Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan
suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahanperubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan
seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan
kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi.
Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.
Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen
antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual,
kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat
meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan
terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi (Wikipedia,
2012)
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan
hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat
terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme
menjadi lebih umum dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan
menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang
menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu
pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah
beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang
terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam. Sementara itu,
hanyutan genetik (Bahasa Inggris: Genetic Drift) merupakan sebuah proses bebas
yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan
genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu
individu bertahan hidup dan bereproduksi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Asal-Usul Invertebrata
Semua hewan yang tidak memiliki tulang belakang dikelompokkan dalam
Invertebrata (avertebrata). Hewan invertebrata ada yang tersusun oleh satu sel
(uniselluler) dimana seluruh aktivitas kehidupannya dilakukan oleh sel itu sendiri.
Sedangkan hewan invertebrata yang tersusun oleh banyak sel (multiselluler/metazoa)
sel selnya mengalami deferensisasi dan spesialisasi membentuk jaringan dan organ
tubuh dan aktivitasnya semakin komplek.
Invertebrata atau sering disebut juga avertebrata diartikan sebagai binatangbinatang yang tidak bertulang belakang. Binatang-binatang yang masuk dalam
kelompok ini mempunyai variasi yang sangat luas tanpa memperhatikan ukuran,
bentuk, ciri-ciri morfologi dan hubungan phylogenetisnya. Sehingga contoh-contoh
hewan seperti cacing, belalang, sponge, koral, kepiting, bintang laut, satu sama lain
tidak mempunyai kesamaan struktur yang spesifik, tetapi meskipun demikian
semuanya termasuk invertebrata.
Invertebrata mencakup sekitar 95 % dari seluruh hewan yang masih hidup.
Dengan jumlah yang sangat banyak tentunya keragamannya juga sangat tinggi.
Ukurannya mulai dari yang kecil (mikroskopis) contohnya beberapa jenis vermes
sampai yang berukuran besar (makroskopis) contohnya pada Phyllum Mollusca dari
classis Cephalopoda misalnya yang mempunyai ukuran sangat besar yaitu cumi-cumi
raksasa (Architeuthis) terdapat di Atlantik utara dengan panjang total 16,5 meter.
Keragaman invertebrata juga dapat kita temukan pada bentuk tubuh, simetri tubuh
dan tingkatan organisasi tubuh.
Perkembangan embrio hewan metazoa melalui tahap tahap tertentu. Secara
embriologi, hewan ada yang memiliki dua lapisan kulit, hewan demikian dinamakan
diploblastik. Untuk hewan yang memiliki tiga lapisan kulit dalam tubuhnya
dinamakan triploblastik. Struktur tubuh, dan sistem sistem yang ada pada hewan

invertebrata berbeda beda, makin tinggi tingkatannya semakin komplek struktur dan
sistem tubuhnya.

B. Evolusi Prokariota
Bahan dasar pembentuk sel purba adalah protobion atau progenot. Progenot
merupakan cikal bakal universal semua jenis sel yang ada sekarang. Progenot
merupakan cikal bakal universal semmua jenis sel yang ada sekarang. Progenot
berkembang menjadi kelompok sel prokariotik purba, seperti:
1.

Archaebacteria. Archaebacteria merupakan bakteri yang beradaptasi terhadap


suhu sekitar 100C, kadar garam tinggi, atau kadar asam tinggi. Bersifat
anaerob, memiliki dinding sel yang tersusun dari berbagai jenis protein,
memiliki

pigmen

fotosintetik

berupa

bakteriorodopsin,

dan

mampu

menghasilkan ATP sendiri.


2.

Eubacteria. Eubacteria merupakan bakteri yang hidup pada kondisi


lingkungan yang tidak seekstrim kondisi tempat hidup Archaebacteria. Ada
yang bersifat anaerob dan aerob, memiliki dinding sel yang tersusun dari
peptidoglikan, memiliki pigmen fotosintetik berupa bekterioklorofil, dna
mampu menghasilkan ATP secara lebih efisien karena sistem transport
elektronnya lebih berkembang.
Sel prokariotik merupakan sel yang memiliki struktur lebih sederhana

dibandingkan dengan sel eukariotik. Oleh karena itu, para ahli menduga bahwa
makhluk hidup yang pertama kali muncul merupakan prokariot.

Kehidupan tidak muncul secara spontan dari materi yang tidak hidup dan
tidak berwujud seperti yang ada sekarang ini. Namun, kondisi bumi sekarang sangat
berbeda dengan kondisi bumi saat baru berusia satu juta tahun. Kondisi atmosfernya
berbeda (misalnya kondisi oksigen yang minimal), banyak petir, aktivitas gunung
berapi, hantaman-hantaman meteor, serta raidasi UV sangat tinggi dibandingkan
dengan keadaan bumi saat ini. Oleh karenanya, lingkungan pada kondisi dulu
memungkinkan bermulanya kehidupan ini. Namun, masih banyak perdebatan
mengenai asal-usul kehidupan di bumi.

C. Asal-Usul Sel Eukariotik

Sampai dengan sekitar tahun 1970, diyakini bahwa sel-sel eukariotik


berevolusi dari sel-sel prokariotik melalui suatu proses evolusi perlahan-lahan, yaitu
organel pada sel prokariotik perlahan-lahan berkembang menjadi lebih kompleks.
Konsep ini berubah setelah penemuan Lynn Margulis dari Universitas Boston.
Margulis membuktikan teori yang sebelumnya diabaikan, yaitu organel-organel
tertentu pada sel eukariotik, terutama mitokondria dan kloroplas berasal dari
prokariotik yang berukuran kecil. Sel prokariotik tersebut menempati sitoplasma sel
inang yang berukuran lebih besar sehingga terbentuk sel eukariotik. Hipotesis ini
disebut sebagai teori endosimbiotik. Teori endosimbiotik bermakna bahwa sel
tunggal yang kompleks berevolusi dari dua atau lebih sel yang lebih sederhana, yang
hidup simbiotik dengan sel inangnya.

Sel eukariotik sederhana berevolusi menjadi tumbuhan atau hewan.


Tahapannya adalah
Evolusi Tumbuhan
Berdasarkan dugaan bergabungnya endosimbion, terutama Cyanobacteria,
diperkirakan nenek moyang tumbuhan merupakan konversi organism eukariot
heterotrof. Sel eukariotik yang bagian flagelnya menghilang dan membentuk
kloroplas akan membentuk tumbuhan. Dari bentuk ini berkembang menjadi Algae.
Kebanyakan Algae (ganggang) merupakan organism perairan. Beberapa ganggang
bertalus dan berfilamen. Jenis ganggang ini menutupi danau atau rawa. Pada awal
periode Silurian, ganggang secara periodic mengalami genangan dan kekeringan.
Pada saat kering yang panjang, ganggang rawa atau laut dangkal mulai beradaptasi
untuk melangsungkan hidupnya di darat. Cara beradaptasi yang mungkin dilakukan
adalah dengan membentuk organ berkutikula tebal dan bermanterl, untuk melindungi
sel gamet dari kekeringan. Diduga jenis-jenis ganggang ini berevolusi menjadi
tumbuhan lamut dan paku, dan pada evolusi tahap lanjut menjadi tumbuhan
berpembuluh.

Evolusi Hewan
Hewan berevolusi dari Protista (kelompok ganggang) berflagel menjadi
organisme kelompok Protozoa, seperti Trypanosoma dan Protozoa bersilia. Pada
evolusi hewan, yang terjadi selanjutnya adalah perubahan hewan bersel satu menjadi
hewan bersel banyak (multiseluler). Hewan bersel banyak ini diperkirakan pada
mulanya berbentuk bola berongga yang terdiri dari satu lapis sel (blastea).
Beberapa hewan invertebrate laut melakukan adaptasi untuk dapat hidup di
darat. Adaptasi yang dilakukan berupa penyesuaian alat pernapasan untuk menghirup
oksigen dari udara, dan alat gerak agar dapat bergerak di darat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Invertebrata atau sering disebut juga avertebrata diartikan sebagai binatangbinatang yang tidak bertulang belakang. Binatang-binatang yang masuk dalam
kelompok ini mempunyai variasi yang sangat luas tanpa memperhatikan ukuran,
bentuk, ciri-ciri morfologi dan hubungan phylogenetisnya. Sehingga contoh-contoh
hewan seperti cacing, belalang, sponge, koral, kepiting, bintang laut, satu sama lain
tidak mempunyai kesamaan struktur yang spesifik, tetapi meskipun demikian
semuanya termasuk invertebrata.
Invertebrata mencakup sekitar 95 % dari seluruh hewan yang masih hidup.
Dengan jumlah yang sangat banyak tentunya keragamannya juga sangat tinggi.
Ukurannya mulai dari yang kecil (mikroskopis) contohnya beberapa jenis vermes
sampai yang berukuran besar (makroskopis) contohnya pada Phyllum Mollusca dari
classis Cephalopoda misalnya yang mempunyai ukuran sangat besar yaitu cumi-cumi
raksasa (Architeuthis) terdapat di Atlantik utara dengan panjang total 16,5 meter.
Keragaman invertebrata juga dapat kita temukan pada bentuk tubuh, simetri tubuh
dan tingkatan organisasi tubuh.
Sel prokariotik merupakan sel yang memiliki struktur lebih sederhana
dibandingkan dengan sel eukariotik. Oleh karena itu, para ahli menduga bahwa
makhluk hidup yang pertama kali muncul merupakan prokariot.

DAFTAR PUSTAKA

http://klasifikasibiologi.blogspot.com/2011/05/klasifikasi-invertebrata.html
http://belajarbioyuk.blogspot.com/2011/04/bab-7-evolusi.html
http://izzadpunya.tripod.com/cgi-bin/evolusi.htm