Anda di halaman 1dari 22

TUGAS ARTIKEL

ILMU BUDAYA DASAR


PERKEMBANGAN BUDAYA JAWA

Oleh:
ALIFUDDIN WACHID
09650153
E

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA


FAKULATAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2009
PERKEMBANGAN BUDAYA JAWA

Sebelum mengulas tentang perkembangan budaya Jawa saat ini kita perlu
mengetahui pengertian dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan berasal dari bahasa
Sanskerta, yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau
akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan dengan budi dan akal.
Kebudayaan didefinisikan sebagai sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak1.
Di masa sekarang perkembangan budaya daerah di Indonesia cenderung
stagnan atau malah bisa terpuruk dikarenakan serbuan budaya-budaya dari luar negeri
terutama kebudayaan barat yang terdukung oleh perkembangan teknologi yang
sekarang ini banyak dikuasai oleh orang-orang dari Eropa dan Amerika. Mereka
menampilkan beragam kebudayaan barat yang sebagian besar sesungguhnya
bertentangan dengan ajaran agama Islam yang banyak dianut oleh masyarakat
Indonesia.
Budaya Jawa berkembang seiring dengan penyebaran penduduk suku Jawa ke
berbagai wilayah di dunia sejak masa penjajahan Belanda hingga masa sekarang.
Seperti yang sudah kita ketahui penduduk suku Jawa telah menyebar hingga ke benua
Amerika yaitu di negara Suriname ketika masa penjajahan Belanda untuk
dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan milik Belanda.
Kebudayaan Jawa terbentuk sejak jaman kerajaan-kerajaan Hindu-Budha
berkuasa di pulau jawa sehingga sebagian besar hasil-hasil kebudayaan Jawa
dipengaruhi oleh unsur-unsur Hindu-Budha. Hal ini terbukti ketika diadakan suatu
acara yang terkadang menggunakan sesajen dari buah-buahan seperti yang dilakukan
umat Hindu di Bali. Hal-hal seperti ini bisa menimbulkan syirik yaitu menyekutukan
Allah sebagai satu-satunya Tuhan di alam semesta. Di beberapa daerah hal ini malah
dijadikan suatu kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun, misalkan setelah panen
raya mereka melakukan “sedekah bumi” dan melarung sebagian hasil bumi mereka ke
sungai atau ke laut dengan harapan musim panen yang akan datang mereka
mendapatkan hasil panen yang melimpah. Kegiatan ini juga dijadikan sebagai penarik
1
Herimanto;Winarno, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Cet. II; Jakarta Timur: Bumi Aksara, 2009),
h.25
wisatawan untuk sekedar melihat prosesi “sedekah bumi” seperti yang terlihat di
dalam foto di bawah ini.

Kegiatan-kegiatan tradisi yang masih tercampur dengan budaya Hindu-Budha


ini sulit dihilangkan karena tersebar ke pelosok-pelosok daerah di mana suku Jawa
tersebut tinggal. Bahkan di kalangan kraton Solo dan Jogjakarta pun saat mengadakan
acara-acara tradisi kraton sering terlihat menggunakan hal-hal berbau klenik yang
menggunakan sesajen ataupun kemenyan.
Dalam perayaan hari-hari besar Islam pun kedua kraton ini mengadakan acara
yang disebut dengan “grebegan” yaitu upacara adat berupa sedekah yang dilakukan
pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan2. Ritual Grebeg ini hanya diadakan
setahun tiga kali. Pertama, saat Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai akhir dari
pesta rakyat, Sekaten, disebut Grebeg Mulud. Kedua, saat memasuki bulan Syawal,
sebagai ungkapan terimakasih karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa,
disebut Grebeg Pasa atau Grebeg Syawal. Dan ketiga, pada tanggal 10 Dzulhijjah atau
10 Besar, yang dikenal sebagai Idul Adha, disebut Grebeg Besar3.
Menilik sejarah, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh,
ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai
dan riuh. Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil
bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari
kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat2.
Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler
(pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan. Gunungan ini dibawa
2
http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html
3
http://wismabahasa.wordpress.com/2007/10/03/tradisi-grebeg-syawal/
oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan
berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah
lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker.
Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo
dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang. Dari
Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-
alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.
Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering
disebut dengan prajurit lombok abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-
merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok. Sebagai catatan, prajurit
Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai “cucuking laku”, alias pasukan garda
terdepan di setiap upacara kraton. Kemudian ketika acara serah terima gunungan di
halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang
berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang
berpakaian putih-putih4.

Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian


didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan. Namun belum selesai doa
diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh
penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut
gunungan. Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang

4
http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html
mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah. Filosofi
berebut atau “ngrayah” ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan,
manusia harus “ngrayah” atau berusaha untuk mengambilnya5.

Kegiatan ini juga sering ditayangkan oleh beberapa stasiun tv nasional.


Reporter mereka mewawancarai beberapa orang yang ikut berebut untuk
mendapatkan bagian dari gunungan tersebur. Alasan mereka umumnya sama yaitu
ingin mendapatkan berkah dari bagian dari gunungan yang mereka dapatkan. Entah
itu rejeki, jodoh, umur panjang, ataupun yang lainnya. Kemudian saat ditanya akan
diapakan bagian yang mereka dapat itu mereka mengatakan bahwa bagian yang
mereka dapat itu akan disimpan di rumah agar mendatangkan keamanan dan
ketentraman di rumahnya atau dijadikan penglaris di tempat ia berdagang.

Memang, tradisi ini tidak lepas dari masuknya pengaruh Islam di tanah Jawa.
Dan hanya di ritual Grebeg inilah rakyat bisa menyaksikan kesepuluh prajurit keraton
dari dekat, terutama saat mereka mengawal Gunungan. Memang hasil bumi dan
jajanan itu dapat dengan mudah ditemui di pasar-pasar, namun segala hal yang berbau
Keraton bagi rakyat Jogja yang masih teguh memegang tradisi adalah sesuatu yang
keramat dan membawa rejeki. Istilahya adalah “Ngalap Berkah”. Terlepas dari aspek
“Ngalap Berkah”, tradisi rutin ini adalah sebuah daya tarik pariwisata bagi kota
Jogjakarta. Tentu saja selain menggaet banyak wisatawan lokal maupun mancanegara,

5
http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html
tradisi budaya ini menunjukkan bahwa Kasultanan Ngayogyakarta bagi rakyat
Jogjakarta tidak hanya sebagai pemerintah tetapi juga sebuah ikon pengabdian rakyat
kepada kepada pemimpinnya yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X.6
Kepercayaan masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan
tersebut membawa berkah bagi dirinya telah menjurus ke arah syirik/menyekutukan
Allah swt. padahal tradisi ini didasari untuk memperingati hari-hari besar Islam.
Seharusnya sudah sejak dari dulu pihak kraton yang mengadakan acara ini telah
mewaspadai terjadinya penyelewengan maksud dari penyelenggaraan tradisi ini.
Sebaiknya tradisi ini dimulai dengan adanya ceramah keagamaan terlebih dahulu dan
mengingatkan bahwa yang maha memberi berkah adalah Allah swt. dan mempercayai
sesuatu selain Allah dapat memberikan keberkahan merupakan salah satu perbuatan
syirik/menyekutukan Allah yang merupakan salah satu dosa yang paling besar.
Selain tradisi grebegan suku Jawa juga memiliki banyak hasil-hasil
kebudayaan yang lain, berikut akan saya ulas beberapa kebudayaan dari suku Jawa.

1. Bahasa Jawa
Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa
terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota
Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara
terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan
kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia7.
Bahasa Jawa menyebar seiring tersebarnya penduduk suku Jawa ke berbagai
daerah baik itu di Indonesia maupun ke mancanegara seperti di Malaysia, Suriname,
dan Belanda. Bahkan di Malaysia terdapat kawasan pemukiman Jawa yang dikenal
dengan nama kampung Jawa atau padang Jawa.
Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa yang
didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah : Lampung
(61,9%), Sumatra Utara (32,6%), Jambi (27,6%), Sumatera Selatan (27%). Khusus
masyarakat Jawa di Sumatra Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak
yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah
Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa

6
http://wismabahasa.wordpress.com/2007/10/03/tradisi-grebeg-syawal/
7
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa
Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui
program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda8.
Di dalam Bahasa Jawa terdapat banyak perbedaan dalam pengucapan
bahasanya atau sering disebut perbedaan dialek. Perbedaan ini diklasifikasikan
menjadi dua yaitu :
1. Dialek menurut daerah
2. Dialek menurut status sosial

Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan
Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia.
Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat.
Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk
klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu kepada pendapat
E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the
Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus Nijhoff8.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat :

1. Dialek Banten
2. Dialek Cirebon
3. Dialek Tegal
4. Dialek Banyumasan
5. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)

Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :

1. Dialek Pekalongan
2. Dialek Kedu
3. Dialek Bagelen
4. Dialek Semarang
5. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
6. Dialek Blora
7. Dialek Surakarta
8
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa
8. Dialek Yogyakarta

Kedua dialek diatas yaitu Dialek Surakarta dan Dialek Yogyakarta dianggap
sebagai bahasa baku dari berbagai macam dialek bahasa Jawa.

9. Dialek Madiun

Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek
Surakarta dan Yogyakarta.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :

1. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)


2. Dialek Surabaya
3. Dialek Malang
4. Dialek Jombang
5. Dialek Tengger
6. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)

Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran.

Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut :

1. Ngoko lugu

Dialek Ngoko lugu ini merupakan dialek yang paling sering digunakan karena
yang paling sering digunakan karena lebih mudah dipelajari dan digunakan daripada
dialek sosial lainnya. Dialek ini digunakan ketika berbicara dengan sesama teman,
kepada orang yang lebih muda umurnya, ataupun kepada seseorang yang lebih rendah
kedudukannya.

2. Ngoko andhap
3. Madhya
4. Madhyantara
5. Krama
6. Krama Inggil
Dialek ini biasanya digunakan ketika berbicara dengan orang tua, kepada
orang yang status sosialnya lebih tinggi, atau kepada seseorang yang kita hormati.

7. Bagongan
8. Kedhaton

Kedua dialek terakhir digunakan di kalangan keluarga Keraton dan sulit dipahami
oleh orang Jawa kebanyakan.

Dengan memakai kata-kata yang berbeda, dalam sebuah kalimat yang secara
tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap
lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Namun harus diakui bahwa
tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya. Biasanya mereka hanya
mengenal ngoko dan sejenis madya9.
Perkembangan bahasa Jawa kini cenderung turun dikarenakan semakin
berkembangnya penggunaan bahasa Indonesia. Hal ini bisa kita temukan di daerah
perkotaan yang biasanya banyak yang berasal dari suku Jawa kita jarang mendengar
pembicaraan yang menggunakan bahasa Jawa padahal daerah tersebut berada di pulau
Jawa. Namun jika kita berada di daerah pedesaan yang sebagian besar dihuni oleh
suku Jawa kita akan mudah menemukan orang yang menggunakan bahasa Jawa.

2. Aksara Jawa
Aksara Jawa adalah jenis tulisan yang digunakan oleh masyarakat suku Jawa.
Aksara Jawa merupakan pengembangan dari huruf Pallawa yang berasal dari
kebudayaan Hindu-Budha India. Masing-masing huruf ini mempunyai makna
tersendiri, berikut makna-makna dari masing-masing aksara Jawa :

Ha Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara - pengharapan manusia hanya


selalu ke sinar Illahi

Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi - arah dan tujuan pada Yang Maha
Tunggal

Ra Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani

9
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat diarahkan untuk kesajeteraan
alam

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya

Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa - mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam
memandang hidup

Sa Sifat ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan

Wa Wujud hana tan kena kinira - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya
bisa tanpa batas

La Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi

Pa Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah

Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar

Ja Jumbuhing kawula lan Gusti - Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya

Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah/kodrat Illahi

Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap dalam menyembah Ilahi

Ga Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani

Ba Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam

Tha Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan

Nga Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi manusia.

Aksara Jawa memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi


menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8
pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan
lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf
khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).
Huruf dasar (aksara nglegena)

Pada aksara Jawa hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena),
yang biasa diurutkan menjadi suatu "cerita pendek". Berikut ini adalah aksara
nglegena:

Huruf pasangan (Aksara pasangan)

Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai


contoh, untuk menuliskan mangan sega akan diperlukan pasangan untuk "se" agar "n"
pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan "s" tulisan akan terbaca manganasega.
Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga
penggunaan pasangan dapat memperjelas makna kata.
Huruf utama (aksara murda)

Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (mirip dengan huruf kapital)
yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :
 Nama Gelar
 Nama Diri
 Nama Geografi
 Nama Lembaga Pemerintah
 Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum.

Huruf Vokal Mandiri (aksara swara)

Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan


tertentu. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan
aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari bahasa asing, untuk
mempertegas pelafalannya.

Sandhangan Aksara Jawa

Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan
Jawa. Di dalam tulisan jawa, aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan
sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. Vokal a di dalam bahasa Jawa
mempunya dua macam varian, yakni / / dan /a/.
• Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom, pokok, tolong, tokoh doi dalam
bahasa Indonesia

• Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada kata pas, ada, siapa, semua di dalam
bahasa Indonesia

Sandangan di dalam aksara jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni
sebagai berikut :

1. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara)


2. Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda)
3. Sandangan Gugus Konsonan
Tanda-tanda Baca (pratandha)

Dalam Aksara Jawa terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam
penulisan kalimat, paragraf dan lainnya. Berikut tanda baca dalam aksara
Jawa:

Angka Jawa

 Angka Jawa dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Angka
jawa adalah sebagai berikut :
 Angka dipakai untuk menyatakan angka dipakai untuk menyatakan (i) Ukuran
panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Penulisan angka untuk kasus ini dilakukan dengan mengapitkan tanda pada
pangkat di awal dan di akhir penulisan angka.

 Untuk menuliskan satuan dari suatu bilangan, maka satuan itu bisa dituliskan
dalam bentuk kata lengkapnya. sebagai contoh kilogram, meter, kilometer, dan
sebagainya.

Penggunaan (pengejaan) hanacaraka dilokakaryakan pertama kali pada tahun


1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan
dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada
saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa
Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton
Sriwedari (Ketetapan Sriwedari), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan
tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena lokakarya itu berlangsung di Sriwedari,
Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-
tarung bagi bunyi /o/. Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak
dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi
"Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.
Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring
dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam
mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama
(SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun
1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-
sekolah di ketiga provinsi tersebut.
Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres
Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini
adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar +
imbuhan).

Penggunaan aksara Hanacaraka


Aksara Jawa masih diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah berbahasa Jawa
sampai sekarang (Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta), sebagai
bagian dari muatan lokal dari kelas 3 hingga kelas 5 SD. Walaupun demikian,
penggunaannya dalam surat-surat resmi/penting, surat kabar, televisi, media luar
ruang, dan sebagainya sangatlah terbatas dan terdesak oleh penggunaan alfabet Latin
yang lebih mudah diakses. Beberapa surat kabar dan majalah lokal memiliki kolom
menggunakan aksara Jawa.
Penguasaan aksara ini dianggap penting untuk mempelajari naskah-naskah
lama, tetapi tidak terlihat usaha untuk menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari.
Usaha-usaha revivalisasi bersifat simbolik dan tidak fungsional, seperti pada
penulisan nama jalan atau kampung. Salah satu penghambatnya adalah tidak adanya
usaha ke arah pengembangan ortografi/tipografi aksara ini.

Integrasi Hanacaraka ke dalam sistem informasi komputer


Usaha-usaha untuk mengintegrasikan aksara ini ke sistem informasi elektronik
telah dilakukan sejak 1983 oleh peneliti dari Universitas Leiden (dipimpin Willem
van der Molen). Integrasi ini diperlukan agar setiap anggota aksara Jawa memiliki
kode yang khas yang diakui di seluruh dunia.
Jeroen Hellingman mengajukan proposal untuk mendaftarkan aksara ini ke
Unicode pada pertengahan tahun 1993 dan Maret 1998. Selanjutnya, Jason Glavy
membuat "font" aksara Jawa yang diedarkan secara bebas sejak 2002 dan mengajukan
proposal pula ke Unicode. Di Indonesia Ermawan Pratomo membuat hanacaraka font
pada tahun 2001, Teguh Budi Sayoga pada tahun 2004 telah pula membuat suatu font
aksara Jawa untuk Windows (disebut "Hanacaraka") berdasarkan ANSI. Matthew
Arciniega membuat screen font untuk Mac pada tahun 1992 dan ia namakan
"Surakarta". Yang terbaru adalah yang digarap oleh Bayu Kusuma Purwanto (2006),
yang dapat diekspor ke dalam html.
Baru sejak awal 2005 dilakukan usaha bertahap yang nyata untuk
mengintegrasikan aksara Jawa ke dalam Unicode setelah Michael Everson membuat
suatu code table sementara untuk didaftarkan. Kelambatan ini terjadi karena
kurangnya dukungan dari masyarakat pengguna aksara ini. Baru semenjak masa ini
mulai terhimpun dukungan dari masyarakat pengguna. Aksara Jawa Hanacaraka saat
ini telah dirilis dalam Unicode versi 5.2 (tergabung dalam Amandemen 6) yang keluar
pada tanggal 1 Oktober 2009. Alokasi Memori Aksara Jawa (Javanese) pada Unicode
5.2.0 adalah di alamat A980 sampai dengan A9DF.
3. Batik
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang
bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". Batik adalah salah satu cara
pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama
adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah
pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai
wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan
teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.
Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif
dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan
Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and
Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi
bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan
Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata
pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif
perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-
laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik
pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega
Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi
kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun,
sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu.
Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini,
beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan
Surakarta.
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing.
Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak
hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai
pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah.
Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga
mempopulerkan corak phoenix.
Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya
adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga
benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga
warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap
mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena
biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing10.
Kini batik berkembang dengan pesat, batik yang dulunya hanya digunakan
ketika menghadiri acara-acara resmi kini telah mulai digunakan sebagai pakaian
sehari-hari. Desain batik juga berkembang pesat dengan semakin bertambahnya
jumlah desainer/perancang baju yang menerjunkan diri untuk mengembangkan batik
dan memperkenalkannya ke negara-negara lain.

4. Wayang
Wayang ada yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang
dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka
yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa
wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang
biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di
Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog
tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan
sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang
memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih,
sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong),
10
http://id.wikipedia.org/wiki/Batik
sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan
wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton
harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di
layar.

Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan


Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa
juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7
November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita
narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible
Heritage of Humanity)11.
Generasi sekarang pada umumnya kurang menyukai pertunjukan wayang, hal
ini mungkin disebabkan karena jarang adanya pementasan, dan kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang wayang. Mereka lebih menyukai film atau sinetron
yang ditayangkan setiap hari di televisi.

5. Gamelan Jawa
Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang digubah oleh Sunan Bonang,
guna mendorong kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam Malakut) ”Tombo
Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut masih
dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam, juga pada pentas-pentas seperti wayang atau
acara-acara kraton.

11
http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit
Kini gamelan semakin dikenal oleh masyarakat mancanegara dengan
diperkenalkannya ke negara-negara lain lewat promosi pariwisata yang sering
dilakukan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Bahkan banyak orang luar
yang ingin mempelajari cara bermain gamelan. Namun sayangnya, kita sebagai
bangsa pemilik budaya tersebut malah sering tidak mengerti tentang budaya milik
sendiri.

6. Keris
Keris adalah senjata tikam suku jawa yang menjadi salah satu ciri khas
Indonesia. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah
digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan
sebelum masa tersebut. Menteri Kebudyaan Indonesia, Jero Wacik telah membawa
keris ke UNESCO dan meminta jaminan bahwa ini adalah warisan budaya Indonesia.

Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa


sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura,
Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia,
Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao). Di Mindanao, bentuk
senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga
merupakan senjata tikam.
Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-
kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa
menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda. Selain
digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan
supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional,
seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah
Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa
damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra,
Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.
Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris
tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai
logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan
berupa pamor pada bilahnya12.
Di masa kini keris hanya dijadikan sebagai hiasan penghias rumah saja. Akan
tetapi penggemar keris tetap banyak dijumpai karena mereka menganggap keris
adalah barang yang sangat berharga.
Masih banyak lagi hasil-hasil budaya dari suku Jawa yang belum tersebutkan.
Bisa kita lihat dengan banyaknya hasil-hasil budaya dari suku Jawa menunjukkan
bahwa budaya Jawa adalah budaya yang kaya akan budaya. Akan tetapi kita harus
selalu berusaha melestarikan budaya-budaya daerah agar budaya daerah kita tidak
punah ditelan kemajuan jaman dan bisa dinikmati oleh generasi-generasi penerus kita
di masa mendatang.

12
http://id.wikipedia.org/wiki/Keris
DAFTAR PUSTAKA

http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html
http://wismabahasa.wordpress.com/2007/10/03/tradisi-grebeg-syawal/
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa
http://id.wikibooks.org/wiki/pengantar_aksara_jawa
http://id.wikipedia.org/wiki/hanacaraka
http://id.wikipedia.org/wiki/Batik
http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit
http://id.wikipedia.org/wiki/Keris