Anda di halaman 1dari 46

ULUMUL QUR’AN

A. PENGERTIAN ULUMUL QUR’AN


Ungkapan ulumul qur’an berasal dari bahasa arab yaitu dari kata ulum dan al-qur’an.
Kata ulum jamak dari ilmu dan al-qur’an. Menurut Abu syahbah ulumul qur’an adalah
sebuah ilmu yang memiliki banyak objek pembahasan yang berhubungan dengan al-
qur’an,mulai dari proses penurunan, urutan penulisan,kodifikasi,cara
pembaca,penafsiran,nasikh mansukh,muhkam mutashabih serta pembahasan lainnya
B. SEJARAH TURUNNYA ALQUR’AN DAN PENULISAN ALQUR’AN
Hikmah diwahyukan alqur’an secara berangsur-angsur adalah al-qur’an diturunkan dalam
waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari yaitu mulai dari malam 17 romadhan tahun 41 dari
kelahiran nabi sampai 9 dzulhijah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10
H. Proses turunnya ql-quran melalui 3 tahapan yaitu
1. Al-qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh mahfuzh yaitu tempat yang
merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Dalam firmanya “
Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-qur’an yang mulia yang tersimpan dalam lauh
al-mahfuzh (Q.S AL-buruuj :21-22)
2. Al-qur’an diturunkan dari lauh al mahfuzh ke bait Al-Izzah ( tempat yang berada di
langit dunia )
3. Al-qur’an diturunkan dari bait al-Izzah ke dalam hati nabi melalui malaikat jibril
dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakala satu ayat kadang satu
surat.
Disamping hikmah diatas ada hikmah yang lainnya yaitu
1. Memantapkan hati nabi
2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-qur’an
3. Memudahkan untuk dihafal dan difahami
4. mengikuti setiap kejadian yang menyebabkan turunya ayat-ayat al-qur’an dan
melakukan penahapan dalam penetapan syari’at
5. membuktikan dengan pasti bahwa al-qur’an turun dari allah yang maha bijaksana
Penulisan al-qur’an pada masa Abu Bakar termotivasi karena kekwatiran sirnanya al-
qur’an dengan syahitnya beberapa penghapal Al-qur’an pada perang yamamah, Abu
bakar melakukan pengumpulan al-qur’an dengan mengumpulkan al-qur’an yang
terpencar-pencar pada pelepah kurma,kulit,tulang dan sebagainya
C. ASBAB AN-NUZUL
Ungkapan asbab-nuzul merupakan bentuk idhofah dari asbab dan nuzul. Secara etimologi
artinya sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Menurut Az-zargani
Asbabuan-nuzul adalah sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunya ayat Al-
qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.Menurut
Az-zargani urgensi asbab an-nuzul dalam memahami Al-qur’an adalah
1. Membantu dan memahami sekaligus mengatasi ketidak pastian dalam menangkap
pesan ayat-ayat Al-qur’an.
2. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat al-qur’an bagi ulama yang
berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat kusus.
4. Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat al-qur’an.
5. Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu
ke dalam hati orang yang mendengarnya.
D. MUNASABAH AL QUR’AN
Menurut Manna Al-qathan munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan
di dalam satu ayat,atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat dalam al-qur’an.
As-Suyuti menjelaskan langkah-langkah yang diperhatikan dalam menemukan
munasabah yaitu:
a. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian
b. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat
c. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu apakah ada hubungannya atau tidak
d. Dalam mengambil keputusan,hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkspan dengan
benar dan tidak berlebihan
Macam-macam munasabah;
1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya: berfungsi sebagai menyempurnakan
surat sebelumnya
2. Munasabah antara nama surat dan tujuan turunya
3. Munasabah antar bagian suatu ayat
4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan
5. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya
6. Munasabah antara fashilah (pemisah)dan isi ayat
7. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama
8. Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya
E. MAKIYAH DAN MADANIYAH
“Makiyah ialah ayat – ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke
Madinah,kendatipun bukan turun di Mekkah .Madaniyah adalah ayat-ayat yang
diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah,kendatipun bukan turun di
madinah.Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah di sebut Madaniyyah walaupun
turun di Mekkah atau Arafah.”
Ciri-ciri spesifik makiyah dan madaniyah
1. Makiyah
a. Di dalamnya terdapat sajadah
b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kalla
c. Dimulai dengan ya-ayuha an-nas
d. Ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat- umat terdahulu
e. Ayatnya berbicara tentang kisah nabi Adam dan Idris kecuali surat al-baqoroh
f. Ayatnya dimulai dengan huruf terpotong- potong seperti alif lam mim dan sebagainya
2. Madaniyah
a. Mengandung ketentuan-ketentuan faroid dan hadd
b. Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafikkecuali surat al-ankabut
c. Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitab
F. MUHKAM DAN MUTASYABIH
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang baik
melalui ta’wil ataupun tidak
Ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui Allah seperti kedatangan
kedatangan hari kiamat, kedatangan dajjal.
Hikmah keberadaan ayat mutasabih dalam Al-qur’an adalah:
1. Memperlihatkan kelemahan akal manusia.
2. Teguran bagi orang-orang yang mengotak atik ayat mutasabih.
3. Memberikan pemahaman abstrak Illahi kepada manusia melalui pengalaman inderawi
yang biasa disaksikannya.

G. QIRO’AT AL-QUR’AN
Qiro’at adalah ilmu yng mempelajari cara-cara mengucapkan kata-kata al-qur’an dan
perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.
Macam-macam qiro’at:
1. Qiro’at Sab’ah ( Qiro’at tujuh ) adalah imam-imam qiro’at ada tujuh orang, yaitu:
a. ‘Abdullah bin Katsir Ad-Dari (w.120 H ) dari Mekkah.
b. Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Na’im (w .169 H ).dari madinah
c. ‘Abdullah Al-yashibi (w.118 H ) dari Syam
d. Abu Amar (w.154 H ) dari Irak
e. Ya’kub (w.205 H ) dari Irak
f. Hamzah (w.188 )
g. ‘Ashim (w.127 H )
2. Qiro’ah Asyiroh adalah qiro’ah sab’ah ditambah dengan 3 imam yaitu: Abu Ja’far,
Ya’kub bin Ishaq, kalaf bin hisyam
3. Qiro’ah Arba Asyiroh (qiro’ah empat belas) yaitu qiro’ah sepuluh ditambah dengan 4
imam yaitu Al-hasan al basri, muhammad bin abdul rohman,yahya bin mubarok,Abu fajr
muhammad bin ahmad.
Dari segi kualitas qiro’ah dapat dibagi menjadi
1. Qiro’ah Mutawwatir yaitu qiro’ah yang disampakan kelompok orang yang sanatnya
tidak berbuat dusta
2. Qiro’ah Mashur yaitu qiro’ah yang memiliki sanad sahih dan mutawatir
3. Qiro’ah ahad yaitu memiliki sanad sahih tapi menyalahi tulisan mushaf usmani dan
kaidah bahasa Arab
4. Qiro’ah Maudhu yaitu palsu
5. Qiroah Syadz Yaitu menyimpang
6. Qiro’ah yang menyerupai hadist mudroj (sisipan)
Khulafaur Rasyidin ( 11-40 H / 632-660 M)
Mukadimah
Khilafah Rasyidah merupakan pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW
wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan
dan Ali bin Abi Thalib, dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah
pemerintahan yang demokratis.
Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan
menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Beliau
nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk
menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat; belum lagi jenazahnya
dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani
Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi
pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik
Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam.
Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar terpilih.
Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan yang tinggi dari umat
Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya.

A. Masa Abu Bakar ra. ( 11-13 H / 632-634 M)


Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah
(Pengganti Rasul) yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Khalifah
adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan beliau
melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.
Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia.
Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan
yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada
pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi
Muhammad SAW, dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena itu mereka
menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat
membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini
dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-
Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.
Nampaknya, kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana
pada masa Rasulullah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif
terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga
melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu
Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim
kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai al-Hirah
di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderal yaitu Abu
Ubaidah, Amr ibn ‘Ash, Yazid ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan
dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini,
Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang
dijalani, ia sampai ke Syria.
Salah satu hal monumental pada era Abu Bakar ra adalah pengumpulan mushaf al Quran
dari para sahabat-sahabat yang lain, yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit ra.

B. Masa Umar Ibn Khatab ra. (13-23 H / 634-644 M)


Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam
Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. Ia diganti oleh “tangan kanan”nya, Umar ibn Khattab.
Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para
pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud
untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat
Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera
secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah
(pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin
(Komandan orang-orang yang beriman).
Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi; ibu
kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara
Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan
Islam. Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah
pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash.
Iskandaria, ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke
bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh tahun 637
M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang jatuh pada tahun
itu juga. Pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa
kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina,
Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.
Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara
dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi
pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah
Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu
didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak
tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan
lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian
dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal,
menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijrah.
Salah satu hal yang monumental pada era sayidina Umar ra adalah mengenai sholat
tarawih. Berikut salah satu riwayatnya, yang menjadi pegangan umat islam di seluruh
dunia sampai saat ini. Diriwayatkan oleh Yazid Ibn Khusayfah dari Sâib Ibn Yazîd
bahwa semua orang mengerjakan sholat tarawih 20 rakaat dalam bulan ramadlan pada
masa khalifah Umar Ibn Khatab ra. (Baihaqi dalam As Sunaul Kubra, vol.2 hal 496)
Peganglah kuat-kuat sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin.(Abu Dawud vol 2 hal 635,
Tirmidzi vol 2 hal 108, Sunan Darimi vol 1 hal 43 dan Ibn Majah hal 5).
Umar ra memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya
berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu
Lu’lu’ah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan
Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk
memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman,
Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn ‘Auf. Setelah Umar
wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah, melalui
persaingan yang agak ketat dengan Ali ibn Abi Thalib.

C. Masa Utsman Ibn ‘Afan ra. ( 23-35 H / 644-655 M)


Di masa pemerintahan Utsman (644-655 M), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan
bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristall berhasil direbut. Ekspansi
Islam pertama berhenti sampai di sini. Pemerintahan Usman berlangsung selama 12
tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa
di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Usman memang sangat berbeda
dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin karena umumnya yang lanjut (diangkat dalam
usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H 1655 M,
Usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan
Usman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang
terpenting diantaranya adalah Marwan ibn Hakam. Dialah pada dasarnya yang
menjalankan pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang gelar Khalifah.
Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman
laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu
lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta
kekayaan negara, oleh karabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegjatan yang
penting. Usman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar
dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-
jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.
Penulisan Al Quran dilakukan kembali pada masa sayidina Utsman ra. Ini terjadi pada
tahun 25 H. Dan al Quran yang kita pegang saat ini adalah mushaf Utsman.

D. Masa Ali Ibn Abi Thalib kwh. ( 35-40 H / 655-660 M)


Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai
khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia
menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya
yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para
gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan
terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan
Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan
memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam
sebagaimana pernah diterapkan Umar.
Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair
dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan
mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali
sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan
Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai.
Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar.
Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah dalam pertempuran
itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh
ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke
Madinah.
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya
perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas
pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah berhasil
memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak dari Kufah
menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan
Mu’awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan nama perang
shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak
menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, al-Khawarij,
orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin
Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah
(pengikut) Ali, dan al-Khawarij (oran-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan ini
tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok al-khawarij menyebabkan tentaranya
semakin lemah, sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40
H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.

Referensi :
Su’ud, Abu, Islamologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2003.
Syalabi, A., Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 3, Jakarta: Al-Husna Dzikra, 1997.

SEJARAH HIDUP NABI MUHAMMAD SAW.

Makkah adalah suatu nama kota suci di jazirah Arabia. Yang menjadi pusat peribadatan
oleh manusia yang berasal dari negeri timur. Kota kecil ini tak memiliki sungai yang
mengalir. Tidak pula hutan yang menjaga keseimbangan ekosistem alamnya. Yang ada
hanya hamparan gurun pasir terbentang luas menyelimuti kota yang religius ini.

Adapun pesisirnya dalah pita yang mengitari. Mereka bertahan hidup dengan berniaga
untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Berpindah-pindah dari suatu tempat ke
tempat yang lainnya, dengan mendirikan tenda-tenda yang berukuran kecil di atas
hamparan gurun Sahara.

Namun, hal yang menyayat hati. Kota suci yang menjadi tempat berdirinya Ka’bah. Suatu
kubus besar yang didirikan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail ialah akhlak
manusianya yang berada dalam jurang kebobrokan. Karena komunitas masyarakat yang
berada di bantaran kota itu memiliki tabi’at yang mendarah daging dalam diri mereka,
yakni peperangan antar suku/kabilah, perjudian, perampokan, penganiayaan, perbudakan,
perzinahan hingga pembunuhan mereka lakoni, bahkan menjadi suatu rutinitas yang tidak
dapat mereka tinggalkan.

Satu lagi, dalam pandangan mereka, wanita adalah satu sosok yang tidak ada harganya.
Wanita hanya sebagai alat pemuas hasrat seksual mereka. Yang dibuang ketika mereka
tak lagi membutuhkannya. Bahkan memiliki keturunan perempuan adalah satu hal yang
hinayang dapat menurunkan harkat dan martabat di hadapan kabilah mereka. Hingga
meskipun tega mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Kekerasan mereka tidak sama
sekali mencerminkan bagaimana agungnya tempat suci yang mereka tinggali.

Dalam kondisi yang seperti ini, Allah mengutus seorang utusan yang adil dan bijaksana.
Pemilik kekuasaan dan kehormatan tertinggi di kalangan utusannya. Dialah Muhammad,
manusia legendaris, pemimpin para Nabi, orang nomor satu di jagad raya. Dialah
pengukir sejarah kemajuan peradaban islam. Cahaya keimanannya melebihi 7x terangnya
matahari yang menyinari bumi. Ketinggian akhlaknya mampu mengalahkan 7x tingginya
gunung Himalaya, luas pengetahuannya tak dapat ditoreh meski 7x luas lautan menjadi
tinta baginya. Kasih sayangnya 7x lebih luas dibanding langit biru. Cintanya pada
ummatnya 7x lebih besar di banding dunia dan isinya.

Sekilas potret kepribadian manusia paling mulya yang namanya bersanding indah dengan
nama Pencipta, pemilik kita semua. Muhammad Rasulullah.

Kala itu tepat hari senin tanggal 12 Robiul Awal / 20 Agustus 570 M. Telah lahir dari
rahim seorang janda yang ditinggal suaminya (Abdullah) pembesar kaum Quraisy yang
dihormati dan disegani. Janda itu bernama siti Aminah.

Pada malam menjelang, Siti Aminah melahirkan bayinya , kejadian peristiwa luar biasa
yang mengandung tanda-tanda dan alamat yang pada saat itu diartikan oleh sebagian
besar orang membawa pengharapan yang baik. Dalam cuaca yang terang benderang,
malam itu meledak dan menggoncang-goncang bumi dengan hebatnya, sehingga patung-
patung yang bergantungan di dinding Ka’bah berjatuhan dari tempatnya.

Gereja-gereja Nasrani beserta kuil-kuil Yahudi mengalami kerusakan. Istana kaisar di


Roma yang sangat kokoh bangunannya tidak luput dari kehancuran. 14 menara pencakar
istana itu beruntuhan. Api yang senantiasa menyala-nyala, yang dipuja-puja dan
disembah-sembah oleh penduduk kerajaan parsi, tiba-tiba padam yang menjadikan
penyembah-penyembah pai itu merasa sedih dan berduka cita. Di tiap lorong di samping
jalan, orang-orang ramai memperbincangkan mengenai kejadian itu. Banyak sekali yang
menyimpulkan bahwa peristiwa itu adalah alamat akan datangnya suatu kejadian besar.
Itulah suasana di saat Aminah melahirkan Muhammad sebagai calon pemimpin ummat
seluruh dunia pembawa rahmatan lil-’alamin.

Kelahiran Muhammad juga bersamaan dengan Ekspedisi militer Abisinia ke Mekkah


dengan tujuan menghancurkan Ka’bah dan membangun Garnisun permanen tempat
pemungutan pajak. Karena mekkah adalah titik tengah rute perjalanan dari Yaman ke
Syiria. Ekspedisi ini didukung oleh tentara militer lengkap dengan menggunakan gajah
perang. Pada masa sekarang, gajah berguna seperti tank perang yang dipimpin langsung
oleh raja mudanya yakni Abrahah.

Namun, sebelum tentara Abisinia berhasil menghancurkan tempat suci ini, Allah telah
mengutus sekawanan burung Ababil. Yang dipercaya membawa batu-batu kecil atau
yang biasa disebut dengan kerikir dari neraka dan dijatuhkan tepat diatas mereka, hingga
mereka terserng wabah penyakit kolera. Hingga akhirnya sang raja menarik kembali
ekspansi yang mereka luncurkan atas mekkah tanpa membawa keberhasilan atas
tujuannya.

Peristiwa besar ini juga dilukis dengan indahnya dalam Al-Qur’an surat fiil (1-5)

óOs9r& t ヘ s? y#ø?x. ?@yèsù y7?/u? É=»ptõ¾r'Î/ È@?Ïÿø9$# ÇÊÈ óOs9r& ö@yèøgs?


ö/èfy?ø?x. ?Îû 9@?Î=ôÒs? ÇËÈ ?@y?ö?r&ur öNÍkö?n=tã #·?ö ヘ sÛ ?@?Î/$t/r& ÇÌÈ
NÎg?ÏBö ヘ s? ;ou?$yÚÏt¿2 `ÏiB 9@?ÅdÚÅ? ÇÍÈ öNßgn=yèpgmú 7#óÁyèx. ¥Aqà2ù'¨B
ÇÎÈ

Nasab Muhammad, baik dari garis ayah maupun ibunya bertemu pada kakeknya yang
bernama Kilab. Jadi, baik dari garis ayah maupun ibunya adalah sama-sama keturunan
Ibrahim A.S melalui anaknya Nabi Ismail dan sampai pada manusia pertama yakni bapak
pertama yaitu Nabi Adam A.S. garis nasab itu disebut sebagai berikut :
Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin
Kinanah bin Khozaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Nadar bin Nazar bin Ma’ad bin
Adnan bin ’Ud bin Muqawwin bin Nahur bin Tairah bin Ya’rab bin Yasy Jub bin Nabit
bin Ismail A.S bin Ibrahim AS bin Azar bin Nahur bin Nahur bin Sarugh bin Ra’u bin
Falikh bin Aibar bin Syalikh bin Afrakh bin Sam bin Nuh A.S bin Yard bin Mukhil bin
Qainan bin Kanis bin Syits A.S bin Adam A.S.

Nama Muhammad adalah nama pemberian kakeknya Abdul Muthollib. Karena dia
mengharapkan agar cucunya kelak menjadi orang yang terpuji di sisi Allah, di langit dan
di sisi manusia di muka bumi ini.

Muhammad diasuh pertama kali oleh Ummu Aiman, budak wanita milik ayahnya dan
disusui pertama kali oleh Tsuaibah, budak perempuan milik pamannya Abu Lahab.
Kemudian diserahkan kepada Ibu asuhannya Halimatussa’diyah, wanita dari suku badui.
Diserahkan pada wanita itu untuk diasuh dan disusui di daerah pegunungan agar bayi itu
mendapat udara yang bersih dan segar juga dapat berbicara bahasa Arab yang asli yang
tidak bercampur seperti bahasa yang dipergunakan di perkotaan.

Pada masa Muhammad berada dalam asuhan Halimah, sekitar berusia 4 tahun
Muhammad pernah dibelah dadanya oleh malaikat Jibril dan Mika’il. Pembedahan dada
itu dimulai dari kerongkongan leher sampai kebawah perutnya, untuk disucikan hatinya
dan dilapangkan dadanya. Sesudah itu dada Muhammad diisi dengan kesabaran,
keyakinan serta keislaman.

Setelah masa aasuhan Halimah selesai, Muhammad kecil kembali kepangkuan ibunda
tercinta. Namun, kebahagiaan Muhammad kecil tidak berlangsung lama, setelah 2 tahun
berada dalam pelukan sang bunda. Ia harus rela kehilangan bundanya untuk selama-
lamanya. Sehingga Muhammad kecilpun menjadi yatim piatu seakan-akan Allah ingin
melaksanakan sendiri Pendidikan Muhammad, orang yang persiapkan untuk membawa
risalahnya yang terakhir. Allah berfirman :
?wÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù í ヘ ô_r& ç?ö ヘ xî
5bqãYøÿxE ÇÏÈ $yJsù y7ç/Éj?s3ã? ß?÷èt/ ÈûïÏe$!$$Î/ ÇÐÈ
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka
pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah
(adanya keterangan-keterangan) itu?

Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthollib mengambil alih tanggung jawab merawat
Muhammad. Namun 2 tahun kemudian Abdul Muthollib meninggal dunia karena renta.
Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Tholib. Seperti juga Abdul
Muthollib, dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Mekkah
secara keseluruhan, tetapi dia miskin.

Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan
kambing penduduk Mekkah. Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat
untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana yang demikian, dia ingin melihat sesuatu di
balik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran
nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak
namanya, karena itu sejak muda ia dijuluki Al-’amin, orang yang terpercaya.

Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke syiria (syam) dalam
usia baru 12 tahun. Kafilah itu dipimpin oleh Abu Tholib, dalam perjalanan ini, di Basroh
sebelah selatan syiria ia bertemu dengan pendeta kristen bernama Buhairoh. Pendeta ini
melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita
kristen. Sebagian sumber menceritakan bahwa pendeta itu menassehati Abu Tholib agar
jangan terlalu jauh memasuki daerah syiria. Sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi
yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbaut jahat terhadapnya.

Pada usia yang ke – 25, Muhammad berangkat ke syiria membawa barang dagangan
saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini,
Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran itu
diterima dan perkawinan segera dilaksanakan. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun
dan Khadijah 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah wanita
pertama yang masuk islam dan banyak membantu Nabi dalam perjuangan menyebarkan
islam. Perkawinan bahagia dan saling

Mencintait itu dikaruiai enam orang anak;.dua Putera dan empat puteri: Qasim, Abdullah,
Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, ,dan Fatimah. Kedua puteranya meninggal waktu
kecil. Nabi Muhammad tidak kawin lagi sampai Khadijah meninggal ketika Muhammad
berusia 50 tahun.

Peristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada saat


usianya 35 tanun. Waktu itu bagunan Ka'bah rusak berat. Perbaikan Ka'bah dilakukan
secara gotong royong. Para penduduk Mekah membantu pekerjaan ltu dengan sukarela.
Tetapi pada saat terakhir, ketika pekerjaan tinggal mengangkat dan meletakkan. Hajar
aswad di tempatnya semula, timbul perselisihan. Setiap suku merasa berhak melakukan
tugas terakhir dan terhormat itu. Perselisihan semakin memuncak, namun akhimya para
pemimpin Quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke Ka'bah melalui pintu
Shafa, akan dijadikan hakim untuk memutuskan perkara ini. Ternyata orang yang
pertama masuk itu adalah Mubammad. Ia pun dipercaya menjadi hakim ia lantas
membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di tengah-tengah, lalu meminta seluruh
kepala suku memegang, tepi kain itu dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai
pada ketinggian tertentu, Muhammad kemudian meletakkan batu itu pada tempatnya
semula. Dengan demikian, perselisihan dapat diselesaikan dengan bijaksana, dan semua
kepala suku merasa puas dengan cara penyelesaian
seperti itu.

Menjelang usianya yang keempat puluh, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari
keramaian masyarakat, berkontemplasi ke gua Hira, beberapa, kilo meter di utara Mekah.
Di sana Munammad mula-mula ber jam-jam kemudian berlari-lari bertafakkur. Pada
tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Malaikat Jibril muncul di hadapannya,
menyampaikan wahyu Alloh yang pertama: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah
mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu
itu Maha Mulia. Dia telah mengajar dengan Qalam. Dia telah mengajar manusia apa yang
tidak mereka ketahui" (QS 96: 1-5). Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti
Muhammad telah dipilih Tuhan sebagai Nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum
diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.

Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama,
sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke gua Hira'. Dalam
keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya. Wahyu itu
berbunyi sebagai berikut: "Hai orang yang berselimut, bangun dan beri ingatlah.
Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah
perbuatan dosa, dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan)
yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah" (al-
Muddatstsir: 1-7).

Dengan turunnya perintah itu, mulailahRasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau


melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan di kalangan rekan-rekannya.
Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan
sahabat dekatnya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali
bin Abi Thalib yang baru berumur 10 tahun. Kemudian, Abu Bakar, sahabat karibnya
sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya.
Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup, juga termasuk orang
yang pertama masuk Islam. Sebagai seorang pedagang yang berpengaruh, Abu Bakar
berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Usman bin Affan, Zubair
bin Awwam, Abdurrahman bin' Auf, Sa' ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin
Ubaidillah. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada Nabi dan masuk Islam di
hadapan Nabi sendiri. Dengan dakwah secara diam-diam ini, belasan orang telah
memeluk agama Islam.

Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual, turunlah perintah
agar Nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Mula-mula ia mengundang dan menyeru
kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib. Ia mengatakan kepada mereka, "Saya tidak
melihat seorangpun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah
mereka lebih baik, dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia
dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah
di antara kalian yang mau mengdukung saya dalam hal ini? Mereka semua menolak
kecuali Ali.

Langkah dakwah seterusnya yang diambil Muhammad adalah menyeru masyarakat.


umum, Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat kepada Islam dengan terang-
terangan, baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya. Mula-mula ia menyeru
penduduk Mekkah, kemudian penduduk negeri-negeri lain. Di samping itu, ia juga
menyeru orang yang datang ke Mekah, dari berbagai negeri untuk mengerjakan haji.
Kegiatan dakwah dijalankannya tanpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih,
hasil yang diharapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut Nabi yang tadinya hanya belasan
orang, makin hari makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak
pekerja dan orang-orang yang tak punya. Meskipun kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang lemah, .namun semangat mereka sungguh membaja.

Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi


dakwah Rasul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi semakin keras tantangan
dilancarkan kaum Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang mendorong
orang Quraisy menentang seruan Islam itu (1) Mereka tidak dapat membedakan antara
kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad
beiarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat
tidak mereka inginkan. (2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara
bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy (3)
Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan
pembalasan di akhirat. (4) Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat
berakar pada bangsa Arab. (5) Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai
penghalang rezeki.

Banyak cara yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi
Muhammad. Pertama-tama mereka mengira bahwa kekuatan Nabi terletak pada
perlindungan dan pembelaan Abu Thalib yang amat disegani itu. Karena itu mereka
menyusun siasat bagaimana melepaskan hubungan Nabi dengan Abu Thalib dan
mengancam dengan mengatakan: "Kami minta anda memilih satu di antara dua:
Memerintahkan Muhammad berhenti dari dakwahnya atau Anda menyerahkannya
kepada kami. Dengan demikian, Anda akan terhindar dati kesulitan yang tidak
diinginkan". Nampaknya Abu Thalib cukup terpengaruh dengan ancaman tersebut
sehingga ia mengharapkan Muhammad menghentikan dakwahnya. Nmnun, Nabi
menolak dengan mengatakan: "Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan
amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara akan
mengucilkan saya". Abu Thalib sangat terharu mendengar jawaban kemenakannya itu,
kemudian berkata: "Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu".

Merasa gagal dengan cara ini, kaum Quraisy kemudian mengutus Walid ibn Mughirah
dengan membawa Umarah ibn Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan, untuk
dipertukarkan dengan Nabi Muhammad. Walid bin Mughirah berkata kepada Abu Thalib:
"Ambillah dia menjadi anak Saudara, tetapi serahkan Muhammad kepada kami untuk
kami bunuh". Usul ini langsung ditolak keras oleh AbuThalib.

Untuk kali berikutnya mereka langsung kepada Nabi Muhammad. Mereka mengutus
Utbah ibn Rabiah, seorang ahli retorika, untuk membujuk Nabi. Mereka menawarkan
tahta, wanita dan harta asal Nabi Muhammad bersedia menghentikan dakwahnya. Semua
tawaran itu ditolak Muhammad dengan mengatakan: "Demi Allah, biarpun mereka
meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan
berhenti melakukan ini, hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya”.

Setelah cara-cara diplomatic dan bujuk rayu yang dilakukan 0leh kaum Quraisy gagal,
tindakan-tindakan kekerasan secara fisik yang sebelumnya sudah dilakukan kini semakin
ditingkatkan. Tindakan kekerasan itu lebih intensif dilaksanakan setelah mereka
mengetahui bahwa di lingkungan rumah tangga mereka sendiri sudah ada yang masuk
Islam. Buda-budak yang selama ini mereka anggap sebagai harta, sekarang sudah ada
yang masuk Islam. Dan mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan tuan mereka.
Budak-budak itu disiksa tuannya dengan sangat kejam. Para pemimpin Quraisy juga
mengharuskan setiap keluarga untuk menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam
sampai dia murtad kembali.

Kekejaman yang dilakukan oleh penduduk Mekah terhadap kaum muslimin itu,
mendorong Nabi Muhammad untuk mengungsikan sahabat-sahabatnya ke luar Mekah.
Pada tahun kelima kerasulannya Nabi menetapkan Habsyah (Ethiopia) sebagai negeri
tempat pengungsian karena Negus (raja) negeri itu adalah seorang yang adil. Rombongan
pertama sejumlah sepuluh orang dan rombongan kedua hampir seratus orang.
Menguatnya posisi umat Islam memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy. Mereka
menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan Muhammad yang bersandar pada
perlindungan Bani Hasyim.

Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapi pemimpin Quraisy menyadari bahwa apa
yang mereka lakukan sungguh tindakan yang keterlaluan. Namun, tidak lama kemudian
Abu Thalib Paman Nabi meninggal dunia di usia 87 tahun. Tiga hari setelah itu, istri Nabi
Khadijah mninggal juga. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini
merupakan tahun kesedihan bagi Nabi Muhammad Saw.

Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah mengisra’ dan memi’rajkan
beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ Mi’raj ini menggemparkan
masyarakat Mekkah. Bagi orang kafir ini merupakan propaganda untuk mendustakan
Nabi. Sedangkan bagi orang yang beriman, ini merupakan ujian keimanan.

Setelah peristiwa Isra' dan Mikraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah
Islam muncul. Perkembangan mana datang dari sejumlah penduduk Yatsrib yang berhaji
ke Mekah. Mereka, yang terdiri dari suku 'Aus dan Khazraj, masuk Islam dalam tiga
gelombang. Pertama, pada tahun kesepuluh kenabian. beberapa orang Khazraj berkata
kepada Nabi : "Bangsa kami telah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku
Khazraj dan ’Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian. KiranyaTuhan
mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan ajaran-ajaran yang
engkau bawa. Oleh karena itu, kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama
yang kami terima dari engkau ini". Mereka giat mendakwahkan Islam di Yatsrib. Kedua,
pada tahun keduabelas kenabian delegasi Yatsrib, terdiri dari sepuluh orang suku Khazraj
dan dua orang suku ’Aus serta seorang wanita menemui Nabi di suatu tempat bernama
Aqabah. Di hadapan Nabi mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian
kembali ke Yastrib sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Mus'ab bin Umair yang
sengaja diutus Nabi atas permintaan mereka. Ikrar ini disebut dengan perjanjian "Aqabah
Pertama". Pada musim haji berikutnya, jamaah haji yang dating dari Yastrib berjumlah 73
orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada Nabi agar berkenan pindah ke
Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman. Nabi pun menyetujui
usul yang mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjian 'Aqabah kedua.

Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Nabi dan orang-
orang Yatsrib itu, mereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap kaum muslimin. Hal
ini membuat Nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam
waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin, kurang lebih 150 orang, telah
meninggalkan kota Mekah. Hanya Ali dan Abu Bakar yang tetap tinggal di Mekah
bersama Nabi. Keduanya membela dan menemani Nabi sampai iapun berhijrah ke
Yatsrib kerena kafir Quraisy sudah merencanakan akan membunuhnya.

Setelah tiba dan diterima penduduk Yatsrib (Madinah), Nabi resmi menjadi pemimpin
penduduk kota itu. Babak baru dalam islampun dimulai. Berbeda dengan periode Mekah,
pada periode Madinah, islam merupakan keuatan politik. Nabi Muhammad mempunyai
kedudukan bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara.

Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-
dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan mesjid, selain untuk
tempat salat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan
mempertalikan jiwa mereka, di samping sebagai tempat bermusyawarah merundingkan
masalah-masalah yang dihadapi. Mesjid pada masa Nabi bahkan juga berfungsi sebagai
pusat pemerintahan.

Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi


mempersaudarakan antara golongan Muhajirin, orang-orang yang hijrah dari Mekah ke
Madinah, dan Anshar, penduduk Madihah yang sudah masuk Islam dan ikut membantu
kaum muhajirin tersebut. Dengan demikiam, diharapkan setiap muslim merasa terikat
dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Apa yang dilakukan Rasulullah ini berarti
menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan berdasarkan
agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan darah.

Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama
Islam. Di Madinah, di samping orang-orang Arab Islam, juga terdapat golongan
masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang
mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad mengadakan
ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama
orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas dikeluarkan. Setiap golongan masyarakat
memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan. Kemerdekaan beragama
dijamin, dan seluruh anggota masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan
negeri itu dari serangan luar. Dalam perjanjian itu jelas disebutkan bahwa Rasulullah
menjadi kepala pemerintahan karena sejauh menyangkut peraturan dan tata tertib umum,
otoritas mutlak diberikan kepada beliau. Dalam bidang sosial, dia juga meletakkan dasar
persamaan antar sesama manusia. Perjanjian ini, dalam pandangan ketatanegaraan
sekarang, sering disebut dengan Konstitusi Madinah.

Perang pertama yang sangat menentukan adalah perang badar, perang antara kaum
muslimin dengan kaum musyrik Quraisy. Pada tanggal 8 ramadhan tahun kedua Hijriah.
Tidak lama setelah perang tersebut, Nabi menandatangani sebuah piagam, perjanjian
dengan beberapa suku Badui yang kuat. Suku Badui ini, ingin sekali, menjalin hubungan
dengan Nabi setelah melihat kekuatan Nabi semakin meningkat.

Bagi kaum Quraisy Mekah, kekalahan mereka dalam perang Badar merupakan pukulan
berat. Mereka bersumpah akan membalas denddam. Pada tahun ke 3 Hijriah, mereka
berangkat menuju madinah dengan membawa 3000 pasukan berkendaraan unta, 200
pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Beberapa kilo meter dari kota
Madinah, tepatnya di bukit Uhud, kedua pasukan bertemu dan terjadilah pertempuran
antara pasukan kaum Muslimin dengan pasukan kaum Quraisy. Dalam pertempuran
tersebut dimenangkan oleh kaum Musyrik, karena pasukan pemanah islam yang tidak
disiplin dalam menjalankan perintah Nabi Saw.

Pada tahun 6 Hijriah, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, Nabi memimpin sekitar
seribu kaum muslimin berangkat ke Mekah, bukan untuk berperang, melainkan untuk
melakukan ibadah umrah. Karena itu, mereka menggunakan pakaian ihram tanpa
membawa senjata. Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah, beberapa
kilometer dari Mekah. Penduduk Mekah tidak mengizinkan mereka masuk kota.
Akhirnya, diadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang
isinya antara lain: (I) kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah tahun ini tetapi
ditangguhkan sampai tahun depan, (2) lama kunjungan dibatasi sampai tiga hari saja (3)
kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekah yang melarikan diri ke
Madinah, sedang sebaliknya pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah
yang kembali ke Mekah, (4) selama sepuluh tahun diberlakukan genjatan senjata antara
masyarakat Madinah dan Mekah, dan (5) tiap Kabilah yang ingin masuk ke dalam
persekutuan kaum Quraisy atau kaum muslimin, bebas melakukannya tanpa mendapat
rintangan. Kesediaan orang-orang Mekah untuk berunding dan membuat perjanjian
dengan kaum muslimin itu benar-benar merupakan kemenangan diplomatik yang besar
bagi umat Islam. Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Ka'bah dan
menguasai Mekah sudah makin terbuka. Nabi memang sudah sejak lama berusaha
merebut dan menguasai Mekah agar dapat menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ini
merupakan target utama beliau. Ada dua faktor pokok yang mendorong kebijaksanaan
ini: Pertama, Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan melalui konsolidasi
bangsa Arab dalam Islam, Islam bisa tersebar keluar. Kedua, apabila suku Nabi sendiri
dapat diislamkan, Islam akan memperoleh dukungan yang kuat karena orang-orang
Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar. Setahun kemudian ibadah haji
ditunaikan sesuai dengan rencana. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah
menyaksikan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.

Genjatan senjata telah memberi kesempatan kepada Nabi untuk menoleh berbagai negeri
lain sambil memikirkan bagaimana cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang
ditempuh Nabi adalah mengirim utusan dan surat kepada kepala-kepala negara dan
pemerintahan.

Selama dua tahun perjanjian hudaibiyah berlangsung, dakwah islam sudah menjangkau
seluruh Jazirah Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Perjanjian Hudaibiyah
ternyata menjadi senjata bagi umat islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu,
secara sepihak orang-orang kafir Quraisy membatalkan perjanjian tersebut. Melihat
kenyataan itu, Rasulullah bertolak ke Mekkah dengan sepuluh ribu orang tentara untuk
melawan mereka. Nabi Muhammad tidak mengalami kesukaran apa-apa memasuki kota
Mekah tanpa perlawanan. Sejak itu Mekah berada di bawah kekuasaan Nabi.

Pada tahun 9 dan 10 H, banyak suku dari berbagai pelosok Arab mengutus delegeasinya
kepada Nabi Muhammad menyatakan ketundukan mereka. Masuknya orang Mekah ke
dalam agama islam rupanya mempunyai pengaruh yang amat besar pada penduduk
padang pasir yang liar itu. Tahun ini disebut dengan tahun perutusan.

Dalam kesempatan menunaikan ibadah haji yang terakhir, haji Wada’, tahun 10 H, 631
M), Nabi Muhammad menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi khotbah itu
antara lain : larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq dan larangan mengambil
harta orang lain dengan batil, karena nyawa dan harta benda adalah suci; larangan riba
dan larangan larangan menganiaya; perintah untuk memperlakuakn para istri dengan baik
dan lemah lembut dan perintah menjauhi dosa; semua pertengkaran antara mereka di
zaman jahiliyah harus saling dimaafkan; balas dendam dengan tebusan darah
sebagaimana berlaku di zaman jahiliyah tidak lagi dibenarkan; persaudaraan dan
persamaan di antara manusia harus ditegakkan; hamba sahaya harus diperlakukan dengan
baik, mereka makan seperti apa yang dimakan tuannya dan memakai seperti apa yang
dipakai tuannya dan yang terpenting adalah bahwa umat islam harus selalu berpegang
kepada dua sumber yang tak pernah usang, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Isi khotbah ini
merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan islam. Selanjutnya, prinsip-prinsip itu
bila disimpulkan adalah kemanusiaan, persamaan, keadilan sosial, keadilan ekonomi,
kebajikan dan solidaritas.

Setelah itu nabi Muhammad segera kembali ke Madinah. Beliau mengatur organisasi
masyarakat kabilah yang telah memeluk agama islam. Petugas keagamaan dan para da’i
dikirim ke berbagai daerah dan kabilah untuk mengajarkan ajaran-ajaran islam, mengatur
peradilan dan memungut zakat. Pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal 11 H / 8 Juni
632 M., Nabi Muhammad wafat di rumah istrinya Aisyah.

Dari perjalanan sejarah Nabi ini, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw.,
disaming sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik dan
administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi pemimpin politik,
beliau berhasil menundukkan seluruh Jazirah Arab ke dalam kekuasaannya.

Masa Prakelahiran
Al-Quran menegaskan bahwa para nabi telah pernah diangkat janjinya untuk percaya dan
membela Nabi Muhammad saw

"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi, 'Sungguh apa saja yang
Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang
Rasul (Muhammad) yang membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan
beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman, 'Apakah kamu mengakui dan
menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?' Mereka menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS
Ali'Imran [3]: 81)

Allah SWT telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad saw, jauh sebelum
kelahiran beliau. Karena itu pula sementara pakar menyatakan bahwa kematian ayah
beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta
ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang dipersiapkan Tuhan
kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak.

Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan
beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan
Rabi'ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya
Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya
yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana),
sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa' (yang sempurna
dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang
dada dan mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi
Muhammad saw Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat dengan
kepribadian Nabi Muhammad saw

Al-Quran surat Al-A'raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa Nabi Muhammad
saw pada hakikatnya dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara
lain disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan
Injil (QS Al-A'raf [7]: 157).

Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu, dapat terbaca antara lain
dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2:
"... bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit untuk mereka itu dari Seir,
kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran."

Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut: "Gunung Paran" menurut Kitab


Pertanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat putra Ibrahim -yakni Nabi Ismail-
bersama ibunya Hajar memperoleh air (Zam-Zam). Ini berarti bahwa tempat tersebut
adalah Makkah, dan dengan demikian yang tercantum dalam Kitab Ulangan di atas
mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya wahyu Ilahi: Thur Sina tempat
Nabi Musa a.s., Seir tempat Nabi Isa a.s. , dan Makkah tempat Nabi Muhammad
saw. Sejarah membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah.

Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146 menyatakan bahkan
mereka itu mengenalnya (Muhammad saw), sebagaimana mereka mengenal anak-anak
mereka, bahkan salah seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam,
yaitu Abdullah bin Salam pernah berkata, "Kami lebih mengenal dan lebih yakin tentang
kenabian Muhammad saw daripada pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak
kami. Siapa tahu pasangan kami menyeleweng."

Masa Prakenabian
Ada beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang Nabi Muhammad saw sebelum
kenabian beliau. Antara lain,

"Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu,
dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia
mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?" (QS Al-
Dhuha [93]: 6-8)

Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan dilindungi oleh paman
dan kakeknya. Beliau hidup di dalam keresahan dan kebimbangan melihat sikap
masyarakatnya, lalu Allah memberinya petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi dan
Rasul. Beliau hidup miskin karena ayahnya tidak meninggalkan warisan untuknya,
kecuali beberapa ekor kambing dan harta lainnya yang tidak berarti. Tetapi Allah
memberinya kecukupan, khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga
dengan istrinya, Khadijah a.s.

Ayat lain yang oleh ulama dianggap berbicara tentang Nabi Muhammad saw pada masa
kanak-kanaknya, adalah surat Alam Nasyrah ayat pertama:
"Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada untukmu?"
Sebagian ulama mengartikan kata nasyrah dengan "memotong/membedah." Memang,
bila dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat materi, artinya demikian. Apabila dikaitkan
dengan sesuatu yang bersifat nonmateri, kata itu mengandung arti membuka, memberi
pemahaman, menganugerahkan ketenangan dan semaknanya. Yang mengaitkan dengan
hal-hal materi berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang "pembedahan" yang pernah
dilakukan oleh para malaikat terhadap Nabi Muhammad saw kala beliau remaja.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh mufasir An -Naisaburi.

Tetapi sepanjang penelitian Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kata tersebut dengan berbagai
bentuknya terulang sebanyak 5 kali, dan tidak satu pun yang digunakan dengan arti
harfiah, apalagi bermakna pembedahan. Akan lebih jelas lagi jika hal itu disejajarkan
dengan ayat yang berbicara tentang doa Nabi Musa a.s. di dalam Al-Quran.

"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah


kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku" (QS Thaha [20]: 25-28)

Selanjutnya Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah membaca
satu kitab atau menulis satu kata sebelum datangnya wahyu Al-Quran.

"Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya (Al-Quran), tidak juga
menulis satu tulisan dengan tanganmu, (andai kata kamu pernah membaca dan menulis)
pasti akan benar-benar ragulah orang yang mengingkari-(mu)" (QS Al-'Ankabut [29]:
48).

Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau saw adalah orang yang tidak pandai
membaca dan menulis. Banyak ulama yang memahami bahwa kendatipun kemudian Nabi
saw menganjurkan umatnya belajar membaca dan menulis, namun beliau sendiri tidak
melakukannya, karena Allah SWT ingin menjadikan beliau sebagai bukti bahwa
informasi yang diperolehnya benar-benar bukan bersumber dari manusia, melainkan dari
Allah SWT

Ada juga ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau membaca hanya terbatas
sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. Setelah kebenaran Islam terbukti
-setelah hijrah ke Madinah- beliau telah pandai membaca. Menurut pendukungnya ide ini
dikuatkan antara lain oleh kata "sebelumnya" yang terdapat pada ayat di atas.

Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam Al-Quran (QS Al-A'raf [7] 157 dan
158), dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad saw Memang kedua ayat itu turun di
Makkah, meskipun ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan,

"Dia (Allah) yang mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta huruf), seorang Rasul di
antara mereka" (QS Al-Jum'ah [62]: 2)

Di sisi lain, harus disadari bahwa masyarakat beliau ketika itu menganggap kemampuan
menulis sebagai bukti kelemahan seseorang.
Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga masyarakat amat
mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki kemampuan
menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan
sedang menulis, dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia bermohon:
"Jangan beri tahu siapa pun, karena ini (kemampuan menulis) bagi kami adalah aib."

Memang, nilai-nilai dalam masyarakat berubah, sehingga apa yang dianggap baik pada
hari ini, boleh jadi sebelumnya dinilai buruk. Pada masa kini kemampuan menghafal
tidak sepenting masa lalu, karena sarana tulis-menulis dengan mudah diperoleh.

Masa Kenabian
Pada usia 40 tahun, yang disebut oleh Al-Quran surat Al-Ahqaf ayat 15 sebagai usia
kesempurnaan, Muhammad saw diangkat menjadi Nabi. Ditandai dengan turunnya
wahyu pertama Iqra' bismi Rabbik.

Sebelumnya beliau tidak pernah menduga akan mendapat tugas dan kedudukan yang
demikian terhormat. Karena itu ditemukan ayat-ayat Al-Quran yang menguraikan sikap
beliau terhadap wahyu dan memberi kesan bahwa pada mulanya beliau sendiri "ragu" dan
gelisah mengenai hal yang dialaminya. QS Yunus (10): 94 mengisyaratkan bahwa,

"Kalau engkau ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah
kepada orang-orang yang membaca Kitab Suci sebelum kamu (QS Yunus [10]: 94)

Kegelisahan itu bertambah besar pada saat wahyu yang beliau nanti-nantikan tidak
kunjung datang, hingga menurut beberapa riwayat beliau sedemikian gelisah, sampai-
sampai konon beliau hampir saja mencelakakan dirinya. Rupanya Allah SWT bermaksud
menjadikan beliau lebih merindukan lagi "sang kekasih dan firman-firman-Nya" agar
semakin mantap cinta beliau kepada-Nya.

Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi seluruh penjuru.


Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan
panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan. Di sini Allah SWT
melambangkan kehadiran wahyu selama ini sebagai kehadiran cahaya matahari yang
sinarnya demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran
wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."

Kenabian Muhammad saw bukan merupakan hal yang baru bagi umat manusia. Nabi
Muhammad secara tegas diperintahkan untuk menyatakan hal itu,

"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. Aku tidak
mengetahui yang diperbuat terhadapku, tidak juga terhadapmu. Aku tidak lain hanya
mengikuti yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain seorang pemberi peringatan
yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)

Namun demikian kenabian Muhammad saw berbeda dengan kenabian utusan Tuhan yang
lain. Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul diutus untuk masyarakat dan waktu tertentu,
tetapi Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat,

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku adalah


utusan Allah untuk kamu semua'" (QS Al-A'raf [7]: 158)

Ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi Muhammad saw
hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada orang-orang Arab, tetapi setelah beliau
berhasil di Madinah, beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.

Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Makkah beliau telah menegaskan
bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia.

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku adalah


utusan Allah untuk kamu semua.'" (QS Al-A'raf [7]: 158)

Ayat ini turun ketika Nabi saw sedang berada di Makkah, bahkan menurut sementara
ulama, semua ayat Al-Quran yang dimulai dengan panggilan "Wahai seluruh manusia,"
semuanya turun di Makkah kecuali beberapa ayat.

Ketika masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti yang bersifat suprarasional, Nabi
Muhammad saw diperintahkan untuk menyampaikan kalimat-kalimat berikut:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya bukti-bukti itu bersumber dari Allah, sedang aku hanya
pembawa peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-'Ankabut [29]: 50)

Memang Nabi Muhammad saw tidak mengandalkan hal-hal yang bersifat suprarasional
sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan diri beliau sendiri yang
ummi (tidak pandai membaca dan menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan
berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang pernah
dikenal oleh sejarah kemanusiaan
"Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dan Tuhanmu
(yakni Muhammad saw), dan Kami telah (pula) menurunkan cahaya yang terang
benderang (Al-Quran)" (QS Al-Nisa' [4]: 174)

Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad saw


Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad saw memiliki akhlak yang
sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai
nabi adalah keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga yang antara
lain menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung" (QS Al-Qalam
[68]: 4)

Kata "di atas" tentu mempunyai makna yang sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya,
pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia
Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An'am ayat 90 menyebutkan dalam
rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul. Setelah kedelapan belas nama disebut,
Allah berpesan kepada Nabi Muhammad saw, "Mereka itulah yang telah memperoleh
petunjuk dari Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka
peroleh." Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa pastilah Nabi
Muhammad saw telah meneladani sifat-sifat terpuji para nabi sebelum beliau

Nabi Nuh a.s. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam berdakwah. Nabi
Ibrahim a.s. dikenal sebagai seorang yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah
mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Daud a.s. dikenal sebagai nabi yang amat
menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s.,
Yahya a.s., dan Isa a.s., adalah nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia
demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi Yusuf a.s. terkenal gagah, dan amat
bersyukur dalam nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a. s. diketahui
sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa terbukti sebagai nabi yang
berani dan memiliki ketegasan, Nabi Harun a.s. sebaliknya, adalah nabi yang penuh
dengan kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad saw meneladani
semua keistimewaan mereka itu.
Ada beberapa sifat Nabi Muhammad saw yang ditekankan oleh Al-Quran, antara lain,

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu
semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin"
(QS Al-Tawbah [9]: 128)

Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga hampir-hampir saja ia


mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (baca QS Syu'ara [26]: 3). Begitu luas
rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.

Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pencinta Binatang, Nabi Muhammad saw


telah mengajarkan,
"Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang-binatang,
kendarailah dan makanlah dengan baik."
"Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor kucing yang
dikurungnya."
"Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum
seekor anjing yang kehausan."

Rahmat dan kasih sayang yang dicurahkannya sampai pula pada benda-benda tak
bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai, pedang, dan sebagainya, semuanya beliau
beri nama, seakan-akan benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang
membutuhkan uluran tangan, rahmat, kasih sayang, dan persahabatan.

Diakui bahwa Muhammad saw diperintahkan Allah untuk menegaskan bahwa,


"Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku) diberi wahyu ..." (QS Al-Kahf
[18]: 110)

Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri, fungsi fisik, dan
kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat
bimbingan Tuhan dan kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak demikian.
Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama jenisnya dengan batu yang di jalan,
tetapi ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu lain. Dalam bahasa
tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain adalah basyariyah bukan pada
insaniyah." Perhatikan bunyi firman tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.

Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah SWT menjadikan beliau
sebagai teladan yang baik sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan)

"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan
(ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l)

Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia, karena beliau telah memiliki
segala sifat terpuji yang dapat dimiliki oleh manusia.

Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim kontemporer menguraikan
bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta,
dan yang tekun beribadah.
Sejarah hidup Nabi Muhammad saw membuktikan bahwa beliau menghimpun dan
mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni
bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap
orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda
kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan,
dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.

Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad saw, antara lain sebagai
syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang
pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.

Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi
terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad saw) menjadi saksi terhadap kamu ... (QS
Al-Baqarah [2]: 143
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik dengan pandangan mata
maupun dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat
Islam pada posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh kebendaan, tidak pula
mengantarkannya membubung tinggi ke alam ruhani sehingga tidak berpijak lagi di
bumi. Mereka berada di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi
saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi umat-umat yang lain, sedangkan
Rasulullah saw yang juga berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan
bagi umat Islam.

Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang menelusuri jalan lurus
(shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang
tersurat. Mereka yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu memandang
rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya. Tokoh dari segala saksi adalah
Rasulullah Muhammad saw yang secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk
menjadi syahid (saksi)."

Kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri: "Batas


pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah seorang
manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah
seluruhnya."

Allahumma shalli wa sallim 'alaih.


You must know this Man : Nabi Muhammad dan
Dunia Islam
Katagori : Cinta RasulOleh : Redaksi 26 Sep 2006 - 5:16 am

Peringatan hari Mab’ats atau hari kenabian tanggal 27 Rajab sudah berlalu. Namun masih
ada banyak hal yang perlu diungkap dan dibacakan mengenainya. Sebab, kenabian
Rasulullah Muhammad SAW adalah kenabian terakhir yang berarti bahwa beliau adalah
duta Allah terakhir yang membawa risalah paling lengkap dan abadi sepanjang masa.
Kenabian Muhammad SAW adalah awal dari sebuah perubahan besar dalam sejarah umat
manusia, yang sampai sekarang dan akan selamanya mempengaruhi proses kehidupan ini.
Tak syak, misi besar yang diembannya membuktikan bahwa nabi terakhir ini adalah
manusia yang paling agung di sisi Allah swt.

Nabi Muhammad SAW menjalankan tugas kenabian dan menyampaikan risalah ilahiyah
selama 23 tahun. Perjuangan beliau dalam menyebarkan dan mengajarkan agama Allah
ini sangat mengagumkan. Tak ada peluang yang disia-siakan oleh beliau. Pantas bila
Allah memerintahkan umat manusia untuk meneladani Rasulullah. Dalam surah Al
Ahzab ayat 21 Allah swt berfirman, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah teladan yang
baik bagi mereka yang berharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Tuhan.”

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa siapa saja yang ingin mengenal Islam dan
mengamalkannya dengan benar, hendaknya ia mencontoh perilaku, tata krama dan tutur
kata Rasulullah SAW. Dalam banyak ayatnya, Al Qur’an memerintahkan umat Islam
untuk menaati Allah dan Rasul, supaya mereka selamat dan memperoleh rahmat dari
Allah. Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah ini telah banyak melakukan perjuangan
dan pengorbanan untuk penyebaran Islam dan penguatan sendi-sendi agama. Karena itu,
beliau pasti berharap dari umatnya untuk melakukan beberapa hal yang dapat
menghadiahkan kemajuan, kemuliaan dan kebahagiaan bagi agama dan umat Islam.

Bisa dikatakan, harapan paling utama dari Rasulullah SAW adalah persatuan dan
persaudaraan di antara umat Islam. Sejarah telah membuktikan bahwa perselisihan yang
ada di tengah umat sejak dahulu telah melemahkan kaum muslimin sehingga mereka
terjebak ke dalam perangkap musuh. Negeri mereka dijajah, kekayaan dirampas dan
kebebasan dipasung. Semua itu terjadi tanpa dan perlawanan berarti dari kaum muslimin
yang sudah dilemahkan oleh pertikaian dan perselisihan di antara mereka, padahal agama
Islam adalah agama yang mengajak kepada persatuan.

Dalam agama Islam, banyak hal yang sebenarnya membawa pesan persatuan, salah
satunya adalah sosok pribadi Muhammad SAW sebagai nabi bagi umat ini. Semua orang
muslim mengakui bahwa beliau adalah nabi terakhir yang diutus Allah kepada umat
manusia. Beliaulah teladan ketaqwaan dan kesucian. Karena itu sudah semestinya, di
zaman yang diwarnai oleh kemelut dan konflik besar ini, umat Islam khususnya para
pemimpin di negara-negara Islam menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai simbol
persatuan. Surah Al Anfal ayat 46 menegaskan, “Taatilah Allah dan RasulNya dan jangan
sampai kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan kehilangan kekuatan.
Bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW adalah melawan kezaliman. Sebagaimana Islam
melarang umatnya untuk berbuat zalim, Islam juga memerintahkan umat ini untuk
melawan kezaliman. Jika kita menelaah seluruh lembar kehidupan Nabi SAW, akan kita
dapat bahwa beliau adalah orang yang berdiri di front terdepan dalam melawan
kezaliman. Perang melawan kezaliman akan memberikan kebesaran dan kemuliaan
kepada umat Islam. Nabi SAW tentunya mengharapkan umatnya untuk tidak tunduk
terhadap kezaliman.

Amat disayangnya bahwa sejak beberapa abad lalu, dunia Islam selalu menghadapi
kezaliman yang dilakukan kaum imperialis yang menguasai negeri-negeri Islam dan
merampok kekayaannya. Di abad modern ini, imperlisme tetap berjalan namun dikemas
dalam bentuk yang telah disesuaikan. AS dengan berbagai alasan menyerang dan lantas
menduduki Afganistan dan Irak, sementara negeri Palestina sejak tahun 1948 dikuasai
oleh rezim Zionis Israel. Bukankah Allah swt telah mengingatkan hal ini dan berfirman
dalam surah Al Nisa ayat 141, “Allah tidak akan memberikan kesempatan kepada kaum
kafir untuk menguasai kaum mukminin.”

Selama 13 tahun pertama masa kenabian, Rasulullah SAW menghadapi gangguan dan
penyiksaan yang dilakukan kaum kafir Quresy di Mekah terhadap diri beliau dan para
pengikut agama Islam. Namun semua itu tak mampu meredam tekad beliau untuk
mengajarkan kebenaran. Setelah berhijrah ke Madinah, beliau membentuk pemerintahan
dan bangkit melawan kezaliman. Jika kaum muslimin meneladani perilaku Rasul, dan
bangkit melawan kaum tiran, tentu mereka akan memperoleh kembali kemuliaan dan
kehormatan. Apa yang dilakukan para pejuang Hezbollah di Lebanon adalah contoh
nyata dari kemuliaan yang didapatkan melalui perlawanan terhadap kaum agresor.

Salah satu kelebihan yang dimiliki Nabi Muhammad SAW adalah perjuangannya untuk
menegakkan dan membela kebenaran. Pengorbanan besar yang ditunjukkan Nabi SAW
dalam membela Islam karena Islam adalah agama kebenaran. Sudah menjadi tugas bagi
setiap pemeluk agama ilahi untuk tampil sebagai pembela kebenaran. Apalagi saat ini,
media-media massa dunia yang berada dalam genggaman imperialis Barat tak segan
menghujat dan menghina Islam. Salah satu dari penghinaan itu ditunjukkan oleh media
Barat yang memuat karikatur hujatan terhadap Nabi Muhammad SAW bulan September
tahun lalu. Untuk itu, umat Islam dituntut arif dan berani untuk tidak membiarkan
penghinaan seperti ini terulang kembali.

Islam seperti difahami dari asal kata silm yang berarti damai, adalah agama yang
menyeru kepada perdamaian. Meski demikian, Islam memerintahkan para pemeluknya
untuk bersikap tegas dan keras terhadap segala upaya yang berusaha merusak dan
menyimpangkan umat manusia dari cita-cita luhur insani. Islam yang mengizinkan
perang disaat ada tuntutan, mengajarkan sederet kesusilaan dalam medan pertempuran.
Islam tidak mengizinkan pembunuhan terhadap warga sipil bahkan binatang dan tumbuh-
tumbuhan. Dalam memimpin pemerintahan Islam, Nabi SAW mengadakan perjanjian
damai dengan berbagai kelompok dan pemeluk agama lain. Saat menaklukkan kota
Mekah setelah terjadi pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kaum Kafir Quresy,
Rasulullah SAW memasuki kota itu tanpa pertumpahan darah, lalu memaafkan musuh-
musuhnya. Karena itu, dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian,
persahabatan dan pemaaf. Meski demikian, hal itu tidak bertentangan dengan sikap tegas
dan keras Islam terhadap kezaliman dan kaum durjana.

Di Madinah, Nabi SAW membentuk pemerintahan yang berlandaskan pada ajaran Islam.
Dalam perspektif Rasulullah SAW, agama tidak dapat dipisahkan dari politik dan
pemerintahan. Untuk itu, kaum muslimin sudah sewajarnya berusaha menegakkan
pemerintahan yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Dengan demikian, akan tercapai
kebahagiaan dunia dan akhirat bagi kaum muslimin. Ide pemisahan agama dari politik
dan pemerintahan muncul di dunia Barat, karena mereka menyadari akan kekurangan dan
ketidakmampuan agama Kristen dalam mengatur kehidupan duniawi para pemeluknya.
Berbeda halnya dengan Islam, yang merupakan agama kebenaran dan risalah ilahi yang
terakhir. Islam memiliki konsep-konsep yang jitu dalam mengatur pemerintahan dan
negara untuk memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk memerhatikan sisi kehidupan duniawi. Tetapi
ini tidak berarti bahwa Islam melupakan sisi spiritual. Rasulullah SAW dalam banyak
hadisnya menganjurkan kita untuk selalu mengingat Allah dan menyibukkan diri dengan
beribadah. Ibadah yang diajarkan Nabi SAW bukan berarti mengasingkan diri di sebuah
mihrab untuk beribadah dan tak acuh kepada lingkungan sekitar. Nabi Muhammad SAW
sebagai teladan dalam kehidupan spiritual, adalah seorang suami bagi istri-istrinya, ayah
bagi anak-anaknya, dan pemimpin bagi umatnya. (Irib)

25. Muhammad SAW


Nabi Muhammad SAW adalah nabi pembawa risalah Islam, rasul terakhir penutup
rangkaian nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT di muka bumi. Ia adalah salah seorang
dari yang tertinggi di antara 5 rasul yang termasuk dalam golongan Ulul Azmi atau
mereka yang mempunyai keteguhan hati (QS. 46: 35). Keempat rasul lainnya dalam Ulul
Azmi tsb ialah Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, dan Nuh AS.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW


Masa pengasuhan Haliman binti Abi Du'aib as-Sa'diyah
Tanda-tanda kenabian
Gelar al-Amin
Pernikahan dengan Khadijah
Wahyu pertama
Dakwah Nabi Muhammad SAW
Aksi-aksi menentang Dakwah Nabi Muhammad SAW
Peristiwa Isra Mi'raj
Hijrah
Terbentuknya Negara Madinah
Perang Badr
Perang Uhud
Perang Khandaq
Perjanjian Hudaibiyah
Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain
Kembali ke Mekah
Ibadah haji terakhir
Kembali ke Madinah
Wafatnya Nabi SAW
Ummul Mukminin

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia
dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya bernama Abdullah
Muttalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya bernama Aminah
binti Wahab dari Bani Zuhrah. Baik dari garis ayah maupun garis ibu, silsilah Nabi
Muhammad SAW sampai kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada
tahun itu terjadi peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Mekah dengan
tujuan menghancurkan Ka'bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan
Habsyi di Yaman. Abrahah ingin mengambil alih kota Mekah dan Ka'bahnya sebagai
pusat perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Ini sejalan dengan keingin Kaisar
Negus dari Ethiopia untuk menguasai seluruh tanah Arab, yang bersama-sama dengan
Kaisar Byzantium menghadapi musuh dari timur, yaitu Persia (Irak).

Dalam penyerangan Ka'bah itu, tentara Abrahah hancur karena terserang penyakit yang
mematikan yang dibawa oleh burung Ababil yang melempari tentara gajah. Abrahah
sendiri lari kembali ke Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia.
Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Al-Fîl: 1-5.

Beberapa bulan setelah penyerbuan tentara gajah, Aminah melahirkan seorang bayi laki-
laki, yang diberi nama Muhammad. Ia lahir pada malam menjelang dini hari Senin, 12
Rabiul Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Saat itu ayah Muhammad,
Abdullah, telah meninggal dunia.

Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Muttalib. Nama itu sedikit ganjil di
kalangan orang-orang Quraisy, karenanya mereka berkata kepada Abdul Muttalib,
"Sungguh di luar kebiasaan, keluarga Tuan begitu besar, tetapi tak satu pun yang
bernama demikian." Abdul Muttalib menjawab, "Saya mengerti. Dia memang berbeda
dari yang lain. Dengam nama ini saya ingin agar seluruh dunia memujinya."
Masa pengasuhan Haliman binti Abi Du'aib as-Sa'diyah

Adalah suatu kebiasaan di Mekah, anak yang baru lahir diasuh dan disusui oleh wanita
desa dengan maksud supaya ia bisa tumbuh dalam pergaulan masyarakat yang baik dan
udara yang lebih bersih. Saat Muhammad lahir, ibu-ibu dari desa Sa'ad datang ke Mekah
menghubungi keluarga-keluarga yang ingin menyusui anaknya. Desa Sa'ad terletak kira-
kira 60 km dari Mekah, dekat kota Ta'if, suatu wilayah pegunungan yang sangat baik
udaranya.

di antara ibu-ibu tsb terdapat seorang wanita bernama Halimah binti Abu Du'aib as
Sa'diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin, karenanya ia sempat ragu untuk mengasuh
Muhammad karena keluarga Aminah sendiri juga tidak terlalu kaya. Akan tetapi entah
mengapa bayi Muhammad sangat menawan hatinya, sehingga akhirnya Halimah pun
mengambil Muhammad SAW sebagai anak asuhnya.

Ternyata kehadiran Muhammad SAW sangat membawa berkah pada keluarga Halimah.
Dikisahkan bahwa kambing peliharaan Haris, suami Halimah, menjadi gemuk-gemuk
dan menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput tempat menggembala
kambing itu juga tumbuh subur. Kehidupan keluarga Halimah yang semula suram
berubah menjadi bahagia dan penuh kedamaian. Mereka yakin sekali bahwa bayi dari
Mekah yang mereka asuh itulah yang membawa berkah bagi kehidupan mereka.

Tanda-tanda kenabian

Sejak kecil Muhammad SAW telah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa.

Usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara. Pada usia
2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala
kambing. Saat itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi pada
ibunya. Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang telah
membawa berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam
keadaan sehat dan segar.

Namun tak lama setelah itu Muhammad SAW kembali diasuh oleh Halimah karena
terjadi wabah penyakit di kota Mekah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah
maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad SAW.
Anak-anak Halimah sering mendengar suara yang memberi salam kepada Muhammad
SAW, "Assalamu 'Alaika ya Muhammad," padahal mereka tidak melihat ada orang di
situ.
Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan
mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan berpakaian putih menangkap
Muhammad SAW. Halimah bergegas menyusul Muhammad SAW. Saat ditanyai,
Muhammad SAW menjawab, "Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka memberikan
salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, membasuhnya
dengan air yang mereka bawa, lalu menutup kembali dadaku tanpa aku merasa sakit."

Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muhammad SAW, namun
karena kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa mengembalikan
Muhammad SAW, yang saat itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Mekah.

Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW telah menjadi yatim-piatu. Aminah
meninggal karena sakit sepulangnya ia mengajak Muhammad SAW berziarah ke makam
ayahnya. Setelah kematian Aminah, Abdul Muttalib mengambil alih tanggung jawab
merawat Muhammad SAW. Namun kemudian Abdul Muttalib pun meninggal, dan
tanggung jawab pemeliharaan Muhammad SAW beralih pada pamannya, Abi Thalib.

Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan permintaan Muhammad SAW untuk
ikut serta dalam kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia 12
tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam perjalanan seperti itu, namun
dalam perjalanan ini kembali terjadi keajaiban yang merupakan tanda-tanda kenabian
Muhammad SAW.
Segumpal awan terus menaungi Muhammad SAW sehingga panas terik yang membakar
kulit tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah rombongan
Muhammad SAW. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini
menarik perhatian seorang pendeta Kristen bernama Buhairah yang memperhatikan dari
atas biaranya di Busra. Ia menguasai betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar
melihat dalam kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang
mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar matahari oleh segumpal
awan di atas kepalanya. "Inilah Roh Kebenaran yang dijanjikan itu," pikirnya.

Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu dan mengundang mereka
dalam suatu perjamuan makan. Setelah berbincang-bincang dengan Abi Thalib dan
Muhammad SAW sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang bernama Muhammad
adalah calon nabi yang ditunjuk oleh Allah SWT. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh
kenyataan bahwa di belakang bahu Muhammad SAW terdapat sebuah tanda kenabian.

Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah berpesan pada Abi Thalib,
"Saya berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin dialah nabi akhir zaman yang
telah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan agar hal ini jangan diketahui
oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak
mengada-ada, apa yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab
Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan."

Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abi Thalib segera mempercepat
urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah.

Gelar al-Amin

Pada usia 20 tahun, Muhammad SAW mendirikan Hilful-Fudûl, suatu lembaga yang
bertujuan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Mekah memang
sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Hawazin.
Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat kepemimpinan Muhammad SAW mulai tampak.
Karena aktivitasnya dalam lembaga ini, disamping ikut membantu pamannya berdagang,
namanya semakin terkenal sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin
meluas karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut, sehingga ia
mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang terpercaya.

Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki rasa kemanusiaan yang
tinggi. Suatu ketika bangunan Ka'bah rusak karena banjir. Penduduk Mekah kemudian
bergotong-royong memperbaiki Ka'bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan
peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku
ingin mendapat kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari
mereka kemudian berkata, "Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki
pintu Shafa ini."
Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad SAW muncul dari sana.
Semua hadirin berseru, "Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima
semua keputusannya."

Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad SAW lalu membentangkan sorbannya di


atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua kepala
suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai
pada ketinggian yang diharapkan, Muhammad SAW meletakkan batu itu pada tempatnya
semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun
puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu.

Pernikahan dengan Khadijah

Pada usia 25 tahun, atas permintaan Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar kaya
raya, Muhammad SAW berangkat ke Suriah membawa barang dagangan saudagar wanita
yang telah lama menjanda itu. Ia dibantu oleh Maisaroh, seorang pembantu lelaki yang
telah lama bekerja pada Khadijah. Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad SAW,
Khadijah telah menaruh simpati melihat penampilan Muhammad SAW yang sopan itu.
Kekagumannya semakin bertambah mengetahui hasil penjualan yang dicapai Muhammad
SAW di Suriah melebihi perkiraannya.

Akhirnya Khadijah mengutus Maisaroh dan teman karibnya, Nufasah untuk


menyampaikan isi hatinya kepada Muhammad SAW. Khadijah yang berusia 40 tahun,
melamar Muhammad SAW untuk menjadi suaminya.
Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya diterima dan dalam
waktu dekat segera diadakan upacara pernikahan dengan sederhana. yang hadir dalam
acara itu antara lain Abi Thalib, Waraqah bin Nawfal dan Abu Bakar as-Siddiq.

Pernikahan bahagia itu dikaruniai 6 orang anak, terdiri dari 2 anak lelaki bernama Al-
Qasim dan Abdullah, dan 4 anak perempuan bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu
Kalsum, dan Fatimah. Kedua anak lelakinya meninggal selagi masih kecil. Nabi
Muhammad SAW tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal, saat Muhammad
SAW berusia 50 tahun.

Dalam kehidupan rumah-tangganya dengan Khadijah, Muhammad SAW tidak pernah


menyakiti hati istrinya. Sebaliknya istrinya pun ikhlas menyerahkan segalanya pada
suaminya. Kekayaan istrinya digunakan oleh Muhammad SAW untuk membantu orang-
orang miskin dan tertindas. Budak-budak yang telah dimiliki Khadijah sebelum
pernikahan mereka, semuanya ia bebaskan, salah satunya adalah Zaid bin Haritsah yang
kemudian menjadi anak angkatnya.

Wahyu pertama

Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat (menyendiri)
ke Gua Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan
beribadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat
cahaya terang benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di
hadapannya sambil berkata, "Iqra' (bacalah)." Lalu Muhammad SAW menjawab, "Mâ
anâ bi qâri' (saya tidak dapat membaca)." Mendengar jawaban Muhammad SAW, Jibril
lalu memeluk tubuh Muhammad SAW dengan sangat erat, lalu melepaskannya dan
kembali menyuruh Muhammad SAW membaca. Namun setelah dilakukan sampai 3 kali
dan Muhammad SAW tetap memberikan jawaban yang sama, Malaikat Jibril kemudian
menyampaikan wahyu Allah SWT pertama, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia menciptakan manusia


dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah. yang mengajar
(manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya." (QS. 96: 1-5)

Saat itu Muhammad SAW berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun
kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut
perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Dengan turunnya 5
ayat pertama ini, berarti Muhammad SAW telah dipilih oleh Allah SWT sebagai rasul.

Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa ketakutan dan cemas Nabi
Muhammad SAW pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, "Selimuti aku, selimuti
aku." Sekujur tubuhnya terasa panas dan dingin berganti-ganti. Setelah lebih tenang,
barulah ia bercerita kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah
mengajak Nabi Muhammad SAW datang pada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal,
yang banyak mengetahui kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang
dialami Nabi Muhammad SAW, Waraqah pun berkata, "Aku telah bersumpah dengan
nama Tuhan, yang dalam tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan telah memilihmu
menjadi nabi kaum ini. An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadamu.
Kaummu akan mengatakan bahwa engkau penipu, mereka akan memusuhimu, dan
mereka akan melawanmu. Sungguh, sekiranya aku dapat hidup pada hari itu, aku akan
berjuang membelamu."

Dakwah Nabi Muhammad SAW

Wahyu berikutnya adalah surat Al-Muddatsir: 1-7, yang artinya:


Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu
agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala)
tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan)
yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74: 1-7)

Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah SAW berdakwah. Mula-
mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan rekan-
rekannya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah
yang pertama kali masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara
sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama
yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak.
Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak
angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi SAW sejak ibunya masih hidup.

Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya,
seperti, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi
Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang
telah masuk Islam.

Setelah beberapa lama Nabi SAW menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah
perintah agar Nabi SAW menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia
mengundang kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia
menyampaikan ajarannya. Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian
menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya adalah Abu Lahab.

Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad SAW dalam pertemuan yang lebih
besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang
banyak. Karena Muhammad SAW adalah orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa
pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar
Nabi SAW.

Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi SAW berkata, "Saudara-saudaraku, jika aku
berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian,
percayakah kalian?"
Dengan serentak mereka menjawab, "Percaya, kami tahu saudara belum pernah
berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang mendapat gelar al-Amin."
Kemudian Nabi SAW meneruskan, "Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah
seorang nazir (pemberi peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku
memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja. Tidak
ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan terkena azabnya dan saudara
nanti akan menyesal. Penyesalan kemudian tidak ada gunanya."

Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan
sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada saat itu, Abu Lahab berteriak,
"Celakalah engkau hai Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?"
Sebagai balasan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur'an yang artinya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah
berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke
dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. yang di
lehernya ada tali dari sabut. (QS. 111: 1-5)

Aksi-aksi menentang Dakwah Nabi Muhammad SAW

Reaksi-reaksi keras menentang dakwah Nabi SAW bermunculan, namun tanpa kenal
lelah Nabi Muhammad SAW terus melanjutkan dakwahnya, sehingga hasilnya mulai
nyata. Hampir setiap hari ada yang menggabungkan diri dalam barisan pemeluk agama
Islam. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan orang-orang miskin
serta lemah. Meskipun sebagian dari mereka adalah orang-orang yang lemah, namun
semangat yang mendorong mereka beriman sangat membaja.
Tantangan dakwah terberat datang dari para penguasa Mekah, kaum feodal, dan para
pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lama disamping juga khawatir jika
struktur masyarakat dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan oleh
ajaran Nabi Muhammad SAW yang menekankan pada keadilan sosial dan persamaan
derajat. Mereka menyusun siasat untuk melepaskan hubungan keluarga antara Abi Thalib
dan Nabi Muhammad SAW dengen cara meminta pada Abu Thalib memilih satu di
antara dua: memerintahkan Muhammad SAW agar berhenti berdakwah, atau
menyerahkannya kepada mereka. Abi Thalib terpengaruh oleh ancaman itu, ia meminta
agar Muhammad SAW menghentikan dakwahnya. Tetapi Muhammad SAW menolak
permintaannya dan berkata, "Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan
amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara mengucilkan
saya."
Mendengar jawaban ini, Abi Thalib pun berkata, "Teruskanlah, demi Allah aku akan
terus membelamu".

Gagal dengan cara pertama, kaum Quraisy lalu mengutus Walid bin Mugirah menemui
Abi Thalib dengan membawa seorang pemuda untuk dipertukarkan dengan Muhammad
SAW. Pemuda itu bernama Umarah bin Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan.
Walid bin Mugirah berkata, "Ambillah dia menjadi anak saudara, tetapi serahkan kepada
kami Muhammad untuk kami bunuh, karena dia telah menentang kami dan memecah
belah kita".
Usul Quraisy itu ditolak mentah-mentah oleh Abi Thalib dengan berkata, "Sungguh jahat
pikiran kalian. Kalian serahkan anak kalian untuk saya asuh dan beri makan, dan saya
serahkan kemenakan saya untuk kalian bunuh. Sungguh suatu penawaran yang tak
mungkin saya terima."

Kembali mengalami kegagalan, berikutnya mereka menghadapi Nabi Muhammad SAW


secara langsung. Mereka mengutus Utbah bin Rabi'ah, seorang ahli retorika, untuk
membujuk Nabi SAW. Mereka menawarkan takhta, wanita, dan harta yang mereka kira
diinginkan oleh Nabi SAW, asal Nabi SAW bersedia menghentikan dakwahannya.
Namun semua tawaran itu ditolak oleh Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan,
"Demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di
tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah agama Allah ini, hingga agama ini
memang atau aku binasa karenanya."

Setelah gagal dengan cara-cara diplomatik dan bujuk rayu, kaum Quraisy mulai
melakukan tindak kekerasan. Budak-budak mereka yang telah masuk Islam mereka siksa
dengan sangat kejam. Mereka dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum.
Salah seorang budak bernama Bilal, mendapat siksaan ditelentangkan di atas pasir yang
panas dan di atas dadanya diletakkan batu yang besar dan berat.

Setiap suku diminta menghukum anggota keluarganya yang masuk Islam sampai ia
murtad kembali. Usman bin Affan misalnya, dikurung dalam kamar gelap dan dipukul
hingga babak belur oleh anggota keluarganya sendiri. Secara keseluruhan, sejak saat itu
umat Islam mendapat siksaan yang pedih dari kaum Quraisy Mekah. Mereka dilempari
kotoran, dihalangi untuk melakukan ibadah di Ka'bah, dan lain sebagainya.

Kekejaman terhadap kaum Muslimin mendorong Nabi Muhammad SAW untuk


mengungsikan sahabat-sahabatnya keluar dari Mekah. Dengan pertimbangan yang
mendalam, pada tahun ke-5 kerasulannya, Nabi SAW menetapkan Abessinia atau
Habasyah (Ethiopia sekarang) sebagai negeri tempat pengungsian, karena raja negeri itu
adalah seorang yang adil, lapang hati, dan suka menerima tamu. Nabi SAW merasa pasti
rombongannya akan diterima dengan tangan terbuka.

Rombongan pertama terdiri dari 10 orang pria dan 5 orang wanita. di antara rombongan
tsb adalah Usman bin Affan beserta istrinya Ruqayah (putri Rasulullah SAW), Zubair bin
Awwam, dan Abdur Rahman bin Auf. Kemudian menyusul rombongan kedua yang
dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib. Beberapa sumber menyatakan jumlah rombongan ini
lebih dari 80 orang.

Berbagai usaha dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi hijrah ke Habasyah ini,
termasuk membujuk raja negeri tsb agar menolak kehadiran umat Islam disana. Namun
berbagai usaha itu pun gagal. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, justru
semakin bertambah jumlah yang memeluk Islam. Bahkan di tengah meningkatnya
kekejaman tsb, dua orang kuat Quraisy masuk Islam, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib
dan Umar bin Khattab. Dengan masuk Islamnya dua orang yang dijuluki "Singa Arab"
itu, semakin kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad SAW pada waktu itu.

Hal ini membuat reaksi kaum Quraisy semakin keras. Mereka berpendapat bahwa
kekuatan Nabi Muhammad SAW terletak pada perlindungan Bani Hasyim, maka mereka
pun berusaha melumpuhkan Bani Hasyim dengan melaksanakan blokade. Mereka
memutuskan segala macam hubungan dengan suku ini. Tidak seorang pun penduduk
Mekah boleh melakukan hubungan dengan Bani Hasyim, termasuk hubungan jual-beli
dan pernikahan. Persetujuan yang mereka buat dalam bentuk piagam itu mereka tanda-
tangani bersama dan mereka gantungkan di dalam Ka'bah. Akibatnya, Bani Hasyim
menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Untuk meringankan penderitaan itu,
Bani Hasyim akhirnya mengungsi ke suatu lembah di luar kota Mekah.

Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian Muhammad SAW dan
berlangsung selama 3 tahun itu merupakan tindakan yang paling menyiksa. Pemboikotan
itu berhenti karena terdapat beberapa pemimpin Quraisy yang menyadari bahwa tindakan
pemboikotan itu sungguh keterlaluan. Kesadaran itulah yang mendorong mereka
melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri. Dengan demikian Bani Hasyim akhirnya
dapat kembali pulang ke rumah masing-masing.

Setelah Bani Hasyim kembali ke rumah mereka, Abi Thalib, paman Nabi SAW yang
merupakan pelindung utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga hari
kemudian, Khadijah, istrinya, juga meninggal dunia. Tahun ke-10 kenabian ini benar-
benar merupakan Tahun Kesedihan ('Âm al-Huzn) bagi Nabi Muhammad SAW. Telebih
sepeninggal dua pendukungnya itu, kaum Quraisy tidak segan-segan melampiaskan
kebencian kepada Nabi SAW. Hingga kemudian Nabi SAW berusaha menyebarkan
dakwah ke luar kota, yaitu ke Ta'if. Namun reaksi yang diterima Nabi SAW dari Bani
Saqif (penduduk Ta'if), tidak jauh berbeda dengan penduduk Mekah. Nabi SAW diejek,
disoraki, dilempari batu sampai ia luka-luka di bagian kepala dan badannya.

Peristiwa Isra Mi'raj

Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra Mi'raj.
Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di
Yerusalem.
Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjidilaksa ke langit melalui
beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arsy (takhta Tuhan),
dan kursi (singgasana Tuhan), hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT.

Dalam kesempatannnya berhadapan langsung dengan Allah SWT inilah Nabi


Muhammad SAW menerima perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam.
Peristiwa Isra Mi'raj ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Isrâ' ayat 1.

Hijrah

Harapan baru bagi perkembangan Islam muncul dengan datangnya jemaah haji ke Mekah
yang berasal dari Yatsrib (Madinah). Nabi Muhammad SAW memanfaatkan kesempatan
itu untuk menyebarkan agama Allah SWT dengan mendatangi kemah-kemah mereka.
Namun usaha ini selalu diikuti oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan
mendustakan Nabi SAW.

Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan 6 orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal
dari Yatsrib. Setelah Nabi SAW menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam, mereka
menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi SAW. Mereka berkata, "Bangsa kami
sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan Aus. Mereka
benar-benar merindukan perdamaian. Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka
kembali dengan perantaramu dan ajaran-ajaran yang kamu bawa. Oleh karena itu kami
akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami terima dari kamu ini."
Pada musim haji tahun berikutnya, datanglah delegasi Yatsrib yang terdiri dari 12 orang
suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui Nabi SAW di suatu tempat bernama Aqabah. Di
hadapan Nabi SAW, mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di
Aqabah, maka dinamakan Bai'at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb kemudian kembali ke
Yatsrib sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Mus'ab bin Umair yang sengaja diutus
oleh Nabi SAW atas permintaan mereka.

Pada musim haji berikutnya, jemaah haji yang datang dari Yatsrib berjumlah 75 orang,
termasuk 12 orang yang sebelumnya telah menemui Nabi SAW di Aqabah. Mereka
meminta agar Nabi SAW bersedia pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela
Nabi SAW dari segala ancaman. Nabi SAW menyetujui usul yang mereka ajukan.

Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang


Yatsrib, kaum Quraisy menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini
membuat Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Secara
diam-diam, berangkatlah rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke
Yatsrib. Dalam waktu 2 bulan, kurang lebih 150 kaum muslimin telah berada di Yatsrib.
Sementara itu Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar as-Sidiq tetap tinggal di Mekah bersama
Nabi SAW, membelanya sampai Nabi SAW mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.

Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW sebelum ia


sempat menyusul umatnya ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua
suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan
itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu
Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan,
termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi
SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih
tidur.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari
rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW
menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah
menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka
bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman. Pada malam ke-
4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai
di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu
Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2
ekor unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW
bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak
pernah ditempuh orang.

Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang
jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari. Mereka
menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi SAW membangun
sebuah masjid yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang
dibangun Nabi SAW sebagai pusat peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW. Sementara itu
penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka,
berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba
di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke
arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka
mengelu-elukan kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan
menyanyikan lagu Thala' al-Badru, yang isinya:

Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit).


Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi,
Wahai orang yang diutus kepada kami,
engkau telah membawa sesuatu yang harus kami taati.
Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi
SAW hanya berkata, "Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah dia
berjalan sekehendak hatinya."
Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan
rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian Nabi SAW memilih rumah Abu
Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di
rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah
untuknya.

Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering
pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah
sinar Islam memancar ke seluruh dunia.

Terbentuknya Negara Madinah

Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW menjadi
pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh
bagi pembentukan suatu masyarakat baru.

Dasar pertama yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di dalam


Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah)
dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin).
Nabi SAW mempersaudarakan individu-individu dari golongan Muhajirin dengan
individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, Nabi SAW mempersaudarakan Abu
Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Ja'far bin Abi Thalib dengan Mu'az bin Jabal. Dengan
demikian diharapkan masing-masing orang akan terikat dalam suatu persaudaraan dan
kekeluargaan. Dengan persaudaraan yang semacam ini pula, Rasulullah telah
menciptakan suatu persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama,
menggantikan persaudaraan berdasarkan keturunan.

Dasar kedua adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan tsb, yaitu
tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat untuk melakukan ibadah
kepada Allah SWT secara berjamaah, yang juga dapat digunakan sebagai pusat kegiatan
untuk berbagai hal, seperti belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul
dalam masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang.
Nabi SAW merencanakan pembangunan masjid itu dan langsung ikut membangun
bersama-sama kaum muslimin. Masjid yang dibangun ini kemudian dikenal sebagai
Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun di atas sebidang tanah dekat rumah
Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya terbuat dari tanah liat, sedangkan atapnya dari daun-
daun dan pelepah kurma. Di dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi SAW
dan keluarganya.

Dasar ketiga adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak
beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam juga masih terdapat
golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek
moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad SAW
mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Perjanjian tsb diwujudkan melalui sebuah
piagam yang disebut dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara
lain mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga
keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan derajat, dan disebutkan
bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan di Madinah.

Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah setelah hijrah itu
sudah dapat dikatakan sebagai sebuah negara, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai
kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara Madinah, Islam makin bertambah kuat.
Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekah menjadi resah. Mereka
takut kalau-kalau umat Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah
mereka lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan diganggu
atau dikuasai oleh kaum muslimin.

Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang baru didirikan itu,
Nabi SAW mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota, baik langsung di bawah
pimpinannya maupun tidak. Hamzah bin Abdul Muttalib membawa 30 orang berpatroli
ke pesisir L. Merah. Ubaidah bin Haris membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad
bin Abi Waqqas ke Hedzjaz dengan 8 orang Muhajirin. Nabi SAW sendiri membawa
pasukan ke Abwa dan disana berhasil mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian
ke Buwat dengan membawa 200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di sini
Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan Bani Mudij.

Ekspedisi-ekspedisi tsb sengaja digerakkan Nabi SAW sebagai aksi-aksi siaga dan
melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi
dan mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian perdamaian dengan kabilah
dimaksudkan sebagai usaha memperkuat kedudukan Madinah.

Perang Badr

Perang Badr yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaun
musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari
serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum
musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang
dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal.

Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan senjata sederhana
yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat kepemimpinan Nabi Muhammad
SAW dan semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang.
Abu Jahal, panglima perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad
SAW sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy, dan 70
orang lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur sebagai
syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah SWT (QS. 3: 123).

Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum muslimin. Mereka
memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat antara mereka dan
Nabi Muhammad SAW dalam Piagam Madinah.

Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi Muhammad SAW
memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan
masing-masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis dibebaskan bila bersedia
mengajari orang-orang Islam yang masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak
memiliki kekayaan dan kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.

Tidak lama setelah perang Badr, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian dengan
suku Badui yang kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi SAW karenan
melihat kekuatan Nabi SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan
semata.

Sesudah perang Badr, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah
yang berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW lalu mengusir kaum Yahudi itu
ke Suriah.

Perang Uhud

Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. Perang ini disebabkan
karena keinginan balas dendam orang-orang Quraisy Mekah yang kalah dalam perang
Badr.
Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa 3.000
ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tujuh ratus
orang di antara mereka memakai baju besi.
Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah 700 orang.

Perang pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul mundur pasukan musuh yang
jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta
mereka.
Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah yang ditempatkan
oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan pos mereka dan turun untuk mengambil
harta peninggalan musuh. Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan
pos mereka dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi
menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk segera melancarkan
serangan balik. Tanpa konsentrasi penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan.
Mereka terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran.
Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh. Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh
berita tidak benar yang diterima musuh bahwa Nabi SAW sudah meninggal. Berita ini
membuat mereka mengendurkan serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu.

Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai syuhada.

Perang Khandaq

Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin
Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang
bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang
Ahzab (sekutu beberapa suku).
Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat
Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di bagian-
bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang
berarti parit.

Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah dengan mendirikan
perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat
masyarakat Madinah menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi
terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi
Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad.

Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum muslimin. Setelah


sebulan mengadakan pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang.
Sementara itu pada malam hari angin dan badai turun dengan amat kencang, menghantam
dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga
mereka terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa
suatu hasil.

Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati.


Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26.

Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk
mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin langsung sekitar 1.400
orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang
adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala
kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.
Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa
kilometer dari Mekah.
Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan
menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.

Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya
antara lain:

1. Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.
2. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus
dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang menyeberang ke
pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak
Muhammad SAW.
3. Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak Muhammad SAW
maupun dengan pihak Quraisy.
4. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb, tetapi
ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
5. Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus
keluar lebih dulu.
6. Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa senjata,
kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekah lebih dari 3
hari 3 malam.

Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah berusaha merebut dan
menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain.
Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:

• Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui


konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar ke luar.
• Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh dukungan
yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh
yang besar di kalangan bangsa Arab.

Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang
masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping
juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.

Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain

Gencatan senjata dengan penduduk Mekah memberi kesempatan kepada Nabi SAW
untuk mengalihkan perhatian ke berbagai negeri-negeri lain sambil memikirkan
bagaimana cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang ditempuh oleh Nabi SAW
kemudian adalah dengan mengirim utusan dan surat ke berbagai kepala negara dan
pemerintahan.

di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi SAW adalah raja Gassan dari Iran, raja
Mesir, Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada raja-raja yang
masuk Islam, namun setidaknya risalah Islam sudah sampai kepada mereka. Reaksi para
raja itu pun ada yang menolak dengan baik dan simpatik sambil memberikan hadiah, ada
pula yang menolak dengan kasar.

Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang dikirim Nabi SAW
dibunuhnya dengan kejam. Sebagai jawaban, Nabi SAW kemudian mengirim pasukan
perang sebanyak 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Peperangan terjadi di
Mu'tah, sebelah utara Semenanjung Arab.

Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Gassan yang mendapat bantuan
langsung dari Romawi. Beberapa syuhada gugur dalam pertempuran melawan pasukan
berkekuatan ratusan ribu orang itu. di antara mereka yang gugur adalah Zaid bin Haritsah
sendiri, Ja'far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Abi Rawahah.
Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid bin Walid, bekas panglima Quraisy
yang sudah masuk Islam, mengambil alih komando dan memerintahkan pasukan Islam
menarik diri dan kembali ke Madinah.

Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut dengan Perang Mu'tah.

Kembali ke Mekah

Selama 2 tahun Perjanjian Hudaibiyah, dakwah Islam sudah menjangkau Semenanjung


Arab dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir seluruh Semenanjung Arab,
termasuk suku-suku yang paling selatan, telah menggabungkan diri ke dalam Islam. Hal
ini membuat orang-orang Mekah merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata telah
menjadi senjata bagi umat Islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara
sepihak orang-orang Quraisy membatalkan perjanjian tsb. Mereka menyerang Bani
Khuza'ah yang berada di bawah perlindungan Islam hanya karena kabilah ini berselisih
dengan Bani Bakar yang menjadi sekutu Quraisy. Sejumlah orang Kuza'ah mereka bunuh
dan sebagian lainnya dicerai-beraikan. Bani Khuza'ah segera mengadu pada Nabi
Muhammad SAW dan meminta keadilan.
Rasulullah SAW segera bertolak dengan 10.000 orang tentara untuk melawan kaum
musyrik Mekah itu. Kecuali perlawanan kecil dari kaum Ikrimah dan Safwan, Nabi
Muhammad SAW tidak mengalami kesukaran memasuki kota Mekah. Nabi SAW
memasuki kota itu sebagai pemenang. Pasukan Islam memasuki kota Mekah tanpa
kekerasan. Mereka kemudian menghancurkan patung-patung berhala di seluruh negeri.
Allah SWT berfirman:

"...Kebenaran sudah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu
adalah sesuatu yang pasti lenyap."(QS. 17: 81)

Setelah melenyapkan berhala-berhala itu, Nabi SAW berkhotbah menjanjikan ampunan


bagi orang-orang Quraisy. Setelah khotbah tsb, berbondong-bondong mereka datang dan
masuk Islam. Ka'bah bersih dari berhala dan tradisi-tradisi serta kebiasaan-kebiasaan
musyrik.
Sejak itu, Mekah kembali berada di bawah kekuasaan Nabi SAW.

Setelah Mekah dapat dikalahkan, masih terdapat suku-suku Arab yang menentang, yaitu
Bani Saqif, Bani Hawazin, Bani Nasr, dan Bani Jusyam. Suku-suku ini berkomplot
membentuk satu pasukan untuk memerangi Islam karena ingin menuntut bela atas
berhala-berhala mereka yang diruntuhkan Nabi SAW dan umat Islam di Ka'bah. Pasukan
mereka dipimpin oleh Malik bin Auf (dari Bani Nasr).
Dalam perjalanan mereka ke Mekah, mereka berkemah di Lembah Hunain yang sangat
strategis.

Kurang lebih 2 minggu kemudian, Nabi SAW memimpin sekitar 12.000 tentara menuju
Hunain. Saat melihat banyak pasukan Islam yang gugur, sebagian pasukan yang masih
hidup menjadi goyah dan kacau balau, sehingga Nabi SAW kemudian memberi semangat
dan memimpin langsung peperangan tsb. Akhirnya umat Islam berhasil menang. Pasukan
musuh yang melarikan diri ke Ta'if terus diburu selama beberap minggu sampai akhirnya
mereka menyerah. Pemimpin mereka, Malik bin Auf, menyatakan diri masuk Islam.

Dengan ditaklukannya Bani Saqif dan Bani Hawazin, kini seluruh Semenanjung Arab
berada di bawah satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Melihat kenyataan itu, Heraclius, pemimpin Romawi, menyusun pasukan besar di Suriah,
kawasan utara Semenanjung Arab yang merupakan daerah pendudukan Romawi. Dalam
pasukan besar itu bergabung Bani Gassan dan Bani Lachmides.

Dalam masa panen dan pada musim yang sangat panas, banyak pahlawan Islam yang
menyediakan diri untuk berperang bersama Nabi SAW. Pasukan Romawi kemudian
menarik diri setelah melihat betapa besarnya pasukan yang dipimpin Nabi SAW. Nabi
SAW sendiri tidak melakukan pengejaran, melainkan ia berkemah di Tabuk. Disini Nabi
SAW membuat beberapa perjanjian dengan penduduk setempat. Dengan demikian daerah
perbatasan itu dapat dirangkul ke dalam barisan Islam.

Perang yang terjadi di Tabuk ini merupakan perang terakhir yang diikuti Rasulullah
SAW.

Pada tahun 9 dan 10 H banyak suku dari seluruh pelosok Arab yang mengutus
delegasinya kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan tunduk kepada Nabi
SAW. Masuknya orang Mekah ke dalam agama Islam mempunyai pengaruh yang amat
besar pada penduduk Arab. Oleh karena itu, tahun ini disebut dengan Tahun Perutusan
atau 'Âm al-Bi'sah. Mereka yang datang ke Mekah, rombongan demi rombongan,
mempelajari ajaran-ajaran Islam dan setelah itu kembali ke negeri masing-masing untuk
mengajarkan kepada kaumnya. Dengan cara ini, persatuan Arab terbentuk. Peperangan
antar suku yang berlangsung selama ini berubah menjadi persaudaraan agama. Pada saat
itu turunlah firman Allah SWT:

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk
agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu
dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
(QS. 110: 1-3)
Kini apa yang ditugaskan kepada Nabi Muhammad SAW sudah tercapai.
Di tengah-tengah suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban, telah lahir seorang
nabi.
Ia telah berhasil membacakan ayat-ayat Allah SWT kepada mereka dan mensucikannya
serta mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, padahal sebelumnya mereka berada
dalam kegelapan yang pekat.
Pada awalnya Nabi Muhammad SAW mendapati mereka bergelimang dalam ketakhyulan
yang merendahkan derajat manusia, lalu ia mengilhami mereka dengan kepercayaan
kepada satu-satunya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kasih Sayang.
Saat mereka bercerai-berai dan terlibat dalam peperangan yang seolah tak ada habisnya,
dipersatukannya mereka dalam ikatan persaudaraan.
Kalau sebelumnya Semenanjung Arab berada dalam kegelapan rohani, maka ia datang
membawa cahaya terang-benderang untuk menyinari rohani mereka.

Pekerjaannya selesai sudah, dan seluruhnya dikerjakan dengan baik semasa hidupnya.
Disinilah letak keunggulan Nabi Muhammad SAW dibanding dengan nabi-nabi yang
lain.

Ibadah haji terakhir

Pada tahun 10 H, Nabi SAW mengerjakan ibadah haji yang terakhir, yang disebut juga
dengan haji wada'.
Pada tanggal 25 Zulkaidah 10/23 Februari 632 Rasulullah SAW meninggalkan Madinah.
Sekitar seratus ribu jemaah turut menunaikan ibadah haji bersamanya.

Pada waktu wukuf di Arafah, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khotbahnya yang
sangat bersejarah. Isi khotbah itu antara lain:

• larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq (benar) dan mengambil harta
orang lain dengan bathil (salah), karena nyawa dan harta benda adalah suci.
• larangan riba dan larangan menganiaya
• perintah untuk memperlakukan para istri dengan baik serta lemah lembut
• perintah menjauhi dosa
• semua pertengkaran di antara mereka di zaman Jahiliah harus dimaafkan
• pembalasan dengan tebusan darah sebagaimana yang berlaku di zaman Jahiliyah
tidak lagi dibenarkan
• persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan
• hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, yaitu mereka memakan apa yang
dimakan majikannya dan memakai apa yang dipakai majikannya
• dan yang terpenting, bahwa umat Islam harus selalu berpegang teguh pada dua
sumber yang tak akan pernah usang, yaitu Al-Qur'an dan Sunah Nabi SAW.

Setelah itu Nabi SAW bertanya kepada seluruh jemaah, "Sudahkan aku menyampaikan
amanat Allah, kewajibanku, kepada kamu sekalian?"
Jemaah yang ada di hadapannya segera menjawab, "Ya, memang demikian adanya."
Nabi Muhammad SAW kemudian menengadah ke langit sambil mengucapkan, "Ya
Allah, Engkaulah menjadi saksiku."
Dengan kata-kata seperti itu Rasulullah SAW mengakhiri khotbahnya.

Kembali ke Madinah

Setelah upacara haji yang lain disempurnakan, Nabi Muhammad SAW kembali ke
Madinah. Disinilah ia menghabiskan sisa hidupnya. Ia mengatur organisasi masyarakat di
kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam dan menjadi bagian dari persekutuan Islam.
Petugas keamanan dan para da'i dikirimnya ke berbagai daerah untuk menyebarkan
ajaran-ajaran Islam, mengatur peradilan Islam, dan memungut zakat. Salah seorang di
antara petugas itu adalah Mu'az bin Jabal yang dikirim oleh Nabi SAW ke Yaman. Ketika
itulah hadist Mu'az yang terkenal muncul, yaitu perintah Nabi SAW agar Mu'az
menggunakan pertimbangan akalnya dalam mengatur persoalan-persoalan agama apabila
ia tidak menemukan petunjuk dalam Al-Qur'an dan hadist Nabi SAW.

Pada saat-saat itu pula wahyu Allah SWT yang terakhir turun:
"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu ..." (QS. 5: 3)

Mendengar ayat ini, banyak orang yang bergembira karena telah sempurna agama
mereka, tetapi ada pula yang menangis, seperti Abu Bakar, karena mengetahui bahwa
ayat itu jelas merupakan pertanda berakhirnya tugas Rasulullah SAW.

Wafatnya Nabi SAW

Dua bulan setelah menunaikan ibadah haji wada' di Madinah, Nabi SAW sakit demam.
Meskipun badannya mulai lemah, ia tetap memimpin shalat berjamaah. Baru setelah
kondisinya tidak memungkinkan lagi, yaitu 3 hari menjelang wafatnya, ia tidak
mengimami shalat berjamaah. Sebagai gantinya ia menunjuk Abu Bakar sebagai imam
shalat. Tenaganya dengan cepat semakin berkurang.

Pada tanggal 13 Rabiulawal 11/8 Juni 632, Nabi Muhammad SAW menghembuskan
nafasnya yang terakhir di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, dengan wasiat terakhir,
"Ingatlah shalat, dan taubatlah...".

Ummul Mukminin

Setelah Khadijah meninggal, Nabi Muhammad menikah lagi sebanyak 10 kali, sehingga
jumlah wanita yang menjadi istrinya ada 11 orang. Kesebelas wanita ini disebut sebagai
Ummul Mukminin (ibu dari orang-orang yang beriman). Sebutan tsb menunjukkan bahwa
para istri Nabi SAW adalah wanita-wanita yang terpilih dan dimuliakan Allah SWT.

Nabi SAW menikahi para wanita itu karena beberapa alasan, antara lain untuk
melindungi mereka dari tekanan kaum musyrikin, membebaskannya dari status tawanan
perang, dan mengangkat derajatnya. Tidak jarang pernihakan yang dilakukan Nabi SAW
menciptakan hubungan perdamaian antara dua suku yang sebelumnya saling bermusuhan.

Para Ummul Mukminin itu adalah:

1. Khadijah binti Khuwailid


2. Sa'udah binti Zam'ah
3. Aisyah binti Abu Bakar as-Sidiq
4. Zainab binti Huzaimah bin Abdullah bin Umar
5. Juwairiyah binti Haris
6. Sofiyah binti Hay bin Akhtab
7. Hindun binti Abi Umaiyah bin Mugirah bin Abdullah bin Amr bin Mahzum
8. Ramlah binti Abu Sufyan
9. Hafsah binti Umar bin Khattab
10. Zainab binti Jahsy bin Ri'ah bin Ja'mur bin Sabrah bin Murrah
11. Maimunah binti Haris

Beberapa dari istri Nabi SAW ini juga menjadi periwayat hadist, yaitu Aisyah, Hafsah,
dan Zainab binti Jahsy.
Ilmu Rasmul Qur’an

Ilmu Rasmul Qur’an adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan Mushaf Al-Qur’an
yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-
bentuk huruf yang digunakan. Rasimul Qur’an dikenal juga dengan nama Rasm Utsmani.

A. Pengertian Rasm Al-Qur’an

Yang dimaksud dengan Rasm Al-Qur’an atau Rasm Utsmani atau Rasm
Utsman adalah tata cara menuliskan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah
bin Affan. Istilah rasm dalam Islam Al-Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-
Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan
membukukan Al-Qur’an. Istilah Rasm Ustman lahir bersamaan dengan lahirnya Mus
bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis
dengan kaidah tertentu. Para ulama meringkas kaidah itu menjadi enam istilah, yaitu :

a. Al-Hadz (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf). Contoh,


menghilangkan huruf alif pada ya’nida’ , dari ha tanbih,
pada lafaz jalalah dan kata na

b. Al-Jiyadah (penambahan), seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau


yang mampunyai hukum jama’ ( ) dan menambah huruf
setelah hamzah marsumah (hamzah yang terletak diatas tulisan wawu
( ).

c. Al-Hazmah, salah satu kaidahnya berbunyui bahwa apabila hamzah berharakat


sukun, ditulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya, contoh I’dzan ( ) dan
U’tumin ( ).

d. Badal (pergantian), seperti alif ditulis dengan wawu sebagai penghormatan


kepada kata .

e. Washal dan fashl (penyambungan dan pemisahan), seperti kata kul yang diringi
kata ma ditulis dengan disambung ( ).

f. Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Penulisan kata yang dapat dibaca dua bunyi
disesuaikan dengan salah satu bunyi. Didalam mushaf Utsmani, penulisan kata
semacam itu ditulis dengan menghilangkan alif (yakni dibaca dua alif), boleh juga
dengan hanya menurut buyi harakat (yakni dibaca satu alif).

B. Pola, Hukum dan Kedudukan Rasm Al-Qur’an

Kedudukan rams Ustman dipersilahkan para ulama, apakah pola penulisan


tersebut merupakan petunjuk Nabi (tawqifi) atau hanya ijtihad para sahabat.

Jumbur ulama berpendapat bahwa pola rams Utsmani bersifat dengan alasan
bahwa para penulis wahyu adalah sahabat-sahabat yang ditunjuk dan dipercayai Nabi
saw. Pola penulisan tersebut bukan merupakan ijtihad para sahabat Nabi, dan para
sahabat tidak mungkin melakukan kesepakatan (ijma) dalam hal-hal yang
bertentangan dengan kehendak dan restu Nabi
Sekelompok ulama berpendapat lain, bahwa pola penulisan didalam rams
Ustmani tidak bersifat taufiqi, tetapi hanya ijtihad para sahabat. Tidak pernah
ditemukan riyawat Nabi mengenai ketentuan pola penulisan wahyu. Bahkan sebuah
riwayat Nabi mengenai ketentuan pola penulisan wahyu. Bahkan sebuah riwayat
dikutip oleh Rajab Farjani : “Sesungguhnya Rasulullah saw, memerintahkan menulis
Al-Qur’an, tetapi tidak memberikan petunjuk teknis penulisannya, dan tidak pula
melarang menulisnya dengan pola-pola tertentu.

Beberapa orang memperhatikan sikap yang berlebihan dengan menyatakan


pendapat, bahwa Rasm Qur’ani itu adalah tauqifi, yang metode penulisannya
diletakkan sendiri oleh Rasulullah Saw. Mereka mengaitkan Rasm Qur’ani itu kepada
beliau, padahal beliau adalah seorang Nabi yang tak kenal baca tulis. Mereka
mengatakan bahwa Nabi pernah berkata kepada Muawiyah, salah seorang petugas
pencatat wahyu : “Ambillah tinta, tulislah huruf” dengan qalam (pena), rentangkan
huruf “baa”, bedakan huruf “siin”, jangan merapatkan lubang huruf “miim”, tulis
lafadz “Allah” yang baik, panjangkan lafadz “Ar-Rahman”, dan tulislah lafadz “Ar-
Rahim” yang indah kemudian letakkan qalam-mu pada telinga kiri, ia akan selalu
mengingat Engkau. Ibnu Mubarak termasuk orang yang paling bersemangat
mempertahankan pendapat seperti itu. Dalam bukunya yang berjudul Al-Ibrizt ia
mencatat apa yang dikatakan oleh gurunya; Abdul Aziz Ad-Dabbagh, yang
mengatakan sebagai berikut :

“Tidak seujung rambutpun dari huruf Qur’ani yang ditulis oleh seorang
sahabat Nabi atau lainnya. Rasm Qur’ani adalah tauqif dari Nabi (yakni atas dasar
petunjuk dan tuntunan langsung dari Rasulullah SAW). Beliaulah yang menyuruh
mereka (para sahabat) menulis rasm qur’ani itu dalam bentuk yang kita kenal,
termasuk tambahan huruf alif dan pengurangannya, untuk kepentingan rahasia yang
tidak dapat dijangkau akal fikiran, yaitu rahasia yang dikhususkan Allah bagi kitab-
kitab suci lainnya”.

Lagi pula, seandainya itu petunjuk Nabi, rasm itu akan disebut rasm Nabawi,
bukannya rasm ‘Utsmani. Belum lagi ummi Nabi diartikan sebagai buta huruf, yang
berarti tidak mungkin petunjuk teknis datang dari Nabi. Tidak pernah ditemukan
suatu riwayat, baik dari Nabi maupun sahabat bahwa pola penulisan Al Qur’an itu
berasal dari Nabi.

Dengan demikian, kewajiban mengikuti pola penulisan Al Qur’an versi


Mushaf ‘Utsmani diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan wajib, dengan
alasan bahwa pola tersebut merupakan petunjuk Nabi (tauqifi). Pola itu harus
dipertahankan walaupun beberapa di antaranya menyalahi kaidah penulisan yang
telah dibakukan. Bahkan Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Malik berpendapat
haram hukumnya menulis Al Qur’an menyalahi rasm ‘Utsmani. Bagaimanpun, pola
tersebut sudah merupakan kesepakatan ulama mayoritas (jumhur ulama).

Ulama yang tidak mengakui rasm ‘Utsmani sebagai rasm tauqifi, berpendapat
bahwa tidak ada masalah jika Al Qur’an ditulis dengan pola penulisan standar (rasm
imla’i). Soal pola penulisan diserahkan kepada pembaca. Kalau pembaca lebih mudah
dengan rasm imla’i, ia dapat menulisnya dengan pola tersebut, karena pola penulisan
itu hanya simbol pembacaan, dan tidak mempengaruhi makna Al Qur’an.
C. Perkembangan Rasm Al Qur’an

Pada mulanya mushaf para sahabat berbeda antara satu dengan lainnya.
Mereka mencatat wahyu Al Qur’an tanpa pola penulisan standar. Karena umumnya
dimaksudkan hanya untuk kebutuhan pribadi, tidak direncanakan akan diwariskan
kepada generasi sesudahnya. Di antara mereka ada yang menyelipkan catatan-catatan
tambahan dari penjelasan Nabi, ada lagi yang menambahkan simbol-simbol tertentu
dan tulisannya yang hanya diketahui oleh penulisnya.

Seperti diketahui, pada masa permulaan Islam mushaf Al Qur’an belum


mempunyai tanda-tanda baca dan baris. Mushaf Utsmani tidak seperti yang dikenal
sekarang, dilengkapi tanda-tanda baca. Belum ada tanda titik, sehingga sulit
membedakan antara huruf ya’ (‫ )ي‬dan ba’ (‫)ب‬. Demikian pula antara sin (‫)س‬dan
syin (‫)ش‬, antara tha’ (‫ )ط‬dan zha’ (‫)ظ‬, dan seterusnya.

Kesulitan mulai muncul ketika Islam mulai meluas ke wilayah-wilayah non


Arab, seperti Persia di sebelah timur, Afrika disebelah Selatan, dan beberapa wilayah
non Arab disebelah barat. Masalah ini mulai disadari para pemimpin Islam. Ketika
Ziyad ibn Samiyyah menjabat gubernur Bashrah pada masa Mua’wiyah ibn Abi
Sofyan (661-680 M) – riwayat lain menyebutkan pada masa pemerintahan Ali ibn
Abi Thalib – ia memerintahkan Abu Al-Aswad Al-Duwali membuatkan tanda-tanda
baca, terutama untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al Qur’an bagi generasi
yang tidak hafal Al Qur’an.

Al-Duwali memenuhi permintaan itu setelah mendengarkan suatu kasus salah


pembacaan yang fatal, yaitu : ٩:۳ ‫)التوبة‬ ‫)ان ال برئ من المشركين ورسوُله‬
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik”.

Pada suatu ketika seorang membaca ayat tersebut dengan :

٩:۳ ‫)التوبة‬ ‫)ان ال برئ من المشركين ورسوِله‬


“Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya”.

Al-Dawali memberikan tanda baca baris atas (fathah) berupa sebuah titik di
atas huruf (‫)ﹿ‬, sebuah titik di bawah huruf ( ) sebagai tana baris bawah (kasrah),k
tanda dhammah ben pa wawu kecil ( ) diantara dua huruf, dan tanpa apa-apa lagi
huruf konsonan mati.

Selanjutnya rams mengalami perkembangan. Khalifah Abdul ibn Marwan


(685-705), memerintahkan Al-Hajjaj ibn Yusuf Al-Saqafi untuk menciptakan tanda-
tanda huruf Al-Qur’an (nuqth al-Qur’an). Mendelegasikan tugas itu kepada Nashr ibn
Ashim dan Yahya ibu Ma’mur, keduanya adalah murid al-Duwali. Kedua orang inilah
yang membubuhi titik pada sejumlah huruf tertentu yang mempunyai kemiripan
antara satu dengan yang lainnya, misalnya penambahan titik diatas huruf dal ( )
maka menjadi huruf dzal ( ). Dari pola penulisan tersebut akhirnya berkembanglah
berbagai pola penulisan dalam berbagai bentuk seperti pola kufi, maghribi, naqsh,
dll.
D. Kekeliruan Penulisan

Mengenai mushaf Utsamani, walaupun sejak awal telah dilakukan evaluasi


ulang, ketika dilakukan tauhid al-Mashahif, ternyata tidak luput dari kekeliruan dan
inkosistensi. Hal demikian terjadi karena pada masa dilakukannya tauhid al-Mashahif,
kaum muslimin belum begitu mengenal dengan baik seni khath dan cara penulisan
(usluh al-Kitabah). Bahkan mereka beluim mengenal tulisan, kecuali beberapa orang
saja.

Adanya kekeliruan (lahn) ini, diakui oleh Ustman sendiri. Ibnu Abi Daud
meriwayatkan bahwa setelah mereka menyelesaikan naskh Al-Mahsahif, mereka
membawa sebuah mushaf kepada Utsman, kemudian beliau melihatnya dan
mengatakan : “Sungguh kalian telah melakukan hal yang baik. Didalamnya aku
melihat ada kekeliruan (lahn) yang lanjutnya Utsman mengatakan : “Seandainya
yang mengimlakan dan Hudzail dan yang menulis dari tsaqif, tentu ini tidak akan
terjadi diatasnya.

Waktu akan diluruskan oleh (kemampuan) bahasa “mereka sepanjang sejarah


tidak dilakukan. Disini terdapat hikmah. Karena bila dilakukan, justru oleh tangan-
tangan ahli kebatilan yang mengatasnamakan istilah atas kekeliruan, atau dijadikan
mainan para pengekor hawa nafsu. Oleh karena itu pula, seperti diatas, Ali bin Abi
Thalib A.S mengatakan. “Sejak ini Al-Qur’an tidak dapat diotak-ataik dan diubah-
ubah.

E. Hubungan Rasm Al Qur’an Dengan Pemahaman Al Qur’an

Meskipun mushaf Utsmani tetap dianggap sebagai satu-satunya mushaf yang


dijadikan pegangan bagi umat Islam diseluruh dunia dalam pembacaan Al-Qur’an,
namun demikian masih terdapat juga perbedaan dalam pembacaan. Hal ini
disebabkan penulisan Al-Qur’an itu sendiri pada waktu itu belum mengenal adanya
tanda-tanda titik pada huruf-huruf yang hampir sama dan belum ada baris harakat.
Bagi mereka (para sahabat dan tabi’in) memang tidak mempengaruhi pembacaan Al-
Qur’an, karena mereka telah fasih dalam pembacaan bahasa Arab. Namun bagi
mereka orang Islam non Arab akan meresa sulit untuk membedakan bacaan-bacaan
yang hampir sama tanpa menggunakan titik perbedaan dan baris barakat.

Dengan demikian hubungan rasmul Qur’an dengan pemahaman Al-Qur’an


sangat erat. Karena semakin lengkap petunjuk yang dapat ditangkap semakin sedikit
pula kesulitan untuk mengungkap pengertian-pengertian yang terkandung didalam
Al-Qur’an.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut Abu Aswad Ad-Duali berusaha


menghilangkan kesulitan-kesulitan yang sering dialami oleh orang-orang Islam non
Arab dalam membaca Al-Qur’an dengan memberikan tanda-tanda yang diperlukan
untuk menolong mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an dan memahami kandungan
ayat-ayat al-Qur’an tersebut .

Dari uraian diatas dapat kami ambil sebuah simpulan yaitu sebagai berikut :
1. Ilmu Rasmul Qur’an adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf al-
Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya,
maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan.
2. Orang yang pertama memberikan tanda-tanda pada huruf-huruf yang hampir
sama dan baris harakat adalah Abu Aswad Ad-Duali.
3. Kaidah yang digunakan dalam penulisan mushaf usmani adalah :
a. Al-Hadzf (membuang, menghilangkan atau meniadakan huruf).
b. Al-Jiyadah (penambahan)
c. Al-Hamzah
d. Badal (penggantian)
e. Wasal dan Fasl (penyambungan dan pemisahan)
f. Kata yang dapat dibaca dan bunyi.
4. Dengan adanya Rasm Al-Qur’an dapat memudahkan kita dalam membaca dan
memahami kandungan Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Rosihon, Ulumul Qur’an. Bandung : Pustaka Setia. 2000.
Shihab, Quraish Muhammad, dkk, Sejarah dan Ulum Al-Qur’an, Jakarta : Pustaka
Firdaus. 2000.
As-Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Jakarta : Pustaka Firdaus.
1990.
Rahmad, Jalaluddin, dkk, Belajar Mudah Ulum Al-Qur’an. Jakarta : Lentera
Basritama. 2002.
Syadali Ahmad, M.A dan Ahmad Rafi’i. Ulumul Qur’an II, Bandung, CV.
Pustaka Setia. 1997.
JAM`UL QUR`AN
A. JAM`UL QUR`AN
1. Penggagas Pertama Pengumpulan Al Qur`an
a. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Nabi

Ali bin Abi Thalib sebagai pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan
perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang
pertama yang mengumpulkan al Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni
juga mengungkapkan bahwa Ali memiliki kumpulan al Qur`an. Di kalangan ortodok
Islam, pengumpula al Qur`an dapat dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Abu
Bakar al- Shiddiq. Al Khatthabi berkata, “ Rasulullah tidak mengumpulkan al Qur`an
dalam satu mushaf karena senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian
hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya
Rasulullah maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para
Khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan
pemeliharaannya “.

Dengan demikian, jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Nabi dinamakan
Hifzhan ( hafalan ) dan Kitabatan ( pembukuan ) yang pertama.

b. Pengumpulan al Qur`an pada Masa Abu Bakar

Penggagas pertama pengumpulan al Qur`an pada masa itu adalah Umar bin Khattab yang
memberikan usul kepada Abu Bakar al Shiddiq. Abu Bakar yang menjabat sebagai
khalifah yang pertama setelah Rasulullah wafat. Ia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa
besar yang berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang Arab.

Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H, telah mengakibatkan 70 qari` dari para
sahabat gugur. Umar bin Khattab merasa sangat khawatir jika nantinya al Qur`an akan
musnah karena banyaknya qari` yang gugur. Umar bin Khattab mengajukan usul kepada
Abu Bakar agar menumpulkan dan membukukan al Qur`an. Akan tetapi, Abu Bakar
menolak usulan tersebut, dengan alasan Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan hal
tersebut. Namun Umar membujuknya, sehingga Allah SWT membukakan hati Abu Bakar
untuk menerima usulan tersebut.

Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al-
Qur`an mengingat kedudukannya dalam masalah qira`at, hafalan, penulisan, pamahaman
dan kecerdasannya serta kehadirannya pada pembacaan al Qur`an yang terakhir di
hadapan Nabi.

Pada mulanya Zaid bin Tsabit menolaknya, kemudian keduanya bertukar pendapat
sampai akhirnya Zaid bin Tsabit dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan
al- Qur`an tersebut. Zaid bin Tsabit memenuhi tugasnya dengan bersandar pada hafalan
para qurra` dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lambaran itu
disimpan Abu Bakar, sestelah ia wafat pada tahun 13 H berpindah kepada tangan Umar
hingga wafat. Kemudian mushaf itu pindah ke tangan Hafshah ( puteri Umar ), Zaid bin
Tsabit bertindak sangat teliti dan hati-hati.

Para ulama berpendapat bahwa penamaan al Qur`an dengan mushaf baru muncul sejak
Abu Bakar mengumpulkan al Qur`an. Kata Ali, “ orang yang paling besar pahalanya
berkenaan dengan mushaf ialah Abu Bakar “. Jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an )
pada masa Abu Bakar dinamakan jam`u al Qur`an ats-tsani ( pengumpulan al Qur`an
kedua ).
Tentang pengumpulan al Qur`an pada masa Abu Bakar, terdapat dua pandangan yaitu
versi mayoritas dan versi minoritas.

1. Versi mayoritas

• Dalam versi mayoritas, Umar sebagai penggagas intelektual pengumpulan


pertama al- Qur`an, saedangkan Abu Bakar orang yang memerintahkan
pengumpulan dalam kapasitasnya sebagai penguasa dan menunjuk pelaksana
teknis, serta menerima hasil pekerjaan berupa mushaf al Qur`an.
• Dalam versi mayoritas, alasan penunjukkan Zaid sebagai pelaksana teknis
pengumpulan al Qur`an terlihat sangat transparan, dan terdapat kesepakatan
tentangnya dalam keseluruhan riwayat. Usia muda, inteligensia tinggi, dan
pekerjaan di masa Nabi sebagai penulis wahyu, merupakan kriteria yang dipegang
Abu Bakar dalam penunjukkan Zaid sebagai pengumpul al Qur`an.

2. Versi minoritas

• Versi minoritas yang membias tidak memiliki kesatuan pandang tentang pribadi-
pribadi yang bergulat dan terkait secara langsung atau tidak langsung dengan
pengumpulan pertama al Qur`an. Riwayat terpencil mengemukakan Ali bin Abi
Thalib dan Salim bin Ma`qil sebagai pengumpul pertama al Qur`an.
• Dalam versi minoritas terdapat riwayat al Zuhri yang mengungkapkan bahwa,
ketika banyak kaum Muslimin yang terbunuh dalam pertempuran Yamamah, Abu
Bakarlah yang justeru mencemaskan akan musnahnya sejumlah besar qurra`.
• Dalam versi minoritas lainnya bahkan memangkas peran khalifah pertama dan
meletakkan keseluruhan upaya pengumpulan al Qur`an di atas pundak khalifah
kedua. Dalam riwayat ini dikisahkan bahwa suatu ketika Umar bertanya tentang
suatu bagian al Qur`an dan dikatakan bahwa bagian tersebut berada pada
seseorang yang tewas dalam pertempuran Yamamah. Ia mengekspresikan rasa
kehilangan dengan mengucapkan inna n ji`u ilayhi ra hi wa inna
li-lla, lalu ia memerintahkan untuk mengumpulkan al Qur`an, sehingga ia
adalah orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an ke dalam mushaf. Secara
implisit, di sini disebutkan bahwa baik proses awal maupun proses akhir
pengumpulan al Qur`an berlangsung pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.
• Riwayat lain mengungkapkan bahwa pekerjaan pengumpulan al Qur`an tidak
terselesaikan dengan terbunuhnya khalifah Umar : Umar bin Khattab memutuskan
untuk mengumpulkan al Qur`an. Ia berdiri ditengah manusia dan berkata: “
Barang siapa yang menerima bagian al Qur`an apapun langsung dari
Rasulullah, bawalah kepada kami “. Mereka telah menulis dari apa yang mereka
dengar dari Rasulullah di atas lembaran-lembaran, luh-luh dan pelepah-pelepah
kurma. Umar tidak menerima sesuatupun dari seseorang hingga dua orang
menyaksikan ( kebenarannya ) tetapi ia terbunuh ketika tengah melakukan
pengumpulan al Qur`an. Utsman bin Affan melanjutkannya dan berkata : “
barang siapa yang memiliki sesuatu dari Kitab Allah bawalah kepada kami...”.
• Suatu riwayat minoritas mengungkapkan keterlibatan Ubay dalam pengumpulan
al Qur`an pada masa Abu Bakar. Ketika al Qur`an dikumpulkan ke dalam mushaf
pada masa khalifah Abu Bakar beberapa orang menyalin didikte oleh Ubay.
Ketika mencapai 9:127, beberapa diantaranya memandang bahwa itu merupakan
bagian al Qur`an yang terakhir kali diwahyukan. Tetapi, Ubay menunjukkan
bahwa Nabi telah mengajarkannya 2 ayat lagi ( 9:128-129 ) yang merupakan
bagian terakhir dari wahyu. Versi lain dari riwayat ini mengungkapkan bahwa al
Qur`an itu dikimpulkan dari mushaf Ubay.
• Riwayat lain yang cukup fantastik yang disitir oleh Ya`qubi diunbgkapkan bahwa
Abu- Bakar menolak pengumpulan al Qur`an lantaran Nabi tidak pernah
melakukannya.
• Versi minoritas lainnya berupaya mendamaikan kesimpang siuran antara versi
mayoritas pengumpulan Zaid dan versi minoritas tentang pengumpulan pertama
al- Qur`an yang dilakukan khalifah Umar.Dalam laporan diungkapkan bahwa
Zaid atas perintah Abu Bakar menuliskan wahyu al Qur`an di atas lembaran kulit
dan pelepah kurma. Setelah wafatnya Abu Bakar, pada masa khalifah Umar ia
menyalin teks wahyu itu ke dalam lembaran-lembaran yang disatukan (
dah hi fah wa fi sahi ).

Dengan bentuk laporan tersebut kedua versi tentang pengumpulan pertama al Qur`an
tidak lagi bertabrakan.

2. Peran Khulafaur Rasyidin dalam Pembukuan al Qur`an

1. Khalifah Abu Bakar al Shiddiq

Abu Bakar al Shiddiq merupakan orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an atas

pertimbangan ususlan dari Umar bin Khattab pada masa Khulafaur Rasyidin. Dengan
menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al Qur`an.

2. Khalifah Umar bin Khattab

Umar bin Khattab berperan sebagai penggagas intelektual pengumpulan pertama al-
Qur`an pada masa khalifah Abu Bakar. Umar khawatir akan musnahnya al Qur`an karena
perang Yamamah telah banyak menggugurkan para qarri`.

3. Khalifah Utsman bin Affan

Utsman bin Affan menyalin lembaran-lembaran ke dalam mushaf-mushaf dengan


menertibkan atau menyusun suratnya dan membatasinya hanya dengan bahasa Quraisy.
Ia juga menghilangkan perselisihan / perpecahan di kalangan kaum Muslimin yang
disebabkan adanya perbedaan qiraat al Qur`an di antara mereka.Khalifah Utsman juga
berhasil menyusun Mushaf Utsmani.

3. Khalifah Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib merupakan pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi
berdasarkan perintah Nabi sendiri. Ia menunjuk kesepakatan atau ijma` akan
kemutawatiran al-Qur`an yang tertulis dalam mushaf.

B. RASM AL QUR`AN

1. Definisi Rasm al Qur`an dan Rasm Utsmani

Rasm al Qur`an adalah tulisan al Qur`an, baik dalam hal penulisan lafaz maupun
penulisan bentuk huruf.

Rasm Utsmani adalah penulisan mushaf Utsmani atau metode penulisan al Qur`an yang
disusun oleh Utsman.

2. Pendapat Ulama tentang Rasm Utsmani

a. Ada yang berpendapat bahwa rasm Utsmani untuk al Qur`an bersifat tauqifi yang
wajib digunakan dalam penulisan al Qur`an, dan harus sungguh-sungguh disucikan.
Mereka menisbatkan tauqifi dalam penulisan al Qur`an kepada Nabi.
Mereka menyebutkan, Nabi pernah mengatakan kepada Muawiyah, salah seorang
penulis wahyu, “ Goreskan tinta, tegakkan huruf ya, bedakan sin, jangan kamu
miringkan mim, baguskan tuliskan lafal Allah, panjangkan Ar Rahman, baguskan
Ar Rahim, dan letakkanlah penamu pada telinga kirimu, karena yang demikian akan
lebih dapat mengingatkan kamu “. Ibnu Mubarok dari Syaikh Abdul Aziz ad
Dabbagh, bahwa dia berkata kepadanya, “ Para sahabat dan orang lain tidak campur
tangan seujung rambut pun dalam penulisan al Qur`an karena penulisan al Qur`an
adalah tauqifi, ketentuan dari Nabi. Dialah yang memerintahkan kepada mereka
untuk menuliskannya dalam bentuk seperti yang dikenal sekarang, dengan
menambahkan alif atau menguranginya karena ada rahasia-rahasia yang tidak
terjangkau oleh akal. Ituah sebab satu rahasia Allah yang diberikan kepada kitab-
Nya yang mulia, yang tidak Dia berikan kepada kitab-kitab samawi lainnya.
Sebagaimana susunan al Qur`an adalah mukjizat, maka penulisannya pun mukjizat.
Bagi mereka rasm Utsmani menjadi petunjuk terhadap beberapa makna yang
tersembunyi dan halus, sepereti penambahan “ya” dalam penulisan kata “aydin”
yang terdapat dalam firmanNya, “Dan langit itu Kami bangun dengan tangan Kami
“. (Adz Dzariyat: 47). Penulisan ini merupakan isyarat bagi kehebatan kekuatan
Allah yang dengannya Dia membangun langit, dan bahwa kekuatanNya itu tidak
dapat disamai, ditandingi oleh kekuatan yang manapun ini berdasarkan kaidah yang
masyhur, “ penambahan huruf dalam bentuk kalimat menunjukkan penambahan
makna “. Pendapat ini sama sekali tidak bersumber bahwa rasm itu bersifat tauqifi.
Tetapi sebenarnya para penulislah yang mempergunakan istilah dan cara tersebut
pada masa Utsman atas izinnya, dan bahkan Utsman telah memberikan pedoman
kepada mereka dengan perkatannya kepada tiga orang Quraisy, “ Jika kalian
(bertiga) berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai penulisan sebuah
lafal al Qur`an maka tulislah menurut logat Quraisy, karena ia diturunkan dalam
logat mereka”.ketika mereka berselisih pendapat dalam penulisan tabut, Zaid bin
Tsabit mengatakan tabuh, tetapi beberapa kalangan dari golongan Quraisy
mengatakan tabut. Utsman mengatakan, “tulislah tabut, karena al Qur`an
diturunkan dalam bahasa Quraisy”.

b. Menurut kebanyakan ulama, rasm Utsmani itu bukanlah tauqifi dari Nabi melainkan
istilah yang disetujui oleh Utsman dan diterima oleh umat, sehingga menjadi suatu
keharusan yang wajib menjadi pegangan dan tidak boleh dilanggar.

c. Sebagian ulama lain berpendapat, rasm Utsmani hanyalah sebuah istilah, metode
dan tidaklah mengapa berbeda dengannya jika orang te;lah menggunakan satu
model rasm tertentu untuk penulisan, kemudian rasm itu tersiar luas di antara
mereka.

Abu Bakar al Baqilani menyebutkan dalam kitabnya Al Intishar, “ tak ada yang
diwajibkan oleh Allah dalam hal penulisan mushaf. Diperbolehkan menulis al
Qur`an dengan tulisan dan ejaan jaman kuno, dengan tulisan dan ejaan baru serta
dengan tulisan dan ejaan pertengahan.

Al Baihaqi dalam Syu`ab Al Imam mengatakan, “ Barang siapa menulis mushaf,


hendaknya ia memperhatikan bentuk rasm huruf-hurufnya yang mereka pakai
dalam penulisan mushaf-mushaf dahulu janganlah menyalahi mereka dalam hal itu
dan janganlah pula mengubah apa yang mereka tulis sedikitpun. Ilmu mereka lebih
banyak, lebih jujur hati dan lisannya, serta lebih dapat dipercaya dari pada kita.
Maka bagi kita tidak pantas menyangka bahwa diri kita lebih tahu dari mereka ”.
C. I`JAZUL QUR`AN

1. Tulisan Abdul Djalal HA

a. Definisi I`jazul Qur`an

I`jazul Qur`an berasal dari kata i`jaz dan Qur`an. Menurut bahasa kata i`jaz adalah
mashdar dari kata a`jaza yang berarti melemahkan. Kata a`jaza termasuk fi`il ruba`i
mazid yang berasal dari fi`il tsulatsi mujarrad ajaza yang berarti lemah, lawan dari
qodara yang berarti kuat / mampu.

I`jazul Qur`an ialah melemahkannya al Qur`an. Suatu kata makjud yang terdiri dari
dua kata yang di mudhafkan. Yaitu dimudhafkannya kata mashdar i`jaz kepada
pelakunya yaitu al Qur`an yang berarti melemahkannya al Qur`an. Sedangkan
ma`ulnya ( siapa objek yang dilemahkan ) dibuang atau tersimpan. Jadi, i`jazul
Qur`an bila didatangkan artinya dilemahkan kitab al Qur`an kepada manusia untuk
mendatangkan apa yang telah ditantangkan kepada mereka, yaitu membuat kitab
seperti al Qur`an ini. Sebab kitab al- Qur`an telah menantang pujangga-pujangga
Arab untuk membuat kitab seperti al- Qur`an tetapi dari dulu sampai sekarang tidak
ada yang mampu membuat tandingan itu. Tantangn al Qur`an itu berupa menandingi
seluruh isi al Qur`an dikurangi hanya 10 surat saja sampai terakhir hanya membuat
1 surat saja, tetapi tidak ada yang mampu menandinginya. Oleh karena itu, al
Qur`an betul-betul i`jaz atau melemahkan manusia seluruhnya tak ada seorangpun
yang mampu menandingi tantangannya.

Mukjizat menurut bahasa ialah sesuatu hal yang luar biasa, ajaib, atau
menakjubkan. Menurut istilah mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa yang
melemahkan manusia baik sendiri maupun kolektif untuk mendatangkan sesuatu
yang menyerupai atau menyamainya yang hanya diberikan kepada Nabi atau Rasul
Allah.

b. Aspek-aspek kemukjizatan al Qur`an


1. Syeikh Abu Bakar Al Baqilani dalam kitab I`jazil Qur`an.
Al Qur`an memiliki 3 segi kemukjizatan :
a. Di dalam al Qur`an itu ada cerita mengenai hal-hal yang ghaib.
b. Di dalam al Qur`an itu ada cerita umat dahulu beserta para Nabinya, padahal
Rasulullah SAW adalah seorang ummi.
c. Di dalam al Qur`an terdapat susunan indah yang terdiri dari 10 segi : ijaz,
tasybih, isti`arah, talaum, jawashil, tajamus, tasyrif, tadhmin, mubalaghah,
dan khusnul bayan.
2. Al Qadhi Iyad Al Basty dalam buku Asy Syifa`u bi Ta`rifi Huquqil Mushthafa
mengatakan : segi-segi kemukjizatan al Qur`an ada 4 hal :
a. Susunannya yang indah
b. Uslubnya yang lain dari pada yang lain.
c. Adanya berita-berita ghaib yang belum terjadi, tetapi lalu betul-betul terjadi.
d. Adanya berita-berita ghaib masa lalu dan syariat-syariat dahulu yang jelas
dan benar.
3. Imam al Qurthuby dalam tafsirAl jami`u Ahkamil Qur`an mengatakan segi-segi
kemukjizatan al Qur`an ada 10 hal :
a. Susunannya yang indah, yang lain dari yang lain.
b. Uslubnya berbeda dengan seluruh uslub bahasa Arab.
c. Kefasihan ungkapannya yang tidak dapat diimbangi.
d. Pengaturan bahasa yang utuh-bulat.
e. Adanya berita mengenai pertama kali kejadian-kejadian dunia yang belum
terdengar.
f. Ditepatinya hal-hal yang telah dijanjikan lalu betul-betul terjadi.
g. Adanya berita yang belum terjadi lalu betul-betul terjadi.
h. Isi aturan halal-haram.
i. Hikmah-hikmah tinggi yang tidak biasa terjadi.
j. Persesuaian semua kandungannya.
4. Syeikh Abdul Adhim Az Zarqany, segi-segi kemukjizatan sedikitnya ada 7 :
a. Keindahan bahasa dan uslub al Qur`an.
b. Cara penyusunan bahasanya tampak baik, tertib, dan berkaitan antara satu
dengan yang lain, sehingga tidak kelihatan adanya perbedaan antara surat
satu dengan yang lain meski al Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur
selama 22 tahun lebih.
c. Berisi beberapa ilmu pengetahuan, yang banyak memberi acuan makhluk
kepada kebenaran dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
d. Kitab al Qur`an bisa memenuhi segala kebutuhan manusia baik yang berupa
petunjuk dalam berbagai segi kehiduan ataupun tuntunan dalam
peribadatan, maupun yang berbentk benih-benih dalam beraneka disiplin
ilmu pengetahuan di sepanjang zaman.
e. Cara-cara mengadakan perbaikkan dan kemaslahatan bagi umat manusia
1) Cara turunnya al Qur`an berangsur-angsur berbeda dengan kitab lain
yang turun sekaligus.
2) Cara al Qur`an melarang suatu barang atau perbuatan.
3) Cara pembagian al Qur`an yang terbagi dalam juz surat dan ayat.
4) Cara al Qur`an menanamkan perintah / pesan / petunjuk lewat ungkapan
( uslub ) yang indah.
5) Cara al Qur`an menumbuhkan kesadaran terhadap kebajikan, keutamaan
dan keluhuran budi.
6) Cara al Qur`an menyadarkan umat melalui akal pikiran, penalaran, dalil
aqli, dan bukti yang rasional.
7) Cara al Qur`an memberi tuntunan terhadap jiwa dan raga manusia secara
bersama.
Cara al Qur`an mengatur urusan dunia dan akhirat.
10) Cara al Qur`an menentukan aturan hukum dengan menberikan
dispensasi (rukhshah).
f. Adanya berita-berita ghaib dalam al Qur`an yang menunjukkan bahwa al
Qur`an benar-benar wahyu Allah SWT.
g. Adanya ayat `itab ( teguran ) yang menegur kekekliruan pendapat Nabi
Muhammad SAW.
2. Tulisan Quraish Shihab
a. Definisi I`jazul Qur`an

I`jaz secara bahasa berarti keluputan. Dikatakan A`jazani al Amru artinya perkara itu
luput dariku. Juga berarti “membuat tidak mampu”. Seperti dalam contoh a`jaza akhuhu (
dia telah membuat saudaranya tidak mampu ) manakala dia telah menetapkan ketidak
mampuan saudaranya dalam suatu hal. Berarti juga “ Dia telah menjadikan saudaranya itu
tidak mampu “. Juga berarti “ terwujudnya ketidakmampuan” seperti dalam contoh
a`jazu zaza`an ( aku mendapat Zaid tidak mampu ).

Menurut istilah i`jazul berarti sesuatu yang membuat manusia tidak mampu baik secara
sendiri maupun bersama untuk mendatangkan yang seperti itu. Perbuatan seseorang
mengklaim bahwa ia menjalankan fungsi ilahiah dengan cara yang melanggar ketentuan
hukum alam dan m,embuat orang lain tidak mampu melakukan dan bersaksi akan
kebenaran klaimnya.
b. Aspek-Aspek Kemukjizatan al Qur`an

1. Segi personal, maksudnya manusia yang kepadanya al Qur`an ditunjukkan


mencakup umat manusia seluruhnya tanpa membeda-bedakan lapisan, agama, jenis
kelamin, bahasa dan sebagainya. Firman Allah SWT “ Katakanlah : hai manusia,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” ( QS al A`raf:158 )
dan “ Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam” ( QS al- Anbiya: 107 ).

2. Segi waktu, maksudnya adalah tentang masa untuk melaksanakan pesan yang
dibawanya mencakup segala masa sejak Nabi SAW diangkat menjadi Nabi hingga
hari kiamat. Firman Allah SWT “dan al Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya
dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang al
Qur`an sampai kepadanya” ( QS al An`am: 19 ).

3. Segi tempat, maksudnya adalah wilayah kawasan dimana kewenangan al Qur`an


berlaku.Al Qur`an mencakup semua manusia mukallaf ( yang dibebani kewajiban )
baik di daratan, di lautan, maupun di angkasa. Firman Allah SWT : “ Dan Kami
tidak mangutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagi pemberi peringatan tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui “ ( QS al Saba:28 ).

4. Segi materi, yaitu segi-segi kehidupan manusia yang diaturnya. Al Qur`an datang
sebagai penjelas segala sesuatu. Firman Allah dalam QS al An`am : 38 .”Dan
tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya,melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami
alpakan sesuatupun di dalam al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan”.