y dapat mengetahui kuantitas persediaan dengan langkah sebagai berikut:

Economic Order Quantity (EQP)


D = 1602 kg; Jumlah hari kerja = 288 hari; L = 2 minggu (12 hari kerja);
k = 15.000; h = 1700
Kebutuhan per hari (d) = = = 5,6 kg
Q

= =
= = 168 kg

Frekuensi pemesanan = = = 9,5 kali atau 1 bulan 3 hari

Biaya Persediaan/Pengadaan Total


TC = biaya simpan + biaya pesan
= =
= 142.800 + 143.036 = 285.836

Reorder Point (ROP)


Reorder point menggunakan safety stock yang ditentukan sebesar 50%, maka
Pemakaian bahan selama lead time = d x L = 5,6 x 12 = 67,2 kg
Safety stock= 50% x pemakaian bahan selama lead time

= 50% x 67,2 = 33,6 kg


Reorder point (ROP)

= pemakaian bahan selama lead time + safety stock


= 67,2 + 33,6 = 100,8 kg

Kesimpulan
Dari data yang diperoleh pada Perusahaan Y dapat disimpulkan bahwa,

Cara mencukupi kebutuhan yang paling ekonomis untuk setiap kali pemesanan bahan adalah
sebanyak 168 kg. Bila dalam setahun dibutuhkan bahan baku tepung sebanyak 1602 kg, maka
dalam setahun dilakukan pemesanan sebanyak 9,5 kali atau setiap 1 bulan 3 hari.

Jika penyedia bahan baku tepung membutuhkan waktu pengiriman 2 minggu (12 hari kerja)
dan safety stock diabaikan, maka ketika persediaan bahan baku sebanyak 67,2 kg pemesanan
bahan baku akan dilakukan sebanyak 168 kg. Jika safety stock digunakan, maka pemesanan
bahan akan dilakukan ketika persediaan bahan mencapai 100,8 kg.

Biaya pengadaan/p7ersediaan total yang dikeluarkan perusahaan Y untuk mencukupi


kebutuhan yang paling ekonomis adalah sebesar Rp 285.836,-