Anda di halaman 1dari 12

LO 1 Cara pemeriksaan

MACAM-MACAM PEMERIKSAAN
Pemeriksaan terhadap pasien yang datang ke dokter gigi tiga macam yaitu:
1. Pemeriksaan Darurat
Yang dimaksud dengan pemeriksaan darurat ialah pemeriksaan yang
dilakukan pada pasien yang datang dalam keadaan akut,jadi dapat dilakukan
pemeriksaan langsung pada apa yang dikeluhkan pasien, kemudian dapat
menentukan diagnosanya dan melakukan perawatan pada keluhan utama
tersebut.
Pemeriksaan lengkap pada pasien ini dilakukan pada kunjungan
berikutnya setelah keluhan utama dapat diatasi. Contoh kasus yang
memerlukan pemeriksaan darurat, yaitu :
a. Gangren Pulpa tertutup
Terapi : berikan antibiotik dan analgetik. Bila mungkin lakukan
trepanasi untuk membuka saluran akar sehingga gas gangren atau gas H2S
dapat keluar.
b. Pulpitis akut
Terapi : Berikan EF (Eugenol Fletcher) untuk mengurangi rasa sakit,
bila mungkin dapat juga dilakukan pulpotomi vital formokresol (untuk
gigi sulung) atau pemberian analgetik.
c. Abses disertai trismus
Pada keadaan yang demikian, berikan terlebih dulu antibiotik dan
setelah setelah pasien dapat membuka mulut, lakukan pemeriksaan untuk
mengetahui penyebabnya. Sedangkan trismus derajat satu penyebabnya
dapat diperiksa dengan membuka mulut perlahan-lahan.
2. Pemeriksaan Ulang (pemeriksaan berkala)
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan lanjutan dari pemeriksaan
sebelumnya. Secara objektif dipakai untuk menilai :
- Hasil perawatan yang telah dilakukan
- Pemeliharaan kesehatan gigi
- Mencatat perubahan yang terjadi

Pemeriksaan ulang dilakukan 3 bulan/6 bulan/1 tahun sekali,


tergantung keadaan gigi pasien.Jika pasien memiliki karies yang aktif, dapat
dilakukan kunjungan berkala tiap 3 bulan sekali.
3. Pemeriksaan Lengkap
Pada kunjungan pertama sebaiknya hanya untuk memperkenalkan
pada anak bagaimana rasanya memeriksakan gigi dan memlihatkan bahwa ini
adalah pengalaman yang menyenangkan. Pemeriksaan terhadap anak
hendaknya dilakukan perlahan-lahan, jangan tergesa-gesa dan alat yang
digunakan hendaknya dibatasi untuk menghindari rasa takut. Yujuan
kunjungan pertama, diantaranya :

Menciptakan komunikasi dengan anak dan orang tua.

Mendapatkan keterangan tentang riwayat pasien.

Memeriksa anak dan untuk mendapatkan ronsen foto bila diperlukan.


Melakukan prosedur perawatan sederhana
a. Profilaksis, yang dilakukan hanya pada gigi depan, termasuk

pembuangan kalkulus bila diperlukan.


b. Topikal apliksi fluor.
Menjelaskan tujuan perawatan pada anak dan orang tua.
a. Tekankan perlunya tindakan pencegahan dan operatif.
b. Memberikan perkiraan jumlah kunjungan yang diperlukan untuk
menyelesaikan perawatan.
Prosedur yang dianjurkan pada pemeriksaan lengkap dilakukan pada

kunjungan pertama yang meliputi :


Pencatatan Riwayat
Pencatatan riwayat dilakukan untuk memberikan informasi yang
berguna untuk diagnosis dan rencana perawatan. Diharapkan kecemasan
yang dirasakan anak dapat berkurang. Apabila anak sulit untuk dilakukan
pemeriksaan pada dental chair, maka anak dapat duduk di dental chair di
pangkuan ibu dengan kepala menyandar pada lengan kiri ibu. Pada posisi
seperti ini anak cenderung lebih merasa tenang dan ibu dapat mengontrol
gerakan gerakan dari anak.

a. Pencatatan Riwayat Sosial


Meliputi nama, alamat, sekolah, kelas, saudara, pekerjaan ayah dan
ibu, serta riwayat lain.
b. Pencatatan Riwayat Gigi
KELUHAN : Apakah pasien datang dengan keluhan atau tidak.
Jika tidak, biasanya pasien datang untuk pemeriksaan rutin. Bila ada
keluhan, maka keluhan ni dapat digunakan untuk menegakkan
diagnose.
RIWAYAT KELUHAN : Jika ada keluhan sakit gigi, sebaiknya
kita mencari dimana lokasinya, kapan mulai terjadi keluhannya, dan
bagaimana rasa sakitnya, terus menerus atau hanya sesekali.
RIWAYAT KESEHATAN GIGI : Apakah pernah melakukan
perawatan gigi, dilakukan secara teratur atau tidak. Jika ya mengapa
diganti, perlu ditanyakan karena bila anak pernah mengalami trauma,
kemungkinan untuk menumbuhkan rasa percayanya lebih sulit,
sehingga dokter gigi pengganti harus lebih berhati-hati.
SIKAP ANAK : Sikap anak yang kurang koperatif selama
perawatan

harus

dipertimbangkan

dalam

rencana

perawatan

mendatang. Namun bila anak tersebut kooperatif maka akan lebih


mudah bagi dokter gigi untuk melakukan perawatannya.
SIKAP ORANG TUA : Sikap orang tua terhadap perwatan gigi
perlu diketahui. Bila sikap dan harapan orang tua terhadap perawatan
gigi sangat berbeda, jangan lakukan perawatan sebelum menjelaskan
dan menimbang baik buruknya.
c. Pencatatan riwayat medis
Pencatatan riwayat medis berupa penyakit sistemik yang diderita
oleh anak. Hal ini dapat ditanyakan langsung kepada orang tua,
misalnya penyakit jantung kongenital, demam rematik, kelainan darah,
dan lain-lain.

Apakah pasien pernah dirawat di Rumah Sakit. Fungsi riwayat


apakah pasen pernah dirawat di rumah sakit atau tidak adalah untuk
mengerahui apakah ada traumatik psikologi atau tidak. Apabila anakanak pernah menerima perawatan khususnya perawatan dengan
general anastesi atau operasi biasanya akan menyebabkan trauma
psikologis pada anak-anak yang biasanya akan dibawa sampai
prosedur perawatan gigi. Jika diketahui adanya riwayat ini maka
sebaiknya operator menyipkan prosedur perawatan yang dapat
mengurangi rasa takut saat perawatan.

Pemeriksaan pada anak


a. Ekstra Oral
Pemeriksaan ekstra oral terdiri dari beberapa pemeriksaan di
antaranya adalah:
Bentuk muka
Bentuk muka dilihat apakah simetris atau asimetris. Asimetris
dapat disebabkan karena adanya pembengkakan di luar mulut atau
terdapat kelainan sejak lahir
Penampilan umum yaitu berat dan tinggi badan
Cara berjalan
Cara berjalan dapat diketahui ketika pasien pertama kali datang
ke tempat praktek
Warna kulit dan corak
Mata
Pada pemeriksaan mata dapat dilihat bola mata, sklera, pupil
dan konjunctiva
TMJ
Kelenjar getah bening atau limfe
Pemeriksaan kelenjar getah bening dilakukan dengan cara
menginstruksikan anak untuk menunduk kemudian dilakukan
perabaan di daerah submandibularis kiri dan kanan. Apabila terasa
lunak dan sakit maka terdapat adanya inflamasi akut di sekitar
mulut. Sedangkan bila perabaan terasa kenyal dan tidak sakit,
terdapat adanya inflamasi kronik.

Kelenjar parotis
Pemeriksaan kelenjar parotis perlu dilakukan dengan cara
melihat dan meraba pipi atas di depan telinga. Pada anak yang
menderita parotitis akan terlihat membesar, menonjol dan terasa
sakit. Pembengkakan kelenjar parotis dapat dibedakan dengan
pembengkakan pada rahang atas yang disebabkan oleh penjalaran
infeksi gigi. Perbedaan tersebut dapat diketahui dari gejala klinis,
lokasi dan tanda-tanda lain. Gigi anak yang menderita parotitis
kadang-kadang tidak terdapat adanya gigi yang karies walaupun
anak seperti merasakan sakit gigi dan terlihat pembengkakan ekstra
oral di bagian pipi atas.
b. Intra Oral
Pemeriksaan intra oral dilakukan pada jaringan lunak dan
jaringan keras rongga mulut, meliputi:
Jaringan Lunak

Pipi dan bibir bagian dalam


Diperiksa dengan cara menarik pipi dan bibir secara bergantian,
sehingga mukosa labial dan mukosa bukal dapat terlihat.
Pemeriksaan mukosa bukal dapat dilakukan dengan bantuan kaca
mulut. Selanjutnya diamati apakah terdapat pembengkakan atau

perubahan lain.
Gingiva
Pemeriksaan gingiva meliputi warna, ukuran, bentuk atau
kontur dan konsistensinya. Sewaktu erupsi gigi, biasanya gingiva
dapat membengkak, sakit (terutama bila terkena trauma gigi
antagonisnya) dan meradang. Pada anak-anak, adanya gigi yang
mengalami gangren pulpa sering disertai fistel pada gingiva karena

abses parodontal.
Lidah dan tonsil
Pemeriksaan lidah dapat dilakukan secara visual pada setiap
sisi lidah atau bila sulit dapat dilakukan dengan bantuan kaca
mulut. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menginstruksikan pada

anak untuk menjulurkan lidah. Periksa ukuran, bentuk, warna dan


pergerakannya. Umumnya, permukaan lidah pada anak memiliki
tekstur yang licin dan halus, karena papila filiformisnya relatif
pendek. Periksa pula frenulum lingualisnya. Frenulum lingualis
yang pendek dapat menahan pergerakan lidah ke depan, sehingga
pergerakan menjadi terbatas. Selain itu, periksa juga bagian dasar
mulut, khususnya pada anak yang mengalami kesulitan berbicara.
Bila ditemukan adanya ulserasi atau pembengkakan pada daerah
tersebut, maka kemungkinan besar hal itulah yang menjadi faktor
penyebab gangguan berbicara pada anak.
Selanjutnya untuk memeriksa tonsil, dapat dilakukan dengan
cara menekan lidah menggunakan kaca mulut atau tongue blade.
Bila terdapat perubahan warna atau pembengkakan pada tonsil,
maka menunjukkan bahwa sedang terjadi peradangan pada rongga

mulut.
Palatum
Agar operator dapat melihat keadaan palatum dengan mudah,
maka dapat dilakukan dengan memposisikan bagian kepala pasien
agak menengadah dan pemeriksaan dibantu dengan menggunakan
kaca mulut. Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan ini
adalah ada atau tidaknya pembengkakan dan lesi pada jaringan
lunak dan keras palatum, bentuk (cekung, sempit, lebar, dsb),
konsistensi, serta warna dari palatum. Untuk mengetahui
pembengkakan dan konsistensinya dapat dilakukan dengan cara
palpasi.

Jaringan Keras

Gigi
Jaringan keras yang diperiksa pada pemeriksaan intra oral
adalah gigi. Pemeriksaan gigi dilakukan secara menyeluruh dengan
menggunakan kaca mulut, ekskavator, dan juga pinset. Hal yang

harus diperhatikan diantaranya adalah apakah ada gigi yang


tanggal prematur dan gigi persistensi, karena kedua kondisi
tersebut dapat mengganggu susunan gigi dan juga perkembangan
dari lengkung rahang. Selain itu, dilakukan pula pencatatan
mengenai adanya kelainan jumlah, struktur, warna dan bentuk gigi.
Pada penulisan kartu status pasien, gigi yang belum erupsi
dilingkari, gigi yang sudah dicabut diberi tanda silang, dan untuk
gigi karies ditandai dengan sebesar apa kedalamannya, apakah itu
karies superfisialis, media, atau profunda.
Apabila telah diketahui bahwa karies pada gigi adalah karies
profunda, terutama yang telah perforasi, maka perlu dilakukan tes
vitalitas gigi untuk menentukan keadaan pulpa. Tes vitalitas yang
biasa digunakan adalah tes termal, tes listrik, dan tes jarum miler.
Pemeriksaan tentang kebersihan rongga mulut dengan index
OHI atau OHI-S. Index OHI dan OHIS adalah jumlah dari Debris
Index dan Kalkulus Index.
Pemeriksaan OHI-S
Pengukuran kebersihan gigi mulut dapat dilakukan dengan
Oral Hygiene Index Simplified dari Green dan Vermillion. OHI-S
diperoleh dengan menjumlahkan Debris Index dan Kalkulus Index.
OHI-S = Debris Index (DI) + kalkulus Index (CI)
Untuk menilai kebersihan gigi dan mulut seseorang yang
diamati adalah adanya debris (plak) dan kalkulus pada permukaan
gigi. Pemeriksaan dilakukan pada 6 sextan rongga mulut.
Penilaian Debris Index

a. Untuk pemeriksaan menggunakan alat sonde atau Periodontal


explorer. Pertama-tama dilakukan pemeriksaan debris pada 1/3
permukan incisal gigi, jika pada daerah ini ada debris maka
nilai untuk gigi tersebut adalah 3. Sonde diletakkan secara
mendatar pada permukaan gigi.
b. Bila pada daerah 1/3 incisal tidak ada debris yang terbawa
sonde, pemeriksaan dilanjutkan pada bagian 1/3 tengah. Jika
ada debris yang terbawa oleh sonde dibagian ini, nilai untuk
gigi tersebut adalah 2.
c. Jika pada pemeriksaan di daerah 1/3 tengah tidak ada ada
debris yang terbawa sonde, pemeriksaan dilanjutkan ke 1/3
bagian servikal. Jika ada debris yang terbawa sonde pada
bagian ini, penilaian utuk gigi tersebut adalah 1.
d. Jika pada pemeriksaan di daerah 1/3 servikal tidak ada debris
yang terbawa sonde (bersih), penilaian untuk gigi tersebut
adalah 0.
Rumus Debris Index (DI) :
DI =

Jumlah nilai debris


Jumlah gigi yang di periksa

Penilaian kalkulus indeks


a. pada pemeriksaan kalkulus perlu diperhatikan lokasi
kalkulus, supraginggiva atau subgingiva.

b. untuk memperoleh kalkulus indeks, cara pemeriksaan


hampir sama dengan pemeriksaan untuk memperoleh debris
indeks.
Score/criteria
0 : tidak ada calculus
1 : supragingival calculus menutupi tidak lebih 1/3 permukaan
gigi
2 : supragingival calculus menutupi lebih 1/3 s.d tidak lebih
2/3 permukaan gigi / subgingival calculus sedikit
3 : supragingival calculus menutupi lebih 2/3 permukaan gigi /
subgingival calculus banyak
Rumus Calculus Index (CI) :
CI =

Jumlah nilai calculus


Jumlah gigi yang di periksa

OHI-S atau Oral Hygiene Index simplified ini merupakan


penjumlahan debris indeks dan kalkulus index. Penilaian OHI-S
score adalah sebagai berikut.
1. Baik, apabila nilai berada di antara 0 1,2
2. Sedang, apabila nilai berada di antara 1,3 3,0
3. Buruk, apabila nilai berada diantara 3,1 6,0

Cek Oklusi
Selain dilakukan pemeriksaan pada jaringan keras dan jaringan
lunak rongga mulut, perlu pula dilakukan cek oklusi pada gigi
geliginya. Oklusi merupakan kontak maksimum antara gigi-geligi pada

rahang atas dengan rahang bawah dimana lengkung gigi geligi atas dan
bawah dalam keadaan tertutup. Yang perlu kita periksa adalah keadaan
oklusinya termasuk dalam kelas I, kelas II, atau kelas III dan juga ada
atau tidaknya gigitan dalam, cross bite (gigitan silang), atau open bite
(gigitan terbuka).
Selain itu juga perlu dilihat untuk keadaan garis median gigi
geliginya dan dapat dilakukan penilaian skor garis median. Penilaian
skor ini dinilai dari hubungan garis tengah lengkung gigi atas terhadap
lengkung gigi bawah. Garis tengah lengkung gigi diwakili oleh garis
pertemuan kedua gigi insisivus sentral rahang atas terhadap garis
pertemuan kedua gigi insisivus sentral rahang bawah.

Skor:
0 Tidak ada pergeseran garis median - lebar gigi insisivus bawah
1 Terdapat pergeseran sebesar - dari lebar gigi insisivus bawah
2 Terdapat pergeseran cukup besar, yakni > lebar gigi insisivus
bawah
METODE DIAGNOSA
1. Mengumpulkan data
Fakta historis dari riwayat pasien perlu disusun secara sistematis dan
berurutan serta berhubungan untuk membantu dokter gigi dalam menentukan
diagnosa awal yang berguna untuk mengatasi penjalaran proses penyakit
sehingga dapat diberikan penanganan yang tepat dan cepat terhadap kasuskasus emergency. Misalnya pada acute necrotizing gingivitis memerlukan
pemberian obat segera dan terapi klinis.

2. Evaluasi data
Dokter harus kritis dalam mengevaluasi data yang telah dikumpulkan
dihubungkan dengan seluruh gambaran klinis dan keluhan pasien.
3. Membuat diagnosa
Diagnosa akhir disusun berdasarkan riwayat, pemeriksaan klinis dan tes
laboratorium terhadap penyakit yang diderita pasien agar didapatkan diagnosa
yang akurat serta rencana perawatan yang tepat.

Soeparmin, Soesilo. 2014. Pedodontic Treatment Triangle Berperan Dalam


Proses

Keberhasilan

Perawatan

Gigi

Anak.

E-Jurnal

FKG

UNMAS,

INTERDENTAL, 8 (2): 1-5.


Suwelo, Ismu Suharsono. 1991. Petunjuk Praktis Sistem Merawat Gigi Anak di
Klinik, Diagnosis dan Rencana Perawatan. Jakarta : EGC.
Cameron, Angus C., Widmer, Richard P. 2003. Handbook of Pediatric Dentistry
Second Edition. Philadelphia : Mosby.
Andlaw, R J., Rock, W P. 1992. Perawatan Gigi Anak Edisi 2. Jakarta : Widya
Medika.