Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN PERILAKU KEKERASAN

DI RUANG JIWA SEJAHTERA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Disusun Oleh Kelompok IA, IB, IC:

Muhammad Umar Ali K, S.Kep


Ria Permatasari, S.Kep
Ika Rizqi Lia N, S.Kep
Eka Puji Kurniawati, S.Kep
Ilma Rosida R, S.kep
Alfian Rizky B, S.Kep
Qurrota Ayunil M, S.Kep
Ema Kharismawati, S.Kep
Nur Inayah, S.Kep
Komang Riyon N, S.Kep
Nor Zaidah A, S.Kep
Ennyke Rizki N, S.Kep
Lusi Puspitasari, S.Kep

131413143076
131413143030
131413143035
131413143084
131413143042
131413143078
131413143077
131413143036
131413143085
131413143079
131413143031
131413143037
131413143040

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik

: Penyuluhan Tentang Perilaku Kekerasan

Sasaran

: Keluarga pasien Jiwa Sejahtera

Hari/Tanggal : Rabu, 12 November 2014


Tempat

: Ruang Jiwa Sejahtera RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Pelaksana

: Mahasiswa Fakultas Keperawatan UNAIR

Waktu

: 1 X 30 Menit

A. Analisis Instruksional
Penyuluhan berisi tentang Perilaku Kekerasan untuk keluarga pasien
di Ruang Jiwa Sejahtera RSUD Dr.Soetomo Surabaya.
B. Tujuan Instruksional
Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan mengenai Perilaku Kekerasan selama
30 menit, keluarga pasien mampu memahami tentang Perilaku Kekerasan.
Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan mengenai Perilaku Kekerasan, maka kelurga
pasien mampu:
1. Menjelaskan tentang pengertian perilaku kekerasan
2. Menjelaskan faktor predisposisi (penyebab) perilaku kekerasan
3. Menjelaskan faktor presipitasi (pencetus) perilaku kekerasan
4. Menjelaskan tanda dan gejala perilaku kekerasan
5. Menjelaskan penatalaksanaan perilaku kekerasan

C. Metode
Ceramah dan diskusi

D. Media
1. Leaflet
2. PPT
3. LCD proyektor

E. Organisasi kegiatan
Pembimbing Akademik

: Hanik Endang N, Ns., M.Kep


Khoridatul Bahiyah, Ns., M.Kep., SpKepJ
RR. Dian, S.Kep., Ns., M.Kep

Pembimbing Klinik

: Sri Kusmawati, S.Kep., Ns


Mangkurela, S.Kep., Ns

Moderator

: Alfian Rizky B, S.Kep

Penyaji

: Nur Inayah, S.Kep

Fasilitator

: Muhammad Umar Ali K, S.Kep


Ema Kharismawati, S.Kep
Eka Puji K, S.Kep

Observer

: Ika Rizqi Lia N, S.Kep


Ilma Rosida R, S.Kep

F. Job Description
1. Moderator
Uraian tugas:
(1) Membuka acara penyuluhan, memperkenalkan diri dan tim kepada
peserta.
(2) Mengatur proses dan lama penyuluhan.
(3) Memotivasi peserta untuk bertanya.
(4) Memimpin jalannya diskusi dan evaluasi.
(5) Menutup acara penyuluhan.
2. Penyuluh / Pengajar
Uraian tugas:
(1) Menjelaskan materi penyuluhan dengan jelas dan dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh peserta.
(2) Memotivasi peserta untuk tetap aktif dan memperhatikan proses
penyuluhan.
(3) Menjawab pertanyaan peserta.

3. Fasilitator
Uraian tugas:
(1) Ikut bergabung dan duduk bersama di antara peserta.
(2) Mengevaluasi peserta tentang kejelasan materi penyuluhan.
(3) Memotivasi peserta untuk bertanya materi yang belum jelas.
(4) Menginterupsi penyuluh tentang istilah/hal-hal yang dirasa kurang
jelas bagi peserta.
(5) Membagikan leaflet dan lembar evaluasi kepada peserta.
4. Observer
Uraian tugas:
(1) Mencatat nama, alamat, dan jumlah peserta, serta menempatkan diri
sehingga memungkinkan dapat mengamankan jalannya proses
penyuluhan.
(2) Mencatat pertanyaan yang diajukan peserta.
(3) Mengamati perilaku verbal dan non verbal peserta selama proses
penyuluhan.
(4) Mengevaluasi hasil penyuluhan dengan rencana penyuluhan.
(5) Menyampaikan evaluasi langsung kepada penyuluh yang dirasa tidak
sesuai dengan rencana penyuluhan.

G. Strategi Kegiatan
NO WAKTU
1

5 Menit

KEGIATAN PENYULUHAN

KEGIATAN PESERTA

Pembukaan:
1. Membuka

kegiatan

dengan

mengucapkan salam

2. Mendengarkan

2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan

tujuan

3. Memperhatikan
dari

penyuluhan.
4. Menyebutkan materi penyuluhan
yang akan diberikan
5. Kontrak waktu dan menjelaskan
mekanisme

1. Menjawab salam

10 Menit

Pelaksanaan :
1.

2.

Menggali pengetahuan dan

1. Mendengarkan

pengalaman

2. Memperhatikan

Menjelaskan melalui ppt dan leaflet


tentang:
a. Pengertian perilaku kekerasan
b. Faktor

predisposisi

(penyebab)

perilaku kekerasan
c. Faktor

presipitasi

(pencetus)

perilaku kekerasan
d. Tanda

dan

gejala

perilaku

kekerasan
e. Penatalaksanaan

perilaku

kekerasan

8 menit

Diskusi:
Memberikan kesempatan pada peserta

Mengajukan pertanyaan

untuk mengajukan pertanyaan kemudian


disiskusikan

bersama

dan

menjawab

pertanyaan
4

5 Menit

Evaluasi :
1. Menanyakan pada keluarga pasien
tentang materi yang diberikan dan
reinforcement

kepada

1. Menjawab
2. Menjelaskan pertanyaan

keluarga

pasien bila dapat menjawab &


redemonstrasi
2. Kesimpulan
5

2 Menit

Terminasi :
1. Memberikan leaflet pada peserta

1. Mendengarkan

2. Mengucapkan terimakasih kepada

2. Membalas salam

keluarga pasien
3. Mengucapkan salam

H. Setting Tempat Penyuluhan

LCD
Moderator

Penyaji

nnnnn

peserta

meja

peserta

Fasilitator

Fasilitator

Observer

I.

Evaluasi
1.

Kriteria Struktur
a. Kesiapan SAP dan materi
b. Kesiapan media : PPT dan leaflet
c. Peserta hadir di tempat penyuluhan
d. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
e. Jumlah target yang hadir dalam penyuluhan 8 orang.

2.

Proses
a. Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan.
b. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan dan mendengarkan
c. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
d. Suasana penyuluhan tertib
e. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
f. Pengorganisasian: kegiatan berjalan sesuai dengan POA

3. Hasil
Peserta dapat memahami strategi penatalaksanaan pasien dengan perilaku
kekerasan

MATERI PENYULUHAN

1. Definisi Perilaku Kekerasan


Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,
orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan
perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Stuart dan Sundeen, 1995).
Marah adalah perasan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap
kecemasan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai
ancaman (Stuart dan Sundeen, 1995). Perasaan marah normal bagi tiap
individu, namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat
berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaptif.

a. Asertif : kemarahan yang dinyatakan atau diungkapkan


tanpa menyakiti orang lain
b. Frustasi : respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tujuan
yang tidak realistis atau menemui hambatan dalam proses pencapaian
tujuan.
c. Pasif : klien tidak mampu mengungkapakan perasaan
d. Agresif : perilaku yang menyertai marah, dorongan untuk bertindak dalam
bentuk destruktif dan masih terkontrol.
e. Kekerasan : perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan
kontrol diri.

2. Faktor Predisposisi (Penyebab) Perilaku Kekerasan


a. Teori Biologik
1. Faktor neurologis, beragam komponen dari sistem syaraf seperti sinaps,
neurotransmitter,

dendrit,

axon

terminalis

mempunyai

peran

memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan yang akan


memengaruhi sifat agresif. Sistem limbik sangat terlibat dalam
menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif.
2. Faktor genetik, adanya faktor gen yang diturunkan melalu orang tua,
menjadi potensi perilaku agresif. Menurut riset Kazuo Murakami (2007)
dalam gen manusia terdapat potensi agresif yang sedang tidur dan akan
bangun jika terstimulasi oleh faktor eksternal. Menurut penilitian genetik
tipe karyo-type XYY, pada umumnya dimiliki oleh penghuni pelaku
tindak kriminal serta orang-orang yang tersangkut hukum akibat perilaku
agresif.
3. Irama sirkadian tubuh, memegang peranan pada individu. Menurut
penelitian pada jam-jam tertentu manusia mengalami peningkatan
cortisol terutama pada jam-jam sibuk seperti menjelang masuk kerja dan
menjelang berakhirnya pekerjaan sekitar jam 9 dan jam 13. Pada jam
tertentu orang lebih mudah terstimulasi untuk bersikap agresif.
4. Faktor biokimia tubuh, seperti neurotransmitter di otak (epinephrin,
norepinephrin, dopamin, asetilkolin, dan serotonin) sangat berperan
dalam penyampaian informasi melalui sistem persyarafan dalam tubuh,
adanya stimulasi dari luar tubuh yang dianggap mengancam atau
membahayakan akan dihantar melalui impuls neurotransmitter ke otak
dan meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon
androgen dan norepinephrin serta penurunan serotonin dan GABA pada
cairan serebrospinal vertebra dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya
perilaku agresif.
5. Brain Area disorder, gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal,
sindrom otak organik, tumor otak, trauma otak, penyakit ensefalitis,
epilepsi ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku agresif dan
tindak kekerasan.

b. Teori Psikologik
1. Teori Psikoanalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh
kembang seseorang (life span hystori). Teori ini menjelaskan bahwa
adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2 tahun dimana anak tidak
mendapat kasih sayang dan pemenuhan air susu yang cukup cenderung
mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai
kompensasi adanya ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak
terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak
berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah. Perilaku
agresif dan tindak kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka
terhadap rasa ketidakbedayaannya dan rendahnya harga diri pelaku
tindak kekerasan.
2. Imitation, modeling, and information processing theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam lingkungan
yang menolelir kekerasan. Adanya contoh, model dan perilaku yang
ditiru dari media atau lingkungan sekitar memungkinkan individu meniru
perilaku tersebut. Dalam suatu penelitian beberapa anak dikumpulkan
untuk menonton tayangan pemukulan pada boneka dengan reward positif
(makin keras pukulannya akan diberi coklat). Setelah anak-anak keluar
dan diberi boneka ternyata masing-masing anak berperilaku sesuai
dengan tontonan yang pernah dialaminya.
3. Learning theory
Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadaop
lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respons ayah saat
menerima kekecewaan dan mengamati bagaimana respons ibu saat
marah. Ia juga belajar bahwa dengan agresivitas lingkungan sekitar
menjadi peduli, bertanya, menanggapi, dan menganggap bahwa dirinya
eksis dan patut untuk diperhitungkan.
c. Teori Sosiokultural
Dalan budaya tertentu seperti rebutan berkah, rebutan uang receh,
sesaji atau kotoran kerbau di keraton, serta ritual-ritual yang cenderung

mengarah pada kemusyrikan secara tidak langsung turut memupuk sikap


agresif dan ingin menang sendiri. Kontrol masyarakat yang rendah dan
kecenderungan menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian
masalah dalam masyarakat merupakan faktor predisposisi terjadinya
perilaku kekerasan. Hal ini dipicu juga dengan maraknya demonstrasi, filmfilm kekerasan, mistik, tahayul dan perdukunan (santet, teluh) dalam
tayangan televisi.
d. Aspek Religiusitas
Dalam tinjauan religiusitas, kemarahan dan agresivitas merupakan
dorongan dan bisikan syetan yang sangat menyukai kerusakan agar manusia
menyesal (devil support). Semua bentuk kekerasan adalah bisikan syetan
melalui pembuluh darah ke jantung, otak dan organ vital manusia lain yang
dituruti manusia sebagai bentuk kompensasi bahwa kebutuhan dirinya
terancam dan harus segera dipenuhi tetapi tanpa melibatkan akal (ego) dan
norma agama (super ego).

3. Faktor Presipitasi (Pencetus) Perilaku Kekerasan


1. Bersumber dari klien (kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan,
percaya diri kurang).
2. Lingkungan (ribut, padat, kritikan mengarah penghinaan, kehilangan orang
yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan).
3. Interaksi dengan orang lain (provokatif dan konflik seperti kritikan atau
hinaan, kehilangan orang atau barang yang dicintai, perasaan ditolak atau
diabaikan, dan dizalimi) (Keliat, 2006).

4. Tanda dan Gejala Perilaku Kekerasan


1.

Fisik
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Rahang mengatup
e. Wajah memerah dan tegang

f. Postur tubuh kaku


g. Pandangan tajam
h. Mengatupkan rahang dengan kuat
i. Mengepalkan tangan
j. Jalan mondar-mandir
2.

Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
e. Suara keras
f. Ketus

3.

Perilaku
a. Melempar/ memukul benda/ orang lain
b. Menyerang orang lain
c. Melukai diri sendiri/ orang lain
d. Merusak lingkungan
e. Amuk/ agresif

4.

Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan
jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi,
menyalahkan dan menuntut.

5.

Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.

6.

Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,
menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar.

7.

Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

8.

Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual (Yosep, 2010).

5. Penatalaksanaan Perilaku Kekerasan


Penatalaksanaan pada pasien dengan Perilaku Kekerasan (PK) yang dapat
dilakukan keluarga antara lain:
1.

Mengontrol Perilaku Kekerasan secara fisik dengan latihan nafas dalam

2.

Mengontrol Perilaku Kekerasan secara fisik dengan pukul kasur dan bantal

3.

Mengontrol Perilaku Kekerasan secara sosial atau verbal : menolak/meminta


dan mengungkapkan dengan baik

4.

Mengontrol Perilaku Kekerasan secara spiritual

5.

Mengontrol Perilaku Kekerasan dengan obat

6. Daftar Pustaka
Keliat dkk. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta: EGC
Maramis, WF . 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press
Stuart & Sundeen. 1995. Pocket Guide To Psychiatric Nursing, Edisi 3, Alih
Bahasa Achir Yani S. Hamid. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PKRS PROGRAM PROFESI


PENDIDIKAN NERS KELOMPOK 1A, 1B, 1C ANGKATAN A 2010
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DI RUANG JIWA SEJAHTERA RSUD DR.SOETOMO SURABAYA
SURABAYA, 12 NOVEMBER 2014
Kriteria Struktur

Kriteria Proses

Kriteria Hasil

a) Kontrak waktu dan

Pembukaan:

a) Peserta antusias

tempat diberikan 1 hari

1) Mengucapkan salam

terhadap materi

sebelum PKRS

dan memperkenalkan diri

penyuluhan

2) Menyampaikan tujuan,

b) Peserta

b) Pembuatan susunan

maksud dan manfaat dari

mendengarkan dan

rangkaian acara PKRS,

PKRS

memperhatikan PKRS

dilaksanakan

leaflet

dengan seksama
3) Menjelaskan kontrak

c) Peserta di tempat yang

waktu dan susunan dari

c) Pasien yang datang

telah ditentukan dan

rangkaian acara PKRS

minimal 8 orang

4) Menjelaskan topik dari

d) Acara dimulai tepat

d) Pengorganisasian

materi PKRS yang akan

waktu

penyelenggaraan PKRS

diberikan

disediakan oleh panitia

dilakukan sebelum dan


saat PKRS dilaksanakan

e) Peserta mengikuti
Pelaksanaan:

acara sesuai dengan

1) Menggali pengetahuan

aturan yang telah diatur

dan pengalaman dari

dan disepakati

pasien serta keluarga


mengenai Perilaku

f) Peserta mampu

Kekerasan

memahami materi dan


menjawab pertanyaan
dengan benar dari
penyuluh minimal 75%

2) Menjelaskan materi
penyuluhan meliputi:

a. Definisi Perilaku
Kekerasan
b. Faktor predisposisi
(penyebab) Perilaku
Kekerasan
c. Faktor Presipitasi
(pencetus) Perilaku
kekerasan
d. Tanda dan Gejala
Perilaku kekerasan
e. Penatalaksanaan
Perilaku kekerasan

3) Sesi tanya jawab


Terminasi
1. Memberikan leaflet pada
peserta
2. Mengucapkan terima
kasih kepada keluarga
pasien
3. Mengucapkan salam

DAFTAR HADIR PKRS PROGRAM PROFESI PENDIDIKAN NERS


KELOMPOK 1A, 1B, 1C ANGKATAN A 2010
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DI RUANG JIWA SEJAHTERA RSUD DR.SOETOMO SURABAYA
SURABAYA, 12 NOVEMBER 2014
NO
1

NAMA

ALAMAT

TTD
1

2
3

2
3

4
5

4
5

6
7

6
7

8
9

8
9

10
11

10
11

12
13

12
13

14
15

14
15

16
17

16
17

18
19

18
19

20
21

20
21

22
23

22
23

24
25

24
25

DAFTAR PERTANYAAN PKRS


KELOMPOK 1A, 1B, 1C ANGKATAN A 2010
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DI RUANG JIWA SEJAHTERA RSUD DR.SOETOMO SURABAYA
SURABAYA, 12 NOVEMBER 2014
NO

NAMA

PERTANYAAN

JAWABAN