Anda di halaman 1dari 18

PENGENALAN PENYEBAB PENYAKIT TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Andriani Diah Irianti


B1J012011
II
3
Devi Fatkuljanah

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN
Penyakit tumbuhan sudah ada sejak zaman dahulu, mungkin sejak
munculnya dunia tumbuh-tumbuhan di atas bumi ini. Buktinya terdapat pada fosilfosil tumbuhan yang ditemukan di zaman purba yang diketahui terdapat bercakbercak penyakit. Penyebab penyakit atau patogen terutama berasal dari jamur,
bakteri, virus dan nematoda. Penyakit tumbuhan dapat didefinisikan sebagai
penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tumbuhan atau bagian dari suatu
tumbuhan tidak dapat melakukan tugas atau fungsi fisiologis seperti biasanya
(Semangun, 1996). Fungsi-fungsi tersebut meliputi pembelahan, diferensiasi dan
perkembangan sel yang normal, penyerapan air dan mineral dari tanah dan
mentranslokasikannya keseluruh bagian tumbuhan, fotosintes ke tempat-tempat
penggunaan dan penyimpanannya, metabolisme senyawa-senyawa yang disintesis,
reproduksi dan penyediaan makanan reproduksi (Agrios, 1996).
Penyakit tumbuhan hanya akan terjadi jika pada satu tempat terdapat
tumbuhan yang rentan, patogen virulen dan lingkungan yang sesuai. Penyakit
tumbuhan tidak akan terjadi jika patogen yang virulen bertemu dengan tumbuhan
yang rentan, tetapi lingkungan tidak membantu perkembangan patogen dan tidak
meningkatkan kerentanan tumbuhan (Semangun, 1996). Tumbuhan yang diganggu
oleh patogen dan salah satu fungsi fisiologisnya terganggu maka akan terjadi
penyimpangan dari keadaan normal yang menyebabkan tumbuhan menjadi sakit
(Agrios, 1996). Sel dan jaringan tumbuhan yang sakit biasanya menjadi lemah dan
hancur oleh agensia penyebab penyakit. Kemampuan sel dan jaringan untuk
melaksanakan fungsi-fungsi fisiologis yang normal menjadi menurun atau akan
terhenti sama sekali dan sebagai akibatnya tumbuhan tersebut pertumbuhannya akan
terganggu atau mati (Yunasfi, 2002).
Penyakit tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu penyakit lokal
dan penyakit sistemik. Penyakit lokal merupakan penyakit yang terdapat pada suatu
tempat atau bagian tertentu pada tumbuhan contohnya pada buah, bunga, daun atau
cabang. Penyakit sistemik merupakan penyakit yang menyebar keseluruh bagian
tumbuhan sehingga tumbuhan menjadi sakit (Pracaya, 2010).
Tujuan dari praktikum pengenalan penyebab penyakit tumbuhan yaitu dapat
mengetahui berbagai penyebab penyakit tumbuhan.

II. TELAAH PUSTAKA


Penyakit pada tumbuhan

utamanya disebabkan oleh

organisme hidup

patogenik (parasit) maupun faktor fisik. Penyebab penyakit dapat dibedakan menjadi
penyebab penyakit yang menular, tidak menular dan akibat serangan hama. Penyakit
menular merupakan penyakit yang dapat berkembang biak pada suatu pohon.
Penyebab penyakit ini dapat berkembang dan menyebar secara aktif dari satu pohon
ke pohon lain melalui tanah, pertautan akar, pertautan daun atau menyebar secara
pasif dari satu tanaman ke tanaman lain karena terbawa oleh angin atau aliran pada
permukaan tanah, selokan dan sungai dan beberapa jenis patogen dapat terbawa oleh
serangga, nematoda dan burung (Yunasfi, 2002).
Penyakit tumbuhan digolongkan menjadi dua golongan yaitu penyakit abiotik
dan penyakit biotik. Penyakit abiotik adalah penyakit yang disebabkan oleh penyakit
noninfeksi atau penyakit yang tidak dapat ditularkan dari tumbuhan satu ke
tumbuhan yang lain. Patogen penyakit abiotik meliputi: suhu tinggi, suhu rendah,
kadar oksigen yang tak sesuai, kelembaban udara yang tak sesuai, keracunan
mineral, kekurangan mineral, senyawa kimia alamiah beracun, senyawa kimia
pestisida, polutan udara beracun, hujan es dan angin. Penyakit biotik adalah penyakit
tumbuhan yang disebabkan oleh penyakit infeksius bukan binatang dan dapat
menular dari tumbuhan satu ke tumbuhan yang lain. Patogen penyakit biotik
meliputi: jamur, bakteri, virus, nematoda, tumbuhan tingkat tinggi parasitik dan
mikoplasma (Sastrahidayat, 1990).
Jamur merupakan suatu bagian dari thallopyta yang karakteristiknya
berhubungan dengan tidak ada klorofil sama sekali, sehingga tidak dapat untuk
melakukan asimilasi. Lebih dari 8000 spesies jamur dapat menyebabkan penyakit
pada tumbuhan. Semua tumbuhan yang diserang oleh beberapa jamur, dan setiap
jamur parasit

dapat menyerang satu atau banyak jemis tumbuhan.

Jamur

menyebabkan gejala lokal atau gejala sistematik pada inangnya dan gejala yang
ditimbulkan mungkin terjadi secara terpisah pada inang-inang yang berbeda, secara
bersamaan pada inang yang sama atau yang satu mengikuti yang lain pada inang
sama. Jamur menyebabkan nekrosis lokal, hipotropfi dan hipoplasia. Salah satu
penyakit yang disebabkan oleh jamur busuk daun yang disebabkan oleh Phytopthora
infestans (Mont) dan busuk daun kentang (lite blight) atau yang sering disebut hawar
daun adalah penyakit penting pada tanaman kentang. Gejala dari penyakit ini daun-

daunnya yang sakit mempunyai bercak-bercak nekrotis pada tepian ujungnya.


(Yunasfi, 2002)
Virus dapat mempunyai bermacam-macam pengaruh terhadap tumbuhan,
karena virus mempunyai daya tular yang tinggi oleh karena itu virus semakin diakui
sebagai kendala utama

terhadap perkembangan tanaman budidaya contohnya

tanaman cabai. Virus mempunyai bentuk yang dapat merusak jaringan pada tanaman
yang berupa kromosom atau DNA atau RNA. Virus dapat menghentikan kerja gen
kromosom atau klorofil yang berupa asam amino sehingga tanaman atau tumbuhan.
Virus dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, mengurangi hasil
produksi bahkan mampu menimbulkan kematian tanaman inang. Salah satu contoh
penyakit tumbuhan yang disebakan oleh virus adalah CVPD pada jeuk dan TMV
pada Tembakau (Tuhumury dan Amanupunyo, 2013).
Bakteri merupakan tumbuhan bersel satu dan berdinding sel, tetapi bersifat
prokariotik. Bakteri mempunyai kemampuan mereproduksi individu sel dalam
jumlah sangat banyak dengan waktu singkat sehingga menjadi penyebab penyakit
yang merusak pada inang. Penyebaran bakteri tidak melalui spora, sehingga secara
adaktif tidak dapat disebarkan melalui angin. Bakteri patogenik mampu berpindah
dengan perantara air, percikan air hujan, binatang dan manusia. Salah satu penyakit
yang disebabkan oleh bakteri yaitu Pseudomonas syringae, Pseudomonas aeruginosa
dan kanker pada jeruk (Citrus cancer). Menurut Wakman dan Burhanuddin (2007),
Bakteri patogen umumnya bersel tunggl, batang tidak berspora dengan panjang
diameter 3 m. Beberapa dari spesies jamur memiliki flagella satu sampai banyak
yang digunakan sebagai alat gerak. Bakteri masuk ke tumbuhan melalui luka yang
disebabkan oleh serangga, nematoda dan manusia melalui lubang alami seperti
stomata, lentisel, hydatoda, nektar dan bekas daun. Bakteri yang berkembang dalam
tumbuhan dapat menyebabkan kematian sel atau nekrosa, pertumbuhan abnormal
dan menghancurkan jaringan tumbuhan. Bakteri memparasitasi tanaman melalui
kerja toksin yang dapat menyebabkan khlorosis, lanas dan gejala lainnya.
Nematoda merupakan salah satu jenis organisme pengganggu penting yang
menyerang berbagai jenis tanaman utamanya di Indonesia dan negara-negara tropis
lainnya. Kerusakan tanaman yang disebabkan oleh nematoda memiliki gejala yang
sulit diamati secara visual karena ukuran nematoda yang sangat kecil. Gejala
serangan nematoda berjalan sangat lambat dan tidak spesifik, mirip atau bercampur
dengan gejala kekurangan hara dan air, kerusakan akar dan pembuluh batang.

Serangan nematoda dapat menyebabkan kerusakan pada akar karena nematoda


menghisap sel-sel akar, sehingga pembuluh jaringan terganggu, akibatnya translokasi
air dan hara terhambat. Serangan nematoda juga mempengaruhi proses fotosintesis
dan transpirasi serta status unsur hara tanaman. Akibat pertumbuhan tanaman
terhambat, warna daun kuning klorosis dan akhirnya tanaman mati. Serangan
nematoda dapat menyebabkan tanaman lebih muda terserang patogen atau organisme
pengganggu tanaman seperti jamur, bakteri dan virus. Akibat serangan nematoda
dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi produktivitas dan kualitas
produksi. Contoh dari nematoda patogen tumbuhan yaitu, Meloidogyne javanica
(nematoda bintil akar cabai), Heterodera geotingiana (nematoda sista pada kacang),
Tylenchulus semipenetrans (nematoda jeruk) dan Ditylenchus dispaci (nematoda
batang dan umbi) (Mustika, 2005).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu mikroskop, satu set alat
gambar dan kemera.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu awetan preparat
Puccinia arachidis, Puccinia graminis, Ustilago zeae, Phytophthora infestans,
Plasmodiophora brassica, Erysiphe sp., Fusarium sp. dan Pyricularia sp.,

B. Metode

Preparat

Diamati di mikroskop

foto
gambar
Foto dan digambar

Bagian-bagian yang
teramati dicatat

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
a

III
b

II

Gambar 1. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Plasmodhiopora


brassicae penyebab penyakit akar gadah pada kubiskubisan
(Perbesaran 10x10). (I) Spora. (II) Sel terinfeksi. (III) Sel yang
tidak terinfeksi.

Gambar 2. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Eryshipe sp. Penyebab
penyakit embun tepung pada kacang-kacangan (Perbesaran 10x10).
(I) Sel inang. (II) Askospora. (III) Askus. (IV) Askokarp.

b
I

III

Gambar 3. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Pyricularia sp.
penyebab penyakit bercak daun pada jagung (Perbesaran 4x10).
(I) Spora. (II) Sel inang. (III) Tulang daun.

IV
I

Gambar 4. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Fusarium sp.
penyebab penyakit layu pada sayur-sayuran (Perbesaran 40x10).
(I) Hifa fialid. (II) Mikro konidia. (III) Makro konidia. (IV)
Konidiofor. (V) Septat. (VI) Sel Kaki.

VI
V
IV

III
II

Gambar 5. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Puccinia graminis
penyebab penyakit karat pada tanaman serealia (Perbesaran
10x10). (I) Sel Inang. (II) Spora. (III) Puccinia. (IV) Aecia. (V)
Uredia. (VI) Telia.

II

Gambar 6. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Ustilago zeae
penyebab penyakit gosong pada jagung (Perbesaran 10x10). (I) Sel
Inang. (II) Spora.

b
I

II

Gambar 7. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Puccinia arachidis
penyebab penyakit karat pada kacang-kacangan (Perbesaran
4x10). (I) Spora. (II) Tulang daun.

b
III
I

IV

Gambar 8.

II

Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Phytophthora


infestans penyebab penyakit hawar daun pada kentang
(Perbesaran 10x10). (I) Epidermis atas. (II) Spora. (III) Sel
Inang. (IV) Epidermis bawah.

B. Pembahasan
Patogen yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu Plasmodhiopora
brassicae penyebab penyakit akar gadah pada kubiskubisan, Eryshipe sp. penyebab
penyakit embun tepung pada kacang-kacangan, Pyricularia sp. penyebab penyakit
bercak daun pada jagung, Fusarium sp. penyebab penyakit layu pada sayur-sayuran,
Puccinia graminis penyebab penyakit karat pada tanaman serealia, Ustilago zeae
penyebab penyakit gosong pada jagung, Puccinia arachidis penyebab penyakit karat
pada kacang-kacangan dan Phytophthora infestans penyebab penyakit hawar daun
pada kentang. Berikut penjelasan dari masing-masing patogen yang digunakan.
Penyakit yang menyerang tanaman kubis sangat beragam jenisnya. Salah
satunya yang cukup serius adalah penyakit akar gada (clubroot) yang disebabkan
oleh Plasmodiophora brassicae yang menyebabkan bengkak pada akar. Gejala yang
ditimbulkan yaitu akar-akarnya membesar dan menyatu, seperti gada (alat pemukul)
sehingga disebut akar gada. Tanaman yang terserang oleh patogen akar gada akan
tampak meran, kerdil, daun-daunnya berwarna kelabu dan lebih cepat layu. Salah
satu cara untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan pemberian kapur dolomit,
penggunaan beberapa varietas kubis yang didatangkan dari Jepang seperti YCR-Anju
dan YCR-Tae yang tahan terhadap penyakit akar gada dan aplikasi beberapa jenis
fungisida sintetik seperti daconil, antracol dan acrobat. Penggunaan fungisida
sintetik cenderung memberikan efek buruk terhadap lingkungan utamanya tanah,
karena itu perlu diupayakan fungisida nabati dari ekstrak tanaman seperti cengkeh,
gamal, nimba, sereh wang, sirih, sirsak dan gulma dari kirinyih yang diketahui
mengandung senyawa bersifat fungisida. Bahan aktif yang terdapat pada ekstrak
tanaman tersebut yaitu seperti tanin, fenolik, dan nimbin yang diharapkan mampu
menghambat pertumbuhan jamur (Hendriyani et al., 2012).
Eryshipe sp. merupakan penyebab penyakit embun tepung pada tanaman
kacang-kacangan. Gejala penyakit ini dimulai dengan permukaan atas daun terdapat
bercak putih yang menutupi seluruh permukaan daun. Serangan parah dapat
menyebabkan daun layu dan rontok (Semangun, 2001). Penyakit ini menyerang pada
waktu musim panas, jamur yang membentuk miselium tebal yang menutupi daun,
batang, bunga dan buah. Penyakit ini juga menyebabkan tanaman gagal berbuah.
Jamur tepung dapat disebabkan oleh angin (Pracaya, 1995). Pengendalian penyakit
ini menurut Tjahjadi (1995) dapat dilakukan dengan

beberapa cara yaitu

mengurangi kelembapan di sekitar tanaman dengan cara pengaturan jarak tanam dan

drainase dengan baik, membuang bagian tanaman yang terserang, menanam varietas
resisten.
Cendawan Fusarium sp. merupakan salah satu patogen penting pada tanaman
tomat. Keberadaan cendawan Fusarium sp. pada tanaman tomat bisa menyebabkan
tanaman tomat mengalami kerusakan dan kerugian secara ekonomi yang besar
(Soekarno et al., 2012). Gejala pertama dari penyakit Fusarium sp. adalah tulang
daun memucat

terutama daun-daun sebelah atas, kadang-kadang daun sebelah

bawah. Tanaman menjadi kerdil dengan tangkai merunduk dan akhirnya layu
keseluruhan, jika tanaman dipotong dekat pangkal batang akan terlihat suatu cincin
cokelat dari berkas pembuluh (Susanna et al., 2010). Pengelolaan dari penyakit yang
disebabkan oleh Fusarium sp. yaitu dengan melakukan penanaman varietas yang
tahan terhadap serangan Fusarium sp., pemakaian fungisida, mencegah infeksi tanah,
pelakuan tanah dan mengendalikan populasi nematoda (Sastrahidayat, 1990). Salah
satu pengendalian penyakit layu bakteri yang aman bagi lingkungan adalah dengan
penggunaan mikroba antagonis. Beberapa mikroba antagonis yang telah banyak
diteliti adalah Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens dan Trichoderma
harzianum (Hersanti et al., 2009). Menurut Semangun (1996), cendawan Fusarium
akan membentuk konidium pada suatu badan yang disebut sporodokium yang
dibentuk pada permukaan tangkai atau daun sakit pada tangkai yang sudah tua.
Konidiofor bercabang dan rata-rata mempunyai panjang 70 m, cabang-cabang
samping biasanya bersel satu, panjang sampai 14 m, konidium terbentuk pada
ujung cabang utama dan samping. Mikronidium bersel satu atau dua, hialin jorong
atau agak memanjang dengan ukuran 5 -7 x 2,5-3 m. Makrokonidium berbentuk
sabit, bertangkai kecil, kebanyakan bersel 4, berukuran 22- 36 x 4,5 m.
Klamidospora bersel satu, jorong atau bulat berukuran 7-13 x 7-8 m terbentuk di
tengah hifa atau pada makrokonidium, seringkali berpasangan. Konidia biasanya
mempunyai 3-5 septa dan sel apikal yang tipis serta dasarnya yang berbentuk kaki.
Klamidosporanya dapat terbentuk tunggal dan berpasangan (Ploetz, 1994)
Phytophthora infenstans merupakan penyakit hawar pada daun kentang yang
menyebabkan daun-daun yang terinfeksi penyakit ini memiliki bercak-bercak
nekrotik pada bagian tepi daun dan ujungnya. Phytophthora infenstans merupakan
penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh jamur, ciri-cirinya memiliki miseliumnya
interseluler, tidak bersekat, mempunyai haustorium, konidiofor keluar dari mulut dan
kulit. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan beberapa cara diantaranya yaitu dengan

menanam bibit yang sehat, menanam varietas yang tahan dengan serangan
Phytophthora infestans (Semangun, 1996). Menurut Pracaya (1995), Gejala yang
ditimbulkan dari penyakit hawar pada daun kentang yaitu daun yang sakit terlihat
adanya bercak-bercak pada ujung dan tepi daunnya dan dapat meluas kebawah serta
mematikan dalam waktu 1-4 hari jika udara lembab. Seluruh daun akan menghitam,
layu dan menjalar ke seluruh batang. Sisi bawah daun kelihatan jamur kelabu yang
terdiri dari konidiospora dengan konidianya. Umbinya juga dapat diserang sehingga
menjadi busuk basah maupun busuk kering. Permukaan umbi terdapat bercak yang
sedikit cekung sedalam 3-6 mm, warnanya coklat atau hitam keunguan dan bagian
yang terserang penyakit relatif keras (Pracaya, 1995).
Ustilago zeae merupakan penyakit yang menyebabkan gosong pada jagung.
Ustilago dikenal sebaagai jamur api atau jamur hangus. Kumpulan sporanya
berbentuk seperti debu hangus atau jelaga. Spora jamur ini mudah terbawa oleh
angina. Jamur ini mempertahankan dirinya di dalam tanah dengan membentuk
klamidospora. Pengelolaan penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan
sanitasi, mebongkar tanaman yang terinfeksi, menggunakan bibit yang sehat dan
tidak mengambil bibit yang terinfeksi, melakukan perawatan dengan fungisida,
melakukan rotasi atau pergiliran tanaman dan menanam varietas yang tahan dengan
serangan Ustilago (Agrios, 1996). Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini yaitu
pada tongkol ditandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi
pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan
pembungkus terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari
pembungkus dan spora tersebar. Menurut Wakman dan Burhanuddin (2007), ada 3
penyebab penyakit gosong pada jagung yaitu Ustilago zeae, Ustilago reiliana dan
Ustilago oryzae. Ustilago zeae memiliki teliosporanya (klamidospora) berbentuk
bulat sampai elip, berwarna cokelat sampai hitam, diameter 8-11 m. Spora diploid ini
tumbuh membentuk promiselium dengan empat atau lebih sporidia. Infeksi dapat
dilakukan langsung oleh hifa yang tumbuh dari teliospora atau dari hasil fusi antara
sporidia dan hifa.
Puccinia arachidis merupakan salah satu penyebab penyakit karat daun
pada kacang-kacangan. Penyakit ini disertai dengan bercak daun yang disebabkan
oleh Cercospora arachidiola. Penyakit ini merupakan penyakit yang kronis dan
pada serangan yang berat menyebakan penurunan hasil panen hingga 50%-60%
tanaman kacang. Penyebaran jamur karat ini terjadi melalui uredospore pada sisa

brangkasan atau polong terkontaminasi yang terbawa angin. Perkecambahan


uredospora paling banyak terjadi pada suhu 35C dengan kelembaban relatif 90%.
Salah satu cara untuk mengatasi penyakit karat daun ini dapat dilakukan dengan
menggunakan benih dari varietas yang toleran. Varietas kacang tanah yang tahan
terhadap karat daun dapat ditentukan dengan cepat yaitu, dengan melihat gejala
serangan, apabila dalam waktu kurang dari 50 hari setelah tanam gejala tersebut
tampak, maka dapat dikatakan bahwa varietas kacang tanah tersebut rentan terhadap
serangan penyakit karat daun (Hasanah et al., 2004).
Pycularia sp. merupakan penyebab penyakit bercak daun pada daun jagung.
Gejala dapat ditunjukkan dari bercak coklat tua mengering. Bercak daun mempunyai
tepi yang jelas, bergelang, berwarna coklat muda kekuningan, agak basah, lalu
mengering menjadi berwarna coklat keputihan dan berbintik hitam. Serangan parah
penyakit ini menyebabkan kerobohan tanaman (Semangun, 2001). Menurut Pracaya
(1995), Pycularia sp menyerang tanaman jagung terutama pada tongkolnya. Tongkol
yang diserang kelihatannya membengkak ada yang kecil dan ada yang besar, mulamula jamur ini berwarna keputihan sebab masih tertutup membrane, kemudian
berubah menjadi lebih tua, ungu muda dan menyerang tongkol, daun, kuncup-kuncup
buku pada batang, pada rangkaian bunga, dan bagian-bagian yang lain.
Pembengkakan telah masuk membran yang menutup menjadi kering dan pecah
kemudian akan keluar spora berbentuk tepung kering yang hitam. Jamur ini biasanya
menginfeksi pada tanaman jagung yang telah setinggi 30 cm-1,5 m dan tongkolnya
baru keluar rumbai-rumbai. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan
menanam varietas resisten, mengumpulkan dan membakar bahan tanaman yang
terserang serta perlakuan benih dengan baik dengan fungisida, tetapi prosedur ini
tidak efektif jika tanah yang ditanami mengandung spora jamur tersebut
(Tjahjadi,1989). Pengendalian penyakit gosong yang dapat digunakan adalah varietas
tahan, pestisida, rotasi tanaman dan perlakuan benih.
Puccinia graminis merupakan penyebab penyakit karat. Gejala penyakit ini
ditunjukkan dengan adanya bercak-bercak seperti karat pada daun, pelepah dan
batang. Bercak-bercak berwarna kuning dilingkari warna merah di sebelah bawah
permukaan daun yang sakit. Pucinia graminis mempunyai beberapa fase
pertumbuhan meliputi fase piknium (0), fase aesium (I), fase uredium (II) dan fase
telium (III). Piknium berbentuk botol atau cakra, badan buah ini sebagai pembawa
alat kelamin jamur yaitu spermatium atau alat kelamin jantan dan hifa atau alat

kelamin betina. Aesium berbentuk seperti mangkuk atau cawan yang menembus
dinding epidermis daun. Uredium merupakan badan buah yang sel-selnya
membentuk urediospora di bawah epidermis yang kemudian mendorong epidermis
hingga rusak. Telium adalah sekelompok sel berinti dua yang membentuk teiospora.
Jamur ini menyebabkan penyakit karat pada daun serealia, misalnya gandum
(Semangun, 2001). Pengendalian Penyakit karat dapat dikendalikan dengan cara:
Penanaman varietas tahan ( seperti Arjuna, Bromo, Rama, C3, Pioneer-2, Pioneer- 3,
CPI-2, Semar-1, Semar-2). Aplikasi fungisida pada saat mulai tampak bisul karat
pada daun. Menurut Mert et al.,(2012), penyakit karat merupakan penyakit yang
memiliki ancaman serius terhadap produksi gandum. Pada tahun 1963, penyakit ini
menyebabkan kehilangan hasil panen 15% -50% dan 9% di selatan Turki (Antalya,
Burdur) dan wilayah Laut Hitam pada tahun 1967. Kehilangan hasil panen 15% 50% dan 15% -30% juga dilaporkan dari barat daya Anatolia dan dari Mu, Bingl,
dan propinsi Elaz. Besar kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit karat daun
sangat bergantung pada kondisi iklim, virulensi patogen dan genotipe dari tumbuhan
gandum itu sendiri.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa patogen yang
digunakan dalam praktikum kali ini ada 8 yaitu Plasmodhiopora brassicae penyebab
penyakit akar gadah pada kubiskubisan, Eryshipe sp. penyebab penyakit embun
tepung pada kacang-kacangan, Pyricularia sp. penyebab penyakit bercak daun pada
jagung, Fusarium sp. penyebab penyakit layu pada sayur-sayuran, Puccinia graminis
penyebab penyakit karat pada tanaman serealia, Ustilago zeae penyebab penyakit
gosong pada jagung, Puccinia arachidis penyebab penyakit karat pada kacangkacangan dan Phytophthora infestans penyebab penyakit hawar daun pada kentang.

B. Saran
Preparat awetan yang digunakan pada acara kali ini ada yang kurang jelas
bagian-bagiannya ketika dilihat di bawah mikroskop, akan lebih baik lagi jika
preparat awetan tersebut diganti dengan yang baru.

DAFTAR REFERENSI
Agrios, G. N. 1996. Plant Pathology 3th ed. Academy Press: New York.
Hasanah, R. W. Arief dan J. Barus. 2004. Pengaruh Teknik Budidaya dan Produksi
Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). J. Hama dan Penyakit Tumbuhan
Tropika 4(2); 102-105.
Hendriyani, N. M. Y., I. K. Suada dan N. W. Suniti. 2012. Pengendalian Penyakit
Akar Gada yang Disebabkan oleh Plasmodiopohora brassicae Wor. pada
Tanaman Kubis (Brassica oleracea L. var capiata L.) dengan Beberapa
Ekstrak Tanaman. Agrotop 2(2): 197-203.
Hersanti, R. T. Rupendi, A. Purnama, Hanudin, B. Marwoto dan O. S. Gunawan.
2009. Penampisan Fluorensens, Bacillus subtilis dan Trichorderma
harzianum yang Bersifat Antagonik terhadap Rolstonia solanacearum pada
Tanaman Kentang. Jurnal Agrikultural 20(9): 198-203.
Mert, Z., A. Karakaya, F. Dusunceli, K. Akan dan L. Cetin. 2012. Determination of
Puccinia graminis f. sp. tritici Races of Wheat in Turkey. Turk J Agric For
36(2012): 107-120.
Mustika, I. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman
Perkebunan di Indonesia. Perspektif 4(1): 20-32.
Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya: Yogyakarta.
Pracaya. 2010. Hama dana Penyakit Tanaman Edisi Revisi. PT. Penebar Swadaya:
Cimanggis, Depok.
Ploetz, R. C. 1994. Banana: Campedium of Tropical Fruits Disease. Minnesota: The
American Phytopathology Society Press.
Sastrahidayat, I. R. 1990. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Penerbit Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya: Surabaya.
Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.
Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada Press:
Yogyakarta.
Soekarno, B. P. W., Surono dan E. Marhaenis. 2012. Potensi Ekstrak Kangkung
sebagai Biofungisida untuk Mengendalikan Penyakit Busuk Buah Fusarium
pada Tomat. Jurnal Fitopatologi Indonesia 8(5): 121-127.
Susanna, T. Chamzurni dan A. Pratama. 2010. Dosis dan Frekuensi Kascing untuk
Pengendalian Layu Fusarium pada Tanaman Tomat. J. Floratek 5: 152-163.
Tjahjadi, N. 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisius: Yogyakarta.
Tumury, G. N. C. dan H. R. D. Amanupunyo. 2003. Kerusakan Tanaman Cabai
akibat Penyakit Virus di Desa Waitamil Kecamatan Kairatun. Agrologia 2(1);
36-42.
Wakman, W. dan Burhanuddin. 2007. Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung.
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.

Yunasfi. 2002. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit dan


Penyakit lain yang Disebabkan oleh Jamur. Digital Library USU: Sumatera
Utara.