Anda di halaman 1dari 20

BAB I

REKAM MEDIK
A. IDENTIFIKASI
Nama

: Ny. I

Rekam Medik

: 029881

Umur

: 23 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Raja Basa Raya

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

MRS

: 02 September 2014

B. ANAMNESIS (autoanamnesis tanggal 02 September 2014)


Keluhan Utama

Perut mulas-mulas yang menjalar kepinggang semakin lama semakin sering dan kuat,
mengeluhkan keluar air-air dengan hamil cukup bulan
Riwayat perjalanan penyakit :
22 jam SMRS os mengeluh perut mulas yang menjalar hingga ke pinggang,
makin lama makin sering. Os juga mengeluhkan keluar air-air. Riwayat keluar lendir
darah (-). Riwayat trauma (-). Riwayat keputihan (-) sejak awal bulan kehamilan.
Riwayat demam (-). Riwayat post coital (+). Riwayat perut diurut-urut (-).Riwayat
kerja keras selama kehamilan. Os mengaku hamil cukup bulan dan gerakan janin
masih dirasakan.
Riwayat Perkawinan : 1 x lamanya 1 tahun.

Riwayat Reproduksi : Menarche umur 13 tahun, haid teratur, siklus 28 hari,


lamanya 3 hari.
Riwayat Obstetri

: G1P0A0

No

Tempat

Tahun

1.

Bersalin
Hamil
2014

Hasil

Jenis

kehamilan Persalinan

Penyulit Nifas

Anak
BB
KU

ini
Riwayat sosial ekonomi

: Menengah ke bawah

Riwayat gizi

: Nafsu makan baik dan tidak ada gangguan pada miksi


maupun defekasi.

Riwayat penyakit yang pernah diderita :


R/ DM disangkal.
R/ Hipertensi disangkal.
R/ Penyakit jantung disangkal.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Keadaan umum

: Sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Berat badan

: 56 kg

Tinggi badan

: 155 cm

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 70 x/menit

Pernafasan

: 22 x/menit

Suhu

: 36,2oC

Anemia

: -/-

Gizi

: Sedang

Jantung

: HR 80x/m,Bunyi jantung I dan II normal, Reguler, Murmur


(-), gallop (-)

Paru

: Vesikuler (+) Normal, Wheezing (-), Ronkhi (-)

Hati/limfa

: Sulit dinilai

Refleks fisiologis

: +/+

Refleks patologis

: -/-

BAK

: Biasa

BAB

: Biasa

Turgor kulit

: Biasa

Mata cekung

: -/-

Edema pretibial

: -/-

Kepala

: normochepal

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.

Leher

: tekanan vena jugularis tidak meningkat, tidak tampak

pembesaran kelenjar getah bening.


Thorax

: Jantung : murmur tidak ada, gallop tidak ada


Paru-paru: sonor, vesikuler normal, ronkhi tidak

ada,

wheezing tidak ada.


Abdomen

: cembung, lemas kadang-kadang kontraksi, hepar, lien sulit

dinilai
Ekstremitas sperior

: terdapat bintik-bintik kehitaman

Ekst.Inferior

: edema pretibial -/-, varises tidak ada, refleks fisiologis +/+.

Status Obstetri (02 September 2014)


Hari pertama haid terakhir (HPHT) ?-12-2013.
Pemeriksaan luar:
Tinggi fundus uteri 28 cm, detak jantung janin 150 kali/menit teratur, letak janin
memanjang, punggung kiri, terbawah kepala, penurunan 5/5, his 1x/10/30 jarang
dan tidak teratur, tafsiran berat janin : 1700 gram.

Pemeriksaan Dalam:
VT

: portio lunak, anterior, pembukaan 1 cm, ketuban (+), terbawah kepala,

penurunan floating, penunjuk belum dapat dinilai.


Pemeriksaan panggul:
Tidak dilakukan
D. DIAGNOSIS KERJA
G1P0A0 hamil aterm dengan KPD 22 jam inpartu kala I fase laten, janin tunggal hidup
presentasi kepala.
E. PROGNOSIS
Ibu dan janin: dubia

F. PENATALAKSANAAN
1. Observasi his, denyut jantung janin, tanda vital ibu, kemajuan persalinan
2. IVFD RL gtt XX tpm
3. Inj. Evalin 1 gr/8jam
4. Injeksi Dexamethasone 10 mg ekstra.
5. Pemeriksaan laboratorium darah rutin, CT/BT
Hasil pemeriksaan laboratorium (tanggal 02 September 2013) :
Darah rutin :

Hb

Eritrosit

: 3,7 jt/mm3

Leukosit

: 9000/mm3

Hematokrit : 27 %

Hitung jenis : 0/0/1/67/24/8

CT

: 9,7 gr%

: 13

BT

: 3

G. EVALUASI
Ny.
Ismaya
(23th)
MRS
pukul
20.30 WIB

G1P0A0 hamil
aterm dengan
inpartu kala I
fase laten
dengan KPD
22 jam JTH
preskep

Rabu, 3
September

G1P0A0 hamil
31 minggu
dengan PPI
JTH preskep

Kamis, 4
September
2014

G1P0A0 hamil
31 minggu
dengan PPI
JTH preskep

R/ konservatif
Observasi His, DJJ,
TVI, kemajuan
persalinan
Cek DL, CT/BT
IVFD RL xx
gtt/menit
Inj. Evalin 1gr/8jam
Inj. Dexamethasone
10 mg ekstra
R/USG
Observasi His, DJJ,
TVI, kemajuan
persalinan
Duvadillan 20 mg
dalam D5 500 ml
xx gtt/menit
Inj. Evalin 1gr/8jam
Inj. Dexamethasone
10 mg/12 jam
Observasi DJJ, TVI
Duvadillan 20 mg
dalam D5 500 ml
xx gtt/menit
Inj. Evalin 1gr/8jam
Inj. Dexamethasone
10 mg/12 jam

Hasil USG:
Hamil 31
minggu JTH
preskep, DJJ
teratur,
perempuan
1600 gr.

Konsultasi
dr. Sp.OG os
BLPL
Tx pulang:
-Hystolan 20
mg/8jam
-cefadroxil
500
mg/8jam
-asam
mefenamat
500
mg/8jam
-inbion 1
caps/hari

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37
minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Persalinan prematur merupakan hal
yang berbahaya karena berpotensi meningkatkan kematian perinatal sebesar 70%.
Pada persalinan ini, seringkali bayi prematur mengalami gangguan tumbuh kembang
organ-organ vital yang menyebabkan ia masih belum mampu untuk hidup di luar
kandungan, sehingga sering mengalami kegagalan adaptasi yang dapat menimbulkan
morbiditas bahkan mortalitas yang tinggi.1
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan prematur tidak diketahui.
Berbagai sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm,
seperti: solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihidramnion, kelainan
kongenital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm
bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi. Infeksi pada
kehamilan akan menyebabkan suatu respon imunologik spesifik melalui aktifasi sel
limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-zat yang menginisiasi kontraksi uterus.
Terdapat makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus
persalinan preterm berkaitan dengan infeksi membran korioamnion. Dari penelitian
Lettieri dkk.(1993), didapati 38% persalinan preterm disebabkan akibat infeksi
korioamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah mengetahui hubungan antara infeksi
jalan lahir dengan kelahiran prematur.1,2
B. Faktor Risiko Prematuritas
Mayor3
1. Kehamilan multipel
2. Hidramnion

3. Anomali uterus
4. Serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
5. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
6. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali
7. Riwayat persalinan preterm sebelumnya
8. Operasi abdominal pada kehamilan preterm
9. Riwayat operasi konisasi
10. Iritabilitas uterus
Minor3
1. Penyakit yang disertai demam
2. Perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu
3. Riwayat pielonefritis
4. Merokok lebih dari 10 batang perhari
5. Riwayat abortus pada trimester II
6. Riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.
Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai satu atau lebih faktor risiko mayor;
atau dua atau lebih faktor risiko minor; atau keduanya.
Persalinan premature disebabkan :
1.

Faktor kehamilan
a. Perdarahan antepartum.
b. Hamil usia muda, grandemultipara, dan interval pendek
c. PROM-ketuban pecah dini.
d. Kehamilan hidramnion
e. Gangguan keseimbangan hormonal.
f.
Serviks inkompeten dan kelainan anatomis uterus.
g. Idiopatik dengan meningkatnya reseptor :
- Oksitosin.
- Inositol trifostase (IP3)
h. Pre-eklampsia-eklampsia.
2. Faktor individu
a. Keadaan sosial ekonomi rendah:
- Kerja keras hamil tua

- Gizi kurang/anemia
a. Penyakit sistemik bumil:
- Paru, jantung, dan liver- DM
- Hipertensi.
- Infeksi organ vital.
b. Infeksi kehamilan:
- Korioamnionitis.
- Servisitis-endometritis.
- Infeksi plasenta.

C. Kriteria Diagnosis3
1.

Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap atau antara 140 dan 259 hari

2.

Sebelum persalinan berlangsung dapat dirasakan tanda sebagai berikut:


nyeri pinggang belakang
rasa tertekan pada perut bagian bawah
terdapat kontraksi irreguler sejak sekitar 24-48 jam
terdapat pembawa tanda seperti bertambahnya cairan vagina atau terdapat

lendir bercampur darah.


Jika proses persalinan prematur berkelanjutan, terjadi gejala klinik sbb:
1. kontraksi uterus 4x/20menit atau 8x/60menit
2. terjadi perubahan progresif serviks:
pembukaan lebih dari 1 cm
perlunakan sekitar 75-80%
penipisan serviks
D. Pemeriksaan penunjang3,4
1. Laboratorium
Pemeriksaan kultur urine
Pemeriksaan gas dan pH darah janin
Pemeriksaan darah tepi ibu
Jumlah lekosit
C-reactive protein . CRP ada pada serum penderita yang menderita infeksi
akut dan dideteksi berdasarkan kemampuannya untuk mempresipitasi fraksi
polisakarida somatik nonspesifik kuman Pneumococcus yang disebut fraksi C.
CRP dibentuk di hepatosit sebagai reaksi terhadap IL-1, IL-6, TNF.
2. Pemeriksaan ultrasonografi
Penipisan serviks: Iams dkk. (1994) mendapati bila ketebalan seviks < 3 cm
(USG), dapat dipastikan akan terjadi persalinan preterm. Sonografi serviks
transperineal lebih disukai karena dapat menghindari manipulasi intravagina
terutama pada kasus-kasus KPD dan plasenta previa.
E. Penatalaksanaan3,4,5
Ibu hamil yang diidentifikasi memiliki risiko persalinan preterm dan yang
mengalami gejala persalinan preterm membakat harus ditangani seksama untuk
meningkatkan keluaran neonatal.

1. Akselerasi pematangan fungsi paru


Terapi glukokortikoid, misalnya dengan betamethasone 12 mg im. 2 x
selang 24 jam. Atau dexamethasone 6 mg tiap 12 jam (im) sampai 4 dosis.
Thyrotropin releasing hormone 400 ug iv, akan meningkatkan kadar triiodothyronine yang dapat meningkatkan produksi surfaktan. Suplemen inositol
juga merupakan pilihan karena inositol merupakan komponen membran fosfolipid
yang berperan dalam pembentukan surfaktan.

2. Pemberian tokolitik
Indeks tokolitik > 8 menunjukkan kontraindikasi pemberian tokolitik
Kontraksi
Ketuban
pecah
Perdarahan
Pembukaan

0
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

1
Irregular
-

2
Regular
Tinggi/tidak

3
-

4
Rendah/pecah

Spotting
1 cm

jelas
Perdarahan
2 cm

3 cm

4 cm

Nifedipin 10 mg diulang tiap 30 menit, maksimum 40 mg/6 jam. Umumnya


hanya diperlukan 20 mg dan dosis perawatan 3 x 10 mg.
Golongan beta-mimetik : Isoxsuprine hcl
o Salbutamol Perinfus : 20-50 g/menit Per oral : 4 mg, 2-4 kali/hari
(maintenance) atau :
o Terbutalin Per infuse : 10-15 g/menit, Subkutan: 250 g setiap 6 jam.
Per oral : 5-7.5 mg setiap 8 jam (maintenance)
Efek samping : Hiperglikemia, hipokalemia, hipotensi, takikardia, iskemi
miokardial, edema paru
3. Magnesium sulfat

Parenteral : 4-6 gr/iv pemberian bolus selama 20-30 menit, infus 2-4gr/jam
(maintenance)
Efek samping : Edema paru, letargi, nyeri dada, depresi pernafasan (pada ibu
dan bayi)
F. Kontraindikasi penundaan persalinan3,4,5
Mutlak
Gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak.
Relatif
Gestosis; diabetes mellitus (beta-mimetik), pertumbuhan janin terhambat,
pembukaan serviks lebih dari 4 cm.
G. Cara persalinan3,4,5
1. Janin presentasi kepala : pervaginam dengan episiotomi lebar dan
perlindungan forseps terutama pada bayi < 35 minggu.
2. Indikasi seksio sesarea :

Janin sungsang

Taksiran berat badan janin kurang dari 1500 gram (masih kontroversial)

Gawat janin, bila syarat pervaginam tidak terpenuhi

Infeksi intrapartum dengan takikardi janin, gerakan janin melemah,


ologohidramnion, dan cairan amnion berbau. Bila syarat pervaginam tidak
terpenuhi

Kontraindikasi partus pervaginam lain (letak lintang, plasenta previa, dan


sebagainya).

Lindungi bayi dengan handuk hangat, usahakan suhu 36-37 C ( rawat intensif di
bagian NICU ), perlu dibahas dengan dokter bagian anak.

Bila bayi ternyata tidak mempunyai kesulitan (minum, nafas, tanpa cacat) maka
perawatan cara kangguru dapat diberikan agar lama perawatan di rumah sakit
berkurang.
H. Penyulit5
1. Sindroma gawat nafas (RDS)
2. Perdarahan intrakranial
3. Trauma persalinan
4. Paten duktus arteriosus
5. Sepsis
6. Gangguan neurologi

I. Komplikasi5
1. Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi
mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi
preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi; Morales (1987)
menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita anmionitis memiliki
risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distres pernafasan, sepsis
neonatal, necrotizing enterocolitis dan perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih
besar.
2. Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas
dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara
dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang
disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan
tegangan permukaan. Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan
dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.
Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya
terjadi Sindroma Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan

lainnya dan pada beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan
oksigen; jika penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam
sebuah ventilator dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung
melalui sebuah selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
3. Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks
menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau
serangan apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi
prematur juga memiliki otak yang belum berkembang. Hal ini bisa
menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin
belum matang. Untuk mengurangi mengurangi frekuensi serangan apneu bisa
digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu. otak
yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan
intraventrikuler) atau cedera .
4. Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian
makanan. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan
membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu
yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah. Pada awalnya, lambung
yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang
diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan
bayi muntah.
5. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental)
6. Displasia bronkopulmoner.
7. Jaundice.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk
membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah)
dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur,
memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang
dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).
Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena
kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna.

Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan


perbaikan fungsi pencernaan bayi.
8. Infeksi atau septikemia.
9. Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka
belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati plasenta.
Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi.
Bayi

prematur

juga

lebih

rentan

terhadap

enterokolitis

nekrotisasi

(peradangan pada usus).


10. Anemia .
11. Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa
tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia).
12. Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.
13. Keterbelakangan mental dan motorik.

BAB III
PERMASALAHAN

1.

Apakah diagnosis pada kasus ini sudah tepat?

2.

Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat?

3.

Apakah yang menjadi kemungkinan etiologi pada kasus ini?

BAB IV
ANALISIS KASUS

1. Apakah diagnosis pada kasus ini sudah tepat?


Pasien seorang wanita, 23 tahun, datang ke RS Pertamina Bintang Amin pada
tanggal 02 September 2014, dengan keluhan perut mulas yang menjalar hingga ke
pinggang, makin lama makin sering. Os juga mengeluhkan keluar air-air sejak 22 jam
SMRS. Riwayat keluar lendir darah (-). Riwayat trauma (-). Riwayat keputihan (-)
sejak awal bulan kehamilan. Riwayat demam (-). Riwayat post coital (+). Riwayat
perut diurut-urut (-). Os mengaku hamil cukup bulan dan gerakan janin masih
dirasakan. Pada anamnesis os mengaku saat ini adalah kehamilannya yang pertama,
pasien mengaku HPHT tanggal (pasien lupa) bulan Desember 2013 dan pemeriksaan
fisik didapatkan tinggi fundus uteri setinggi 28 cm. Menurut perhitungan HPHT di
IGD kehamilan sudah mencapai aterm. Dari hasil pemeriksaan his 1x/10/30,
pembukaan pada serviks 1 cm. Detak jantung janin 150 kali/menit teratur. Letak janin
memanjang, punggung kiri, terbawah kepala, penurunan 5/5. Berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik di IGD, pasien ini belum memenuhi kriteria hamil aterm
karena tifut masih 28 cm, maka masih perlu konfirmasi lebih lanjut dengan
pemeriksaan lanjutan untuk memastikan pasien sudah aterm. Maka diagnosis pasien
ini di IGD jika melihat dari HPHT sudah tepat yakni G1P0A0 hamil aterm dengan
KPD 22 jam inpartu kala I fase laten, janin tunggal hidup presentasi kepala.
Setelah di lakukan pemeriksaan USG, didapatkan usia kehamilan 31 minggu,
janin tunggal hidup, presentasi kepala, DJJ teratur, perempuan 1600 gr. Maka
ditegakkan diagnosa post USG G1P0A0 hamil 31 minggu dengan PPI JTH preskep.
Diagnosa ini menurut penulis sudah tepat dan memenuhi kriteria diagnosis yaitu
Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap atau antara 140 dan 259 hari
Sebelum persalinan berlangsung dapat dirasakan tanda sebagai berikut:
nyeri pinggang belakang
rasa tertekan pada perut bagian bawah

terdapat kontraksi irreguler sejak sekitar 24-48 jam


terdapat pembawa tanda seperti bertambahnya cairan vagina atau
terdapat lendir bercampur darah.
Sehingga diagnosis pasien G1P0A0 hamil 31 minggu dengan Partus Prematurus
Imminens Janin Tunggal Hidup presentasi kepala.
2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat?
Dalam menghadapi kasus PPI ada 3 kemungkinan, yaitu :

Mempertahankan kehamilan sehingga janin dapat lahir se-aterm mungkin.

Menunda persalinan 2-3 hari untuk dapat memberikan obat pematangan paru
janin

Membiarkan terjadi persalinan

Pada pasien ini diambil penatalaksanaan untuk mempertahankan kehamilan


seaterm mungkin, melalui cara batasi aktivitas / tirah baring, menghambat proses
persalinan preterm dengan tokolitik, pematangan surfaktan paru janin dengan
kortikosteroid, serta pemberian antibiotik bila perlu untuk pencegahan terhadap
infeksi. Pemberian tokolitik pada pasien ini dilakukan berdasarkan indeks tokolitik
(pada pasien skor 6)
Kontraksi
Ketuban

0
Tidak ada
Tidak ada

1
Irregular
-

2
Regular
Tinggi/tidak

3
-

4
Rendah/pecah

pecah
Perdarahan

Tidak

Spotting

jelas
Perdarahan

Pembukaan

ada
Tidak ada

1 cm

2 cm

3 cm

4 cm

Pada pasien tokolitik yang diberikan yaitu isoxsuprine hydrochloride karena


memenuhi indikasi (partus prematurus imminens, usia kehamilan 20-36 minggu,
tafsiran berat janin < 2500 gram) dan syarat pemberiannya (pembukaan < 3 cm,
ketuban +/-, ketuban tidak menonjol keluar serviks, janin hidup, his minimal 1x/10,
indeks tokolitik < 8). Cara pemberiannya yaitu isoxsuprine hydrochloride dosis 20

mg dalam D5 500 ml xx gtt/menit sampai kontraksi berhenti atau selama 24 jam.


Tokolitik oral diberikan setelah kontraksi berhenti dan diperbolehkan pulang yakni
dengan pada pasien diberikan isoxsuprine hydrochloride 3 x 20 mg peroral.
Pematangan surfaktan paru janin perlu diberikan bila usia kehamilan < 35
minggu (pada pasien usia kehamilan 32 minggu) untuk menurunkan insidensi
respiratory distress syndrome, mencegah perdarahan intraventrikular sehingga pada
pasien diberikan deksametason 4 x 6 mg dengan jarak pemberian 12 jam.
3. Apakah yang menjadi kemungkinan etiologi pada kasus ini?
Faktor yang dapat menimbulkan persalinan prematur adalah antara lain faktor
maternal seperti penyakit maternal (ginjal, hipertensi, dm, penyakit hati dan kelainan
uterus) serta faktor gaya hidup wanita, jarak kehamilan yang terlalu dekat (kurang
dari satu tahun), pertumbuhan janin yang kurang selaras dan serasi misalnya karena
kekurangan nutrisi, solusio plasenta, palsenta previa, persalinan hamil ganda,
korioamnionitis, faktor khusus seperti, serviks inkompeten pada persalinan
prematur/abortus berulang, kehamilan ganda, kehamilan dengan hidramnion.
Pada kasus ini faktor yang mungkin menyebabkan persalinan prematur adalah
riwayat post coital (maternal), yang mempengaruhi terjadinya persalinan prematur.
Coitus yang dilakukan pada usia kehamilan terutama semester akhir akan
menyebabkan rangsangan pada hipofisis anterior sehingga hipofisis akan merelease
oksitosin yang meningkatkan terjadinya kontraksi pada ibu. Selain itu, coitus juga
dapat mengakibatkan prostaglandin yang terdapat pada cairan semen merangsang
pembentukan oksitosin, sehingga ibu akan mengalami kontraksi dini. Namun ada
kemungkinan lain dimana pasien ini memiliki faktor resiko terjadinya PPI yaitu:
PROM ketuban pecah dini, kerja keras selama hamil, stress, serviks terbuka 1 cm
pada kehamilan 32 minggu, dan anemia.

BAB V

KESIMPULAN
1.

Diagnosis pada kasus ini saat masuk IGD kurang tepat, namun setelah USG
sudah tepat.

2.

Penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat.

3.

Etiologi pada kasus ini belum diketahui dengan jelas, tetapi faktor risiko
kemungkinan disebabkan oleh serviks terbuka >1 cm pada kehamilan 32
minggu, prom KPD, kerja keras selama hamil, anemia (9,7) riwayat post
Coital.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham M.D, et all. 2005. Preterm Birth. In: Williams Obstetrics. 23nd
ed.McGraw- Hill.
2. Goepfert A.R. 2001. Preterm Delivery. In: Obstetrics and Gynecology Principle
for Practise. McGraw-Hill.
3. Iams J.D. 2004. Preterm Labor and Delivery. In: Maternal-Fetal Medicine. 5th
ed.Saunders.
4.

Jafferson

Rompas.

2004.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/145-

11Persalinanpreterm.pdf/145.30
5. Medlinux. 2007.http://medlinux.blogspot.com/2007/11/ruptur membran - prepersalinan.html

Anda mungkin juga menyukai