Anda di halaman 1dari 14

1.

Pengertian Penguat RF
Secara umum penguat adalah peralatan yang menggunakan tenaga yang
kecil untuk mengendalikan tenaga yang lebih besar. Dalam peralatan elektronik
dibutuhkan suatu penguat yang dapat digunakan untuk mengkonversi sinyal
frekuensi radio berdaya rendah menjadi sinyal yang lebih besar. Penguat ini harus
menunjukkan tingkat perolehan daya yang tinggi, gambaran noise yang rendah,
stabilitas dinamis yang baik, admitansi pindah baliknya rendah sehingga antena
akan terisolasikan dari osilator, dan selektivitas yang cukup untuk mencegah
masuknya frekuensi IF, frekuensi bayangan, dan frekuensi-frekuensi lainnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan penguat ideal yang sesuai dengan uraian di atas
yaitu penguat RF. RF atau Radio Frequency mempunyai range frekuensi 10Khz
sampai 300 GHz. Sinyal Audio yang mempunyai range 20Hz-20Khz harus terlebih
dahulu dikuatkan dan dimodulasi agar bisa ditransmisikan dalam frekuensi RF.
Penguat RF ini berfungsi untuk memperkuat sinyal frekuensi tinggi yang dihasilkan
osilator RF sampai suatu nilai yang dikehendaki dan diterima oleh antena untuk
dipancarkan melalui saluran transmisi. Daya keluaran dari suatu pemancar
ditentukan oleh penguat daya RF yang digunakan, sehingga pemancar berdaya kuat
akan dapat diperoleh apabila penguat daya RF yang digunakan mampu
menghasilkan daya keluaran yang besar. Pemancar yang umum dipasarkan adalah
pemancar dengan daya keluaran kecil. Pemancar berdaya besar, selain sulit
diperoleh harganya juga sangat mahal. Selain itu, penggunaan pemancar komersial
terbatas pada daya keluaran dan frekuensi kerja yang telah dispesifikasikan.
Pemancar dengan spesifikasi daya keluaran 1000 mW pada frekuensi kerja 100
MHz tidak akan dapat menghasilkan daya keluaran 1000 mW apabila dikerjakan
pada frekuensi 200 MHz.

Penguat RF mempunyai 2 type yaitu RF low level yaitu penguat RF yang


ditemukan pada radio dan pada transmisi sinyal dengan level kecil. Tipe penguat
daya RF yang lain yaitu penguat daya RF yang digunakan pada pemancar atau
aplikasi lainnya dimana daya RF level tinggi diperlukan.
Dalam setiap desain suatu penguat, kita harus selalu memperhatikan
matching (penyesuaian ) impedansi antara input dan output dari suatu penguat
tingkat berikut dan sebelumnya. Mathing impedansi menjadi sangat penting karena
impedansi input suatu penguat akan mengubah nilai impedansi output pada penguat

tingkat sebelumnya. Jika nilainya jauh lebih kecil dari impedansi output tingkat
penguat ini,maka konsdisi matching diartikan sebagai kondisi dimana input atau
output mendapat matching network yang nilai impedansinya merupakan konjugasi
dari impedansi input atau output transistor.
Terdapat banyak tipe matching , tipe yang paling sederhana adalah two
reactance matching. Hasil perhitungan menunjukkan bandwith dari penguat tidak
bisa diatur lagi dengan penyesuai tipe ini, selain itu cara ini tidak flexibel sehingga
jarang dipakai. Cara matching yang banyak digunakan adalah three reactance
matching network. Pada dasarnya cara ini bisa dipandang sebagai penyesuai
impedansi tipe L dan komponen untuk kompensasi. Kompensasi yang dimaksud
disini adalah kompensasi bagian reaktansi transistor pada frekuensi tertentu.
Pada penguat RF, rangkaian yang umum digunakan adalah penguat kelas A
dan Kelas C. Secara umum, penguat RF lengkap terdiri dari tiga buah tingkatan,
yaitu buffer, driver, dan final.

2. Tingkatan Penguat RF
a. Buffer
Buffer merupakan blok rangkaian yang berfungsi sebagai penyangga
atau penyaring sinyal masukan (input) agar sesuai dengan karakteristik kerja
penguat.
Ciri : a.) Daya outputnya kecil
b.) Impedansi input tinggi yang pembebanan yang rendah dari tingkat
sebelumnya
c.) Impedansi output rendah

d.)Jika buffer tidak digunakan, maka transfer daya dari tingkat


sebelumnya ke tingkat selanjutnya tidak akan maksimum.
e.) Umumnya mempunyai daya output maksimum 0,5 watt.

b. Driver
Driver merupakan penguat tingkat dua yang juga merupakan rangkaian
kendali dari penguat RF. Rangkaian penguat pada driver akan menentukan
daya pada rangkaian final.
Ciri :

a.) Mempunyai daya output yang lebih besar dari rangkaian buffer
b.) Umumnya mempunyai daya output maksimum 5 watt
c.)Rangkaian

penguatnya

dikatakan

rangkaian

penguat

sinyal

menengah atau daya sedang.


c. Final
Final merupakan penguat tingkat akhir. Rangkaian penguat final
menentukan daya output secara keseluruhan dari penguat RF. Rangkaian
final ini merupakan penguat tingkat akhir yang dihubungkan ke antena
pemancar. Komponen penguat dari rangkaian final ini mempunyai daya yang
tinggi.

3. Jenis Penguat RF
a. Penguat Kelas A

Penguat kelas A adalah penguat yang bekerja dengan titik operasi dan
sinyal masuk yang sedemikian rupa hingga arus dalam rangkaian keluaran
mengalir terus menerus sehingga menyebabkan transistor selalu beroperasi
di daerah aktif. Ini mengandung arti bahwa arus kolektor mengalir sepanjang
360o dari siklus ac. Hal ini disebabkan karena pada kondisi tanpa sinyal,
basis transistor telah diberi tegangan bias. Sifat-sifat penguat kelas A, yaitu:
Bati Tegangan dengan Beban
Di dalam penguat CE, tegangan ac Vin menggerakkan basis,
menghasilkan tegangan keluar ac Vout. Bati tegangan tanpa beban
adalah :

Gambar 1 Penguat CE
Karena resistansi yang dilihat oleh kolektor adalah
rc = RC // RL
Sehingga dapat dihitung bati tegangan terhadap beban dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:

Dimana :
rc = Resistansi emiter ac
rc = Resistansi kolektor ac
RC = Resistansi kolektor dc
A = Bati Tegangan tanpa beban

RL = Resistansi beban
AV = Bati tegangan dengan beban
Bati Arus
Bati arus sebuah transistor adalah perbandingan arus kolektor ac
terhadap arus basis ac. Persamaannya adalah sebagai berikut:

Dimana :
Ai = Bati arus
ic = Arus kolektor ac
ib = Arus basis ac
Bati Daya
Daya masuk ac pada basis adalah
Pin = Vin x Ib
Daya keluar ac pada kolektor adalah
Pout = - Vout x Ic
Tanda minus (-) diperlukan karena adanya pembalikan fasa.
Perbandingan Pout/Pin disebut sebagai bati daya dan ditulis dengan
Ap. dengan mengambil perbandingan tersebut, didapatkan:

Karena Av = Vout / Vin dan Ai = Ic / Ib , maka :


Ap = - Av Ai
Dimana :
P in = Daya input ac
v in = Tegangan melintas pada resistansi emiter
Ib = Arus basis ac
Ic = Arus kolektor ac
Vout = Tegangan keluar
Pout = Daya output ac
Ap = Bati daya
Av = Bati tegangan

Ai = Bati arus
Daya Beban
Daya ac ke dalam tahanan beban RL adalah

Dimana :
PL = Daya beban ac
VL = Tegangan beban rms
RL = Resistansi beban
Efisiensi Tahapan
Efisiensi tahapan kelas A diberikan oleh

Dimana :
PL(maks) =Daya beban maksimum
PS = daya dc dari catu
= Efisiensi tahapan

b. Penguat Kelas C
Daerah dimana arus kolektor yang mengalir kurang dari 180o siklus ac
disebut daerah operasi kelas C. Hal ini berarti bahwa arus kolektor penguat
kelas C tidak sinusoidal, karena arus mengalir dalam bentuk pulsa-pulsa.
Untuk menghindari distorsi yang disebabkan oleh beban yang bersifat tidak
murni, penguat kelas C selalu menggerakkan rangkaian bejana resonansi.
Cara ini menghasilkan tegangan keluar berupa tegangan sinusoidal.
Penguat Tertala
Gambar 4 memperlihatkan salah satu cara utnuk membuat penguat
kelas C. Rangkaian bejana resonansi ditala pada frekuensi sinyal
masuk. Bila rangkaian mempunyai faktor kualitas (Q) yang tinggi,
resonansi paralel akan terjadi disekitar.

Dimana :
fr = Frekuensi resonansi
L = Induktansi
C = Kapasitansi

Gambar 5 Penguat Kelas C Tertala


Garis Beban DC
Karena RS sangat kecil, garis beban dc tampak hampir vertikal, seperti
ditunjukkan pada gambar 2.6. transistor tidak mempunyai arus selain
arus bocor sehingga tidak ada pelanturan termal. Titik Q diletakkan
pada titik putus tanpa resiko pengatur termal.

Gambar 6 Garis beban Penguat Kelas C


Garis beban ac yang diturunkan masih tetap sama. Untuk penguat CE
:

dan

Dimana :
IC( jen) = Arus jenuh ac
rC = Resistansi kolektor ac
VCEQ = Tegangan kolektor emiter tenang
ICQ = Arus kolektor tenang
VCE( put ) = Tegangan putus ac
Gambar 6 memperlihatkan garis beban ac. Bila transistor bekerja, titik
operasinya berayun ke atas sepanjang garis beban ac. Dengan
demikian arus jenuh ac pada penguat kelas C adalah VCC/rC, dan
ayunan maksimumnya adalah VCC.
Resistansi Kolektor AC
Setiap kumparan atau induktor mempunyai resistansi seri RS. Harga Q
dari sebuah induktor diberikan oleh

4. Macam-Macam Frekuensi Radio

Namun Secara umum, jenis frekuensi yang digunakan oleh radio komunikasi
adalah VHF (Very High Frequency) dan HF (High Frequency). Sebelum
mengetahui nama Band, Panjang Gelombang, Batasan Frekuensi dan nama

gelombang radio, alangkah baiknya kita mengenal lebih dulu kedua jenis
band yang biasa kita pergunakan selama ini.
a. Band HF (High Frequency)
Frekuensi HF ( High Frequency ), biasanya dipergunakan untuk komunikasi
jarak jauh. Frekuensi ini memancar pada frekuensi 2 Mhz 24 Mhz. Frekuensi HF (
High Frequency ) sifat gelombangnya dapat memantul dan tidak memiliki efek
hambatan pada objek atau lawan komunikasi. Kelebihannya :
-Kemampuan frekuensi ini dapat memantul sampai ke lapisan ionosphere.
-Jika stasiun Komunikasi Radio Antar Penduduk/KRAP bekerja pada
frekuensi ini, jarak sejauh apapun dapat dijangkau, dengan catatan apabila
cuaca bagus. Karena frekuensi ini masih sangat tergantung kepada keadaan
cuaca dan propagasi. Sifat dan kerja frekuensi ini adalah pancaran
gelombangnya dikirimkan terlebih dahulu melewati lapisan ionosphere dan
kemudian memantulnya kembali ke bumi menuju stasiun tujuan. Untuk
pancaran gelombang kedua yang terhambat oleh objek, akan memantul terus
menerus sampai ke stasiun tujuan.
b. Band VHF (Very High Frequency)
Frekuensi VHF ( Very High Frequency ) atau lebih dikenal dengan sebutan 2
meter band, biasanya dipergunakan untuk komunikasi jarak dekat. Band/Frekuensi
ini memancar pada frekuensi 100 Mhz - 300 Mhz. Frekuensi VHF ( Very High
Frequency ) gelombang yang dipancarkan berbentuk garis lurus ( Horisontal )
sehingga daya pancarnya sangat dipengaruhi oleh keadaan obyek atu benda padat
dimana gelombang melaluinya. Sebagai ilustrasi : apabila jarak antara 2 stasiun
Komunikasi Radio Antar Penduduk/KRAP , salah satu diantarnya terdapat hambatan
atau halangan objek seperti gunung, pohon, bangunan tinggi, yang posisinya lebih
tinggi dibanding tempat yang bersangkutan mengudara ( pancaran gelombang
radionya lebih rendah dibanding penghalang atau hambatannya ), maka sudah pasti
transmisi yang dikirimkan ataupun diterima akan terhambat pula.
Dari kesemua penghalang dan hambatan sifatnya berbeda-beda. Misalkan
jika hambatanya berupa sebuah gunung, maka gelombang yang dipancarkan akan
dipantulkan kembali, sehingga transmisi yang yang dikirimkan kepada lawan
komunikasi tidak akan mencapai tujuan. (Untuk solusi kendala seperti ini, sebagian
stasiun Komunikasi Radio Antar Penduduk/KRAP mempergunakan antene
pengarah dengan cara memantulkannya ke pegunungan lain yang tidak bergaris
lurus dengan lawan bicaranya, tujuannya agar pantulan gelombang transmisinya
dapat memantul dan mengarah kepada lawan bicaranya ). Lain lagi dengan
hambatan sebuah pohon. Keberadaan gelombangnya masih ada dan dapat
dipancarkan kelawan komunikasi atau stasiun tujuan. Akan tetapi transmisinya
sangat lemah sehingga tidak dapat diterima dengan jelas. Dan yang paling tidak

menguntungkan adalah bangunan tinggi sebagai hambatannya. Karena apabila


salah satu penggunanya terhalang oleh sebuah bangunan maka gelombang yang
dipancarkannya akan hilang dan berhenti saat mengenai bangunan tersebut.
5. Penguatan
Komponen elektronika yang di pakai untuk menguatkan daya atau tenaga secara
umum. Dalam penggunaannya, amplifier akan menguatkan signal suara yaitu
memperkuat signal arus I dan tegangan V listrik dari inputnya. Sedangkan outpunya
akan menjadi arus listrik dan tegangan yang lebih besar. Besarnya pengertian
amplifier sering di sebut dengan istilah Gain. Nilai dari gain yang dinyatakan sebagai
fungsi penguat frekunsi audio, Gain power amplifier antara 200 kali sampai 100 kali
dari signal output. Jadi gain merupakan hasil bagi dari daya di bagian output dengan
daya di bagian input dalam bentuk fungsi frekuensi. Ukuran gain biasannya
memakai decible (dB).
Ada tiga jenis gain amplifier yang dapat diukur, yaitu : Gain Tegangan (Av), Gain
Arus (Ai) dan Gain Daya (Ap) tergantung pada kuantitas yang diukur dengan contohcontoh dari berbagai jenis gain yang diberikan dibawah ini.
Gain Penguat Sinyal Input

Gain Penguat Tegangan

Gain Penguat Arus

Gain Penguat Daya

Untuk Gain Daya juga dapat dihitung dengan membagi daya output dengan daya
input.

Gain daya atau level daya dapat dinyatakan ke dalam satuan Desibel (dB).
Bel adalah unit satuan logaritma berbasis 10 untuk ukuran yang tidak memiliki unit

satuan. Karena satuan Bel terlalu besar sebagai satuan ukur, maka yang umum
digunakan adalah satuan 1/10-nya atau yang lebih disebut sebagai Desibel. Untuk
menghitung gain amplifier dalam desibel atau dB, kita dapat menggunakan
persamaan berikut.
Gain Tegangan dalam dB:
Gain Arus dalam dB:
Gain Daya dalam dB:
Perlu diketahui bahwa Gain Daya arus DC sebuah amplifier adalah sama dengan
sepuluh kali hasil logaritma basis 10 dari perbandingan output dan input, sedangkan
gain tegangan dan arus adalah 20 kali hasil log perbandingan output dan input
penguat. Namun penting untuk diketahui bahwa daya 20 dB bukanlah 2 kali dari
daya 10 dB karena berada dalam skala logaritma. Selain itu, nilai positif pada dB
menyatakan sebuah Gain dan nilai negatif pada satuan dB menyatakan sebuah
Loss dalam amplifier. Misalnya, gain amplifier +3dB menyatakan bahwa sinyal
output menjadi dua kali lipat dari sinyal input (x2) sementara gain amplifier -3dB
menyatakan bahwa sinyal output telah dikurangi setengahnya dari sinyal output
(x0,5) dengan kata lain merupakan sebuah Loss.
Amplifier Daya
Amplifier sinyal lemah pada umumnya disebut sebagai penguat "tegangan"
karena penguat ini biasanya mengonversi sebuah tegangan input kecil menjadi
tegangan output yang jauh lebih besar. Kadang-kadang rangkaian amplifier
dibutuhkan untuk menjalankan sebuah motor atau loudspeaker dan pada aplikasi
seperti ini yang membutuhkan arus switching yang tinggi, maka Amplifier Daya
diperlukan.
Sesuai namanya, pekerjaan utama dari "Amplifier Daya" (atau Amplifier
Sinyal Kuat) adalah menyalurkan daya ke beban seperti pada pernyataan
sebelumya yakni hasil pengaplikasian arus dan tegangan ke beban dengan sinyal
output menjadi lebih besar daripada daya sinyal input. Dengan kata lain, sebuah
amplifier daya menguatkan daya input sinyal sehingga rangkaian amplifier jenis ini
digunakan dalam penguat sinyal output audio untuk membunyikan loudspeaker.
Penguat daya bekerja sesuai prinsip dasar konversi daya DC yang diperolah
dari power supply menjadi sinyal tegangan AC yang disalurkan ke beban. Meskipun

nilai penguatannya sangat tinggi, efisiensi dari proses konversi dari pembangkit daya
DC menjadi sinyal output AC biasanya sangat buruk.
Amplifier ideal yang sempurna akan menghasilkan tingkat efisiensi 100% atau
setidaknya daya masukan adalah sama dengan daya keluaran. Namun pada
kenyataannya hal ini tidak dapat terjadi karena sebagian daya selalu menghilang
karena diubah menjadi energi kalor dan amplifier itu sendiri memerlukan daya
selama proses penguatan input. Maka persamaan efisiensi amplifier menjadi :

Efisiensi Ampilifer

Amplifier Ideal
Kita bisa mengetahui karakteristik dari amplifier yang ideal dari paragraf sebelumnya
yakni dengan mengacu pada gainnya, atau gain tegangannya :
a.

Gain amplifier (A) harus bernilai konstan untuk berbagai nilai sinyal input

b.

Gain tidak dipengaruhi oleh frekuensi. Sinyal dari setiap frekuensi hasur
dikuatkan dengan nilai yang sama persis.

c.

Gain amplifier harusnya tidak menambahkan noise ke dalam sinyal output.


Maka amplifier tersebut harus menghilangkan semua noise yang telah ada
pada sinyal input.

d.

Gain amplifier harus tidak terpengaruh oleh perubahan suhu atau memiliki
stabilitas temperatur yang baik.

e.

Gain amplifier harus tetap stabil dalam waktu yang lama.

Kelas
Sudut
Konduksi
Posisi titik Q

Efisiensi
Keseluruhan
Distorsi

A
360o

B
180o

AB

kurang dari 180 hingga 360o


90o

Titik tengah garis Tepat di Di bawah Di antara sumbu


beban
sumbu X sumbu X
x
dan
garis
tengah beban
Buruk, 25 to 30% Baik, 70 Lebih dari Lebih baik dari A
to 80%
80%
tapi lebih sedikit
dari B, 50 to 70%
Tidak ada jika Pada titik Berjumlah
Berjumlah Kecil
tegangan
silang
besar

Sinyal

di"bias"kan
dengan tepat

sumbu X

Amplifier yang tidak didesain dengan baik khususnya pada jenis kelas A
membutuhkan transistor dengan daya yang lebih besar, penyerap panas yang lebih
mahal, bahkan penambahan ukuran pembangkit daya untuk menyalurkan daya extra
yag diperlukan amplifier. Daya yang dikonversi menjadi panas dari transistor,
resistor atau komponen lainnya untuk hal yang seperti itu membuat rangkaian
elektronik menjadi tidak efisien dan akan menghasilkan kerusakan pada awal
pemakaian perangkat.
Jadi mengapa menggunakan amplifier kelas A jika efisiensinya kurang dari
40% dibandingkan dengan amplifier kelas B yang memiliki tingkat efisiensi yang
tinggi di atas 70%. Pada dasarnya, amplifer kelas A memberikan output yang jauh
lebuh ideal, bahkan linearitas pada frekuensi yang lebih tinggi meskipun memakan
daya DC dalam jumlah yang besar.

DAFTAR PUSTAKA
Albert Paul Malvino, Ph.D.Prinsip-Prinsip Elektronika Jilid I.1991:Erlangga
http://viitaarea.blogspot.com/2010/07/rf-amplifier.html
http://teknikelektrosemester3.blogspot.com/2013/12/penguat-daya.html