Anda di halaman 1dari 7

D.

Aplikasi Ultra Sonik


1.

Metode Aplikasi

Pada prinsipnya perpindahan energy US dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu: a. kontak
langsung, b. tidak langsung
a.

Kontak Langsung

Cara ini paling banyak digunakan. Untuk mendapatkan kontak yang sempurna antara
transduser dengan kulit diperlukan kontak medium.
Kontak medium yang paling banyak dipakai adalah:
1) Oils (minyak)
2) Woter-oil emulsion
3) Aqueous-gels
4) Ointments (pasta)
Dewasa ini yang paling banyak digunakan sebagai kontak medium adalah gel, karena
pada waktu dipakai tidak mudah habis atau hilang. Air pada prinsipnya merupakan
medium yang sangat baik dan murah tetapi sulit untuk diterapkan.
b.
1)

Kontak Tidak Langsung

Sub-aqual (dalam air)


Bagian tubuh yang diterapi dan transduser dimasukkan kedalam bak yang berisi air.
Dengan menempatkan transduser pada jarak tertentu, fenomena interfernsi yang
terjadi di area konvergen dapat dihindari.
2)
Water Pillow
Disini yang digunakan adalah kanting plastic atau karet yang diisi air kira-kira dari
isi kantong tersebut. Kantong ini dapat menempel dengan baik pada permukaan
tubuh yang tidak rata. Baik pada transduser maupun pada sisi dimana kantong
menempel kulit harus diberi kontak medium yang cukup. Perlu diketahui bahwa
dengan cara ini banyak energy US yang hilang.
Air yang digunakan pada kedua metode di atas sebaiknya dimasak dulu utuk
menghindari adanya gelembung-gelembung udara.
Untuk metode aplikasi US dengan menggunakan metode kontak langsung maupun
tidak langsung, transduser dapat digerakan (dinamis) dan menetap (statik).
a)
Dinamis
Disini transduser digerakan terus menerus selama terapi. Geraka tersebut dapat
berupa gerakan membujur (longitudinal), gerakan melintang dari jaringan yang
diobati, maupun gerakan melingkat seperti sepiral.

Transduser harus tetap bergerak meskipun area yang diobati kecil. Gerakan
transduser harus ritmis, pelan dan tekanan terhadap kulit tidak boleh terlalu keras.
b)
Statis
Metode ini jarang sekali digunakan karena bahaya timbulnya kerusakan jaringan atau
kavitasi sangat besar meskipun diberikan dengan intensitas rendah.
Sedangkan metode dalam air (sub-aqual). Transduser dapat didiamkan pada sebuah
jarak diluar area konvergen.
2.
Penentuan Dosis
Dosis merupakan hasil perkalian antara intensitas dan lamanya terapi. Dalam menentukan
dosis terapi harus diperhatikan faktor-faktor dibawah ini:
a.
Kemungkinan memilih frekuensi yang berbeda.
b.
Kemungkinan memilih gelombang continue atau terputus-putus. Dengan intensitas dan
waktu yang sama, gelombang yang terputus-putus akan memberi dosis yang lebih rendah.
c.
Bila efek panas yang kita inginkan untuk tujuan terapi, lebih baik dipilih gelombang
continue.
d.
Jaringan mana yang akan diobati serta aktualitas kondisinya.
Berikut ini akan dibahas secara berturut-turut tentang intensitasnya, lamanya terapi dan
frekuensi pemberian terapi.
a)
Intensitas
Berapa banyak intensitas yang diberikan dinyatakan dalam W/cm2. Pada
pelaksanaannya pemberian intensitas ini sangatlah bervariasi, dimana setiap ahli
mempunyai pendapat yang berlainan dengan ahli lain. Menurut lehmann dia akan
memberikan energi dengan intensitas yang tinggi. Sedangkan edel dan lange akan
memberikan energi dengan intensitas yang rendah, karena menurutnya intensitas yang
rendah akan memberikan efek yang lebih baik. Ada ahli lain (conradi) yang berpendapat
bahwa, pemberian intensitas sebesar 0,6 W/cm2 pada kasus-kasus tertentu sudah
merupakan intensitas ynag tinggi.
Dari pendapat-pendapat yang berlawanan ini, sebagai pegangan dapat diberikan,
bahwa pada pemberian secara continue:
1) Kurang dari 0,3 W/cm2 merupakan intensitas yang rendah.
2) 0,-1,2 W/cm2 merupakan intensitas yang sedang.
3) 1,2-3 W/cm2 merupakan intensitas yang tinggi.
Sedangkan pada terputus-putus harus dihitung berdasarkan nilai rata-ratanya.
Misalnya pada intensitas 1 W/cm2 dalam posisi 1:5 terputus-putus adalah sama dengan 0,2
W/cm2 pada continue. Selama pemberian terapi tak boleh terjadi rasa sakit pada daerah
yang diterapi, tetapi adanya rasa tusuk-tusuk yang ringan sekali masih diperbolehkan. Jika
setelah pemberian terapi timbul sakit kepala, pusing, maupun adanya reaksi vegetatif yang
lain, maka pada pemberian terapi berikutnya harus diberikan intensitas yang lebih rendah.
b)
Lamanya Terapi

3.
a.

b.

Di dalam literatur tak terdapat penentuan mengenai lamanya terapi. Lamanya terapi
tergantung pada luas permukaan dari daerah yang diterapi dan juga luas dari permukaan
treatment-head yang digunakan. Menurut lehmenn maksimal lamanya terapi adalah 15
menit pada daerah seluas 75-100 cm2 dengan treatment-head yang besar. Sebagai pedoman
yang dapat kita gunakan, bahwa permukaan seluas 1 cm2 membutuhkan waktu minimal
satu menit.
c)
Frekuensi Terapi
Frekuensi terapi dari pemberian terapi sebenarnya bukan merupakan bagian dari
penentuan dosis, tetapi merupakan kelanjutannya. Aktualitas dari penyakit menentukan
pemberian dosis, dan pemberian dosis menentukan frekuensi dari terapi yang diberikan.
Pada penyakit-penyakit dengan aktualitas tinggi (akut) harus diterapi minimal setiap hari.
Sedangkan pada penyakit-penyakit yang aktualitasnya rendah (misalnya : Chronic) akan
diterapi 2 sampai 3 kali perminggu.
Prosedur Aplikasi
Sebelum Terapi
1)
Therapist memulai dengan melakukan anamnesis yang diarahkan pada terapi US dan
menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan kontra indikasi.
2)
Pasien harus diberi penjelasan tentang langkah-langkah terapi yang diberikan beserta
tujuannya.
3)
Tempat dari keluhan harus dilokalisasi setepat mungkin.
4)
Test sensibilitas panas pada tempat tersebut.
5)
Sementara itu therapist harus memutuskan metode apa yang akan diberikan, kontak
langsung atau tidak langsung.
6)
Pasien harus diposisikan yang confortable, yaitu rilek dan tanpa adanya rasa sakit.
7)
Daerah yang akan diterapi harus dibersihkan, dapat dengan sabun atau alcohol 70%.
8)
Rambut yang terlalu lebat, sebaiknya dicukur.
Selama Terapi
1)
Terapis menyetel parameter pada mesin US, misalnya:
a)
Frekuensi (1 atau 3 MHz)
b)
Jenis energi yang diberikan (continue atau intermetten)
c)
Intensitas
2)
Sementara itu tentunya terapis sudah memiliki besarnya treatment-head (besar atau
kecil)
a)
Treatment-head ditempatkan pada daerah yang diterapi
b)
Tentukan lamanya pengobatan
c)
Treatment-head herus selalu digerakan dengan irama yang teratur dengan
pelan-pelan, termasuk juga pada metode semi statik.
d)
Terapis harus selalu menanyakan kepada pasien, tentang apa yang dirasakan.
Sehubungan dengan hal ini intensitas dapat dikurangi atau jenis energy yang
diberikan dapat diganti misalnya continue atau intermitten.

c.

Sesudah Terapi
Mesin dimatikan.
Baik daerah yang diobati maupun treatment-head dibersihkan dengan handuk atau tissue.
Disamping itu untuk treatment-head harus dibersihkan pula dengan alcohol 70%.
Control efek-efek yang diharapkan (misalnya: nyeri, sirkulasi, mobility). Dan sekaligus
perhatikan pula terhadap efek-efek samping yang mungkin timbul.

E. Aplikasi Khusus
1.

Phonophoresis
Adalah suatu cara/upaya untuk memasukan suatu benda/substansi kedalam jarinagn tubuh
menggunakan energy ultra sonic. Menurut penyelidikan penetrasi substansi ke jaringan yang
optimal adalah sekitar 1-2 mm. Meskipun ada yang mengatakan sampai 4-6 cm. prosedur
phonophoresis tidak berbeda dengan pemberian ultra sonic biasa. Phonophoresis tidak dapat
dilakukan dengan tehnik dalam air, dan mengurangi konsentrasi larutan obat yang hendak
dimasukkan. Obat ynag sering digunakan untuk phonophoresis adalah obat analgetik dan anti
inflamasi.
Beberapa contoh yang tersedia saat ini adalah:
a.

Xilocaine
Xilocaine tersedia dalam pasta, konsentrasinya 5%. Digunakan terutama ada
kondisi akut sebagai analgetik atau sebagai anal shesia pada kondisi dimana kita inginkan
untuk mengurangi sensibilitas
b.
Iodine
Tersedia dalam bentuk pasta, biasanya dicampur dengan salisilat. Sediaan yang
dipasar adalah Iodek yang mengandung 4,7% Iodine dan 4,8% etilsalisilat. Iodine
digunakan sebagai : vaso dilatators, anti inflamasi dan clerotik.
c.
Salisilat
Tersedia dalam pasta yang mengandung 10% salisilat. Digunakan sebagai analgesic.
(lihat nebulizer)
d.
Hidrocortison
Tersedia dalam bentuk pasta dengan konsentrasi tinggi 1% - 10%. Beberapa peneliti
menyukai yang berkonsentrasi tinggi (10%). Tetapi beberapa penyelidik meragukan behwa
semakin tinggi konsentrasinya semakin besar terpeutik efeknya. Digunakan sebagai anti
inflamasi dan pada beberapa kondisi juga memberikan efek analgesik.
e.
Mecahlil
Tersedia dalam bentuk pasta dalam komposisi 0,25% metacholone dan 10% salisilat.
Efeknya adalah vasodilatator dan analgesic ringan, sehingga banyak digunakan pada
kondisi-kondisi vaskuler, deficit nemovaskuler dan sebagainya.
f.
Zink

Dipasar didapat dalam bentuk pasta dan digunakan intuk kondisi luka terbuka (open
wound).
Dosis :
Penentuan dosis prinsipnya juga sama dengan US biasa, dosis yang umum digunakan adalah :
a) Intensitas
: 1 1,5 W/cm2.
b) Waktu
: 6 - 10 detik.
c) Frekuensi
: tiap hari sampai 10 kali.
2.
Terapi Kombinasi
Dalam aplikasi US dapat pula diberikan dengan cara menggabungkan/mengkombinasikan
dengan stimulasi listrik untuk tujuan diagnosis maupun untuk tujuan terapi.

F. Indikasi dan Kontra Indikasi


1.
a.

Indikasi
Kelainan-kelainan/ penyakit pada jaringan tulang, sendi dan otot. Keadaan-keadaan posttraumatik seperti : contusion, distorsi, luxation, fracture.
Dalam hal ini berlaku kontra indikasi yang relative selama 24 36 jam setelah trauma.
Pemberian terapi terutama diarahkan untuk menghilangkan swelling, nyeri dan untuk
mempersiapkan proses pertumbuhan jaringan. Beberapa efek dari US memberikan pengaruh
yang menguntungkan terhadap proses penyembuhan fraktur, abatara lain pada resorbsi calcium.
b.
Rheumatoid Arthritis pada stadium tak aktif
1)
Arthrose / Arthritis
2)
M. Becherev (hanya local)
3)
Bursitis, kapsulitis, tendinitis.
c.
Kelainan / penyakit pada sirkulasi darah
1)
Neuopathie
2)
Phantom pain
3)
HNP
d.
Kelainan / penyakit pada sirkulasi darah
1)
M. Raynould
2)
M. Buerger
3)
Sudeck dystrofie
4)
Oedema
Beberapa penulis menyebutkan bahwa , terapi local pada penyakit-penyakit di atas
hasilnya amat sedikit. Oleh karena itu, terlebih dahulu dipilihkan terapi segmental.
e.
Penyakit-penyakit pada organ dalam
Telah banyak ditulis dari pengalaman-pengalaman klinik, bahwa US dapat
memberikan pengaruh terhadap organ-organ dalam, melalui terapi segmental.
f.
Kelainan-kelainan / penyakit pada kulit

1)
Jaringan parut oleh karena operasi
2)
Jaringan parut oleh karena traumatik
g.
Dupuytron Contractur
h.
Luka terbuka
2.
Kontra Indikasi
a.
Absolud
Oleh karena US terapi diterapkan dengan intensitas yang tinggi, maka efek panas yang
tinggi dapat terjadi, sehingga semua kontra indikasi seperti yang berlaku untuk terapi panas,
berlaku juga disini. Bedasarkan pertimbangan keamanan, beberapa organ tidak boleh diberika
terapi US, seperti :
1)
Mata
Karena dapat memberikan kemungkinan terjadinya cavitas di dalam kelenjar air
mata, yang bahkan dapat sampai terjadi kerusakan.
2)
Jantung
Pada aplikasi secara langsung bisa mengakibatkan terjadinya perubahan aksi
potensial.
3)
Uterus pada wanita hamil
Meskipun intensitas yang dapat mencapai uterus sangatlah kecil, tetapi dari segi
keamanan, daerah perut pada wanita yang hamil tak boleh diberikan US.
4)
Epiphysealplates
Dulu daerah ini termasuk kontra indikasi, tetapi pada pemberian secara intermetten
dan intensitas yang rendah, maka pada dewasa ini pasien dibawah umur 18 tahun
dapat pula diberikan terapi US pada daerah tersebut.
5)
Testis
Karena pengaruh getaran US pada jaringan ini belum dapat dipastikan. Maka
jaringan ini tidak boleh diberikan terapi dengan US.
b.
Relative
1)
Post laminectomie
2)
Hilangnya sensibilitas
3)
Endorprothese
4)
Tumor
5)
Post traumatic
6)
Tromboplebitis dan varices
7)
Septis-inflamations
8)
Diabetes melitus