Anda di halaman 1dari 12

Ecuador Grants Asylum to Assange, Defying Britain

Tugas Hukum Diplomatik Dan Konsuler


Oleh

Rudy Saputra

110113080160

Nandini Parahita Yulisani

110113080007

Widita Argyagani M

110111090061

Defit Archila

110111090069

Febi Chaidir

110111090089

R Rachmat Harry S

110111090100

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN

Pendahuluan
Akhir-akhir ini dunia internasional terfokus pada pendiri wikileaks julian assange. Hal-hal
yang dilakukannya sungguh membuat negara amerika marah dan menjadikannya enemy of
the state . dia membeberkan informasi-informasi rahasia amerika ke publik dimana banyak
kebohongan-kebohongan yang dilakukan amerika dan sekutunya

atas perang di

afganistan,irak serta rahasia lainnya. Dan julian assange juga membeberkannya kepada
setidaknya empat publikasi utama dunia - The New York Times, El Pais (Spanyol), The
Guardian (Inggris) dan Der Spiegel (Jerman).dan atas tindakannya tersebut tiba-tiba terjadi
kriminalisasi terhadap dirinya dimana dia dituduh pelecehan seksual di swedia. Dan dia akan
dituntut dan dijatuhi hukuman di mana swedia mempunyai ekstradiksi ke amerika. Namun
ketika dia berada di inggris julian assange meminta suaka di kedutaan besar ekuador di
inggris. Dan pemerintah ekuador mendapat tekanan dari berbagai pihak dan amerika
menyatakan perlindungan diplomatik terhadap julian assange adalah tidak sah dan melanggar
hukum atau kebiasaan internasional. Namun dalam perjalannya pemerintah ekuador
menyatakan memberikan suaka kepada julain assange dan dalam pernyataan duta besar
ekuador The government of Ecuador, faithful to its tradition of protecting those who seek
refuge in its territory or in its diplomatic missions, has decided to grant diplomatic asylum to
Julian Assange dan julian assange berterima kasih kepada pemerintah ekuador atas suaka
tersebut. Dan memberikan apresiasi atas perlindungannya oleh pemerintah ekuador. Dilihat
dari sudut pandang hukum internasional terutama pada konvensi wina 1961 maka saya akan
membahasnya di bab selanjutnya
Pengertian Suaka
Suaka, yang dalam bahasa asing disebut asylum, pada dasarnya merupakan suatu
bentuk perlindungan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara lain yang
terancam keselamatannya.

Dalam berbagai literatur hukum internasional, secara tegas dibedakan antara suaka
territorial (territorial asylum) dan suaka diplomatik (diplomatic asylum atau extra territorial
asylum). Suaka territorial merupakan suatu bentuk suaka yang diberikan kepada seseorang
yang lari ke dalam wilayah suatu negara. Sebaliknya suaka diplomatik adalah suaka yang
diberikan kepada seseorang yang meminta perlindungan di wilayah perwakilan diplomatik
negara asing sebagaimana yang dilakukan oleh lima pemuda Timor Timur beberapa tahun
yang lalu.
Dibandingkan dengan suaka diplomatik, suaka territorial tidak terlalu menimbulkan
persoalan, karena diberikan di wilayah territorial suatu negara, keputusan suatu negara untuk
memberi atau menolak memberi suaka bisa langsung dibuat oleh penguasa negara tersebut.
Persoalan menjadi lebih kompleks berkenaan dengan pemberian suaka diplomatik, mengingat
bahwa suaka diplomatik dilakukan di wilayah perwakilan asing yang secara de facto terletak
di wilayah negara lain.
Selama ini yang muncul menjadi persoalan dan perdebatan berkepanjangan, berkaitan
dengan suaka diplomatik ini adalah permasalahan mengenai apakah suatu perwakilan
diplomatik bisa menjadi tempat suaka yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat ?
Mengenai hal ini ada dua pendapat yang muncul. Pendapat pertama mengatakan
bahwa perwakilan diplomatik merupakan perpanjangan dari wilayah negara yang
mengirimkan wakil diplomatik. Dengan demikian, suaka bisa diberikan baik di wilayah
territorial maupun di wilayah perwakilan diplomatik negara itu dimanapun. Jika kita
mengikuti pandangan ini, maka perwakilan diplomatik dianggap secara penuh berada
dibawah yurisdiksi negara yang memiliki perwakilan itu. Dengan kata lain, perwakilan
diplomatik memiliki kekebalan mutlak terhadap yurisdiksi negara tempat ia secara de facto
berada (B.Sen, 1979)

Tidak dapat diganggu gugatnya gedung perwakilan asing dapat mencegah


penangkapan seorang peminta suaka secara paksa oleh penguasa setempat, tetapi pada saat
seorang peminta suaka meninggalkan gedung perwakilan asing tersebut, Ia kehilangan
perlindungannya. Perwakilan asing tidak mempunyai hak untuk menuntut agar seseorang
yang telah diberikan suaka itu diberikan jaminan keamanan atau keselamatan untuk
meninggalkan wilayah. Karena itu mungkin benar jika dikatakan bahwa suatu Kedutaan
Besar dalam memberikan perlindungan itu merupakan penyalahgunaan kekebalan atau
keistimewaan dari gedung perwakilanasing yang tidak dapat diganggu gugat (Green,
1973:110)
Pendapat yang kedua menyatakan, bahwa kekebalan yang dimiliki oleh suatu
perwakilan diplomatik tidaklah bersifat mutlak. Kekebalan-kekebalan yang dimiliki oleh
perwakilan diplomatik bukan karena wilayah perwakilan merupakan bagian dari wilayah
negara yang mengirimkan perwakilan, melainkan karena diberikan oleh negara tempat
perwakilan itu berada, semata-mata supaya perwakilan itu bisa menjalankan tugas dan
fungsinya secara baik. Jadi, menurut pendapat yang kedua ini, perwakilan diplomatik
bukanlah wilayah yang secara absolut tidak bisa diganggu gugat (not absolutely inviolable).
Sebagai konsekuensinya, kalau kepentingan negara tempat perwakilan diplomatik itu berada
menghendaki, kekebalan itupun bisa diterobos, sehingga pada dasarnya suaka tidak bisa
diberikan di wilayah perwakilan.
Hukum internasional tidak mengenal hak secara umum dari Kepala Perwakilan asing
untuk memberikan suaka di dalam gedung perwakilannya, karena jelas bahwa tindakan
semacam itu dapat menghalangi perundang-undangan setempat dengan berbuat sekehendak
hatinya dan akan melibatkan suatu pelanggaran kedaulatan negara tempat perwakilan asing
tersebut berada (Suryokusumo, 1995:152)

Pendapat Para Sarjana


Starke (1972:356-357) berpendapat, bahwa hukum internasional modern pada
umumnya tidak mengakui hak dari kepala perwakilan untuk memberikan suaka dalam
gedung kedutaan. Pemberian tersebut agaknya dilarang oleh hukum internasional, sebab
akibatnya dapat membebaskan pelarian dari pelaksanaan hukum dan keadilan oleh negara
territorial.
Tiadanya hak umum untuk memberikan suaka diplomatik ditegaskan oleh Mahkamah
Internasional dalam asylum case, yang memberlakukan apa yang dianggap hukum
internasional regional dari negara-negara Amerika Latin mengenai suaka demikian.
Dalam keadaan luar biasa, suaka dapat diberikan di dalam gedung kedutaan (legation
premises), yakni :
1. Seabagai tindakan yang bersifat sementara bagi individu yang secara fisik berada dalam
bahaya amukan massa, atau pelarian itu berada dalam bahaya karena terjadinya perubahan
politik secara mendadak, maka agaknya yang menjadi alasan pembenar adalah bahwa
dengan pemberian suaka, ancaman yang sifatnya mendesak dapat diredam untuk
sementara.
2. Suaka diplomatik diperbolehkan bilamana terdapat kebiasaan setempat yang bersifat
mengikat, yang sudah lama diakui.
3. Karena adanya suatu perjanjian khusus (yang biasanya memperkenankan hak pemberian
suaka bagi pelaku kejahatan politik) antara negara territorial (negara penerima) dan negara
pengirim.
Sementara itu B. Sen berpandangan, bahwa masalah pemberian suaka dalam gedung
perwakilan diplomatik timbul karena berbagai keadaan. Ada kemungkinan pada waktu
pemberontakan atau perang saudara ataupun kudeta, para pemimpin dari golongan yang kalah
atau anggota-anggota pemerintahan yang telah dipecat, dapat mencari perlindungan dalam

gedung perwakilan diplomatik yang terletak di ibu kota. Juga bisa terjadi bahwa seseorang
dapat mencari atau meminta perlindungan setelah melakukan pembunuhan yang bersifat
politik (political assassination) atau bahkan kejahatan biasa (common crime) (B. Sen, 1979:
356)
Praktik menunjukkan, bahwa tempat perlindungan sedemikian dalam gedung
perwakilan hanya dapat diminta dalam keadaan mendesak, dan masalah yang sering timbul
dan karenanya harus dipikirkan adalah apakah orang-orang tersebut dapat diberi suaka di
dalam gedung-gedung tersebut ? dan berapa lama dapat diberikan ?

Praktik Negara-Negara
Sejak abad ke 15 praktik pemberian suaka di dalam gedung perwakilan diplomatik
bagi para pelarian politik serta buronan sudah lazim dilakukan, dan diakui bahwa sekali suaka
tersebut diberikan, maka pejabat setempat tidak dapat menjalankan yurisdiksi terhadap orangorang yang meminta suaka dan dengan demikian tidak dapat menjatuhkan hukuman terhadap
mereka. Dasar pelaksanaan hak suaka diplomatik adalah bahwa gedung perwakilan
menikmati exterritoliality dan merupakan bagian dari wilayah negara asal wakil diplomatik
itu. Terdapat banyak contoh, bahwa suaka diplomatik sering diberikan oleh negara dimana
gedung perwakilannya dijadikan tempat meminta suaka. Praktik demikian itu berlangsung
sampai abad ke 19. Namun dalam waktu akhir-akhir ini, praktik negara-negara tidak lagi
meneruskan hak suaka, dan banyak negara termasuk Amerika Serikat secara tegas menolak
hak suaka dalam hukum internasional.
Pandangan modern mengenai inviolabilitet dari gedung perwakilan diplomatik
cenderung menunjukkan, bahwa gedung tersebut dianggap sebagai bagian dari wilayah
negara tempat gedung tersebut terletak dan bahwa gedung tadi tidak dapat diganggu gugat
semata-mata untuk tujuan tujuan yang diperlukan bagi berlangsungnya gedung perwakilan

itu secara efektif. Teori Exterritoriality dari gedung perwakilan diplomatik sudah tidak
mendapat dukungan. Hak suaka diplomatik tidak mempunyai dasar dalam hukum
internasional dan oleh karenanya tidak dapat diakui (B. Sen, 1979:357)
Namun demikian dapat dikemukakan juga, bahwa praktik pemberian suaka masih
diakui di beberapa negara Amerika Latin, khususnya negara-negara peserta Konvensi Havana
1928 dan Konvensi Montevideo 1933 mengenai suaka politik. Walaupun Amerika Serikat
adalah peserta Konvensi Havana, tetapi secara tegas tidak mengakui apa yang dinamakan hak
suaka sebagai bagian hukum internasional dan tidak menerima ketentuan-ketentuan Konvensi
tersebut yang berkaitan dengan pemberian suaka (B. Sen, 1979:357)
Jika seorang buronan berlindung dalam gedung perwakilan/gedung Kedutaan Besar,
maka Ia seharusnya diserahkan kepada para pejabat setempat, terutama jika Ia dituduh
melakukan tindak pidana dan para pejabat yang berwenang dari negara penerima telah
mengeluarkan surat perintah penangkapan. Tetapi pada waktu yang bersamaan tampaknya
tidak ada kewajiban dalam hukum internasional bagi kepala perwakilan (the head of mission)
untuk menolak orang-orang yang mau mencari tempat perlindungan dalam Kedutaan Besar
(B. Sen, 1979:358)

Kasus-Kasus Mengenai Tempat Perlindungan Sementara


Praktik negara-negara tampaknya memperlihatkan bahwa meskipun hak perlindungan
diplomatik tidak diakui dalam hukum, namun dibuat suatu perbedaan antara suaka dan kasuskasus mengenai tempat perlindungan sementara (cases of temporary refuge) dalam keadaan
politik yang gawat. Dalam keadaan ini suaka sering diberikan atau diperkenankan. Dalam
banyak kasus, suaka di dalam gedung Kedutaan Besar diperkenankan dan disetujui secara
diam-diam oleh pejabat-pejabat setempat. Misalnya selama revolusi Spanyol pada tahun

1936, banyak pelarian termasuk warga negara Spanyol mencari perlindungan pada berbagai
misi diplomatik di Madrid dan dalam beberapa hal tempat perlindungan itu diberikan.
Kemudian Spanyol merubah sikapnya mengenai suaka diplomatik ini. Menteri Luar Negeri
Spanyol menyampaikan kepada para anggota korps diplomatik, bahwa Spanyol menghormati
hak suaka atasdasar semangat toleransi dan bukan karena diwajibkan untuk berbuat demikian
dan dia mengancam untuk menghentikan praktik pemerintah dalam hal ini. Persoalan ini
kemudian menimbulkan protes oleh berbagai misi diplomatik.
Amerika serikat yang secara konsisten mengambil sikap untuk tidak mengakuihak
suaka, mengizinkan para pejabat diplomatiknya memberikan perlindungan sementara apabila
memang diperlukan untuk melindungi jiwa orang yang tidak bersalah. Contoh-contoh bahwa
Amerika Serikat memperkenankan diberikannya suaka diplomatik, memberikan petunjuk
yang bermanfaat mengenai hal-hal apa yang patut diberikan tempat perlindungan sementara.
Dari kejadian-kejadian yang dilaporkan, bahwa para pejabat diplomatik Amerika
Serikat diperkenankan memberikan perlindungan kepada para peminta suaka, maka
tampaklah bahwa yang menjadi pertimbangan pihak Departemen Luar Negeri adalah adanya
keperluan (neccessity) untuk menyelamatkan kehidupan orang yang tidak berdosa, alasan
kemanusiaan demi membantu orang yang jelas-jelas terancam jiwanya, adanya ketentuan
untuk melindungi para pelarian politik yang berada dalam bahaya, atas dasar kemanusiaan
atau adanya bahaya amukan massa dan tindakan permusuhan.
Berdasarkan praktik yang dikemukakan diatas, maka tampak bahwa hak suaka dalam
gedung perwakilan diplomatik tidak ada dalam hukum internasional, tetapi pada waktu yang
bersamaan Kepala Perwakilan Diplomatik tidak berkewajiban mencegah seorang pelarian
memasuki dan berlindung di dalam gedung perwakilan. Tempat perlindungan sementara
dapat diberikan kepada pelarian-pelarian (refugees) jika mereka berada dalam bahaya atau
untuk menyelamatkan mereka dari amukan massa atau permusuhan. Seorang yang telah

mendapat perlindungan harus diserahkan kepada para pejabat setempat jika Ia diminta
berdasarkan tujuan kejahatan atau adanya surat perintah penangkapan yang telah dikeluarkan
oleh pejabat yang berwenang.
Kasus kelima pemuda Timor Timur yang mencari suaka di gedung perwakilan asing
di jakarta beberapa waktu yang lalu sebagaimana dikemukakan diatas, nampaknya terdapat
perbedaan penafsiran terhadap status pencari suaka. Disatu pihak Indonesia menganggap
bahwa kelima pemuda Timor Timur tersebut sebagai anggota Gerakan Pengacau Keamanan
(GPK) yang melakukan tindak kriminal biasa, sehingga mestinya kantor perwakilan asing
tidak perlu mengabulkan permintaan suaka kelima pemuda Timor Timur tersebut, apalagi
jika pemerintah Indonesia telah meminta secara resmi penyerahan terhadap kelima pemuda
Timor Timur kepada perwakilan asing itu atas dasar tuduhan melakukan tindak pidana biasa.
Tetapi dilain pihak, kantor perwakilan asing di jakarta tersebut mendapat pengakuan dari
kelima pemuda Timor Timur bahwa mereka adalah anggota clendestein (gerakan bawah
tanah) yang melakukan kegiatan politik melawan pemerintah RI, yang keselamatannya
terancam. Jika pengakuan kelima pemuda Timor Timur benar, maka jelas kantor Kedutaan
Besar atau kantor perwakilan asing tersebut tidak bisa mencegah permintaan suaka kelima
pemuda Timor Timur tersebut. Dengan demikian, kasus semacam ini sebenarnya jika
diselesaikan secara yuridis memang agak sulit mendapatkan rujukan formalnya, sebab
sampaio saat ini belum ada ketentuan internasional yang universal dan seragam mengenai
bisa tidaknya suaka diberikan di wilayah-wilayah perwakilan diplomatik. Barangkali agak
lebih mudah jika penyelesaian kasus semacam itu melalui penyelesaian politis. Selain itu,
Indonesia belum pernah mempraktikkan pemberian suaka diplomatik kepada mereka yang
terlibat dal;am kejahatan politik maupun untuk menyelematkan kehidupan mereka yang tidak
berdsosa, sebab sejauh ini penulis belum pernah menemukan kasus-kasus dimana misi
diplomatik Indonesia di luar negeri memberikan suaka di dalam gedung perwakilannya, baik

kepada mereka yang tersangkut kejahatan politik, kejahatan biasa, maupun dalam usaha
menyelematkan orang-orang yang tidak berdosa dari amukan massa.

Penutup
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan diatas, maka dapatlah kiranya ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1.

Bahwa suaka (asylum) adalah perlindungan yang diberikan oleh suatu negara di
wilayahnya atau disuatu tempat lain yang berada dibawah pengawasan dari organ-organ
di negara tersebut kepada seseorang yang datang meminta perlindungan. Suaka dapat
dibedakan atas suaka territorial (territorial asylum) dan suaka extra territorial (extra
territorial asylum), dalam hal ini suaka diplomatik (diplomatic asylum).

2. Dalam hukum internasional suaka territorial pada prinsipnya tidak menimbulkan


permasalahan, karena hak suatu negara untuk memberikan perlindungan dalam batasbatas wilayahnya merupakan konsekuensi dari kedaulatandan yurisdiksi territorial, dalam
hal ini suaka diplomatic kebanyakan penulis sepakat bahwa praktik suaka diplomatik
tidak mempunyai dasar dalam hukum internasional pada umumnya, hukum diplomatik
(Vienna Convention on diplomatic relation) pada khususnya. Walaupun gedung kedutaan
atau perwakilan diplomatik memiliki kekebalan terhadap yurisdiksi negara penerima dan
prinsip inviolabilitet berlaku terhadap tempat tersebut ( sesuai dengan pasal 29 dari
Konvensi Wina 1961), namun suaka diplomatik tidak diakui sebagai hak Kepala
Perwakilan untuk memberikannya kepada para pelaku kejahatan, terutama kejahatan
politik. Akan tetapi dalam hukum internasional tidak ada kewajiban bagi kepala
perwakilan untuk menolak orang-orang yang ingin mendapat tempat perlindungan
(refuge) dalam Kedutaan Besar. Kepala Perwakilan tidak diwajibkan untuk menolak
mereka yang mau berlindung di dalam tempat perwakilan diplomatik. Apa yang harus

dilakukannya ialah menyerahkan orang itu kepada pejabat yang berwenang bilamana
yang bersangkutan dituduh karena kejahatan kriminal dan perintah penangkapan telah
dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari negara penerima. Dengan demikian disatu
pihak Kepala Perwakilan Diplomatik tidak mempunyai hak untuk memberikan suaka
diplomatik, baik kepada pelaku kejahatan politik (political offender, political refuge)
maupun kepada pelaku kejahatan biasa atau buronan polisi, namun dilain pihak, Kepala
Perwakilan tidak dibebani kewajiban untuk menolak mereka yang mau mencari tempat
perlindungan atau memasuki tempat perwakilan untuk berlindung. Tiadanya hak untuk
memberikan suaka itu ditegaskan dalam keputusan Mahkamah Internasional dalam kasus
sengketa antara Colombia melawan Peru (asylum case) dan juga dalam Harvard Research
Draft on Diplomatic Privileges and Immunities, disamping praktik negara-negara dewasa
ini.
3. Kenyataan bahwa hak untuk memberikan suaka diplomatik tidak diakui dalam keputusan
Mahkamah Internasional tahun 1951 (kasus Haya de la Torre) , yaitu antara Kolombia
dan Peru dan terutama tidak diakui dalam Konvensi Wina 1961 tidak berarti bahwa
Kepala Perwakilan Diplomatik berkewajiban untuk menolak orang-orang yang mencari
perlindungan dalam gedung perwakilan diplomatik karena berbagai alasan terutama
alasan politik. Praktik negara-negara menunjukkan bahwa suaka diplomatik itu
diperkenankan atas dasar alasan-alasan kemanusiaan guna melindungi mereka yang
berada dalam bahaya termasuk pelarian politik.

Daftar Pustaka
Green N.A. Maryan, 1973, International Law of Peace, London : Mc Donald & Evans Ltd.
Sen B.,1979. A Diplomats Handbook of International Law and Practice, Nijhoff : The
Haque.
Starke, J.G., 1972, Introduction To International Law, Sevenedition: Nijhoff Martinus.
Suryokusumo, Sumaryo, 1995, Hukum Diplomatik Teori Dan Kasus, Bandung, Alumni.