Anda di halaman 1dari 11

Mahfuz Idafi

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM LINGKUNGAN
PERCOBAAN VI
ZAT ORGANIK

NAMA : MAHFUZ IDAFI


NIM : H1E107017
KELOMPOK : 6 (Enam)
ASISTEN : WIDIAN CHRISTIANTI

PROGRAM STUDI LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2009

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN VI
ZAT ORGANIK

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur kandungan zat organik
pada sampel air.

II . TINJAUAN PUSTAKA
Zat organik adalah suatu senyawa yang tersusun dari senyawa atau
kombinasi Carbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O2), bersama dengan
Nitrogen (N). Dalam beberapa kasus elemen yang penting seperti Sulfur,
Phospor, Iron dan lain-lain juga ada. Zat organik dalam air atau air limbah
dalam bentuk Protein, Karbohidrat, serta minyak dan lemak. Zat lain yang
ada dalam air limbah dapat berupa garam, mineral renik, pestisida dan logam.
Keberadaan bahan organik dalam air diketahui menggunakan parameter BOD
(Biological Oxygen Demand = Kebutuhan oksigen untuk oksidasi biologis),
COD (Chemical Oxygen Demand = kebutuhan oksigen untuk oksidasi
kimiawi), TOC (Total Organik Carbon = Karbon organik total), ThOD
(Theoritical Oxygen Demand = kebutuhan oksigen teoritis). Kehadiran zat
organik dalam air dapat ditentukan dengan mengukur angka Permanganat
(KMnO4 = Kalium Permanganat). Konsentrasi zat organik (BOD) dalam air
sesuai dengan kelas dan peruntukkan badan air adalah seperti di tersebut pada
tabel : 2.1.
Tabel 2.1. Konsentrasi zat organik dalam air yang diijinkan
No Kelas Badan Air BOD (mg/l)
1 Kelas satu 2
2 Kelas dua 3
3 Kelas tiga 6
4 Kelas empat 12
Peruntukkan badan air masing-masing kelas menurut PP No.82 Tahun 2001
Pasal 8 adalah sebagai berikut :

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

1. Kelas satu, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku
air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut.
2. Kelas dua, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan,
air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
3. Kelas tiga, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut.

4. Kelas empat, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk


mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (Abdullah, 2006).
Adanya zat organik dalam air menunjukan bahwa air tersebut telah
tercemar oleh kotoran manusia ,hewan atau oleh sumber lain.zat organik
merupakan bahan makanan bakteri atau mikroorganisme lainnya . Makin
tinggi kandungan zat organik didalam air,maka semakin jelas bahwa air
tersebut telah tercemar (Kurniawan, 2009).
Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari
binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon,
protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami
pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Limbah
organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti
rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan
yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya. Limbah organik yang
masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid,
tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan
langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya
berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Dimanapun
limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain,

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan
oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan
oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan
oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan
aerobik dan anaerobik) (Halim, 2007).
Di dalam sistem air tanah yang belum terkontaminasi senyawa organik
yang dominan adalah senyawa humus (humic substances). Senyawa tersebut
merupakan hasil dekomposisi tumbuhan dan hewan secara biologis dan tidak
memiliki struktur yang baku. Oleh karena itulah mengapa
pengidentifikasiannya memerlukan serangkaian proses yang cukup panjang.
Ada tiga kelompok senyawa humus , yaitu:
1. Asam fulvik ( fulvic acid ), merupakan senyawa yang terlarut di dalam air
2. Asam humik (humic acid), senyawa yang tidak larut di dalam air pada pH
rendah
3. Humin, tidak larut di dalam air pada semua pH (Krisma, 2008).
Pada umumnya di dalam air tanah kandungan senyawa humus (humic
dan fulvic acid) cukup rendah, biasanya kurang dari beberapa mg/l.
Walaupun tidak ada definisi struktural untuk senyawa humus, telah banyak
dilakukan upaya karakterisasi pada sebagian kelas dari senyawa ini. Senyawa
humus pada umumnya memiliki formula seperti polimer organik
heteroatomik yang panjang. Komposisi dan struktur senyawa humus
berbeda–beda tergantung pada sumber material dan kondisi lokasi dimana
senyawa tersebut terbentuk. Meskipun demikian, telah dilakukan beberapa
proses generalisasi berdasarkan gugus fungsi yang terdapat pada senyawa
humus tersebut. Salah satu struktur yang signifikan dari hipotesis yang ada
ialah keberadaan gugus fungsi teroksigenasi. Gugus fungsi ini dipercaya
bertanggung jawab terhadap kemampuan senyawa humus membentuk
senyawa kompleks dengan logam. Banyak diantara senyawa organik sintetik
yang teridentifikasi sebagai kontaminan air tanah seperti, pestisida, produk
minyak bumi, dan pelarut terhalogenasi (Krisma, 2008).
Keberadaan zat organik di dalam air menimbulkan warna dan bau serta
dapat membantu pertumbuhan bakteri. Senyawa humus di dalam air akan

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

menimbulkan senyawa trihalometan setelah klorinasi. Telah diketahui bahwa


senyawa trihalometan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu senyawa organik
harus sedapat mungkin disisihkan pada pengolahan air terutama dengan
proses kimia (Krisma, 2008).

III. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
Alat–alat yang digunakan meliputi labu Erlenmeyer, pipet, gelas
ukur, gelas beaker, hot plate, buret, dan statif.

B. BAHAN
Bahan yang digunakan meliputi sampel air sumur Loktabat, sampel
air sumur Cempaka, sampel air sumur Martapura, sampel air sumur
Banjarbaru, air kran, batu didih, H2SO4 4 N, larutan KMnO4 0,01 N,
larutan asam oxalat 0,01 N, dan aquadest.

IV. CARA KERJA


A. Pembebasan Labu Erlenmeyer dari Zat Organik
1. Memasukkan 50 ml air kran ke dalam labu Erlenmeyer.
2. Menambahkan batu didih.
3. Menambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N.
4. Menambahkan tetes demi tetes larutan KMnO4 0,01 N
sampai cairan berwarna merah muda.
5. Memanaskan di atas hot plate dan membiarkan mendidih
selama 10 menit.
6. Menambahkan lagi larutan KMnO4 0,01 N jika selama
pendidihan warna merah muda hilang.
7. Membuang cairan dalam labu Erlenmeyer.

B. Pemeriksaan Zat Organik

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

1. Memasukkan 100 ml contoh air ke dalam labu


Erlenmeyer bebas zat organik.
2. Menambahkan 5 ml H2SO4 4 N.
3. Menambahkan tetes demi tetes larutan KMnO4 0,01 N
sampai cairan berwarna merah muda.
4. Memanaskan di atas hot plate sampai hampir mendidih.
5. Menambahkan 10 ml larutan KMnO4 0,01 N.
6. Meneruskan pemanasan selama 10 menit tepat.
7. Menambahkan terus larutan KMnO4 0,01 N hingga tetap
berwarna ungu jika selama pemanasan warna KMnO4 hilang.
8. Menambahkan 10 ml larutan asam oxalat 0,01 N setelah
pemanasan selesai (warna KMnO4 akan hilang).
9. Mentitrasi larutan tersebut dengan larutan KMnO4 0,01 N
sampai berwarna merah muda.
10. Mencatat ml larutan KMnO4 0,01 N yang digunakan.

C. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik


1. Menambahkan 10 ml larutan asam oxalat 0,01 N terhadap
labu Erlenmeyer tersebut.
2. Mentitrasi larutan tersebut dengan larutan KMnO4 0,01 N
sampai berwarna merah muda.
3. Mencatat ml larutan KMnO4 0,01 N yang digunakan.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil dan Perhitungan
1. Hasil
Pemeriksaan Zat Organik
Jenis Volume Perubahan Warna
No.
Sampel Titrasi
Air sumur
1. 3,3 ml Bening menjadi merah muda
Loktabat

Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Jenis Volume Perubahan Warna


No.
Sampel Titrasi
Air sumur
1. 0,6 ml Bening menjadi merah muda
Loktabat

2. Perhitungan
Faktor ketelitian = 10
ml KMnO4
= 10
0,6 ml
= 16,67

Perhitungan Kandungan Zat Organik


Kandungan zat organik = (1000/100) x [{(10 + ml KMnO4 pada
waktu titrasi) x faktor ketelitian } – 10] x N
KMnO4 x BE KMnO4
= (1000/100) x [{(10 + 3,3) x 16,67} – 10]
x 0,01 x 31,6
= 10 x 211,711 x 0,01 x 31,6
= 669,007 mg/l KMnO4

B. Pembahasan
Senyawa organik adalah senyawa yang terdiri dari atom C, H, O,
N, S, P dan X, dengan atom karbon sebagai tulang punggungnya, dan
atom lain akan berikatan dengan atom karbon melalui ikatan kovalen.
Senyawa organik di dalam air banyak sekali jenisnya dari mulai
senyawa organik dengan rantai karbon yang pendek (seperti
trihalometan, metanol) sampai rantai panjang (karbohidrat, asam
humat, dan sebagainya). Jenis dan banyak senyawa organik sangat
tergantung dari sumber pencemarnya.
Pengukuran angka permanganat adalah pengukuran zat organik
dalam air, dimana zat organik di dalam air dioksidasi oleh oksidator
kuat KMnO4 pada suhu mendidih (±100oC) selama 10 menit. Semakin
banyak zat organik di dalam air maka akan semakin banyak oksidator

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

KMnO4 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik.


Pengukuran zat organik secara agregat (umum) ditujukan untuk
mengetahui konsentrasi zat organik di dalam air secara umum, tanpa
mengetahui jenis senyawanya. Dasar pengukuran secara agregat
adalah berdasarkan sifat atau karakteristik senyawa organik secara
umum.
Metode yang digunakan dalam pengukuran angka permanganat
ini adalah titrasi permanganometri. Prinsip pengukurannya adalah zat
organik di dalam air dioksidasi oleh KMnO4 berlebihan dalam suasana
asam dan panas. Kelebihan KMnO4 direduksi oleh asam oksalat
berlebihan. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali oleh larutan
KMnO4. Reaksi yang terjadi adalah
Zat organik + KMnO4 berlebih CO2 + H2O
2KMnO4 + 5H2C2O4 + 3H2SO4 2MnSO4 + 10CO2 + K2SO4
Zat organik bisa terdapat dimana saja, oleh karenanya sebelum
melakukan pengukuran zat organik pada sampel, terlebih dahulu
dilkakukan pembebasan zat organik yang terdapat pada labu
erlenmeyer yang akan digunakan pada pengukuran zat organik
sampel. Pembesan zat organik pada labu erlenmeyer ini bertujuan agar
ketika pengukuran dilakukan, hasil yang didapatkan merupakan hasil
murni zat organik yang terdapat dalam sampel.
Setelah dilakukan pembebasan zat oragin pada labu erlenmeyer
langsung dilakukan oenukuran zat organik pada sampel air sumur
Loktabat. Pengukuran zat organik dengan metode titrasi
permanganometri dilakukan pada suasana asam dan suhu tinggi
(±100oC), sehingga perlu dilakukan penambahan zat asam dan
pemanasan terhadap terhadap sampel. Penambahan keasaman pada
sampel dilakukan dengan menambahkan larutan H2SO4 4 N pada
sampel, untuk pemanasan dapat dilakukan dengan menggunakan hot
plate sampai larutan hampir mendidih.
Pada percobaan ini didapatkan volume titrasi KMnO4 yang
dilakukan untuk menentukan kandungan zat organik adalah sebanyak

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

3,3 ml dan volume titrasi KMnO4 yang dilakukan untuk penentuan


faktor ketelitian KMnO4 zat organik adalah sebanyak 0,6 ml. Setelah
dilakukan perhitungan didapatkan faktor ketelitian KMnO4 zat organik
sampel air sumur Loktabat adalah 16,67, faktor ketelitian ini
dgunakan untuk perhitungan kandungan zat organik sampe. Dari
volume titrasi KMnO4 yang digunakan dan menggunakan faktor
ketelitian yang telah ditentukan, dilakukan perhitungan terhadap
kandungan zat organik dalam sampel air sumur Loktabat yakni
669,007 mg/l KMnO4.
Kadar zat organik yang berlebihan dalam air minum tidak
diperbolehkan karena selain menimbulkan warna, bau dan rasa yang
tidak diinginkan, juga mungkin bersifat toksik baik secara langsung
maupun bersenyawa dengan zat lain yang ada. Zat organik yang ada
dalam air dapat berasal dari alam atau sebagai dampak dari kegiatan
manusia.

Tingginya konsentrasi zat-zat organik yang terkandung dalam air


sumur, dapat mengindikasikan atau memberi informasi mengenai
lokasi sumur. Ada kemungkinan sumur letaknya dekat dengan
pembuangan limbah rumah tangga dan septic tank dilakukan dengan
peresapan ke dalam tanah sehingga bahan-bahan organik dapat dengan
mudah terinfiltrasi masuk ke dalam sumur. Pencemaran zat organik
pada air sumur penduduk merupakan dampak dari sanitasi yang buruk
berupa peresapan limbah mandi, cuci dan kakus (MCK), limbah
dapur, industri rumah tangga serta limbah binatang piaraan.

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari hasil percobaan adalah sebagai
berikut :

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

1. Faktor ketelitian KMnO4 zat organik sampel air sumur Loktabat


adalah 16,67,
2. Kandungan zat organik dalam sampel air sumur Loktabat yakni
669,007 mg/l KMnO4,

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 2006. Estimasi Daya Tampung Beban Pencemaran Organik di Daerah


Aliran Sungai Pelus Banyumas Jawa Tengah
http://www.scribd.com/doc/17668167/estimasi-beban-pencemaran-
badan-air
Diakses tanggal 16 November 2009.

Halim. 2007. Bahan organik


Http://kmit.faperta.ugm.ac.id/artikel%20-%20organik.html
Diakses tanggal 16 November 2009.

Kuniawan, A. 2009. Penetapan Kadar Zat Organik (Bilangan Permanganat)


Http://sodiycxacun.blogspot.com/2009/10/penetapan-kadar-zat-
organik-bilangan_09.html
Diakses tanggal 16 November 2009.

Krisma, A. 2008. Penyisihan Besi dan Zat Organik dari Air Tanah Menggunakan
Ozon (AOP)
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/632/jbptitbpp-gdl-anitakrism-31579-2-
2008ts-1.pdf
Diakses tanggal 16 November 2009.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat