Anda di halaman 1dari 11

@sclepius Productions

1
RESUSITASI KARDIO PULMONARIS
Sinonim dan Defenisi
. CRP (Cardio Pulmonary Rescucitation) = RKP (Resusitasi Kardio Pulmonaris)
. CPCR (Cardio Pulmonary Cerebral Rescucitation) = RJPO (Resusitasi Jantung Paru
Otak)
. CPR = CPCR = RJPO = RKP
Resusitasi Kardio Pulmonaris (RKP) adalah suatu tindakan gawat darurat akibat ke
gagalan
sirkulasi dan pernafasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna mencegah kema
tian
biologis. RKP sebisa mungkin dilakukan dalam 4 menit untuk menyelamatkan mati
biologis.
Prosedural RKP secara umum terbagi dalam 3 fase, yaitu :
1. Fase I : Basic Life Support (Tunjangan hidup dasar), yaitu prosedur pertolong
an darurat
mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas, dan henti jantung.
Terdiri dari :
. A (airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka.
. B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat.
. C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru.
2. Fase II : Advance Life Support (Tunjangan hidup lanjutan), yaitu tunjangan hi
dup dasar,
ditambah dengan :
. D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan.
. E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin
setelah dimulai kompresi jantung paru, untuk
mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole,
atau agonal ventricular complexes.
. F (fibrilation treathment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.
3. Fase III : Prolonged Life Support (Tunjangan hidup terus-menerus)
Terdiri dari :
. G (gauge) : pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita
secara terus-menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan
kemudian mengobatinya.

@sclepius Productions
2
. H (head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistem
saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti
jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan
neurologis yang permanen.
H (hypotermia) : segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan
saraf pusat, yaitu pada suhu antara 30o
32o C.
H (humanization) : harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia
yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan
hendaknya berdasarkan perikemanusiaan.
. I (intensive care) : perawatan intensif ICU, yaitu : tunjangan ventilasi
(tracheostomi, pernafasan dikontrol terus-menerus, sonde
lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan), dan
tunjangan sirkulasi (mengendalikan kejang)
Indikasi melakukan RKP
1. Henti nafas (Apneu)
Ciri-ciri henti nafas :
. Terdapat sumbatan jalan nafas
. Frekuensi nafas akan lebih cepat dari pada keadaan normal
. Terjadi kelelahan otot-otot nafasn
. Menekan pusat nafas pada Susunan Saraf Pusat . Henti Nafas
2. Henti Jantung (Cardiac Arrest)
Dengan berhentinya nafas, maka oksigen akan tidak ada sama sekali di dalam tubuh
sehingga jantung tidak dapat berkontraksi dan akibatnya henti jantung (cardiac
arrest).
Dengan berhentinya nafas, maka oksigen akan tidak ada sama sekali di dalam tubuh
sehingga jantung tidak dapat berkontraksi dan akibatnya henti jantung (cardiac
arrest).
Keberhasilan RKP tergantung kepada respon time (waktu tanggap), dengan prinsip
waktu adalah nyawa (time saving is live saving).

@sclepius Productions
3
Ciri-ciri henti jantung :
. Kehilangan kesadaran
. Apneu (henti nafas)
. Nadi tidak teraba
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan RKP
1. Meminta bantuan dan menganalisa keadaan diri sendiri serta keadaan sekitar ko
rban.
. Permintaan bantuan dapat dilakukan dengan memanggil orang lain untuk bersamasa
ma
melakukan pertolongan.
. Penolong harus memastikan diri nyaman untuk melakukan pertolongan dan korban
harus juga dalam kondisi aman untuk ditolong.
. Semua benda-benda yang membahayakan baik penolong maupun korbanharus
disingkirkan.
. Proteksi diri terhadap kemungkinan terjangkit penyakit harusdiingat.
2. Menilai kesadaran korban.
Tingkat kesadaran dapat memberi arti terhadap tanda-tanda vital lainnya, seperti
:
. Korban yang sadar dan dapat berbicara . tidak ada kelainan pada pada fungsi
pernafasan dan fungsi sirkulasinya.
. Korban tidak sadar . adanya masalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi.
Gambar 1. Cara menilai kesadaran korban

@sclepius Productions
4
Cara menilai kesadaran korban :
Mengguncang badan korban dengan halus dan memanggil namanya. (Gambar 1)
. Korban yang memberikan respon biarkan pada posisinya dan periksa keadaannya
secara berkala atau bawa segera ke rumah sakit.
. Korban yang tidak memberikan respon, segera berikan pertolongan pertama.
Hal pertama yang dilakukan jika korban tidak sadarkan diri yaitu membuka dan
membersihkan jalan nafas. Airway (jalan nafas) adalah organ vital yang harus din
ilai
pada korban gawat darurat.
BASIC LIFE SUPPORT (BLS)
Penilaian Jalan Nafas (Airway)
Penilaian jalan nafas dapat dilakukan dengan :
1. Look (Lihat)
Melihat langsung ke rongga mulut ada atau tidaknya sumbatan pada jalan nafas, me
lihat
dada tidaknya ekspansi dada.
2. Listen (Dengar)
Mendengarkan suara nafas korban. Adanya snoring atau gurgling. (Gambar 5)
3. Feel (Rasakan)
Merasakan dengan pipi atau punggung tangan adanaya hembusan nafas dari korban.
Note :
Sumbatan jalan nafas adalah pembunuh tercepat, lebih cepat dibandingkan gangguan
breathing dan circulation.
Klasifikasi sumbatan jalan nafas
1. Obstruksi (sumbatan) total (choking).
Pada sumbatan total, biasanya disebabkan tertelannya benda asing yang lalu
menyangkut dan menyumbat di pangkal laring(tersedak). Bila sumbatan total timbul
perlahan, maka akan berawal dari sumbatan parsial yang kemudian menjadi total.
2. Obstruksi parsial.
Sumbatan parsial dapat disebabkan berbagai hal. Biasanya korban masih bisa berna
fas
sehingga timbul berbagai macam suara, tergantung penyebabnya, yaitu :
. Cairan (Darah, secret, aspirasi lambung, dsb)
Timbul suara gurgling, suara bernafas bercampur suara cairan.

@sclepius Productions
5
. Lidah yang jatuh ke belakang
Bisa terjadi karena keadaan tidak sadar atau patahnya rahang bilateral.Timbul su
ara
mengorok (snoring) yang harus diatasi dengan perbaikan airway, secara manual
atau dengan alat.
. Penyempitan di laring atau trachea
Dapat disebabkan pembengkakan karena berbagai hal, timbul suara crowing atau
stridor respiratori.
Penatalaksanaan sumbatan jalan nafas berdasarkan penyebabnya
1. Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mempertahankan atau membebaskan jalan
nafas pada sumbatan jalan nafas akibat lidah jatuh ke belakang :
. Head Tilt (Ekspansi kepala)
Dengan menekan kepala (dahi) ke bawah, maka jalan nafas akan berada dalam
posisi yang lurus dan terbuka. (Gambar 2A)
. Chin Lift (angkat dagu)
Mengangkat dagu mnggunakan jari dengan maksud lidah yang menyumbat jalan
nafas dapat terangkat sehingga jalan nafas terbuka. (Gambar 2B)
. Jaw thrust (mendorong rahang)
Mandibula diangkat ke atas oleh jari tengah di sudut rahang (angulus mandibula),
dorongan di dagu dilakukan dengan menggunakan ibu jari, jari telunjuk sebagai
penyeimbang di ramus mandibula. (Gambar 2C)
Gambar 2. (A). Head tilt; (B) Chin lift; (C) Jaw thrust
2. Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan dan membebaskan jalan nafas pada
sumbatan yang disebabkan oleh cairan sebagai berikut :
(A) (B) (C)

@sclepius Productions
6
. Finger Sweap
Teknik sapuan jari biasanya dilakukan pada korban yang tidak sadar. Penolong
menggunakan jarinya untuk membuang benda padat atau cairan yang mengganggu
jalan nafas. (Gambar 3A)
. Recovery Position (Miring stabil)
Posisi ini dapat digunakan untuk membuang cairan dari rongga mulut atau jalan
nafas. (Gambar 3B)
. Suction
Biasanya dilakukan di rumah sakit, tetapi dapat dibuat suction sederhana
menggunakan spoit 10 cc atau yang lebih besar dan selang kecil.
Gambar 3. (A) Finger sweap; (B) Recovery position
3. Usaha-usaha untuk membebaskan jalan nafas dari sumbatan total akibat benda as
ing
dapat dilakukan dengan :
. Back Blow
Back Slap
Tepukan pada punggung di antara kedua scapula (tulang belikat), dengan tujuan
memberikan tekanan yang besar pada rongga dada, dapat dilakukan pada semua
usia korban. (Gambar 4A)
. Abdominal thrust
Tekanan pada perut digunakan untuk memberikan tekanan pada rongga dada.
Tekanan dilakukan di daerah epigastrium (daerah corpus sternum dan proc.
xyphoideus). (Gambar 4B)
. Chest Thrust
Tekanan pada dada dilakukan dengan memberikan tekanan di daerah 2/3 sternum.
Pada orang dewasa tekanan diberikan dengan bantuan berat badan penolong
sama
(A) (B)

@sclepius Productions
7
dengan pijatan jantung luar. Sedangkan pada bayi, tekanan cukup dilakukan dengan
dua jari.
Gambar 4. (A) Back blow; (B) Abdominal trust
Penilaian Pernafasan (Breathing)
Note :
1. Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik.
2. Ventilasi yang baik meliputi fungsi baik dariparu, dinding thoraks (dada), da
n
diafragma.
3. Pakaian yang menutupi dada korban harus dibuka untuk melihat pernafasan korba
n.
Pemeriksaan fisik pada pernafasan dapat dilakukan dengan :
1. Inspeksi, terdiri dari : (Gambar 5)
. Look : lihat dada korban apakah mengembang atau tidak dan membandingkan
antara kiri dengan kanan. Selain itu, diperhatikan juga adanya jejas/luka
pada dinding thoraks. Perlu juga diperhatikan kedudukan trakhea.
. Listen : dengarkan suara nafas korban ada atau tidak.
. Feel : rasakan hembusan nafas korban pada mulut/hidung ada atau tidak.
2. Palpasi, meraba permukaan thoraks untuk mencari kemungkinan adanya nyeri teka
n dan
krepitasi.
(A) (B)

@sclepius Productions
8
3. Perkusi, dengan mengetuk dinding thoraks, dapat diketahui kemungkinan adanya
udara
dan cairan di dalam rongga pleura.
4. Aukultasi, dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru.
Gambar 5. Penilaian pernafasan
Tindakan :
1. Gangguan pada pernafasan sangat berhubungan dengan jalan nafas. Jalan nafas y
ang
mengalami sumbatan akan menyebabkan tidak adanya nafas atau tidak adekuatnya
nafas. Sehingga pastikan jalan nafas telah bersih.
2. Bila jalan nafas telah bersih namun tetap tidak ada nafas, maka segera lakuka
n bantuan
nafas sebanyak 2 kali. Dengan bantuan nafas tersebut, dada korban akan mengemban
g
jika tidak ada sumbatan pada jalan nafasnya.
3. Jika dengan bantuan nafas ini korban tidak bernafas spontan, segera periksa s
irkulasi.
Penilaian Sirkulasi (Circulation)
Setelah melakukan penanganan pada sistem pernafasan, nilai sistem sirkulasinya d
engan
cara :
1. Memeriksa denyut nadi.
. Orang dewasa dan anak-anak . arteri radialis dan arteri carotis (medial m
sternocleidomastoideus). (Gambar 6A)
. Bayi . a. brachialis pada sisi medial lengan atas. (Gambar 6B)
2. Menilai warna kulit,
3. Meraba suhu akral dan kapilari refil, dan
4. Periksa perdarahan.

@sclepius Productions
9
Gambar 6. Cara menentukan denyut nadi leher. (A) pada orang dewasa dan anak-anak
;
(B) pada bayi
Penilaian dan tindakan :
1. Jika denyut belum ada atau terjadi henti jantung, maka lakukan resusitasi kar
dio
pulmonar (RKP).
Teknik melakukan RKP : (Gambar 7)
. Menentukan lokasi titik tumpu pijat jantung . di tengah-tengah sternum.
. Tumit 1 tangan diletakkan di atas sternum, kemudian tangan satunya diletakkan
diatas tangan yang sudah berada di titik pijat jantung (di tengah-tengah sternum
).
Note : jari-jari kedua tangan dirapatkan dan diangkat pada waktu dilakukan tiupa
n
nafas.
. Penolong mengambil posisi tegak lurus di atas dada korban dengan siku lengan
lurus, diusahakan lutut menyentuh brachialis.
. Menekan sternum sedalam kira-kira 4
5 cm.
Note : setiap melepas 1 pijatan, tangan tetap menekan dada korban.
. Saat pijat jantung, hitunglah dengan suara keras perbandingan pijatan dengan t
iupan
nafas (30 : 2), yaitu 30x pijatan yang disela dengan 2x tiupan nafas.
Cara memberi nafas buatan :
o Pertahankan posisi kepala tetap tengadah
o Jepit hidung dengan tangan yang mempertahankan kepala tetap tengadah
o Buka mulut penolong lebar-lebar sambil menarik nafas panjang
(A) (B)

@sclepius Productions
10
o Tempelkan mulut penolong diatas mulut korban dengan rapat.
o Hembuskan udara kemulut korban sampai terlihat dada terangkat/ bergerak
naik.
o Lepaskan mulut penolong, biarkan udara keluar dari mulut korban, dada
korban tampak bergerak turun.
o Berikan hembusan nafas kedua dengan cara yang sama.
. Lakukan 30x pijatan jantung dengan diselingi 2x nafas buatan ini berulang sela
ma 2
menit.
. Setelah 2 menit (7 - 8 siklus), raba nadi leher kembali.
o Bila masih belum teraba denyut nadi leher, lanjutkan 30x pijat jantung dan 2x
nafas buatan. Lakukan tindakan ini berulang sampai datang bantuan atau
ambulans.
o Jika tidak ada lagi nafas, lakukan RKP lagi, tetapi jika sudah dilakukan RKP
ternyata ada snoring/choking, maka diulang dari awal.
Gambar 7 . Rangkaian teknik melakukan RKP