Anda di halaman 1dari 44

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus,
membentuk skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton
(tulang cranium, costa dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi
medulla spinalis dan serabut syaraf, menyokong berat badan dan berperan
dalam perubahan posisi tubuh. Vertebra pada orang dewasa terdiri dari 33
vertebra dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5
sacral, 4 coccigeal.

Gambar.2.1 : Tulang belakang (sumber: Atlas of Human Anatomy, 2006)


1. Bagian depan
Bagian ini struktur utamanya adalah badan tulang belakang (corpus
vertebrae) Bagian ini fungsi utamanya adalah untuk menyangga berat badan.
Di antara dua korpus vertebra yang berdekatan dihubungkan oleh struktur

yang disebut diskus intervertebralis yang bentuknya seperti cakram,


konsistensinya kenyal dan berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber).
2. Bagian belakang
Bagian belakang dari ruas tulang belakang ini fungsinya untuk :
Memungkinkan terjadinya pergerakan tulang belakang itu sendiri. Hal ini
dimungkinkan oleh karena di bagian ini terdapat dua persendian.
Fungsi perlindungan, oleh karena bagian ini bentuknya seperti cincin dari
tulang yang amat kuat dimana di dalam lubang di tengahnya terletak
sumsum tulang belakang (medulla spinalis/spinal cord).
Fungsi stabilisasi. Karena fungsi tulang belakang untuk manusia adalah
sangat penting, maka fungsi stabilisasi ini juga penting sekali. Fungsi ini
didapat oleh kuatnya persendian di bagian belakang yang diperkuat oleh
adanya ligamen dan otot-otot yang sangat kuat. Kedua struktur terakhir
ini menghubungkan tulang belakang baik dari ruas ke ruas yang
berdekatan maupun sepanjang tulang belakang mulai dari servikal
sampai kogsigeal.
Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut :
a. Vetebra Cervicalis
Vertebra cervicalis ini memiliki dens, yang mirip dengan pasak.
Veterbrata cervicalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai
prosesus spinosus paling panjang.
Atlas (C1) adalah vertebra cervicalis pertama dari tulang belakang.
Atlas

bersama

dengan

Axis

(C2)

membentuk

sendi

yang

menghubungkan tengkorak dan tulang belakang dan khusus untuk


memungkinkan berbagai gerakan yang lebih besar. C1 dan C2
bertanggung jawab atas gerakan mengangguk dan rotasi kepala. Atlas
tidak memiliki tubuh. Terdiri dari anterior dan posterior sebuah
lengkungan dan dua massa lateral. Tampak seperti dua cincin. Dua
massa lateral pada kedua sisi lateral menyediakan sebagian besar massa
tulang atlas. Foramina melintang terletak pada aspek lateral.
Axis terdiri dari tonjolan tulang besar dan parsatikularis
memisahkan unggulan dari proses artikularis inferior. Prosesus yang

mirip gigi (ondontoid) atau sarang adalah struktur 2 sampai 3 cm


cortico cancellous panjang dengan pinggang menyempit dan ujung
menebal. Kortikal berasal dari arah rostral (kearah kepala) dari tubuh
vertebra.
b. Vertebra Thoracalis
Ukurannya semakin besar mulai dari atas ke bawah. Corpus berbentuk
jantung, berjumlah 12 buah yang membentuk bagian belakang thoraks.
c. Vertebra Lumbalis
Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk
ginjal,berjumlah 5 buah yang membentuk daerah pinggang, memiliki
corpus vertebra yang besar ukurannya sehingga pergerakannya lebih
luas kearah fleksi.
d. Os. Sacrum
Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang
dimana ke 5 vertebral ini rudimenter yang bergabung yang
membentuk tulang bayi.
e. Os. Coccygeal
Terdiri dari tulang yang juga disebut ekor pada manusia, mengalami
rudimenter. Bebeapa segmen ini membentuk 1 pasang saraf cocygeal.

Gambar.2.2 : Tipe tulang vertebra: cervical-thoracal-lumbar-sacrum (Sumber:


Atlas of Anatomy, 2008)
9

Gambar.2.3 : Atlas-Axis (Sumber: The Skeleton: an Ordered Assembly of Bones:


physioweb.org,2010)
Lengkung kolumna vertebralis kalau dilihat dari samping maka
kolumna vertebralis memperlihatkan empat kurva atau lengkung anteropesterior yaitu lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan,
daerah torakal melengkung kebelakang, daerah lumbal kedepan dan daerah
pelvis melengkung kebelakang. Kedua lengkung yang menghadap pasterior,
yaitu torakal dan pelvis,disebut promer karena mereka mempertahankan
lengkung aslinya kebelakang dari hidung tulang belakang, yaitu bentuk
(sewaktu janin dengan kepala membengkak ke bawah sampai batas dada dan
gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan. Kedua lengkung
yang menghadap ke anterior adalah sekunder lengkung servikal
berkembang ketika anak-anak mengangkat kepalanya untuk melihat
sekelilingnya sambil menyelidiki, dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia
merangkak, berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak.
Fungsi dari kolumna vertebralis yaitu sebagai penunjang badan yang
kokoh dan sekaligus bekerja sebagai penyangga ke depan perantaraan tulang
rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya memberikan fleksibilitas
dan memungkinkan membongkok tanpa patah. Cakramnya juga berguna
untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan
seperti waktu berlari dan meloncat, dan dengan demikian otak dan sumsum
10

belakang terlindung terhadap goncangan. Disamping itu juga untuk memikul


berat badan, menyediakan permukaan untuk kartan otot dan membentuk tapal
batas posterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan
pada iga.
Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medulla
oblongata, menjulur kearah kaudal melalu foramen magnum dan berakhir
diantara vertebra-lumbalis

pertama dan kedua. Disini medulla spinalis

meruncing sebagai konus medularis, dan kemudian sebuah sambungan tipis


dari piameter yang disebut filum terminale, yang menembus kantong
durameter, bergerak menuju koksigis. Sumsum tulang belakang yang
berukuran panjang sekitar 45 cm ini,pada bagian depannya dibelah oleh fisura
anterior yang dalam, sementara bagian belakang dibelah oleh sebuah fisura
sempit.
Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan cervikal dan
lumbal. Dari penebalan ini, plexus-plexus saraf bergerak guna melayani
anggota badan atas dan bawah dan plexus dari daerah thoraks membentuk
saraf-saraf interkostalis. Fungsi sumsum tulang belakang adalah mengadakan
komunikasi antara otak dfan semua bagian tubuh dan brgerak refleks.
Vaskularisasi kolumna vertebralis Arteria spinalis yang mengantar
darah kepada vertebra, adalah cabang dari :
a vertebralis dan arteria servikalis ascendens di leher

Arteria spinalis memasuki foramen intervertebralis dan bercabang


menjadi cabang akhir dan cabang radikular. Beberapa dari cabang-cabang ini
beranastomosis dengan arteri-arteri medulla spinalis.
Vena spinalis membentuk pleksus vena yang meluas sepanjang
kolumna vertebralis, baik di sebelah dalam (pleksus venosi vertebralis
profundus) dan juga di sebelah luar (pleksus venosi vertebralis superficialis)
kanalis vertebralis. Vena basivertebralis terletak dalam korpus vertebra.
Untuk terjadinya gerakan refleks, dibutuhkan struktur sebagai berikut:

11

1. Organ sensorik: menerima impuls, misalnya kulit


2. Serabut saraf sensorik: mengantarkan impuls-impuls tersebut

menujusel-sel dalam ganglion radix posterior dan selanjutnya


menuju substansi kelabu pada kornu posterior mendula spinalis
3. Sumsum

tulang

belakang,

dimana

serabut-serabut

saraf

penghubung menghantarkan impuls-impuls menuju kornu anterior


medula spinalis.
4. Sel saraf motorik: dalam kornu anterior medula spinalis yang

menerima dan mengalihkan impuls tersebut melalui serabut


motorik.
5. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang

oleh impuls saraf motorik


6. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila

terputus pada daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada


daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal, paralisis pada
otot abdomen danotot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta
paralisis spinter pada uretra dan rectum.

Gambar 2.4 : Fungsi dari setiap segmen tulang belakang

12

Trauma tulang dapat mengenai jaringan lunak berupa ligament, discus


dan faset, tulang belakang dan medulla spinalis. Adapun beberapa ligamen
yang terdapat pada tulang servikal antara lain adalah :
1. Ligamentum Flava
Serangkaian pita dari jaringan elastis kuning melekat dan memperluas
antara bagian ventral lamina dari dua tulang yang berdekatan, dari sumbu
ke sacrum.. Namanya Latin untuk "ligamen kuning," dan ini terdiri dari
elastis jaringan ikat membantu mempertahankan postur tubuh ketika
seseorang sedang duduk atau berdiri tegak. Terletak posterior tubuh
vertebra, tetapi anterior proses spinosus dari tulang belakang, yang
merupakan tulang Prongs memancing ke bawah dari belakang setiap
tulang belakang, yang flava ligamenta membentuk dua sejajar, bersatu
garis vertikal dalam kanalis vertebralis. Hal ini juga mencakup dari C2,
vertebra servikalis kedua, semua cara untuk S1 dari sacrum, tulang
ditumpuk pada dasar tulang belakang di panggul. Pada ujung atas, setiap
flavum ligamentum menempel pada bagian bawah lamina dari vertebra di
atasnya. lamina ini adalah proyeksi horizontal pasangan tulang yang
membentuk dua jembatan mencakup ruang antara pedikel di kedua sisi
tubuh vertebral dan proses spinosus belakangnya. Mereka memperpanjang
dari pedikel, setiap proses yang kurus menonjol ke belakang dari kedua
sisi dari tubuh vertebra, dan sudut terhadap garis tengah tulang belakang,
menggabungkan di tengah. Dalam melakukannya, mereka membentuk
melebar "V" yang mengelilingi aspek posterior kanal tulang belakang .

Gambar 2.5 : Spinal Ligament-ligamentum Flavum

13

2. Ligamentum nuchae
Ligamentum nuchae adalah, padat bilaminar septum, segitiga
intermuskularis fibroelastic garis tengah. Ia meluas dari tonjolan oksipital
eksternal ke punggung C7 dan menempel pada bagian median dari puncak
occipital eksternal, tuberkulum posterior C1 dan aspek medial duri
terpecah dua belah leher rahim, ligamen terbentuk terutama dari lampiran
aponeurotic dari otot leher rahim yang berdekatan dan yg terletak di
bawah. Dari dangkal sampai dalam, otot-otot ini adalah trapezius, genjang
kecil, capitus splenius, dan serratus posterior superior. Juga anatomi, dan
mungkin penting secara klinis, ligamen telah ditemukan memiliki lampiran
berserat langsung dengan dura tulang belakang antara tengkuk dan C1.
3.

Zygapophyseal
Zygapohyseal adalah sendi sinovial sendi-sendi paling dasar dalam

tubuh manusia. Gabungan sinovial ditandai dengan memiliki kapsul sendi,


cairan-cairan sinovial sendi kapsul untuk melumasi bagian dalam sendi,
dan tulang rawan pada permukaan sendi di tengah atas dan bawah
permukaan

yang berdekatan

dari

setiap

tulang belakang untuk

memungkinkan tingkat gerakan meluncur.


4. Atlantoaxial ligamentum posterior
Atlantoaxial ligamentum posterior adalah tipis, membran luas
melekat, di atas, untuk batas bawah lengkung posterior atlas , bawah, ke
tepi atas dari lamina dari sumbu.
5.

Atlantoaxial ligamentum anterior


Atlantoaxial ligamentum anterior adalah membran yang kuat, untuk

batas bawah lengkung anterior dari atlas, bawah, ke depan tubuh sumbu .
Hal ini diperkuat di garis tengah dengan kabel bulat, yang menghubungkan
tuberkulum pada lengkung anterior dari atlas ke tubuh dari sumbu, dan
merupakan kelanjutan ke atas dari ligamentum longitudinal anterior.
6. Ligamentum longitudinal posterior
Ligamentum longitudinal posterior terletak dalam kanalis vertebralis,
dan membentang sepanjang permukaan posterior tulang belakang tubuh,
dari tubuh sumbu, di mana ia terus-menerus dengan tectoria membrana,

14

untuk sakrum. ligamentum ini lebih sempit di badan vertebra dan lebih
luas pada ruang disk intervertebralis. Hal ini sangat penting dalam
memahami kondisi patologis tertentu tulang belakang seperti lokasi khas
untuk herniasi cakram tulang belakang.
7. Ligamentum transversal dari atlas
Ligamentum transversal dari atlas adalah kuat, band tebal, yang
lengkungan di cincin dari atlas , dan mempertahankan proses yg mirip gigi
di kontak dengan lengkung anterior. Ligamentum transversal membagi
cincin dari atlas menjadi dua bagian yang tidak setara: ini, posterior dan
lebih besar berfungsi untuk transmisi dari medula spinalis dan membran
dan saraf aksesori.

3.2 LBP (Low Back Pain)


3.2.1 Definisi
Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu
gangguan muskuloskletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik.
Nyeri dan ketidaknyamanan, yang terlokalisasi di bawah sudut iga terakhir (costal
margin) dan di atas lipat bokong bawah (gluteal inferior fold), dengan atau tanpa
nyeri pada tungkai. Nyeri pinggang bawah adalah suatu gejala berupa rasa nyeri di
daerah lumbosakral dan sakroiliaka yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab,
kadang-kadang disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki.
Low Back Pain (LBP) atau Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan
nyeri di daerah punggung antara sudut bawah kosta (tulang rusuk) sampai
lumbosakral (sekitar tulang ekor). LBP merupakan kelainan tulang-otot yang
banyak dijumpai dan menjadi penyebab kedua terbanyak seseorang mencari
pertolongan dokter. LBP adalah nyeri punggung bawah yang berasal dari tulang
belakang, otot, saraf atau struktur lain pada daerah tersebut.
Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi 2 yaitu :
A. Acute low back pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya
sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat
hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatic

15

seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian.
Kejadian tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen
dan tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal
dan spinal dapat masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri
pinggang akut terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
B. Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang berulangulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan
sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena
osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan
tumor.
Disamping hal tersebut diatas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik
yang juga dapat dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
1. Trauma
2. Infeksi
3. Neoplasma
4. Degenerasi
5. Kongenital
3.2.2 Epidemiologi
Nyeri pinggang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting
pada semua negara. Besarnya masalah yang diakibatkan oleh nyeri pinggang
dapat dilihat dari ilustrasi data berikut. Pada usia kurang dari 45 tahun, nyeri
pinggang menjadi penyebab kemangkiran yang paling sering, penyebab tersering
kedua kunjungan ke dokter, urutan kelima masuk rumah sakit dan masuk 3 besar
tindakan pembedahan. Pada usia antara 19-45 tahun, yaitu periode usia yang
paling produktif, nyeri pinggang menjadi penyebab disabilitas yang paling tinggi.
Di Indonesia, LBP dijumpai pada golongan usia 40 tahun. Secara
keseluruhan, LBP merupakan keluhan yang paling banyak dijumpai (49 %). Pada
negara maju prevalensi orang terkena LBP adalah sekitar 70-80 %. Pada buruh di
Amerika, kelelahan LBP meningkat sebanyak 68 % antara thn 1971-1981.
Sekitar 80-90% pasien LBP menyatakan bahwa mereka tidak melakukan
usaha apapun untuk mengobati penyakitnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa LBP

16

meskipun mempunyai prevalensi yang tinggi namun penyakit ini dapat sembuh
dengan sendirinya.
3.2.3. Penyebab
Penyebab nyeri pinggang bawah bermacam-macam dan multifaktor. Di
antaranya dapat disebut :
1. Kelainan Kongenital
Kelainan kongenital tidak merupakan penyebab nyeri pinggang bawah yang
penting. Kelainan kongenital yang dapat menyebabkan nyeri pinggang
bawah adalah :
a)

Spondilolisis dan spondilolistesis


Pada Spondilolisis tampak bahwa sewaktu pembentukan korpus
vertebrae itu (in utero) arkus vertebrae tidak bertemu dengan korpus
vertebraenya sendiri. Pada spondilolistesis korpus vertebrae itu sendiri
(biasanya L5) tergeser ke depan. Nyeri pinggang ini berkurang /
hilang bila penderita duduk atau tidur. Dan akan bertambah, bila
penderita

itu

berdiri

atau

berjalan.

Spondilolitesis

dapat

mengakibatkan tertekuknya radiks L5 sehingga timbul nyeri radikuler.


b)

Spina Bifida
Bila di daerah lumbosakral terdapat suatu tumor kecil yang
ditutupi oleh kulit yang berbulu, maka hendaknya kita waspada bahwa
didaerah itu ada tersembunyi suatu spina bifida okulta. Pada foto
rontgen tampak bahwa terdapat suatu hiat pada arkus spinosus di
daerah lumbal atau sakral. Karena adanya defek tersebut maka pada
tempat itu tidak terbentuk suatu ligamentum interspinosum. Keadaan
ini akan menimbulkan suatu lumbo-sakral sarain yang oleh si
penderita dirasakan sebagai nyeri pinggang.

c)

Stenosis kanalis vertebralis


Diagnosis penyakit ini ditegakkan secara radiologis. Walaupun
penyakit telah ada sejak lahir, namun gejala-gejalanya baru tampak
setelah penderita berumur 35 tahun.
Gejala yang tampak adalah timbulnya nyeri radikuler bila si
penderita jalan dengan sikap tegak. Nyeri hilang begitu penderita

17

berhenti jalan atau bila ia duduk. Untuk menghilangkan rasa nyerinya


maka penderita lantas jalan sambil membungkuk.
d)

Spondylosis lumbal
Penyakit sendi degeneratif yang mengenai vertebra lumbal dan
discus intervertebralis, yang menyebabkan nyeri dan kekakuan.

e)

Spondylitis.
Suatu bentuk degeneratif sendi yang mengenai tulang belakang .
ini merupakan penyakit sistemik yang etiologinya tidak diketahui,
terutama mengenai orang muda dan menyebabkan rasa nyeri dan
kekakuan sebagai akibat peradangan sendi-sendi dengan osifikasi dan
ankilosing sendi tulang belakang.

2. Trauma dan Gangguan Mekanis


Trauma dan gangguan mekanis merupakan penyebab utama nyeri
pinggang bawah. Pada orang-orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan
otot atau sudah lama tidak melakukan kegiatan ini dapat menderita nyeri
pinggang bawah yang akut. Cara bekerja di pabrik atau di kantor dengan
sikap yang salah lama-lama nenyebabkan nyeri pinggang bawah yang
kronis.
Patah tulang, pada orang yang umurnya sudah agak lanjut sering oleh
karena trauma kecil saja dapat menimbulkan fractur compresi pada korpus
vertebra. Hal ini banyak ditemukan pada kaum wanita terutama yang sudah
sering melahirkan. Dalam hal ini tidak jarang osteoporosis menjadi sebab
dasar daripada fractur compresi. Fraktur pada salah satu prosesus
transversus terutama ditemukan pada orang-orang lebih muda yang
melakukan kegiatan olahraga yang terlalu dipaksakan.
Pada penderita dengan obesitas mungkin perut yang besar dapat
menggangu keseimbangan statik dan kinetik dari tulang belakang sehingga
timbul nyeri pinggang.
Ketegangan mental terutama ketegangan dalam bidang seksual atau
frustasi seksual dapat ditransfer kepada daerah lumbal sehingga timbul
kontraksi otot-otot paraspinal secara terus menerus sehingga timbul rasa

18

nyeri pinggang. Analog dengan tension headache maka nyeri pinggang


semacam ini dapat dinamakan tension backache.
Tidak jarang seorang pemuda mengeluh tentang nyeri pinggang, yang
timbul karena adanya anggapan yang salah yaitu bahwa karena seringnya
melakukan onani di waktu yang lampau lantas kini sumsum balakangnya
telah menjadi kering dan nyeri.
3. Radang ( Inflamasi )
Artritis rematoid dapat melibatkan persendian sinovial pada vertebra.
Artritis rematoid merupakan suatu proses yang melibatkan jaringan ikat
mesenkimal.
Penyakit Marie-Strumpell, yang juga dikenal dengan nama spondilitis
ankilosa atau bamboo spine terutama mengenai pria dan teruta mengenai
kolum vertebra dan persendian sarkoiliaka. Gejala yang sering ditemukan
ialah nyeri lokal dan menyebar di daerah pnggang disertai kekakuan (
stiffness ) dan kelainan ini bersifat progresif.
4. Tumor ( Neoplasma )
Tumor vertebra dan medula spinalis dapat jinak atau ganas. Tumor
jinak dapat mengenai tulang atau jaringan lunak. Contoh gejala yang sering
dijumpai pada tumor vertebra ialah adanya nyeri yang menetap. Sifat nyeri
lebih hebat dari pada tumor ganas daripada tumor jinak. Contoh tumor
tulang jinak ialah osteoma osteoid, yang menyebabkan nyeri pinggang
terutama waktu malam hari. Tumor ini biasanya sebesar biji kacang, dapat
dijumpai di pedikel atau lamina vertebra. Hemangioma adalah contoh tumor
benigna di kanalis spinal yang dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah.
Meningioma adalah tumor intradural dan ekstramedular yang jinak, namun
bila ia tumbuh membesar dapat mengakibatkan gejala yang besar seperti
kelumpuhan.
5. Gangguan Metabolik
Osteoporosis akibat gangguan metabolik yang merupakan penyebab
banyak keluhan nyeri pada pinggang dapat disebabkan oleh kekurangan
protein atau oleh gangguan hormonal (menopause,penyakit cushing). Sering
oleh karena trauma ringan timbul fractur compresi atau seluruh panjang

19

kolum vertebra berkurang karena kolaps korpus vertebra. penderita


menjadi bongkok dan pendek dengan nyeri difus di daerah pinggang.
6. Psikis
Banyak gangguan psikis yang dapat memberikan gejala nyeri
pinggang bawah. Misalnya anksietas dapat menyebabkan tegang otot yang
mengakibatkan rasa nyeri, misalnya di kuduk atau di pinggang; rasa nyeri
ini dapat pula kemudian menambah meningkatnya keadaan anksietas dan
diikuti oleh meningkatnya tegang otot dan rasa nyeri. Kelainan histeria
kadang-kadang juga mempunyai gejala nyeri pinggang bawah.
3.2.4. Faktor Resiko
Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, etnis,
merokok sigaret, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat yang
berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal dan
faktor psikososial. Pada laki-laki resiko nyeri pinggang meningkat sampai usia 50
tahun kemudian menurun, tetapi pada wanita tetap terus meningkat. Peningkatan
insiden pada wanita lebih 50 tahun kemungkinan berkaitan dengan osteoporosis.
3.2.5. Lokasi
Lokasi untuk nyeri pinggang bawah adalah daerah lumbal bawah, biasanya
disertai penjalaran ke daerah-daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus,
bokong, kebawah lateral atau posterior paha, tungkai, dan kaki.
3.2.6. Karakteristik LBP
1.

LBP Viscerogenik
o Nyeri berasal dari keadaan patologis di ginjal, viscera abdominis,
pelvis dan intra peritoneal.
o Nyeri tidak bertambah dengan aktivitas dan tak mengurang dengan
istirahat.
o Nyeri menggeliat.

2.

LBP Vasculogenik
o Disebabkan aneurisma, vasculitis perifer, insufisiensi a.gluteal
mirip dengan ischialgia.
o Gangguan vasculer perifer menyebabkan klaudikasio intermitten.
o Varises intraspinal gejalanya mirip dengan kaudikasio intermitten

20

3.

LBP Neurogenik
o Neoplasma (neurinoma, hemangioma, ependimoma,meningioma)
o Araknoiditis (terjadi perlengketan, timbul nyeri bila ada penjepitan
terhadap radiks)
o Stenosis kanalis spinalis (disebabkan proses degenerasi)

4.

LBP Spondilogenik
o LBP

osteogenik,

disebabkan:

radang/infeksi,

osteomielitis,

spondilitis tuberkulosa, trauma, kongenital dan metabolik


o LBP diskogenik: spondilosis (proses degenerasi, jarak vertebra
menyempit, terjadi osteofit,iritasi persendian posterior)
5.

LBP Miogenik
Disebabkan ketegangan otot, spasme otot, defisiensi otot, dan
hipersensitif .

6.

LBP Psikogenik
o Disebabkan oleh ketegangan jiwa, kecemasan, dan depresi atau
campuran kecemasan dan depresi
o Anamnesis penderita: mudah tersinggung, sulit tidur, mudah
terbangun, kurang tenang, mudah terkejut, selalu cemas dan
khawatir.
o Pada pmeriksaan yg lengkap, hasilnya tidak memberikan jawaban
yang pasti.

3.2.7. Diagnosa
1. Anamnesa
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan dalam menganamnesa pasien dengan
kemungkinan diagnosa Low Back Pain.
1. Apakah terasa nyeri ?
2. Dimana terasa nyeri ?
3. Sudah berapa lama merasakan nyeri ?
4. Bagaimana kuantitas nyerinya? (berat atau ringan)
5. Apa yang membuat nyeri terasa lebih berat atau terasa lebih ringan?
6. Adakah keluhan lain?
7. Apakah dulu anda ada menderita penyakit tertentu?

21

8. Bagaimana keadaan kehidupan pribadi anda?


9. Bagaimana keadaan kehidupan sosial anda?
2. Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik secara komprehensif pada pasien dengan nyeri pinggang
meliputi evaluasi sistem neurologi dan muskuloskeltal. Pemeriksaan neurologi
meliputi evaluasi sensasi tubuh bawah, kekuatan dan refleks-refleks.
1. Motorik.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :
a. Berjalan dengan menggunakan tumit.
b. Berjalan dengan menggunakan jari atau berjinjit.
c. Jongkok dan gerakan bertahan ( seperti mendorong tembok )
2. Sensorik.
a. Nyeri dalam otot.
b. Rasa gerak.
3. Refleks.
Refleks yang harus di periksa adalah refleks di daerah Achilles dan Patella,
respon dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui lokasi
terjadinya lesi pada saraf spinal.
4. Test-Test
a. Test Lassegue
Pada tes ini, pertama telapak kaki pasien ( dalam posisi 0 ) didorong ke
arah muka kemudian setelah itu tungkai pasien diangkat sejauh 40 dan
sejauh 90.

Gambar 2.6 Tes Lasegue


b. Test Patrick
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan di pinggang dan pada sendi
sakro iliaka. Tindakan yang dilakukan adalah fleksi, abduksi, eksorotasi
dan ekstensi.

22

Gambar 2.7 Tes Patrick


c. Test Kebalikan Patrick
Dilakukan gerakan gabungan dinamakan fleksi, abduksi, endorotasi, dan
ekstensi meregangkan sendi sakroiliaka. Test Kebalikan Patrick positif
menunjukkan kepada sumber nyeri di sakroiliaka.
3. Pemeriksaan Penunjang :
Foto
1.

Plain
X-ray adalah gambaran radiologi yang mengevaluasi tulang, sendi,
dan luka degeneratif pada spinal. Gambaran X-ray sekarang sudah jarang
dilakukan, sebab sudah banyak peralatan lain yang dapat meminimalisir
waktu penyinaran sehingga efek radiasi dapat dikurangi. X-ray merupakan tes
yang sederhana, dan sangat membantu untuk menunjukan keabnormalan pada
tulang. Seringkali X-ray merupakan penunjang diagnosis pertama untuk
mengevaluasi nyeri punggung, dan biasanya dilakukan sebelum melakukan
tes penunjang lain seperti MRI atau CT scan. Foto X-ray dilakukan pada
posisi anteroposterior (AP), lateral, dan bila perlu oblique kanan dan kiri.

Gambar 2.8 X-Ray vertebrae

23

2.

Myelografi
Myelografi adalah pemeriksan X-ray pada spinal cord dan canalis
spinal. Myelografi merupakan tindakan infasif, yaitu cairan yang berwarna
medium disuntikan ke kanalis spinalis, sehingga struktur bagian dalamnya
dapat terlihat pada layar fluoroskopi dan gambar X-ray. Myelogram
digunakan untuk diagnosa pada penyakit yang berhubungan dengan diskus
intervertebralis, tumor spinalis, atau untuk abses spinal.

Gambar 2.9 X-ray


3.

Computed Tomografi Scan (CT-scan) & Magnetic Resonance Imaging (MRI)


CT-scan merupakan tes yang tidak berbahaya dan dapat digunakan
untuk pemeriksaan pada otak, bahu, abdomen, pelvis, spinal, dan ekstemitas.
Gambar CT-scan seperti gambaran X-ray 3 dimensi.
MRI dapat menunjukkan gambaran tulang belakang yang lebih jelas
daripada CT-scan. Selain itu MRI menjadi pilihan karena tidak mempunyai
efek radiasi. MRI dapat menunjukkan gambaran tulang secara sebagian sesuai
dengan yang dikehendaki. MRI dapat memperlihatkan diskus intervertebralis,
nerves, dan jaringan lainnya pada punggung.

Gambar 2.10 MRI Vertebrae


24

4.

Electro Miography ( EMG ) / Nerve Conduction Study ( NCS )


EMG / NCS merupakan tes yang aman dan non invasif yang
digunakan untuk pemeriksaan saraf pada lengan dan kaki.
EMG / NCS dapat memberikan informasi tentang :
1. Adanya kerusakan pada saraf
2. Lama terjadinya kerusakan saraf ( akut atau kronik )
3. Lokasi terjadinya kerusakan saraf ( bagian proksimalis atau distal )
4. Tingkat keparahan dari kerusakan saraf
5. Memantau proses penyembuhan dari kerusakan saraf
Hasil dari EMG dan MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi
kondisi fisik pasien dimana mungkin perlu dilakukan tindakan selanjutnya
yaitu pambedahan.

3.2.8 Penatalaksanaan
Obat
Obat-obat analgesik
Obat-obat analgesik umumya dibagi menjadi dua golongan besar :
- Analgetik narkotik
Obat-obat golongan ini terutama bekerja pada susunan saraf digunakan
untuk menghilangkan rasa sakit yang berasal dari organ viseral. Obat
golongan ini hampir tidak digunakan untuk pengobatan LBP karena
bahaya terjadinya adiksi pada penggunaan jangka panjang. Contohnya :
Morfin, heroin, dll.
- Analgetik antipiretik
Sangat bermanfat untuk menghilangkan rasa nyeri mempunyai khasiat
anti piretik, dan beberapa diantaranya juga berkhasiat antiinflamasi.
Kelompok obat-obat ini dibagi menjadi 4 golongan :
a) Golongan salisilat
Merupakan analgesik yang paling tua, selain khasiat analgesik juga
mempunyai khasiat antipiretik, antiinflamasi, dan antitrombotik.
Contohnya : Aspirin
Dosis Aspirin

: Sebagai analgesik 600 900 mg, diberikan 4 x


sehari.

25

Sebagai antiinflamasi 750 1500 mg, diberikan


4 x sehari.
Kontraindikasi :

- Penderita tukak lambung


- Resiko terjadinya pendarahan
- Gangguan faal ginjal
- Hipersensitifitas

Efek samping

- Gangguan saluran cerna


- Anemia defisiensi besi
- Serangan asma bronkial

b) Golongan Paraaminofenol
Paracetamol dianggap sebagai analgesik-antipiretik yang paling
aman untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa disertai inflamasi.
Dosis terapi : 600 900 mg, diberikan 4 x sehari.
c) Golongan pirazolon
Dipiron mempunyai aceptabilitas yang sangat baik oleh penderita,
lebih kuat dari pada paracetamol, dan efek sampingnya sangat
jarang.
Dosis terapi : 0,5 1 gram, diberikan 3 x sehari.
d) Golongan asam organik yang lain

Derivat asam fenamat


Yang termasuk golongan ini misalnya asam mefenamat, asam
flufenamat, dan Na-meclofenamat. Golongan obat ini sering
menimbulkan efek samping terutama diare. Dosis asam
mefenamat sehari yaitu 4500 mg..

Derivat asam propionat


Golongan obat ini merupakan obat anti inflamasi non steroid
(AINS) yang relatif baru, yang juga mempunyai khasiat
analgetik dam antipiretik. Contoh obat golongan ini misalnya
ibuprofen, naproksen, ketoprofen, indoprofen dll.

Derifat asam asetat


Sebagai contoh golongan obat ini ialah Na Diklofenak. Selain
mempunyai efek anti inflamasi yang kuat, juga mempunyai efek

26

analgesik dan antipiretik. Dosis terapinya 100-150mg 1 kali


hari.

Derifat Oksikam
Salah satu contohnya adalah Piroxicam, dosis terapi 20 mg 1
kali sehari.

Fisioterapi
a. Terapi Panas
Terapi menggunakan kantong dingin kantong panas. Dengan menaruh sebuah
kantong dingin di tempat daerah punggung yang terasa nyeri atau sakit selama
5-10 menit. Jika selama 2 hari atau 48 jam rasa nyeri masih terasa gunakan
heating pad (kantong hangat).
b. Elektro Stimulus
- Acupunture
Menggunakan jarum untuk memproduksi rangsangan yang ringan tetapi
cara ini tidak terlalu efisien karena ditakutkan resiko komplikasi akibat
ketidaksterilan jarum yang digunakan sehingga menyebabkan infeksi.
- Ultra Sound
Untuk menghangatkan

Gambar 2.11 ultra Sound


- Radiofrequency Lesioning
Dengan menggunakan impuls listrik untuk merangsang saraf
- Spinal Endoscopy
Dengan memasukkan endoskopi pada kanalis spinalis untuk memindahkan
atau menghilangkan jaringan scar.
- Percutaneous Electrical Nerve Stimulation (PENS)
- Elektro Thermal Disc Decompression

27

- Trans Cutaneous Electrical Nerve Stimulation ( TENS )


Menggunakan alat dengan tegangan kecil.
c. Traction
Helaan atau tarikan pada badan ( punggung ) untuk kontraksi otot.

Gambar 2.12 Traksi


d. Pemijatan atau massage
Dengan terapi ini bisa menghangatkan, merelaksasi otot belakang dan
melancarkan perdarahan.
Latihan Low Back Pain dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Lying supine hamstring stretch

c. Pelvic Tilt

b. Knee to chest stretch

d. Sitting leg stretch

e. Hip and quadriceps stretch

28

b. Terapi Latihan dengan William Fexion Exercise


Dr. Paul William pertama kali memperkenalkan program latihan ini pada
tahun 1937 untuk pasien dengan Low back pain (LBP) kronik sebagai respon atas
pengamatan klinik dimana kebanyakan pasien yang pernah mengalami LBP
dengan degenerasi vertebra hingga penyakit degeneratif discus Latihan ini terdiri
dari 6 bentuk gerakan yang dirancang untuk mengurangi nyeri punggung dengan
memperkuat otot-otot

yang memfleksikan lumbosacral spine terutama otot

abdominal dan otot gluteus maksimus dan meregangkan kelompok otot ekstensor.
Alat Bantu
1. Back corsets.
Penggunaan penahan pada punggung sangat membantu untuk mengatasi
Low Back Pain yang dapat membungkus punggung dan perut.

Gambar 2.13 Back Korset


2. Tongkat Jalan
Modalitas Terapi
A. Short Wave Diathermy (SWD)
Adalah alat terapi yang menggunakan energi elektromagnetik yang
dihasilkan

oleh

arus

bolak-balik

frekuensi

tinggi.

Frekuensi

yang

diperbolehkan pada pemakaian SWD adalah 13,66 MHz, 27,33 MHz dan
40,98 MHz, panjang gelombang yang sesuai dengan frekuensi SWD yang
sering juga disebut energi elektromagnetik 27 MHz.
Arus frekuensi tinggi adalah arus listrik bolak-balik yang
frekuensinya lebih dari 500.000 cycle/detik yang tidak memberikan
rangsang terhadap saraf sensorik maupun motorik. Arus ini sering juga
disebut arus oscilasi
a. Efek SWD (EEM 27 MHz)

29

Efek SWD terdiri dan efek fisiologis dan efek terapeutik.


1) Efek Fisiologis
Efek arus EEM 27 MHz terhadap tubuh adalah timbulnya panas dalam
jaringan. Pengaruh fisiologis yang timbul disebabkan oleh kenaikan suhu
jaringan, yaitu:

Metabolisme meningkat
Hukum Varit Hoff menyatakan bahwa perubahan kimia dapat
dipercepat oleh adanya panas. Dengan demikian, pemanasan jaringan akan
mempercepat perubahan kimia yaitu proses metabolisme. Supply O2 dan
sari-sari makanan akan meningkat sehingga kebutuhan jaringan akan O2
dan sari makanan akan cepat terpenuhi

Penambahan supply darah


Panas akan memberikan pengamh langsung pada dinding pembuluh
darah berupa timbulnya vasodilatasi terutama pada jaringan superficial.
Sebagai akibat dari vasodilatasi jumlah supply darah di daerah tersebut
bertambah. Dengan demikian jumlah O2 dan sari-sari makanan bertambah
dan pembuangan sisa-sisa metabolisme akan lebih lancar.

Manfaat pada serabut saraf


Apabila panas yang dihasilkan tidak berlebihan maka akan terjadi
penurunan ekstabilitas susunan saraf sehingga akan menurunkan atau
mengurangi rasa nyeri

Kenaikan suhu tubuh


Pada bagian tubuh apabila mendapat pemanasan maka akan terjadi
kenaikan suhu lokal pada jaringan tersebut. Namun apabila pemanasan
meliputi daerah yang luas dan waktu yang lama akan mengakibatkan
kenaikan suhu.

Manfaat pada jaringan otot


Kenaikan suhu jaringan akan memberikan rileksasi dan menambah
efisiensi kerja otot-otot. Serabut-serabut otot akan berkontraksi dan
rileksasi lebih cepat, meskipun kekuatan otot tidak berpengaruh. Rileksasi
otot-otot antagonis memberikan kebebasan kerja dari otot-otot antagonis,
kondisi optimum pada kontraksi otot.

30

Peningkatan aktivitas kelenjar keringat


Apabila kenaikan suhu tubuh, kelenjar keringat akan menjadi lebih aktif,
disamping itu pemanasan secara lokal pada kulit akan menambah aktifitas
kelenjar keringat di daerah tersebut.

2) Efek terapeutik
Efek-efek terapeutik energi elektromagnetik 27 MHz antara lain:

Meningkatkan sirkulasi darah


Dengan timbulnya panas yang dihasilkan oleh SWD (EEM 27 MHz) akan
menimbulkan vasodilatasi lokal pada pembuluh darah, sehingga peredaran
darah akan lebih lancar dan supply zat-zat yang dibutuhkan oleh proses
metabolism akan meningkat pula

Mengurangi nyeri
Akibat adanya penekanan ujung-ujung saraf sensoris pada persendian
(nociceptor) akan mengakibatkan rasa nyeri yang diakibatkan oleh
aktifitas nociceptor yang meningkat. Pemberian SWD (EEM 27 MHz)
dapat memberikan efek sedatif dan analgetik pada ujung-ujung saraf
sensoris oleh karena pengaruh thermal (panas). Sehingga merangsang
thermoreceptor terjadi dumping terhadap aktifitas nociceptor.

Mengurangi spasme dan menimbulkan relaksasi otot


Akibat adanya rasa nyeri maka otot-otot akan mengadakan protektif
spasme, sehingga otot-otot akan tegang (spasme). Pemberian SWD akan
menyebabkan otot-otot menjadi rileks, dan kondisi otot menjadi lebih
baik.

Mengurangi ketegangan struktur kapsul sendi


Adanya panas yang disebabkan oleh pemberian SWD pada jaringan
pengikat seperti tendon, ligamen, dan kapsul sendi maka akan
meningkatkan elastisitas jaringan pengikat sebagai bagian penyusun sendi
maka struktur sekitar sendi akan kendor dan kekakuan sendi akan
berkurang.

b. Indikasi dan kontra indikasi Short Wave Diathermy (SWD)


Energi elektromagnetik intermitten bisa diterapkan pada fase-fase
penyembuhan luka, terutama pada fase penenandaan sangat membantu

31

melindungi jaringan dan struktur persendian. Beberapa jenis patologi


seperti traumatologi. Rematologi dapat dipercepat proses penyembuhan
lukanya dengan adanya pemberian EEM 27 MHz. Sebagai syarat untuk
menentukan indikasi perlu pertimbangan 3 hal yaitu:
1) Stadium dari proses penyembuhan luka.
2) Sifat dan jaringan atau organ yang mengalami kerusakan seperti otot,
lemak atau jaringan lain
3) Lokalisasi dan jaringan atau organ yang mengalami kerusakan.
Beberapa kontra indikasi pada pemberian energi elektromagnetik 27
MHz :
o Logam dalam tubuh
Pemberian pada jaringan tubuh yang ada logamnya akan menyebabkan
konsentrasi energi pada logam. Sehingga disekitar logam akan dapat panas
yang berlebihan akibatnya bisa terbakar.
o Gangguan peredaran darah
Pemberian cenderung menimbulkan pendarahan gangren dan atau
trombose, buerger disease atau gangguan jantung yang mengarahi ke
dekompensasi.
o Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan
Misalnya pada mata atau luka basah dan eksim basah juga dapat
menimbulkan kebakaran dari jaringan.
o Gangguan sensibilitas
Pada gangguan ini terutama pada panas dan dingin maka pemberian dosis
secara

subyektif

sebaiknya

dihindari.

Penggunaanya

dilanjutkan

menggunakan 30% lebih rendah dan intensitas semula.


o Infeksi akut dan demam
Pada keadaan ini dapat memperluas infeksi bakteri melalui aliran darah.
o Menstruasi
Pemberian pada saat menstruasi pada daerah lumbal dan sacral dapat
mengganggu siklus menstruasi.
o Kehamilan

32

Aplikasi

secara

langsung

didaerah

kehamilan

atau

lumbosacral

menyebabkan gangguan keseimbangan zat asam (oksigen) pada placenta.


c. Pemberian dosis terapi
Pemberian dosis dalam suatu pengobatan ditentukan oleh:
1) Lama pulsasi
Lama pulsasi adalah waktu berlangsungnya pulsasi atau ms dan EEM
intermitten didalam jaringan. Nilai lama pulsasi 0,4 ms tetapi beberapa
alat yang modem mempunyai lama pulsasi yang bervariasi.
2) Frekuensi pengulangan pulsasi
Jika frekuensi pulsasi tinggi, maka intensitas rata-rata juga tinggi dan
sering menimbulkan panas. Frekuensi pengulangan pulsasi juga dapat
menentukan efek komulatif dan panas yang terjadi. Dengan menatakan
pulsasi istirahat maka kenaikan temperatur dapat dicegah dan panas bisa
diatur sampai dosis submitis.
3) Intensitas
Pada pemberian EEM intermitten maka intensitas dan pulsasi bisa tinggi.
Pada beberapa alat intensitas yang diperbolehkan sampai mencapai 1000
watt.
4) Lama pengobatan
Lama pengobatan antara 10-15 menit, Earth dan Kern menyatakan bahwa
dengan menggunakan kumparan untuk meningkatkan sirkulasi darah
dalam otot diperlukan waktu kurang lebih 10 menit.
5) Frekuensi pengobatan
Pada dosis yang rendah pengobatan bisa diberikan setiap hari tanpa
beban terhadap sirkulasi darah terutama untuk aktualitas radang yang
tinggi. Pada dosis yang tinggi pengobatan bisa diberikan 2-3 kali per
rninggu atau 1 kali satu minggu.
B. TENS (Transcutaneus Nerve Stimulation)
TENS merupakan suatu cara penggunaan energi listrik yang berguna
untuk merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif
untuk mengurangi berbagai tipe nyeri.

33

TENS mampu mengaktivasi baik serabut saraf berdiameter besar


maupun berdiameter kecil yang akan menyampaikan berbagai informasi
sensoris ke sistem saraf pusat. Efektivitas TENS dapat diterangkan lewat teori
kontrol gerbang (gate control)nya Melzack dan Wall yang diaplikasikan
dengan intensitas comfortable. Lewat stimulasi antidromik TENS dapat
memblokir hantaran rangsang dari nociceptor ke medulla spinalis. Stimulasi
antidromik dapat mengakibatkan terlepasnya materi P dari neuron sensoris
yang akan berakibat terjadinya vasodilatasi arteriole yang merupakan dasar
bagi terjadinya triple responses.
Mekanisme Kerja dari TENS
Teori Melzack and Wall (gate control theory):
- Serabut sensoris afferen ada 3 :
1.

A-Beta fiber : O besar ---sel neuron sensori


( tidak menghantarkan nyeri )

2.

A-Delta fiber : O kecil---sel nociceptive


( menghantarkan nyeri)

3.

C fiber tidak bermielin/ O kecil

Secara normal sel nociceptive/A-delta(O kecil) menghantarkan nyeri ke


gate(pintu masuk) di substansia gelatinosa untuk di teruskan ke thalamus
dan otak
TENS merangsang sel neuron sensory (diameter besar) untuk masuk lebih
dahulu ke gate(pintu masuk) di subtansia gelatinosa dan menghambat sel
nociceptive (diameter kecil) untuk memberikan informasi ke otak
sehingga rangsang nyeri tidak sampai ke otak nyeri berkurang
1. Sentral, berpusat di Brainstem/thalamus menghambat impuls nyeri
melalui kontrol ascenden dan descenden.
2. Perifer, menghambat transmisi sinaps melalui saraf diameter besar.
3. Neurohumoral,melalui pengeluaran zat endorphin/enkapalin pada
subs grisea yang menghasilkan efek analgesik.
Meningkatkan aliran darah dan pertukaran cairan sehingga memberikan
kontraksi otot ringan stimulasi saraf otonom pemindahan zat kimia
yang menyebabkan iritasi nyeri ber(-)

34

Mekanisme lain yang dapat dicapai oleh TENS ialah mengaktivasi system
saraf otonom yang akan menimbulkan tanggap rangsang vasomotor yang
dapat mengubah kimiawi jaringan. Postulat lain menyatakan bahwa TENS
dapat mengurangi nyeri melalui pelepasan opioid endogen di SSP. TENS
dapat juga menimbulkan efek analgetik lewat sistem inhibisi opioid endogen
dengan cara mengaktivasi batang otak. Stimulasi listrik yang diberikan cukup
jauh dari jaringan yang cidera /rusak, sehingga jaringan yang menimbulkan
nyeri tetap efektif untuk memodulasi nyeri.
Operasi
Tipe operasi yang dilakukan oleh dokter bedah tergantung pada tulang
belakang/punggung

pasien.

Biasanya

prosedurnya

menyangkut

pada

LAMINECTOMY yang mana menghendaki bagian yang diangkat dari vertebral


arch untuk memperoleh kepastian apa penyebab dari LBP pasien. Jika disc
menonjol atau bermasalah, para ahli bedah akan melakukan bagian laminectomy
untuk mencari tahu vertebral kanal, mengidentisir ruptered disc ( disc yang buruk
), dan mengambil atau memindahkan bagian yang baik dari disc yang bergenerasi,
khususnya kepingan atau potongan yang menindih saraf.
Ahli bedah mungkin mempertimbangkan prosedur kedua yaitu SPINAL
FUSION, jika si pasien merasa membutuhkan keseimbangan di bagian spinenya.
Spinal fusion merupakan operasi dengan menggabungkan vertebral dengan bone
grafts. Kadang graft tersebut dikombinasikan dengan metal plate atau dengan alat
yang lain.
Ada juga sebagian herniated disc ( disc yang menonjol ) yang dapat diobati
dengan teknik PERCUTANEOUS DISCECTOMY, yang mana discnya diperbaiki
menembus atau melewati kulit tanpa membedah dengan menggunakan X-ray
sebagai pemandu. Ada juga cara lain yaitu CHEMONEUCLOLYSIS, cara ini
menggunakan penyuntikan enzim-enzim ke dalam disc. Cara ini sudah jarang
digunakan.
3.2.8. Larangan
a. Berdiri terlalu lama tanpa diselingi gerakan seperti jongkok.
b. Membawa beban yang berat.
c. Duduk terlalu lama.

35

d. Memakai sepatu hak tinggi.


e. Menulis sambil membungkuk terlalu lama.
f. Tidur tanpa menggunakan alas di permukaan yang keras atau
menggunakan kasur yang terlalu empuk.
3.2.9. Anjuran
a. Posisikan kepala dititik tertinggi, bahu ditaruh sedikit kebelakang.
b. Duduk tegak 90 derajat.
c. Gunakanlah sepatu yang nyaman.
d. Jika ingin duduk dengan jangka waktu yang lama, istirahatkan kaki di
lantai atau apa saja yang menurut anda nyaman.
e. Jika mempunyai masalah dengan tidur, taruhlah bantal di bawah lutut
atau jika tidur menyamping, letakkanlah bantal diantara kedua lutut.
f. Hindari berat badan yang berlebihan.

3.3. HNP (Hernia Nukleus Pulposus)


3.3.1 Definisi
Hernia Nukleus pulposus (HNP) atau Potrusi Diskus Intervertebralis (PDI)
adalah suatu keadaan dimana terjadi penonjolan pada diskus intervertebralis ke
dalam kanalis vertebralis (protrusi diskus ) atau nucleus pulposus yang terlepas
sebagian tersendiri di dalam kanalis vertebralis (rupture discus).
Nukleus pulposus adalah gel viskus yang terdiri dari proteoglikan yang
mengandung kadar air yang tinggi. Nukleus pulposus memiliki fungsi menahan
beban sekaligus sebagai bantalan. Dengan bertambahnya usia kemampuan
nukleus pulposus menahan air sangat berkurang sehingga diskus mengerut, terjadi
penurunan vaskularisasi sehingga diskus menjadi kurang elastis. Pada diskus yang
sehat, nukleus pulposus akan mendistribusikan beban secara merata ke segala
arah, namun nukleus pulposus yang mengerut akan mendistribusikan beban secara
asimetris, akibatnya dapat terjadi cedera atau robekan pada anulus.

36

3.3.2 Epidemiologi
HNP sering terjadi pada daerah L4-L5 dan L5 S1 kemudian pada C5-C6
dan paling jarang terjadi pada daerah torakal, sangat jarang terjadi pada anak-anak
dan remaja tapi kejadiannya meningkat dengan umur setelah 20 tahun.
3.3.3 Insidens
- Hernia Iumbo Sakral lebih dari 90 %
- Hernia Sercikal 5-10 % .
3.3.4 Etiopatofisiologi
Nukleus pulposus terdiri dari jaringan penyambung longgar dan sel-sel
kartilago yang mempunyai kandungan air yang tinggi. Nukleus pulposus
bergerak, cairan menjadi padat dan rata serta melebar dibawah tekanan dan
menggelembungkan annulus fibrosus.
Keluarnya nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus
pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteri radikulasi berada
dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi bila penjebolan di sisi lateral. Bilamana
tempat herniasinya di tengah, maka tidak ada radiks yang terkena. HNP dapat
dibagimenjadi:
1.HNP sentral
HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flasid, parestesia, dan retensi
urine.
2.HNP lateral
Rasa nyeri terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah abtra pantat
dan betis, belakang tumit dan telapak kaki. Ditempat itu juga akan terasa nyeri
tekan. Kekuatan ekstensi jari ke V kaki berkurang dan refleks achiler negatif.
Pada HNP lateral L4-5 rasa nyeri dan tekan didapatkan di punggung bawah,
bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di dorsum pedis. Kekuatan
ekstensi ibu jari kaki berkurang dan refleks patela negatif. Sensibilitas ada
dermatom yang sdesuai dengan radiks yang terkena menurun. Pada percobaan
lasegue atau test mengnagkat tungkai yang lurus (straigh leg raising) yaitu
mengangkat tungkai secara lurus dengan fleksi di sendi panggul, akan dirasakan
nyeri disepanjang bagian belakang (tanda lasegue positif). Valsava dan nafsinger
akan memberikan hasil positif.

37

Salah satu akibat dari trauma sedang yang berulangkali mengenai diskus
intervertebrais adalah terobeknya annulus fibrosus. Pada tahap awal, robeknya
anulus fibrosus itu bersifat sirkumferensial, karena gaya traumatik yang berkalikali, berikutnya robekan itu menjadi lebih besar dan disamping itu timbul sobekan
radikal. Kalau hal ini sudah terjadi, maka soal menjebolnya nukleus pulposus
adalah soal waktu dan trauma berikutnya saja.
Apabila trauma pada medula spinalis terjadi secaa mendadak, maka dapat
terjadi renjatan spinal (spinal shock). Pada anak-anak fase ini terjadi lebih singkat
dibandingkan orang dewasa yakni kurang dari 1 minggu. Ada 3 faktor yang
mungkin berperan dalam mekanisme syok spinal yaitu: hilangnya fasilitas traktus
desendens, inhibisi dari bawah yang menetap pada reflex ekstensor, dan
degenerasi aksonal interneuron.
Fase renjatan spinal berdasarkan gambaran klinisnya dibagi menjadi 2
yaitu:
1.

Syok spinal atau Arefleksia


Sesaat setelah trauma, fungsi motorik di bawah tingkat lesi hilang, otot
flaksid, reflex hilang, paralisis atonik vesika urinaria dan kolon, atonia
gaster dan hipestesia. Dijumpai juga hilangnya tonus vasomotor, keringat
dan piloereksi serta fungsi seksual.

2.

Aktivitas refleks yang meningkat


Setelah beberapa minggu respons refleks terhadap rangsang mulai timbul,
mula-mula lemah makin lama makin kuat. Secara bertahap muncul refleks
fleksi yang khas yaitu tanda Babinsky dan fleksi tripel (gerak menghindar
dari rangsang dengan mengadakan fleksi pada sendi pergelangan kaki,
sendi lutut, dan sendi pangkal paha).

Hernia Lumbosacralis
Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya oleh kejadian luka
posisi fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada pasien non trauma
adalah kejadian yang berulang. Proses penyusutan nukleus pulposus pada
ligamentum longitudinal posterior dan annulus fibrosus dapat diam di tempat atau
ditunjukkan/dimanifestasikan dengan ringan, penyakit lumbal yang sering
kambuh. Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan nucleus pulposus

38

prolaps, mendorong ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus posterior. Pada


kasus berat penyakit sendi, nucleus menonjol keluar sampai anulus atau menjadi
extruded dan melintang sebagai potongan bebas pada canalis vertebralis. Lebih
sering, fragmen dari nucleus pulposus menonjol sampai pada celah anulus,
biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-kadang ditengah), dimana mereka
mengenai menimpa sebuah serabut atau beberapa serabut syaraf. Tonjolan yang
besar dapat menekan serabut-serabut saraf melawan apophysis artikuler.
Hernia Servikalis
Keluhan utama nyeri radikuler pleksus servikobrakhialis. Penggerakan
kolumma vertebralis servikal menjadi terbatas, sedang kurvatural yang normal
menghilang. Otot-otot leher spastik, kaku kuduk, refleks biseps yang menurun
atau menghilang Hernia ini melibatkan sendi antara tulang belakang dari C5 dan
C6 dan diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini menonjol keluar
posterolateral mengakibatkan tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini menghasilkan
nyeri radikal yang mana selalu diawali gejala-gejala dan mengacu pada kerusakan
kulit.
Hernia Thorakalis
Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris tengah hernia. Gejalagejalannya terdiri dari nyeri radikal pada tingkat lesi yang parastesis. Hernia dapat
menyebabkan melemahnya anggota tubuh bagian bawah, membuat kejang
paraparese kadang-kadang serangannya mendadak dengan paraparese.
Penonjolan pada sendi intervertebral toracal masih jarang terjadi (menurut
love dan schorm 0,5 % dari semua operasi menunjukkan penonjolan sendi). Pada
empat thoracal paling bawah atau tempat yang paling sering mengalami trauma
jatuh dengan posisi tumit atau bokong adalah faktor penyebab yang paling utama.
3.3.5 Gambaran Klinis
Hernia Lumbosakralis
Gejala pertama biasanya low back pain yang mula-mula berlangsung dan
periodik kemudian menjadi konstan. Rasa nyeri di provokasi oleh posisi badan
tertentu, ketegangan hawa dingin dan lembab, pinggang terfikasi sehingga
kadang-kadang terdapat skoliosis. Gejala patognomonik adalah nyeri lokal pada
tekanan atau ketokan yang terbatas antara 2 prosesus spinosus dan disertai nyeri

39

menjalar kedalam bokong dan tungkai. Low back pain ini disertai rasa nyeri
yang menjalar ke daerah iskhias sebelah tungkai (nyeri radikuler) dan secara
refleks mengambil sikap tertentu untuk mengatasi nyeri tersebut, sering dalam
bentuk skilosis lumbal.
Syndrom Perkembangan lengkap syndrom sendi intervertebral lumbalis
yang prolaps terdiri :
1.

Kekakuan/ketegangan, kelainan bentuk tulang belakang.

2.

Nyeri radiasi pada paha, betis dan kaki

3.

Kombinasi paresthesiasi, lemah, dan kelemahan refleks

Nyeri radikuler dibuktikan dengan cara sebagai berikut :


1.

Cara Kamp. Hiperekstensi pinggang kemudian punggung diputar


kejurusan tungkai yang sakit, pada tungkai ini timbul nyeri.

2.

Tess Naffziger. Penekanan pada vena jugularis bilateral.

3.

Tes Lasegue. Tes Crossed Laseque yang positif dan Tes Gowers dan
Bragard yang positif.

Gejala-gejala radikuler lokasisasinya biasanya di bagian ventral tungkai


atas dan bawah. Refleks lutut sering rendah, kadang-kadang terjadi paresis dari
muskulus ekstensor kuadriseps dan muskulus ekstensor ibu jari.
Hernia servicalis
-

Parasthesi dan rasa sakit ditemukan di daerah extremitas (sevikobrachialis)

Atrofi di daerah biceps dan triceps

Refleks biceps yang menurun atau menghilang

Otot-otot leher spastik dan kakukuduk.

Hernia thorakalis
-

Nyeri radikal

Melemahnya anggota tubuh bagian bawah dapat menyebabkan kejang


paraparesis

Serangannya kadang-kadang mendadak dengan paraplegia

3.3.6 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan amanesis, gambaran klinis dan
gambaran radiologis. Ada adanya riwayat mengangkat beban yang berat dan

40

berualangkali, timbulnya low back pain. Gambaran klinisnya berdasarkan lokasi


terjadinya herniasi.
Diagnosa pada hernia intervertebral , kebocoran lumbal dapat ditemukan
secepat mungkin. Pada kasus yang lain, pasien menunjukkan perkembangan cepat
dengan penanganan konservatif dan ketika tanda-tanda menghilang, testnya tidak
dibutuhkan lagi. Myelografi merupakan penilaian yang baik dalam menentukan
suatu lokalisasi yang akurat yang akurat.
3.3.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan NPB diberikan untuk meredakan gejala akut dan
mengatasi etiologi. Pada kasus HNP, terapi dibagi berdasarkan terapi konservatif
dan bedah.
Terapi Konservatif
Tujuan terapi konservatif adalah mengurangi iritasi saraf, memperbaiki
kondisi fisik pasien dan melindungi dan meningkatkan fungsi tulang punggung
secara keseluruhan. 90% pasien akan membaik dalam waktu 6 minggu, hanya
sisanya yang membutuhkan pembedahan.
Terapi konservatif untuk NPB, termasuk NPB akibat HNP meliputi:
1.

Tirah baring
Tujuan tirah baring untuk mengurangi nyeri mekanik dan tekanan intradiskal,

lama yang dianjurkan adalah 2-4 hari. Tirah baring terlalu lama akan
menyebabkan otot melemah. Pasien dilatih secara bertahap untuk kembali ke
aktivitas biasa.
Posisi tirah baring yang dianjurkan adalah dengan menyandarkan punggung,
lutut dan punggung bawah pada posisi sedikit fleksi. Fleksi ringan dari vertebra
lumbosakral akan memisahkan permukaan sendi dan memisahkan aproksimasi
jaringan yang meradang.
2.

Medikamentosa
i.

Analgetik dan NSAID

ii.

Pelemas otot: digunakan untuk mengatasi spasme otot

iii.

Opioid: tidak terbukti lebih efektif dari analgetik biasa. Pemakaian


jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan

41

iv.

Kortikosteroid oral: pemakaian masih menjadi kontroversi namun dapat


dipertimbangkan pada kasus HNP berat untuk mengurangi inflamasi.

v.

Analgetik ajuvan: dipakai pada HNP kronis

Terapi Fisik
1. Traksi pelvis
Menurut panel penelitian di Amerika dan Inggris traksi pelvis tidak
terbukti bermanfaat. Penelitian yang membandingkan tirah baring, korset dan
traksi dengan tirah baring dan korset saja tidak menunjukkan perbedaan dalam
kecepatan penyembuhan.
2. Diatermi/kompres panas/dingin
Tujuannya adalah mengatasi nyeri dengan mengatasi inflamasi dan spasme
otot. keadaan akut biasanya dapat digunakan kompres dingin, termasuk bila
terdapat edema. Untuk nyeri kronik dapat digunakan kompres panas maupun
dingin.
3. Korset lumbal
Korset lumbal tidak bermanfaat pada NPB akut namun dapat digunakan
untuk mencegah timbulnya eksaserbasi akut atau nyeri NPB kronis. Sebagai
penyangga korset dapat mengurangi beban diskus serta dapat mengurangi spasme.
4. Latihan
Direkomendasikan melakukan latihan dengan stres minimal punggung
seperti jalan kaki, naik sepeda atau berenang. Latihan lain berupa kelenturan dan
penguatan. Latihan bertujuan untuk memelihara fleksibilitas fisiologik, kekuatan
otot, mobilitas sendi dan jaringan lunak. Dengan latihan dapat terjadi
pemanjangan otot, ligamen dan tendon sehingga aliran darah semakin meningkat.
5. Latihan kelenturan
Punggung yang kaku berarti kurang fleksibel akibatnya vertebra
lumbosakral tidak sepenuhnya lentur. Keterbatasan ini dapat dirasakan sebagai
keluhan kencang.
Latihan untuk kelenturan punggung adalah dengan membuat posisi
meringkuk seperti bayi dari posisi terlentang. Tungkai digunakan sebagai
tumpuan tarikan. Untuk menghasilkan posisi knee-chest, panggul diangkat dari
lantai sehingga punggung teregang, dilakukan fleksi bertahap punggung bawah

42

bersamaan dengan fleksi leher dan membawa dagu ke dada. Dengan gerakan ini
sendi akan mencapai rentang maksimumnya. Latihan ini dilakukan sebanyak 3
kali gerakan, 2 kali sehari.
6. Latihan penguatan

Latihan pergelangan kaki: Gerakkan pergelangan kaki ke depan dan


belakang dari posisi berbaring.

Latihan menggerakkan tumit: Dari posisi berbaring lutut ditekuk dan


kembali diluruskan dengan tumit tetap menempel lantai (menggeser
tumit).

Latihan mengangkat panggul: Pasien dalam posisi telentang, dengan lutut


dan punggung fleksi, kaki bertumpu di lantai. Kemudian punggung
ditekankan lantai dan panggul diangkat pelan-pelan dari lantai, dibantu
dengan tangan yang bertumpu lantai. Latihan ini untuk meningkatkan
lordosis vertebra lumbal.

Latihan berdiri: Berdiri membelakangi dinding dengan jarak 10-20 cm,


kemudian punggung menekan dinding dan panggul direnggangkan dari
dinding sehingga punggung menekan dinding. Latihan ini untuk
memperkuat muskulus kuadriseps.

Latihan peregangan otot hamstring: Peregangan otot hamstring penting


karena otot hamstring yang kencang menyebabkan beban

vertebra

lumbosakral termasuk pada anulus diskus posterior, ligamen dan otot


erector spinae. Latihan dilakukan dari posisi duduk, kaki lurus ke depan
dan badan dibungkukkan untuk berusaha menyentuh ujung kaki. Latihan
ini dapat dilakukan dengan berdiri.

Latihan berjinjit: Latihan dilakukan dengan berdiri dengan seimbang pada


2 kaki, kemudian berjinjit (mengangkat tumit) dan kembali seperti semula.
Gerakan ini dilakukan 10 kali.

Latihan mengangkat kaki: Latihan dilakukan dengan menekuk satu lutut,


meluruskan kaki yang lain dan mengangkatnya dalam posisi lurus 10-20
cm dan tahan selama 1-5 detik. Turunkan kaki secara perlahan. Latihan ini
diulang 10 kali.

43

Proper body mechanics: Pasien perlu mendapat pengetahuan mengenai


sikap tubuh yang baik untuk mencegah terjadinya cedera maupun nyeri.

Beberapa prinsip dalam menjaga posisi punggung adalah sebagai berikut:

Dalam posisi duduk dan berdiri, otot perut ditegangkan, punggung tegak
dan lurus. Hal ini akan menjaga kelurusan tulang punggung.

Ketika akan turun dari tempat tidur posisi punggung didekatkan ke pinggir
tempat tidur. Gunakan tangan dan lengan untuk mengangkat panggul dan
berubah ke posisi duduk. Pada saat akan berdiri tumpukan tangan pada
paha untuk membantu posisi berdiri.

Posisi tidur gunakan tangan untuk membantu mengangkat dan menggeser


posisi panggul.

Saat duduk, lengan membantu menyangga badan. Saat akan berdiri badan
diangkat dengan bantuan tangan sebagai tumpuan.

Saat mengangkat sesuatu dari lantai, posisi lutut ditekuk seperti hendak
jongkok, punggung tetap dalam keadaan lurus dengan mengencangkan
otot perut. Dengan punggung lurus, beban diangkat dengan cara
meluruskan kaki. Beban yang diangkat dengan tangan diletakkan sedekat
mungkin dengan dada.

Jika hendak berubah posisi, jangan memutar badan. Kepala, punggung dan
kaki harus berubah posisi secara bersamaan.

Hindari gerakan yang memutar vertebra. Bila perlu, ganti wc jongkok


dengan wc duduk sehingga memudahkan gerakan dan tidak membebani
punggung saat bangkit.

Dengan melakukan latihan setiap hari, atau setidaknya 3-4 kali/minggu secara
teratur maka diperkirakan dalam 6-8 minggu kekuatan akan membaik sebanyak
20-40% dibandingkan saat NPB
Terapi operatif
Terapi bedah berguna untuk menghilangkan penekanan dan iritasi saraf
sehingga nyeri dan gangguan fungsi akan hilang. Tindakan operatif HNP harus
berdasarkan alasan yang kuat yaitu berupa:

Defisit neurologik memburuk.

Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).

44

Paresis otot tungkai bawah.

Pada discectomy, sebagian dari discus intervertebralis diangkat untuk mengurangi


tekanan terhadap nervus. Laminectomy dapat dilakukan sebagai dekompresi.

45

BAB IV
PEMBAHASAN

Tn. S, usia 51 tahun, datang ke poli rehabilitasi medik rumah sakit mardi
waluyo dengan keluhan nyeri pada punggung bawah sejak 8 bulan yang lalu.
Pasien mengatakan nyeri pada punggung menjalar ke betis kiri. Nyeri dirasakan
terus menerus. Nyeri memberat saat aktivitas dan berkurang bila istirahat . Pasien
tidak mengeluhkan adanya rasa tebal dan kesemutan pada kaki. Pasien mengaku
bahwa pernah terjatuh dari sepeda motor dengan posisi miring ke kiri Riwayat
mengangkat beban berat (+), karena pekerjaannya sebagai petani yang sering
mengangkat rumput hingga >20 kg. Sebelumnya pasien belum pernah menjalani
terapi di poli rehabilitasi medik, Pasien juga mengatakan untuk mengurangi
nyerinya suah mengkonsumsi obat anti nyeri yang diberikan oleh dokter spesialis
saraf. Pemeriksaan fisik didaptkan nyeri tekan pada daerah lumbalis. Pada tes
provokasi Lasegue (-/+). Dan hasil pemeriksaan penunjang, yaitu foto
lumbosakral AP/Lateral didapatkan kesimpulan : bekas minimal compression
fracture pada corpus vertebrae L1, dengan spondyloarthrosis lumbalis, dan
adanya paravertebral muscle spasme serta suspect HNP di L4-5 dan terutama L5sacrum.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka didapatkan kesimpulan
adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain) yang dicurigai dengan
adanya jepitan pada saraf. Hal tersebut didukung dengan adanya hasil positif pada
tes Lasegue. Kemudian keluhan dan pemeriksaan fisik tersebut didukung oleh
hasil foto yang menyimpulkan bahwa adanya bekas minimal compression fracture
pada corpus vertebrae L1, dengan spondyloarthrosis lumbalis, dan adanya
paravertebral muscle spasme serta suspect HNP di L4-5 dan terutama L5-sacrum.
Sehingga pada pasien ini di diagnosa dengan LBP et causa suspect HNP di L4-5
dan L5-sacrum. Namun untuk memastikan atau diagnosa pasti HNP perlu
dilakukan MRI.
Pada pasien ini didapatkan masalah medis nyeri punggung bawah.
Masalah rehabilitasi medik pada ADL berupa gangguan dalam melakukan
aktivitas fisik sehari-hari yang melibatkan punggung, dan masalah lainnya yaitu

46

nyeri menjalar sampai betis kiri. Kemudian, dari masalah tersebut, maka
perbaikan rehabilitasi medik pada pasien ini memiliki tujuan jangka pendek :
mengurangi nyeri pada punggung bawah dan betis kiri, dan tujuan jangka panjang
: menghilangkan nyeri dan mengembalikan fungsi normal.
Untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang pada pasien ini,
program rehabilitasi medik yang dilakukan yaitu fisioterapi berupa SWD pada
lumbal dan TENS pada lateral cruris sinistra, traksi lumbal, okupasi prostetik
berupa korset lumbal, sosial medik dengan memberikan motivasi agar pasien
melanjutkan terapi dengan teratur, serta memberikan edukasi pada pasien.
Pada pasien ini diberikan fisioterapi berupa terapi panas yaitu SWD
(Shortwave Diathermy). Pada pasien ini diberikan terapi tersebut pada regio
lumbal

karena

SWD

bertujuan

untuk

terapi

penyakit-penyakit

neuromuskuloskeletal dengan cara membangkitkan respon tubuh sehingga


menimbulkan efek fisiologis akibat dari perubahan suhu. SWD memiliki efek
terapeutik pemanasan jaringan lokal, yaitu :

Akselerasi proses penyembuhan jaringan

Menurunkan nyeri dan memberikan efek sedatif

Menurunkan spasme otot

Meningkatkan lingkup gerak sendi

Menurunkan edema kronis

Indikasi SWD ialah :

Kondisi muskuloskeletal (tendinitis, tenosinovitis, bursitis, dll)

Nyeri (leher, punggung bawah, miofasial, neuralgia posherpetik,


dll)

Arthritis

Kontraktur

Relaksasi otot

Inflamasi kronik

TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation) pada lateral cruris


sinistra. Penggunaan TENS bertujuan untuk mengurangi atau memodulasi rasa
nyeri. Indikasi TENS ialah :

Nyeri muskuloskeletal

47

Nyeri pre dan pasca operasi

Nyeri pada saat fraktur dan masa penyembuhan

Nyeri pada bidang obstetrik

Nyeri pada sendi temporomandibular

Selain itu, dilakukan pula traksi lumbal. Traksi adalah penggunaan tenaga
untuk meregangkan jaringan lunak dan untuk memisahkan permukaan sendi atau
tulang. Traksi dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada nyeri leher dan nyeri
punggung bawah. Indikasi dilakukannya traksi ialah pada herniasi diskus dengan
atau tanpa kompresi akar saraf. Tujuan dilakukannya traksi ialah, sebagai berikut:

Memperluas foramen intervertebral

Memisahkan sendi apophyseal

Meregangkan otot dan ligamen

Mengurangi nyeri dan herniasi diskus

Penggunaan korset lumbal sebagai penahan pada punggung sangat


membantu untuk mengatasi Low Back Pain yang dapat membungkus punggung
dan perut.
Selain terapi modalitas, traksi dan okupasi prostetik, edukasi pada pasien
juga sangat penting mengingat bahwa tatalaksana untuk mengurangi nyeri
punggung bawah yang disebabkan oleh HNP memiliki proses yang lama.
Sehingga pasien harus diedukasi agar rajin melakukan terapi secara teratur untuk
mencegah komplikasi atau memperberat keluhan.

48

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pasien laki-laki usia 51 tahun, datang ke poli rehabilitasi medik rumah
sakit mardi waluyo dengan keluhan nyeri pada punggung bawah sejak 8
bulan yang lalu. Pasien mengatakan nyeri pada punggung menjalar ke betis
kiri. Nyeri dirasakan terus menerus. Nyeri diperberat saat aktivitas. Pasien
tidak mengeluhkan adanya rasa tebal pada kaki.
Terapi yang diberikan pada pasien ini dapat berupa latihan atau exercise,
terapi panas SWD (Shortwave Diathermy), (modalitas TENS (Transcutan
Electrical Nerve Stimulation), traksi lumbal serta edukasi kepada pasien agar
selalu rutin dalam melakuakn terapi di rumah sakit maupun home exercise.

5.2 Saran
- Pada pasien dengan keluhan nyeri baik dibagian punggung bawah dan
bagian tubuh lainnya hendaknya segera memeriksakan ke dokter agar tidak
terjadi komplikasi seperti kontraktur otot.
- Adanya peran serta yang baik dan benar dari seluruh pihak yang terkait
mulai dari pasien, keluarga dan tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam
upaya pencegahan dan penanganan penyakit pasien. Pemeriksaan terhadap
pasien berperan penting dalam hal diagnosis dini, diharapkan dapat lebih
mengembangkan terapi yang lebih efektif demi tercapainya kondisi pasien
yang lebih baik.

49

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, Jong Wd.2005. Hernia Nukleus Pulposus. Dalam: Buku


Ajar Ilmu Bedah Edisi ke-2. Jakarta: EGC. 835
2. Syaanin, Syaiful. Neuro surgery of Hernia Nucleus Pulposus. Padang: RSUP.
Dr. M. Djamil/FK-UNAND Padang.
3.

Nicrovic, Peter. A. 2009. Back pain in children and adolescents: Overview of


causes.UpToDate System at ic review ver.17 .3

4. Lee,

Dennis,

2011.

Low

Back

Pain

Symptoms.

Diunduh

dari

http://www.medicinenet.com/spondylolisthesis/page2.htm#symptoms
[Diakses september 2014].
5. Irani, Z. HNP Imaging .Diunduh darihttp:// emedicine.medscape. com/article/
396016-overview#showall [Diakses september 2014]
6. Shiel Jr, William C. HNP. MedicineNet.com . Diunduh dari : http://
www.medicinenet. com/hnp/page2.htm [Diakses september 2014]
7. Japardi, I. 2002, HNP. Dalam USU digital Library. Fakultas Kedokteran,
Bagian Bedah, Universitas Sumatera Utara.
8. Medical Disability Guidelines, 2009. HNP. Didapat dari : http://www.
mdguidelines. com/hnp/definition
9. Anonym. 2009. Nyeri pinggang (Low Back Pain). http://www.blogdokter.net/
10. Garisson, J. Susan. 2001. Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik. Jakarta
: Hipokrates. pp : 72.
11. Sudoyo A.W., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata K.M., & Setiati S. (eds),
2007. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen FK
UI.Hal : 599-604.
12. M. Alvin. H. , dkk. 2003. Guidance to Anatomy. Jilid II. Surakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Hal : 157-158.
13. Jefri S. dkk. 2008. Art of Terapi. Yogyakarta : Pustaka Cendekia Press. Hal :
248-252.
14. Bickley, Linn. S. 2008. Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Bates.
Jakarta : ECG. Hal : 275-285

50