Anda di halaman 1dari 11

Nutrigenomik

Kelompok 4 (A2)
Fildzah Badzlina

(125070300111004)

Eka Nanda Wulandari

(125070300111008)

Findy Siratu Putri

(125070300111012)

Ika Febriani

(125070300111040)

Haris Apriyanto

(125070300111045)

Andayu Nareswari

(125070300111049)

Indah Izza M

(125070300111053)

Yunita Reza Rohmawati

(125070301111003)

Farikha Alfi Fairuza

(125070301111007)

Tiara Dian Novitasari

(125070301111011)

Aulia Miladitya

(125070301111015)

Eryn Patria Perdani

(125070301111019)

Moniska Dwijanti Lukis

(125070302111001)

Unun Fitry Febria F

(125070306111003)

Kartika Diana P.P

(125070307111012)

Luh Putu Wulan Cahyani

(125070307111017)

Aster Asian Grace

(125070307111021)

Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran


Universitas Brawijaya
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Manusia yang hidup pasti membutuhkan makanan untuk tetap bertahan hidup. Makanan

yang dikonsumsi juga memiliki banyak pengaruh karena kandungan yang dimilikinya. Makanan
biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan
tenaga dan nutrisi. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehariharinya. Makanan dapat membantu manusia dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan
badan dan otak. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat,
dan lemak adalah salah satu contoh gizi yang akan didapatkan dari makanan.
Berdasarkan kebutuhan tersebut maka komponen zat dalam makanan yang kita makan akan
sangat berpengaruh pada kondisi tubuh kita. Dengan adanya hal tersebut, makanan memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap tubuh manusia. Adanya hubungan antara nutrisi manusia dan
gen dipelajari dalam ilmu nutrigenomik . Nutrigenomik berasal dari dua kata yaitu nutrisi dan gen.
Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh zat gizi dalam ekspresi gen. Ilmu ini
memberikan penjelasan bagaimana nutrisi mempengaruhi ekspresi gen. Setiap orang memiliki
susunan genetik yang khas yang berbeda dengan orang lain. Oleh karena itu, pemberian nutrisi yang
sama pada setiap orang akan memberikan efek yang berbeda.
Masyarakat ini semakin meyakini bahwa melalui konsumsi makanan mereka bisa
memelihara kesehatan dan menghindarkan diri dari risiko menderita sakit. Mereka yang berusaha
mengendalikan kadar kolesterol darah berusaha menghindari lemak hewani. Yang ingin menjaga
struktur tulang yang kokoh akan mengutamakan, misalnya, mengonsumsi susu sebagai sumber
kalsium. Yang ingin mencegah risiko kanker usus besar (kolon) akan mengonsumsi makanan
berserat. Yang ingin mengendalikan berat badan akan memperhatikan nilai kalori makanannya.
Pemahaman masyarakat tersebut muncul karena rekomendasi dari para ahli berbagai asosiasi
profesi yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia. Rekomendasi tersebut disebarluaskan sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat melalui konsumsi makanan. Namun, masyarakat juga sering bingung ketika dihadapkan
dengan kenyataan bahwa jenis makanan yang sama dikonsumsi oleh individu yang berbeda
menimbulkan efek yang berbeda pula. Hal yang kurang disadari adalah walaupun secara genetik
memiliki kesamaan hingga 99,9 persen, semua manusia masih menyisakan 0,1 persen perbedaan
yang justru menjadi pembeda antar individu.
Selama abad 20, ilmu gizi terfokus pada vitamin, mineral dan penyakit-penyakit akibat
kekurangan zat gizi. Seiring dengan berjalannya waktu, masalah kesehatan dunia mulai bergeser
pada penyakit-penyakit akibat kelebihan zat gizi (overnutrisi), seperti obesitas dan diabetes melitus

tipe II. Hal ini membuat fokus ilmu kedokteran modern dan ilmu gizi juga berubah sesuai dengan
tuntutan zaman. Untuk mencegah meningkatnya insidens penyakit yang berhubungan dengan diet,
ilmu gizi mulai mengadakan penelitian bagaimana zat makanan bekerja di tingkat molekuler. Hal
ini mencakup interaksi antara berbagai zat makanan pada tingkat gen, protein, dan metabolisme.
Oleh karena itu penelitian di bidang gizi mulai bergeser dari epidemiologi dan fisiologi ke biologi
molekuler dan genetik, dan lahirlah nutrigenomik.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan nutrigenomik?
2. Bagaimana hubungan antara gen dengan metabolisme?
3. Bagaimana interaksi antara zat makanan dengan ekspresi gen pada beberapa penyakit?

1.3

Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dan latar belakang nutrigenomik
2. Untuk mengetahui hubungan antara gen dan metabolisme dalam tubuh
3. Untuk mengetahui interaksi antara zat makanan dengan ekspresi gen pada beberapa
penyakit

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nutrigenomik
Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan molekuler antara zat makanan
dan respon gen, yang bertujuan supaya dapat meramalkan bagaimana perubahan pada unsurunsur tersebut dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Nutrigenomik mempunyai fokus pada
pengaruh zat gizi terhadap genome, proteome, dan metabolome, sehingga nutrigenomik
dihubungkan dengan gagasan mengenai kebutuhan zat gizi perseorangan berdasarkan
genotipnya.

Gambar 1. Nutrigenomik dan nutrigenetik : dua sisi koin yang saling berkebalikan. Untuk
target tujuan dari zat gizi sendiri yang akan direalisasikan,efek-efek dari diet terhadap
metabolisme tubuh (seperti gen,protein dan metabolit) dan mempengaruhi dari genotip dalam
hubungan diet dengan penyakit harus dipertimbangkan.
2.1.1 Latar Belakang Nutrigenomik
Seiring dengan berjalannya waktu, masalah kesehatan dunia mulai bergeser pada
penyakit-penyakit akibat kelebihan zat gizi (overnutrisi), seperti obesitas dan diabetes
melitus tipe II. Untuk mencegah meningkatnya insidens penyakit yang berhubungan
dengan diet, ilmu gizi mulai mengadakan penelitian bagaimana zat makanan bekerja di

tingkat molekuler. Hal ini mencakup interaksi antara berbagai zat makanan pada tingkat
gen, protein, dan metabolisme.
Kaput dan Raymond L Rogriguez mengemukakan konsep dasar berkembangnya ilmu ini
dilandasi oleh fakta-fakta yang telah terdokumentasi dan dikenal sebagai 5 prinsip
nutrigenomik, yaitu:
1. Zat-zat makanan, baik langsung maupun tak langsung, berpengaruh pada genom
manusia, yang dalam aksinya dapat mengubah ekspresi atau struktur gen.
2. Pada kondisi tertentu dan bagi beberapa individu, diet merupakan faktor risiko yang
serius sebagai penyebab munculnya sejumlah penyakit.
3. Besarnya pengaruh nutrien pangan dapat menyehatkan atau menyebabkan sakit
tergantung pada susunan genetik masing-masing individu.
4. Beberapa gen yang diregulasi oleh diet memainkan peranan dalam inisiasi, insiden,
progresi, dan atau keparahan suatu penyakit kronis.
5. Konsumsi makanan yang didasarkan pada pengetahuan akan kebutuhan gizi (nutrisi),
status gizi, dan genotipe individu dapat digunakan untuk mencegah, meredakan, atau
menyembuhkan penyakit kronis.
2.2 Gen dan Metabolisme
Dalam nutrigenomik, zat makanan dipandang sebagai signal yang dapat berinteraksi
dengan promoter gen tertentu sehingga ekspresi gen tersebut dapat meningkat atau
berkurang.Sekali zat makanan berinteraksi dengan gen, ia akan merubah gen, ekspresi protein,
dan produk metabolit sesuai dengan tingkat signal zat makanan tersebut. Nutrigenomik
mencoba menggambarkan atau menguraikan pola-pola ini, yang dikenal sebagai dietary
signatures (penanda diet). Seperti dietary signatures yang telah diuji pada sel, jaringan, dan
organisme tertentu, dengan cara ini pula pengaruh zat makanan pada homeostasis
diselidiki.Intervensi diet untuk mencegah onset dari penyakit adalah sebuah tujuan yang
kompleks.Tidak hanya membutuhkan pengetahuan bagaimana sebuah zat gizi satu saja yang
dapat mempengaruhi sebuah sistem biologis,tetapi juga sebuah gabungan zat gizi kompleks
yang disebut diet. Yang menerangkan bahwa zat gizi akan berinteraksi untuk mempengaruhi
fungsi biologi.
2.3 Interaksi Diet dan Ekspresi Gen
Sampai saat ini, hampir 1000 gen penyakit manusia sudah teridentifikasi, 97%
diantaranya diketahui sebagai penyebab penyakit monogenik (artinya mutasi di satu gen saja
sudah cukup untuk menjelaskan penyebab penyakit). Pada beberapa penyakit monogenik,

modifikasi asupan makanan dapat mencegah munculnya gejala klinis. Memodifikasi konsumsi
makanan tertentu senyawa dapat mencegah beberapa penyakit monogenik , seperti
galaktosemia dan fenilketonuria. Galactosemia muncul dari sifat resesif langka di - galaktosa 1
- uridyltransferase fosfat ( Galt ) , yang mengarah ke akumulasi galaktosa dalam darah dan
meningkatkan risiko retardasi mental . fenilketonuria adalah dicirikan oleh fenilalanin
hidroksilase cacat ( PAH ) enzim , yang mengakibatkan akumulasi fenilalanin dalam darah
yang secara drastis meningkatkan risiko kerusakan neurologis.
2.3.1 Interaksi Zat Makanan dan Gen pada Metabolisme Lipid
Komponen protein pada lipoprotein disebut apolipoprotein. Sampai saat ini dikenal 16
jenis apolipoprotein yaitu apolipoprotein (apo) A-I, apoA-II, apo AIV, apo(a), apo B, apo CI,
apo CII< apo CIII< apo CIV, apo D, apo E, apo F, apo G, apo H, apo I, dan apo J. Lipoprotein
utama pembawa trigliserida adalah kilomikron dan very low density lipoprotein (VLDL),
sementara untuk kolesterol adalah low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein
(HDL). Dislipidemi merupakan suatu kondisi di mana profil lipid buruk, yang biasanya
ditandai dengan tingginya kadar LDL,VLDL, kilomikron, kolesterol dan trigliserid, sedangkan
kadar HDL rendah. Kadar HDL rendah merupakan bentuk dislipidemi yang paling banyak
dijumpai pada pasien PJK dengan usia di bawah 60 th.
Terdapat hubungan dinamis antara nutrisi dan gen pada metabolisme lipid. Penelitian
menunjukkan bahwa individu dengan gen tertentu ( gen yang mengandung alel APOA1*A)
memiliki kadar LDL yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan gen lain (gen yang
mengandung alel APOA1*G) setelah melakukan perubahan komposisi diet monounsaturated
fatty acid (MUFA) dari 12% menjadi 22%. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa konsumsi
polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada individu dengan gen tertentu akan menurunkan kadar
HDL, sedangkan pada individu yang lain akan meningkatkan kadar HDL.
Penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa pemahaman terhadap polimorfisme
genetik pada metabolisme lipid memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai sistem
pengaturan dan pengontrolan yang kompleks terhadap metabolisme lipid dalam tubuh.
Pengetahuan ini dapat membuka jalan bagi penyusunan rekomendasi diet yang lebih baik
berdasarkan faktor genetik seorang individu. Rekomendasi khusus semacam itu diharapkan
dapat lebih efektif menurunkan risiko PJK dibandingkan rekomendasi yang bersifat umum.

2.4 Interaksi Zat Makanan dan Gen pada Berbagai Penyakit


2.4.1 Interaksi Zat Makanan dan Gen pada Diabetes Melitus Type II
Diabetes melitus type II merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan
meningkatnya kadar glukosa darah akibat adanya resisensi insulin. Pada resistensi insulin, hati,
otot, dan lemak tidak mempunyai respon terhadap insulin. Kadar glukosa darah yang stabil
diperlukan untuk menyediakan energi bagi otak, otot, dan organ, dan kelebihan energi akan
disimpan di jaringan lemak. Pada saat kadar glukosa dalam darah turun, sel-sel beta pankreas
akan memproduksi glukagon, yang akan menstimulasi hati untuk mengubah glikogen menjadi
glukosa dan melepaskan glukosa ke dalam darah sehingga kadar glukosa dalam darah naik.
Pada saat kadar glukosa darah naik, sel alfa pankreas akan memproduksi insulin yang menahan
glukosa tetap berada di dalam hati dan menstimulasi jaringan otot dan lemak untuk menyerap
glukosa dari darah.
Banyak penelitian menyatakan bahwa diabetes melitus type II juga dipengaruhi
oleh faktor genetik. Antara lain penelitian di Belanda menyatakan bahwa anak yang lahir
dengan berat lahir rendah pada kondisi kelaparan di Amsterdam memiliki kadar glukosa darah
post pandrial lebih tinggi. Penelitian di India menyatakan bahwa bayi dengan Body Mass Index
(BMI) rendah pada 2 tahun pertama kehidupan memiliki risiko yang tinggi terkena diabetes.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gizi buruk pada janin dan bayi menimbulkan
pengaruh buruk pada mekanisme yang mengatur toleransi karbohidrat. Hal ini akan
mempengaruhi struktur dan fungsi sel beta dan bisa merubah respon jaringan terhadap insulin.

2.4.2 Interaksi Zat Makanan dan Gen pada Kejadian Kanker Payudara
Seorang perempuan yang mengonsumsi lebih sedikit buah dan sayur akan memiliki
risiko yang lebih tinggi terhadap kejadian kanker payudara karena adanya polimorfisme yang
menyebabnya perubahan asam amino valine menjadi alanin pada posisi kesembilan dari
rangkaian asam amino pada enzim manganese dependent superoxide dismutase.
2.4.3 Interaksi Zat Makanan dan Gen pada Terjadinya Penyakit Kardiovaskular
Sebuah studi epidemioligi menyatakan bahwa ada hubungan antara meningkatnya
kadar

homosistein

dengan

risiko

terjadinya

penyakit

kardiovaskular.

Methylene

tetrahydrofolate reductase (MTHFR) mengkatalisis sebuah reaksi yang menghasilkan 5methylene tetrahidro-folate yang merupakan kofaktor pada reaksi perubahan homosistein
menjadi metionin. SNPs (C677T dan A1298C) dihubungkan dengan penurunan aktivitas
MTHFR sehingga akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi homosistein di plasma yang
berimbas pada meningkatnya risiko venous thromboembolic diseas, ischemic arterial disease,
dan neural tube defect. Untuk meminimalkan efek polimorfisme dari gen MTHFR ini, maka
diperlukan treatment suplementasi asam folat.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Manusia yang hidup pasti membutuhkan makanan untuk tetap bertahan hidup.
Makanan yang dikonsumsi juga memiliki banyak pengaruh karena kandungan yang dimiliki
makanan tersebut. Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan,
dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi. Dengan adanya hal
tersebut ,makanan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tubuh manusia. Adanya
hubungan antara nutrisi manusia dan gen dipelajari dalam ilmu nutrigenomik. Nutrigenomik
berasal dari dua kata yaitu nutrisi dan gen. Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari
hubungan antara nutrisi dan genetik. Ilmu ini memberikan penjelasan bagaimana nutrisi
bekerja di tingkat genetik. Setiap orang memiliki susunan genetik yang khas yang berbeda
dengan orang lain. Oleh karena itu, pemberian nutrisi yang sama pada setiap orang akan
memberikan efek yang berbeda.
Interaksi zat makanan dan gen pada metabolisme lipid menunjukkan bahwa
polimorfisme genetik pada metabolisme lipid memberikan pemahaman yang lebih baik
mengenai sistem pengaturan dan pengontrolan yang kompleks terhadap metabolisme lipid
dalam tubuh. Interaksi zat makanan dan gen pada diabetes melitus type II menunjukkan
bahwa pada banyak penelitian menyatakan bahwa diabetes melitus type II juga dipengaruhi
oleh faktor genetic terutama pada bayi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gizi buruk
pada janin dan bayi menimbulkan pengaruh buruk pada mekanisme yang mengatur toleransi
karbohidrat.

3.2

Saran
Nutrigenomik sebagai sebuah ilmu baru dapat dikembangkan dan lebih dikenalkan
kepada praktisi kesehatan maupun masyarakat luas karena berdasarkan perkembangan
jaman dan mengimbangi makanan dan minuman saat ini, diharapkan nutrigenomik dapat
mencegah dan mengurangi dampak dari penyakit kompleks melalui makanan dan minuman
yang di ekspresikan melalui genom manusia.
Pada beberapa tahun kedepannya dengan ilmu nutrisi genomik ini kita bisa
memahami interaksi zat gizi dengan genom manusia pada tingkat molecular yang akan
membawa manfaat bagi kesehatan umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Arab, L. 2004. Individualized nutritional recommendations: do we have the measurements needed
to assess risk and make dietary recommendations? Proc. Nutr. Soc. 63, 167172
Chavez A, Munos de Chavez. Nutrigenomics in Public Health Nutrition. European Journal of
Clinical Nutrition 2003; 57 (suppl.1): 97-100.
Fatchiyah. 2013. Nutrigenomik: Strategi Cerdas Regulator Mekanisme Interaksi Genomik dan
Nutrisi dalam Penanganan Kesehatan di Masa Depan. Universitas Brawijaya, Malang.
Hamim Ahmad, Sutomo R, Sunarti, Julia M, Hermayani E, Nat. Rer. Nutrigenomik: Riset dan
Aplikasi Terkini. Annual Scientific Meeting & Tmu Alumni 2008; 2008 Mar 6;
Yogyakarta;2008.
Muller M, Kersten S. Nutrigenomics Goals and Perspectives. Nature Review Genetic 2003; 4:31522.
National Academy of Sciences. Nutrigenomics and Beyond. Washington: The National Academies
Press; 2007.
Raharjo Sri. Era Baru Ilmu Pangan dan Gizi 2004 April 14.
Trayhurn P. Nutritional Gnomics. British Journal Nutrition 2003. 89:1-2

Yulianto WA. Mengoptimalkan Kesehatan dengan Nutrien Pangan. Suara Pembaruan 2004 Mei 14.