Anda di halaman 1dari 12

RANCANG BANGUN ALAT PEMURNI AIR PAYAU SEDERHANA

DENGAN MEMBRAN REVERSE OSMOSIS UNTUK MEMENUHI


KEBUTUHAN AIR MINUM MASYARAKAT MISKIN DAERAH PESISIR
Dewi L.K., Azfah R.A., Soedjono E.S.
Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS Surabaya
e-mail: soedjono@enviro.its.ac.id
ABSTRAK
Daerah pesisir umumnya memiliki masalah dengan akses air minum layak konsumsi.
Sumber air yang ada, biasanya berasal dari sumur air tanah yang airnya berasa asin atau payau.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih layak minum, terdapat teknologi
pemurnian air yang praktis yaitu menggunakan membran reverse osmosis. Disini akan dibahas
desain alat pemurni air payau sederhana menggunakan membran reverse osmosis dengan pompa
yang tenaga penggeraknya adalah dengan kayuhan sepeda.Penelitian dilakukan dengan menguji
laju fluks, recovery rate, dan kemampuan rejeksi kadar garam serta TDS dari proses reverse
osmosis dengan menggunakan membran pada variasi tekanan, kadar garam dan kadar TDS
tertentu. Data yang diperoleh diolah dengan uji ANOVA dan ditarik kesimpulan dari analisa
tersebut. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui Fluks optimum permeate sebesar 2,10 L/m2.jam
dicapai pada tekanan operasi 1,5 bar dengan konsentrasi garam pada air umpan sebesar 1008 ppm.
Recovery Rate optimum sebesar 28,54% dicapai pada tekanan operasi 1,5 bar dengan konsentrasi
garam pada air umpan sebesar 2085 ppm. Nilai rejeksi optimum kadar garam sebesar 55,36%
dicapai pada tekanan operasi 0,5 bar dengan konsentrasi garam pada air umpan sebesar 1008 ppm.
Nilai rejeksi optimum TDS sebesar 62,95% dicapai pada tekanan operasi 1,5 bar dengan kadar
TDS air umpan sebesar 1910 mg/L.
Kata kunci : Air Payau, Reverse osmosis, Fluks, Recovery rate, Rejeksi
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki panjang pantai
lebih dari 80.000 km. Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir
di Indonesia identik dengan masyarakat miskin dan pemukiman kumuh. Pada daerah pesisir ini
umunya memiliki masalah dengan akses air bersih. Sumber air yang ada, biasanya bersasal dari
sumur air tanah yang airnya berasa asin. Penyediaan air bersih untuk masyarakat di Indonesia masih
mengalami permasalahan terutama rendahnya tingkat pelayanan dan penyediaan akses air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, masyarakat terpaksa menampung air hujan atau
mengambil dari tempat lain yang relatif jauh dan mahal. Kurangnya akses terhadap air minum juga
sanitasi yang tidak baik menyebabkan 3 juta penduduk dunia di negara berkembang terutama anakanak meninggal setiap tahunnya. Untuk mengatasi permasalahan di atas dibutuhkan penerapan
teknologi pengolahan air yang sesuai dan tepat guna, yaitu dengan menggunakan teknologi
purifikasi Reverse Osmosis yang praktis, portable dan tidak memakan lahan yang luas. Rancangan
1

alat pemurni air payau sederhana ini menggunakan tenaga kayuhan sepeda untuk menggerakkan
pompa air yang telah dimodifikasi. Untuk pemurnian airnya, digunakan membran reverse osmosis
yang mampu mereduksi kadar garam dalam air umpan serta kontaminan-kontaminan lainnya. Alat
pemurni air payau sederhana ini merupakan jawaban atas sulitnya memperoleh air bersih layak
minum untuk masyarakat miskin daerah pesisir.
Dari latar belakang yang ada didapatkan suatu perumusan masalah, antara lain bagaimana
desain alat pemurni air sederhana yang dapat mendesalinasi air payau menjadi air layak minum,
bagaimana pengaruh tekanan (bar) yang diberikan terhadap laju fluks permeat (L/m2.jam), recovery
rate (%), rejeksi kadar garam (%) dan rejeksi kadar TDS (%), bagaimana pengaruh kadar garam
(ppm) air umpan terhadap laju fluks permeat (L/m2.jam) yang dihasilkan, recovery ratenya (%)
serta rejeksi kadar garam (%) dan bagaimana pengaruh kadar TDS (ppm) air umpan terhadap
rejeksi kadar TDS (%).
Dari perumusan masalah diatas, tujuan dari rancang bangun ini antara lain yaitu, merancang alat
pemurni air payau menjadi air layak minum dan diharapkan dapat menghasilkan prototip alat
pemurni air tersebut, menganalisa pengaruh tekanan kerja (bar) terhadap laju fluks permeat
(L/m2.jam), recovery rate (%), rejeksi

kadar garam (%) dan rejeksi kadar TDS (%) yang

dihasilkan, menganalisa pengaruh kadar garam (ppm) terhadap laju fluks permeat (L/m2.jam) yang
dihasilkan, recovery ratenya (%) serta rejeksi kadar garam (%) yang dihasilkan, dan menganalisa
pengaruh kadar TDS (ppm) terhadap rejeksi TDS (%) yang dihasilkan.
Karakteristik Air Payau
Sumber air payau yang biasa digunakan adalah berasal dari air tanah, air tanah ini menjadi
salin atau berasa asin karena intrusi air laut atau merupakan akuifer air payau alami. Air permukaan
yang payau jarang dipergunakan tetapi mungkin dapat terjadi secara alami. Air payau dapat
memiliki range kadar TDS yang cukup panjang yakni (1000-10.000 mg/L) dan secara tipikal
terkarakterisasi oleh kandungan karbon organik rendah dan partikulat rendah ataupun kontaminan
koloid. Beberapa komponen yang terdapat dalam air payau seperti boron dan silika memiliki
konsentrasi yang bervariasi dan dapat memiliki nilai yang beragam dari satu sumber dengan sumber
lainnya, faktor penting dalam optimasi sistem reverse osmosis air payau adalah karakterisasi akurat
dari air umpan yang spesifik. [Greenlee, dkk. 2009].
Proses reverse osmosis untuk desalinasi air payau memiliki beberapa karakteristik yang berbeda
dengan desalinasi air laut, diantaranya :

Rancang bangun modul membran reverse osmosis untuk desalinasi air payau pada umumnya
hanya terdiri dari satu tahap saja mengingat kadar garam umpan yang tidak terlalu tinggi.

Recovery air lebih tinggi bila dibandingkan dengan desalinasi air laut

Suhu umpan kadang-kadang sangat tinggi sehingga harus diturunkan terlebih dahulu agar
tidak merusak modul [Wenten, 1999]

Keuntungan Penggunaan Membran


Keuntungan menggunakan membran dalam pengolahan air yaitu :

Menghasilkan air dengan kualitas sangat baik

Dalam proses pengolahan memerlukan sedikit bahan kimia

Memerlukan energi lebih rendah untuk operasi dan pemeliharaan

Fasilitas desain & konstruksi memiliki sistem yang kompak dan modular

Mampu memproduksi air dengan kualitas konstan

Mampu menyisihkan bahan kontaminan dengan rentang yang lebar

Dapat menjadi solusi untuk beban yang berubah-ubah. [Nurhayati, 2005]

Modul Membran Spiral Wound


Modul spiral wound merupakan
modul membran yang terdiri dari susunan
dua atau lebih lembar membran flat yang
ditumpuk bersamaan dan masing-masing
dilapisi pada bagian tepinya kemudian
dililitkan pada sebuah pipa bersama-sama
dengan spacer pada bagian sisi umpan

Gambar 1. Modul RO Spiral Wound

membran yang memisahkan lapisan atas dua membran flat dan berfungsi untuk membangkitkan
turbulensi aliran. Pipa pada bagian tengah berfungsi sebagai penampung aliran permeat dan
mengalirkannya sebagai produk. Cara kerja dari modul spiral wound adalah sebagai berikut :
umpan bertekanan dimasukkan melalui sisi membran dan kemudian permeat dikumpulkan melalui
sisi lainnya. Permeat mengalir ke dalam poket membran yang tertutup dan dikumpulkan dalam pipa
pengumpul [Wenten, 1999].
Proses Desalinasi dengan reverse osmosis
Di dalam proses desalinasi air laut dengan sistem reverse osmosis (RO), tidak
memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air lautnya, karena akan membutuhkan
tekanan yang sangat tinggi sekali. Oleh karena itu pada kenyataannya, untuk menghasilkan air
tawar maka air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke dalam suatu modul membran
3

reverse osmosis yang mempunyai dua buah outlet yakni outlet untuk air tawar yang dihasilkan dan
outlet untuk air garam yang telah dipekatkan (brine/reject water). Di dalam membran RO tersebut
terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul, yakni pertikel yang molekulnya lebih besar
daripada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, akan terpisah dan akan terikut ke dalam
air buangan (brine/reject water). Oleh karena itu air yang akan masuk ke dalam membran RO harus
mempunyai persyaratan tertentu misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus < 0,1 mg/L, pH
harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium dan lainnya [Said, 2008]. Membran RO
bertindak sebagai barrier yang bersifat semi permeabel yang dengan mudah melewatkan
komponen secara selektif (pelarut, biasanya air) dan menghalangi zat terlarut secara parsial maupun
keseluruhan. Air akan berpindah dari sisi umpan ke sisi permeat dengan proses difusi dengan
tekanan sebagai driving force atau gaya dorong yang dibutuhkan agar membran dapat bekerja
[Ariyanti, 2009]. Gradien potensial kimia pada membran menghasilkan driving force -s yaitu
gradien potensial kimia zat terlarut, biasanya berupa perbedaan konsentrasi dan -w yaitu gradien
potensial kimia pelarut, biasanya berupa perbedaan tekanan yang mendorong larutan untuk
melewati membran [William, 2003]. Konsentrasi permeat meningkat dengan meningkatnya
konsentrasi umpan. Ketika persen recovery air meningkat, konsentrasi air permeat optimal juga
akan meningkat. Namun, recovery yang lebih tinggi dan fluks permeat lebih tinggi memerlukan
tekanan umpan yang lebih tinggi. Peningkatan tekanan umpan dengan tingkat recovery pada fluks
permeat yang diberikan dikarenakan meningkatnya salinitas rata-rata umpan dan tekanan osmotik
[Abdulrazaq, 2011]. Terdapat batasan tertentu bagi jumlah garam yang dapat direjeksi untuk
tekanan umpan yang digunakan. Semakin tinggi tekanan yang diberikan mengakibatkan garam yang
melewati membran semakin banyak. Hal ini terjadi karena umpan didorong melalui membran pada
kecepatan tinggi sehingga garam yang berada pada permukaan membran ikut menembus membran
bersama umpan [Edward, 2009].
Metode yang Digunakan
Dalam penelitian ini digunakan beberapa metode analisis dengan output data yang
dibutuhkan yaitu :
1. Recovery rate Laju produksi (Recovery Rate) dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan :
=

100%

Dimana Qp adalah debit air olahan (liter/jam) dan Qf adalah debit air baku (liter/jam)
2. Fluks permeate diukur dengan mengukur volume permeate yang dihasilkan dalam jangka
waktu yang telah ditentukan. Fluks permeate dapat dihitung dengan rumus :
4

Dengan, V = Volume permeate, A = Luas membran 0,5m2 dan t = waktu


3. Rejeksi adalah ukuran kemampuan membran untuk menahan atau melewatkan padatan terlarut.
Secara metematis rejeksi dinyatakan dengan :
= 1

100%

4. Dimana R adalah koefisien rejeksi (%) dan Cp serta Cf adalah konsentrasi zat terlarut dalam
permeat dan umpan.
Data hasil penelitian kemudian dianalisa dengan uji ANOVA

METODE PENELITIAN
Bahan dan Peralatan yang Digunakan
Berikut merupakan peralatan yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 1. Peralatan dan bahan yang digunakan
PERALATAN
Membran Reverse Osmosis
Merk

: Filmtec USA

Pompa Air
Merk

: DAB

Model
: TW30-1812-50
Model
: AQUA 125 A
Material
: Poliamida TFC
Kapasitas Max
: 42 L/mnt
Pori
: Dense (tidak berpori)
Suction Head
: 9 meter max
Bentuk Membran
: Spiral Wound
Discharge Head
: 24 meter
Tekanan Kerja
: 3,4 - 6 bar
Total Head
: 33 meter
Luas Membran
: 0,5 m2
Output
: 125 watt
Panjang Membran
: 298 mm
RPM
: 2850
Diameter Membran
: 44,5 mm
Wadah Air Umpan
Pressure Gauge
Wadah Air permeat
Regulator Valve
Wadah Air Brine
BAHAN
NaCl standar
K2CrO4
AgNO3
Aquades
Sampel yang digunakan sebagai objek dalam penelitian ini merupakan air payau yang berasal dari
sumur warga daerah Tambak Deres, Kenjeran. Variasi konsentrasi sampel yang digunakan adalah :

Tabel 2. Variasi konsentrasi sampel

Konsentrasi Garam
(ppm)

Konsentrasi
TDS (mg/L)

518
1008
1500
2085

1060
1910
2630
3470

Proses Operasi
Berikut merupakan langkah proses operasi pengujian alat :

Siapkan air umpan sesuai karakteristik yang akan diuji.

Masukkan selang input pada wadah air umpan.

Siapkan wadah untuk menampung air permeate juga air brine.

Kayuh hingga pressure gauge menunjukkan tekanan operasi yang diinginkan.

Lakukan pengayuhan selama 12 menit dengan pengambilan sampel setiap 2 menit.

Apabila akan melakukan pengayuhan dengan tekanan yang berbeda atau kerekteristik air baku yang
berbeda, maka sebelumnya harus dilakukan pencucian terhadap membran. Berikut merupakan
gambar diagram alir proses dan hasil akhir rakitan alat pemurni air payau.
Regulator Valve

Regulator Valve

Qp
Qb

Air Bersih
(Permeat Water)

Air Buangan
(Brine Water)

Modul
Membran RO

Qf

Pressure Gauge

Roda Sepeda
Air umpan
(feed water)

Pompa dengan
tenaga kayuhan
sepeda

(a)

(b)

Gambar 2. (a) Diagram Alir Proses Operasi, (b) Hasil Akhir Rangkaian Alat

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengaruh Tekanan Operasi terhadap Fluks
Dari grafik di bawah ini, dari keempat variasi

Fluks (L/m2.jam)

2,50
2,10

2,00
1,50
1,00
0,50

1,44

1,40

0,76
0,70
0,39

0,75
0,74
0,44

konsentrasi

1,40

518 ppm

1
Tekanan Operasi (bar)
1008 ppm
1500 ppm

ada,

data

dominan

menunjukkan bahwa semakin besar tekanan

0,98
0,82

operasi yang diberikan, maka nilai fluks

0,00
0,5

yang

permeate

1,5

akan

semakin

besar.

Fluks

maksimum sebesar 2,10 L/m .jam tercapai

2085 ppm

pada

Gambar 3. Grafik pengaruh tekanan operasi terhadap


fluks

tekanan

operasi

1,5

bar

dengan

konsentrasi garam 1008 ppm dan fluks

minimum sebesar 0,39 L/m2.jam diperoleh pada tekanan operasi 0,5 bar dengan konsentrasi garam
2085 ppm. Tekanan operasi merupakan driving force proses reverse osmosis. Kenaikan tekanan
dalam suatu larutan dengan konsentrasi tertentu (tekanan osmosis tetap) akan menyebabkan
kenaikan fluks permeate. Reverse osmosis berlangsung karena adanya gaya pendorong yaitu beda
tekan antara sisi umpan dengan sisi permeate. Suatu larutan dengan konsentrasi berbeda jika
dipisahkan dengan membran semi permeable maka secara alamiah air (pelarut) bergerak dari
larutan dengan konsentrasi rendah ke larutan dengan konsentrasi tinggi, fenomena ini disebut
reverse osmosis. Dengan demikian apabila tekanan dinaikkan maka aliran pelarut (air) akan
semakin besar sehingga fluks permeate juga semakin besar. Fluks permeat disepanjang membran
memiliki hubungan langsung dengan tekanan umpan, dimana fluks akan meningkat seiring dengan
adanya peningkatan tekanan. Semakin besar tekanan yang diberikan, maka volum fluida yang dapat
melewati membran akan meningkat.
Pengaruh Tekanan Operasi terhadap Recovery Rate
Dapat dilihat dari grafik di bawah ini, dapat dilihat pada konsentrasi garam 518 ppm, semakin besar
tekanan operasi yang diberikan recovery rate cenderung menurun. Sedangkan pada konsentrasi
Recovery Rate (%)

30,00

28,54

25,00

22,27

20,00

rate cenderung semakin naik dan pada

15,00

13,45
12,44

10,00

7,23
4,44
4,11

5,00
0,00
0,5

518 ppm

garam 1008 ppm dan 2085 ppm recovery

7,10

6,69
6,24
3,63
2,38
1
Tekanan Operasi (bar)
1008 ppm
1500 ppm

1,5
2085 ppm

Gambar 4. Grafik pengaruh tekanan operasi terhadap


recovery rate

konsentrasi garam 1500 ppm cenderung


stabil. Recovery rate maksimum dicapai
pada tekanan operasi 1,5 bar dengan
konsentrasi garam 2085 ppm yaitu sebesar
28,54% dan nilai recovery rate minimum

diperoleh pada tekanan operasi 1 bar dengan konsentrasi garam 2085 ppm yaitu 2,38%. Dilihat dari
grafik, nilai Recovery Rate yang dihasilkan tidak signifikan. Grafik naik terjadi dikarenakan adanya
kenaikan driving force (perbedaan antara tekanan operasi yang diberikan dengan tekanan osmotik)
dengan tekanan umpan sehingga volume pelarut yang melewati jalur permeate lebih banyak. Grafik
mengalami penurunan kemungkinan diakibatkan oleh pengaruh bukaan keran pada jalur brine
sehingga volume brine dan permeate yang keluar bervariasi pada tiap pengoperasian alat.
Pengaruh Tekanan Operasi terhadap Rejeksi Kadar Garam
Dari grafik di bawah ini dapat dilihat nilai rejeksi kadar garam minimum dieroleh pada tekanan
operasi 1 bar dengan konsentrasi air umpan 2085 ppm yaitu sebesar 23,24%. Fluks untuk zat
terlarut hanya dipengaruhi oleh kadar garam pada kedua sisi umpan dan permeate. Saat konsentrasi
Rejeksi kandungan Cl- (%)

60,00

garam pada air umpan tetap, maka jumlah

55,36

50,00

46,83

40,00

35,77
34,04

30,00

41,28
33,69

48,44
45,20
43,80

massa garam yang melewati membran pun

33,88

akan tetap. Dengan adanya kenaikan tekanan

23,81
23,24

20,00

operasi, nilai fluks pelarut (air) akan ber-

10,00

tambah. Fluks zat terlarut (garam) dalam

0,00
0,5
518 ppm

1
Tekanan Operasi (bar)
1008 ppm
1500 ppm

1,5
2085 ppm

Gambar 5. Grafik pengaruh tekanan operasi terhadap


rejeksi kadar garam

kondisi tetap dan fluks zat pelarut (air)


bertambah akan menyebabkan nilai rejeksi
meningkat. Kenaikan rejeksi karena tekanan
juga disebabkan oleh pemampatan (compact-

ion). Kenaikan tekanan menyebabkan berkurangnya ukuran pori membran karena terkompaksi,
sehingga rejeksi akan meningkat. Pada grafik juga dapat dilihat, terdapat penurunan rejeksi kadar
garam. Peningkatan tekanan umpan menyebabkan rejeksi garam meningkat. Namun terdapat
batasan tertentu bagi jumlah garam yang dapat direjeksi untuk tekanan umpan yang digunakan.
Semakin tinggi tekanan yang diberikan mengakibatkan garam yang melewati membran semakin
banyak. Hal ini terjadi karena umpan didorong melalui membran pada kecepatan tinggi sehingga
garam yang berada pada permukaan membran ikut menembus membran bersama umpan.
Pengaruh Tekanan Operasi terhadap Rejeksi Kadar TDS
Dapat dilihat pada grafik bahwa data rejeksi kadar TDS bervariasi pada setiap kadar TDS air umpan.
Nilai rejeksi TDS maksimum dicapai pada tekanan operasi 1,5 bar dengan kadar TDS air umpan
sebesar 1910 mg/L yaitu 62,95%. Nilai rejeksi kadar TDS minimum diperoleh pada tekanan operasi
0,5 bar dengan kadar TDS air umpan 3470 mg/L yaitu sebesar 23,24%. Dari grafik diatas dapat
dilihat terjadi variasi hasil rejeksi kadar TDS. Pada kadar TDS awal 1060 mg/L dan 2630 mg/L
8

Rejeksi kadar TDS (%)

70,00
54,30
60,00
43,39
50,00
40,0028,14
30,0019,31

62,95

58,07
47,48

47,17
42,17

36,18

31,41

22,43

grafik cenderung turun, sedangkan pada


kadar TDS awal 1910 mg/L dan 3470 mg/L
grafik cenderung naik. Grafik mengalami

20,00
10,00
0,00

kenaikan
0,5

1
Tekanan Operasi (bar)
1060 mg/L

1910 mg/L

1,5

2630 mg/L

dikarenakan

pada

air

yang

melewati membran, partikel zat terlarut


(TDS) tertempel pada dinding membran

3470 mg/L

Gambar 6. Grafik pengaruh tekanan operasi terhadap


rejeksi kadar TDS

dan menyebabkan zat terlarut sulit melewati


membran. Peningkatan tekanan umpan

menyebabkan rejeksi TDS meningkat. Namun terdapat batasan tertentu bagi jumlah zat terlarut
yang dapat direjeksi untuk tekanan umpan yang digunakan. Semakin tinggi tekanan yang diberikan
mengakibatkan zat terlarut yang melewati membran semakin banyak. Hal ini terjadi karena umpan
didorong melalui membran pada kecepatan tinggi sehingga zat terlarut yang berada pada permukaan
membran ikut menembus membran bersama umpan.
Pengaruh Konsentrasi Garam terhadap Fluks
Dari grafik di bawah ini, dapat dilihat bahwa saat air umpan yang digunakan konsentrasi garamnya
makin tinggi, maka fluks permeate akan

Fluks (L/m2.jam)

2,50
2,10

2,00
1,50

semakin turun. Tekanan osmotik suatu

1,44
1,40

1,00

0,76
0,74

0,50

0,98
0,75
0,70

larutan ber-gantung pada konsentrasi


0,82

larutan

0,44
0,39

0,00
0

500

1000
1500
2000
Konsentrasi garam air umpan (ppm)
0,5 bar

1 bar

2500

1,5 bar

Gambar 7. Grafik pengaruh konsentrasi garam terhadap


fluks

bertambah

tersebut,
tinggi

dimana
konsentrasi

semakin
suatu

larutan, maka tekanan osmotiknya akan


semakin tinggi. Dengan nilai tekanan
operasi yang sama, kenaikan tekanan

osmotik ini menyebabkan beda tekan yang semakin mengecil sehingga nilai fluks yang dihasilkan
pun menjadi semakin kecil. Nilai fluks permeate maksimum yaitu sebesar 2,10 L/m2.jam dicapai
pada konsentrasi air umpan 1008 ppm dengan tekanan operasi yang diberikan sebesar 1,5 bar.
Sedangkan nilai fluks permeate minimum diperoleh pada konsentrasi garam air umpan sebesar
2085 ppm dengan tekanan operasi 0,5 bar yaitu sebesar 0,39 L/m2.jam. Tekanan osmotis larutan
berfungsi sebagai pengurang driving force. Semakin besar konsentrasi larutan akan memperbesar
tekanan osmosis sehingga akan memperkecil beda tekan. Sehingga semakin tinggi konsentrasi
garam umpan, fluks akan semakin kecil. Peningkatan konsentrasi pada umpan juga akan
mengakibatkan terakumulasinya zat terlarut dalam air baku pada membran karena proses
penyerapan pada dinding pori, sehingga fluks akan menurun. Pada konsentrasi garam air baku 1000
9

ppm dengan tekanan operasi 1,5 bar, terlihat garfik mengalami kenaikan dibandingkan dengan
konsentrasi yang sama pada tekanan 1 bar. Hal ini kemungkinan terjadi karena pembersihan
membran yang tidak sempurna sehingga masih terdapat zat-zat terlarut yang menempel pada
membran sehingga mengganggu jalur keluar permeate.
Pengaruh Konsentrasi Garam terhadap Recovery Rate
Pada grafik di bawah ini, nilai recovery rate maksimum yaitu sebesar 28,54% dicapai pada
konsentrasi air umpan 2085 ppm dengan
Recovery rate (%)

30,00

28,54

25,00

tekanan operasi yang diberikan sebesar 1,5

22,27

20,00
15,00

6,24

5,00

7,23
7,10
6,69

4,11
3,63

0,00
500

bar. Sedangkan nilai recovery rate minimum

13,45

12,44

10,00

1000

diperoleh pada konsentrasi garam air umpan

4,44
2,38

1500

2000

2500

Konsentrasi garam air umpan (ppm)


0,5 bar

1 bar

sebesar 2085 ppm dengan tekanan operasi 1


bar yaitu sebesar 2,38%. Dilihat dari grafik,

1,5 bar

nilai

recovery

rate

yang

dihasilkan

Gambar 8. Grafik pengaruh konsentrasi garam terhadap cenderung bervariasi. Grafik mengalami perecovery rate
nurunan disebabkan, semakin tingginya

konsentrasi garam maka tekanan operasi yang dibutuhkan harus semakin tinggi agar dapat
melewatkan air melalui membran. Pada tekanan stabil dengan pertambahan konsentrasi air umpan
yang semakin menurun, volume permeate yang dapat dihasilkan menjadi semakin sedikit dan
keluar menuju jalur brine. Hal ini megakibatkan terjadinya penurunan recovery rate. Pada grafik
juga terlihat terjadinya kenaikan recovery rate terutama pada tekanan operasi 1,5 bar. Hal ini dapat
terjadi kemungkinan diakibatkan oleh pengaruh bukaan keran pada jalur brine sehingga volume
brine dan permeate yang keluar bervariasi pada tiap pengoperasian alat.
Pengaruh Konsentrasi Garam terhadap Rejeksi Kadar Garam
Dari grafik di bawah ini dapat dilihat, nilai rejeksi kadar garam maksimum yaitu sebesar 55,36%
dicapai pada konsentrasi air umpan 1008 ppm

Rejeksi Cl- (%)

60,00

55,36
48,44
41,28

50,00
40,00

34,04
33,88

30,00

46,83
45,20

43,80
35,77

33,69

23,81

20,00

23,24

dengan

0,00
0

500

1000

1500

2000

Konsentrasi garam air umpan (ppm)


0,5 bar

1 bar

1,5 bar

2500

operasi

yang

diberikan

sebesar 0,5 bar. Sedangkan nilai fluks


permeate

10,00

tekanan

minimum

diperoleh

pada

konsentrasi garam air umpan sebesar 2085


ppm dengan tekanan operasi 1 bar yaitu
sebesar 23,24%. Fluks garam (zat terlarut)

Gambar 9. Grafik pengaruh konsentrasi garam terhadap


dipengaruhi oleh beda konsentrasi pada sisi
rejeksi kadar garam
10

umpan dan sisi permeate. Kenaikan konsentrasi umpan akan menaikan driving force fluks garam
sehingga kenaikan konsentrasi akan menyebabkan menaiknya fluks garam yang melewati membran.
Pada tekanan yang tetap, sedangkan konsentrasi umpan semakin besar maka fluks air akan tetap
pula maka hal ini menyebabkan konsentrasi garam pada permeate meningkat atau dengan kata lain
rejeksi garam (zat terlarut) menurun. Pada konsentrasi kadar garam air umpan 500 ppm dan 1000
ppm terjadi kenaikan rejeksi kadar garam. Hal ini dapat diakibatkan oleh pencucian yang tidak
sempurna. Pada pencucian yang tidak sempurna, masih terdapat zat-zat terlarut yang menempel
pada membran sehingga memperkecil pori membran dan membuat zat terlarut (garam) sulit
melewati membran sehingga nilai rejeksi kadar garamnya naik.
Pengaruh Kadar TDS terhadap Rejeksi Kadar TDS
Dari grafik di bawah ini dapat dilihat bahwa kadar TDS air umpan berpengaruh terhadap rejeksi
TDS. Kenaikan kadar TDS air umpan secara
Rejeksi TDS (%)

70,00
60,00
50,00

54,30
47,48

47,17

40,00
30,00

umum

62,95

58,07

28,14

43,39
36,18
31,41

1500

2000
2500
Kadar TDS air umpan (ppm)

0,5 bar

1 bar

3000

TDSnya.

Nilai

penurunan

rejeksi

kadar

rejeksi
TDS

maksimum yaitu sebesar 62,95% dicapai


22,43

20,00
1000

42,17

menyebabkan

3500

pada kadar TDS air umpan 1910 mg/L


dengan tekanan operasi yang diberikan

1,5 bar

sebesar 1,5 bar. Sedangkan nilai rejeksi

Gambar 10. Grafik pengaruh konsentrasi garam terhadap kadar TDS minimum diperoleh pada kadar
rejeksi kadar TDS
TDS air umpan sebesar 3470 mg/L dengan

tekanan operasi 0,5 bar yaitu sebesar 19,31%. Fluks TDS (zat terlarut) dipengaruhi oleh beda
konsentrasi pada sisi umpan dan sisi permeate. Kenaikan konsentrasi umpan akan menaikan driving
force fluks zat terlarut sehingga kenaikan konsentrasi akan menyebabkan menaiknya fluks zat
terlarut yang melewati membran. Pada tekanan yang tetap, sedangkan konsentrasi umpan semakin
besar maka fluks air akan tetap pula maka hal ini menyebabkan konsentrasi TDS pada permeate
meningkat atau dengan kata lain rejeksi TDS (zat terlarut) menurun. Dapat dilihat pula terjadi
kenaikan pada grafik. Hal ini dapat terjadi akibat pencucian membran yang tidak sempurna. Pada
pencucian yang tidak sempurna, masih terdapat zat-zat terlarut yang menempel pada membran
sehingga memperkecil pori membran dan membuat zat terlarut (TDS) sulit melewati membran
sehingga nilai rejeksi kadar TDS naik.

11

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah :
1. Alat yang dibangun dengan menggunakan membran reverse osmosis dapat menurunkan kadar
garam air payau.
2. Semakin tinggi tekanan operasi yang diberikan, nilai fluks semakin tinggi dengan rentang 0,39
L/m2.jam - 2,10 L/m2.jam, recovery rate cenderung semakin tinggi antara 2,38% hingga
28,54%, rejeksi kadar garam cenderung meningkat dengan rentang 23,24% hingga 55,36% dan
rejeksi kadar TDS cenderung meningkat dengan rentang 23,24% hingga 62,95%.
3. Semakin tinggi kadar garam air umpan, fluks akan semakin menurun dengan rentang 0,39
L/m2.jam hingga 2,10 L/m2.jam, recovery rate cenderung menurun dengan rentang 2,38%
hingga 28,54%, dan rejeksi kadar garam akan menurun dengan rentang 23,24% - 55,36%.
4. Semakin tinggi kadar TDS air umpan, maka rejeksi kadar TDS akan semakin menurun. Dengan
kenaikan kadar TDS dari 1060 mg/L menjadi 3470 mg/L, diperoleh rentang rejeksi TDS
19,31% hingga 62,95%.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulrazaq, J.A. 2011. Transport Phenomena Analysis for Evaluating the Optimum Operating
Condition of Reverse Osmosis Processes. Research Journal of Chemical Science Vol. 1(3)
June (2011).
Greenlee, L.F., Lawler, D.F., Freeman, B.D., Marrot, B., Moulin, P., 2009. Reverse Osmosis
Desalination : Water Sources, Technology, and Todays Challenges. Water Research 43
(2009) 2317-2348.
Edward, H.S., Pinem, J.A., Adha, M.H., 2009. Kinerja Membran Reverse Osmosis Terhadap
Rejeksi Sintetis. Jurnal Sains dan Teknologi 8 (1), Maret 2009 : 1-5
Nurhayati, I., dan Soedjono, E.S. 2005. Desalinasi Air Payau dengan Membran Reverse Osmosis
(RO) Tekanan Rendah. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi VI.
Said, N.I., 2008. Pengolahan Payau Menjadi Air Minum dengan Teknologi Reverse Osmosis.
Direktorat Teknologi Lingkungan-BPPT
Wenten, I.G. 1999. Teknologi Membran Industrial. Institut Teknologi Bandung, Bandung
William, M.E. 2003. A Brief Review of Reverse Osmosis Membrane Technology. EET
Corporation and Williams Engineering Services Company

12