Anda di halaman 1dari 7

PEMANFAATAN GULA BUBUK AREN

SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PERMEN ANTI DIABETES

NAMA

: MUHAMMAD ZIMAMUL ADLI

NRP

: G74090063

Mahasiswa Program Tingkat Persiapan Bersama


Bogor Agricultural University - http://www.ipb.ac.id"
2010

Di Indonesia gula bubuk aren berpotensi menjadi salah satu komoditas


substitusi gula pasir andalan di dalam negeri di samping dapat berperan untuk
menekan ketergantungan terhadap impor gula. Persoalan mendasar yang dihadapi
adalah adanya kesenjangan antara tingkat produksi di dalam negeri dengan
kebutuhan konsumsi gula oleh masyarakat. Menurut Dewan Gula Indonesia
(2004) setiap tahunnya produksi gula dalam negeri rata-rata sekitar 2.1 juta ton
sedangkan permintaan untuk konsumsi gula masyarakat mencapai rata-rata 2,7
juta ton sehingga setiap tahun diperlukan impor gula minimal 0,5 juta ton.
Konsumsi gula pasir menunjukkan peningkatan tahun ke tahun. Sedangkan
peningkatan produksi gula belum dapat memenuhi konsumsi gula dalam negri
yang terus meningkat (Koestono, 1991). Sehingga pemerintah perlu mengimpor
gula untuk memenuhi konsumsi gula tersebut. Berkaitan dengan masalah tersebut
di atas maka diperlukan upaya untuk membantu pemerintah dalam rangka
swasembada gula.
Persoalan ini sebenarnya merupakan tantangan bagi para pabrik gula atau
koperasi untuk mengantisipasinya menjadi peluang usaha dengan cara memenuhi
sebagian dari permintaan pasar terhadap gula. Salah satu diantaranya adalah
melalui produk gula yang berasal dari tanaman Aren. Tanaman Aren adalah
tanaman yang mirip pohon kelapa yang dapat mencapai ketinggian hingga 20
meter dengan garis tengah batang mencapai 65 cm. Bahan baku pembuatan gula
bubuk aren diperoleh dari sari gula atau yang sering disebut nira.
Gula bubuk aren, semula hanya diproduksi sebagai gula cetak, sedangkan
pengolahan menjadi gula bubuk atau gula pasir sementara ini masih sangat
terbatas. Dibandingkan dengan gula pasir yang berasal dari tebu, gula bubuk aren
yang berasal dari sadapan nira pohon aren mempunyai beberapa kelebihan.
Produk gula bubuk aren selain dikonsumsi di dalam negeri juga diminati oleh
pasar ekspor terutama dalam bentuk gula Semut. Negara-negara tujuan ekspor
tersebut antara lain Jepang, AS dan Eropa. Gula bubuk aren dari Indonesia dapat
diterima di pasar manca negara karena memiliki kandungan dan aroma yang
berbeda dengan produks dari negara lain. Aromanya yang harum dan legit
memberikan citra rasa tersendiri terhadap produk pangan.

Proses pembuatan gula bubuk aren


Untuk memperoleh gula bubuk aren yang berkualitas tinggi tentunya
sangat tergantung pada kualitas nira yang diproses. Pembuatan gula bubuk aren
meliputi proses : (1) Penampungan nira, (2) penyaringan nira, (3) pemasakan (4)
pengadukan secara berlahan-lahan sampai berbentuk butiran (5) Pengayakan.

Sumber : Food Review Indonesia

Bambang et al. (2008), pengayakan merupakan salah satu cara untuk


memperoleh keragaman. Dalam proses pengayakan dilakukan pemisahan ukuranukuran dari butiran partikel gula bubuk aren dari ukuran kasar sampai ukuran
yang paling halus. Proses ini dilakukan untuk menentukan ukuran rata-rata setiap
partikel dan kelembutan butiran-butiran partikel. Untuk tepung aren, sekurangkurangnya harus lolos ayakan 80 mesh.

Menurut Joseph et al. (1994), nira yang disadap pada pagi hari memiliki
pH lebih rendah dari nira yang ditampung pada sore hari. Nira disadap sore hari.
Hal ini, karena pada siang hari penguapan lebih besar dibandingkan pada malam
hari. Hasil analisis Joseph et al. (1994) mengungkapkan bahwa perlakuan
terhadap penampungan berpengaruh nyata terhadap kadar sukrosa nira yang
disadap pada sore hari, tetapi tidak begitu berpengaruh nyata pada sukrosa yang
disadap pada pagi hari.
Nira yang digunakan sebagai bahan baku gula sebaiknya berkadar sukrosa
di atas 12 persen. Rumokoi (1990) kekhasan gula bubuk aren dari segi kimianya
dibandingkan dengan gula lainnya bahwa gula bubuk aren mengandung sukrosa
lebih tinggi (84%) dibandingkan dengan gula tebu (20%) dan gula bit (17%).

Proses pembuatan permen dan pengemasan


Hard candy adalah sebutan untuk permen yang mengalami pengolahan
pada

suhu

140-150

C.

(Hanny

et

al.,

2000).

Proses

pembuatan

permen,menggunakan sukrosa sebagai bahan utama hal ini penggunaan gula


bubuk aren yang meliputi proses : (1) Pemberian gula bubuk aren dan air mineral,
(2) dipanaskan dan didihkan sampai menjadi gula cair, (3) tambahkan sirup
glukosa, (4) penambahan komponen flavor sesuai dengan keinginandan aduk, (5)
cetak, dan (6) pengemasan.
Pengemasan mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan
mutu suatu bahan pangan. Pengemasan telah dianggap sebagai bagian integral dari
proses produksi. Menurut Syarief dan Irawati (1988), kemasan memiliki fungsi
sebagai wadah untuk menempatkan produk dan memberi bentuk sehingga lebih
memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi, memberi
perlindungan terhadap mutu produk dari kontaminasi luar dan kerusakan, dan
menambah daya tarik produk. Sehingga nantinya permen gula bubuk aren ini siap
dijual dalam skala besar baik dalam negeri maupun di ekspor keluar negeri.
Gula bubuk aren ditinjau dari aspek kesehatan
Gula bubuk aren mempunyai empat keunggulan. Pertama, rasa gula bubuk
aren manis dan lezat yang pas dan cocok dengan lidah Asia dan Indonesia. Orang
yang pernah mencoba berkomentar bahwa Gula bubuk aren adalah pemanis yang
paling lezat. Kedua, gula bubuk aren memiliki Indeks Glisemik yang sangat
rendah yaitu (IG 35) , artinya produksi glukosa berlangsung lambat sehingga
pankreas tidak perlu kerja keras lagi. Jangankan bagi orang sehat, pada beberapa
penderita diabetes terbukti turun kadar gula darahnya setelah mengganti gula
putih dengan gula bubuk aren. Selain itu IG yang rendah membuat glukosa
terbentuk secara perlahan yang berarti pula energi juga tercipta secara perlahan
sehingga tubuh bugar lebih lama. Ketiga, selama proses pembuatannya, tak ada
sedikitpun bahan kimia yang ditambahkan, sehingga lebih aman dikonsumsi.
Keempat, gula bubuk aren banyak mengandung unsur farmakologi yang
bermanfaat seperti Riboflavin, Thiamin, Niacin, Ascorbic Acid, Kalsium dan lainlainnya. (Anonim, 2010)

Riboflavin berfungsi menghasilkan anti bodi, membantu terbentuknya


energi , memperbaiki kerusakan sel saat proses produksi energi, memperbaiki
jaringan sistem pencernaan dan lain-lain. Thiamin berfungsi sebagai koenzim
dalam metabolisme energi , membantu tubuh menggunakan protein, memperkuat
sistem syaraf dan lain-lain. Niacin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme
glukosa, lemak dan alkohol. Selain itu Niacin juga meningkatkan fungsi kerja otak
dan menurunkan kadar kolesterol LDL. Ascorbis Acid memiliki fungsi antibiotik,
mencegah asthma dan dapat mencegah kanker. Jadi sangat wajar apabila, para
pengguna gual pasir aren menyebut bahwa gula bubuk aren adalah solusi hidup
sehat yang paling nikmat dan lezat. (Anonim, 2010)
Gula bubuk aren untuk kebutuhan industri
Mutu gula bubuk aren yang diinginkan industri cukup beragam, tergantung
pada produk yang hendak dibuat. Salah satunya dengan membuat inovasi gula
bubuk aren dari bentuk tradisionalnya, diolah menjadi gula bubuk atau gula bubuk
aren, sehingga dapat mendongkrak nilai tambah gula ini. Konsumen tidak perlu
lagi mengiris, mengencerkannya dan menyaring sebelum menggunakannya.
Dengan begitu pemakaiannya bisa sesuai takaran dan kebutuhan.
Perubahan bentuk inilah yang kian mendorong menggunakan gula bubuk
aren untuk memenuhi kebutuhan rasa manis sehari-hari. Kepraktisan ini membuat
kalangan industri pangan ikut melirik. Mereka turut berinovasi untuk menciptakan
aneka produk baru yang mengandung gula bubuk aren yaitu sebagai bahan utama
pembuatan permen. Hal ini, disebabkan permintaan permen dipasaran sangatlah
tinggi dari anak kecil sampai orang dewasa karena disamping harganya ekonomis,
permen memberikan sensasi yang berbeda terhadap seseorang yang memakannya
seperti menghilangkan rasa ngantuk dan kebosanan.
Disamping memberikan sensasi yang berbeda, permen gula bubuk aren
dapat mencegah penyakit diabetes sehingga dengan tuntutan zaman maka
masyarakat

berlomba-lomba mencari makanan yang praktis menyehatkan

sehingga prospek industri gula bubuk aren saat ini sangat bagus.

Sementara itu, kebutuhan gula bubuk aren nasional masih dipasok oleh
sentra-sentra dan industri kecil rumahan, Perlu adanya pengolahan gula bubuk
aren berskala industri besar. Dalam kenyataannya pengembangan agribisnis gula
bubuk aren masih menghadapi hambatan teknis, seperti rendahnya keterampilan
petani, rendahnya hasil produksi dan nilai tambah. Sejumlah standart ketat juga
harus diberlakukan meliputi kadar air, tingkat kelembaban yang diminta industri
biasanya 2 0.8 % dengan ukuran butiran dalam satuan mesh # 20-30. Setelah itu,
produk gula bubuk aren juga harus lolos dalam biological test laboratorium
dengan hasil negatif untuk kapang dan khamir, Bacciluscereu, E. Coli,
Salmonella, dan lain-lain.
Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah operasional yaitu (1) pelatihan
teknis dan managemen, (2) penerapan budaya aren secara sistematis dan prasaran
pengolahan (3) penerapan budidaya aren secara sistematis untuk meningkatkan
posisi tawar petani dapat ditempuh melalui pemberdayaan kelompok tani aren
dengan mewujudkan sistem pemasaran secara kolektif dengan koperasi atau
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan),disertai peningkatan keterampilan petani.
Dengan pengolahan yang bagus menggunakan konsep ekonomi kerakyatan
dilakukan sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih
mengutamakan pemberdayaan masyarakat maka diharapkan bisa menciptakan
lapangan kerja yang dapat menanggulangi persoalan bangsa Indonesia dari
pengangguran.
Menurut Mubyarto, pada dasarnya, paradigma ekonomi kerakyatan adalah
tatanan ekonomi yang berasaskan kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral
Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada rakyat yang
lemah. Pemihakan kepada rakyat ini seharusnya diwujudkan pemerintah melalui
berbagai kebijakan ekonmomi dan regulasi yang dikeluarkannya.
Dengan Inovasi yang dilakukan maka gula aren bisa menjadi produk
unggulan dalam negeri yang berskala internasional. Hal ini, di butuhkan
kerjasama antara pemerintah pemilik pabrik permen dalam negeri sebagai
penyokong dana dan pengelolaan managen pemasaran dan pemilik lahan pohon
aren sebagai penyedia bahan utama permen.

Sumber Pustaka
Anonim. 2010. Pencegahan Diabetes. [Terhubung berkala]. Diambil tanggal 13
Mei 2010. http://bandrekpigeons.blogspot.com/2010/04/cegah-diabetesdengan-gula-aren.html
Anonim. 2010. Gula Bubuk Aren. [Terhubung berkala]. Diambil tanggal 13 Mei
2010 http://www.foodreview.biz/index1.php
Anonim. 2010. Gula Semut. [Terhubung berkala]. Diambil tanggal 13 Mei 2010.
http://wb4.indo-work.com/pdimage/95/282395_gulasemut2.jpg
Direktorat Riset dan Kajian Strategis. 2000. Diambil tanggal 13 Mei 2010.

http://rks.ipb.ac.id/hki/detail_invensi.php?data=klaim&&judul=41&&smenu
=Klaim
Direktorat Riset dan Kajian Strategis. 2000. Diambil tanggal 13 Mei 2010.

iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/.../Bambang%20Purwantana2.pdf
Direktorat Riset dan Kajian Strategis. 2000. Diambil tanggal 13 Mei 2010.

iirc.ipb.ac.id/.../YandraArkeman_StrategiPeningkatanDayaSaingIndustri.pdf
Lembaga Peneliti dan Pengembangan kepada Masyarakat. 2009. Diambil tanggal
13 Mei 2010.
http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=warta/isinews&id=1462
Lembaga Peneliti dan Pengembangan kepada Masyarakat. 2009. Diambil tanggal
13 Mei 2010.
http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/hasilcari.php?status=buka&id_hasli
t=51
Kajian Gula Aren KSU Sukamaju. 2005. Diambil tanggal 13 Mei 2010.
www.smecda.com/kajian/files/hslkajian/kajian_gula_aren.pdf