Anda di halaman 1dari 13

Definisi dan Fungsi Geotextile Woven

October 5, 2010 Leave a comment

Geotextile (Geotekstil) Woven adalah jenis Geotextile yang teranyam. Bahan dasar
pembuatannya biasanya Polypropilene (PP). Untuk mempermudah visualisasi, Geotextile Woven ini
mirip dengan karung beras (bukan yang dari bahan goni) tetapi berwarna hitam.

Fungsi

Fungsi Geotextile Woven adalah sebagai bahan stabilisasi tanah dasar (terutama tanah dasar
lunak), karena Geotextile jenis ini mempunyai tensile strength (kuat tarik) yang lebih tinggi
dibandingkan dengan Geotextile Non Woven (sekitar 2 kali lipat untuk gramasi atau berat per
m2 yang sama).

Cara kerja Geotextile Woven adalah membrane effect, yang hanya mengandalkan tensil strength,
sehingga tidak mereduksi terjadinya penurunan setempat (differensial settlement) akibat tanah
dasar yang lunak atau jelek.

(Sumber)

GEOTEXTILE
October 1, 2014Uncategorized

Geosintetik adalah material yang saat ini populer dalam proyek konstruksi di
Indonesia terutama dalam pembangunan jalan di atas tanah lunak seperti di pulau
Sumatera dan Kalimantan yang banyak terdapat tanah gambut. Selain itugeosintetik
juga diaplikasikan sebagai filter pada konstruksi penahan gelombang baik di tepian
pantai maupun lepas pantai . Istilah geosintetik mengacu pada material sintetik yang
digunakan dalam permasalahan geoteknik. Material sintetik merupakan hasil
polimerisasi dari industri-industri kimia atau minyak bumi.
Penggunaan bahan sintetik ini berkaitan dengan sifat ketahanan (durabilitity)
material sintetik terhadap senyawa-senyawa kimia, pelapukan, keausan, sinar ultra
violet dan mikroorganisme. Polimer utama yang digunakan untuk pembuatan
geosintetik adalah Polyester (PET), Polyamide (PM), Polypropylene (PP), dan
Polyethylene (PE).
Geosintetik yang ada terdiri dari berbagai jenis dan diklasifikasikan dalam beberapa
bentuk sebagai berikut :
1.

Geotekstil, bahan lulus air dari anyaman (woven) atau tanpa anyaman (non
woven) dari benang-benang atau serat- serat sintetik yang digunakan dalam
pekerjaan tanah.
2.
Geogrid, produk geotekstil yang berupa lubang-lubang berbentuk segi empat
(geotextile grid) atau lubang berbentuk jaring (geotextile net) , biasanya terbuat dari
bahan Polyester (PET) atau High Density Polyethylene (HDPE)
3.

Geofabric, semua produk geosintetik yang berbentuk lembaran

4.

Geocoposite, kombinasi dua atau lebih tipe geosintetik

5.

Geomembrane, geosintetik yang bersifat impermeable atau tidak tembus air,


biasanya dibuat dari bahan high density polyethylene (HDPE).

6.

Geocell, berbentuk sel-sel sebagai bahan penahan erosi atau perkuatan ,


terbuat dari bahan High Density Polyethylene (HDPE)

7.

Geotube, berbentuk tabung memanjang yang digunakan di daerah pantai

8.

Geobag, berbentuk karung sebagai perkuatan di aliran sungai atau pantai.

9.

Geocontainer, sebagai bahan pembuat pulau atau konstruksi ditengah laut


dan diturunkan dari kapal .

10.

Vertical drain, sebagai bahan pemercepat aliran disipasi air pori sehingga
mempercepat proses settlement.

11.

Concrete matras, berbentuk matras atau kasur yang diisi dengan beton untuk
penahan dinding sungai pencegah erosi

12.

Geojute, terbuat dari jaring-jaring atau bahan serat alami seperti dari serat
kelapa sawit untuk penahan erosi .Produk ini mempunyai aplikasi yang sangat luas
di bidang geoteknik & teknik sipil dari mulai konstruksi jalan raya, embankmen,
perkuatan tanah lunak, jalan kereta api, jembatan, perkuatan lereng dan dinding,
waduk, reklamasi pantai dan lainnya.
GEOTEXTILE
Geotextile meliputi woven (tenun) dan non woven (tanpa tenun). Tenun dihasilkan
dari interlaying antara benang-benang melalui proses tenun, sedangkan non woven
dihasilkan dari beberapa proses seperti : heat bonded (dengan panas), needle
punched (dengan jarum), dan chemical bonded (enggunakan bahan kimia). Baik
woven maupun non woven dihasilkan dari benang dan serat polimer terutama :
polypropelene, poliester, polyethilene dan polyamide.
Sebenarnya geotekstil pada awalnya dibuat dari berbagai bahan seperti serat-asli
(kertas, filter, papan kayu, bambu) , misalnya penggunaan jute untuk percepatan
konsolidasi sebagi pengganti pasir sebagai bahan drainase (vertical drain) yang
banyak dilakukan di India atau dilakukan di Belanda dengan menggunakan serat
filter.
Perkuatan tanah lunak juga menggunakan papan-papan kayu atau anyaman bambu
yang ditempatkan di atas di atas tanah lunak (jaman Romawi kuno dan juga di
Kalimantan Indonesia). Hanya bahan organik tersebut mudah lapuk sehingga umur
konstruksi tidak dapat lama kecuali bahan dari bambu atau kayu yang apabila
berada dalam air secara terus menerus akan bersifat permanen.
1. Woven Geotextile
Woven Geotextile adalah lembaran Geotextile terbuat dari bahan serat sintetis
tenunan dengan tambahan pelindung anti ultra violet yang mempunyai kekuatan tarik

yang cukup tinggi, yang dibuat untuk mengatasi masalah untuk perbaikan tanah
khususnya yang terkait di bidang teknik sipil secara efisien dan efektif, antara lain
untuk mengatasi atau menanggulangi masalah pembuatan jalan dan timbunan pada
dasar tanah lunak, tanah rawa.
Bahan baku material ini adalah Polypropylene polymer (PP) dan ada juga dari
Polyester (PET) yang didukung oleh hasil test dan hasil riset di laboratorium,
mengikuti standar ASTM, antara lain : kekuatan tarik, kekuatan terhadap tusukan,
sobekan, kemuluran dan juga ketahanan terhadap mico organisme, bakteri, jamur
dan bahan-bahan kimia.
Material ini dibuat dalam berberapa macam tipe. Pemilihan tipe yang tepat
tergantung pada kondisi tanah dasar, fungsi dan beban yang direncanakan.
2. Non Woven Geotextile
Geotextile (Geotekstil) Non Woven, atau disebut Filter Fabric (Pabrik) adalah jenis
Geotextile yang tidak teranyam, berbentuk seperti karpet kain. Umumnya bahan
dasarnya terbuat dari bahan polimer Polyesther (PET) atau Polypropylene (PP).Non
Woven Geotextile
FUNGSI
Geotextile Non Woven berfungsi sebagai :
1.

Filter / Penyaring
Sebagai filter, Geotextile Non Woven berfungsi untuk mencegah terbawanya
partikel-partikel tanah pada aliran air. Karena sifat Geotextile Non Woven adalah
permeable (tembus air) maka air dapat melewati Geotextile tetapi partikel tanah
tertahan. Aplikasi sebagai filter biasanya digunakan pada proyek-proyek subdrain
(drainase bawah tanah).

2.

Separator / Pemisah
Sebagai separator atau pemisah, Geotextile Non Woven berfungsi untuk mencegah
tercampurnya lapisan material yang satu dengan material yang lainnya.

Contoh penggunaan Geotextile sebagai separator adalah pada proyek


pembangunan jalan di atas tanah dasar lunak (misalnya berlumpur). Pada proyek ini,
Geotextile mencegah naiknya lumpur ke sistem perkerasan, sehingga tidak
terjadi pumping effectyang akan mudah merusak perkerasan jalan. Selain itu
keberadaan Geotextile juga mempermudah proses pemadatan sistem perkerasan.
3.

Stabilization / Stabilisator
Fungsi Geotextile ini sering disebut juga sebagai Reinforcement / Perkuatan.
Misalnya dipakai pada proyek-proyek timbunan tanah, perkuatan lereng dll. Fungsi
ini sebenarnya masih menjadi perdebatan dikalangan ahli geoteknik, sebab
Geotextile bekerja menggunakan metode membrane effect yang hanya
mengandalkan tensile strength (kuat tarik) sehingga kemungkinan terjadinya
penurunan setempat pada timbunan, masih besar, karena kurangnya kekakuan
bahan. Apalagi sifat Geotextile yang mudah mulur terutama jika terkena air (terjadi
reaksi hidrolisis) menjadikannya rawan sebagai bahan perkuatan lereng.

4.

Lain-lain
Fungsi Geotextile yang lain adalah sebagai pengganti karung goni pada
proses curingbeton untuk mencegah terjadinya retak-retak pada proses pengeringan
beton baru.

GEOTEXTILE SEBAGAI PENANGANAN LONGSORAN


Salah satu aplikasi geotekstil adalah untuk penanganan longsoran, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa penanggulangan longsoran dengan bahan
geosintetik atau geotekstil pada ruas jalan sebagai perkuatan timbunan jalan
mempunyai fungsi sebagai berikut :

1.

Geosintetik atau geotekstil sebagai separator, yaitu mencegah bercampurnya


agregat pilihan dengan lapisan asli tanah lunak
2.
Geosintetik atau geotekstil sebagai perkuatan tanah dasar, yang mana
material geosintetik atau geotekstil memiliki properties kekuatan tarik yang melawan
pergerakan tanah dasar baik mengembang ataupun menyusut.
3.

Geosintetik atau geotekstil sebagai perkuatan lereng jalan sementara atau


permanen

4.

Geomembrane sebagai perkuatan pada bahu jalan, yang berfungsi untuk


mencegah perubahan kadar air pada tanah dasar karena geomembran mempunyai
sifat kedap air, tahan pelapukan terhadap zat kimia tanah, dan organisme
pembusukan dalam tanah, selain itu mempunyai tahanan terhadap kekuatan tarik
terhadap longsoran , daya tahan terhadap sobek, dan daya tahan coblos yang tinggi.

5.

Geotekstil non woven atau tanpa tenunan yang terbuat dari serat
polyprophylene melalui proses needle punched adalah cocok untuk apliaksi pada
tanah dasar yang banyak mengandung sisa-sisa tanaman karena mempunayi daya
tahan coblos yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan lainnya. Disamping itu
geotekstil non woven memiliki sifat hidrolik propertis yang lebih bagus shingga bisa
sekaligus berfunsi sebagai filter yang hanya melarutkan air tanpa membawa agregat
tanah .
Langkah-langkah perhitungan adalah :

1.
2.

Penentuan beban yang bekerja di ruas jalan


Analisa stabilitas internal dengan menghitung : tebal lapis perkuatan tanah,
panjang geotekstil di depan dan di belakang bidang longsor, panjang total geotekstil
bidang longsor, panjang overlap bahan perkuatan, panjang overlap bahan perkuatan,
analisis stabilitas lereng, stabilitas terhadap kuat dukung tanah.
1.2 GEOTEXTILE/GEOGRID PADA TIMBUNAN TANAH
Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan
untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil.
Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan
tanah lunak.
Beberapa fungsi dari geotekstil yaitu:

1.
2.

untuk perkuatan tanah lunak.


untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan
mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.

3.

sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan


pelindung.
Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus:

1.
2.

Timbunan tanah diatas tanah lunak


Timbunan diatas pondasi tiang

3.

Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence


Timbunan Tanah Diatas Tanah Lunak
Pada hakekatnya, timbunan diatas tanah lunak merupakan masalah daya dukung.
Pertimbangan lain adalah bahwa stabilitas timbunan kritis pada akhir konstruksi. Hal
ini dikarenakan permeabilitas tanah lempung lunak yang tidak memungkinkan
pengaliran dan konsolidasi pada masa konstruksi. Pada akhir konstruksi, beban
telah diterapkan, tetapi tidak ada peningkatan kuat geser tanah akibat konsolidasi.
Sesudah konsolidasi terjadi, peningkatan kuat geser umumnya menghilangkan
perlunya perkuatan geotextile untuk menambah stabilitas. Untuk memperoleh
peningkatan kuat geser, tinggi timbunan harus sedemikian sehingga pada awal
kosntruksi mengakibatkan tegangan vertikal yang melewati tegangan prakonsolidasinya.
Jadi peranan geotextile adalah mempertahankan stabilitas sampai tanah lunak
terkonsolidasi (kuat geser meningkat berarti) sampai saat dapat memikul beban
timbunan itu sendiri.
Keuntungan yang dapat diambil dari penggunaan geotekstil perkuatan tanah lunak
adalah Konstruksi sederhana sehingga mudah untuk dilaksanakan, menghemat
waktu pelaksanaan, menghemat biaya konstruksi. Sedangkan kerugian dari
penggunaan geotekstil adalah bahwa geotekstil tidak tahan terhadap sinar ultra
violet. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan penutupan berupa pasangan batu kali
ataupun dengan bahan lainya.
1.3 GEOTEXTILE PADA STRUKTUR DINDING PENAHAN TANAH
Penambahan lapis geotekstil pada lapisan tanah sirtu sering dipergunakan
untuk mengatasi permasalahan pada struktur penahan tanah. Cara ini mampu
memberikan peningkatan kemampuan rnenerima beban yang cukup besar.
Suatu model penelitian dibuat di laboratorium untuk mempelajari
seberapa besar peningkatan beban yang dapat dipikul oleh model struktur penahan
tanah. Model percobaan berupa bak uji berukuran 100 x 50 x 60 cm3. Pengamatan
dilakukan dengan membandingkan lateral displacement pada model struktur

penahan tanah tanpa geotekstil maupun dengan penambahan lapis geotekstil.


Dilakukan tes pembebanan dengan mengamati peningkatan beban yang dapat
dipikul model struktur penahan tanah.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa peningkatan beban terbesar yang
dapat dipikul oleh model struktur penahan tanah dengan lapisan geotekstil
dibandingkan dengan tanpa lapisan geotekstil adalah sebesar 824%, yaitu pada
percobaan dengan menggunakan geotekstil type HATE Reinfox sebanyak 7 lapis
(sejarak 7.5 cm). Peningkatan beban yang terjadi dengan pemakaian 5 lapis HATE
Reinfox (sejarak 10 cm) adalah sebesar 684%, sedangkan pada pemakaian 3 lapis
HATE Reinfox adalah sebesar 586% bila dibandingkan dengan tanpa pemakaian
geotekstil.
Sedangkan dan type HDPE G-Line, peningkatan beban terbesar yang
dapat dipikul oleh model struktur penahan tanah dengan lapisan geotekstil
dibandingkan dengan tanpa lapisan geotekstil adalah sebesar 683%, yaitu pada
percobaan dengan menggunakan 7 lapis HDPE G-Line (sejarak 7.5 cm).
Peningkatan beban yang terjadi dengan penambahan 5 lapis HDPE G-Line
(sejarak 10 cm) adalah sebesar 519%, sedangkan pada pemakaian 3 lapis HDPE
G-Line adalah sebesar 142% bila dibandingkan dengan tanpa pemakaian lapisan
geotekstil.
GEOGRID
Geogrid adalahPerkuatan sistem anyaman.Geogrid berupa lembaran berongga dari
bahan polymer. Pada umumnya sistem serat tikar banyak digunakan untuk
memperkuat badan timbunan pada jalan, lereng atau tanggul dan dinding tegak.
Mekanisme kekuatan perkuatan dapat meningkatkan kuat geser.
Pembangunan jalan diatas tanah lunak dengan metode:
1.

Penggunaan cerucuk kayu yang berfungsi sebagai settlement reducer, yang


walaupun memiliki kelemahan keterbatasan umur material namun telah terbukti dan
diterima sebagai suatu sistem.
2.
Penggunaan sistem Corduroy/geotextile bagian dari tanah soil reinforcement
untuk menaklukkan kuat geser.
3.

Penggunaan sistem Cakar ayam yang dikombinasikan dengan geotextile


diatas tanah lunak.

4.

Menggunakan cerucuk matras beton dengan komponen cerucuk dan matras


dimana setiap unit pelat matras masing-masing berada disebuat titik/cerucut.

5.

Penggunaan bahan expandsed Polysstyrene yang yang mempunyai berat


jenis sangat rendah untuk konstruksi timbunan jalan raya, maupun sebagai lapisan
pendukung fondasi diatas tanah lunak sehingga memperkecil tegangan yang
bekerja.
VERTIKAL DRAIN
Umumnya jenis tanah yang mengalami konsolidasi berlebihan adalah lempung lunak
jenuh. Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan guna perbaikan tanah lunak
terhadap penurunan yang berlebihan (settlemen) dan secara garis besar dapat
dikelompokan dalam tiga kategori : pertama dapat dilakukan dengan memasang
vertical drain, kedua dengan menggunakan cerucuk atau corduroy serta yang ketiga
dengan menggunakan pondasi tiang.
Pertama memasang vertical drain, tanah lempung lunak jenuh adalah tanah
dengan rongga kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah
dibebani memerlukan waktu cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari
tanah secara cepat adalah dengan mebuat vertical drain pada radius tertentu
sehingga air yang terkandung dalam tanah akan termobilisasi keluar melalui vertical
drain yang telah terpasang. Vertical drain ini dapat berupa stone column atau
menggunakan material fabricated yang diproduk oleh geosinindo atau pabrik yang
lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan pekerjaan preload berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban pada tanah
sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan lebih cepat.
Kedua dengan menggunakan cerucuk bamboo atau corduroy, prinsip kerjanya
sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik yang
terbuat dari bamboo (cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy) sehingga saat
tanah dihampar tidak bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan
tersebut membentuk satu kesatuan yang mengapung diatas tanah aslinya semacam
pontoon yang mengapung diatas air. Terdapat pondasi cerucuk bamboo yang telah
dimodifikasi dan dipatentkan oleh Pak Mansyur Irsyam (dosen ITB) yang telah
diaplikasikan pada bebepara daerah di indonesia serta telah terbukti manfaatnya.
Ketiga dengan menggunakan taing pancang, bisa berupa bore pile atau PC spun
pile, sehingga struktur yang akan kita bangun diatas tanah tersebut tidak lagi

menumpuh pada tanah lunak tersebut akan tetap menumpu pada lapisan tanah
keras dibawahnya. Satu hal yang perlu diperhatikan saat merencanakan pondasi
tiang pancang pada tanah lunak adalah negative skin friction.
Dua metode perbaikan tanah lunak yang saya sebutkan pertama cocok diaplikasikan
pada pekerjaan jalan, yard penumpukan barang pada dermaga dll. Sementara untuk
untuk pondasi dari struktur atau proses equipment yang tepat diguanakan adalah
menggunakan pondasi tiang pancang.
Woven Geotextile Reinforcement yaitu Geotextile / geotekstil dengan kekuatan tarik tinggi sehingga
berfungsi sebagai kekuatan ikatan pada konstruksi dinding penahan tanah, dapat menjaga kestabilan
struktur tanah bisa menyalurkan menjadi kuat tarik, sehingga dinding penahan tanah menjadi stabil
dan kuat

Geotextile Woven
Kelebihan
- Bentuknya teratur dan teranyam sehingga memiliki kuat tarik yang besar
(sangat cocok sebagai lapis perkuatan)
- Permeable (tembus air) sehingga bisa digunakan sebagai lapisan penyaring.
Kekurangan
- Tidak tahan terhadap sinar matahari (karena sinar matahari mengandung
sinar UV yang dapat menyebabkan degradasi yang kuat)
- Rentan terhadap tusukan benda tajam
Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang
digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan
pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen
dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak.
Beberapa fungi dari geotekstil yaitu:
untuk perkuatan tanah lunak.
untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama
dan mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan
tanah.
sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan
pelindung.
Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada
kasus:
Timbunan tanah diatas tanah lunak
Timbunan diatas pondasi tiang
Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence
Penggunaan konstruksi perkuatan pada lahan basah pertama kali
dilaporkan dengan menggunakan steel mseh di bawah konstruksi
timbunan pada daerah pasang surut di Perancis. Perbandingan antara

timbunan di atas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa perkuatan


dilaporkan. Dinyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric,
tegangan tarik semua jenis geotextile yang diambil contohnya dari
pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25% sampai 36% dari
tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada
fungsinya.
Pelaksanaan konstruksi jalan di atas lahan basah dengan perkuatan
geotextile dapat menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah
lunak karena rendahnya daya dukung tanah. Keuntungan pemasangan
geotextile pada pelaksanaan jalan di atas tanah lunak adalah kecepatan
dalam pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah di bandingkan
dengan metoda penimbunan konvensional
Jenis geotextile ada 2 ,yaitu;
1. Woven Geotextile (Anyaman)
2. Non-Woven Geotextile (Nir-Anyam)
Penggunan Woven Geotextile akan memberikan hasil yang lebih baik
sebab arah gaya dapat disesuaikan dengan arah serat, sehingga
deformasi dapat dikontrol dengan baik.
Pada non-Woven Geotextile arah serat dalam struktur geotextile tidak
terarah, sehingga apabila dibebani, maka akan terjadi deformasi yang
sangat besar, dan sulit dikontrol.
Dalam penggunaan geotekstil kita harus menetapkan perkuatan sebesar
apa yang dibutuhkan, berikut faktor-faktor yang harus diperhatikan;
1. Jenis geotekstil yang akan digunakan
2. Sifat hubungan dan regangan,hal ini diperlukan agar deformasi yang
terjadi pada konstruksi perkuatan kecil.
3. Sifat pembebanan, Perkuatan di atas tanah lunak,beban timbunan yang
lebih besar akan memerlukan perkuatan dengan tensile strength yang
lebih besar pula.
4. Kondisi lingkungan, Perubahan cuaca, air laut, kondisi asam atau basa
serta mikro organisme seperti bakteri akan mengurangi kekuatan
geotextile.
5. Bahan timbunan yang akan digunakan

Pemasangan Goetextile
Geotekstil pada jalan berfungsi sebagai lapis perkuatan sekaligus sebagai
lapis pemisah (separator) antara material timbunan dengan tanah dasar
sehingga konstruksi jalan menjadi stabil, tidak bergelombang dan rata
pada permukaannya.
Beberapa keuntungan menggunakan geotekstil,diantaranya :
1. Mencegah kontaminasi agregat subbase dan base oleh tanah dasar
lunak dan mendistribusikan beban lalulintas yang efektif melalui lapisanlapisan timbunan.
2. Meniadakan kehilangan agregat timbunan ke dalam tanah dasar
yang lunak dan memperkecil biaya dan kebutuhan tambahan lapisan
agregat terbuang.

3. Mengurangi tebal galian stripping dan meminimalkan pekerjaan


persiapan.
4. Meningkatkan ketahanan agregat timbunan terhadap keruntuhan
setempat pada lokasi beban dengan memperkuat tanah timbunan.
5. Mengurangi penurunan dan deformasi yang tidak merata serta
deformasi dari struktur jadi.
Selain itu, geotekstil juga mempunyai kelemahan, yaitu SINAR
ULTRAVIOLET, karena bahan geosintetik akan mengalami degradasi yang
cepat dibawah terik sinar matahari.
Metode/cara Pemasangan Geotekstil;
1. Geotextile harus digelar di atas tanah dalam keadaan terhampar
tanpa gelombang atau kerutan.
2. Sambungan geotekstil tiap lembarannya dipasang overlapping
terhadap lembaran berikutnya.
3. Pada daerah pemasangan yang berbentuk kurva (misalnya tikungan
jalan), geotekstil dipasang mengikuti arah kurva.
4. Jangan membuat overlapping atau jahitan pada daerah yang searah
dengan beban roda (beban lalu-lintas).
5. Jika Geotextile dipasang untuk terkena langsung sinar matahari maka
digunakan geotekstil yang berwarna hitam.