Anda di halaman 1dari 42

Potensi Senyawa Halistanol Sulfat

dalam Spons Aaptos aaptos


Asal Pulau Randayan
sebagai Bahan Baku Obat Herbal Anti HIV
Lomba Karya Tulis Ilmiah Phytoplasm Tahun 2010
Himpunan Mahasiswa Farmasi FKIK
Universitas Tanjungpura
Disusun Oleh:
Irene O.S.

20094107

Welly Darmawan

20094088

Septami Setiawati

20083919

SMA GEMBALA BAIK


PONTIANAK
TAHUN 2010

Pendahuluan

AIDS

Belum ditemukan
obat yang efektif

Obat
Antiretroviral sintetis

Pengobatan
AIDS

Menghambat
perkembangan
virus HIV

EFEK SAMPING

Harga yang mahal

Jumlah Kasus
AIDS
Di Indonesia
21.770 Kasus (sampai tahun
2010)

Provinsi Kal-Bar
Urutan Ke-7

Masalah yang
SERIUS

Sumber: zonaaneh.blogspot.com

Solusi Pengobatan AIDS


secara herbal

Sumber Daya Alam


Kalimantan Barat

Senyawa Halistanol
Sulfat

Bersifat
Herbal

nilai ekonomis
cukup tinggi

Belum
banyak dipakai

Perumusan Masalah
Efek samping
obat anti retroviral

Mekanisme kerja
Halistanol sulfat

TUJUAN
PENULISAN

1. Efek samping penggunaan


obat antiretroviral
2. Potensi spons Aaptos
aaptos sebagai bahan baku
obat herbal anti HIV
3. Mekanisme kerja dari
senyawa halistanol sulfat

cara mengelola
spons Aaptos aaptos
menjadi obat herbal
MANFAAT
PENULISAN

potensi serta
pemanfaatan
dari senyawa
halistanol sulfat
dalam spons
Aaptos aaptos

Tinjauan Pustaka

Aaptos aaptos
TAKSONOMI

perairan
Pulau Randayan,
Kabupaten Bengkayang,
Kalimantan Barat

Kingdom
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Animalia
: Porifera
: Demospongiae
: Hadromerida
: Tethyidae
: Aaptos
: Aaptos sp.

Steroid

senyawa organik
bahan alam

berasal dari
senyawa
Triterpen

Steroid

H a l i sta n o l S u l fat (C29H49O12S3.Na3)

Turunan dari
senyawa streroid
aktivitas anti HIV

aktivitas anti tumor


aktivitas anti CML

HIV
(Human Immunodeficiency Virus)

Retrovirus

Materi Genetik
RNA yang
dibungkus oleh
protein

Penyakit
AIDS
Menyerang
sistem kekebalan
tubuh

CD4+ T-sel

Macrophages

Penderita yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan


gejala awal yang signifikan
Masa Inkubasi
8 10 tahun

Masuk masa
AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome)

Tahap-tahap infeksi menurut WHO

Tahap 1

tidak menunjukkan gejala apapun, tidak


dikategorikan sebagai AIDS

Tahap 2

manifestasi mucocutaneous minor dan


infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian
atas yang tak sembuh- sembuh

Tahap 3

diare kronis >satu bulan, infeksi bakteri


yang parah, dan TBC paru-paru

Tahap 4

Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis


pada saluran tenggorokan, saluran
pernafasan ,batang saluran paru-paru

Metodologi
Penulisan

Deskripsi
Pengkajian
Masalah

Analisis
Tahapan
Interpretasi
Kesimpulan
Studi
Literatur

Pemecahan
Masalah

Logis
Penjabaran

secara

Sistematis
Objektif

Pembahasan

Efek Penggunaan Obat Antiretroviral Sintetik bagi


Penderita AIDS
Kombinasi lebih dari 3 obat
antiretroviral

Highly Active
Anti-Retroviral
Therapy (HAART)

Bila hanya 1 obat yang


digunakan

Virus menjadi
resisten

Semakin banyak obat


yang dipakai

Semakin parah
efek sampingnya

Efek samping yang ditimbulkan antiretroviral sintetik


Anemia
akut
Masalah
pencernaan
Neuropati

lipodistrofi

Toksisitas
mitokondria

Masalah kulit

Masalah tulang

efek samping
yang lebih kecil
daripada obat
sintetis

Pengobatan herbal

flavonoid

Memiliki senyawa
halistanol sulfat

Aaptos
aaptos

Bekerja secara
in vitro

Obat
Antiretroviral

Meningkatkan
antibodi
penderita

Mekanisme kerja halistanol


sulfat
Tahapan siklus hidup virus yang dapat diintervensi
dengan obat antiretroviral
Transkripsi
balik

Protease

Fusi membran

Reverse
Transcriptase
Inhibitor

Protease
Inhibitor

Fusion
Inhibitor

Integrasi
materi
genetik
(DNA)

Integrase
Inhibitor

Reverse Transcriptase Inhibitor

Nucleoside Reverse
Transcriptase Inhibitors

Non-nucleoside Reverse
Transcriptase Inhibitors
Berikatan
langsung

fosforilasi
Bentuk trifosfat
mengganggu

Enzim reverse
transcriptase

Transkripsi
nukleotida
terminasi

Enzim
inaktif

Fusion Inhibitors
Berikatan
langsung
Protein subunit gp41

Masuknya virus ke dalam sel


inang terhambat

Integrase Inhibitors
menghambat

Integrasi DNA virus


dan sel inang

menghambat
Protease
Inhibitor
Poliprotein
HIV hasil
sintesis

Protease

Dipecah oleh
protease

Protein
fungsional

+ protease
inhibitor
Virus gagal
berfungsi

Meminum air rebusan


Pengolahan spons
Aaptos aaptos

Mengekstrak senyawa aktif


Mengolah menjadi serbuk dan
dikapsulkan

Penutup

Kesimpulan
Lebih kecil
dibanding obat
sintetis

Efek samping obat


alami

Aaptos
aaptos

Meminum
air rebusan

Halistanol
sulfat

Mengekstrak
senyawa aktif

Meningkatkan
antibodi
Bekerja secara
in vitro

Mengolah
menjadi serbuk

Saran

Penelitian
lebih lanjut

Dukungan

Partisipasi

Efektivitas
kerja
Dosis yang
tepat
Pemerintah
Provinsi
Kalimantan Barat

masyarakat

FARMASI
F A
I
G
H
T
I
N
G

G
A
I
N
S
T

R
E
T
R
O
V
I
R
U
S

A
M
A
K
I
N
G

a
p
t
o
s
a
a
p
t
o
s

I
S
O
L
U
T
I
O
N

N
H
I
B
I
T
O
R
S

TERIMA KASIH

>10% spons dengan


aktivitas sitotoksik

Senyawa fraksi non polar


pada spons: terpenoid,
steroid, asam lemak

Halistanol sulfat
Aaptos
aaptos
flavonoid

Menangkal
radikal bebas

alkaloid

Turunan steroid
lainnya

materi genetik
virus HIV diubah
menjadi DNA

DNA
inang
Diintegrasikan

Menghasilkan

Protein
pembentuk
virus baru

2.9. Anti-HIV-1 activity assay


In the presence of 100 mL various concentrations of compounds, C8166
cells (4
105 mL 1) were infected with HIV-1IIIB
at a multiplicity of
infection (MOI) of 0.06. They were then cultured in final volume of 200 mL. The plates
were incubated in a humidified incubator at 37 C and 5% CO2. Azidothymidine (AZT)
was used for drug control. After 3 days of culture, the cytopathic effect (CPE) was
measured by counting the number of syncytia (multinucleated giant cell) in each
well under an inverted microscope. The percentage inhibition of syncytial cell
formation was calculated by percentage of syncytial cell number in compoundstreated culture to that in infected control culture. The minimum inhibitory
concentration that reduced CPE by 50% (EC50) was interpolated from plots generated
from the data. The therapeutic index (TI) was calculated from the ratio of CC50/EC50

Data Kasus HIV/AIDS di Indonesia

Grafik Jumlah Kumulatif Kasus AIDS di Indonesia 10 Tahun Terakhir


Berdasarkan Tahun Pelaporan s.d. 30 Juni 2010
(Laporan Menteri Kesehatan, 2010)

Data Kasus HIV/AIDS di Indonesia


Berdasarkan Provinsi

Kal Bar
Urutan ke 7

Data Kasus HIV/AIDS di Indonesia


Berdasarkan Kelompok Umur

Grafik Persentase Jumlah Kasus HIV-AIDS


Berdasarkan Kelompok Umur
(Laporan Menteri Kesehatan, 2010)