Anda di halaman 1dari 45

Teori ANALISIS

TITRASI
TEORI ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI
KAPASITAS PENETRALAN
TITRASI BEBAS AIR
TITRASI PENGENDAPAN
TITRASI KOMPLEKSOMETRI
TITRARI REDOKS
GRAVIMETRI
KROMATOGRAFI
A. KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
B. KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI
C. KROMATOGRAFI KERTAS
D. KROMATOGRAFI KOLOM (KK)
a. KK ADSORPSI
b.KK PARTISI
E. KROMATOGRAFI GAS
F. KROMATOGRAFI EKSKLUSI
KEMURNIAN
A. PENETAPAN JARAK LEBUR
B. PENETAPAN BOBOT JENIS
C. PENETAPAN INDEKS BIAS
D. PENETAPAN ROTASI OPTIK
E. PENETAPAN SUSUT PEMIJARAN
F. PENETAPAN SUSUT PENGERINGAN
G. PENETAPAN SISA PEMIJARAN
SPEKTROFLUOROMETRI
SPEKTROFOTOMETRI
A. SPEKTROFOTOMETRI ABSORBSI ATOM (SAA)
B. SPEKTROFOTOMETRI EMISI NYALA (SEN)
C. SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
D. SPEKTROFOTOMETRI IR
POLARIMETRI
POTENSIOMETRI
COULOMETRI (I)
COULOMETRI II
EKSTRAKSI
UJI CEMARAN
UJI UNTUK GUGUS FUNGSI
A. ALKOHOL
B. FENOL/ARIL ALKOHOL
C. GUGUS KARBONIL
D. GUGUS KARBOKSILAT
E. ESTER
F. GUGUS AMIN
G. AMIDA
H. NITRO (-NO2)
I. SENYAWA TAK JENUH (ikatan rangkap)

Teori ANALISIS

TITRASI
(Re-New by : Shirley, Erlina, Sintaria)
Titrasi adalah jenis analisis volumetrik. (H.J. Roth)
Prinsip: Dalam analisis volumetrik, larutan zat yang hendak dianalisis diperlakukan dengan larutan
reagen tertentu yang diketahui konsentrasinya. Penambahan reagen dilakukan sampai sejumlah reagen
tersebut ekivalen dengan jumlah zat yang dianalisis. Secara umum tidak ada jumlah reagen yang
berlebih digunakan.
Larutan yang konsentrasinya diketahui disebut larutan standar, di mana larutan ini mengandung
sejumlah ekivalen tertentu reagen perliter. Larutan ini ditambahkan dari buret pada larutan yang
mengandung sampel uji. Perlakuan ini dikenal sebagai titrasi. Prinsip: sejumlah larutan standar
ditambahkan dari buret pada larutan uji sampai sejumlah yang ekivalen dengan zat yang diuji. Titik
ekivalen ini disebut juga titik akhir teoritis (TEP Theoretical End Point). Untuk menunjukkan
titik akhir ini digunakan indikator yang ditambahkan dari luar ke dalam sistem titrasi. Bila reaksi
visual titrasi telah sempurna, indikator akan memberikan perubahan visual (perubahan warna maupun
kekeruhan) pada larutan yang dititrasi. Titik di mana terjadi perubahan warna ini disebut titik akhir
titrasi (EPT End Point of Titration). EPT tidak harus selalu sama dengan TEP. Yang perlu
diperhatikan adalah pemilihan indikator sehingga perbedaan TEP dan EPT sekecil mungkin. Bila sifat
dari indikator dan sistem yang dititrasi diketahui, kita dapat menghitung perbedaan TEP dan EPT yang
dinyatakan dalam % zat yang diuji. Perbedaan ini disebut dengan kesalahan titrasi. Kesalahan titrasi
dapat diketahui secara eksperimental dan disebut dengan blanko indikator.
Pada umumnya , sejumlah indikator ditambahkan ke dalam sistem yang akan dititrasi, dan diamati
perubahan warna larutan. Indikator ini disebut dengan indikator internal (dalam). Pada beberapa
kasus, interaksi indikator dan sistem yang dititrasi terjadi sebelum titik akhir dicapai, akibatanya titik
akhir dicapai lebih awal, misalnya titrasi phosphat dengan uranil asetat dengan indikator kalium
ferrosianida. Uranil ferrosianida yang berwarna coklat kemerahan sangat sedikit larut sehingga kalium
ferrosianida bereaksi dengan ion uranil sebelum titik akhir dicapai. Hasil yang baik diperoleh hanya
bila sejumlah kecil cairan supernatan ataupun filtrat diuji pada pelat tetes atau secarik kertas saring
dengan menggunakan kalium ferrosianida sebagai indikator eksternal (luar). Bila memungkinkan
penggunaan indikator internal lebih disukai daripada indikator eksternal.
Klasifikasi metode volumetrik
1. Berdasarkan kombinasi ion
(a) H+ + OH- H2O
H+ + A- HA
B+ + OH- BOH
Reaksi di atas digunakan pada analisis volumetrik zat yang bersifat seperti asam atau basa.
Asam dan garam dari basa yang sangat lemah dapat dititrasi dengan basa
standar(alkalimetri); basa dan garam dari asam yang sangat lemah dapat dititrasi dengan
asam standar(asidimetri).
(b) Ag+ + Cl- AgCl
3 Zn++ +2 K4Fe(CN)6 K2Zn3[Fe(CN)6] 2 + 6 K+
Metode dengan pembentukan lapisan endapan ini biasanya disebut proses presipitasi. Salah
satu reagen yang umum adalah perak nitrat. Analisis volumetrik menggunakan reagen ini
sering disebut argentimetri (argentometri).
(c) 2 CN- +Ag+ Ag(CN)2zat yang diuji juga dapat diubah secara kuantitatif menjadi suatu kompleks yang larut, atau
menjadi suatu senyawa yang sedikit berdisosiasi, contoh:
2 Cl- + Hg++ HgCl2
2. Berdasarkan transfer elektron
Reaksi yang terjadi adalah reaksi oksidasi-reduksi. Oksidator yang terkenal dan sering digunakan
antara lain kalium permanganat, ceric sulfat, kalium dikromat, iodine,kalium iodat, kalium bromat,

Teori ANALISIS
dan bromine. Reduktor yang sering digunakan antara lain natrium tiosulfat (untuk titrasi iodine),
ferro sulfat, arsenik trioksida, titan klorida, dan krom klorida.
Keterbatasan analisis volumetrik
Tidak semua reaksi kimia dapat menjadi reaksi dasar titrasi. Beberapa syarat yang harus dipenuhi
untuk titrasi antara lain:
1. Reaksi antara zat yang dititrasi dan reagen harus berlangsung cepat. Kondisi ini dipenuhi pada
reaksi asidimetri dan alkalimetri, dan reaksi pada pembentukan senyawa yang sedikit
terdisosiasi dan senyawa kompleks. Pada reaksi presipitasi, presipitat tidak selalu terpisah secara
spontan. Perak halida hampir terbentuk seketika; presipitat mikrokristalin seperti barium sulfat
dan timbal sulfat terpisah lebih lambat, terutama pada larutan yang encer. Pada kasus-kasus ini
penambahan alkohol dapat memberikan hasil yang lebih baik, karena alkohol menurunkan
kelarutan dari garam-garam anorganik yang sedikit larut sehingga meningkatkan kecepatan
pengendapan. Berbagai reaksi redoks tidak terjadi seketika. Pada kondisi ini penambahan katalis
tertentu dapat meningkatkan laju reaksi. Bila laju reaksi lambata atau bila titik akhir tidak dapat
dideteksi dengan cara yang sederhana, maka dapat ditambahkan reagen berlebih, dan kelebihan
reagen dititrasi kembali dengan larutan standar yang sesuai setelah reaksi yang sebelumnya
sempurna.
2. Reaksi harus stoikiometris, dan tidak ada reaksi sampingan. Terkadang dimungkinkan untuk
mengembangkan metoda empiris di mana terdapat reaksi sampingan. Dalam hal ini kondisi
percobaan harus jelas. Namun umumnya, metode empiris ini tidak dianjurkan.
3. Zat lain yang ada dalam larutan tidak bereaksi atau tidak terlibat dengan reaksi utama. Reduktor
sering bereaksi perlahan dengan oksigen atmosfer sehingga larutan hanya stabil sesaat. Pada
titrasi reduktor sering ditemukan reaksi utama yang terjadi memicu (menginduksi) reaksi antara
zat yang direduksi dengan oksigen. Contohnya larutan sulfit atau bisulfit dioksidasi oleh udara,
karena diinduksi oleh reaksi sulfit atu bisulfit dengan iodine.
4. Harus ada indikator untuk mendeteksi titik akhir. Bila tidak ada indikator yang sesuai sering
digunakan metode fikokimia, misalnya perubahan potensial elektroda tertentu (titrasi
potensiometrik), perubahan konduktivitas listrik larutan selama titrasi (titrasi konduktometrik),
atau perubahan arus selama elektrolisis larutan yang dititrasi (titrasi amperometrik).

TEORI ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI


Indikator asam-basa
Indikator yang digunakan baik pada asidimetri maupun alkalimetri adalah asam organik lemah
(indikator asam) atau basa organik lemah (indikator basa), di mana bentuk yang terdisosiasinya
mempunyai warna yang berbeda dengan bentuk yang tidak terdisosiasi. Bila indikator asam
dilambangkan HI dan indikator basa IOH, maka berdasarkan defenisi di atas persamaannya adalah:

H+ +

HI

Bentuk tidak
terdisosiasi,asam

IBentuk terdisosiasi,
basa

IOH OH- +
Bentuk tidak terdisosiasi, basa

I+

Bentuk terdisosiasi,
asam

H I
K =

HI
-log KI =pKI : kontanta indikator
KI: konstanta ionisasi indikator
I

I OH
=

KIOH

IOH

Teori ANALISIS
Warna indikator asam dapat diketahui dengan membandingkan konsentrasi dua bentuk yang berbeda
yaitu HI dan I-, sesuai dengan persamaan:
K
bentukpadawarnabasa
I
I
=
HI bentukpadawarnaasam H

IOH

K
bentukpadawarnabasa
I
bentukpadawarnaasam H

Kita dapat membedakan warna asam dengan baik apabila nilai:


I
< 0,1
HI
dan warna basa dengan baik bila:
I
> 10
HI

Interval perubahan warna indikator


Perubahan warna indikator adalah antara konsentrasi H + = 10 KI (warna asam) dan 1/10 KI (warna
basa) atau antara pH = pK I 1, dimana pKI = -log KI. interval perubahan warna ini dapat diketahui
secara eksperimental dengan penambahan larutan dapar, dan sisanya bergantung penilaian subjektif
pengamat. Perubahan warna indikator disetai dengan perubahan strukturnya.
Nama dagang

Pelarut

Jenis
indikator
Tropeolin 00
air
b
Timol biru
air
a
Metil yellow
alkohol 90%
b
Metil orange
air
b
Bromfenol biru
air
a
Bromkresol hijau
air
a
Metil merah (Na)
air
b
Klorofenol merah
air
a
Bromtimol biru
air
a
Fenol merah
air
a
Merah netral
alkohol 70%
b
Kresol ungu
air
a
Timol biru
air
a
alkohol 70%,
a
alkohol 90%
a
Alizarine yellow
air
a
Keterangan: a = indikator asam; b = indikator basa

Warna di asam

Warna di basa

merah
merah
merah
merah
kuning
kuning
merah
kuning
kuning
kuning
merah
kuning
kuning
tak berwarna
tak berwarna
kuning

kuning
kuning
kuning
kuning-orange
ungu
biru
kuning
merah
biru
merah
kuning-coklat
ungu
biru
merah-violet
biru
violet

Interval
pH
1.3-3.0
1.2-2.8
2.9-4.0
3.1-4.4
3.0-4.6
3.8-5.4
4.2-6.2
4.8-6.4
6.0-7.6
6.4-8.0
6.8-8.0
7.4-9.0
8.0-9.6
8.0-9.8
9.3-10.5
10.1-12.0

Indikator campuran
Pada kasus tertentu kita dapat menggunakan campuran dua indikator atau campuran indikator dengan
pewarna tertentu yang tepat untuk menghasilkan perubahan warna yang lebih jelas pad pH tertentu,
dan menjadi pilihan bila perubahan warna tidak jelas dengan indiktor yang umum. Cohtoh campuran
indikator:
- Metil orange (1g) + indigo carmine (2.5g) dalam 1 L air, basa warna: hijau, pH 4: keabuan,
semakin asam berubah warna menjadi violet. Larutan stok harus disimpan dalam botol coklat
dan di tempat gelap.
- Bromkresol hijau (0.1%) + metil merah (0.1%) (3:1), perubahan pada pH 5.1, warna asam:
merah, warna basa: hijau
- Phenolphthalein (0.1%) + metilen hijau (0.1%) (1:2), pH asam warna: hijau, pH 8.8 : biru pucat,
pH >9.0 violet

Teori ANALISIS
-

Merah kresol (0.1%) + timol biru (0.1%) (1:3), warna asam: kuning, basa: violet, pH 8.2 8.4:
pink.

Jenis titrasi asam basa yaitu :


1. Titrasi langsung asam kuat oleh basa kuat (Becket 104, Practical Pharmaceutical chemistry)
Menghasilkan garam yang tidak terhidrolisis dalam larutn air. Larutan menjadi netral pada titik
ekivalen. pH berubah dengan cepat pada titik ekivalen. Indicator yang digunakan adalah yang
berubah pada pH 4-10 dan yang sering digunakan adalah metil orange.
Contoh : penentuan HBr, Asam Hypophosporus encer, asam nitrat, asam perklorat, (72% w/w dan
60% w/w), kalium hydrogen sulfat, asam sulfat, thiamin HCl, dan penentuan aldehid dan keton
dalam minyak esensial.
2. Titrasi langsung asam lemah oleh basa kuat (Becket 107)
menghasilkan garam yang akan terhidrolisis tergantung tetapan disosiasi asamnya. pH pada titik
ekivalen > 7. indicator yang biasa digunakan adalah fenolplatein. Karena asam peka terhadap CO 2
maka harus menggunakan air bebas CO2 dan NaOH bebas Na2CO3.
Contoh : penentuan asam formiat, asam maleat, asamnikotinat, asam salisilat, asam askorbat, asam
sulfanilat, penentuan bilangan asam lemak nabati, asam borat, fenilbutazon, furosemida,
cycloserin
3. Titrasi langsung basa kuat oleh asam kuat (Becket 110)
menghasilkan garam yang tidak terhidrolisis dalam larutan air dan larutan menjadi kristal pada
titik ekivalen (ph ekiv = 7). Indicator yang digunakan adalah yang berubah pada pH 4-10,
biasanya digunakan metal orange.
Contoh: penentuan boraks dalam larutan air sebagai campuran borat dan natrium tetraborat,
natrium salisilat, etilenadium, injeksi/tablet Na-bikarbonat.
4. Titrasi langsung basa lemah oleh asam kuat (Becket 116)
menghasilkan garam yang terhidrolisis. pH ekivalen <7. indicator yang digunaklan adalah metil
merah.
Contoh: penentuan aminofilin, salep merkuri ammonia, piridin, (ind biru bromfenol, pH= 2,8)
5. Titrasi kembali (Becket 117)
cara ini umumnya digunakan untuk:
a. senyawa yang mudah menguap jika dititrasi langsung (amoniak)
b. senyawa yang sukar larut (kalsium karbonat). Cara : senyawa dikocok dengan air, ditamnbah
pereaksi berlebih, kelebihan pereaksi dititrasi kembali
c. senyawa hanya bereaksi cepat jika ada pereaksi berlebih (Asam laktat)
d. senyawa yang membutuhkan pemanasan, sedangkan pereaksi yang digunakan terurai oleh
pemanasan.

KAPASITAS PENETRALAN
Fungsi antacid adalah menetralkan HCl yang disekresi oleh sel pariteal. Secara kuantitatif
antasid dibandingkan berdasarkan KPA-nya. KPA adalah jumlah HCl 1 N (dalam mEq) yang dapat
dinetralkan oleh antasida sehingga mencapai pH 3,5 dalam waktu 15 menit.
Reaksi:
A l ( O H )3 + 3 H C l

A l C l3 + 3 H 2 O

(reaksi pelan)

M g ( O H )3 + 2 H C l

M g C l2 + 2 H 2 O

(reaksi pelan/sedang)

C a C O3

+ 2HCl

C a C l2 +

H2O

C O2

(reaksi cepat)

N a H C O3

+ HCl

NaCl

H2O

C O2

(reaksi cepat)

1.
2.
3.
4.
5.

Dalam farmakope semua antasid memiliki KPA, jenis antasid :


Aluminium hidroksida : ada
Magnesium hidroksida : tidak ada
Kalsium karbonat : tidak ada
magnesium trisilikat : ada
magnesium karbonat : tidak ada

Teori ANALISIS

TITRASI BEBAS AIR


Prinsip :
Beberapa asam lemah dan basa lemah tidak dapat dititrasi dalam lingkungan berair karena
reaksi yang terjadi tidak dapat nenunjukkan titik akhir yang tajam. Oleh karena itu dilakukan titrasi
dalam lingkungan bebas air dimana digunakan pelarut non air yang dapat bertindak sebagai asam yang
lebih kuat atau basa yang lebih kuat daripada air sehingga reasi antara titran dan titer dapat berlangung
lebih baik dan memberikan titik akhir yang lebih tajam.
Contoh kasus:
Ada 2 pelarut:
1.
air :
2 H2O

H3O +

OH-

( d o n o r p r o t on )

2.

Asam Asetat Glasial:


2 C H3C O O H

C H3C O O H2+
+
( D o n o r p r o t on )

C H3C O O -

Asam asetat glacial merupakan donor proton (asam) yang lebih kuat daripada air. Ketika
mentitrasi NH3 (basa lemah) menggunakan asam kuat, lebih baik digunakan pelarut asam asetat glasial
(yang lebih siap mendonorkan protonnya) sehingga NH 3 dapat bertindak sebagai basa yang lebih
kuat,
Reaksinya:
N H3

+ C H 3C O O H2+

C H3C O O H

N H4+

Reaksi cenderung bergeser ke kanan dibandingkan dengan reaksi:


N H3

+ H3 O +

H2O

N H4+

Jika digunakan pelarut air.


Pelarut :
1. Pelarut aprotik (inert tidak bereaksi dengan asam/basa) : Benzen. CHCI 3, CCl4.
2. Pelarut amprotik (yang dapay bertindak sebagai asam/basa lemah) : air, etanol, methanol,
Pelarut yang lebih asam daripada air : asam asetat alasial.
Pelarut yang lebih basa daripada air : Amonia, Etilendiamin
3. Pelarut protofilik (bersifat basa & tidak bersifat asam) : eter, keton, piridin.
4. pelarut protogenik (bersifat asam) : asam sulfat.
Pustaka :
1. Analitikal Chemistry, J.G. Dick, hal 416-427.
2. Practical Pharmaceutical Chemestry, A.H. beckett& J.BStenlake, hal 175-183.

TITRASI PENGENDAPAN
Titrasi pengendapan adalan titrasi dimana hasil reaksi titrasi menghasilkan endapan atau
garam yang tidak larut. Metode ini dapat digunakan jika:
a Reaksi pengendapan menunjukan tercapainya titik akhir dengan cepat.
b Tidak ada lon yang mengganggu reasi pengendapan.
c Terdapat indikator yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi secara akurat.
Tulis salah satu metode berikut sesuai zat aktif anda:
1. Cara Liebeg (Beket 191)
Prinsip:
Penentuan ion CN- dengan pembentukkan kompleks AgCN yang sangat stabil
Reaksi:
Ag+
A g ( C N )22 CN- +
A g ( C N )2- +
Ag berlebih

2 AgCN

Teori ANALISIS
tetapi kekeruhan akibat terbentuknya endapan AgCN sukar diamati
2. Cara deniges (memperbaiki cara Liebig)
Prinsip:
Ditambahkan indicator iodida sehingga terbentuk AgI yang lebih sukar larut daripad AgCN.
Untuk mencegah pengendapan prematur, ditambhakan amonia untuk mengontrol konsentrasi
Ag+ dalam larutan
Ag+

+ 2 N H3

A g ( N H3)2+

Reaksi:
Ag+
I-

+
+

CN-

A g ( C N ) 2Ag

Ag+

3. Cara Guy Lussac


Prinsip:
Dilakukan titrasi ion Cl- dengan Ag+ sehingga terbentuk endapan AgCl. Titik akhir ditentukan
dengan membandingkan kekeruhan baku (dimana Cl- = Ag+) dengan kekeruhan sampel.
Reaksi:
Cl-

AgCl

Ag+

4. Cara Mohr
Prinsip:
Dilakukan titrasi ion halogen (Cl-, Br-, atau I-) dengan Ag+ menggunakan indikator K 2CrO4.
Reaksi:
X-

AgX

Ag+

5. Cara Volhard
Prinsip:
a. dilakukan titrasi ion Ag+ dengan CNS- menggunakan indikator Fe3+ dalam suasana asam).
Reaksi:
Ag+

AgCNS

CNS-

CNS- berlebih

Fe 3+

F e ( C N S )3 ( m e r a h m u d a )

b. Dilakukan penentuan kadar ion halogen (Cl-, Br-, atau I- ) menggunakan metode titrasi
balik. Larutan ion halogen ditambahka AgNO 3 berlebih. kelebihan AgNO3 dititrasi dengan
KCNS menggunakan indikator Fe3+ (dalam suasana asam).
Reaksi:
X-

AgX

A g N O3

Ag berlebih +

CNS-

CNS- berlebih

F e 3+

Ag(CNS)
F e ( C N S )3 ( m e r a h m u d a )

6. Cara Fajans
Prinsip:
Penentuan ion Cl- , Br-, CNS-, Ag+, I- menggunakan indicator adsorpsi (senyawa organic yang
bersifat asam/basa lemah) yang mempunyai warna yang berbeda pada keadaan teradsorpsi dan
tidak teradsorpsi
Titran

Titer

Cl- , Br-, CNS-

AgNO3

Ag+

NaCl

Cl- , Br-, CNS-

AgNO3

Indikator
Fluorescein
Diklofluorescein
Fluorescein
Diklofluorescein
Eosin

Teori ANALISIS
7. Cara Budde
Prinsip:
Dilakukan untuk menentukan kadar asam barbiturat bebas atau tersubstitusi pada posisi 5,5.
barbiturat dititrasi oleh AgNO 3 dalam larutan yang mengandung alkali-karbonat sampai terjadi
kekeruhan. Mula-mula terbentuk kompleks barbiturate-perak yang larut (perbandingan 1:1),
pada akhir titrasi, kelebihan Ag membentuk Barbiturat-perak yang tidak larut (perbandingan
1:2)
Reaksi:
Barb.

Ag-Barb.

Ag+ berlebih

Ag-Barb.

Ag+

(1:1) larut
(1:2) tidak larut

TITRASI KOMPLEKSOMETRI
Prinsip:
Pembentukkan komplek antara ion logam bervalensi banyak dengan pembentuk khelat
organik yang larut air dan praktis tidak terdosiasi. Titik akhir ditunjukkan oleh perubahan warna
indikator yang terikat ion logam menjadi ion bebas.
Catatan: pembentuk khelat organik yang umum digunakan adalah dinatrium etilendiamin tetraasetat
(Na2EDTA) disimbolkan menjadi H4Y
Reaksi:
M 2+

2( H2Y )

MY

M 3+

2( H2Y )

MY

M 4+

2( H2Y )

MY

M n+

2( H2Y )

( M Y )n - 4 +

2-

2H+

2H+

2H+
2H+

Catatan:
Tampak dari persamaan [4] bahwa disosiasi kompleks akan ditentukan oleh pH
larutan,menurunkan pH akan menurunkan kestabilan kompleks logam EDTA.Pada umumnya
kompleks EDTA dengan ion logam divalen stabil pada larutan basa sedikit asam (pH:4-6;810),sedangkan kompleks ion logam tri dan tetravalen stabil pada pH yang lebih rendah (pH:1-3).
Pustaka :
1.FI III,hlm 824-825
2.J.Bassett,Vogel,Kimia Anolisis Kuatitatif Anorganik,hlm 299.

TITRARI REDOKS
Titrasi redoks didasarkan pada reaksi oksidasi-reduksi yang berlangsung secara
kuantitatif.Suatu reduktor hanya akan memberikan elektron jika ada oksidator yang
menerimanya.Titik akhir reaksi dapat ditentukan secara potensiometri atau kolorimetri.Penentuan titik
akhir secara kolorimetri dapat menggunakan berbagai indikator redoks yang dapat berubah warna
dalam daerah potensial redoks tertentu.
1. Permanganometri
Prinsip :Oksidasi suatu substrat oleh permanganat (KMnO 4) dalam suasana asam diatas suhu
kamar.
2. Iodometri
Prinsip :Titrasi tidak langsung terhadap I2 yang dihasilkan dari reaksi dengan suatu substrat
dengan pentiter Na2S2O3 menggunakan kanji sebagai indikator.

Teori ANALISIS

12 + 2S2O32-

2I- + S4O62-

titik ekivalen ditentukan oleh perubahan warna kompleks I2 kanji dari biru menjadi tidak
berwarna.
3. Iodatometri
Prinsip :Ion iodat dalam suasana asam klorida berlebih akan tereduksi secara kuantitatif menjadi
I2 dan selanjutnya menjadi Iodiumonoklorida (ICI) oleh Iodida menggunakan Indikator
CCl4/CHCl3
4. Bromometri
Prinsip :Oksidasi suatu substrat oleh Br 2 yang terbentuk dari hasil oksidasi ion bromida oleh ion
bromat dalam suasana asam.Indikator yang digunakan :metil orange,metil merah,naffalene black
12 B,xylidine ponceau,fuchsine (indikator ini berubah warna setelah dioksidasi oleh Br).
5. Serimetri
Prinsip :Oksidasi suatu substrat ole Ce4 dalam larutan asam.
Ce4+ + eCe3+
4+
Larutan garam Ce berwarna kuning dan Ce3+ kuning lemah sehingga untuk menentukan titik
akhir reaksi digunakan indikator redoks.
6. Nitrimetri
Prinsip :titrasi didasarkan atas reaksi antara amin aromatik primer dengan asam nitrit dalam
suasana asam membentuk garam diazonium.Titik akhir dapat ditentukan dengan indiktor internal
(campuran 5 tetes larutan tropaeolin oo 0,1 % dan 3 tetes larutan metilen biru 0,1%) memberikan
warna merah violet.
Indikator eksternal :kertas amilum iodida atau pasta Kl
Kl + HCl
Hl + KCl
2Hl + 2HNO2
I2 +2NO +2H2O
I2 + I + amilum
kompleks warna biru
Elektrometri
Catatan: merupakan pilihan utama untuk amin, terutama: turunan sulfa

GRAVIMETRI
(Re-New by : Iman)
Metode analisis gravimetri adalah metoda analisis yang menggunakan pengukuran bobot suatu zat
dalam sampel atau perhitungan bobot zat dalam sampel berdasarkan bobot lain yang berjumlah
ekivalen secara kimia (Quantitative Pharmaceutical Chemistry. 6th ed., 1967, hal. 33)
Persyaratan:
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar metode gravimetri berhasil:
1. Metoda gravimetri tidak spesifik tapi metode ini dapat bersaing dengan metode analisis lain
dalam hal ketepatan yang dicapai. Jika analitnya merupakan penyusun utama (>1% dari
sampel), ketepatan yang diperoleh sebesar beberapa bagian perribunya, jika sampel itu tidak
rumit. Sedangkan jika analitnya berjumlah kecil (<1% dari sampel) biasanya tidak digunakan
metode gravimetri.
2. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kualitas analit yang tidak terendapkan
secara analitik tidak terdeteksi (biasanya 0,1 mg) atau kurang dalam menetapkan penyusun
utama dari sampel makro. (Underwood, hal 77)
3. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau
hampir murni. Bila tidak, akan diperoleh hasil yang galat. (Underwood, hal 77)
4. Endapannya harus mudah dan dapat segera dititrasi dan mudah dicuci dari pengotornya.
(Analytical Chemistry, J.G. Dick, hal 430)

Teori ANALISIS
5. Bentuk endapan yang akan ditimbang (setelah pengeringan, pemijaran, dll) komposisinya
diketahui dan konstan. (Analitycal Chemistry, J.G. Dick, hal 430)
Keuntungan dan kerugian:
Keuntungan gravimetri adalah biaya yang dibutuhkan tidak banyak dan menggunakan peralatan
yang sederhana. Kerugiannya adalah membutuhkan waktu yang lama karena pengendapan, perlakuan
terhadap bentuk endapan menyita banyak waktu terutama disebabkan oleh penimbangan yang
dilakukan berulang. (Analisis Farmasi, J. Roth, hal 113)
Pengerjaan Dasar : (Analisis Farmasi, J. Roth, hal 113)
1. Pelarutan
Pada umumnya pelarut yang digunakan adalah air atau larutan air. Apabila tidak berhasil
dilarutkan di dalam air maka dapat dicoba dengan menggunakan asam encer, lalu asam pekat,
atau pereaksi agresif seperti asam nitrat atau aqua regia.
2. Pengendapan
Pada reaksi pengendapan, harus memberikan endapan yang praktis tidak larut dan mempunyai
susunan tertentu sehingga mudah di saring.
3. Pemisahan
Ada dua proses pengerjaan yaitu sentrifugasi, terutama digunakan untuk senyawa yang
jumlahnya sedikit dan endapan yang lambat tersedimentasi. Yang harus diperhatikan dalam
penyaringan adalah materi saringan yang akan mempengaruhi kecepatan penyaringan.
4. Pencucian
Proses pencucian dilaksanakan untuk memberikan jaminan kemurnian endapan.
5. Pengeringan
Bertujuan untuk menghilangkan sisa lembab yang terdiri dari air atau pelarut organik.
Pengeringan dilakukan sampai diperoleh bobot yang konstan.
6. Pemijaran
Proses ini dilakukan apabila pada pengeringan belum diperoleh hasil yang stabil/konstan
7. Penimbangan
Penetapan Kadar Nitrogen dengan Metode Kjedahl
Prosedur kerja di FI IV <581> hlm. 964
Untuk menentukan kadar nitrogen dalam suatu senyawa organik, mula-mula nitrogen
dibebaskan dari bagian organik lain dengan mendestruksi bagian organik. Destruksi dilakukan dengan
pemanasan senyawa organik, menggunakan asam sulfat pekat, katalis natrium atau kalium sulfat untuk
meningkatkan titik didih asam dan katalis merkuri, selenium atau tembaga untuk mempercepat reaksi.
Destruksi dilakukan hingga diperoleh larutan hijau jernih atau bening yang tetap selama 30 menit
(Becket, 133). Pada larutan tersebut ditambahkan NaOH berlebih sehingga terbentuk ammonia yang
kemudian didistilasi uap dan diabsorbsi dalam larutan asam berlebih. Kelebihan asam dititrasi kembali
dengan larutan basa.
Reaksi :
H2SO4
N organic
(NH4)2SO4
(NH4)2SO4 + 2 NaOH
2NH3 +Na2SO4 + 2H2O
2NH3 + H3BO3 (asam)
NH 4H2BO3 (garam) (ini yang dititrasi asam basa tergantung pereaksi
yang dipakai). H3BO3 yang tersisa dititrasi kembali dengan basa.

10

Teori ANALISIS

KROMATOGRAFI
(Re-New by : Rika, Tazkiah, Amelia)
A. KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Prinsip :
Pemisahan zat terlarut dalam sistem yang terdiri dari dua fase yaitu fase diam
(berupa serbuk
halus yang dilapiskan pada lempeng kaca, plastik, atau logam secara merata) dan fase gerak
(pelarut/campuran pelarut). Pemisahan yang dicapai dapat didasarkan pada adsorpsi, partisi, atau
kombinasi kedua efek, yang tergantung dari jenis zat penyangga, cara pembuatan, dan jenis pelarut
yang digunakan.
Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan bercak dengan harga Rf yang identik dan
ukuran yang hampir sama dengan menotolkan zat uji dan baku pembanding pada lempeng yang sama.
Harga Rf ini diperoleh dengan cara membagi jarak yang ditempuh oleh bercak linarut dengan jarak
yang ditempuh oleh garis depan pelarut.
Pembandingan visual ukuran bercak dapat digunakan untuk memperkirakan kadar secara
semikuantitatif. Pengukuran kuantitatif dimungkinkan bila digunakan densitometn : fluororesensi atau
pemadaman fluororesensi, atau bercak dapat dikerok dari lempeng, kemudian diekstraksi dengan
pelarut yang sesuai dan diukur secara spektrofotometri. Pada KLT dua dimensi, lempeng yang telah
dielusi, diputar 90 C dan dielusi lagi, umumnya menggunakan bejana lain yang dijenuhkan dengan
sistem pelarut yang berbeda. (Fl ed. IV, hlm. 1002, 1004; Bobbit, Pengantar Kromatografi, hlm. 8)
Cara pengembangan KLT adalah menaik, selain itu terdapat cara pengembangan lainnya, antara
lain :
Teknik ganda : setelah pengembangan dan pengeringan pelat kromatografi dilakukan
pengembangan kedua dan untuk ini dapat digunakan pelarut pengembang yang sama atau
berbeda. Melalui pengembangan ganda ini, akan dicapai hasil pemisahan yang lebih baik.
Kromatografi fungsional : larutan uji yang hendak ditotolkan diperlakukan dulu dengan
pereaksi golongan atau pada titik awal dilakukan reaksi seperti brominasi, esterifikasi,
hidrolisis, oksidasi, dll.
Teknik gradien : ditandai dengan perubahan kontinyu fase dan komposisi pelarut pengembang
sambil jalan diubah atau digunakan pelat gradien yang dapat diperoleh melalui perbedaan
aktivitas, ketebalan lapisan ukuran partikel adsorben atau impregnasi yang berbeda.
KLT ini dapat digunakan untuk pemeriksaan identitas dan kemurnian senyawa obat,
pemeriksaan simplisia tanaman dan hewani, pemeriksaan komposisi dan komponen aktif
sediaan obat serta untuk penentuan kuantitatif masing-masing senyawa aktif campuran
senyawa obat. (Roth, Analisis Farmasi, hlm. 423)
Data gugus fungsi yang dapat dipisahkan dengan KLT dapat dilihat pada lampiran (Tabel
kepolaran : Bobbit, Pengantar Kromatografi, hlm. 87; dan Tabel Sistem untuk Kromatografi
Penjerapan : Bobbit, Pengantar Kromatografi, hlm. 99 - 105)
Alat:
- lempeng kaca : umumnya 20 cm x 20 cm
- bukti lempeng : permukaan datar untuk meletakkan dan mengatur lempeng kaca pada waktu
membuat lapisan zat penjerap
- rak penyimpanan : tempat lempeng yang dilapisi selama pengeringan
- zat penjerap : bahan penjerap yang halus umumnya berdiameter 5 mm - 40 mm yang sesuai
kromatografi. Dapat mengandung bahan berfluororesensi
- alat pembuat lapisan
- bejana kromatografi : dapat ditutup kedap
- alat sablon : alat bantu untuk menempatkan bercak uji pada jarak yang dibutuhkan dan untuk
membantu penandaan lempeng
- pipet mikro berskala: yang dapat mengeluarkan cairan sejumlah 10 mL
- alat penyemprot pereaksi: alat yang dapat menyemprotkan butir-butir halus serta tahan terhadap
pereaksi.

11

Teori ANALISIS
- lampu ultraviolet : yang sesuai untuk pengamatan dengan panjang gelombang pendek (254 nm) dan
dengan panjang gelombang panjang (366 nm).
Prosedur:
1. Bersihkan lempeng kaca misalnya dengan mencelupkan dalam campuran asam kromat, bilas
dengan air dan keringkan
2. Atur lempeng kaca di atas baki lempeng
3. Kecuali dinyatakan lain, campur 1 bagian zat penjerap dengan 2 bagian volume air. Kocok
kuatdalam labu erlenmeyer selama 30 detik
4. Tuang bubur ke alat pembuat lapisan
5. Geser hati-hati alat pembuat lapisan di atas lempeng kaca ke arah sisi pendek baki yang
berbingkai
6. Angkat alat pembuat lapisan dan segera dicuci hingga bebas dari sisa-sisa penjerap
7. Biarkan lempeng selama 5 menit
8. Pindahkan lempeng pada rak penyimpan dengan lapisan menghadap ke atas, keringkan pada
suhu 105 C selama 30 menit. (Sebaiknya rak ditempatkan
dalam lemari pengering dengan posisi miring untuk menghindari kondensasi pada bagian
belakang lempeng)
9. Setelah lempeng kering, biarkan dingin hingga suhu kamar
10. Amati keseragaman distribusi dan susunan lapisan penyerap, simpan lempeng yang baik di atas
silika gel dalam bejana yang sesuai
11. Tempatkan kertas saring 2 lembar pada 2 sisi di sebelah dalam bejana kromatografi, masukkan
pelarut 100 mL, tutup kedap dan biarkan sistem keseimbangan
12. Totolkan larutan uji dan larutan baku menurut cara yang tertera pada masing-masing monografi
dengan jarak antara 1,5 cm dan 2 cm dari tepi bawah lempeng, biarkan kering
13. Beri tanda pada jarak 10 - 15 cm di atas titik penotolan
14. Masukkan lempeng ke dalam bejana, tutup bejana, biarkan pelarut merambat hingga 10 - 15 cm
di atas titik penotolan
15. Keluarkan lempeng dari bejana, buat tanda batas rambat pelarut
16. Keringkan lempeng di udara
17. Amati bercak dengan cahaya UV gelombang pendek (254 nm) dan kemudian dengan cahaya
UV gelombang panjang (366 nm)
18. Ukur dan catat jarak tiap bercak dari titik penotolan dan panjang gelombang
19. Tentukan harga Rf untuk bercak utama
20. Jika perlu semprot bercak dengan pereaksi yang ditentukan, amati dan bandingkan
kromatografi zat uji dengan kromatografi baku pembanding
Kromatografi Lapis Tipis Pengembangan Sinambung
(FI ed. IV, Lampiran <931>, hlm. 1005)
Pengembangan sinambung atau teknik aliran sinambung berbeda dengan KLT- konvensional,
dimana bagian atas lempeng menjulur keluar melalui sebuah celah pada tutup bejana
kromatografi. Bila fase gerak mencapai celah itu, terjadi penguapan secara sinambung,
mengakibatkan aliran pelarut yang tetap pada lempeng. Migrasi bercak berlanjut selama lempeng
berada dalam bejana dan fase gerak belum habis. Hal ini berbeda dengan KLT konvensional
dimana migrasi bercak berakhir bila pelarut mencapai tepi atas lempeng dan bercak akan
membesar yang disebabkan oleh difusi. Kromatografi dapat dilanjutkan beberapa jam setelah
pelarut mencapai tepi atas lempeng agar terjadi migrasi bercak yang memadai.
Keuntungan utama KLT pengembangan sinambung adalah selektivitas pelarut yang lebih besar
untuk pelarut yang daya melarutkannya rendah.
Harga Rf tidak dapat diukur. Zat-zat dapat dibandingkan jarak tempuh migrasinya selama periode
waktu tertentu atau dibandingkan dengan migrasi zat batas yang ditotolkan pada lempeng yang
sama. Pembandingan dinyatakan sebagai retensi relatif Rr.
Teknik:
a. pengembangan sinambung

12

Teori ANALISIS
b.

pengembangan sinambung dengan bejana rendah : keunggulan utama teknik ini berasal pada
kenyataan bahwa laju pelarut berbanding terbalik dengan panjang bejana. Bejana rendah
memungkinkan terjadinya migrasi yang bermanfaat dalam waktu yang sesuai , memakai
pelarut dengan kekuatan yang sangat rendah. Difusi yang lebih lambat dalam pelarut yang
berkekuatan rendah menghasilkan bercak yang lebih kecil dan pekat, yang meningkatkan
kemampuan deteksi dan ketajaman melihat perbedaan kecil dalam jarak migrasi.

B. KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI


Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan salah satu jenis kromatografi kolom cair
yang memiliki sistem pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi tinggi yang menerapkan kemampuan
kemajuan teknologi kolom, sistem pompa bertekanan tinggi dan detektor yang sensitif. Kromatografi
ini terdiri dari fase diam yang terikat secara kimia pada penyangga, fase gerak yang dialirkan cepat
dengan bantuan tekanan tinggi dan hasil analisis yang dapat dideteksi dengan instrumen (Bobbit,
Pengantar Kromatografi, hlm. 186)
Pelarut pada fase gerak dapat menggunakan dua sistem yaitu sistem isokratik dan sistem elusi
gradien. Keuntungan metode KCKT antara lain : waktu analisis cepat, penentuan dapat dalam jumlah
mikro, dan daya pemisahan tinggi. Pada prinsipnya senyawa dapat dipisahkan dengan metode KCKT
jika senyawa tersebut dapat larut dalam pelarut yang digunakan sebagai fase gerak. KCKT merupakan
metode yang lebih baik untuk cuplikan atau sampel yang jumlahnya sedikit.
Jenis senyawa yang dapat dipisahkan secara KCKT adalah senyawa padat yang larut dalam
pelarutnya, cairan yang kurang atsiri, senyawa polimer dan berbobot molekul tinggi, senyawa
anorganik yang sebagian besar tidak atsiri, senyawa makromolekul, senyawa ionik dan produk alam
yang labil (Bobbit, Pengantar Kromatografi, him. 186)
Pemisahan kromatografi yang baik adalah jika fase diam mempunyai luas permukaan yang besar
dengan adanya penyangga berupa serbuk halus dan fase gerak yang digerakkan cepat dengan adanya
tekanan tinggi sehingga difusi yang terjadi sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, faktor-faktor yang
mempengaruhi pemisahan secara KCKT adalah daya pisah, waktu retensi, jumlah cuplikan yang
disuntikkan, ukuran kolom, diameter partikel fase diam, tekanan, tinggi puncak dan jumlah pelarut
yang digunakan (Practical HPLC Method).
Metode ini dapat dibedakan dari kromatografi kolom klasik oleh 4 sifat khas, yaitu :
- Menggunakan kolom pendek untuk mempersingkat waktu
- Menggunakan kolom sempit dengan diameter yang kecil untuk memungkinkan pemisahan
dalam jumlah mikro.
- Ukuran partikel bahan sorpsi dibawah 50 , hingga akan tercapai suatu bilangan dasar
teoritik yang tinggi.
- Pelarut elusi dialirkan ke dalam kolom dengan tekanan untuk mengkompensasikan
tekanan arus di dalam kolom. (Roth, Analisis Farmasi, hlm 431, 432)

Fase diam
Dapat berupa cairan atau polimer, yang disalut atau terikat secara kimia pada permukaan
penyangga sebagai lapisan tipis yang mengurangi hambatan terhadap pemisahan massa, sehingga
keseimbangan antara fase gerak dan fase diam dapat tercapai dengan cepat.
Tiga bentuk KCKT yang paling banyak digunakan adalah :
- penukar ion : terutama digunakan untuk pemisahan zat-zat larut dalam air yang ionik atau
yang dapat terionisasi dengan BM < 1500. fase diam umumnya resin organik sintetik dengan
gugus aktif yang berbeda-beda.
- partisi : digunakan fase gerak dan fase diam dengan polaritas yang berbeda. Jika fase gerak
bersifat polar dan fase diam non-polar (kromatografi fase balik), maka dapat digunakan untuk
memisahkan senyawa yang larut dalam hidrokarbon dengan BM <1000 seperti vitamin larut
lemak dan antrakinon yang berdasarkan atas afinitasnya terhadap fase diam. Jika fase gerak
bersifat non-polar dan fase diam polar, maka zat yang dapat dikromatografi adalah zat yang
bersifat polar seperti golongan alkohol dan amina.
- adsorpsi : yang dapat dikromatografi dengan kromatografi adsorpsi adalah beraneka ragam
senyawa non-ionik.
(FI IV, ed 4, hlm. 1010)

13

Teori ANALISIS
Alat
Terdiri dari kromatografi cair, sistem pompa, tempat penyuntikan analit, kolom kromatografi,
detektor, penguat sinyal dan perekam. Ada dua cara yang digunakan untuk memasukkan analit ke
dalam kolom, yaitu :
1. injeksi ke dalam arus yang mengalir
2. injeksi waktu aliran berhenti
Keduanya dapat dilakukan menggunakan alat suntik dan katup penyuntik.
Kolom yang digunakan umumnya mempunyai diameter dalam yang kecil (2- 4 mm)
Detektor yang biasa dipakai mencakup fotometer ultraviolet, refraktometer diferensial, dan
fluorometer.
Komposisi fase gerak berpengaruh nyata terhadap kinerja kromatografi dan harus dikendalikan
dengan cermat.
Pada kromatografi partisi dan adsorpsi, fase grak dapat dimodifikasi dengan pelarut yang lain,
sedangkan pada kromatografi penukar ion, pH, kekuatan ion dan modifikasi pelarut dapat
meugubah faktor kapasitas (k adalah perbandingan waktu yang diperlukan selama berada dalam
fase diam terhadap waktu yang diperlukan selama berada dalam fase gerak)
Elusi gradien adalah teknik yang mengubah komposisi pelarut sinambung selama
berlangsungnya kromatografi (untuk kromatografi contoh kompleks yang terdiri dari komponenkomponen dengan faktor kapasitas yang perbedaannya besar).
C. KROMATOGRAFI KERTAS
Definisi Kromatografi :
Prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem yang
terdiri dari dua fase atau lebih, salah satu diantaranya bergerak secara berkesinambungan dalam arah
tertentu dan di dalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan
dalam adsorpsi, partisi, tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion.
Ada 3 cara pengembangan pada kromatografi kertas :
1. Kromatografi menurun : pada kromatografi menurun, fase gerak dibiarkan merambat turun pada
kertas.
Prosedur:
Larutkan zat uji dalam pelarut yang sesuai hingga mengandung 1- 20 ug jika ditotolkan dengan
pipet mikro
Jarak antar bercak tidak kurang dari 3 cm dan diameter bercak 6-10 mm
Kertas digantung dalam bejana dengan pelarut yang telah ditetapkan. Penjenuhan bejana dapat
dipercepat dengan melapisi dinding bejana dengan kertas saring yang dibasahi oleh pelarut
(untuk bejana besar penjenuhan selama 1 malam). Bejana ditutup rapat
Sejumlah fase gerak lebih dari yang diperlukan dijenuhkan dengan fase diam (dengan
pengocokan). Setelah jenuh dimasukkan ke dalam bak pelarut melalui lubang
Lubang ditutupi dan fase gerak dibiarkan merambat turun pada kertas sejauh yang dikehendaki
Pada waktu kertas diangkat, batas rambat pelarut segera ditandai dan dikeringkan
Amati dan ukur kromatogram secara langsung atau setelah disemprot dengan pereaksi untuk
menampakkan bercak obat yang telah terpisah. Hitung harga R (perbandingan jarak rambat
senyawa tertentu dengan jarak rambat baku pembandingnya)
Untuk analisis kualitatif:
Bagian kertas yang mengandung bercak digunting dan dielusi dengan pelarut yang sesuai.
Dilakukan juga terhadap berbagai kadar baku pembanding yang ditotolkan pada kertas yang
sama untuk membuat kurva kalibrasi.
2. Kromatografi menaik : pada kromatografi menaik , ujung bawah kertas dicelupkan ke dalam fase
gerak, sehingga memungkinkan fase gerak merambat naik pada kertas oleh gaya kapiler.
Prosedur:
Larutan uji ditotolkan pada kertas, di atas batas kertas yang tercelup dalam fase gerak
Genangi dasar bejana dengan pelarut yang telah ditetapkan

14

Teori ANALISIS
Dinding bejana dilapisi kertas saring untuk mempercepat penjenuhan
Kertas saring digantung sedemikian hingga ujung kertas yang ditotolkan bergantung bebas
dalam bejana
Bejana ditutup dan dijenuhkan seperti pada kromatografi menurun
3. Kromatografi horizontal : merupakan pengembangan kromatografi melingkar dan pelarut
pengembang dialirkan dari bawah dengan bantuan kapiler kertas atau sumbu kapas pada titik pusat
kromatogram atau dari atas dengan melubangi, diteteskan dengan bantuan pipet yang sesuai.
Kromatografi kertas, yang pada pelaksanaannya rumit dan lebih lama dibandingkan KLT, terutama
digunakan untuk pemisahan golongan senyawa sangat hidrofil. Golongan zat itu adalah gula,
alkohol bervalensi banyak, asam amino, fenol dan asam fenilkarboksilat, asam organik alifatik,
glikosida dan zat anorganik (kation).
Penentuan kuantitatif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Jika senyawa yang
hendak ditentukan untuk pengukuran kuantitatif diekstraksi dari fase stasioner, maka dinamakan
penentuan tidak langsung. Untuk penentuan jumlah dapat dipilih metode seperti mikrotitrimetri,
pengukuran dalam daerah sinar tamapak dan UV, pengukuran refraksi, penentuan polarografi dan
pengukuran fluorimetri.
Penentuan kuantitatif langsung dapat dilakukan melalui pembandingan luas secara visual masingmasing bercak dengan densitometri, spektrofotometri, fluoresensi atau penentuan radioaktivitas
pada penggunaan senyawa yang dicacah. (Roth, Analisis Farmasi , hlm .418)
D. KROMATOGRAFI KOLOM (KK)
Alat kromatografi kolom terdiri atas :
1. Tabung kromatografi: tabung silinder dari kaca, kecuali jika pada monograti disebutkan terbuat
dari bahan lain. Ukuran kolom bervariasi, yang umum digunakan dalam analisis farmasi
mempunyai diameter dalam 10-30 mm, panjang kolom 150-400 mm, tidak termasuk tabung
pengalir.
2. Sebuah tabung pengalir dengan diameter lebih kecil untuk mengeluarkan cairan, yang menyatu
dengan tabung kromatografi atau disambung melalui suatu sambungan anti bocor pada ujung
bawah tabung utama. Tabung pengalir umumnya berdiameter dalam 3-6 mm, dapat dilengkapi
dengan sebuah kran untuk mengatur laju aliran pelarut yang melalui kolom dengan teliti.
3. Batang pemampat yang diperlukan untuk memadatkan wol kaca/kapas pada dasar tabung jika
diperlukan, serta untuk memadatkan zat penjerap atau campuran zat penjerap dan air secara
merata di dalam tabung. Kadang-kadang digunakan cakram kaca berpori yang melekat pada
dasar tabung untuk menyangga isinya. Batang pemampat merupakan suatu batang silinder
melekat kuat pada sebuah tangkai dari plastik, kaca, baja tahan karat, atau aluminium, kecuali
dinyatakan lain dalam monografi. Tangkai batang pemampat biasanya mempunyai diameter
yang lebih kecil dari kolom dan panjangnya minimal 5 cm melebihi panjang efektif kolom.
Diameter batang 1 mm lebih kecil dari diameter dalam kolom.
(FI IV, hlm. 1007)
c. KK ADSORPSI
Pada KK adsorpsi, campuran yang akan dipisahkan berupa zat uji, diletakkan berupa pita pada
bagian atas kolom penjerap yang berada pada tabung kaca, logam, atau plastik. Fase gerak atau pelarut
dibiarkan mengalir melalui kolom karena aliran yang disebabkan oleh gaya gravitasi atau didorong
oleh tekanan. Pita senyawa linarut bergerak melalui kolom dengan laju yang berbeda sehingga terjadi
pemisahan dan diperoleh kromatogram. Senyawa yang memisah ini berupa fraksi yang dapat
ditetapkan dengan cara titrasi, spektrofotometri, atau kolorimetri, atau pelarutnya dapat diuapkan
sehingga diperoleh zat aktif yang diinginkan dalam keadaan hampir mumi.
(Bobbit, Pengantar Kromatografi, hlm. 160)
Zat penjerap (misalnya aluminium oksida yang telah diaktifkan, silika gel, tanah diatomae
terkalsinasi, atau tanah silika yang dimurnikan untuk kromatografi) dalam keadaan kering atau dalam
campuran dengan air, dimampatkan ke dalam tabung kromatografi kaca atau kuarsa. Zat uji yang
dilarutkan dalam sejumlah kecil pelarut, dituangkan ke dalam kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam
zat penjerap. Zat berkhasiat diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penjerap berupa pita
sempit pada permukaan atas kolom. Dengan penambahan pelarut lebih lanjut melalui kolom, oleh
gaya gravitasi atau dengan memberikan tekanan, masing-masing zat bergerak turun dalam kolom

15

Teori ANALISIS
dengan kecepatan tertentu, sehingga terjadi pemisahan dan diperoleh kromatogram. Laju gerakan zat
dipengaruhi oleh sejumlah variabel, misalnya daya adsorpsi zat penjerap, ukuran partikel dan luas
permukaan, sifat dan polaritas pelarut, tekanan yang digunakan dan suhu sistem kromatografi.
Jika senyawa yang terpisah itu berwama atau berfluoresensi di bawah cahaya UV, kolom
penjerap dapat dikeluarkan dengan cara memotong melintang, lapisan yang diperlukan dapat
dipisahkan.
Senyawa yang dikehendaki diekstraksi dari tiap lapisan dengan pelarut yang sesuai. Jika
senyawa tidak berwama, letaknya dapat diketahui dengan cara memberi warna atau menyemprot
kolom yang telah dikeluarkan dengan pereaksi yang dapat membentuk wama. Zat radioaktif yang
dikromatografi dapat diketahui letaknya dengan menggunakan pencacah Geiger-Muller atau alat yang
sejenis. Tabung plastik yang jernih terbuat dari bahan seperti nilon, yang bersifat inert terhadap
kebanyakan pelarut dan transparan terhadap cahaya UV gelombang pendek, dapat diisi zat penjerap
dan digunakan sebagai kolom kromatografi. Kolom semacam itu dapat disayat dengan pisau yang
tajam, tanpa mengeluarkan isi kolom dari tabungnya. Jika digunakan zat penjerap yang berfluoresensi,
kolom dapat ditandai di bawah cahaya UVsebelum disayat.
Kromatografi "mengalir", yang digunakan secara luas diperoleh dengan prosedur mengalirkan
pelarut melalui kolom sehingga obat yang dipisahkan keluar bersama pelarut, ini disebut eluat.
Kadar obat di dalam eluat dapat ditetapkan dengan cara titrasi, spektrofotometri atau kolorimetri, atau
pelarutnya dapat diuapkan, sehingga diperoleh obatnya dalam keadaan hampir murni. Jika terdapat zat
berkhasiat yang kedua, elusi dapat dilanjutkan dengan pelarut yang sama atau pelarut lain yang
mempunyai daya elusi yang lebih kuat. Efisiensi pemisahan dapat diuji dengan membuat kromatogram
lapis tipis dari masing-masing fraksi.
Kadang-kadang digunakan cara yang dimodifikasi untuk menambahkan campuran pada kolom.
Obat dalam bentuk padat, misalnya serbuk tablet tanpa pemisahan dari eksipien dicampur dengan
sebagian zat penjerap dan dimasukkan ke dalam kolom. Selanjutnya aliran pelarut membawa obat
turun dari kolom dengan cara seperti yang telah diuraikan di atas.
(FI IV, hlm. 1007)
d. KK PARTISI
Pada kromatografi partisi, zat yang harus dipisahkan terbagi antara dua cairan yang tidak saling
bercampur. Salah satu cairan yaitu fase diam, umumnya diadsorpsikan pada penyangga padat, karena
itu mempunyai area permukaan yang sangat luas terhadap pelarut yang mengalir (fase gerak). Kontak
cairan dengan cairan secara berturutan yang berulang-ulang terjadi, menghasilkan efisiensi pemisahan
yang tidak dapat dicapai dengan cara ekstraksi cair-cair biasa.
Penyangga padat umumnya bersifat polar dan fase diam yang teradsorpsi bersitat lebih polar
daripada fase gerak. Penyangga padat yang banyak digunakan adalah tanah silika untuk kromatografi,
seperti Celite 545 yang dicuci dengan asam, dengan ukuran partikel yang sesuai sehingga fase gerak
dapat mengalir dengan baik. Pada kromatografi partisi fase balik, fase diam yang teradsorpsi bersifat
kurang polar daripada fase gerak dan zat penjerap padat dibuat nonpolar dengan perlakuan yang sesuai
menggunakan pereaksi silanisasi, seperti diklorodimetilsilana sehingga dihasilkan tanah silika yang
tersilanisasi untuk kromatografi.
Contoh yang akan dikromatografi umumnya dimasukkan ke dalam sistem kromatografi
menggunakan salah satu dari dua cara berikut:
1) Larutan uji dalam sejumlah kecil fase gerak dimasukkan ke dalam kolom
2) Larutan uji dalam sejumlah kecil fase diam dicampur dengan penyangga padat dan dimasukkan ke
dalam kolom sebagai lapisan di atas campuran fase diam dan zat penjerap.
Elusi dilakukan dengan pelarut yang mengalir. Umumnya sebelum digunakan, fase gerak
dijenuhkan dahulu dengan fase diam.
Pada kromatografi partisi cair-cair yang konvensional, derajat partisi suatu senyawa tertentu di
antara dua fase cair dinyatakan sebagai koefisien partisi atau koefisien distribusi. Dalam hal senyawa
yang terdisosiasi, distribusi dapat diatur dengan jalan modifikasi pH, tetapan dielektrik, kekuatan ion,
serta sifat-sifat lain dari kedua fase tersebut. Elusi selektif komponen-komponen suatu campuran dapat
dicapai dengan mengubah fase gerak sampai diperoleh koefisien partisi yang lebih baik atau dengan
jalan mengubah pH fase diam secara in situ dengan suatu fase gerak, yang terdiri dari larutan asam
atau basa yang sesuai dengan pelarut organik.
Jika tidak dinyatakan lain dalam monografi, maka penetapan kadar dan pengujian, yang
menggunakan kromatografi kolom partisi, dilakukan menurut metode umum berikut.

16

Teori ANALISIS
Penyangga padat Gunakan tanah silika yang telah dimurnikan. Pada kromatografi kolom partisi
fase balik, gunakan tanah silika yang tersilanisasi untuk kromatografi.
Fase diam Gunakan pelarut atau larutan yang tertera pada monografi. Jika akan digunakan
campuran cairan sebagai fase diam, campurkan cairan tersebut sebelum diadsorpsikan pada
penyangga padat.
Fase gerak Gunakan pelarut atau larutan yang tertera pada monografi. Jenuhkan dengan air jika
fase diam merupakan larutan dalam air, jika fase diam berupa cairan organik polar, jenuhkan
dengan cairan tersebut.
Pembuatan kolom kromatografi Jika tidak dinyatakan lain dalam monografi, tabung
kromatografi mempunyai diameter dalam 22 mm dan panjang 200-300 mm, tanpa cakram
berpori. Pada tabung ini dilekatkan tabung pengalir tanpa kran dengan diameter dalam 4 mm
dan panjang 50 mm
Mampatkan segumpal wol kaca halus pada dasar tabung.
Masukkan fase diam yang volumenya telah ditentukan dalam gelas piala berukuran 100-250
mL, tambahkan sejumlah tertentu penyangga padat dan campur hingga homogen.
Masukkan campuran ini ke dalam tabung kromatografi, mampatkan dengan tekanan sedang
agar diperoleh massa yang serba sama. Jika jumlah penyangga padat ditentukan lebih dari 3
g, pindahkan campuran ke dalam kolom dalam bagian-bagian yang banyaknya 2 g, dan
mampatkan setiap bagian. Jika untuk penetapan kadar atau pengujian diperlukan kolom
bersegmen banyak dengan fase diam yang berlainan untuk masing-masing segmen, lakukan
pemampatan setelah penambahan tiap segmen, kemudian langsung ditambahkan segmen
berikutnya. Jika larutan uji dicampurkan dengan fase diam, masukkan secara kuantitatif ke
dalam tabung dengan membilas gelas piala yang dipakai untuk membuat campuran yang
akan diuji dengan suatu campuran yang terdiri dari 1 g penyangga padat dan beberapa
tetes pelarut yang dipakai untuk membuat larutan uji.
Mampatkan segumpal wol kaca halus di atas kolom. Fase gerak mengalir melalui kolom
dengan laju aliran sedang atau menetes perlahan-lahan jika digunakan kromatografi fase
balik.
Prosedur
Masukkan fase gerak ke dalam kolom dan biarkan mengalir melalui kolom oleh gaya
gravitasi.
Bilas ujung kolom kromatografi dengan 1 mL fase gerak sebelum mengubah komposisi
fase gerak dan sesudah selesai elusi.
Jika zat uji ditambahkan pada kolom sebagai larutan dalam fase gerak, biarkan agar
seluruhnya melalui isi kolom, kemudian tambahkan sejumkah kecil fase gerak beberapa
kali, tiap kali biarkan jumlah pelarut mengalir seluruhnya melewati kolom, sebelum
menambahkan sisa fase gerak.
Bila pada penetapan kadar atau pegujian dikehendaki pemakaian kolom kromatografi ganda
yang dihubungkan secara seri serta penambahan fase gerak dalam jumlah terbagi, biarkan
tiap bagian tersebut seluruhnya melewati kolom, dan bilas ujungnya tiap kali dengan fase
gerak sebelum penambahan sisa pelarut berikutnya.
(FI IV, hlm. 1007-1008)
E. KROMATOGRAFI GAS
Prinsip:
Kromatografi gas adalah prosedur pemisahan zat yang dapat menguap dan mengalami proses
migrasi diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase gerak gas dan fase diam cairan yang
dilapiskan pada penyangga padat inert atau fase diam padatan. Zat yang diinjeksikan akan menguap
dalam kolom, selanjutnya fase gerak gas akan membawa zat tersebut melalui fase diam sehingga zat
akan terdistribusi di antara dua fase dan menunjukkan perbedaan mobilitas berdasarkan perbedaan
tekanan uap pada suhu kolom.
Mekanisme pemisahan pada kromatografi gas adalah partisi. Dalam proses partisi ini perilaku
zat terlarut ditentukan oleh suatu nilai perbandingan partisi K' yang disebut faktor kapasitas. Tetapan
K' adalah perbandingan jumlah atau waktu tinggal relatif zat dalam kedua fase tersebut. Besamya
faktor kapasitas dan waktu tertahannya zat dalam suatu kolom kromatografi gas-cair tergantung dari
hal-hal zat terlarut spesifik, fase cair spesifik, jumlah fase cair, suhu, dan laju aliran gas. Hasil

17

Teori ANALISIS
pemisahan dalam kolom akan diukur oleh detektor yang selanjutya direkam menjadi kromatogram.
Penentuan kuantitatif zat didasarkan pada pengukuran luas atau tinggi puncak yang terekam dalam
kromatogram.
(FI IV, hlm. 1012; Bobbit, Pengantar Kromatografi, hlm. 13; Vogel kuantitatif, hlm. 243)
Penyelesaian Kualitatif dan Kuantitatif
Identifikasi cuplikan yang sudah terpisah dapat dilakukan dengan bantuan senyawa pembanding
dan harga retensi yang diperoleh, yang merupakan tetapan zat yang spesifik. Yang juga dapat
digunakan adalah detektor spesifik zat. Pada pemeriksaan campuran senyawa yang tidak diketahui
atau senyawa alam seringkali perlu untuk melakukan reaksi kimia terlebih dahulu. Dengan demikian
misalnya dari campuran hidrat arang, olefina dapat dihilangkan dengan cara mencuci dengan asam
sulfat pekat dan kembali dilakukan kromatografi. Jika kromatografi gas dilengkapi dengan pengumpul
fraksi, maka terhadap senyawa yang terisolasi dapat dilakukan reaksi kimia atau prosedur
spektroskopi.
Penyelesaian kuantitatif kromatogram gas didasarkan atas pengukuran luas puncak yang
umumnya adalah proporsional dengan konsentrasi senyawa dalam gas pembawa.
Bidang Penggunaan
Secara prinsip kromatografi gas dapat digunakan untuk semua zat yang berbentuk gas atau dapat
menguap tanpa penguraian. Zat padat seringkali dapat menguap melalui derivatisasi. Sekarang
mungkin dilakukan pemisahan hampir semua senyawa obat seperti alkaloid, senyawa aktif sintetik,
gula, lemak, steroid, asam amino secara kromatografi gas. Bahkan senyawa polimer dapat
dikarakterisasi secara kromatografi gas, jika dipirolisis terlebih dahulu dan fragmen yang terjadi
diperiksa. Data analitik yang diperoleh dari kromatografi gas dibandingkan dengan bilangan pengenal
fisika lain seperti titik lebur, titik didih, indeks bias, dan sebagainya. Dalam hal ketelitian data
kuantitatif sesuai dengan ketelitian prosedur laboratorium lainnya. Dengan perlengkapan peralatan
yang sesuai, dengan bantuan kromatografi gas dapat diperoleh sejumlah mikropreparatif senyawa
murni.
(Roth, Analisis Farmasi, hlm. 430-431)
F. KROMATOGRAFI EKSKLUSI
Prinsip
Pemisahan yang tergantung pada pertukaran molekul yang terlarut di antara pelarut fase gerak dan
pelarut yang sama dalam pori-pori bahan pengisi kolom. Rentang ukuran pori bahan pengisi kolom
menentukan rentang ukuran molekul pada pemisahan yang terjadi.
Disebut kromatografi permeasi gel jika digunakan fase gerak organik atau kromatografi filtrasi gel jika
digunakan fase gerak yang mengandung air.
Alat
Kolom kromatografi yang berisi bahan yang mampu melakukan fraksinasi pada rentang ukuran yang
sesuai, saluran luar dihubungkan dengan detektor yang dilengkapi dengan perekam otomatis. Fase
gerak melalui kolom dengan aliran tetap, baik oleh gravitasi atau menggunakan pompa yang sesuai.
Prosedur
Pembuatan fase diam:
a. Agarosa FC
untuk pemisahan protein dengan BM 6 x 10 4 s/d 2 x 107 dan polisakarida dengan BM 3 x 103
s/d 5 x 106
b. Agarosa FC, ikatan silang
untuk pemisahan protein dengan BM 6 x 10 4 s/d 20 x 106 dan polisakarida dengan BM 3 x
103 s/d 5 x 106
c. Silika gel FC (ukuran partikel 10 m, hidrofil) dapat bercampur air pH 2 s/d 8 dan pelarut
organik
untuk pemisahan protein dengan BM 1 x 103 s/d 3 x 105
Contoh dilewatkan melalui kolom dengan salah satu cara sebagai berikut:
1. Alirkan langsung ke permukaan kolom tanpa kolomnya dibiarkan kering
2. Lapisan di bawah fase gerak, untuk contoh yang lebih berat dari fase gerak
3. Memakai adaptor mengalir

18

Teori ANALISIS
4. Memakai alat penyuntik melalui septum
5. Memakai katup penyuntik
Untuk penetapan BM:
Lakukan pengujian dan bahan baku kalibrasi seperti pada monografi
Buat grafik volume retensi dari baku kalibrasi sebagai fungsi logaritma BM
BM dapat diperkirakan dari kurva kalibrasi
Untuk penetapan komposisi relatif:
Lakukan pengujian dengan kondisi seperti pada monografi
Jika seluruh komponen menunjukkan respon yang sama terhadap detektor jumlah relatif tiap
komponen diperoleh dengan membagi masing-masing luas puncak dengan jumlah puncak
komponen yang diinginkan
Jika respon tidak sama komposisi dapat dilihat dari kurva kalibrasi dengan baku kalibrasi
seperti tertera pada monografi
(FI IV, hlm. 1008-1009)

KEMURNIAN
(Re-New by : Desy, Shalimah, Afiatusyafiah)

A. PENETAPAN JARAK LEBUR


Tujuan : Menentukan suhu lebur zat padat dan menggunakannya sebagai kriteria dalam
identifikasi dan pemeriksaan kemurnian.
Prinsip : Jarak lebur/suhu lebur zat padat adalah rentang suhu atau suhu pada saat zat padat
menyatu dan melebur sempurna. Pada suhu yang lebih rendah dari suhu lebur, zat berada dalam
bentuk fase padat. Pada saat suhu lebur tercapai, zat padat melebur menjadi fase cair sampai tercapai
kesetimbangan antara fase padat dan fase cair. Pada saat semua zat padat melebur hanya terdapat fase
cair dan penambahan panas selanjutnya menyebabkan kenaikkan suhu secara linear. Senyawa dapat
dikatakan murni jika mempunyai rentang antara 0,3 0,5C.
Pustaka : FI IV <1021> halaman 1032 & Modul prakt KF
Contoh : Untuk zat parasetamol, lidokain, riboflavin, bisakodil, atenolol, salisilamida, gliseril
guaiakolat, kloramfenikol, atropin sulfat, pentetrazol, luminal.
B. PENETAPAN BOBOT JENIS
Tujuan : Melakukan identifikasi dan pemeriksaan kemurnian
Prinsip : Penetapan bobot jenis didasar kan pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu
25C atau yang ditetapkan dalam monografi terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama.
Kecuali dinyatakan lain, penetapan bobot jenis hanya digunakan untuk cairan.

w3 w1
w2 w1

d = bobot jenis (g/ml)


w1 = bobot piknometer kosong
w2 = bobot piknometer + air
w3 = bobot piknometer + sampel

Pustaka : FI IV <981> halaman 1030 & modul KF


Contoh : Oleum menthae, gliserin, metal salisilat
C. PENETAPAN INDEKS BIAS
Tujuan : Melakukan identifikasi dan pemeriksaan kemurnian

19

Teori ANALISIS
Prinsip : Penetapan indeks bias didasarkan pada perbandingan kecepatan cahaya dalam udara
dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Pada umumnya indeks bias ditentukan dengan
menggunakan cahaya lampu natrium garis D pada 589,3 nm dan suhu 20C. Indeks bias dinyatakan
dengan hukum Snellius:
c
sin i
n
v sin r
n = indeks bias pada suatu medium
i = sudut datang
c = kecepatan cahaya dalam hampa udara
r = sudut bias
v = kecepatan vahaya dalam medium
indek bias kebanyakan zat cair antara 1,3 1,8 sedangkan zat padat 2,0 2,5 atau lebih
Pustaka : FI IV <1001> halaman 1030 & modul KF
Contoh : Untuk leum cacao, dimerkapol, oleum ricinni, oleum menthae, gliserin, metal salisilat
D. PENETAPAN ROTASI OPTIK
Tujuan : Melakukan penetapan kadar dan uji identifikasi
Prinsip : Kemampuan senyawa optik aktif untuk memutar bidang polarisasi sinar terpolarisasi
yang melewatinya disebabkan oleh susunan ruang molekul yang melewati pusat yang asimetris, tidak
mempunyai bidang simetris atau titik simetris. Optik aktif dapat dianggap sebagai interaksi radiasi
bidang polarisasi dengan elektron pada molekul yang menghasilkan polarisasi elektronik. Rotasi optik
dinyatakan dalam derajat rotasi sudut yang diamati atau derajat rotasi jenis (yang dibandingkan
terhadap kadar 1 gram zat terlarut dalam 1 ml larutan, diukur pada kondisi yang telah ditentukan).
Senyawa yang dapat memutar ke arah kanan atau searah jarum jam disebut dekstro dan diberi tanda
(+). Senyawa yang dapat memutar ke kiri disebut levo dan diberi tanda (-). Rotasi optik dipengaruhi
oleh sifat alami senyawa, ketebalan sel atau tabung polarimeter, suhu dan panjang gelombang sinar
yang digunakan.
Pustaka : FI IV <1081> halaman 1041
Contoh : Untuk senyawa atropine sulfat, oleum menthae
E. PENETAPAN SUSUT PEMIJARAN
Tujuan : Penetapan presentase zat uji yang mudah menguap dan hilang pada kondisi yang
ditetapkan.(FI IV halaman 1043)
Prinsip : Penentuan kadar komponen anorganik yang tidak mudah menguap (Hj. Roth
halaman 483). Oleh karena itu merupakan pemeriksaan kemurnian dengan melakukan pemijaran pada
suhu 450 - 800 25 (FI IV halaman XiiX) dengan tidak merusak zat uji, tetapi merubah zat uji
menjadi bentuk lain seperti bentuk anhidrat (FI IV halaman 1043).
F. PENETAPAN SUSUT PENGERINGAN
Tujuan : Penetapan semua jenis bahan yang mudah menguap dan hilang pada kondisi tertentu
(FI IV halaman 1043).
Prinsip : Kehilangan bobot disebabkan oleh adanya sisa bahan yang mudah menguap,
termasuk pelarut organik dan air, pada suhu pemanasan 105 2C (Hj. Roth 477, FI IV halaman
1043). Untuk zat yang diperkirakan hanya mengandung air sebagai satu-satunya zat yang mudah
menguap, hanya melakukan penetapan kadar air (FI IV halaman 1043).
Contoh : Untuk senyawa thiamin HCl, bisakodil, atenolol, kalsium laktat, asam mefenamat,
rifampisin, lidokain
G. PENETAPAN SISA PEMIJARAN
Tujuan : Pemeriksaan kemurnian senyawa organik terhadap pencemar anorganik (kation dan
silikat), terutama pada saat pembuatan (Hj. Roth halaman 483).
Prinsip : Komponen yang tidak menguap pada pemijaran dengan asam sulfat dan tetap tinggal
setelah pemijaran pada 450- 800 25C. Dengan adanya asam sulfat akan terbentuk garam sulfat
yang sesuai, yang akan tetap bertahan pada suhu tinggi (Hj.Roth halaman 483-484).

20

Teori ANALISIS
Contoh : Untuk senyawa thiamin HCl, salbutamol, aminophyllin, piroxicam, bisakodil, atenolol, asam
mefenamat, lidokain
Sebagai catatan :Prosedur-prosedur penetapan kemurnian biasanya sudah dicantumkan pada
monografi masing-masing senyawa di Farmakope Indonesia.

SPEKTROFLUOROMETRI
(Re-New by : Diana, Ratna, Ambrita)
Prinsip
Spektrofluorometri mengukur intensitas emisi dari larutan yang dapat diperkuat langsung. Spektra ini
lebih spesifik karena adanya spektra emisi (fluoresensi) disamping spektra eksitasi (yang dapat
disamakan dengan spektra absorpsi pada spektrofotometri). Radiasi eksitasi maupun radiasi
fluoresensi, umumnya diukur pada rentang max 200-700nm. Pengukuran harus menggunakan pelarut
yang dapat melewatkan seluruh radiasi eksitasi.
Alasan Pemilihan Metode
Bergantung pada struktur kimia zat aktif yang akan dianalisis. Struktur kimia yang berfluoresensi ialah
struktur aromatik, atau struktur yang mengandung ikatan rangkap terkonjugasi, yaitu elektron dan n
dalam dua ikatan rangkap atau lebih. Dalam molekul tersebut terdapat sejumlah elektron yang
memiliki mobilitas lebih tinggi dibanding elektron lainnya.
Mobilitas elektron ini dipengaruhi oleh gugus subtituen pada molekul tersebut. Gugus subtituen yang
memberikan kebebasan kepada elektron adalah gugus pengarah orto- dan para-, seperti NH 2, -OH,
-F, -OCH3, -NHCH3, -N(CH3)2, serta CN (meskipun CN pengarah meta-). Sedangkan, pada sistem
heterosiklik dipengaruhi oleh atom hetero, seperti atom O, N, S.
Gugus yang mengurangi fluoresensi adalah gugus pengarah meta-, seperti Cl, -Br, -I, -NHCOCH 3,
dan COOH.
Senyawa kimia ada yang berfluoresesnsi secara alami, tetapi pada yang tidak berfluoresensi atau
intensitas fluoresensinya lemah dapat dibangkitkan fluoresensinya dengan suatu reaksi kimia untuk
mengubah strukturnya atau menyambungkan molekul tersebut dengan molekul lain yang
berfluoresensi kuat.
Intensitas fluoresensi suatu senyawa tergantung pada efisiensi fluoresensi, yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor diantaranya struktur molekul dengan gugus fungsi yang menunjang dan
lingkungannya, pelarut dan zat terlarut didalamnya.
Penentuan Kadar
Penentuan kuantitatif dilakukan dengan membandingkan intensitas fluoresensi zat dalam larutan
sampel terhadap intensitas fluoresensi zat dalam larutan baku. Pada konsentrasi fluofor yang rendah,
intensitas fluoresensi sebanding dengan konsentrasi fluofor. Untuk perhitungan digunakan fluoresensi
larutan sampel dibandingkan dengan fluoresensi larutan baku. Setelah keduanya dikoreksi terhadap
Fluoresensi Latar Belakang (FLB), konsentrasi larutan sampel dihitung dengan rumus:
Csampel = Fsampel - FLB x Cbaku
Fbaku - FLB
Pada penentuan kadar yang tidak langsung, dimana penurunan fluoresensi sebanding dengan naiknya
konsentrasi zat yang memadamkan fluoresensi, maka intensitas fluoresensi digantikan dengan
log[Intensitas fluoresensi].
Penggunaan lainnya
Di bidang kimia polimer ; untuk mendeteksi dan mengidentifikasi komponen lastik
Bahan fluoresen dapat larut dalam larutan maupun bahan padat, misal : bahan dasar plastik, yang
dapat dideteksi oleh radioaktif.

21

Teori ANALISIS
Uji kemurnian, misal : oksidasi kemurnian pada proetilen dan polipropilen.
Di bidang biologi ; uji struktur tersier protein dalam bentuk 3 dimensi
Pustaka
Panduan Praktikum Analisis Farmasi Fisikokimia, Jurusan Farmasi, FMIPA, ITB, 1997, hal. 41-43
Kimia Organik, Fessenden
Instrumental Method, Galen Ewing
Analisis Kimia Kuantitatif, Day, Underwood
Organic Spectrocopy, Kemp, W

SPEKTROFOTOMETRI
(Re-New by : Diana, Ratna, Ambrita)
A. SPEKTROFOTOMETRI ABSORBSI ATOM (SAA)
Prinsip
Teknik SAA digunakan untuk menetapkan kadar ion logam tertentu dengan cara mengukur intensitas
serapan cahaya pada panjang gelombang tertentu oleh uap atom unsur yang berasal dari cuplikan.
Atom-atom logam bentuk gas dalam keadaan dasar (tidak tereksitasi) mampu menyerap energi cahaya
yang panjang gelombang resonansinya khas, umumnya adalah panjang gelombang radiasi yang akan
dipancarkan oleh atom-atom itu bila tereksitasi dari keadaan dasar.
Apabila cahaya dengan panjang gelombang resonansi itu dilewatkan pada nyala yang mengandung
atom-atom yang bersangkutan, maka sebagian cahaya tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan
akan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada dalam nyala.
Cuplikan yang disuntikan ke dalam alat SAA selanjutnya akan diubah menjadi kabut yang
mengandung atom-atom logam yang akan ditentukan. Atom-atom ini selanjutnya disemprotkan ke
dalam nyala dan dilewati cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Intensitas cahaya yang diserap
dapat terukur oleh detektor, dan akan berbanding lurus dengan konsentrasi atom logam yang akan
diukur.
Penetapan Kadar
Dalam penentuan kadar menggunakan SAA dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu:
(jika tidak dinyatakan lain gunakan metode I)
1. Metode I : Metode Kalibrasi Langsung
Dibuat tidak kurang dari tiga larutan baku yang mengandung unsur yang akan ditetapkan
kadarnya, dan mencakup jangkauan kadar larutan uji yang akan diukur. Masing-masing larutan
baku diukur serapannya dan dibuat kurva kalibrasi antara serapan (absorbsi) terhadap konsentrasi.
Untuk memperoleh kadar larutan uji, yaitu nilai serapan larutan uji dimasukkan ke dalam
persamaan linier kurva kalibrasi.
2. Metode II : Metode Penambahan Baku
Dibuat tidak kurang dari tiga larutan uji, kepada masing-masing larutan uji ditambahkan sejumlah
tertentu (diketahui jumlahnya) larutan baku dari unsur yang akan ditetapkan. Satu larutan uji tidak
ditambahkan larutan baku (misal : ada 6 buah labu larutan uji, maka hanya 5 labu yang
ditambahkan larutan baku) dengan konsentrasi yang membentuk deret pengenceran. Kemudian
masing-masing larutan diukur serapannya dan dibuat kurva kalibrasi antara serapan terhadap
konsentrasi baku yang ditambahkan. Selanjutnya dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu
konsentrasi (sumbu X), dan titik potong dengan sumbu itu menunjukkan konsentrasi larutan uji.
Penerapan Serapan Atom
Teknik ini telah diterapkan pada penentapan sekitar 60 unsur, dan teknik ini merupakan alat utama
dalam pengkajian yang meliputi logam runutan dalam lingkungan dan dalam sampel biologis.

22

Teori ANALISIS
Teknik ini berguna dalam kasus dimana logam berada dalam kadar yang cukup dalam sampel, tetapi
hanya tersedia sedikit sampel untuk dianalisis, misalnya untuk analisis metaloprotein.
Pustaka
Farmakope Indonesia, edisi IV, hal. 1067
Vogel, Analisis Kuantitatif, hal. 942
B. SPEKTROFOTOMETRI EMISI NYALA (SEN)
Prinsip
Teknik SEN digunakan untuik menentukan kadar ion logam tertentu dengan cara mengukur intensitas
emisi pada panjang gelombang tertentu oleh uap atom unsur yang berasal dari cuplilkan.
Jika suatu larutan yang mengandung garam logam disemprotkan ke dalam nyala maka akan terbentuk
uap yang mengandung atom-atom logam tersebut. Beberapa atom logam dalam gas ini dapat dieksitasi
ke tingkat energi yang cukup tinggi sambil memancarkan radiasi yang karakteristik dari logam
tersebut. Radiasi yang dipancarkan ini dapat diukur intensitas transmisinya dan berbanding terbalik
dengan konsentrasinya.
Cuplikan yang disuntikan ke dalam alat SEN selanjutnya akan diubah menjadi kabut yang
mengandung atom-atom logam yang akan ditentukan. Atom-atom ini selanjutnya disemprotkan ke
dalam nyala dan akan melepaskan cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Cahaya yang
dipancarkan dilewatkan ke dalam celah dan didetekdi oleh detektor fotosel.
Penentuan Kadar
Dalam pennetuan kadar menggunakan SEN dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu :
(jika tidak dinyatakan lain gunakan metode I)
1. Metode I : Metode Kalibrasi Langsung
Dibuat tidak kurang dari tiga larutan baku yang mengandung unsur yang akan ditetapkan
kadarnya, dan mencakup jangkauan kadar larutan uji yang akan diukur. Masing-masing larutan baku
diukur transmisinya dan dibuat kurva kalibrasi antara % Transmisi (atau Absorbsinya) terhadap
Konsentrasi. Untuk memperoleh kadar larutan uji, yaitu nilai serapan larutan uji dimasukkan ke dalam
persamaan linier kurva kalibrasi.
2. Metode II : Metode Penambahan Baku
Dibuat tidak kurang dari tiga larutan uji, kepada masing-masing larutan uji ditambahkan larutan
baku (diketahui jumlahnya) yang mengandung unsur yang akan ditetapkan. Satu larutan uji tidak
ditambah larutan baku (misal: ada 6 buah labu larutan uji, maka hanya 5 labu yang ditambhakan
larutan baku) dengan konsentrasi yang membentuk deret pengenceran. Kemudian masing-masing
larutan diukur transmisinya (atau serapannya) dan dibuat kurva kalibrasi antara % Transmisi (atau
serapan) terhadap konsentrasi baku yang ditambahkan. Selanjutnya dari kurva tersebut
diekstrapolasi ke sumbu konsentrasi (sumbu x), dan titik potong dengan sumbu itu menunjukkan
konsentrasi larutan uji.
Pustaka
Farmakope Indonesia, edisi IV, hal. 1097
Vogel, Analisis Kuantitatif, hal. 942
C. SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Teori Dasar/Prinsip
Spektrofotometri serapan (meliputi spektro UV/VIS, IR, dan srapan atom) merupakan pengukuran
suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Molekul
selalu mengabsorbsi radiasi elektromagnetik jika frekuensi radiasi ini sama dengan frekuensi getaran
molekul tersebut. Elektron yang terikat maupun tidak terikat akan tereksitasi pada suatu daerah
frekuensi, yang sesuai dengan radiasi UV/VIS. (FI, hal. 1061)
Bagian molekul yang mengabsorbsi dalam daerah UV/VIS dinyatakan sebagai kromofor. Suatu
molekul dapat mempunyai beberapa kromofor.
Untuk berbagai bahan farmasi, pengukuran spektrum dalam daerah UV dan visible dapat dilakukan
dengan ketelitian dan kepekaan yang lebih baik daripada dalam daerah IR-dekat dan IR.

23

Teori ANALISIS
Panjang gelombang daerah spektrum UV adalah 190-380nm, sedaangkan spektrum visible adalah 380780nm. Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum UV/VIS terdiri dari suatu
sistem optik dengan kemampuan menghasilkan cahaya monokromatik dalam jangkauan 200-800nm
dan suatu alat yang sesuai untuk menetapkan serapan.
Spektrum UV/VIS dari suatu zat umumnya tidak mempunyai derajat spesifikasi yang tinggi.
Walaupun demikian, spektrum tersebut sesuai untuk pemeriksaan kuantitatif dan untuk berbagai zat
spektrum tersebut bermanfaat sebagai tambahan pada identifikasi.
Alasan Pemilihan Metode
Adanya kromofor pada suatu struktur kimia zat yang akan dianalisis, seperti :
Ikatan rangkap terkonjugasi
Dua ikatan rangkap terkonjugasi memberikan suatu kromofor, seperti dalam butadien akan
mengabsorbsi pada 217nm. Panjang gelombang serapan maksimum ( max) dan koefisien ekstingsi
molar () akan bertambah dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap terkonjugasi.
Senyawa aromatik
Cincin aromatik mengabsorbsi dalam daerah radiasi UV. Misal : benzen menunjukkan serapan pada
panjang gelombang sekitar 255nm, begitu juga asam asetil salisilat.
Gugus karbonil
Pada gugus karbonil aldehida dan keton dapat dieksitasi baik dengan peralihan n * atau *.
Auksokrom
Gugus auksokrom mempunyai pasangan elektron bebas, yang disebabakan oleh terjadinya mesomeri
kromofor. Yang termasuk dalam gugus auksokrom ini adalah substituen seperti OH, -NH 2, -NHR,
dan NR2. Gugus ini akan memperlebar sistem kromofor dan menggeser absorbsi maksimum ( max) ke
arah yang lebih panjang.
Prinsip Kerja
Radiasi polikromatis dipancarkan dari sumber radiasi melewati monokromator sehingga diperoleh
radiasi monokromatis. Radiasi monokromatis diteruskan ke kuvet yang berisi larutan/pelarut yang
akan dianalisis. Radiasi tersebut akan dipantulkan, diabsorbsi dan ditransmisikan.
Jika Io adalah intensitas radiasi yang dipancarkan; dan I adalah intensitas radiasi setelah melewati
larutan; maka Io-I adalah intensitas radiasi yang diabsorbsi oleh larutan. Nilai Absorban (A) adalah
sebagai berikut :
A = log Io/I
Menurut hukum Lambert-Beer : A = a b C
Dimana:
A = absorban
a = absorptivitas
b = lebar medium (cm)
C = konsentrasi senyawa yang menyerap radiasi
C
Molar
g/L
% (b/v, g/100mL)

A
= absorptivitas molar (L mol-1cm-1)
a = absorptivitas (L g-1cm-1)
A1%1cm = absorptivitas jenis

Interpretasi (sesuai dengan penggunaannya)


Identifikasi
Panjang gelombang serapan maksimum (max);
Nilai a;
Nilai A pada C dan tertentu
Rasio A pada berbagai
hasil dibandingkan dengan pustaka atau larutan pembanding
Kemurnian
Nilai A maksimum dan max
Rasio A pada dua max yang berbeda
hasil dibandingkan dengan persyaratan kompendia
Penetapan kadar

24

Teori ANALISIS
Bisa untuk senyawa tunggal maupun multikomponen.
Pengukuran Serapan/Penetapan Kadar
Dalam melakukan pengukuran serapan suatu larutan pada tertentu sebaiknya digunakan pelarut yang
sesuai, dapat melarutkan zat yang akan dianalisis, dapat diperoleh dalam bentuk murni, dan hanya
sedikit atau tidak memberikan serapan pada daerah pengukuran. Pelarut yang biasa digunakan adalah
air, etanol 96%, etanol mutlak, metanol, asetonitril, sikloheksan, dan heksan. Letak A max tergantung
pada pelarut dan akan bergeser ke arah yang lebih panjang dengan bertambahnya polaritas pelarut.
(Roth, 373)
Penetapan kadar (dapat untuk senyawa tunggal maupun multi komponen)
1. Metode Kurva Kalibrasi
Buat kurva kalibrasi konsentrasi (C) terhadap absorban (A). Jika absorptivitas (a) suatu senyawa
pada max telah diketahui dari perhitungan atau literatur, maka kadar larutan senyawa yang sama
dapat dihitung. Larutan senyawa dengan kadar tidak diketahui dibuat dalam pelarut yang sama
dengan larutan senyawa yang diketahui kadarnya. Kadar larutan pembanding harus dibuat sesuai
dengan kadar dimana hukum Lambert-Beer masih dipenuhi. Maka kadar larutan uji dapat dihitung
: Cu = Au/(b.a)
2. Metode one point
Untuk penentuan kadar secara rutin pada max, suhu pelarut, dan instrumen yang sama. Larutan uji
dibandingkan terhadap larutan baku yang telah diketahui kadar dan kemurniannya : C u =
(Au/Ab).Cb
Pustaka
Farmakope Indonesia, edisi IV, hal. 1061
Analisis Farmasi, Roth, J. Hermann, hal. 353, 367
Organic Spectrocopy, Kemp, W.
D. SPEKTROFOTOMETRI IR
Prinsip
Radiasi inframerah menyebabkan terjadinya vibrasi dan/atau rotasi dalam molekul yang dikenai sinar
merah (deteksi gugus fungsi, yang bevibrasi pada frekuensi spesifik, misal: C=O, NH 2, OH dan lainlain.). Daerah radiasi elektromagnetik inframerah yang lazim digunakan dalam analisis berfrekuensi
(bilangan gelombang) 4000-667cm-1 atau panjang gelombang 2,5-15 m.
Pemeriksaan Senyawa Padat dan Cairan
Untuk pengukuran spektrum inframerah dibutuhkan senyawa sekitar 1 sampai 20mg. Senyawa untuk
pengukuran disiapkan sebagai berikut :
Cairan sebagai film
Beberapa tetes cairan diletakkan di atas lempeng natrium klorida yang diasah dan ditutup dengan
lempeng natrium klorida kedua. Dengan menekan akan didapat suatu film tipis diantara kedua
lempeng yang kemudian diletakkan dalam cahaya ukur.
Senyawa cair atau senyawa padat sebagai larutan
Dibuat larutan senyawa 2 sampai 20% dan diukur dalam kuvet berdinding terbuat dari natrium
klorida untuk cairan. Karena koefisien ekstingsi yang rendah dalam daerah inframerah (~10)
maka larutan harus dibuat jauh lebih pekat dari yang digunakan untuk pengukuran dalam daerah
UV.
Senyawa padat sebagi kempaan
Pada prosedur yang sering digunakan ini, senyawa padat sejumlah 1-2mg dengan hati-hati
dicampur dengan sejumlah 300-400mg KBr dan dicetak kempa dalam pencetak khusus dengan
tekanan sekitar 104 kp. KBr akan tersinterisasi pada kondisi ini dan akan memberikan tablet jernih
yang tembus cahaya. KBr seperti juga NaCl dalam keseluruhan daerah ukur melewatkan cahaya
secara sempurna.
Senyawa padat sebagai suspensi
Kira-kira 2mg senyawa digerus halus di dalam cairan tertentu seperti parafin cair. Akan didapat
suatu suspensi yang dapat diukur diantara dua lempeng NACl. Parafin cair ini sangat sesuai,

25

Teori ANALISIS
karena tidak mudah menguap dan sebagai hidrat arang alifatik hanya menunjukkan spektrum
absorbsi lemah dalam daerah inframerah.
Penggunaan Spektrofotometri IR
Spektrum inframerah dapat dimanfaatkan untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif.
Analisis struktur
Identifikasi frekuensi absorbsi senyawa yang tidak diketahui dengan tabel, dengan pembuatan
katalog spektrum untuk mengidentifikasi gugus fungsi atau substituen dengan frekuensi getaran.
Identifikasi komponen juga dapat dilakukan dengan cara membandingkan spektrum IR standar
dan spektrum IR komponen yang belum diketahui. Misal : untuk steroid seperti etiniloestradiol,
hidrokortison, hidrokortison asetat, dan prednisolon.

Penentuan kadar
Metode ini digunakan untuk sejumlah besar senyawa obat. Keuntungan utama adalah spesifitas
yang tinggi, karena absorbsi hanya diukur pada satu pita spektrum. Cemaran yang mengabsorbsi
di luar aerah ukur yang sempit, tidak akan mengganggu penentuan kadar. Sebaliknya spektroskopi
inframerah karena menunjukkan pola pita yang kompleks dan bertumpuk sebagian kurang sesuai
untuk pemeriksaan kemurnian.
Pustaka
Organic Spectrocopy, Kemp, W.
Panduan Praktikum Analisis Farmasi Fisikokimia, Jurusan Farmasi, FMIPA, ITB, 1997
Analisis Farmasi, Roth

POLARIMETRI
(Re-New by : Ruri, Iman, Phia)
Teori dasar/Prinsip
Beberapa senyawa mempunyai kemampuan untuk memutar bidang polarisasi sinar terpolarisasi yang
melewatinya. Sifat/kemampuan tersebut disebabkan oleh susunan ruang molekul yang memiliki pusat
tidak simetris (asimetris), tidak mempunyai bidang simetris atau titik simetris. Senyawa ini dikenal
sebagai senyawa optik aktif. Optik aktif dapat dianggap sebagai interaksi radiasi bidang polarisasi
dengan elektron pada molekul yang menghasilkan polarisasi elektronik. (Physical Pharmacy,
Martin, Ed. 4, hal. 96)
Cairan aktif optik atau larutan senyawa aktif optik yang disinari langsung dengan cahaya linier
terpolarisasi, akan memutar arah getaran cahaya sebesar sudut . Rotasi optik ini tergantung pada
radiasi (cahaya) yang digunakan dan umumnya akan bertambah dengan semakin pendeknya . Sifat
ini disebut dispersi rotasi. Rotasi optik diukur dengan cahaya monokromatis garis D natrium dari
589,3 nm (cahaya kuning). Pada alat dengan lampu merkuri pengukuran dilakukan pada daerah cahaya
tampak (577/579, 546 dan 436 nm) dan daerah UV pada 365 nm. (Analisis Farmasi, Roth. J.H., hal.
341)
Senyawa yang dapat memutar arah getaran cahaya ke arah kanan (searah dengan jarum jam) disebut
senyawa dekstro (+), sedangkan yang memutar ke kiri disebut levo (-). Biasanya tanda tersebut
dibubuhkan pada awal namanya. (Physical Pharmacy, Martin, Ed. 4, hal. 96)
Rotasi optik: besar sudut pemutaran bidang polarisasi yang terjadi jika sinar terpolarisasi dilewatkan
melalui cairan. Kecuali dinyatakan lain, pengukuran dilakukan menggunakan sinar natrium pada
lapisan cairan setebal 1dm pada suhu 20o. (FI Ed.III, hal. 771)
Rotasi jenis: besar sudut pemutaran bidang polarisasi yang terjadi jika sinar terpolarisasi dilewatkan
melalui cairan setebal 1 dm yang mengandung 1 g zat per ml. (FI Ed.III, hal. 771)
Senyawa bersifat optis aktif dapat menyebabkan cahaya yang datang terpolarisasi pada satu bidang,
muncul kembali dengan intensitas yang berbeda-beda dalam bidang-bidang yang berkesinambungan,
sedemikian hingga bidang dengan intensitas maksimum membentuk sudut dengan bidang cahaya

26

Teori ANALISIS
datang, yang dapatr diukur. Apabila efek ini cukup besar untuk dapat diukur dengan teliti, dapat
digunakan sebagai dasar penetapan kadar atau uji identifikasi. (FI Ed. IV, hal. 1040)
Prosedur Penetapan
Zat berupa cairan, atur suhu hingga 25o dan pindahkan ke dalam tabung polarimeter. Lakukan sebagai
berikut: mulai dengan Lakukan paling sedikit 5 kali pembacaan......, lakukan penetapan blangko
dengan tabung kosong yang kering.
Zat berbentuk padat,
1) timbang seksama sejumlah tertentu;
2) masukkan ke dalam labu tentukur dengan menggunakan air atau pelarut lain yang ditentukan,
sisakan pelarut untuk penetapan balngko;
3) tambahkan secukupnya pelarut hingga meniskus pelarut sedikit dibawah tanda batas;
4) atur suhu labu hingga 25o dengan mencelupkan labu tersebut dalam tangas dengan suhu tetap;
5) tambahkan pelarut hingga tanda batas dan campur;
6) pindahkan larutan ke dalam tabung polarimeter (tidak lebih dari 30 menit sejak zat dilarutkan,
upayakan agar waktu yang terpakai tiap kali sama bagi zat yang diketahui mengalami rasemisasi atau
mutarotasi). Selama proses penetapan, pertahankan suhu larutan pada 25o.
7) lakukan pembacaan paling sedikit 5 kali pembacaan rotasi pada 25 o;
8) lakukan pembacaan yang sama banyaknya dengan menggunakan sisa pelarut sebagai pengganti
larutan.
Sebagai koreksi terhadap titik nol diambil harga rata-rata pembacaan blangko, yang dikurangkan dari
harga rata-rata rotasi yang teramati. Dalam perhitungan ini perlu dipakai tanda rotasi yang diamati
(positif atau negatif) untuk memperoleh harga rotasi yang terkoreksi.
Bila digunakan polarimeter fotoelektrik otomatik dengan derajat ketelitian dan ketepatan yang
diperlukan, maka tidak perlu dilakukan pembacaan ulang 5 kali atau lebih.
Perhitungan
Rotasi jenis dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
Untuk zat cair: []t = a .
l.d
Untuk larutan: []t = 100a = 100a
l.p.d
l.c
Dimana:
a : pengamatan rotasi yang terkoreksi dalam derajat (o), pada suhu t dan panjang
gelombang x
l : panjang tabung polarimeter dalam dm
d : bobot jenis zat cair atau larutan pada suhu pengamatan
p : kadar larutan dinyatakan sebagai jumlah g zat dalam 100 g larutan
c : kadar larutan dinyatakan sebagai jumlah g zat dalam 100 ml larutan.
(FI Ed. IV, hal. 1041)
Harus diperhatikan
1. pengaruh suhu

[]t1 = []t2 + n (t1-t2)


dimana t adalah suhu larutan dengan t2>t1; dan n adalah tetapan yang diperoleh secara percobaan.
2. pengaruh konsentrasi
[] = A + Bq
[] = A + Bq + Cq2
[] = A + Bq
(C+q)
dimana:
A, B, C adalah konstanta;
q adalah fraksi bobot pelarut dalam larutan
[] umumnya diganti (/Ldp)
dimana:

........linier
........parabola
........hiperbola

27

Teori ANALISIS
p adalah fraksi bobot solut
d adalah bobot jenis larutan
L adalah panjang tabung polarimeter (dm)
3. pengaruh panjang gelombang
[] =
k
.
(0)2 (1)2
dimana:
k adalah konstanta DRUDE yang diperoleh dari percobaan
0 adalah panjang gelombang yang digunakan dalam mikron
1 adalah konstanta juga
Prinsip pengukuran
Alat pengukur yang digunakan tidak memungkinkan mata manusia dapat menentukan secara tepat titik
akhir dimana tingkat kegelapan terjadi maksimum, maka dilengkapi dengan alat setengah bayangan.

Kita mulai memutar sampai mendapatkan keadaan A. Kemudian jika diputar ke ara yang
berlawanan/searah akan mendapatkan keadaan C/A, dan pada derajat yang kira-kira sama di tengahtengah antara dua keadaan tersebut akan diperoleh keadaan B. Kondisi B inilah yang sangat
reporodusibel dan dinyatakan sebagai kondisi akhir.

POTENSIOMETRI
(Re-New by : Ruri)
Potensiometer adalah instrumen elektrokimia yang dapat mengukur beda potensial antara
elektrode indikator dan elektoda pembanding. Kedua elektrode yang masing-masingnya merupakan
setengah sel dan suatu jembatan garam yang disusun menjadi sel elektrokimia dicelupkan ke dalam
larutan yang akan dianalisis.
Sifat elektrode pembanding yang terpenting adalah memiliki potensial tetap yang tidak
dipengaruhi oleh perubahan komposisi larutan yang akan dianalisis. Sebaliknya potensial elektrode
indikator merupakan fungsi konsentrasi salah satu ion dalam larutan.
Jika output elektrode pembanding tetap selama titrasi, perubahan GGL sel akan menunjukkan
perubahan konsentrasi yang terjadi selama titrasi dilakukan yaitu selama pereaksi dengan konsentrasi
yang diketahui ditambahkan ke larutan yang dianalisis.
Elektrode
Elektrode indikator maupun elektrode pembanding yang digunakan dalam berbagai titrasi berbedabeda. Pada titrasi asam basa sebagai elektrode pembanding dapat digunakan elektrode kalomel atau
elektrode perak-perak klorida, dan sebagai elektrode indikator biasanya digunakan elektroda kaca.
Untuk titrasi oksidasi reduksi elektrode pembanding yang digunakan sama dengan elektrode yang
digunakan untuk titrasi asam basa, sedangkan untuk elektrode indikator digunakan elektrode platina
yamg memiliki sifat inert.
Potensial elektrode
Potensial elektrode merupakan fungsi aktivitas (konsentrasi efektif) ion yang dapat ditetapkan dengan
persamaan Nernst

28

Teori ANALISIS
Titrasi potensiometri
Titrasi potensiometri dapat digunakan untuk reaksi pengendapan, reaksi asam-basa, kompleksometri,
dan reaksi oksidasi reduksi dalam media air atau media bebas air. Dalam hal ini perubahan potensial
sel atau perubahan pH pada setiap penambahan pereaksi diamati untuk mendapatkan lokasi titik
ekivalen yang tepat pada kurva titrasi potensiometri (Day, 1991).
Pada titrasi potensiometri yang perlu diperhatikan adalah bahwa titrasi dilakukan perlahanlahan untuk memberi waktu mencapai keseimbangan sebelum ditambahkan pereaksi berikutnya.
Perubahan potensial atau pH yang besar menunjukkan tercapainya titik akhir. Titik akhir ditetapkan
dengan cara penentuan titik akhir menggunakan grafik. Dalam hal ini dibuat kurva dengan potensial
sel atau pH sebagai ordinat volume pereaksi sebagai absis. Titik tengah bagian curam kurva
merupakan titik ekivalen titrasi. Pada titik ini ditentukan emf atau pH dan volume pereaksi yang
digunakan. Cara yang kedua dengan membuat kurva dari perubahan potensial atau pH per setiap
volume pereaksi yang ditambahkan (E/V) atau (pH/V) sebagai ordinat versus volume pereaksi
sebagai absis. Titik maksimum kurva adalah titik ekivalen. Penetapan titik ekivalen yang lebih akurat
diperoleh dari kurva derivatif kedua ( 2E/V2 atau 2pH/V2), yang didapat dari derivat kedua
sebagai ordinat versus volume pereaksi sebagai absis.

mV
Volume titran (ml)
Gambar : Kurva potensial (mV) terhadap volume titran

E/V

Volume titran (ml)


Gambar : Kurva turunan pertama terhadap volume

2E/V2
Volume titran (ml)
Gambar : Kurva turunan kedua terhadap volume
Pustaka : TA Ruri Ernanda

29

Teori ANALISIS
Prinsip :
Pada potensiometri, dilakukan pengukuran potensial listrik antara elektroda pengukur dan elektroda
pembanding yang dicelupkan dalam larutan. Antara elektroda pengukur dan elektroda pembanding
terdapat jembatan arus/garam dengan larutan elektrolit seperti kalium klorida atau kalium nitrat yang
didalamnya terdapat transport ion arus. Persamaan Nernst menyatakan hubungan antara potensial
elektroda dan perbandingan aktivita bentuk teroksidasi dan bentuk tereduksi ion-ion yang hendak
ditentukan:

E = Eo +

0,059
aox
log
z
ared

E = potensial (V), didapat dari elektroda hidrogen normal


Eo = potensial normal
z = jumlah elektron yang terlibat dalam proses redoks
aox = aktivita bentuk teroksidasi
ared = aktivita bentuk tereduksi
(Roth, H.J. dan Blaschke, G., Analisis Farmasi, terjemahan Kisman, S. & Ibrahim, S., 1998, Penerbit
UGM, Yogyakarta, 293-294).

Elektroda indikator adalah elektroda yang potensialnya bergantung pada konsentrasi ion yang
akan ditetapkan dan dipilih berdasarkan jenis senyawa yang hendak ditentukan. (Roth, H.J., 294)
Elektroda pembanding adalah elektroda yang potensialnya diketahui dan selama pengukuran
potensial ini tetap konstan. (Roth, H.J., 294)
Elektroda pembanding yang paling banyak digunakan adalah elektroda kalomel karena
konstannya potensial yang dihasilkan. (Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Organik, 669).
Titik akhir titrasi dideteksi dengan menetapkan volume dimana terjadi perubahan potensial yang
relatif besar ketika ditambahkan peniter. (Underwood, 330).

Penggunaan :
Potensiometri digunakan untuk penentuan titik akhir titrasi pada titrasi asam/basa, titrasi redoks,
pengendapan dan pembentukan kompleks. (Roth, H.J., 293)
Pada contoh penggunaan berikut ini, indikasi potensiometrik bukan oleh potensial elektrode itu
sendiri, melainkan perubahan tiba-tiba potensial yang digunakan untuk petunjuk titik akhir. (Roth,
H.J., 300).
1. Titrasi Asam Basa (Reaksi penetralan)
Ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir secara potensiometri, bergantung pada
konsentrasi dan kekuatan asam serta basa. Hasil akan memuaskan, kecuali pada asam atau
basa sangat lemah (k<10-8) dan larutan encer. (Vogel,704).
Petunjuk titik akhir juga mungkin dilakukan dalam larutan berwarna, larutan keruh atau
larutan oksidator kuat. (Roth, H.J., 301).
Metode ini dapat digunakan untuk mentitrasi campuran asam yang kekuatannya berbeda jauh.
Agar metode ini berhasil baik, kedua asam atau basa hendaknya kekuatannya berbanding
sekurangnya 10-5:1. (Vogel,704).
Metode ini dapat digunakan untuk titrasi asam atau basa bervalensi banyak, tetapi hanya dapat
dilakukan untuk masing-masing senyawa jika harga pka atau pkb berbeda minimal 2 satuan.
(Roth, H.J., 301).
Elektroda indikator : elektroda gelas. (Vogel,704).
Elektroda pembanding : elektroda kalomel. (Vogel,704).
Potensial pada titik ekuivalen dihitung berdasarkan persamaan:
E = k-0,0592 pH (25 C)
Keterangan : k = potensial asimetri, tergantung pada sistem elektroda yang
digunakan. (Beckett II, 163).
2. Titrasi Redoks

30

Teori ANALISIS
Secara potensiometri adalah salah satu analisis ukur elektrometri yang paling banyak
digunakan.
Elektroda indikator : kawat atau pita tipis platinum (dicelupkan ke dalam larutan yang hendak
dianalisis yang diaduk). (Vogel, 705; Roth, H.J., 300). Platina sebagai bahan elektroda hanya
bertindak sebagai transport elektron/elektroda indiferen. (Roth, H.J., 295).
Elektroda pembanding : elektroda kalomel (Vogel, 705; Roth, H.J., 300).
Potensial elektroda indikator diberikan sesuai persamaan Nerst.
3. Titrasi Pengendapan (Roth, H.J., 304)
Elektroda indikator : elektroda perak
Elektroda pembanding : elektroda kalomel
Contoh : titrasi pengendapan penentuan klorida dalam injeksi besi-dekstran.
Potensial elektroda dihitung berdasarkan persamaan:
0,0592
x log [Mn+] (25 C)
n
Keterangan : M adalah konsentrasi ionik yang terjadi selama titrasi dalam kesetimbangan
dengan endapan yang tidak larut. (Beckett II, 164).
E = Eo +

4. Titrasi Bebas air (Roth, H.J., 303)


Elektroda indikator : elektroda gelas
Elektroda pembanding : elektroda kalomel
Contoh : titrasi garam alkaloid seperti atropin sulfat, metil atropin nitrat dan kinin HCl dengan
asam perklorat.
Metode potensiometri dapat diterapkan pada reaksi titrasi apapun, asalkan tersedia elektroda indikator
yang dapat dipakai untuk memantau aktivitas sekurang-kurangnya satu zat elektroaktif yang terlibat
dalam reaksi titrasi. (Panduan Praktikum Analisis Farmasi Fiikokimia, 50).

COULOMETRI (I)
(Re-New by : Phia)
Prinsip :
Metode analisis yang didasarkan pada pengukuran jumlah muatan listrik (Coulomb, C), yang
dibutuhkan untuk melangsungkan reaksi kimia.
Dalam kimia analisis, istilah itu menyiratkan pengukuran coulomb pada kondisi sedemikian rupa
sehingga kuantitas terukur itu dikaitkan dengan suatu reaksi elektrokimia tertentu. Hal ini
memungkinkan perhitungan analitis yang langsung dan sederhana, berdasarkan Hukum Faraday. (Day,
Jr., Underwood, hal. 354)
Coulometri merupakan penerapan hukum Faraday pada proses elektrolisis. Dimana, apabila arus
dialirkan dengan egisiensi arus 100%, pengaliran muatan listrik sebesar satu Faraday akan membentuk
satu berat ekuivalen zat peniter:
1 Faraday ~ 1 berat ekuivalen
Q/F ~ (W.n)/M
W = Q.M
F.n
Dimana :
Q = banyaknya muatan (Coulomb, C)
F = bilangan Faraday = 96,487 C
W = bobot zat (g)
n = bilangan ekuivalen ion yang bereaksi

31

Teori ANALISIS
M = bobot molekul
Metode Coulometri dapat dilakukan dengan dua cara: (Skoog, 622-623)
1. Coulometri Arus Tetap
Arus listrik yang mengalir dibuat tetap, maka jumlah muatan listrik (Q) dapat dihitung dengan
mengalikan arus (i) dengan waktu (t) :

Q= i.t
Cara ini pada dasarnya serupa dengan titrasi volumetri, tetapi pembukaan dan penutupan buret
digantikan dengan pengaliran dan pemutusan arus listrik, dimana elektron digunakan
(berperan) sebagai baku primer.
Perbedaan mendasar adalah pada cara penambahan peniter (yang dilakukan in situ) melalui
elektrolisis larutan prazat, pada elektrode generator. Besar arus yang mengalir selama titrasi
dibuat tetap, sehingga setelah titik akhir tercapai, masih terjadi pembangkitan peniter dalam
larutan. Oleh karena itu, perlu digunakan indikator untuk menunjukkan titik akhir telah
tercapai. Syaratnya indikator yang digunakan tidak elektroaktif (dapat dioksidasi atau
direduksi pada potensial elektrode yang digunakan). Dapat juga digunakan alat seperti
potensiometri, amperometri atau spektrofotometri untuk mendeteksi titik akhir titrasi.
Teknik ini digunakan lebih meluas daripada coulometri potensial tetap. (Day, Jr., Underwood,
hal. 355)
2. Coulometri Potensial Tetap
Potensial antara dua elektrode dibuat tetap. Pada cara ini arus akan berkurang secara
eksponensial dan mencapai nol pada saat anallit habis dielektrolisis. Jumlah muatan dihitung
dengan mengintegrasikan hasil kali arus dengan waktu:
Q = 0t i . dt
Integral ini menyatakan luas di bawah kurva Arus-Waktu.
Penggolongan Titrasi Coulometri
a. Titrasi Coulometri Primer
Pada titrasi ini, analit harus dapat bereaksi langsung pada elektrode generator. Jadi, tidak
boleh ada zat elektroaktif lain yang dapat teroksidasi pada potensial yang lebih rendah dari pada
potensial oksidasi unsur elektrode generator, atau ada zat lain yang dapat bereaksi dengan peniter
yang dibangkitkan.
Penggunaan: titrasi yang melibatkan bahan elektrode sendiri sebagai penghasil peniter, misalnya:
Penentuan gugus merkaptan, sulfhidril dan ion halida secara argentometri, menggunakan
peniter perak(I) yang dihasilkan dari oksidasi logam perak murni.
b. Titrasi Coulometri Sekunder
Pada titrasi ini, peniter dihasilkan kuantitatif melalui oksidasi atau reduksi larutan prazat pada
elektrode generator inert (emas atau platina). Peniter bereaksi seketika dengan analit.
Cara pembentukan peniter ada dua:
- Internal :
Larutan prazat peniter berada bersama-sama dengan analit, misal: titrasi ion besi(II) dengan
peniter seri(IV) yang dihasilkan dari oksidasi larutan prazat seri(III) pada elektrode generator
platina.
-

Eksternal :
Peniter dihasilkan dari elektrolisis larutan prazat dalam sel elektrolisis yang terpisah,
selanjutnya larutan peniter dialirkan secara kontinu ke dalam larutan analit, menyerupai titrasi
volumetri biasa. Perbedaannya : pada satuan penambahan peniternya yang dinyatakan dalam
waktu atau Coulomb.
Cara ini dilakukan apabila reaksi lambat, atau titrasi yang melibatkan dua atau lebih analit,
dimana salah satunya mempunyai potensial oksidasi yang dekat dengan larutan prazat,
sehingga dapat bereaksi pada elektrode.

Penggunaan Titrasi Coulometri (Skoog 633-635)

32

Teori ANALISIS
Titrasi Coulometri dapat diterapkan untuk penentuan senyawa organik dan anorganik, yang meliputi
titrasi netralisasi, redoks, pengendapan dan pembentukan kompleks.
1. Reaksi Netralisasi
Titrasi ini melibatkan pembangkitan ion hidroksil untuk penentuan zat yang bersifat asam, atau
pembangkit proton untuk penentuan zat yang bersifat basa.
Ion hidroksil dihasilkan melalui elektrolisis air pada katode platina:
2 H2O + 2 eH2 + 2 OHSebagai anode dapat digunakan logam perak, asalkan dalam larutan ditambahkan ion bromida,
yang berfungsi mengikat perak(I) yang dilepaskan, sehingga tidak mengganggu.
Titrasi sebaiknya dilakukan terlin dung dari cahaya, karena perak bromida dapat terurai
membebaskan brom yang dapat mengganggu.
Apabila menggunakan anode platina, harus diisolasi dalam kompartemen terpisah karena pada
anode akan terbentuk proton yang dapat mengganggu.
Basa dapat dititrasi secara langsung dengan peniter proton, apabila anode platina digunakan
sebagai elektrode generator dan katode platina diisolasi dalam kompartemen terpisah.
Cara lain penambahan peniter ion hidroksil atau proton adalah dengan pembangkitan peniter
secara eksternal, misal :
Larutan prazat natrium sulfat dialirkan melewati sepasang elektrode platina. Pada ruang anode
akan terbentuk proton dan pada katode terbentuk ion hidroksil. Selanjutnya, melalui
konstruksi sel berbentuk T, hasil elektrolisis pada anode dan katode akan terpisah dan
dialirkan ke dalam larutan analit yang ditentukan.
Untuk penggunaan titrasi asam, yang digunakan adalah bagian katode dan untuk titrasi basa
digunakan bagian anode.
Proton dapat pula dihasilkan untuk titrasi dalam pelarut bukan air, misalnya pada penentuan amin
dalam pelarut asetonitril. Proton ditambahkan secara eksternal dari sejumlah kecil air (+ 0,3%)
yang terdapat dalam bentuk air hidrat litium perklorat (LiClO4.3H2O).
Cara lain, dengan menggunakan membran paladium atau paladium perak (yang permeabel
terhadap gas hidrogen) dikonstruksi sebagai penghasil proton dengan mengoksidasi gas hidrogen
murni yang dialirkan melewati membran. Keuntungan dari cara ini, elektrode tidak dipengaruhi
oleh pelarut yang dipakai dan dapat digunakan untuk pelarut air, pelarut campur dan pelarut bukan
air.
2. Reaksi Pembentukan Kompleks
Pada penentuan logam atau ion logam menggunakan EDTA sebagai bahan pembetuk kompleks.
Peniter EDTA dihasilkan dari reduksi kompleks raksa-EDTA pada katode raksa. Larutan prazat
menggunakan larutan kompleks raksa-EDTA 0,02M, yang didapar pada pH 8,5 menggunakan
larutan 0,1 amonium nitrat. Adanya oksigen dapat menurunkan efisiensi arus, maka harus
dihilangkan dengan nitrogen.
Apabila pembentukan kompleks logam dengan EDTA terlalu lambat, maka larutan baku EDTA
dapat ditambahkan berlebih, dan kelebihannya dititrasi dengan peniter kadmium yang
dibangkitkan pada katode amalgam-kadmium.
3. Reaksi Pengendapan
Penggunaan pada titrasi pengendapan lebih terbatas, karena seringkali reaksi pengendapan terlalu
lambat, terutama pada larutan encer. Penggunaan utama : pada titrasi pengendapan ion perak(I)
oleh anion seperti halida, thiosianat, sulfhidril dan merkaptan.
Anion halida dititasi dengan peniter ion perak(I) yang dihasilkan dari oksidasi anode perak.
Logam perak harus memiliki kemurnian tinggi, pengotor akan menurunkan efisiensi arus.
Titik akhir dapat ditentukan secara visual, potensiometri atau amperometri, memungkinkan
penentuan simultan campuran halida dalam sampel.
Anion halida dapat juga ditentukan menggunakan peniter raksa(I) yang dihasilkan pada anode
raksa.
4. Reaksi Redoks

33

Teori ANALISIS
Penggunaan dalam titrasi redoks sangat luas, melibatkan pembentukan peniter reduktor pada
katode untuk penentuan oksidator, atau pembentukan peniter oksidator pada anode untuk
penentuan reduktor.
Contoh peniter oksidator : ion halida, seri(IV), mangan(V), besi(II), dan sebagainya.
Contoh peniter reduktor : tembaga(I), krom(II), besi(III), dan sebagainya.
Elektrode yang digunakan adalah bahan inert seperti platina atau emas. Elektrode hanya berfungsi
sebagai penghantar elektron, tidak terlibat dalam reaksi.
Titik akhir dapat ditentukan secara visual, potensiometri, amperometri dan biamperomatri.
Penentuan Titik Akhir Secara Potensiometri
Yang diukur adalah perubahan potensial yang terjadi selama titrasi berlangsung, yang proporsional
dengan harga log dari perubahan kadar zat yang dititrasi. Zat yang ditentukan kadarnya mengalami
destruksi oleh penambahan peniter dan metode potensiometri digunakan untuk menentukan titik
akhirnya.
Keuntungan :
1. sensitivitas tinggi
2. dapat digunakan untuk larutan keruh, berfluoresensi, atau berwarna
3. dapat digunakan untuk penentuan campuran zat secara simultan.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kesalahan pada titrasi coulometri
1. variasi arus listrik selama proses elektrolisis
2. kesalahan pada pengukuran arus
3. kesalahan pada pengukuran waktu
4. proses (reaksi elelktrode) tidak memenuhi syarat efisiensi arus 100%
5. kesalahan titrasi yang disebabkan perbedaan antara titik ekuivalen dengan titik akhir.

COULOMETRI II
(Re-New by : Phia)
Prinsip :
Titrasi coulometri merupakan suatu cara penetapan kadar secara elektrometri, berdasarkan pengukuran
muatan listrik yang diperlukan untuk melangsungkan reaksi kimia. Pereaksi dihasilkan secara
elektrolitik (pereaksi antara) dan direaksikan dengan senyawa yang hendak dianalisis. Kondisi titrasi
coulometri yaitu suatu hasil arus kuantitatif elektrolisis dan reaksi stokiometrik antara pereaksi antara
dengan senyawa yang ditentukan. Pengerjaan kuantitatif dilakukan menurut hukum Faraday kedua.
Dalam hal ini berlaku hubungan antara jumlah senyawa dan jumlah elektrisitas:

m=

M .Q
M .i.t
=
96490.z
96490.z

m = Jumlah zat dalam gram (gram)


M = Massa molar peniter (gram/mol)
Q = Jumlah elektrisitas yang diukur dalam Coulomb = Amper . detik
z = Jumlah elektron yang diubah pada elektroda per bagian
i = Arus listrik (Ampere)
t = Lama pengaliran arus (detik)
Analisis coulometrik dapat dilakukan pada tegangan konstan atau pada kekuatan arus konstan.
Jika tegangan dibuat konstan, maka kekuatan arus akan menurun selama analisis. Umumnya
elektrolisis dilakukan pada kekuatan arus konstan dan dengan demikian jumlah elektrisitas Q dan
massa m zat yang diubah dapat dihitung dari lamanya aliran arus.
Elektroda yang dicelupkan ke dalam larutan analisis (elektroda kerja) dapat dipasang sebagai
katode atau sebagai anode dalam lingkaran arus. Umumnya sebagai tambahan potensial diukur

34

Teori ANALISIS
terhadap elekroda pembanding. Lazim juga penggunaan raksa sebagai materi katode (tegangan
berlebih tinggi hidrogen).
(Roth, H.J. dan Blaschke, G., Analisis Farmasi, terjemahan Kisman, S. & Ibrahim, S., 1998, Penerbit
UGM, Yogyakarta, 309-312).
Syarat yang harus dipenuhi pada titrasi Coulometri (Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Organik, 645):
1. Reaksi pembentukan peniter pada elektroda harus terjadi dengan efisiensi arus 100%
2. Reaksi peniter dengan analit harus terjadi seketika dan beraksi secara stokiometri.
Jenis titrasi Coulometri (Willard, Instrumental Methods of Analysis, 714):
1. Analisis Coulometri Primer
Analit yang ditetapkan, bereaksi langsung pada elektroda. Jadi, tidak boleh ada senyawa lain
yang dapat terelektrolisis pada elektroda tersebut sampai tercapai potensial yang tinggi.
2. Analisis Coulometri sekunder
Peniter dihasilkan secara kuantitatif melalui oksidasi atau reduksi larutan prazat pada
elektroda dan bereaksi seketika dengan analit yang ditetapkan.
Penentuan Titik Akhir Titrasi
Metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi titik akhir (Roth, H.J. dan Blaschke, G., Analisis
Farmasi, terjemahan Kisman, S. & Ibrahim, S., 1998, Penerbit UGM, Yogyakarta, 310 dan Vogel,
Kimia Analisis Kuantitatif Organik, 645):
1. Menggunakan indikator kimia, tetapi zat-zat tidak boleh elektroaktif.
2. Menggunakan pengamatan potensiometrik.
3. Menggunakan prosedur amperometrik.
Penggunaan (dapat digunakan untuk alasan pemilihan metode ini)
Coulometri dapat digunakan untuk penentuan jumlah senyawa yang sangat kecil karena
kekuatan arus pada titrasi ini dapat dipertahankan tetap rendah dan juga lamanya waktu aliran arus
dapat diukur secara teliti. Contoh penggunaan : pada titrasi asam basa dan titrasi redoks.
(Roth, H.J. dan Blaschke, G., Analisis Farmasi, terjemahan Kisman, S. & Ibrahim, S., 1998, Penerbit
UGM, Yogyakarta, 310-311).
Keuntungan (dapat digunakan untuk alasan pemilihan metode ini):
1. Tidak diperlukan larutan standar dan sebagai gantinya, Coulomb menjadi standar primer.
2. Reagensia yang tidak stabil, seperti Br, Cl, Ag 2+, dapat dipergunakan karena dibentuk dan
segera dipakai habis.
3. Titran dalam jumlah yang sangat sedikit (skala mikro atau semimikro) dapat dibentuk.
4. Koreksi indikator titik akhir tidak diperlukan dan efek dari zat-zat pengotor dalam larutan
pembentuk dapat dikurangi karena pada titrasi pendahuluan larutan pembentuk sebelum
penambahan contoh, dapat diperoleh hasil yang lebih tepat.
5. Metode mudah diadaptasi untuk pengendalian secara jauh atau jarak jauh, terutama untuk
titrasi bahan-bahan radioaktif atau berbahaya.
(Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Organik, 645)

EKSTRAKSI
(Re-New by : Desy, Shalimah, Afiatusyafiah)
Salah satu cara pemisahan berdasarkan perbedaan sifat kelarutan adalah ekstraksi. Ada dua
cara ekstraksi, yaitu ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair.
1. Ekstraksi padat-cair (Phytopharmaceutical Technology, 1989, halaman 100101)
Ekstraksi padat-cair merupakan cara untuk memisahkan suatu senyawa dari sediaan padat
menggunakan suatu pelarut. Ekstraksi ini melibatkan dua fase yang berbeda, yaitu fase padat
dan fase cair.

35

Teori ANALISIS
2. Ekstraksi cair-cair (Beckett, halaman 286)
Prinsip ekstraksi cair-cair berdasarkan pada perpindahan suatu komponen dari suatu fase cair
ke fase cair lainnya yang tidak bercampur satu sama lain. Proses yang terjadi adalah distribusi
atau partisi komponen tersebut ke dalam dua fase cair yang digunakan. Distribusi suatu
senyawa dalam dua pelarut yang tidak bercampur pada suhu tertentu dinyatakan sebagai
tetapan koefisien distribusi/koefisien partisi (K), yang merupakan perbandingan antara
konsentrasi senyawa yang larut pada pelarut organik dengan konsentrasi senyawa yang larut
pada pelarut air. K dinyatakan sebagai berikut :
K=

Konsentrasi senyawa dalam pelarut organik (C A )


Konsentrasi senyawa dalam pelarut air (C S )

Rumus tersebut dapat diterapkan untuk larutan encer, pelarut yang tidak dapat bercampur,
senyawa yang memiliki bobot molekul yang tidak berubah pada kedua pelarut dan pelarutan
tidak berefek pada ketercampuran pelarut.
Jumlah senyawa yang diekstraksi tergantung pada jumlah zat yang ada, koefisien partisi dan
volume kedua pelarut. Efisiensi proses dapat ditingkatkan denagn meningkatkan volume
pelarut dan meningkatkan frekuensi ekstraksi. Sebagai gambaran dapat dinyatakan bahwa
lebih efektif melakukan 3 kali ekstraksi senyawa larut pelarut organik dengan sejumlah pelarut
organik sama banyak dengan air daripada mengekstraksi sekaligus dengan menggunakan
pelarut organik sejumlah 3 kali air.
Hal ini sesuai dengan persamaan (Panduan Praktikum Kimia Fisika Farmasi, 1996, halaman
56) :

KV

KV
v

Xn = Xo
Dengan

V
Xo
Xn
v
n

:
:
:
:
:

volume larutan awal


banyaknya senyawa awal yang terdapat dalam larutan sebelum titrasi
banyaknya senyawa yang tertinggal dalam larutan setelah n kali titrasi
volume pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi
jumlah ekstraksi yang dilakukan

Sebagai catatan :
Ekstraksi senyawa berdasarkan keasamannya dapat dikira-kira dari teori berikut : Beckett, halaman
286). Untuk senyawa bersifat basa lemah seperti alkaloid :
Kebanyakan senyawa bersifat basa lemah, seperti alkaloid, tidak larut dalam air, tetapi mudah
larut dalam pelarut organik seperti seperti eter dan kloroform. Kecuali alkaloid fenolat, seperti
morfin, yang tidak larut dalam pelarut air dan organik, sehingga dapat diekstraksi dari air
dengan mencampurkan pelarut organic seperti kloroform-etanol.
Garam dari suatu senyawa basa, seperti hidroklorida, sulfat, dll, larut dalam air, tetapi tidak
larut dalam pelarut organik.
Untuk senyawa bersifat asam lemah :
Prinsip umum ekstraksi senyawa asam lemah sama dengan senyawa bersifat basa lemah.
Penambahan asam mineral pada larutan air suatu garam dapat membebaskan asam bebas yang
kemudian dapat terekstraksi oleh pelarut organik.
Prosedur ekstraksi atau pemisahan senyawa dari sediaan biasanya sudah dicantumkan pada monografi
untuk masing-masing tahap, baik identifikasi maupun penetapan kadar.

36

Teori ANALISIS

UJI CEMARAN
(Re-New by : Rika, Tazkiah, Amelia)
1. Uji Batas Arsen
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <321>, hlm.926
Prinsip : Senyawa arsen diubah menjadi arsin yang akan berubah warna menjadi merah
dengan larutan perak dietilditiokarbamat. Intensitas warna merah dibandingkan dengan warna
larutan baku yang diperlakukan sama. Kandungan arsen tidak melebihi batas yang tertera
dalam masing-masing monografi.
Pustaka alternatif :
Prinsip : Uji batas arsen merupakan modifikasi cara Gutzeit, dimana seluruh arsenat direduksi
menjadi arsin (AsH3) dengan seng dan asam klorida. Gas arsin yang terbentuk ditentukan
dengan kertas raksa (II) klorida dan memberikan warna kuning dan dibandingkan dengan noda
pembanding yang mengandung sejumlah arsen.
AsH2
2AsH3 + HgCl2 Hg + 2HCl
AsH2
Noda kuning yang terbentuk dibandingkan dengan noda baku. Garis tengah noda
dipertahankan pada 6,5 mm sehingga warna noda yang dihasilkan sebanding dengan jumlah
arsen yang terdapat dalam bahan atau larutannya.
2. Uji Batas Besi
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <331>, hlm.928
Tujuan : Menunjukkan kandungan besi dalam bentuk Fe(III) dan Fe(II) tidak lebih dari batas
besi yang tertera dalam masing-masing monografi.
Prinsip reaksi : Fe(III) dalam larutan asam klorida bereaksi dengan amonium tiosianat
menghasilkan warna merah. Intensitas warna yang terjadi dari larutan uji dibandingkan secara
visual dengan larutan yang dibuat khusus dari larutan baku besi. Reaksi hanya terjadi pada
Fe(III) oleh karena itu Fe(II) harus dioksidasi terlebih dahulu dengan penambahan amonium
peroksidasulfat.
Fe2+ + S2O62- Fe3+ + 2SO42Fe3+ + 3SCN- Fe(SCN)3 merah

Pustaka alternatif : "Practical Pharmaceutical Chemistry" edisi 3, vol.1, Beckett, p.26-27


Prinsip : Uji ini berdasarkan pembentukan warna ungu hasil reaksi antara besi (II) dengan
asam tioglikolat dalam larutan dapar amonium sitrat. Warna yang terbentuk dibandingkan
dengan larutan pembanding yang mengandung sejumlah besi (0,04 mg Fe). Warna ungu
merupakan koordinasi besi (II) tioglikolat :
2Fe3+ + 2CH2SHCOOH 2Fe2+ + COCH.CH2SSCH2COOH + 2H+

Fe2+ + 2CH2SCHCOOH

CH2SH
CO.O

O.CO
+ 2H+

Fe
HSCH2

3. Uji Batas Klorida

37

Teori ANALISIS

Pustaka utama : FI IV, Lampiran <361>, hlm.931


Prinsip : Larutan uji ditambahkan perak nitrat dalam suasana asam nitrat akan terbentuk
kekeruhan yang akan dibandingkan dengan larutan pembanding yang mengandung sejumlah
volume asam klorida 0,02N yang tertera pada monografi.
Pustaka Alternatif : "Practical Pharmaceutical Chemistry" edisi 3, vol.1, Beckett, p.30
Prinsip : Uji batas klorida berdasarkan reaksi kualitatif ion klorida dengan penambahan perak
nitrat dalam suasana asam nitrat encer menggunakan tabung nessler. Opalesensi yang terjadi
dibandingkan dengan opalesensi larutan pembanding yang mengandung ion klorida yang
diketahui jumlahnya.
Pengamatan dilakukan dengan melihat intensitas kekeruhan menggunakan latar belakang
hitam. Keasaman larutan setara dengan 10 ml asam nitrat encer, hal ini diperlukan terutama
untuk senyawa yang bersifat basa seperti hidroksida logam alkali.

4. Uji Batas Sulfat


Pustaka utama : FI IV, Lampiran <361>, hlm.931
Prinsip : Larutan uji ditambahkan barium klorida dalam suasana asam klorida akan terbentuk
kekeruhan yang dibandingkan dengan larutan pembanding yang mengandung sejumlah
volume asam sulfat 0,02N seperti yang tertera pada monografi.
Pustaka alternatif : "Practical Pharmaceutical Chemistry" edisi 3, vol.1, Beckett, p.33
Prinsip : Uji batas ini bertujuan untuk mengetahui adanya cemaran ion sulfat dengan cara
mengendapkan sulfat menjadi barium sulfat pada penambahan barium klorida dalam suasana
asam klorida dan adanya sesepora barium sulfat untuk menginduksi pengendapan barium
sulfat. Opalesensi larutan dibandingkan dengan larutan pembanding. Keasaman larutan setara
dengan 2 ml larutan asam klorida encer. Kelarutan endapan barium sulfat sangat dipengaruhi
oleh konsentrasi asam.
5. Uji Batas Timbal
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <401>, hlm.936
Prinsip : Analisis kandungan dengan cara diekstraksi menggunakan ditizon kemudian
dianalisis dengan cara diendapkan sebagai garam sulfida.
Pustaka alternatif : "Practical Pharmaceutical Chemistry" edisi 3, vol.1, Beckett, p.20-21
Prinsip : Uji batas timbal berdasarkan pada pembentukan timbal sulfida yaitu suatu koloidal
berwarna coklat hasil reaksi antara cemaran timbal dengan natrium sulfida dalam suasana
sedikit basa yang didapar dengan amonium asetat. Warna coklat dari larutan uji dibandingkan
dengan larutan pembanding.
Penetapan uji batas timbal dipersulit oleh adanya beberapa senyawa yang dapat memberikan
warna pada larutan mengandung koloidal timbal sulfida tersebut. Hal tersebut dapat diatasi
dengan menggunakan 2 larutan yaitu larutan primer dan larutan pembantu. Larutan primer
dibuat dengan melarutkan bahan yang diperiksa dalam suatu pelarut, sedangkan larutan
pembantu dibuat dengan melarutkan sejumlah kecil bahan yang akan diperiksa dalam suatu
pelarut kemudian ditambahkan sejumlah tertentu larutan encer timbal. Intensitas warna
tergantung pada jumlah timbal yang terdapat dalam larutan. Semakin pekat konsentrasinya
maka semakin gelap warna koloidal timbal sulfida yang terbentuk. Sesepora logam lain
terutama Cu dan Fe dapat mengganggu penetapan karena akan bereaksi dengan ion sulfida
membentuk endapan hitam. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan amoniak dan kalium
sianida yang akan membentuk kompleks sianida dengan tembaga dan besi yang larut. Untuk
membandingkan intensitas warna digunakan tabung Nessler dengan melihat larutan dari arah
tegak lurus ke bawah dan tabung diletakkan pada dasar berwarna putih.
6. Uji Batas Logam Berat
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <371>, hlm.931
Prinsip : Pada kondisi penetapan cemaran logam berat bereaksi dengan ion sulfida
menghasilkan warna yang dibandingkan secara visual terhadap larutan baku batas logam berat
yang tertera pada masing-masing monografi, dinyatakan dalam persen (bobot) timbal dalam
zat uji.
Pustaka alternatif :

38

Teori ANALISIS
Prinsip : Uji ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kadar cemaran logam yang dengan
hidrogen sulfida memberikan warna, tidak melebihi batas logam berat yang tertera pada
persyaratan yang dinyatakan sebagai bagian timbal persejuta bagian senyawa yang diperiksa.
Uji dilakukan dengan membandingkan larutan uji terhadap larutan pembanding timbang
dengan menggunakan tabung Nessler.
7. Uji Batas Selenium
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <391>, hlm.936
Prinsip : Untuk mengetahui kadar selenium di dalam zat aktif yang didapat melalui prinsip
destruksi dan ekstraksi. Hasil yang didapat diukur serapannya pada panjang gelombang 380
nm.
Pustaka alternatif :
Prinsip : Selenium bersifat toksik dan kontaminan, yang dikontrol dengan metode absoprsi
setelah dilakukan destruksi dari senyawa organik dengan uap asam nitrat. Selanjutnya
selenium sebagai asam seleneous yang diperlakukan dengan 3,3-diaminobenzidin di bawah
kondisi terkontrol, memberikan warna yang intensitasnya tinggi piazselenol. Kemudian
diekstraksi dengan toluen setelah dibasakan dan warna yang terbentuk dibandingkan dengan
standar yang telah diketahui jumlah seleniumnya.
8. Uji Batas Raksa
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <381>, hlm.934
Prinsip : Analisis kandungan raksa dengan cara titrasi menggunakan ditizon, sampel terlebih
dahulu diendapkan dalam suasana asam dan diekstraksi dengan kloroform.
9. Uji Natrium, Kalium dan Kalsium
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <351>, hlm.930
Prinsip : Menggunakan fotometer nyala, dimana unsur-unsur natrium, kalium dan kalsium
merupakan unsur-unsur yang mempunyai spektrum nyala yang mudah tereksitasi dengan
intensitas yang cukup untuk dideteksi dengan sebuah fotosel.
10. Cemaran Senyawa Organik Mudah Menguap
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <471>, hlm.943
Prinsip : Analisis pelarut mudah menguap dalam bahan baku atau sediaan menggunakan
kromatografi gas biasanya kromatografi gas dengan teknik dinamika ruang kosong di bagian
atas dengan detektor tertentu.
Pustaka alternatif :
Prinsip : Metode ini digunakan untuk menetapkan cemaran senyawa organik mudah menguap
dalam bahan uji yang berasal dari pelarut-pelarut organik yang digunakan dalam proses
pembuatan, penanganan dan penyimpanan bahan. Metode kromatografi gas dapat digunakan
untuk beberapa senyawa yang mudah menguap yang penguapannya tidak kuantitatif pada
pengeringan suhu 105C. prinsip kromatografi gas didasarkan atas partisi zat yang akan
dianalisis antara dua fase yang saling kontak tetapi tidak bercampur. Partisi tercapai melalui
absorpsi atau adsorpsi atau proses keduanya.
11. Zat Mudah Terarangkan
Pustaka utama : FI IV, Lampiran <411>, hlm.938
Prinsip : Membandingkan warna larutan zat dalam H2SO4 P dengan larutan padanannya
(biasanya dalam monografi sudah disebutkan) yang terdapat dalam wadah banding dari kaca
tidak berwarna, tahan asam dan mempunyai ukuran yang sama pada bagian dalam dan
penampang melintangnya. Kadar H2SO4 yang dipakai : 95,07 0,5%.

39

Teori ANALISIS

UJI UNTUK GUGUS FUNGSI


(Re-New by : Phia)
Pustaka : Catatan Kimia Analisis Farmasi
Gugus fungsi adalah kumpulan atom-atom dari suatu molekul yang memberikan peranan
besar terhadap sifat fisikokimia suatu senyawa organik. Sifat fisikokimia adalah kelarutan/sekaligus
polaritas, reaktifitas, kereaktifan suatu pereaksi, keasaman-kebasaan, selain sifat fisikokimia juga
dipengaruhi oleh sifat bioaktivitas.
Hampir semua senyawa mmiliki gugus fungsi, uji gugus fungsi menrupakan tahap tahap yang paling
penting dalam penentuan kuantitatif setelah ditentukan analsisi kualitatif dari unsur ini, setelah itu kita
bisa tentukan kadar dengan gugus fungsinya. Kadar suatu senyawa harus ditentukan berdasarkan
gugus fungsi yang memiliki peranan dalam bioaktivitas.
- Hidroksi alkana

R OH

Alkohol, R = aril
Fenol, R = aril
- Karbonil (aldehida & keton), (RCHO dan RCOR)
- Karbokslat R-COOH dan ester R-COO-R
- amida, R-CO-NH2 dan amida siklik

- Sulfidril = merkaptam = tiol R-SH


- Amin, primer = - NH2, sekunder = - NHR, dan tersier = - NR2
- Nitro

A. ALKOHOL
Senyawa hidroksi yang berikatan dengan radikal alifatik, umumnya netral dan larut dalam air/dioksan
R OH (alkil, alifatik)

RO- + H+

Stearil alkohol (contoh alkohol yang tidak larut air, R-nya panjang namun pada umumnya larut dalam
dioksan.
Jenis-jenis alkohol :
Alkohol primer

Alkohol sekunder

Alkohol tersier

Reaksi Umum
a. Reaksi dengan Na
R-OH + Na R-ONa + H2

40

Teori ANALISIS
b. Rx oksidasi oleh Ce(IV)
Ce(IV) warna kuning ada alkohol warna merah
R-OH + Ce(IV) merah
Ar + Ce(IV) hijau coklat
c. Pembentukan ester
R-OH + R-COOH R-COO-R (harum) + H2O
d. Uji pembentukan Xantat
menggunakan pereaksi CS2
R-OH + KOH ROK + H2O
R-OH + CS2 Xantat (kuning/beracun)
Reaksi pembedaan
Dilakukan berdasarkan reaksi oksidasi alkohol
a. Oksidasi
R-OH RCHO merah (menggunakan pereaksi schiff)
Untuk reaksi oksidasi alkohol dapat digunakan KMnO4
untuk membedakan antara alkohol monovalen dan polivalen dapat digunakan reaksi malaprada, yaitu :

R-OH direaksikan dengan NAIO4 tidak bereaksi (tidak menunjukkan hasil)

-C(OH)-C(OH)- direaksikan dengan NAIO4 terbentuk aldehid

Selain itu, alkohol polivalen juga dapat dideteksi dengan pereaksi H 3BO3. Apabila alkohol polivalen
direaksikan dengan H3BO3akan terjadi peningkatan keasaman H3BO3.
CH2(OH)-CH(OH)-CH2OH + H3BO3 keasaman meningkat
b. Reaksi Lucas
peraksi lucas : ZnCl2 anhidrat + HCl (p)
Apabila pereaksi lucas ditambahkan kepada alkohol, dan menunjukkan ciri-ciri :
1. Terbentuk larutan jernih maka alkohol tersebut diduga alkohol primer
2. Terbentuk larutan keruh maka alkohol tersebut diduga alkohol sekunder
R2CH-OH + HCl

ZnCl2

R2CH-Cl +

H2O

3. Terbentuk endapan maka alkohol tersebut diduga alkohol tersier


ZnCl2
R3C-OH + HCl
R3C-Cl +
H2O
c. Uji
kromat
Terjadinya oksidasi brutal, terutama dalam H2SO4 p
Pereaksi : krom trioksida dalam H2SO4 p
Alkohol primer dan sekunder teroksidasi menjadi asam dan keton, krom akan memberikan endapan
warna hijau.
R-OH RCOOH + Cr2(SO4)3 (endapan hijau)
R2CH-OH R3C=O + Cr2(SO4)3 (endapan hijau)
R3C-OH akan tetap berwarna jingga
d. Uji Vanadium oksim (8-hidroksi kuinolin)
Campuran Amonium vanadat dan 8 hidroksi kuinolin
Dalam asam encer, jika alkohol ditambahkan dengan pereaksi, akan :

41

Teori ANALISIS
R-OH merah (cepat)
R2CH-OH jingga (cepat)
R3CH-OH lama-lama menjadi jingga
B. FENOL/ARIL ALKOHOL
Senyawa hidroksi yang berikatan dengan radikal aril aromatik, fenol akan larut dalam NaOH 5%
membentuk fenolat.

Reaksi umum
a. Reaksi dengan FeCl3 (ditambahkan 1-3 tetes FeCl3)
- Reaksi oksidasi Fe3+ oksidasi Fe2+ (ferro) apabila direaksikan dengan enol polivalen.
Contoh :
Fe3+ + ArOH Fe2+
- Reaksi pembentukan pembentukan garam : garam fenolat
ArOH (ArO)3Fe + H2O
Reaksi pada umumnya menghasilkan warna berbeda tergantung fenol yang diperiksa, fenol bertindak
sebagai reduktor terutama fenol polivalen.
Contoh :
a. resorsinol, kresol biru + violet
b. -naftol pink
- Reaksi Lieberman
pembentukan indofenol reaksi positif untuk fenol dengan posisi para yang bebas/kosong
NaNO2/H2SO4
HNO3
Indofenol (merah pada suasana basa)
Preview gugus fenol
1. Pada umumnya tidak berwarna, namun karena adanya udara dapat teroksidasi menjadi
berwarna
2. Merupakan asam lemah
3. Larut dalam NaOH 5%
Klasifikasi :
1. Fenol monovalen (OH = 1)
2. Fenol polivelen (OH>1), lebih reduktif dari pada fenol monovalen
Reaksi umum
1. FeCl3 larutan 0,2% dalam air
akan menghasilkan warna yang bermacam-macam, contoh : dengan resorsinol akan terbentuk warna
biru
Reaksi yang terjadi adalah :
- 6C6H5OH + FeCl3 garam besi fenolat + 3HCl + 3H+

42

Teori ANALISIS
- Fe3+ + fenol Fe3+ terjasi reduksi
2. Uji Lieberman
yaitu dengan pembentukan indofenol warna yang terbentuk warma merh terlebih dahulub setelah
ditambahkan NaOH lalu akan terbentuk warna biru. Reaksi ini posotif untuk senyawa yang mamiliki
gugus para bebas.
3. Uji pelelehan ftalin
digunakan anhidrida asam ftalat.
C. GUGUS KARBONIL
1. Bersifat netral dan mengandung gugus RCHO (aldehid) dan CO (keton)
2. Aldehid lebih reaktif daripada keton
3. Reaksi umum : adisi dan reduksi
Aldehid (RCHO) reduktif mengalami reaksi oksidasi
a. Reaksi dengan tollen
campuran AgNO3 dalam NH4OH dibuat segar, maka akan terbentuk cermin perak, aldehid akan
teroksidasi.
RCHO + 2AgNH3+ 2Ag (endapan) + RCOO- + NH4+ + H2O + NH3
Aldehid alifatik + aromatik akan memberikan reaksi positif
b. Fehling/Benedict/barfoed
ketiganya mengandung Cu2+, hanya beda pH-nya. Fehling baersifat basa, Benedict bersifat
kurang basa karena ada sitrat, Barfoed bersifat netral
RCHO + Cu(OH)2+ Cu2O + RCOO- + 3H2O
c. Uji Schiff
pereaksi schiff adalah larutan air yang mengandung fuchsin, akan terbentuk warna pink
Keton (CO)
Semua reaksi pada aldehid akan negatif pada keton
a. Uji Legal-Rothera
Dengan reaksi Na-nitroprusida /NH3+, keton akan memberikan warna merah ungu
b. Iodoform
Tidak semua keton akan bereaksi, karena reaksi ini hanya posotif pada gugus COCH 3
RCOCH3 + NaOH 10% + KI akan terbrntuk warna kuning coklat
kadang-kadang terjadi warna kuning (CHI3) dalam susana dingin atau dipanaskan
RCOCH3 + 4NaOH + 3I2 CHI3 + RCOONa + 3NaI + H2O
c. Uji m-dinitrobenzen
Reaksi spesifik untuk metil keton
Metil keton + dinirobenzen akan terbentuk warna merah
Senyawa aldehid dan keton dapar dibedakan dari senyawa-senyawa lain melalui reaksi adisinya,
adisinya memberikan H2O sehingga disebut reaksi kondensasi.
Uji menggunakan Hidrazon pereaksi = 2,4-dinitrofenilhidrazin dalam HCl pekat

43

Teori ANALISIS
Gula/glukosa + fenilhidrazin glukosazon
D. GUGUS KARBOKSILAT
a. RCOOH RCOO- + H+ (Sifat keasaman > dari fenol)
b. Larut dalam air s.d. C5, tidak larut apabila > dari C5
Reaksi umum
a. Dengan lakmus biru akan berwarna merah
b. NaHCO3 + gugus karboksilat CO2
CO2 ditangkap dengan air kapur (keruh)
c. esterifikasi
RCOOH + ROH RCOO-R + H2O
Digunakan H2SO4 sebagai dehidrator
E. ESTER
Reaksi umum
a. Penyabunan (hidrolisis ester dengan NAOH
RCOO-R + NaOH RCOO-Na (sabun) + R-OH
Disebut uji fenolftalein, jadi NaOH semua merah karena terwarnai oleh fenolftalein, namun karena
ester dipanaskan dengan NaOH, NaOH akan bereaksi maka fenolftalein warnanya jadi hilang
b. Uji asam hidroksamat
R-(C=O)-X (asil, amida, ester) + NH2OH R-(C=O)-NHOH + X
R-(C=O)-NHOH (asam hidroksamat) + Fe3+ terbentuk warna merah + 3HCl
F. GUGUS AMIN
a. Bersifat basa, namun sifat basa tergantung pada R. R alifatik umumnya bersifat basa tapi kalau R
aromatik bersifat netral.
R-NH2 + H+ RNH3+
b. Memiliki bau yang khas
c. Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam asam mineral
Reaksi umum
a. Diazotasi
R-NH2 + NaNO2 + H+ R-N2+ (diazo)
- R alifatik cepat terbentuk dan tidak stabil
R-N2+ + H2O R-OH + N2
- R arommatik tahan dibawah t = 15o. Jika > 15o terurai menjadi gas N2, sehingga digabung
dengan -naftol biar tidak terbentuk gas N2
R-N2+ (amin aromatik primer) + -naftol berwarna
b. pDAB.HCl (dimetil aminobenzaldehid)
terjadi perubahan amin imin
R-NH2 + HOCR RN=CHN (imin, terbentuk endapan kuning merah)

44

Teori ANALISIS
c. Reaksi korek api
Dari batang korek api yang mengandung lignin. Amin dalam HCl p dicelupkan batang korek api
warna jingga
d. Uji Karbilamin
G. AMIDA
Merupakan hasil reaksi asam karboksilat dengan amin (R-CO-NH 2)
Untuk membedakan amina primer, sekunder dan tersier digunakan reaksi Hinsberg (p-toluen
sulfonil klorida dalam NaOH)
R3N

R2NH +

idem

RNH2 +

idem

Reaksi umum
a. Pembebasan NH3 jika direaksikan degan NaOH
RCONH2 + NaOH NH3 + RCOOH
b. Reaksi hidroksamat
H. NITRO (-NO2)
Contoh : TNT
Reaksi umum
a. Reuksi menjadi senyawa amin
RNO2 + Zn/HCl RNH2
b. Uji Fe(OH)2
Pelarut harus dibuat sendiri, dibuat daripereaksi in situ (langsung terbentuk disitu). Fe (ammonium
sulfat) segar + H2SO4 (untuk menekan agar teroksidasi) + NaOH lalu terbentuk warna coklat
merah (endapan)
I. SENYAWA TAK JENUH (ikatan rangkap)
a. Uji Brom
warna brom jadi hilang
b. Uji Baeyer
Warna ungu KMnO4 hilang
c. Uji Denige
terbentuk endapan kuning
d. Uji Berthelot
terbentuk endapan nerah kuning
Selamat Belajar
From : Tim Analisis 2005

45