Anda di halaman 1dari 18

1.Tinjauan Pustaka

Indikasi Dilakukan Foto Thorax

Indikasi dilakukannya foto toraks antara lain :

  • 1. Infeksi traktus respiratorius bawah ( TBC Paru, bronkitis, Pneumonia )

  • 2. Batuk kronis/ berdarah

  • 3. Trauma dada

  • 4. Tumor

  • 5. Nyeri dada

  • 6. Metastase neoplasma

  • 7. Penyakit paru akibat kerja

  • 8. Aspirasi benda asing

Posisi Pada Foto Thorax

  • Posisi PA (Postero Anterior)

1.Tinjauan Pustaka Indikasi Dilakukan Foto Thorax Indikasi dilakukannya foto toraks antara lain : 1. Infeksi traktus
  • Posisi AP (Antero Posterior)

Dilakukan pada anak-anak atau pada apsien yang tidak kooperatif. Film

diletakkan dibawah punggung, biasanya scapula menutupi parenkim paru. Jantung juga terlihat lebih besar dari posisi PA.

Kriteria Kelayakan Foto

Foto thorax harus memenuhi beberapa criteria tertentu sebelum di nyatakan layak baca. Kriteria tersebut adalah:

1. Factor Kondisi Yaitu factor yang menentukan kualitas sinar X selama di kamar rontgen (tempat expose) factor kondisi meliputi hal hal berikut yang biasa dinyatakan dengan menyebut satuannya

Waktu/lama exposure millisecond (ms)

Arus listrik tabung mili Ampere (mA)

Tegangan tabung kilovolt (kV) Ketiga hal di atas akan menentukan kondisi foto apakah

Cukup/ normal

Kurang bila foto thorax terlihat putih (samar samar)

Lebih : bila foto thorax terlihat sangat hitam

Dalam membuat foto thorax ada dua kondisi yang dapat sengaja di buat, tergantung bagian mana yang ingin di perikasa. Yaitu:

  • a. Kondisi pulmo (kondisi cukup) foto dengan kV rendah Inilah kondisi yang standar pada foto thorax, sehingga gambaran parenkim dan corakan paru dapat terlihat. Cara mengetahui apakah suatu foto rontgen pulmo kondisinya cukup atau tidak:

    • 1. Melihat lusensi udara (hitam) yang terdapat di luar tubuh

    • 2. Memperhatikan vertebra thorakalis

  • b. Kondisi kosta (kondisi keras/tulang) foto dengan kV tinggi Cara mengetahui apakah suatu pulmo kondisinya keras atau tidak:

    • 1. Pada foto kondisi keras, infiltrate pada paru tak terlihat lagi. Cara

  • mengetahuinya adalah dengan membandingkan densitas paru dengan

    jaringan lunak. Pada kondisi keras densitas keduanya tampak sama

    • 2. Memperhatikan vertebra thorakalis

    Proyeksi PA kondisi keras: tampak Vth V-VI

    Proyeksi PA kondisi keras: yang tampak VTh I-XII selain itu densitas jaringan lunak dan kosta terlihat mirip

    2.

    Inspirasi Cukup

    Foto thorax harus di buat dalam keadaan inspirasi cukup.

    Cara mengetahui cukup tidaknya inspirasi adalah:

    • a. Foto dengan inspirasi cukup:

    Diagfrma setinggi Vth X (dalam keadaan expirasi diagframa setinggi Vth VII-VIII) Kosta VI anterior memotong dome diagframa

    • b. Foto dengan inspirasi kurang

    Ukuran jantung dan mediastinum meningkat sehingga dapat menyebabkan salah interpretasi Corakan bronkovesikuler meningkat sehingga dapat terjadi salah interpretasi

    • 3. Posisi sesuai

    Seperti telah di terangkan di atas, posisi standar yang paling banyak di

    pakai adalah PA dan lateral. Foto thorax biasanya juga diambil dalam posisi erek Cara membedakan foto thorax posisi PA dan AP adalah sebagai berikut:

    • 1. Pada foto AP scapula terletak dalam bayangan thorax sementara pada foto PA

    scapula terletak di luar bayangan thorax

    • 2. Pada foto AP klavikula terlihat lebih tegak di bandingkan foto PA

    • 3. Pada foto PA jantung biasanya terlihat lebih jelas

    • 4. Pada foto AP gambaran vertebra biasanya terlihat lebih jelas

    INTERPRETASI FOTO THORAX

    Cara sistematis untuk membaca foto thorax, sebagai berikut :

    • 1. Cek apakah sentrasi foto sudah benar dan foto dibuat pada waktu inspirasi

    penuh. Foto yang dibuat pada waktu ekspirasi bisa menimbulkan keraguan karena

    bisa menyerupai suatu penyakit misal kongesti paru, kardiomegali atau mediastinum yang lebar. Kesampingkan bayangan-bayangan yang terjadi karena rambut, pakaian atau lesi kulit.

    • 2. Cek apakah Exposure sudah benar ( bila sudah diperoleh densitas yang benar,

    maka jari yang diletakkan di belakang “daerah yang hitam” pada foto tepat dapat

    terlihat). Foto yang pucat karena “underexposed” harus diinterpretasikan dengan hati-hati, gambaran paru bisa memberi kesan adanya edema paru atau konsolidasi. Foto yang hitam karena “overexposed” bisa memberi kesan adanya emfisema.

    • 3. Cek apakah tulang-tulang (iga, clavicula, scapula,dll) Normal.

    • 4. Cek jaringan lunaknya, yaitu kulit, subcutan fat, musculus-musculus seperti

    pectoralis mayor, trapezius dan sternocleidomastoideus. Pada wanita dapat terlihat mammae.

    • 5. Cek apakah posisi diafragma normal ; diafragma kanan biasanya 2,5 cm lebih

    tinggi daripada kiri. Normalnya pertengahan costae 6 depan memotong pada

    pertengahan hemidiafragma kanan.

    • 6. Cek sinus costophrenicus baik pada foto PA maupun lateral.

    • 7. Cek mediastinum superior apakah melebar, atau adakah massa abnormal, dan

    carilah trachea.

    • 8. Cek adakah kelainan pada jantung dan pembuluh darah besar. Diameter jantung

    pada orang dewasa (posisi berdiri) harus kurang dari separuh lebar dada. Atau

    dapat menentukan CTR (Cardio Thoracalis Ratio).

    • 9. Cek hilus dan bronkovaskular pattern. Hilus adalah bagian tengah pada paru

    dimana tempat masuknya pembuluh darah, bronkus, syaraf dan pembuluh limfe.

    Hilus kiri normal lebih tinggi daripada hilus kanan.

    Organ yang dinilai:

    • 1. Jantung

    • 2. Aorta

    • 3. Mediastinum Superior

    • 4. Trachea

    • 5. Hillus

    • 6. Paru

    • 7. Diafragma

    • 8. Sinus kostofrenikus

    • 9. Tulang

    10. Jaringan lunak ekstrapulmonum

    Contoh Kelainan yang dapat ditemukan pada foto thorax

    • 1. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)

    • 2. Pneumothorax

    8. Sinus kostofrenikus 9. Tulang 10. Jaringan lunak ekstrapulmonum Contoh Kelainan yang dapat ditemukan pada foto
    8. Sinus kostofrenikus 9. Tulang 10. Jaringan lunak ekstrapulmonum Contoh Kelainan yang dapat ditemukan pada foto

    3.

    Tension Pneumothorax

    3. Tension Pneumothorax 4. Pulmonary Embolus (PE)
    • 4. Pulmonary Embolus (PE)

    3. Tension Pneumothorax 4. Pulmonary Embolus (PE)

    5.Cardiomegali

    5.Cardiomegali 6.TB paru 7.Pneumonia
    6.TB paru 7.Pneumonia
    6.TB paru
    7.Pneumonia
    5.Cardiomegali 6.TB paru 7.Pneumonia

    8.Efusi Pleura

    8.Efusi Pleura 2. Pembahasan Hasil Praktikum Radiologi 1. Gambar Foto Thorax satu Gambaran torak pada foto
    • 2. Pembahasan Hasil Praktikum Radiologi

    • 1. Gambar Foto Thorax satu

    Gambaran torak pada foto pertama praktikum merupakan gambaran toraks normal:

    • 1. CTR < 50%

    • 2. Aorta tidak melebar, tidak kalsifikasi dan tidak elongasio

    • 3. Mediastinum superior tidak melebar

    • 4. Trachea di tengah

    • 5. Hilus tak menebal dan tak suram

    • 6. Corakan bronchovaskular < 2/3 paru, tak tampak infiltrat/lesi

    • 7. Diafragma licin

    • 8. Sinus kostofrenikus lancip

    • 9. Tulang intak

    10. Jaringan ekstrapulmonum baik

    2.

    Gambar Foto Thorax dua

    Foto thorax dari seorang laki-laki 65 tahun dengan posisi posteroanterior

    • 1. CTR ( Cardio Thoracic Ratio ) CTR pasien <50%. Batas jantung kanan masih berada di linea parasternalis dekstra dan batas midclavicula.

    kiri

    Jantung

    berada

    pada

    linea

    • 2. Aorta Tidak melebar, tidak terdapat kalsifikasi dan tidak ada perpanjangan aorta.

    • 3. Mediastinum Terdapat gambaran opak abnormal pada mediastinum

    • 4. Trakea Terletak ditengah,tidak terjadi deviasi

    • 5. Hilus Tidak terjadi pelebaran, radioopasitas tidak melebihi jantung

    • 6. Paru Tampak hiperaerated (lebih radiolusen ) akibat kandungan udara dalam paru meningkat. Tidak terdapat infiltrat

    • 7. Diafragma Diafragma tampak datar. Letak rendah dibawah costa 8 anterior

    • 8. Sinus costofrenikus Agak tumpul

    9.

    Tulang Celah iga melebar,

    10. Jaringan lunak Normal

    KESIMPULAN = COPD (Chronic obstructive pulmonary disease) 3. Gambar Foto Thorax tiga

    Secara umum kondisi foto pada saat praktikum sudah baik.

    Gambaran foto toraks

    • - CTR

    Pada foto toraks yang kami lihat terjadi perbesaran jantung kiri dan kanan. Hal ini dilihat dari batas kanan jantung telah melewati linea parasternalis sextra dan batas jantung kiri telah melewati linea midclavicularis sinistra. Pada saat praktikum tidak dilakukan pengukuran CTR.

    • - Aorta

    Kondisi aorta berdasarkan foto yang kami lihat tidak membesar, tidak elongation dan tidak mengalami kalsifikasi.

    • - Mediastinum Superior

    Mediastinum superior yang kami lihat pada foto tidak melebar karena batas mediastinum tidak melebihi 1/3 hemitoraks.

    • - Trakea

    Kondisi trakea yang kami lihat pada foto tidak mengalami deviasi.

    • - Hillus

    Kondisi hilus yang kami lihat pada foto mengalami perbesaran baik di paru kiri maupun paru kanan yang disebabkan oleh adanya perbesaran vena pulmonalis.

    • - Paru

    Kondisi paru yang kami lihat pada foto terlihat ada corakan infiltrate, tidak ada lesi, terdapat corakan bronkovesikuler yang normal.

    • - Diafragma

    Kondisi diafragma yang kami lihat pada foto tidakterdapat kelainan.

    • - Sinus kostifrenikus

    Kondisi sinus kostofrenikus yang kami lihat pada foto tidakada kelainan, sudut yang dibentuk lancip.

    • - Tulang

    Kondisi tulang di toraks yang kami lihat pada foto tidak terdapat kelainan.

    • - Jaringan lunak

    Kondisi jaringan lunak yang kami lihat pada foto tidak terdapat kelainan.

    Kesimpulan: Kemungkinan diagnosis ( hasil gambaran radiologi: kardiomegali & perbesaran vena pulmonalis) adalah Congenital Heart Disease dan Congestive Heart Failure

    4. Gambar Foto Thorax empat

    Identitas pasien: Pak Yakobo (67tahun)

    Kondisi foto thorax:

    Posisi yang diambil PA. Gambar yang dihasilkan kualitasnya tidak baik dikarenakan pada hasil foto didapatkan sebagian daerah paru kanannya terpotong sehingga hasil foto terlihat tidak simetris dan bagian kanan parunya tak bisa dinilai.

    1.

    Cardio Thoracic Ratio

    CTR < 50%. Batas jantung kanan tepat di linea parasternalis namun batas jantung kirinya tidak di line midclavicula tetapi di linea parasternalis.

    • 2. Aorta Pada foto thorax tersebut, aortanya mengalami sedikit pelebaran pada arcus aorta.

    • 3. Mediastinum superior Pada foto thorax tersebut, mediastinum superiornya mengalami sedikit pelebaran.

    • 4. Trachea Pada foto thorax tersebut, tracheanya tidak tepat ditengah namun mengalami deviasi sedikit ke arah kanan.

    • 5. Hillus Pada foto thorax tersebut, hillusnya ada sedikit pelebaran, dan juga terjadi penebalan

    • 6. Paru

    Pada foto thorax tersebut, terlihat adanya infiltrate (pada paru kiri terlihat jelas) juga didapatkan adanya fibrosis pada daerah suprahillus juga subhillus.

    • 7. Diafragma Pada foto thorax tersebut, diafragma kirinya terlihat normal namun diafragma sisi kanan tidak terlihat karena foto tersebut tidak simetris akibat terpotong.

    8.

    Sinus Kostofrenikus

    Pada foto thorax tersebut, sinus kostofreniku atau sudut yang dibentuk antara costae dan diafragmanya lancip pada paru kiri, sedangkan pada paru kanan tidak dapat dinilai karena foto tersebut tidak simetris.

    • 9. Tulang Pada foto thorax tersebut, tulang costae, vertebra torakalis, clavikula dan scapulanya terlihat normal sejauh yang terlihat pada gambar, kecuali sedikit bagian di pada sisi kanan yang tidak bisa dinilai karena fotonya terpotong.

    10. Jaringan Lunak

    Pada foto thorax tersebut, jaringan lunak normal sejauh yang terlihat pada gambar kecuali pada sisi kanan yang fotonya terpotong sehingga tidak bisa dinilai.

    Kesimpulan :

    Dari gambaran foto thorax Pak Yakobo didapatkan hasil adanya kelainan pada paru-paru pasien yang menunjukkan kelainan kemungkinan penyakit TBC paru. Namun dari hasil rontgen paru saja, seringkali tidak akan dapat memastikan diagnosis TBC paru kecuali pada beberapa kondisi yang lebih khas. Karena itu untuk diagnosis TBC paru diperlukan riwayat pasien, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya yang bisa memastikan diagnosis.

    5. Gambar Foto Thorax lima

    Identitas pasien: Tn. Edwin (28 tahun) Pada pemeriksaan foto toraks didapatkan hasil:

    • 1. CTR < 50% Jantung tidak mengalami pembesaran

    Jika jantung tidak terlihat mengalami pembesaran maka CTR sudah pasti <50%

    • 2. Aorta

    Aorta tidak melebar

    Aorta tidak mengalami kalsifikasi

    • 3. Mediastinum Mediastinum tidak melebar dikarenakan batas mediastinum tidak melebihi 1/3 hemitorak

    • 4. Trachea Trakea tidak mengalami deviasi ke kanan/kiri karena tidak adanya pendesakan (massa) ataupun penarikan (atelektasis)

    • 5. Hilus

    Hilus tidak lebih lebar dari trachea Hilus tidak menebal

    • 6. Paru

    Terlihat bronchovaskuler

    Tidak tampak infiltrat

    Tidak terdapat lesi

    • 7. Diafragma Diafragma kanan tampak lebih tinggi dari pada diafragma kiri

    • 8. Sinus Kostofrenikus Sudut yang dibentuk oleh costae dan diafragma tampak lancip sehingga menandakan tidak adanya cairan di rongga pleura

    • 9. Tulang

    Tidak ada fraktur pada costae, vertebra torakalis, clavicula dan skapula Vertebra tidak ada skoliosis Tidak ada osteoporosis Tidak ada lesi blastik / lusen

    10. Jaringan Lunak Tidak terdapat emfisema subkutis

    Ketebalan normal

    Tidak ada massa

    Kesimpulan: gambaran toraks pasien adalah normal

    6. Gambar Foto Thorax enam

    Kondisi foto:

    • 1. Simetris Foto thoraks tampak simetris.

    • 2. Kualitas Kualitas foto baik.

    • 3. Inspirasi maksimal Pada foto tampak pasien dalam keadaan inspirasi maksimal.

    • 4. Keadaan Skapula Keadaan skapula berada di dalam paru

    • 5. Identitas dan marker Identitas jelas dan marker juga dicantumkan.

    Gambaran Torak:

    • 1. CTR >50%

    =

    Gambaran kardiomegali

    • 2. Aorta

    = 53,3

    Tidak melebar

    Tidak mengalami elongatio

    Tidak mengalami kalsifikasi

    3.

    Mediastinum Superior

    Tidak melebar

    batas

    mediastinum

    tidak

    melebihi

    1/3

    hemitorak

    • 4. Trachea di tengah / midline Tidak deviasi ke kanan/kiri

    • 5. Hilus

    Tidak melebar tidak lebih lebar dari trachea

    Tidak mengalami penebalan

    • 6. Paru

    Bronchovaskuler terlihat dengan baik

    Tidak tampak infiltrat

    Tidak ada tampak lesi

    • 7. Diafragma

    Kanan > Kiri

    < 1.5 tinggi corpus vertebrae

    Licin= tidak tampak suram

    • 8. Sinus Kostofrenikus Sudut yang dibentuk oleh costae dan diafragma tampak lancip

    • 9. Tulang

    tidak terdapat fraktur terdapat skoliosis (terlihat sangat jelas) tulang clavicula tampak meninggi dan tidak simetris tulang skapula tidak membuka. tidak ada metastasis tulang 10. Jaringan Lunak

    Tidak ditemukan adanya emfisema subkutis

    Jaringan lunak disekitar linea axilaris anterior paru terlihat

    Kesimpulan : Pasien kardiomegali dengan kelainan struktur tulang belakang

    7.

    Gambar Foto Thorax tujuh

    Gambaran toraks, laki-laki, usia 70 tahun. Posteroanterior.

    1.

    CTR CTR < 50%. Normal, tidak ada pembesaran ukuran jantung.

    • 2. Aorta Tidak melebar dan tidak elongatio. Namun pada arcus aorta terlihat sebuah gambaran kecil yang lebih opaq, hal ini menandakan terdapat kalsifikasi di tempat tersebut.

    • 3. Mediastinum Superior Tidak ada pelebaran mediastinum.

    • 4. Trachea Posisi trakea di tengah. Tidak ada deviasi ke kanan/kiri oleh karena pendesakan (massa) atau penarikan.

    • 5. Hilus Normal. Tidak menebal, tidak melebar dan tidak tampak suram.

    • 6. Paru Normal. Bronchovaskular terihat < 2/3 lapangan paru. Tidak ada tampak infiltrat dan lesi.

    • 7. Diafragma Normal. Tampak licin. Difragma kanan lebih tinggi sedikit dari kiri.

    • 8. Sinus Kostofrenikus Sudut yang dibentuk oleh costae dan diafragma berbentuk lancip (normal) / tidak tumpul, yang menandakan bahwa tidak ada cairan di rongga pleura.

    • 9. Tulang Normal. Costae, vertebra, clavicula dan skapula tidak ada fraktur dan tidak terlihat ada lesi blastik/lusen.

    10. Jaringan Lunak Ketebalan jaringan lunak disekitar thoraks, normal.

    Kesimpulan : Kalsifikasi Arcus Aorta

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Rasad Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi ke-2. Balai Penerbit FKUI.

    Jakarta,2005.

    2. Palmer P.E.S, Cockshott W.P, Hegedus V, Samuel E. Manual of Radiographic Interpretation for General Practitioners (Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter

    Umum). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : EGC,1995.