Anda di halaman 1dari 16

Mahfuz Idafi

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM LINGKUNGAN
PERCOBAAN V
KESADAHAN

NAMA : MAHFUZ IDAFI


NIM : H1E107017
KELOMPOK : 6 (Enam)
ASISTEN : ARINI PURNAMASARI

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2009

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN V
KESADAHAN

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur kesadahan sampel
air.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Kesadahan berasal dari kata sadah yang berarti mengandung kapur, jadi
kalau kesadahan air adalah adanya kandungan kapur yang berlebih pada air
yang disebabkan oleh lapisan tanah kapur yang dilaluinya. Jenis sumber air
yang yang banya mengandung sadah air tanah khususnya air tanah dalam. Air
sadah dapat menyebabkan sabun sukar berbuih, hal ini diakibatkan oleh
kandungan natrium stearat (C17H35COONa) dalam sabun yang beraksi dengan
ion-ion Mg2+ dan Ca2+ yang memebenuk busa buih yang mengendap,
Mg2+ (aq) + 2 C17H35COO- (aq) Mg(C17H35COO)2 (aq)
Ca2+ (aq) + 2 C17H35COO- (aq) Ca(C17H35COO)2 (aq)
Karena sabun diendapkan, maka busa sabun baru akan terbentuk bila
semua ion-ion magnesium dan kalsium telah terendapkan. Ini berarti untuk
mencuci diperlukan sabun dengan jumlah yang banyak (Kusuma, 2007).
Kesadahan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
a. Kesadahan sementara
Adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Ca2+ dan Mg2+ yang
berikatan dengan ion karbonat dan bikarbonat. Air sadah sementara dapat
terjadi secara alami ketika air hujan melarutkan sedikit karbon dioksida
udara, sehingga air hujan itu mengandung asam karbonat. Kaika air hujan ini
melewati daerah berkapur air tersebut akan menyerap dan menghanyutkan
kapur sehingga terbentuk hidrogen-karbonat larut,
CaCO3 (s) + CO2(s) + H2O Ca(HCO)3 (aq)

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

b. Kesadahan tetap
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Ca2+ dan
Mg2+ yang berikatan dengan ion Cl-, SO42-, NO3-, contohnya CaCl2, MgSO4.
Kesadahan tetap terjadi ketika air melewati daerah bebatuan yang
mengandung sulfat magnesium dan kalsium. Kesadahan ini tidak dapat
dihilangkan hanya dengan pendidihan atau dengan penambahan kapur mati,
tetapi dapat dihilang dengan penambahan soda basuh atau menggunakan
proses permutit (yang juga dapat dipakai untuk air sadah sementara)
(Kusuma, 2007).
Kesadahan atau beberapa orang secara ilmiah menyebut sebagai sifat
‘kekerasan’ air. Ini sebetulnya adalah jumlah kandungan mineral dalam air.
Air murni adalah bebas dari kandungan mineral. Tapi tubuh kita sebenarnya
juga butuh mineral, yang bisa diperoleh dari makanan atau air yang kita
minum. Jadi mungkin kandungan mineral sampai batas tertentu justru
dibutuhkan oleh tubuh. Kandungan mineral yang berlebih tolok ukurnya bisa
kita lihat bila kita memasak air dalam teko, pada dasar teko terkadang
didapati semacam endapan putih keras rapuh seperti wujud garam-garaman.
Itulah kumpulan mineral tadi yang mengkristal dengan mudah pada panas
tertentu. Bila kita selalu mengkonsumsi air dengan kandungan mineral
berlebih, mineralmineral sisa dari kelebihan yang dibutuhkan tubuh kita akan
menggumpal di ginjal yang sering kita sebut dengan batu ginjal. Makanya
kemudian terkadang orang memilih meminum air dengan kandungan mineral
minimum, dengan harapan kebutuhan mineral tubuh tercukupi dengan
mengatur pola makan yang baik (Amrih, 2005).
Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal
sebagai “air sadah”, atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa
kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan
mencegah terjadinya busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium
dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu
cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat
yang akhirnya menjadi kerak (Atastina, 2004).

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Kesadahan didefinisikan sebagai kemampuan air dalam mengkonsumsi


sejumlah sabun secara berlebihan serta mengakibatkan pengerakan pada
pemanas air, boiler, atau pemanasan lainnya. Hal ini disebabkan adanya
kehadiran ion-ion metal polivalen, terutama kalsium dan magnesium. Ca2+
dan Mg2+ dapat bereaksi dengan sabun sehingga membentuk garam-garam
organik yang tidak melarut dan berbentuk sebagai busa pada permukaan air
(Tirta, 2007)
Kesadahan air disebabkan oleh Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg).
Kesadahan air dibagi menjadi dua yaitu kesadahan tetap dan kesadahan
sementara. Kesadahan tetap yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam –
garam nonbikarbonat seperti CaNO3, MgNO3 dan CaSO4, garam seperti ini
banyak ditemukan di perairan pantai tergolong kesadahan tetap perlu adanya
sistem pengolahan dan penambahan senyawa-senyawa penurun tegangan
muka dari air sadah tersebut. dan kesadahan sementara disebabkan oleh
garam – garam bikarbonat yaitu Ca(HCO3) dan Mg(HCO3), garam bikarbonat
jenis ini biasa ditemukan di daerah pegunungan atau tanah vulkanis.
Tergolong kesadahan sementara sangat mudah menurunkanya yaitu dengan
jalan pemanasan. Pengaruh air sadah yaitu:
1. menimbulkan kerak.
2. menimbulkan penyumbatan pada saluran air.
3. menimbulkan pengapuran dalam pembuluh darah.
4. pemborosan sabun (Hastomo, 2007).
Kesadahan yang terdapat di dalam air, (baik itu air permukaan ataupun
air tanah), biasanya akibat terlarutnya garam kalsium dan magnesium oleh air
yang mengalir pada batuan/tanah. Biasanya batuan/tanah tersebut banyak
mengandung mineral limestone, dolomite dan gypsum. Larutan tersebut dapat
berupa garam CaSO4, CaCl2 dan MgSO4, MgCl2 yang disebut kesadahan
tetap, ataupun dapat berupa Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 yang disebut
kesadahan sementara. Kesadahan tetap/sementara tidak diinginkan di dalam
suatu proses industri baik itu sebagai bahan baku air pengisi ketel uap atau
pun proses/industri kimia yang perlu kemurnian tinggi. Untuk penyediaan air
pada laboratorium kimia yang bebas dari unsur kalsium, magnesium dan

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

klorida cukup sulit. Unsur tersebut sulit dihilangkan, perlu suatu proses
gabungan antara destilasi dan demineralisasi (penukar ion) untuk
menghilangkannya (Yudhi, 2006)
Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa
apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat
membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air
berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Kesadahan sangat penting
artinya bagi para akuaris karena kesadahan merupakan salah satu petunjuk
kualitas air yang diperlukan bagi ikan. Tidak semua ikan dapat hidup pada
nilai kesadahan yang sama. Dengan kata lain, setiap jenis ikan memerlukan
prasarat nilai kesadahan pada selang tertentu untuk hidupnya. Disamping itu,
kesadahan juga merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya
dengan usaha untuk memanipulasi nilai pH (Ardiyansyah, 2006).
Secara lebih rinci kesadahan dibagi dalam dua tipe, yaitu: kesadahan
umum (”general hardness” atau GH) dan kesadahan karbonat (”carbonate
hardness” atau KH). Disamping dua tipe kesadahan tersebut, dikenal pula
tipe kesadahan yang lain yaitu yang disebut sebagai kesadahan total atau total
hardness. Kesadahan total merupakan penjumlahan dari GH dan KH.
Penggunaan paramater kesadahan total sering sekali membingungkan, oleh
karena itu, sebaiknya penggunaan parameter ini dihindarkan. GH Kesadahan
umum atau “General Hardness” merupakan ukuran yang menunjukkan
jumlah ion kalsium (Ca2+) dan ion magnesium (Mg2+) dalam air. Ion-ion lain
sebenarnya ikut pula mempengaruhi nilai GH, akan tetapi pengaruhnya
diketahui sangat kecil dan relatif sulit diukur sehingga diabaikan. GH pada
umumnya dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/ satu persejuta
bagian) kalsium karbonat (CaCO3), tingkat kekerasan (dH), atau dengan
menggunakan konsentrasi molar CaCO3. Satu satuan kesadahan Jerman atau
dH sama dengan 10 mg CaO (kalsium oksida) per liter air. Di Amerika,
kesadahan pada umumnya menggunakan satuan ppm CaCO3, dengan
demikian satu satuan Jerman (dH) dapat diekspresikan sebagai 17.8 ppm
CaCO3. Sedangkan satuan konsentrasi molar dari 1 mili ekuivalen = 2,8 dH =
50 ppm. Perlu diperhatikan bahwa kebanyakan teskit pengukur kesadahan

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

menggunakan satuan CaCO3. Berikut adalah kriteria selang kesadahan yang


biasa dipakai:
1. 0 - 4 dH, 0 - 70 ppm : sangat rendah (sangat lunak)
2. 4 - 8 dH, 70 - 140 ppm : rendah (lunak)
3. 8 - 12 dH, 140 - 210 ppm : sedang
4. 12 - 18 dH, 210 - 320 ppm : agak tinggi (agak keras)
5. 18 - 30 dH, 320 - 530 ppm : tinggi (keras) (Ardiyansyah, 2006).
Kesadahan perairan berasal dari kontak air dengan tanah dan bebatuan.
Air hujan sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk melarutkan ion-ion
penyusun kesadahan yang banyak terikat di dalam tanah dan batuan kapur
(limestone), meskipun memiliki kadar karbondioksida yang relatif tinggi.
Larutnya ion-ion yang dapat meningkatkan nilai kesadahan tersebut lebih
banyak disebabkan oleh aktivitas bakteri di dalam tanah, yang banyak
mengeluarkan karbondioksida (Effendi, 2003).

III. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
Alat–alat yang digunakan meliputi pipet, gelas beaker, gelas ukur,
labu erlenmeyer, buret, statif, spatula, dan neraca analitik.

B. BAHAN
Bahan yang digunakan meliputi sampel air sumur Loktabat, sampel
air sumur Cempaka, sampel air sumur Martapura, sampel air sumur
Banjarbaru, larutan EDTA 1/28 N, larutan standar kalsium, larutan
buffer pH 10, larutan buffer pH 12, indikator EBT, indikator Murexida,
larutan KCN 10 %, dan aquadest.

IV. CARA KERJA


A. Standarisasi Larutan EDTA 1/28 N Menggunakan Indikator
EBT
1. Memipet 10 ml larutan standar kalsium dan
memasukkannya ke dalam labu erlenmeyer.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

2. Menambahkan 5 ml larutan buffer pH 10.


3. Menambahkan 50 mg indikator EBT.
4. Mentitrasi dengan larutan EDTA 1/28 N sampai cairan
berubah warna dari ungu menjadi biru laut.

B. Standarisasi Larutan EDTA 1/28 N Menggunakan Indikator


Murexida
1. Memipet 20 ml larutan standar kalsium dan
memasukkannya ke dalam labu erlenmeyer.
2. Menambahkan 1 ml larutan buffer pH 12.
3. Menambahkan 50 mg indikator Murexida.
4. Mentitrasi dengan larutan EDTA 1/28 N sampai cairan
berubah warna dari merah menjadi ungu.

C. Pengukuran Kesadahan Total (Kalsium + Magnesium)


1. Memasukkan 100 ml contoh air ke dalam labu
erlenmeyer.
2. Menambahkan 5 ml larutan buffer pH 10.
3. Menambahkan 1 ml larutan KCN 10 % jika cairan
menjadi keruh.
4. Menambahkan 100 mg indikator EBT.
5. Mentitrasi dengan larutan EDTA 1/28 N sampai cairan
berubah warna menjadi biru laut.
6. Mencatat ml EDTA yang diperlukan.

D. Pengukuran Kesadahan Kalsium


1. Memasukkan 100 ml contoh air ke dalam labu erlenmeyer.
2. Menambahkan 1 ml larutan buffer pH 12.
3. Menambahkan 1 ml larutan KCN 10 % jika cairan menjadi
keruh.
4. Menambahkan 50 mg indikator Murexida.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

5. Mentitrasi dengan larutan EDTA 1/28 N sampai cairan


berubah warna menjadi ungu.
6. Mencatat ml EDTA yang diperlukan.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1. Standarisasi Larutan EDTA 1/28 N
Volume
No. Indikator Perubahan Warna
Titrasi
1. EBT 1,3 ml Ungu muda menjadi biru muda
2. Murexida 1 ml Merah - ungu menjadi ungu

2. Pengukuran Kesadahan Total (Kalsium + Magnesium)


Volume Perubahan Warna
No. Jenis Sampel
Titrasi
1. Air sumur
Loktabat 1,6 ml Ungu muda menjadi biru muda

2. Air sumur
1,6 ml Ungu muda menjadi biru muda
Cempaka
3. Air sumur
3,2 ml Ungu muda menjadi biru muda
Martapura
4. Air sumur
1 ml Ungu muda menjadi biru muda
Banjarbaru

3. Pengukuran Kesadahan Kalsium


Volume Perubahan Warna
No. Jenis Sampel
Titrasi
1. Air sumur
Loktabat 0,6 ml Merah – ungu menjadi ungu

2. Air sumur
0,4 ml Merah – ungu menjadi ungu
Cempaka
3. Air sumur
1,5 ml Merah – ungu menjadi ungu
Martapura
4. Air sumur
0,7 ml Merah – ungu menjadi ungu
Banjarbaru

B. Perhitungan
1. Perhitungan Faktor Ketelitian

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Faktor Ketelitian EDTA-EBT = 10


ml EDTA
= 10
1,3 ml
= 7,69
Faktor Ketelitian EDTA-Murexida = 10
ml EDTA
= 10
1 ml
= 10
1. Perhitungan Kesadahan Total
Sampel Air Sumur Loktabat
Kesadahan total (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-EBT) x (100/2)
= 10 x 1,6 x 0,04 x 7,69 x 50
= 246,08 mg/l

Sampel Air Sumur Cempaka


Kesadahan total (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-EBT) x (100/2)
= 10 x 1,6 x 0,04 x 7,69 x 50
= 246,08 mg/l

Sampel Air Sumur Martapura


Kesadahan total (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-EBT) x (100/2)
= 10 x 3,2 x 0,04 x 7,69 x 50
= 492,16 mg/l

Sampel Air Sumur Banjarbaru


Kesadahan total (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-EBT) x (100/2)
= 10 x 1 x 0,04 x 7,69 x 50
= 153,8 mg/l

1. Perhitungan Kesadahan Total

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Sampel Air Sumur Loktabat


Kesadahan kalsium (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-Murexide) x (100/2)
= 10 x 0,6 x 0,04 x 10 x 50
= 120 mg/l

Sampel Air Sumur Cempaka


Kesadahan kalsium (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-Murexide) x (100/2)
= 10 x 0,4 x 0,04 x 10 x 50
= 80 mg/l

Sampel Air Sumur Martapura


Kesadahan kalsium (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-Murexide) x (100/2)
= 10 x 1,5 x 0,04 x 10 x 50
= 300 mg/l

Sampel Air Sumur Banjarbaru


Kesadahan kalsium (mg/l) = (1000/100) x ml EDTA x (1/28) x
(Faktor EDTA-Murexide) x (100/2)
= 10 x 0,7 x 0,04 x 10 x 50
= 140 mg/l

2. Pengukuran Kesadahan Magnesium


Sampel Air Sumur Loktabat
Kesadahan magnesium
= Kesadahan total – Kesadahan Kalsium
(mg/l)
= 246,08 mg/l - 120 mg/l
= 126,08 mg/l

Sampel Air Sumur Cempaka


Kesadahan magnesium
= Kesadahan total – Kesadahan Kalsium
(mg/l)
= 246,08 mg/l - 80 mg/l
= 166,08 mg/l

Sampel Air Sumur Martapura


Kesadahan magnesium
= Kesadahan total – Kesadahan Kalsium
(mg/l)
= 492,16 mg/l - 300 mg/l
= 192,16 mg/l

Sampel Air Sumur Banjarbaru


Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Kesadahan magnesium
= Kesadahan total – Kesadahan Kalsium
(mg/l)
= 153,8 mg/l - 140 mg/l
= 13,8 mg/l

C. Pembahasan
Percobaan kali ini dilakukan untuk mengetahui kadar kesadahan dari
sampel air dari tempat yang berbeda (air sumur Loktabat, air sumur
Cempaka, Air sumur Martapura dan air sumur Banjarbaru). Ada tiga jenis
kesadahan yang akan diukur kadarnya, yakni kesadahan total, kesadahan
kalsium, dan kesadahan magnesium.
Kesadahan total adalah total semua kadar kesadahan yang terdapat
pada air baik itu yang disebabkan oleh kalsium ataupun magnesium.
Pengukuran kesadahan total dilakukan dengan mereaksikan kalsium dan
magnesium dalam air dengan larutan Na2 EDTA pada suasana pH 10
dengan bantuan indikator EBT (Erio chrom Black T.), sehingga membentuk
senyawa komplek Ca-EDTA dan Mg-EDTA. Penambahan Na2 EDTA
dihentikan ketika warna larutan berubah dari ungu muda menjadi biru nuda.
Kesadahan kalsium adalah kesadahan yang terdapat pada air yang
disebabkan oleh kandungan kalsium yang terdapat dalam air. Pengukuran
kesadahan kalsium dilakukan pada suasana pH 12, karena pada pH ini
magnesium dalam air akan mengendap sebagai Mg(OH)2, sedangkan
kalsiumnya dititrasi dengan larutan Na2 EDTA dengan bantuan indikator
murexida, titik akhir titrasi diamati dari perubahan warna larutan dari merah
ungu menjadi ungu. Adapun reaksi yang terjadi adalah:

Ca(CHO3)2(aq) CaCO3(s) + H2O (l) + CO2(g)

1. Standarisasi Larutan EDTA 1/28 N


Standarisasi larutan EDTA 1/28 N dilakukan dengan dua cara, yang
pertama dengan menggunakan indikator EBT. Pada akhir titrasi didapat
volume EDTA 1/28 N yang digunakan sebnyak 1,3 ml dan ketika dilakukan

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

penrhitunan didapat faktor ketelitian EDTA-EBT adalah 7,69. Faktor


ketelitian ini nantinya digunakan dalam perhitungan kesadahan total.
Cara kedua dengan menggunakan indikator mureksida. Pada akhir
titrasi didapat volume EDTA 1/28 N yang diunakan sebnyak 1 ml dan
ketika dilakukan penrhitunan didapat faktor ketelitian EDTA-murexida
adalah 10. Faktor ketelitian ini nantinya digunakan dalam perhitungan
kesadahan kalsium.
2. Kesadahan Sampel Air Sumur Loktabat
Volume larutan EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang
dilakukan untuk mengetahui kesadahan total sampel air sumur Loktabat
adalah 1,6 ml, yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan
total adalah 13,78O G atau 246, 08 mg/l CaCO3, sedangkan volume larutan
EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang dilakukan untuk
mengetahui kesadahan kalsium sampel air sumur Loktabat adalah 0,6 ml,
yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan kalsium adalah
6,72O G atau 120 mg/l CaCO3. Dari kedua nilai keadahan ini didapat nilai
kesadahan manesium adalah 7,06O G atau 126,08 mg/l CaCO3.

3. Kesadahan Sampel Air Sumur Cempaka


Volume larutan EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang
dilakukan untuk mengetahui kesadahan total sampel air sumur Cempaka
adalah 1,6 ml, yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan
total adalah 13,78O G atau 246,08 mg/l CaCO3, sedangkan volume larutan
EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang dilakukan untuk
mengetahui kesadahan kalsium sampel air sumur Cempaka adalah 0,4 ml,
yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan kalsium adalah
4,48O G atau 80 mg/l CaCO3. Dari kedua nilai keadahan ini didapat nilai
kesadahan manesium adalah 9,3O G atau 166,08 mg/l CaCO3.
4. Kesadahan Sampel Air Sumur Martapura
Volume larutan EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang
dilakukan untuk mengetahui kesadahan total sampel air sumur Martapura
adalah 3,2 ml, yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

total adalah 27,561O G atau 492,16 mg/l CaCO3, sedangkan volume larutan
EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang dilakukan untuk
mengetahui kesadahan kalsium sampel air sumur Martapura adalah 1,5 ml,
yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan kalsium adalah
14,8O G atau 300 mg/l CaCO3. Dari kedua nilai keadahan ini didapat nilai
kesadahan manesium adalah 10,761O G atau 192,16 mg/l CaCO3.
5. Kesadahan Sampel Air Sumur Banjarbaru
Volume larutan EDTA 1/28 N yang digunakan pada titrasi yang
dilakukan untuk mengetahui kesadahan total sampel air sumur Banjarbaru
adalah 1 ml, yang ketika dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan total
adalah 8,613O G atau 153,8 mg/l CaCO3, sedangkan volume larutan EDTA
1/28 N yang digunakan pada titrasi yang dilakukan untuk mengetahui
kesadahan kalsium sampel air sumur Banjarbaru adalah 0,7 ml, yang ketika
dilakukan perhitungan didapat nilai kesadahan kalsium adalah 7,84O G atau
140 mg/l CaCO3. Dari kedua nilai keadahan ini didapat nilai kesadahan
manesium adalah 0,773O G atau 13,8 mg/l CaCO3.
Hasil-hasil volume titrasi trsebut menunjukan kemapuan senyawa
EDTA membentuk senyawa komplek dengan kalsium dan magnesium pada
kondisi pH tertentu. Berdasarkan kriteria selang kesadahan yang biasa
dipakai yang sudah dijelaskan pada tinjauan pustaka, maka air sumur
Loktabat masuk kriteria agak keras, air sumur Cempaka masuk kriteria agak
kersa, air sumur Martapura masuk kriteria kers dan air sumur Banjarbaru
masuk kriteria sedang. Tingginya nilai kesadahan akan berpengaruh pada
terbentuknya busa sabun yang digunakan untuk mencuci, hal ini terjadi
karena sebagian sabun yang ditambahkan kedalam air bereaksi dengan
garam karbonat dari Ca2+ dan Mg2+. Maka untuk memperbanyak busa
seringkali dilakukan penambahan sabun sehingga terjadi pemborosan sabun.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari hasil percobaan adalah sebagai berikut :
1. Faktor ketelitian EDTA-EBT dan EDTA-murexida yang diapakai adalah
7,69 dan 10,
2. Kesadahan total tertinggi terdapat pada sampel air sumur Martapura yakni
27,561O G atau 492,16 mg/l CaCO3, dan termasuk kriteria keras,
3. Kesadahan total terendah terdapat pada sampel air sumur Banjarbaru yakni
8,613O G atau 153,8 mg/l CaCO3, dan termasuk kriteria sedang.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

DAFTAR PUSTAKA

Amrih, P. 2005. Dua Jam Anda tahu Cara Memastikan Air yang Anda Minum
bukan Sumber Penyakit !
http://www.pitoyo.com/ebookgratis/Air-Minum-anda-free.pdf
Diakses tanggal 8 November 2009

Ardiyansyah, A. 2006. Pencemaran air


http://www.scribd.com/doc/14144746/Pencemaran-air
Diakses tanggal 8 November 2009

Atastina S.B, 2004 Penghilangan Kesadahan Air yang Mengandung Ion Ca2+
dengan Menggunakan Zeolit Alam Lampung sebagai Penukar Kation
http://www.chemeng.ui.ac.id/~wulan/Materi/Research/Penghilangan
%20Kesadahan%20air.pdf
Diakses tanggal 8 November 2009

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Kartika, Yogyakarta

Hastomo. 2007. Pengolahan Air Minum


http://www.scribd.com/doc/21494445/laporan-PAM
Diakses tanggal 8 November 2009

Kusuma, T. 2007. Penghilangan Kesadahan Air dengan Metode Isoterm Adsorbsi


Freunlich dengan Adsorben Zeolit
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/545/jbptitbpp-gdl-renyekanur-27214-
1-2007ta-r.pdf
Diakses tanggal 8 November 2009

Tirta. 2007 Penyisihan Kesadahan dengan Metode Penukar Ion


http://www.scribd.com/doc/20977187/Penyisihan-Kesadahan-Penukar-
Ion
Diakses tanggal 8 November 2009

Yudhi, N. 2006. Penentuan Kalsium dan Magnesium di dalam Air Secara


Potensiometri
http://www.scribd.com/doc/13048806/Analisis-Calsium-Dan-
Magnesium-dalam-air
Diakses tanggal 8 November 2009

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat