Anda di halaman 1dari 19

SMF/Lab THT

Laporan Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

Disusun Oleh:
AKHMAD FAHROZY / 1210029050
FITRIA RIMADHANTY S / 1210029047

Pembimbing:
dr. Moriko, Sp. THT

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada


SMF/Lab THT
Program Studi Pendidikan Dokter
Universitas Mulawarman
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Prevalensi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) pada beberapa negara

antara lain disebabkan, kondisi sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat,
higiene dan nutrisi yang jelek. Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada
anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom, tetapi tidak mempunyai data
yang tepat, apalagi insiden OMSK saja, tidak ada data yang tersedia. Otitis media
kronis merupakan penyakit THT yang paling banyak di negara sedang
berkembang. Di negara maju seperti Inggris sekitar 0, 9% dan di Israel hanya 0,
0039%. Di negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara
1-46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12-46%),
sedangkan prevalensi terendah terdapat pada populasi di Amerika dan Inggeris
kurang dari 1%.
Menurut survei yang dilakukan pada 7 propinsi di Indonesia pada tahun
1996 ditemukan insidens Otitis Media Supuratif Kronik (atau yang oleh awam
sebagai congek) sebesar 3% dari penduduk Indonesia. Dengan kata lain dari
220 juta penduduk Indonesia diperkirakan terdapat 6, 6 juta penderita OMSK. Di
Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran,
Depkes tahun 1993-1996 prevalensi OMSK adalah 3, 1%-5, 20% populasi. Usia
terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit
telinga tengah terbanyak adalah OMSK. Prevalensi OMSK di RS Dr Cipto
Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1989 sebesar 15, 21%. Di RS Hasan Sadikin
Bandung dilaporkan prevalensi OMSK selama periode 1988 1990 sebesar
15,7% dan pada tahun 1991 dilaporkan prevelensi OMSK sebesar 10,96%.
Prevalensi penderita OMSK di RS Dr Sardjito Yogyakarta pada tahun 1997
sebesar 8, 2%.

BAB II
LAPORAN KASUS

Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis di ruang ICU RSUD A.W. Syahranie


Samarinda pada tanggal 14 Juli 2014, pukul 15.00, diperoleh data sebagai berikut:

2.1

Identitas
Identitas Pasien

2.2

Nama

Tn. D

Umur

19 Tahun

Pendidikan Terakhir

SMA

Pekerjaan

Mahasiswa

Alamat

Jl. Gunung Ungai

Keluhan Utama

nyeri kepala

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien mengeluh nyeri kepala sebelah kiri yang menetap. Keluhan nyeri
kepala baru berlangsung sekitar 1 bulan terakhir dan semakin memburuk.
Keluhan disertai keluhan keluarnya cairan dari telinga sebelah kiri sejak 2
bulan terakhir. Cairan berwarna putih kekuningan dan agak berbau. Tidak
ada keluhan nyeri telinga, keluar darah dari telinga, pandangan kabur atau
riwayat jatuh sebelumnya. Tidak ada keluhan lain yang menyertai.
Sebelumnya pasien sempat mengeluh adanya riwayat demam dan batuk
pilek selama 2 minggu. Pasien awalnya berobat ke praktek dokter
langganannya, namun karena tidak kunjung ada perubahan, pasien lalu
berobat ke salah satu rumah sakit swasta di Samarinda. Di rumah sakit
swasta, diketahui pasien harus mendapatkan penatalaksanaan operatif.
Dikarenakan keluhan biaya, pasien lalu pindah ke RSUD AWSjahranie
Samarinda.
Selama menunggu jadwal operasi, kondisi pasien mulai menurun. Pada
hari ke 7 perawatan, pasien mulai demam tinggi yang tidak kunjung turun.

Sejak tahun 2005, pasien sering mengeluhkan keluhan keluarnya cairan


dari telinga kiri. Sejak itu, pasien rutin datang ke salah satu praktek dokter
swasta untuk mengobati keluhan telinga tersebut. Pasien juga memiliki
riwayat sering berenang.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada satupun pihak keluarga yang memiliki keluhan serupa

Pemeriksaan fisik:
1.

Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

2.

Kesadaran

: Composmentis, GCS : E3V2M3

3.

Tanda vital:

4.

Tekanan darah

: 170/100 mmHg

Frekuensi nadi

: 110 x/menit, kuat angkat, reguler

Frekuensi napas

: 32x/menit, reguler

Suhu

: 37,7C

Status generalis:
Kepala

: normochepali

Mata

: konjungtiva anemis (-/-), ikterik (-/-)

Telinga

tampak

cairan

kekuningan

berbau

menutupi MAE
Hidung/tenggorokan : tidak ditemukan kelainan
Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thorax:
Jantung

: S1S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop


(-)

Paru
Abdomen

: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)


: hepar: pembesaran (-), limpa: pembesaran
(-), nyeri tekan abdomen kuadran kanan
bawah (+)

Ekstremitas

: Atas : akral hangat

Bawah: akral hangat edema tungkai (-/-)


5.

Pemeriksaan Telinga
KANAN

KIRI

TELINGA
Aurikula

Radang (-) nyeri tekan Radang (-) nyeri tekan


tragus (-)
tragus sde
Retroaurikula
Radang (-) nyeri tekan Radang (-) nyeri tekan
(-)
sde
Meatus
Akustikus Normal
Tampak
ada
pus
Eksternus
kekuningan
Membran timpani
Normal
Tidak dapat dievaluasi
HIDUNG
Fetor
Fetor pada kavum nasi Fetor pada kavum nasi
(-)
(-)
Septum Nasi
Normal
Normal
Vestibulum nasi
Hiperemi (-)
Hiperemi (-)
Mukosa
Rongga Hiperemi (-) tumor (-) Hiperemi (-) tumor (-)
Hidung
secret pada meatus secret pada meatus
inferior (-)
inferior (-)
Konka Nasi
Edema (-)
Edema (-)
FARING
Fetor
(-)
(-)
Tonsil
Membesar (-) hiperemi Membesar (-) hiperemi
(-) detritus (-)
(-) detritus (-)

C.

Pemeriksaan Penunjang :
1.

Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal
27 Juni 2014

Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan Darah Lengkap
Hb

13 gr/dl

Hct

40 %

WBC 18.800 /uL


PLT

483.000 /uL

BT

CT

Pemeriksaan Kimia Darah


Glukosa puasa

127 mg/dl

Ureum

33,8 mg/dl

Creatinin

0,7 mg/dl

Natrium

139 mmol/L

Kalium

4.5 mmol/L

Klorida

101 mmol/L

Pemeriksaan Serologi

4 Juli 2013

HBs Ag

Negatif

Anti HIV

Negatif

Pemeriksaan Darah Lengkap


Hb

10,8 gr/dl

Hct

32,9 %

WBC 27.200 /uL


PLT

337.000 / Ul

Pemeriksaan Kimia Darah


Glukosa Sewaktu 134 mg/dl

5 Juli 2014

7 Juli 2013

Ureum

20,9 mg/dl

Creatinin

0,9 mg/dl

Natrium

129 mmol/L

Kalium

3.7 mmol/L

Klorida

104 mmol/L

Kalsium

9.7 mg/dl

Magnesium

1.6 mg/dl

Pemeriksaan Kimia Darah


Natrium

131 mmol/L

Kalium

3.5 mmol/L

Klorida

100 mmol/L

Kalsium

9.6 mg/dl

Magnesium

2.4 mg/dl

Pemeriksaan Darah Lengkap


Hb

10,7 gr/dl

Hct

33,2 %

WBC 15.400 /uL

PLT

377.000 / Ul

Pemeriksaan Kimia Darah


Glukosa Sewaktu 95 mg/dl

12 Juli 2014

2.

Albumin

3.4 g/dl

Ureum

20,4 mg/dl

Creatinin

0,5 mg/dl

Natrium

124 mmol/L

Kalium

3.8 mmol/L

Klorida

91 mmol/L

Kalsium

9.7 mg/dl

Magnesium

2.1 mg/dl

Pemeriksaan Kimia Darah


Natrium

126 mmol/L

Kalium

4.8 mmol/L

Klorida

95 mmol/L

Kalsium

8.8 mg/dl

Magnesium

1.9 mg/dl

Foto Thoraks Postero-anterior tanggal 28 Juni 2013 :

Interpretasi Hasil Foto


Thoraks :
Kesan normal

3.

Hasil CT Scan

Tanggal 17 Juli 2014

D.

Diagnosis
Diagnosis Kerja Sementara

Diagnosis Kerja Komplikasi :

E.

Otitis Media Supuratif Kronik


Abses Cerebri

Penatalaksanaan
Operasi Kraniotomi dan drainase pada tanggal 4 Juli 2014
Persiapan Sebelum Operasi
1.

Informed concent

2.

Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita

3.

Menerangkan kepada pasien tentang tindakan operasi yang dilakukan :


garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat tindakan

4.

Pasien dipuasakan

5.

Cek darah, dan darah harus tersedia dan sudah dilakukan


crossmatching.

Terapi Post Operatif


1. Inj Ceftriaxone 1 gr / 12 jam/iv
2. Inj Ketorolac 30mg/8 jam/ iv
3. Inj Ranitidin 50mg /12 jam/ iv
4. Inj Metronidazole 500mg/8 jam iv

Follow Up
Tanggal

Follow up

27 Juni 2014 Menerima pasien baru dari igd dan


melakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik :
S : nyeri kepala kiri selama 1 bulan
terakhir, riwayat keluar cairan dari telinga
kiri 2 bulan terakhir
O : E4V5M6 TD 110/70 mmHg, N : 88x
/i kuat angkat, regular, RR 20 x/i , T:
36,7oC
A : SOL dd Abses serebri
Lapor dr. Sp BS,
IVFD RL
Inj Metronidazole 50mg/8 jam iv
Inj Cefotaxime 1 gr/8 jam iv
Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv
Inj Ranitidin 50 mg/12 jam
CT Scan ulang di ruangan
28 Juni 2014 S : nyeri kepala (+) demam (-) mual (+)
08.00
muntah (+) kejang (-)
O : E4V5M6 TD 140/80 mmHg, N : 90x
/i kuat angkat, regular, RR 34 x/i , T:
38oC
A : SOL dd Abses Cerebri

29 Juni 2014 S : nyeri kepala (+) demam (-) mual dan


08.00
muntah berkurang, kejang (-)
O : E4V5M6 TD 140/80 mmHg, N : 90x
/i kuat angkat, regular, RR 34 x/i , T:

Rencana tindakan dan


Penatalaksanaan

- IVFD RL, guyur 500cc;


lanjutkan 2000cc/24 jam
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv
- Inj Ranitidin 50 mg/12
jam
- Inj Omeprazole 2x1 amp
- Inj Ondancentron 3x1 amp
- Pasang kateter
- O2 nasal kanul 2 lpm
P : Konsul dr. Sp, BS :
- IVFD RL 1500 cc/24 jam
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv

38oC
A : Abses Cerebri

30 Juni 2014 S : nyeri kepala (+) demam (-) mual (+)


08.00
muntah (-) kejang (-)
O : E4V5M6 TD 100/60 mmHg, N : 96x
/i kuat angkat, regular, RR 24 x/i , T:
37.2oC
A : SOL dd Abses Cerebri

1 Juli 2014

S : nyeri kepala (+) demam (-) mual (+)


muntah (-) kejang (-) mengeluh sesak
O : E4V5M6 TD 130/70 mmHg, N : 96x
/i kuat angkat, regular, RR 32 x/i , T:
37.2oC
A : SOL dd Abses Cerebri

2 Juli 2014
08.00

S : nyeri kepala (+) demam (+) mual (+)


muntah (-) kejang (+)
O : E4V5M6 TD 120/70 mmHg, N : 96x
/i kuat angkat, regular, RR 28 x/i , T:
38.2oC

- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv


- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Inj Omeprazole 2x1 amp
- Inj Ondancentron 3x1 amp
- Pasang kateter
- O2 nasal kanul 2 lpm
- Rencanakan CT Scan
kepala kontras dan Foto
Thorax PA
P:
- IVFD RL 1500 cc/24 jam
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Inj Omeprazole 2x1 amp
- Inj Ondancentron 3x1 amp
- Rencanakan CT Scan
kepala kontras dan Foto
Thorax PA
P:
- IVFD RL 1500 cc/24 jam
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Inj Ranitidin 50mg/12 jam
- Drip Tramadol 2x1
- Pronalges supp esktra 1
- Nasal kanul O2
- Observasi vital sign per 4
jam
- Observasi tanda-tanda
syok
P:
- IVFD RL 1500 cc/24 jam
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv

A : SOL dd Abses Cerebri

- Inj Metronidazole 50mg/8


jam iv
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Inj Ranitidin 50mg/12 jam
- Drip Tramadol 2x1

3 Juli 2014
08.00

S : nyeri kepala (+) demam (+) mual (+)


muntah (-) kejang (-)
O : E4V5M6 TD 140/90 mmHg, N : 100x
/i kuat angkat, regular, RR 28 x/i , T:
38.5oC
A : Abses serebri ec OMP + Mastoiditis

4 Juli 2014

S : penurunan kesadaran
O : E2V2M5 TD 160/100 mmHg, N :
100x /i kuat angkat, regular, RR 30 x/i , T:
38.9oC
A : Abses serebri ec OMP + Mastoiditis

5 Juli 2014

S : Demam (+) kejang (-) muntah (-)


O : E3V3M5 TD 160/100 mmHg, N :
112x /i kuat angkat, regular, RR 32 x/i , T:
38.3oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses
serebri hari ke I

P:
- IVFD RL 1500 cc/24 jam
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Inj Ranitidin 50mg/12 jam
- Drip Tramadol 2x1
- PCT 3x500 mg po
- Tunggu hasil CT Scan
kontras
- Konsul THT
P:
- IVFD RL 1500 cc/24 jam
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Antrain 1 gr/ 8 jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Inj Ranitidin 50mg/12 jam
- Drip Tramadol 2x1
- O2 NRM 10 lpm
- Head up 30o
- Pasang NGT + DC
- Cito craniotomy, cek lab
- Konfirmasi ruang ICU
P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Infuse paracetamol
500mg/8jam
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Terapi lain sesuai Sp.An

7 Juli 2014

S : Demam (+) kejang (-) muntah (-)


O : E3V2M5 TD 160/100 mmHg, N :
112x /i kuat angkat, regular, RR 32 x/i , T:
38.3oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses
serebri hari ke III

8 Juli 2014

S : Demam (+) kejang (-) muntah (-)


O : E3V3M5 TD 140/100 mmHg, N :
138x /i kuat angkat, regular, RR 36 x/i , T:
38.3oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses
serebri hari ke IV

9 Juli 2014

S : Demam (-) kejang (-) muntah (-)


O : E3V3M5 TD 160/100 mmHg, N :
120x /i kuat angkat, regular, RR 22 x/i , T:
36oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses
serebri Hari ke V

10 Juli 2014

S : Demam (-) kejang (-) muntah (-)


O : E4V2M5 TD 160/100 mmHg, N :
120x /i kuat angkat, regular, RR 22 x/i , T:
36oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses
serebri hari ke VI

11 Juli 2014

S : Demam (-) kejang (-) muntah (-)


O : E4V4M3 TD 160/100 mmHg, N :
120x /i kuat angkat, regular, RR 22 x/i , T:
36oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses

P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Infuse paracetamol
500mg/8jam
- Inj Ikaphen 100mg/8 jam
- Manitol infuse 150cc/8jam
- Terapi lain sesuai Sp.An
P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Manitol infuse
150cc/24jam
- paracetamol 500mg/8jam
po
- Ikaphen 100mg/8 jam po
- Terapi lain sesuai Sp.An
- Aff drain
P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Manitol infuse
150cc/24jam
- paracetamol 500mg/8jam
po
- Ikaphen 100mg/8 jam po
P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Manitol infuse
150cc/24jam
- paracetamol 500mg/8jam
po
- Ikaphen 100mg/8 jam po
- Terapi lain sesuai Sp.An
P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv

serebri hari ke VII

12 Juli 2014

S : Demam (-) kejang (-) muntah (-)


O : E2V1M5 TD 160/100 mmHg, N :
110x /i kuat angkat, regular, RR 22 x/i , T:
36oC
A : Post Craniotomy + evakuasi abses
serebri hari ke VIII + OMSK Sinistra
dangerous type

- Manitol infuse
150cc/24jam
- paracetamol 500mg/8jam
po
- Ikaphen 100mg/8 jam po
- Terapi lain sesuai Sp.An
- Koreksi elektrolit
P:
- Inj Ceftriaxone 1 gr/12
jam iv
- Inj Metronidazole 50mg/8
jam iv
- Manitol infuse
150cc/24jam
- paracetamol 500mg/8jam
po
- Ikaphen 100mg/8 jam po
- Amlodipin 1x 5mg
- Terapi lain sesuai Sp.An
- Koreksi elektrolit
- Ofloxacin atic 2 dd III gtt
sebelumnya ditetesi H2O2
3 tetes di telinga kiri
- Pro Urgent mastoidektomi
total dengan GA bila TS
bedah setuju

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Definisi

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1

Anamnesis
Dari anamnesis, didapatkan pasien berusia 19 tahun, dimana menurut

Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 1993-1996


usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun. Keluhan
pasien saat ini memiliki riwayat seringnya mengalami keluhan keluarnya cairan
dari telinga. Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan
dari otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui
faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang
menjadi kronis. Patogenesis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam
hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi
yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Hal ini
sesuai dengan kondisi pasien yang sebelumnya memiliki riwayat infeksi telinga
selama 4 tahun terakhir.
Dari keluhan didapatkan cairan yang keluar dari telinga. Sekret pada
OMSK dapat bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan infeksi. Sekret yang mukus dihasilkan oleh
aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak,
cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai
reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi.
Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat
disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar
setelah mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya
sekret telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi
kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil,
berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret
telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas.
Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan
polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu
sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.

Pasien juga sering mengeluh nyeri kepala menetap. Vertigo pada penderita
OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan vertigo seringkali
merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh
kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang
mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya
karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih
mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga
akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi
serebelum. Hal ini sesuai dengan kondisi pasien yang sudah mencapai tahap
komplikasi berupa abses serebri.
Pada kasus juga terdapat demam dan riwayat batuk pilek 2 minggu
sebelum keluhan muncul. Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah
terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa
telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme
yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri. Pada kasus dimana sudah memiliki riwayat infeksi telinga
berulang, kondisi ini bisa terjadi.

4.2 Pemeriksaan Fisik


Dapat dilakukan pemeriksaan audiometric, radiologi dan bakteriologi.
Pada pasien yang telah dilakukan pemeriksaan CT scan, tampak adanya gambaran
benda asing.

4.3 Penatalaksanaan
Pada kasus didapatkan penatalaksanaan berupa pemberian obat Ofloxacin
atic dengan pemberian H2O2 sebelumnya. Tujuan pembersihan/toilet telinga
adalah

membuat

lingkungan

yang

tidak

sesuai

untuk

perkembangan

mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi


perkembangan mikroorganisme. Pemberian H2O2 merupakan salah satu toilet
telinga. Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK
aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga, baik pada anak maupun
dewasa.

Penatalaksanaan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi.


Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi
sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal,
maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan
mastoidektomi. Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat
dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna,
antara lain mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy), mastoidektomi
radikal, mastoidektomi radikal dengan modifikasi, miringoplasti, timpanoplasti
dan pendekatan ganda timpanoplasti. Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi
secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah
terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta
memperbaiki pendengaran. Teori ini sesuai dengan penatalaksanaan yang
direncanakan pada pasien, dimana penatalaksanaan mastoidektomi urgent.

4.4 Komplikasi
Otitis media supuratif mempunyai potensi untuk menjadi serius karena
komplikasinya yang sangat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan
kematian. Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan
patologik yang menyebabkan otorea. Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien
OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut
oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan
komplikasi. Pada pasien didapatkan komplikasi ke susunan saraf pusat berupa
abses serebri.

DAFTAR PUSTAKA

Iskandar N, sopeardi EA, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorok, edisi ketiga FKUI Jakarta 1997
Sosialisman & Helmi. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga,Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty
Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof.dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT
(editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2006.

Anda mungkin juga menyukai