Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL


DI RUANG POLI ANGGREK RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA

Oleh:
Nur Inayah (131413143085)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014
1

I.
II.

Masalah Utama : Isolasi Sosial


Proses Terjadinya Masalah
1. Definisi
Menurut Townsend, M.C (1998) menarik diri merupakan suatu keadaan
dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara
terbuka dengan orang lain. Menarik diri adalah keadaan dimana seseorang
menemukan kesulitan dalam membina hubungan dan menghindari interaksi
dengan orang lain secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap
(Fajar, 2012).
2. Etiologi
a. Predisposisi
Menurut Stuart dan Sundeen (1995), faktor predisposisi dari gangguan hubungan

sosial yaitu :
a. Faktor perkembangan
Kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari pengalaman
selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang
harus dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak
dapat dipenuhi akan menghambat masa perkembangan selanjutnya. Kurangnya
stimulasi, kasih sayang, perhatian, dan kehangatan dari orang tua/pengasuh akan
memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa tidak
percaya.
b. Faktor komunikasi
komunikasi keluarga termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas (
double blind ) yaitu suatu keadaan di mana seseorang anggota keluarga
menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan, ekspresi emosi
yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di
luar keluarga.
c. Faktor biologis
Yang termasuk faktor biologis yaitu organ tubuh yang jelas dapat mempengaruhi
terjadinya gangguan hubungan sosial. Organ tubuh yang sangat berpengaruh adalah
otak.
d. Faktor sosial budaya
Disebabkan oleh norma-norma yang salah di anut oleh keluarga, yangmana setiap
anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, penyaki tkronis, dan
penyandang cacat di asingkan dari lingkungan sosialnya.

b. Presipitasi
1. Faktor sosial budaya
Stressor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan
dalam membina hubungan dengan orang lain, misalnya anggota keluarga
yang labil, yang dirawat di rumah sakit.
2. Faktor psikologis
Psikologis terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi
bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya.
Ansietas terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau
tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan individu.
3. Tanda & Gejala
Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382)
isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala
sebagai berikut:
Data subjektif :
a. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan
b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki
Data objektif :
a. Tampak menyendiri dalam ruangan
c. Tidak berkomunikasi, menarik diri
d. Tidak melakukan kontak mata
e. Tampak sedih, afek datar
f. Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu
g. Adanya

perhatian

dan

tindakan

yang

tidak

sesuai

atau

imatur

dengan perkembangan usianya


h. Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya
i. Kurang aktivitas fisik dan verbal
j. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
k. Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya
4. MK yang sering muncul (Keliat, et all, 2006)
1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Gangguan sensori/persepsi: halusinasi
3. Risiko PK
4. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
3

5. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik


6. Defisit perawatan diri: mandi dan berhias
7. Ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan keluarga merawat
klien dirumah.
8. Gangguan pemeliharaan kesehatan
5. Akibat yang sering muncul
Harga diri rendah dapat membuat klien menjdai tidak mau maupun tidak
mampu bergaul dengan orang lain dan terjadinya isolasi sosial : menarik diri.
Isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel
pada tingkah laku yang maladaptive, mengganggu fungsi seseorang dalam
hubungan sosial (DEPKES RI, 1998 : 336).
6. Mekanisme koping
Menurut Tim keperawatan Jiwa FIK-UI (2002), klien menarik diri cenderung
menggunakan mekanisme koping : Regresi, represi dan isolasi.
a. Regresi :
Menghindari stress kecemasan dan menampilkan perilaku kemabli setelah
kemabli pada perkembangan
b. Represi :
Menekan perasaan atau pengalaman yang menyakitkan atau konflik atau
ingatan dari kesadaran yang cenderung memperkuat mekanisme ego laiinya.
c. Proyeksi :
Keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi kepada orang lain
karena kesalahan yang diakukan sendiri.
7. Lain-lain
1) Rentang respon

Adaptif:
Menyendiri
(solitude)
Otonomi
Bekerjasama
(mutualisme)
Saling
bergantung
(interdependence)

Merasa sendiri
(loneliness)
Menarik diri
(withdrawal)
Bergantung
(dependence)

Maladaptif:

Manipulasi
Impulsif
Narsisme

Gambar 1 Rentang respon sosial ( Stuart dalam Yusuf, 2014)

Keterangan:
a. Rentang respon adaptif
Rentang respon adaptif merupakan respon individu dalam penyesuaian masalah
yang dapat di terima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan.
1. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk
merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu
cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
2. Otonomi

merupakan

kemampuan

individu

untuk

menentukan

dan

menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.


3. Bekerjasama

(mutualisme)

adalah

suatu

kondisi

dalam

hubungan

interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan


menerima.
4. Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung
antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
b. Respon antara adaptif dan maladaptive
1. Loneliness (Kesepian)
individu

mulai

merasakan

kesepian,

terkucilkan

dan

tersisihkandari

lingkungan.
2. Withdrawl (Menarik diri)
Gangguan yang terjadi di mana seseorang menemukan kesulitan dalam
membina hubungan saling terbuka dengan orang lain, di mana individu
sengaja menghindarai hubungan interpersonal ataupun interaksi dengan lingkungannya.
3. Dependence ( ketergantungan )
Individu mulai tergantung kepada individu yang lain dan mulai
tidak memperhatikan kemampuan yang di milikinya.
c. Respon maladaptif
Respon maladaptif merupakan suatu respon individu dalam penyelesaian
masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungannya.
1. Manipulasi
Pada gangguan hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebagai
objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain dan individu
cendrung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan padaorang lain.
2. Implusif
5

Individu implusif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar


dari pengalaman, tidak dapat di andalkan.
3.

Narsisme
Pada pasien narsisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus
menerus berusaha

mendapatkan

penghargaan

dan

pujian,

sikap

egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.


III.

Pohon Masalah
Risiko halusinasi
Isolasi sosial: menarik diri
Gangguan konsep diri: Harga diri rendah
Data yg harus dikaji (Yusuf, 2014):
Masalah Keperawatan
Data Subyektif
Data Obyektif
Harga konsep diri : Mengungkapkan
Kurang spontan ketika
harga diri rendah
kesulitan untuk memulai
diajak bicara.
hubungan/ pembicaraan.
Apatis.
Mengungkapkan perasaan Ekspresi
wajah
malu untuk berhubungan
kosong.
dengan orang lain.
Menurun atau tidak
Mengungkapkan
adanya
komunikasi
kekhawatiran
terhadap
verbal.
penolakan oleh orang lain Bicara dengan suara
pelan dan tidak ada
kontak
mata
saat
berbicara.
Isolasi sosial: menarik Apatis, ekspresi sedih, afek Pasien menjawab dengan
diri
tumpul.
singkat ya, tidak,
Menghindari orang lain, tidak tahu.
tampak
menyendiri,
& Pasien tidak menjawab
memisahkan diri dari orang sama sekali.
lain.
Komunikasi kurang/ tidak
ada, pasien tidak tampak
bercakap-cakap
dengan
orang lain.
Tidak ada kontak mata dan
sering menunduk.
Berdiam diri di kamar.
Menolak
berhubungan
dengan
orang
lain,
memutuskan pembicaraan,
atau pergi saat diajak
bercakap-cakap.
Tidak tampak melakukan
kegiatan
sehari-hari,
6

perawatan diri kurang, dan


kegiatan rumah tangga tidak
dilakukan.
Posisi janin pada saat tidur.
Risiko
sensori
halusinasi

gangguan
persepsi:

Halusinasi dengar: bicara


atua tertawa sendiri,
marah-marah tanpa sebab,
mengarahkan telinga ke
arah tertentu, menutup
telinga.
Halusinasi
lihat:
menunjuk-nunjuk keraha
tertentu, ketakutan pada
sesuatu yg tidak jelas.
Halusinasi
penciuman:
mencium seperti sedang
membaui
bau-bauan
tertentu, menutup hidung.
Halusinasi pengecapan:
sering meludah, muntah.
Halusinasi
perabaan:
menggaruk-garuk
permukaan kulit.

IV.
V.

Halusinasi dengar:
mendengar
suarasuara
atau
kegaduhan,
mendengar
suara
yang
mengajak
bercakap,
cakap,
mendengar
suara
menyuruh
melakukan sesuatu
yang berbahaya.
Halusinasi
lihat:
melihat
bayangan,
sinar,
bentuk
geometris,
bentuk
kartun, monster.
Halusinasi
penciuman: Membau
bau-bauan
seperti
urin, feses, darah dan
kadang-kadang bau
yang menyenangkan.
Halusinasi
pengecapan:
merasakan
rasa
seperti darah, urin,
feses.
Halusinasi perabaan:
merasakan
ada
serangga di kulit,
merasa
tersengat
listrik.

Diagnosa Keperawatan
Isolasi sosial: menarik diri
Rencana Tindakan Keperawatan (Keliat, et all, 2002)
TUM: Klien dapat bertinterksi dengan orang lain.
TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi:
1.1.Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau
berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk
berdampingan, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi:
7

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi


terapeutik:
a. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non-verbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan.
c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
d. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Jujur dan menepati janji.
f. Tunjukkan sikap empati dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
TUK 2: Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Kriteria Evaluasi:
Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari diri sendiri,
orang lain dan lingkungan.
Intervensi:
2.1.Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tandanya:
a. Di rumah ibu tinggal dengan siapa?
b. Siapa yang paling dekat dengan ibu?
c. Apa yang membuat ibu dekat dengannya?
d. Dengan siapa ibu tidak dekat?
e. Apa yang membuat ibu tidak dekat?
2.2.Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan yang menyebabkan
klien tidak mau bergaul
2.3.Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
TUK 3: Klien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
Kriteria Evaluasi:
3.1 Klien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain, misal:
banyak teman, tidak sendiri, bisa diskusi, dll
3.2 Klien dapat menyebutkan kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain,
misal: sendiri, tidak memiliki teman, sepi, dll
Intervensi:
3.1.1. Kaji pengetahun klien tentang keuntungan memiliki teman.
3.1.2. Beri kesempatan kepada klien untuk berinteraksi dengan orang lain.
3.1.3. Diskusikan bersama klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang
lain.
3.1.4. Beri penguatan positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
3.2.1. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berinteraksi dengan
orang lain.
3.2.2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian
tidak bila tidak berinteraksi dengan orang lain.
3.2.3. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan
orang lain.
8

3.2.4. Beri penguatan positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan


tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
TUK 4: Klien dapat melakukan interaksi sosial secara bertahap
Kriteria Evaluasi:
4.1 Klien dapat mendemonstrasikan interaksi sosial secara bertahap antara:
klien-perawat
klien-perawat-perawat lain
klien-perawat-perawat lain-klien lain
klien-keluarga/kelompok/masyarakat.
Intervensi:
4.1.1. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
4.1.2. Bermain peran tentang cara berhubungan/berinteraksi dengan orang lain.
4.1.3. Dorong dan bantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain melalui tahap:
klien-perawat
klien-perawat-perawat lain
klien-perawat-perawat lain-klien lain
klien-keluarga/kelompok/masyarakat.
4.1.4. Beri penguatan positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
4.1.5 Bantu klien untuk mengevaluasi keuntungan menjalin hubungan sosial.
4.1.6. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam
mengisi waktu yaitu berinteraksi dengan orang lain.
4.1.7. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan.
4.1.8. Beri penguatan positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
TUK 5: Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berinteraksi dengan
orang lain.
Kriteria Evaluasi:
5.1 Klienmengungkapkan perasaannya setelah berinteraksi dengan orang lain
untuk: diri sendiri dan orang lain.
Intervensi:
5.1.1. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berinteraksi dengan
orang lain.
5.1.2. Diskusikan dengan klien tentang perasaan keuntungan berinteraksi dengan
orang lain.
5.1.3. Beri penguatan positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan
keuntungan berhubungan dengan orang lain.
TUK 6: Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Kriteria Evaluasi:
6.1. Keluarga dapat:
9

VI.

Menjelaskan perasaannya
Menjelaskan cara merawat klien menarik diri
Mendemonstrasikan cara perawatan klien menarik diri
Berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri
Intervensi:
6.1.1. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga:
a. salam perkenalkan diri
b. Jelaskan tujuan
c. Buat kontrak
d. Eksplorasi perasaan klien
6.1.2. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang:
a. Perilaku menarik diri
b. Penyebab perilaku menarik diri
c. Akibat perilaku menarik diri bila tidak diatasi
d. Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.1.3. Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien dalam
berkomunikasi dengan orang lain.
6.1.4. Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin bergantian menjenguk klien
minimal 1x seminggu.
6.1.5. Beri penguatan positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga klien.
Rencana Implementasi
Klien:
SP1 :
a. Membina hubungan saling percaya
b. Klien mengenal penyebab isolasi sosial
c. Mambantu klien mengenal keuntungan dan kerugian tidak berhubungan
dengan orang lain.
d. Mengajarkan klien berkenalan
SP2 :
Mengajarkan klien berinteraksi secara bertahap (orang pertama: perawat)
SP3:
Mengajarkan klien berinteraksi secara bertahap (orang kedua: klien lain)
Keluarga:
SP1 :
Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang masalah isos,
penyebab isos dan cara merawat klien dengan isos.
SP2 :
Melatih keluarga praktik merawat pasien langsung dihadapan klien.
SP3 :
Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.

10

VII.

Daftar Pustaka
Carpenito, LJ. 2008. Diagnosa Keperawatan : Aplikasi Praktek Klinik. Jakarta :
EGC.
Keliat, Anna Budi. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Stuart, GW dan Sundeen, S.J,.2004. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Townsend, M., 1998. Psychiatric Mental Health Nursing. 3th penyunt.
Philadelpia: F.A Davis Company.
Yusuf, et all. 2014. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika

11