Anda di halaman 1dari 23

Laboratorium Ilmu Bedah

Laporan Kasus

Fakultas Kedokteran Umum

Universitas Mulawarman

TUMOR COLON ASCENDEN

Oleh :
Akhmad Fahrozy
Erviani Maulidya
Febry Prayugo
Fitria Rimadhanty S
Ghea Ananta
Hatfina Ranida
Rifa Fahdianata

Pembimbing : dr. Syaiful Muchtar, Sp. B, (K) BD

LABORATORIUM/SMF ILMU BEDAH


FK UNMUL RSUD A.W SJAHRANIE
SAMARINDA
2014

BAB I
STATUS PASIEN

Pasien datang pada tanggal 15 februari 2014 pukul 07:00 di instalasi gawat
darurat.
Identitas pasien :

Nama

: Tn. A

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 23 tahun

Alamat

: Muara Wahau RT. 03

Pekerjaan

: Swasta

Keluhan utama
Nyeri pada seluruh bagian perut.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dirujuk dari klinik puskesmas karena mengeluhkan nyeri
pada seluruh bagian perut, awalnya nyeri timbul 2 minggu yang lalu di bagian ulu
hati, kemudian berpindah di perut kanan bawah, nyeri menetap kemudian
bertambah sakit, setelah itu seluruh bagian perut terasa kencang dan sakit 5 hari
terakhir ini. Keluhan disertai mual dan muntah sejak 3 hari yang lalu, selain itu
pasien juga merasakan berat badannya berkurang akhir-akhir ini,pasien pernah
merasakan adanya benjolan di perut kanan bawah, pasien tidak merasakan
demam, buang air kecil dalam batas normal, buang air besar tidak ada sejak 3 hari
yang lalu, riwayat buang air besar tidak ditemukan darah dan lendir, pasien sudah
pernah memeriksakan keluhan nya 3 kali di klinik tempat dia bekerja, tetapi hanya
diberikan obat maag saja , karena tidak ada perubahan dan keluhan bertambah
pasien memeriksakan di puskesmas lalu di rujuk ke RSUD abdoel wahab
sjahranie.

Riwayat penyakit terdahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya , riwayat
penyakit maag (+)

Riwayat Penyakit Keluarga


Pada orang tua pasien pernah timbul benjolan yang awalnya kecil dibagian
kemaluannya .

Riwayat kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan merokok dan bekerja membersihkan sawit
dengan menggunakan bahan kimia sehari-hari tanpa alat perlindungan diri yang
memadai.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4 V5 M6

Tanda Vital

Nadi

: 130/90 x/menit (reguler, isi cukup, kuat angkat)

Frekuensi napas

: 24 x/menit, reguler

Suhu aksiler

: 36,8C

Status Generalisata

Kepala / leher :konjungtiva anemis (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-),


pembesaran KGB (-/-)

Thorax
o Pulmo

Bentuk dada dan gerakan simetris, retraksi intercostal (-),


sonor di kedua lapang paru, tidak ada suara tambahan
Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-),

o Jantung

Batas jantung normal, S1S2 tunggal reguler, murmur (-),


gallop (-)
3

Abdomen

Status lokalis : Abdomen

Inspeksi : Distended (+), massa (-), jejas (-)

Auskultasi : Bising usus (+) kesan menurun, metalic sound (-)

Palpasi

: Nyeri tekan di sluruh lapangan abdomen, defens muscular

general (+), organomegali sulit dievaluasi, massa sulit divealuasi ,


asites (-)

Perkusi: timpani

Genitalia

: Dalam batas normal

Ekstremitas

: Akral hangat, CRT < 3 detik, udema (-)

Rectal touch

Spingter ani menjepit kuat

Nyeri (-)

Mukosa licin

Massa nodul (-)

Pole atas teraba

Sulkus medianus (+)

Handscone : darah (-) feses (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Lengkap

Hb

:13,5 %

Ht

:40,0%

Trombosit

:250.000

Leukosit

:10.300

Eritrosit

: 5.250.000

GDS

:114

BT

: 3

CT

: 9

Ur

: 39,5

Cr

: 1,0

Elektrolit :

Na

: 134

: 4,4

Cl

: 103

Diagnosis Kerja

Peritonitis ec suspek Appendisitis perforasi

Penatalaksanaan :
-

Pasien di puasakan

Tindakan operatif cito pukul 12:00

Laporan Operasi :
-

Pasien dilakukan GA dalam posisi pasien supine

Dilakukan tindakan septic-antisepsis

Lapangan operasi dipersempit dengan duk steril

Dilakukan insisi midline

Evaluasi rongga abdomen, ditemukan : cairan di rongga peritoneum (+),


appendiks dalam batas normal

Eksplorasi lebih lanjut, ditemukan tumor di daerah colon ascenden


reseksi

Dilakukan kolostomi sementara

Evaluasi perdarahan

Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis

Tutup dengan menggunakan kasa

Operasi selesai

Diagnosis Post Operatif :


-

Post laparotomi eksplorasi + kolostomi a/i tumor colon ascenden suspek


malignansi

Terapi Post Operatif :


-

IVFD RL:D5% = 1:1 30tpm

Inj. Ceftriaxon 1gr/12 jam

Inj. Metronidazole 500mg/8 jam

Inj. Ketorolac 30mg/8 jam

Inj. Ranitidin 50mg/8 jam

Puasa

Cek DL post operasi

H-I Post Operasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pendahuluan
ANATOMI

Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar


1,5m yang terbentang dari sekum sampai kanalis analis, dengan diameter rata-rata
sekitar 6,5cm tetapi makin dekat anus diameternya makin kecil. Usus besar dibagi
menjadi sekum, kolon, dan rektum.
Secara embriologik, kolon kanan berasal dari usus tengah sedangkan kolon
kiri sampai rektum berasal dari usus belakang. Kolon dibagi menjadi kolon
asenden, transversum, desenden, dan sigmoid. Tempat dimana kolon membentuk
kelokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan
fleksura hepatika dan lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan
berbentuk suatu lekukan berbentuk S. Lekukan bagian bawah membelok kekiri
waktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum, yang menjelaskan alasan anatomis
meletakkan penderita pada sisi kiri bila diberi enema, karena pada posisi ini gaya
berat membantu mengalirkan air dari rektum ke fleksura sigmoid.
Usus besar mempunyai empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus
lainnya. Akan tetapi ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja.
Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga
pita yang dinamakan taenia koli. Taenia bersatu pada sigmoid distal, dengan
demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap. Panjang
taenia lebih pendeh daripada usus, hal ini menyebabkan usus tertarik dan berkerut
membentuk kantong-kantong kecil yang dinamakan haustra. Apendises epiploika
adalah kantong-kantong kecil peritoneum yang berisis lemak dan melekat
disepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal dari lapisan
mukosa usus halus dan tidak mengandung vili atau rugae. Kriptus Lieberkhun
(kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet
daripada usus halus.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan sejalan
dengan suplai darah yang diterima. Arteri mesenterika superior memperdarahi
belahan bagian kanan (sekum, kolon asenden dan dua pertiga proksimal kolon
tranversum) dan arteri mesenterika inferior memperdarahi belahan kiri (sepertiga
distal kolon tranversum, kolon desenden dan sigmoid, dan bagian proksimal
rektum)
Alur balik vena dari kolon dan rektum superior melalui vena mesenterika
superior-inferior dan vena hemorioidalis superior, yaitu bagian dari sistem portal
yang mengalirkan darah ke hati. Vena hemoroidalis media dan inferior
mengalirkan darah ke vena iliaka dan merupakan bagian dari sirkulasi sistemik.
Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan
perkecualian sfingter eksterna yang berada dibawah kontrol voluntar. Serabut
parasimpatis berjalan melalui saraf vagus ke bagian tengah kolon transversum,
dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sakral mensuplai bagian distal.
Serabut simpatis meninggalkan medula spinalis melalui saraf splangnikus untuk
mencapai kolon. Perangsangan simpatis menyebabkan penghambatan sekresi dan
kontraksi, serta perangsangan sfingter rektum, sedangkan perangsangan
parasimpatis mempunyai efek yang berlawanan.

FISIOLOGI

Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan


proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorbsi
air dan elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon
sigmoid berfungsi sebagai reservoar yang menampung massa feses yang sudah
dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Kolon mengabsorbsi sekitar 600ml air
perhari, kapasitas absorbsi usus besar adalah 2000ml perhari. Bila jumlah ini
dilampaui, misalnya karena adanya kiriman yang berlebihan dari ileum, maka
akan terjadi diare. Berat akhir feses yang dikeluarkan perhari sekitar 200g, dan
75% diantaranya berupa air. Sisanya terdiri dari residu makanan yang tidak
terabsorbsi, bakteri, sel epitel yang mengelupas dan mineral yang tidak diabsorbsi.

Sedikitnya pencernaan yang terjadi diusus besar terutama diakibatkan oleh


bakteri dan bukan karena kerja enzim. Usus besar mengekskresikan mukus alkali
yang tidak mengandung enzim. Mukus ini bekerja untuk melumasi dan
melindungi mukosa. Bakteri usus besar mensintesis vitamin K dan beberapa
vitamin B. Pembusukan oleh bakteri dari sisa-sisa protein menjadi asam amino
dan zat-zat yang lebih sederhana seperti peptida, indol, skatol, fenol, dan asam
lemak. Pembentukkan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2, H2S dan CH4
membantu pembentukkan flatus dikolon. Beberapa substansi ini dikeluarkan
dalam feses sedangakan zat lainnya diabsorbsi dan diangkut kehati dimana zat-zat
ini akan diubah menjadi senyawa yang kurang toksik dan diekskresikan melalui
kemih. Fermentasi bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskan CO2, H2, dan
CH4 yang merupakan komponen flatus. Dalam sehari secara norma l dihasilkan
sekitar 1000ml flatus.
Pada umumnya, pergerakan usus besar adalah lambat. Pergerakan usus
besar yang khas adalah gerakan mengaduk haustra. Haustra teregang dan dari
waktu ke waktu otot sirkuler akan berkontraksi untuk mengosongkannya.
Pergerakannya tidak progresif tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolak-balik
dan meremas-remas sehingga memberi cukup waktu untuk absorbsi.

KARSINOMA KOLON

EPIDEMIOLOGI
Karsinoma kolon merupakan keganasan terbanyak kedua setelah karsinoma
paru. Di indonesiainsidensi karsinoma kolon dan rektum cukup tinggi, demikian
juga angka kematiannya. Insiden pada pria sebanding dengan wanita, lebih
banyak pada orang muda dan sekitar 75% ditemukan direktosigmoid. Di negara
barat insiden lelaki dan perempuan adalah 3:1 dan kurang dari 50% ditemukan
pada rektosigmoid serta merupakan penyakit orang usia lanjut, menurut statistik
insiden meningkat dari 10 per100.000 pada usia 40-45 tahun menjadi 300
per100.000 pada usia 75-80 tahun.

FAKTOR RESIKO

Polip adenomatous

93% karsinoma kolon berkembang dari polip adenomatous

5% adenoma berukuran 5mm menjadi karsinoma kolon

Riwayat keluarga tumor kolon jinak atau ganas

Kolitis ulseratif kronik

Penyakit crohn

Radiasi pelvis

Karsinoma rahim atau payudara pada wanita

Retinitis pigmentosa

Familial poliposis

Sindroma Gardener

Perokok, peminum alkohol dan kegemukan

Pria dengan anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi pada wanita setelah menopause

ETIOLOGI / PATOFISIOLOGI
Walaupun penyebab karsinoma kolon, seperti kolon lainnya, masih belum
diketahui, telah dikenali beberapa faktor predisposisi. Berbagai polip kolon dapat
berdegenerasi maligna dan setiap polip kolon harus dicurigai. Radang kronik

10

kolon seperti kolitis ulseratif atau kolitis amuba kronik juga beresiko tinggi.
Faktor genetik kadang berperan walaupun jarang.
Faktor predisposisi penting lain mungkin berhubungan dengan kebiasaan
makan karena karsinoma kolon (seperti juga divertikulosis) adalah sekitar 10 kali
lebih banyak pada penduduk di dunia barat, yang mengkonsumsi lebih banyak
makanan yang mengandung karbohidrat refined dan rendah serat kasar,
dibandingkan penduduk primitif (afrika) dengan diet kaya serat kasar. Burkitt
(1971) mengemukakan bahwa diet rendah serat, tinggi karbohidrat refined
mengakibatkan perubahan pada flora feses dan perubahan degradasi garam-garam
empedu atau hasil pemecahan protein dan lemak, dimana sebagian dari zat-zat ini
bersifat karsinogenik. Diet rendah serat juga menyebabkan pemekatan zat yang
berpotensi karsinogenik ini dalam feses yang bervolume lebih kecil. Selain itu,
masa transisi feses meningkat akibatnya kontak zat yang berpotensi karsinogenik
dengan mukosa usus bertambah lama.

PATOLOGI ANATOMI
Secara mikroskopis, neoplasma adalah karsinoma sel kolumnar yang terdapat
pada lapisan sel epitelial kolon atau pada kripta Lieberkhun. Secara makroskopis,
pertumbuhan dari neoplasma mempunyai 4 bentuk yaitu :
v Skirus (anular dan tubular), mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi stenosis
dan gejala obstruksi, terutama ditemukan di kolon desenden, sigmoid dan rektum.
Bentuk anular berhubungan erat dengan prognosis yang baik, bukan karena
pertubuhannya adalah keganasan tingkat rendah, namun karena bentuk ini
memberikan gejala obstruktif secara dini maka sering dilakukan ekstirpasi
sebelum terjadinya metastase
v Ulseratif, terjadi karena nekrosis dibagian sentral dan terdapat pada rektum
v Polipoid/vegetatif/kembangkol, terdapat pada skum dan kolon asenden, merupakan
bentuk keganasan yang paling jarang.

KLASIFIKASI
Klasifikasi Dukes
Klasifikasi Dukes

Kedalaman infiltrasi

Keterlibatan KGB

11

Terbatas pada mukosa

B1

Sampai

Tidak ada

lapisan Tidak ada

muskularis
B2

Menembus

lapisan Tidak ada

muskularis
C1

Sampai

Ada/KGB dekat tumor

lapisanmuskularis
C2

Menembus

lapisan Ada/KGB

jauh

muskularis

tumor

Metastasis jauh

Tidak diketahui

dari

Klasifikasi TNM

T:
T0
T1
T2
T3

Tx

tumor primer
tidak dapat ditemukan
lesi jinak pada mukosa atau submukosa
sampai dinding muskularis atau serosa
semua lapisan kolon dan perluasan ke struktur dan organ sekitar
Tanpa adanya fistel
adanya fistel
T3 atau T4 dengan perluasan langsung ke struktur atau organ
sekitar
tidak dapat ditentukan

N:
N0
N1
Nx

kelenjar getah bening regional


tidak menunjukan kelainan
ada metastasis dikelenjar regional
tidak dapat ditentukan

M:
M0
M1
Mx

metastase/penyebaran
tidak ada metastasis jauh
metastasis jauh
tidak dapat ditentukan

T4
T5

Non-invasif karsinoma (in situ)


Stage 0

T0/N0/M0

12

Invasif karsinoma
Tingkat 1

T0,1/N0/M0
T0,1/NX/M0

Tingkat 2

T2-5/N0/M0
T2-5/N0/M0

Tingkat 3

Tapapun/N1/M0

Tingkat 4

Tapapun/Napapun/M1

PENYEBARAN / METASTASIS
Karsinoma kolon mulai berkembang pada mukosa dan bertumbuh sambil
menembus dinding dan memperluas secara sirkuler ke arah oral dan aboral.
Penyebaran per-kontinuitatum menembus jaringan sekitar atau organ sekitarnya
misal ureter, buli-buli, uterus, vagina atau prostat. Penyebaran limfogen terjadi ke
kelenjar parailiaka, mesenterium, dan paraaorta. Penyebaran hematogen terutama
ke

hati

(berhubungan

dengan

vaskularisasi).

Penyebaran

peritoneal

mengakibatkan peritonitis karsinomatosa dengan atau tanpa asites.

GEJALA KLINIS
Karsinoma kolon kiri dan rektum cenderung menyebabkan perubahan defekasi
sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang dan kembung sering
terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan
obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. Baik mukus maupun darah
segar sering terlihat pada feses. Dapat terjadi anemia akibat kehilanagn darah
kronik. Pertumbuhan pada sigmoid atau rektum dapat mengenai radiks saraf,
pembuluh limfe atau vena, menimbulkan gejala-gejala pada tungkai atau
perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi atau
sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat-alat tersebut.
Karsinoma kolon kanan, dimana isi kolon berupa cairan, cenderung tetap
tersamar hingga lanjut sekali. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi
karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan
sering terjadi , dan darah bersifat samar serta hanya dapat dideteksi dengan tes

13

Guaiak (suatu tes sederhana yang dapat dilakukan diklinik). Mukus jarang terlihat
karena tercampur dalam feses.
Gejala dan tanda dini karsinoma kolorektal tidak ada. Umumnya gejala
pertama timbul karena penyulit yaitu gangguan faal usus, obstruksi, perdarahan,
atau akibat penyebaran.
Nyeri pada kolon kiri lebih nyata pada kolon kanan. Tempat yang dirasakan
berbeda karena asal embrionik yang berlainan, yaitu dari usus tengah dan usus
belakang. Nyeri dari kolon kiri bermula dibawah umbilikus sedangkan dari kolon
kanan di epigastrium.

Faktor yang menentukan gejala dan tanda

Tipe tumor

Kolon kanan

Kolon kiri

Rektum

Vegetatif

Stenotik

Infiltratif

Ulseratif

Ulseratif
Vegetatif

Kaliber viskus

Besar

Kecil/pipih

Besar

Isi viskus

Setengah cair

Setengah padat

Padat

Fungsi utama

Absorpsi

Penyimpanan

Defekasi

Gambaran klinik karsinoma kolorektal lanjut


Kolon kanan

Kolon kiri

Rektum

Aspek klinis

Kolitis

Obstruksi

Proktitis

Nyeri

Karena penyusupan

Karena obstruksi

Tenesmi

Defekasi

Diare/diare berkala

Konstipasi progesif

Tenesmi

teus

menerus
Obstruksi

Jarang

Hampir selalu

Tidak jarang

Darah pada feses

Samar

Samar/makroskopik

Makroskopik

Feses

Normal/diare

Normal

Perubahan bentuk

Dispepsi

Sering

Jarang

Jarang

Memburuknya

Hampir selalu

Lambat

Lambat

Hampir selalu

Lambat

Lambat

keadaan umum
Anemia

14

DIAGNOSIS
Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba pada palpasi perut, bila teraba,
menunjukkan keadaan sudah lanjut. Massa didalam sigmoid lebih jelas teraba
daripada massa dibagian lain kolon. Pemeriksaan colok dubur merupakan
keharusan.
Foto kolon dengan barium merupakan kelengkapan dalam menegakkan
diagnosis. 90-95% karsinoma kolon dapat dideteksi dengan pemeriksaan sinar
Roentgen. Dapat memberikan gambaran filling defek polipoid, annular konstriksi
(apple-core lesion), ambaran lead-pipe, dan mungkin kalsifikasi.

Test darah samar, hanya mendeteksi secara kimia. Salah satu prosedur
laboratorium adalah, sample kecil dari feses ditempatkan pada tempat khusus, lalu
teteskan dua buah larutan sebagai control positif dan negative, lalu lihat
perubahan warna yang terjadi (biasanya biru) yang nenunjukkan adanya darah
dalam feses.
Flexible sigmoidoskopi, telah banyak digunakan untuk mengurangi insidens
dan kematian kanker kolon dengan deteksi secara dini. Dilakukan tanpa
menggunakan sedative dan dapat dilakukan di ruangan poliklinik.

Dapat

mendeteksi 65-75% polip dan 40-65% kanker kolorektal. Test ini memakan waktu
3-5 menit.
Kolonoskopi, merupakan Gold Standart untuk visualisasi, biopsi dan
pengangkatan polip kolon. Pengangkatan semua polip dengan alat ini telah
terbukti mampu mengurangi resiko dari kanker kolon 76-90%.
Kepastian diagnosis ditentukan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi.

Penentuan diagnosa karsinoma kolorektal


Cara pemeriksaan

Persentase

Colok dubur

40 %

Rektosigmoidoskopi

75 %

Foto kolon dengan barium/ kontras 90 %


ganda

15

100 % (hampir)

Kolonoskopi

Diagnosa banding
Kolon kanan

Kolon tengah

Kolon kiri

Rektum

Abses appendiks Tukak peptik

Kolitis ulserosa Polip

Massa appendiks Karsinoma

Polip

Proktitis

Amuboma

Divertikulitis

lambung

Enteritis regionalis Abses hati

Endometriosis

Karsinoma hati

Fissura

anus

hemoroid
Karsinom anus

Kolesistitis
Kelainan pankreas

Kelainan saluran
empedu

PENATALAKSANAAN
Satu-satunya kemungkinan terapi kuratif adalah tindak bedah. Tujuan
utamanya adalah memperlancar saluran cerna yang bersifat kuratif maupun nonkuratif. Tindak bedah, terdiri dari reseksi luas karsinoma primer dan kelenjar
limfe regional. Bila sudah ada metastasis jauh, tumor primer akan direseksi juga
dengan maksud mencegah obstruksi, perdarahan, anemia, inkontinensia, fistel dan
nyeri.
Bedah kuratif dilakukan bila tidak ditemukan gejala penyebaran baik dekat
maupun jauh. Pada tumor caecum atau colon ascenden dilakukan hemikolektomi
kanan, kemudian anastomosis ujung ke ujung. Pada tumor di fleksura hepatik,
dilakukan juga hemikolektomi. Pada tumor kolon transversum dilakukan reseksi
kolon transversum, kemudian anstomosis ujung ke ujung sedangkan pada tumor
kolon desenden dilakukan hemikolektomi kiri. Pada tumor sigmid dilakukan
reseksi sigmoid dan pada tumor rektum sepertiga proksimal dilakukan reseksi
anterior. Pada tumor rektum sepertiga tengah dilakukan reseksi dengan
mempertahankan sfingter anus, sedangkan pada tumor sepertiga distal dilakukan
amputasi rektum melalui reseksi abdomino perineal Quenu-Miles, pada operasi ini

16

anus turut dikeluarkan rektum dan sigmoid dengan mesosigmoid dilepaskan,


termasuk kelenjar limfe pararektum dan retroperitoneal. Kemudian melalui insisi
perineal anus dieksisi dan dikeluarkan seluruhnya beserta rektum melalui
abdomen).
Reseksi anterior rendah pada rektum dilakukan melalui laparatomi dengan
menggunakan alat stapler untuk membuat anstomosis kolorektal atau koloanal
rendah.

Eksisi lokal melalui rektoskop dapat dilakukan pada karsinoma terbatas.


Seleksi penderita harus dilakukan dengan teliti, antara lain dengan menggunakan
endoskopi ultrasonografi untuk menentukan tingkat penyebaran di dalam dinding
rektum dan adanya kelenjar ganas pararektal.
Sebagai terapi paliatif dengan indikasi dan seleksi khusus dapat menggunakan
fulgerasi (koagulasi listrik) ataupun koagulasi dengan laser. Pada cara ini tidak
dapat dilakukan pemeriksaan histopatologik. Cara ini kadang digunakan pada
penderita dengan resiko pembedahan tinggi. Sebagai terapi tambahan (adjuvant)
dapat digunakan radioterapi, kemoterapi dan imunoterapi. Tindakan bedah yang
didahului dan diikuti radioterapi disebut terapi sandwich.

KOLOSTOMI
Merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang
dibuat untuk sementara atau menetap. Kolostomi sementara dibuat misalnya pada
penderita gawat perut dengan peritonitis yang telah dilakukan reseksi sebagian
kolon. Pada keadaan demikian, membebani anastomosis, aliran feses dialihkan
untuk sementara melalui kolostomi dua stoma yang biasanya disebut stoma laras
ganda. Dengan cara Hartman pembuatan anstomosis ditunda sampai radang di
perut telah reda.
Kolostomi tetap, yang dibuat pada reseksi rektoanal abdominoperineal
menurut Quenu-Miles berupa anus preternaturalis benar. Esofagostomi,
gastrotomi, yeyunostomi dan sekostomi biasanya merupakan stroma sementara.
Ileostomi dan kolostomi sering berupa stroma tetap.

17

Indikasi kolostomi ialah dekompresi usus pada obstruksi, stroma sementara


untuk bedah reseksi usus pada radang, atau perforasi dan sebagai anus setelah
reseksi usus distal untuk melindungi anstomosis distal. Kolostomi dapat berupa
stroma kait (loop kolostoma) atau stroma ujung (end kolostoma).
Pada kolostoma sigmoid biasanya pola defekasi sama dengan semula. Banyak
penderita mengadakan pembilasan sekali sehari, sehingga mereka tidak terganggu
oleh pengeluaran feses dari stromanya. Kolostoma pada kolon transversum
mengeluarkan isi usus beberapa kali sehari karena isi kolon transversum tidak
padat, sehingga lebih sulit diatur.
Anus preternaturalis sering menyebabkan penyulit. Hernia parastoma dapat
berisi kolon, omentum atau usus halus yang sering terjadi pada orang gemuk.
Prolaps, stenosis, nekrosis dan retraksi merupakan komplikasi teknik yang kurang
sempurna. Infeksi dinding perut kadang terjadi dan iritasi kulit sering dilihat
karena rangsang sisa pencernaan.
Terapis enterostoma merupakan ahli yang bertugas khusus untuk merawat dan
membimbing penderita dan keluarganya untuk menghadapi hidup dengan anus
preternaturalis.
Saat ini telah dikenal terapi tambahan untuk pasien pada stadium TNM 3 Atau
Dukes B2 dan C. kombinasi 5 fluorourasil (5FU) dan levamisole pada TNM 3
atau Dukes C untuk penggunaan 1 tahun post operasi. Terapi tersebut ditambah
dengan terapi radiasiuntuk TNM 4 atau Dukes B2.

PROGNOSIS
Sangat berkaitan erat dengan waktu saat ditemukannya karsinoma pertama
kali.
5 year survival rate

Dukes A

>90%

Dukes B1

70-85%

Dukes B2

55-65%

Dukes C1

45-55%

Dukes C2

20-30%

Dukes D

<1%
18

Prognostik yang buruk dapat disebabkan oleh:


5 atau lebih nodus limfe yang terlibat.
Tumor menyebar ke kelenjar limfe regional.
Penetrasi tumor ke dinding usus.
Perforasi kolon.
Tumor meluas ke organ sekitar.
Metastasis ke organ yang jauh.

SCREENING
Langkah yang paling tepat menghadapi karsinoma kolon adalah dengan
kewaspadaan, jika pedoman skreening diikuti maka berbagai kondisi yang menuju
kearah keganasan dapat diketahui sebelum menjadi karsinoma. Beberapa prosedur
skreening yang disarankan oleh American Cancer Society yaitu pemeriksaan
rektum secara digital (colok dubur) yang dimulai pada usia 40, tes darah samar
yang dimulai pada usia 50, dan sigmoidoskopi setiap 3-5 tahun yang dimulai usia
50 dilakukan pada individu yang tidak beresiko tinggi terhadap karsinoma kolon.
Pada individu yang memiliki resiko tinggi harus lebih sering dan lebih dini
tergantung factor resikonya.

Skreening dengan menggunakan CEA atau

carcinoembrionik antigen tidak direkomendasikan karena baru meningkat setelah


tumor menjadi besar dan menyebar, serta pemeriksaan ini tidak spesifik untuk
karsinoma kolon sebab dapat pula meningkat pada perokok.

PREVENTIF
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan hal penting abgi mereka yang ingin
menurunkan insidensi karsinoma kolon
1 tablet aspirin dewasa (325 mg) yang dikonsumsi tiap hari juga dapat menurunkan
insidensi karsinoma kolon, dalam hal ini aspirin berpengaruh dalam metabolisme
prostaglandin
Makanan tambahan dengan kalsium 1500mg atau lebih mempunyai hubungan
dengan insidensi yang rendah dari karsinoma kolon

19

Menurunkan berat badan serta olahraga yang teratur sangat berpengaruh dalam
menurunkan insidensi karsinoma kolon
Penggunaan obat-obatan antioksidan juga dipercaya mempunyai pengaruh yang
signifikan dalam menurunkan insidensi

20

BAB III
PEMBAHASAN

ANAMNESIS
Teori :
Fakta :
- Lebih banyak pada orang muda
- Pasien berjenis kelamin laki
laki berusia 23 tahun
- Menyebabkan
perubahan
defekasi
- Nyeri awalnya di bagian ulu
hati dan berpindah ke perut
- Nyeri dari kolon kiri bermula di
kanan bawah
bawah umbilikus sedangkan
nyeri kolon kanan di epigastrium
- Tidak ada BAB selama 3 hari
- Salah satu faktor resikonya
- Riwayat kebiasaan merokok (+)
adalah perokok
PEMERIKSAAN FISIK
Teori :
Fakta :
- Distended (+)
- Pada pasien ditemukan gejala
- Karsinoma kolon kanan, dimana
iritasi peritoneum, seperti distensi
isi
kolon
berupa
cairan,
abdomen dengan defans muscular
cenderung tetap tersamar hingga
general. Demam tidak ditemukan.
lanjut
sekali.
Sedikit
Bising usus menurun.
kecenderungan
menimbulkan - Hasil pemeriksaan Colok dubur
obstruksi karena lumen usus
dalam batas normal.
lebih besar dan feses masih
encer.
- Nyeri dari kolon kiri bermula
dibawah umbilikus sedangkan
dari kolon kanan di epigastrium.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Teori :
-

Fakta :
Darah Lengkap
Leukositosis (-)
Anemia (+)
Hb
Colok dubur 40%
Rektosigmoidoskopi 75%
Ht
Foto kolon dengan barium /
Trombosit
kontras ganda 90%
Leukosit

:13,5 %
:40,0%
:250.000
:10.300

Eritrosit

: 5.250.000

GDS

:114

BT

: 3

21

CT

: 9

Ur

: 39,5

Cr

: 1,0

PENATALAKSANAAN
Teori :
-

Fakta :
Satu satunya terapi kuratif
adalah tindakan bedah sesuai
dengan lokasi tumornya.
Dapat dilakukan kolostomi

Pada pasien dilakukan laparotomi


eksplorasi dengan diagnosis kerja awal
yaitu peritonitis ec appendicitis akut.
Setelah
dilakukan
eksplorasi
ditemukan
massa
pada
Colon
ascenden, sehingga dilanjutkan dengan
tindakan berupa reseksi sebagian
segmen
Colon
Ascenden
dan
colostomy.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. De Jong W, Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. 1997.


Jakarta: EGC
2. Price S A, Wilson L M. Patofisiologi Buku 1. Edisi 4. 1995. Jakarta: EGC

23

Anda mungkin juga menyukai