Anda di halaman 1dari 12

STUDY KEAMANAN INTERNASIONAL DALAM PERSPEKTIF REALIS

(Study Case: Proliferasi Nuklir Korut Dan Kebijakan Antiteror AS)

KELOMPOK 1
Lia Desmalia Russady

(201110360311081)

Okky Widiawan Putra

(201110360311079)

Dani Amalia Putri

(201110360311085)

Enni Fauziah

(201110360311073)

Rizky Amaliah S.

(201110360311105)

Dewi Megawati P.

(201110360311062)

Anna yunita

(201110360311056)

Rivqi Riswandha

(201110360311167)

Misbahul Andik

(201110360311162)

M. Ashari Rahman

(201110360311079)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MALANG

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Keamanan internasional menjadi suatu isu yang penting untuk diperdebatkan dalam studi

hubungan internasional terutama pasca berakhirnya Perang Dingin. Namun kajian studi
keamanan internasional pada masa ini sudah jauh lebih luas dibandingkankan pada masa Perang
Dingin lalu. Saat ini kajian studi keamanan internasional berupaya untuk menjelaskan tentang
mengapa dan bagaimana aktor-aktor dalam kajian study tersebut mengupayakan terciptanya
suatu kondisi yang bebas dari segala ancaman. Keamanan internasional pada masa ini tidak
hanya berfokus pada konflik dan kerjasama saja, namun juga berpusat pada bagaimana
menciptakan keamanan bagi seluruh masyarakat internasional.
Para ahli sejarah, diplomat, dan mahasiswa hubungan internasional sering menyatakan
bahwa satu-satunya cara untuk memelihara keamanan dan perdamainan adalah melalui
perimbangan kekuasaan1. Perimbangan kekuasaan atau perimbangan kekuatan antar satu Negara
dengan Negara lain di anggap mampu untuk meminimalisir adanya konflik diantara Negaranegara di dunia. Salah satu alat analisis atau perspektif yang bisa digunakan untuk mengupas
lebih dalam mengenai kajian ini adalah perspektif realisme.
Realism sendiri dalam perkembangannya terbagi menjadi 2 yaitu realism klasik dan
realism baru (neoralisme). Asumsi dasar dari realisme sendiri menganggap bahwa system dalam
hubungan internasional adalah anarki. Negara merupakan aktor tunggal dalam hubungan
internasional. Menurut pandangan realis power atau kekuatan menjadi hal yang sangat penting
yang harus dimiliki oleh suatu negara dalam upaya mencapai kepentingan nasional (struggle for
power). Negara merupakan aktor yang berasal dari sekumpulan komponen pembentuknya
kemudian membentuk kesatuan unit yang terintegrasi, dimana setiap kebijakan yang dibuat
merupakan representative dari seluruh komponen Negara tersebut. Negara juga merupakan satusatunya aktor yang rasional, karena hanya negara yang dapat membuat kebijakan secara rasional
yang didasari oleh pernyataan yang objektif.

Walter S.Jones.1993.logika hubungan internasional :kekuasaan, ekonomi-politikdantatanandunia. Jakarta : PT


GramediaPustakaUtama. Hal.35

Salah satu tokoh dalam paradigm realis adalah Hans Morgenthau, Ia mengatakan bahwa
politik berakar dari sifat manusia yang selalu mementingkan diri sendiri, kemudian Ia juga
mengatakan bahwa lingkungan internasional itu bersifat anarki. Dalam makalah ini penulis
mengambil study kasus mengenani proliferasi nuklir Korea Utara dan kebijakan antiteror yang
dikeluarkan AS (Global War on Terorism). Dua isu tersebut menurut penulis merupakan
fenomena yang menarik untuk dibahas. Kepemilikan nuklir Kore Utara kembali mecuat ke
permukaan menjadi sebuah isu ketika nuklir Yongbyon diaktifkan kembali setelah sebelumnya
di nonaktikan. Ini merupakan isu yang kemudian pada akhirnya akan banyak pihak yang
berkepentingan akan merasa terancam. Begitupula dengan kebijakan AS dalam mengeluarkan
kebijakan Global War on Terorism pasca penyerangan gedung WTC 9/11 lalu. Kebijakan
antiteror AS ini memang secara global akan mempengaruhi negar-negara yang lainnya untuk
memusuhi terrorism, tetapi kebijakan tersebut membuat AS terlalu paranoid sehingga efek dari
kebijakan tersebut adalah bahwa pemerintah AS menganggap bahwa orang muslim yang
berjenggot dan memakai jubah semuanya adalah teroris, walaupun pada kenyataannya tidak
semua orang muslim adalah teroris.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana perspektif realis mampu menganalisis isu-isu mengenai studi keamanan
internasional?
Bagaimana konsep deterrence mampu menjelaskan mengenai proliferasi Nuklir Korea
Utara?
Bagaimana neorealist menjelaskan kebijakan antiteror Amerika Serikat?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Makalah ini ditulis untuk memenuhi kewajiban penulis sebagai mahasiswa dalam mata
kuliah studi keamanan internasional. Selain itu penulisan makalah ini diharapkan mampu untuk
meberikan pengetahuan kepada akademisi hubungan internasional khusus dan masyarakat secara
umum agar lebih mampu untuk memahami studi keamanan internasional khusunya yang dilihat
dan dianalisa dari kacamata paradigma realis.

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

2.1. REALISME KLASIK


Realisme merupakan perspektif teori yang paling diakui di dalam Hubungan
Internasional. realisme telah mendominasi Hubungan Internasional pada tingkatan mahasiswa
dan sarjana hingga sering lupa fakta bahwa realisme hanyalah salah satu perspektif saja. Mereka
juga menghadirkan seolah-olah realisme merupakan pandangan umum di dunia dibandingkan
semua perspektif lain yang seharusnya dipertimbangkan juga.2
Perspektif realisme berakar dari asumsi dasar tentang pesimisme dan skeptisisme
terhadap sifat dasar manusia. Pesimisme dan skeptisisme tersebut terutama tentang peluang yang
sangat kecil dalam kemajuan politik internasional dan politik domestik, yang kemudian dapat
disebut sebagai asumsi kedua. Asumsi ketiga adalah bahwa dunia ini sebenarnya terdiri atas
negara-negara berdaulat yang saling terlibat konflik anarkis. Peranglah yang kemudian menjadi
penyelesaian konflik tersebut. Asumsi keempat adalah menjunjung tinggi keamanan nasional dan
kelangsungan hidup negara.3
Realisme klasik dikemukakan oleh ilmuwan sosial dan politik seperti Thucydides,
Niccolo Machiavelli dan Thomas Hobbes. Thucydides adalah seorang sejarawan pada masa
Yunani Kuno memandang hubungan internasional sebagai the inevitable competitions and
conflicts atau kompetisi dan konflik yang tak terelakkan. Thucydides mengambil kesimpulan ini
atas pengamatannya terhadap perang yang terjadi pada masa itu antara dua kekuatan besar,
Athena dan Sparta. Thucydides mengatakan bahwa negara yang kuat menggunakan power-nya
untuk melakukan yang dia mau, sedangkan negara yang lemah menerima apa yang sudah ia
terima. Thucydides melihat bahwa perang merupakan langkah rasional dan masuk akal untuk
mencapai keamanan dan kelangsungan hidup negara karena negara tidak memiliki pilihan lain
selain politik kekuasaan yang harus mereka jalankan dalam kondisi yang anarkis. Sedangkan
asumsi dasar Machiavelli adalah bahwa nilai politik tetinggi adalah kebebasan nasional, yaitu
2

Stean, Jill & Pettiford, Llyod, Hubungan Internasional; Perspektif dan tema, Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar, 2009,
cet. I, hlm. 41.
3
Jackson, Robert & Sorensen, George. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar,
1999, hlm. 88.

kemerdekaan.

Dalam

mewujudkannya,

penguasa

dituntut

untuk

memiliki

kekuatan

mempertahankan kepentingan negara bagaikan singa (the lion), sekaligus harus mampu
berperilaku cerdik seperti rubah (the fox). Tanggung jawab utama dari penguasa adalah selalu
mencari keuntungan, mempertahankan kepentingan dan menjamin keberadaan eksistensi. Untuk
itu seorang penguasa haruslah menjadi the Lion and the Fox. Sedang Thomas Hobbes
mengatakan homo homini lupus, bahwa setiap orang berbahaya bagi tiap orang lainnya. Karena
itu setiap orang merasa takut dan tidak aman. Untuk mengatasi rasa tidak aman itu, dibentuklah
suatu institusi bernama Negara dan kesepakatan politis di antara semua untuk saling menjaga
keamanan.
Bagi kaum realisme klasik, perimbangan kekuatan (balance of power) dianggap penting
karena dapat mencegah adanya hegemoni yang dikhawatirkan akan menguasai dunia.
Sebagaimana sejarah telah mencatat betapa mencekamnya masa Perang Dingin, dimana Amerika
Serikat dengan Blok Baratnya NATO berkonfrontasi dengan Blok Timur milik Uni Soviet, Pakta
Warsawa. Terjadi perebutan kekuasaan dengan adanya perlombaan teknologi sains, militer dan
juga penyebaran ideologi. Contoh yang masih membekas hingga sampai saat ini adalah
terpecahnya Korea menjadi dua, yakni Korea Utara dan Korea Selatan.
Kaum realis berpendapat bahwa daripada memusatkan perhatian pada gencatan senjata
sebagai dasar perhatian pada perdamaian dan keamanan, negara harus bersiap-siap untuk perang.
Mereka percaya bahwa konflik itu tak terelakkan sehingga kemungkinan terbaik untuk
mencegah perang adalah dengan menjadi kuat untuk menghadapi adanya agresi asing. Kaum
realis mengkalim bahwa kepercayaan pada logika dalam menyelesaikan masalah perang
merupakan hal yang utopis dan mengabaikan kebenaran-kebenaran objektif tertentu tentang
perpolitikan dunia.
Beberapa poin penting yang dapat diambil dari realisme klasik adalah bahwa negara
adalah aktor utama dalam hubungan internasional yang selalu berusaha mempertahankan dan
memperoleh power. Isu utamanya adalah keamanan nasional dan mempertahankan eksistensi.
Problem sentral dari hubungan internasional adalah kondisi anarki, dimana tidak ada kekuatan
supranasional. Tidak seperti liberalis, realis tidak percaya adanya koordinasi, segala sesuatu
diselesaikan dengan perang.

Berdasarkan asumsi para pemikir realis klasik, politik internasional berkembang dalam
kondisi anarki internasional dimana tidak terdapat kekuasaan berlebihan dalam suatu system
serta tidak ada pemerintahan dunia. Dalam konteks realisme, foreign policy suatu Negara adalah
membentuk dan mempertahankan interest Negara dalam politik internasional. Akan tetapi
terdapat hirarki internasional dimana negara yang paling penting adalah negara-negara great
powers. Adapun beberapa konsep realisme yang sering dipakai dalam studi keamanan
internasional adalah konsep deterrence, defense, dan kepentingan nasional. Deterrence dimaknai
sebagai upaya melindungi diri dari ancaman dengan mempengaruhi psikologis lawan. Defense
diartikan sebagai upaya fisik untuk mencegah agar lawan tidak dapat melakukan serangan.
Sedangkan kepentingan nasional adalah motif negara dalam mempertahankan diri dari ancaman
negara lain. Mengenai pembahasan beberapa konsep realisme diatas kami mengambil studi kasus
mengenai proliferasi Nuklir Korea Utara.

2.2. STUDY KASUS: PROLIFERASI NUKLIR KOREA UTARA


Sebenarnya adanya program nuklir Korea Utara sudah dimulai sejak tahun 1956 dibawah
perjanjian dengan Uni Soviet dalam kerangka kerjasama pengguanaan damai energy nuklir.
Nuklir korea utara mencuat ke permukaan sebagai ancaman kembali ketika pada akhir tahun
2002 Korea Utara mengaktifkan kembali nuklir Yongbyon. Nuklir Yongbyon ini pernah di
nonaktifkan karena adanya perjanjian yang dilakukan antara Amerika Serikat dengan Korea
Utara pada tahun 1994. Selain itu juga pada tahun 2003 Korea Utara telah mengundurkan diri
dari Non Proliferation Nuclear Treaty (NPT). Dalam beberapa tahun terakhir Korea Utara pernah
beberapa kali melakukan uji coba persenjataannya, tercatat tahun 2006 Korea Utara pernah
melakukan uji coba nuklirnya untuk pertama kali yang dilakukan di terowongan di Pantai Timur
dan menimbulkan gempa berkekuatan 4.2 Mb. Kemudian tahun 2009 Korea Utara pernah
meluncurkan Rocket dari Masudan-ri. Peluncuran rocket tersebut menurut Pemerintah Korea
Utara digunakan sebagai peluncuran satelit komunikasi mereka. Namun peluncuran rocket
tersebut dipandang oleh negara-negara Barat dan beberapa negara di Kawasan sebagai salah satu
bentuk ancaman.

Pemerintah Korea Utara beranggapan bahwa proliferasi nuklir yang dilakukan tersebut
adalah semata-mata karena untuk memenuhi kebutuhan energy negara. Disamping karena
pemenuhan kebutuhan energy negara, pengembangan persenjataan nuklir sejatinya memiliki
makna yang jauh lebih mendalam bagi kepentingan nasional negara. Jika dianalisis melalui
konsep kepentingan nasional Proliferasi Nuklir Korea Utara merupakan sebuah upaya untuk
memperthankan diri dari ancaman negara lain. Negara yang memiliki nuklir secara langsung
akan berdampak pada bargaining position Negara tersebut di percaturan politik internasional.
Ini juga akan mempengaruhi pada tindakan Negara-Negara lain kepada Negara pemilik Nuklir,
mereka akan cenderung bersikap lebih hormat dan berhati-hati dalam berhubungan dengan
Negara pemilik Nuklir. Alasan seperti itu menjadi salah satu motivasi mengapa Korea Utara juga
tetap melakukan proliferasi nuklirnya.
Dianalisa melalui konsep deterrence proliferasi Nuklir Korea Utara secara psikologis
telah mampu memberikan sebuah ancaman bagi Negara-Negara di kawasan dan juga bagi
Negara Barat seperti Amerika Serikat. Sejak tahun 1945 perselisihan antara Korea Utara dengan
Korea Selatan di Semenanjung Korea telah terjadi. Korea Selatan yang menggadeng Amerika
Serikat sebagai aliansinya membuat geram Korea Utara. Alisansi antara Korea Selatan dengan
Amerika Serikat akan dapat memenuhi kepentingan nasional Korea Selatan yang mana pada
akhirnya bertujuan untuk mengunggulkan diri dari Korea Utara.
Nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara dianggap mampu untuk meningkatkan kemananan
Negara mereka dan dapat menjadikan Korea Utara lebih kuat dibandingkan Korea Selatan.
Asumsi ini berawal dari keadaan Korea Utara yang sepanjang Perang di Semenanjung Korea
adalah cenderung lemah, itulah mengapa nuklir yang dimiliki di Yongbyon akhirnya
dimaksimalkan oleh Kim Il Sung sebagai pengembangan senjata nuklir. Persenjataan nuklir
Yang dimiliki Korea Utara ini juga dirasa mampu untuk menghilangkan ketergantungan
terhadapa Uni Soviet dan China serta dapat menangkal serangan dari Amerika Serikat.
Pada kenyataannya pengembangan senjata nuklir dari Korea Utara ternyata mampu untuk
mempengaruhi kepentingan ekonomi dari beberapa Negara seperti AS, China bahkan Korea
Selatan. Hal ini juga dijelaskan dalam tulisan milik Andi Purwono dan Sifuddin Zuhri yang
berjudul Peran Nuklir Korea Utara sebagai Instrument Diplomasi Politik Internasional, yang
mengatakan bahwa pengembangan nuklir Korea Utara akan dapat mendatanhkan efek negative

bagi kepentingan ekonomi Amerika Serikat, China dan Korea Selatan dikarenakan akan banyak
pelaku usaha yang akan mebatalkan investasinya di kawasan tersebut karena alasan keamanan.
Pengembangan nuklir Korea Utara bukan hanya dilakukan di wilayah Yongbyon saja,
namun juga terdapat pengembangan nuklir yang dilakukan di wilayah Hamgyong dan telah
dilakukan uji coba di wilayah tersebut. Hal ini juga dituliskan dalam tulisan Andi Purwono dan
Saifuddin Zuhri, Kini, di wilayah Hamgyong, Korea Utara kembali melakukan pengetesan
Taepodoong-II yang memiliki daya ledak sekitar 15 kilo ton TNT. Senjata ini, secara sepintas
mendekati daya ledak bom Hiroshima pada tahun 1945. Maka, atas klaim keberhasilanya dalam
melakukan uji coba nuklir tersebut, Korea Utara mendapat tekanan dari dunia Internasional
untuk segera meninggalkan program persenjataan nuklirnya. Uji coba nuklir tersebut dinilai
dapat mengancam ketentraman dan stabilitas keamanan negaraNegara Internasional.4
Hal tersebut membuktikan semakin jelas bahwa proliferasi atau pengembangan nuklir yang
dilakukan oleh Korea Utara merupakansebuah praktik deterrence dari Negara tersebut yang
membuat ketakutan terhadap Negara-negara di sekitar kawasan ataupun Negara-negara Barat
yang memiliki banyak kepentingan seperti Amerika Serikat.
Intervensi AS di semenanjung Korea didasarkan kepada ketakutan atas kegiatan
pengaktifan kembali program nuklir yang dimiliki korea utara yang diikuti dengan penolakan
Korea Utara terhadap badan-badan penaggulangan dampak nuklir seperti International Atomic
Energy Agency (IAEA) dan Joint Nuclear Control Comission (JNCC). Oleh sebab itu pada Juni
1994, pemerintah AS melakukan kunjungan ke Korea Utara untuk meberikan seruan untuk
meredakan ketegangan yang terjadi diantara keduanya. Upaya Amerika Serikat tersebut terbilang
cukup sukses karena berhasil menggiring Korea Utara ke dalam pertemuan Amerika SerikatKorea Utara di Jenewa, Swiss pada tanggal 21 Oktober 1994, yang menghasilkan Agreed
Framework (Kerangka Perjanjian) antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Kesediaan Korea
Utara tersebut dibalas dengan kebijakan Amerika Serikat yang melepas sanksi ekonomi yang
ditujukan kepada Korea Utara, seperti dibukanya kembali akses ekonomi, komunikasi dan
perbankan yang sebelumnya dibekukan oleh Amerika Serikat.5

Andi Purwono dan Sifuddin Zuhri. 2010. Peran Nuklir Korea Utara sebagai Instrument Diplomasi Politik
Internasional. Jurnal Ilmu Politik Hubungan Internasional. Vol 7. No 2. Hal.3.
5
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/123060-T%2026224-Peredaan%20ketegangan-Literatur.pdf diakses pada
tanggal 2 Mei 2014 pukul 8.56 am.

Ini mebuktikan bahwa pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara mampu
meberikan kewaspadaan Amerika Serikat terhadap pengembangan nuklir tersebut. Amerika
Serikat yang notabenenya adalah Negara adidaya dan memiliki energy nuklir merasa terancam
atas kepemilikan nuklir Korea Utara yang merupakan Negara kecil di kawasan Asia.
Kepemilikan nuklir kini tidak lagi hanya dimiliki oleh Negara-negara super power seperti As dan
Rusia. Kepemilian nuklir kini juga di kembangkan oleh Negara-negara seperti Korea Utara dan
Iran. Kepemilikian nuklir oleh negar-negara kecil ini akan menimbulkan kewaspaan sendiri
terhadap Negara-negara seperti AS, karena ditakutkan hal seperti ini akan membawa efek
domino bahwa Negara-negara kecil di di kawasan lainnya juga akan mengembangkan nuklir
sebagai tonggak kekuatan dan keamanan Negara mereka.
2.3. MUNCULNYA NEOREALISME
Penyebab munculnya teori neorealisme adalah munculnya aliran neoliberalisme yang
menerima dan menggunakan ide-ide kaum liberal lama namun menolak idealisme; aliran ini
muncul pada pascaperang dunia kedua. Neoliberalisme yang menonjolkan interpedensi dan
institusi yang muncul karena pengamatan orisesintehrasi regional sedang berjalan di blok barat
pada tahun 1950. Teoritisi kaum liberal mempelajari bagaimana integrasi menghidupi dirinya
sendiri: kerjasama di satu wilayah transakasi membuka jalan bagi kerjasama di wilayah lainnya.
Interpedensi yang tinggi diantara blok-blok barat membuat negara-negara membentuk institusiinstitusi dan rezim internasional untuk menghadapi masalah-masalah bersama. Joseph Nye
menyatakan bahwa kerjasama diantara mereka melalui berbagai macam institusi akan dapat
menjaga perdamaian hal tersebut dikarenakan negara-negara akan saling berkait dan membuka
jalan yang kooperatif, yang damai, yang membuat perang semakin mahal dan akhirnya tidak
mungkin terjadi.
Kerjasama dan interpedensi kompleks yang lebih mengutamakan keuntungan bersama
memang menjadi pemikiran wahid kaum neoliberalis, tetapi hal tersebut terjadi dalam suatu
hubungan internasional yang damai hanya di blok barat bukan di seluruh dunia. Pertentangan
yang terjadi antara blok barat dan timur mengakibatkan hubungan internasional yang damai dan
kooperatif tidak dapat terealisasi. Atas dasar itu kaum neorealist mengkritik pendapat kaum
neoliberal. Kaum neorealis yang tidak menyanggah bahwa terdapat kemungkinan kerjasama
antar negara, namun mereka berpendapat bahwa kerjasama tersebut hanya bentuk strategi baru

untuk mencapai kepentingan utama negaranya sendiri. Konflik bersenjata diantara negara-negara
demokrasi liberal memang tidak terjadi; tetapi adanya perang dagang yang terjadi di negaranegara tersebut menegaskan hipotesis kaum neorealist tentang persaingan antara negara-negara
yang

mementingkan

kepentingannya

sendiri-sendiri6.

Menurut

David

Baldwin

yang

diperdebatkan oleh Neorealisme dan Neoliberalisme adalah konsep anarki dimana keduanya
saling menerima anarki tapi memiliki pendapat yang berbeda dalam menyikapi7. Kemampuan
dari actor dan pandangan mengenai institusi internasional dan rezim. Lalu mengenai kerjasama
dan gains, neorealisme memilih pertahanan dan keamanan sedangkan neoliberalisme pada
perkeonomian. Kedua paham ini masih berkembang sampai saat ini, tidak jarang orang
menggunakan teori-teori ini dalam mengkaji gejala persoalan internasional kontemporer. Oleh
karena itu secara tidak langsung perdebatan-perdebatan muncul akibat pandangan yang berbeda
ini. Keduanya mungkin tidak sempurna namun mampu untuk menjelaskan gejala-gejala yang
terjadi.
2.4. STUDY KASUS: KEBIJAKAN ANTITEROR AMERIKA SERIKAT
Jika dianalisis, kebijakan antiteror AS dapat dipandang dalam teori neorealisme Waltz
seperti yang diungkapkan di atas. Sekali lagi neorealist menekankan bahwa anarki dalam
hubungan internasional bukan berasal dari human nature, yang seperti realis katakan bahwa
manusia pada Dasarnya jahat. Tetapi di sini, neorealist mengatakan strukturlah yang membuat
tindakan manusia itu jahat dan anarki.
Dalam neorealist anarki dan damai disebabkan oleh struktur yang ada. Jika struktur
menunjukkan damai, maka Negara berupaya untuk membuat suatu kebijakan baik berupa aliansi
militer atau pun balance of power guna sebagai respon terhadap suatu struktur tersebut. Tetapi
sebaliknya, jika struktur menunjukkan sebuah perdamaian, maka suatu Negara juga akan
mengubah kebijakannya. AS tidak akan mengeluarkan kebijakan anti terror atau biasa disebut
Global War on Terrorism (GWOT), jikalau struktur internasional tidak memaksanya.
Maksudnya, serangan terhadap gedung WTC menunjukkan bahwa struktur internasional jauh
dari damai, tidak ada kekuatan di atas kedaulatan negara. Struktur inilah yang mendorong dan
6

Jackson, Robert & Sorensen, Georg.1999 Introduction to InternationRelations.Oxford University Press Inc. New
York.1999
7
Baldwin, David A., 1993. Neorealism nd Neoliberalism: The Contemporary Debate, Columbia University Press,
Part I & II, hal.134

memaksa AS mengaplikasikan kebijakan GWOT sebagai respon menghadapi struktur


internasional.

KESIMPULAN
Dalam study keamanan internasional realis memang merupakan salah satu alat analisa
untuk mengupas isu-isu yang berkaitan dengan masalah keamanan internasional dalam kajian
hubungan internasional. Dalamperrkembangannya realis sendiri terbagi menjadi 2 yaitu realism
aliran klasik dan realism aliran baru atau yang sering disebut sebagai neorealisme. Asumsi dasar
realism

yang menekankan bahwa Negara merupakan actor tunggal dan kepemilikin power

merupakan hal paling penting dalam hubungan internasional (struggle for power). Dalam realism
sendiri terdapat beberapa konsep yang berkaitan dengan study keamanan internasional, yaitu:
detereeence, defence, dan kepentingan nasional.

Proliferasi nuklir Korea Utara yang merupakan salah satu isu dalam study keamanan
internasional, oleh penulisdianalisis melalaui konsep deterrence. Dianalisa melalui konsep
deterrence proliferasi Nuklir Korea Utara secara psikologis telah mampu memberikan sebuah
ancaman bagi Negara-Negara di kawasan dan juga bagi Negara Barat seperti Amerika Serikat.
Selain itu juga nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara dianggap mampu untuk meningkatkan
kemananan Negara mereka dan dapat menjadikan Korea Utara lebih kuat serta akan dapat
memiliki bargaining position yang bagus dalam percaturan politik hubungan internasional.
Dalam kacamata yang lain yaitu menggunakan realisme aliran baru (neorelisme) penulis
mengambil study kasus tentang kebijakan antiteror Amerika Serikat. Dalam neorealist anarki dan
damai disebabkan oleh struktur yang ada. Jika struktur menunjukkan damai, maka Negara
berupaya untuk membuat suatu kebijakan baik berupa aliansi militer atau pun balance of power
guna sebagai respon terhadap suatu struktur tersebut, begitu pula sebaliknya. Keputusan AS
dalam mengeluarkan kebijakan Global War on Terorism dipandang sebagai suatu bentuk
respon dari serangan terhadap gedung World Trade Center. Serangan terhadap WTC
menunjukkan bahwa struktur internasional jauh dari damai, oleh sebab itu Amerika Serikat
mengeluarkan kebijakan tersebut sebagai respon dari struktur internasional yang tercipta.

Anda mungkin juga menyukai