Anda di halaman 1dari 7

Memahami Fotografi Arsitektur

Golf Avenue - Citraland Surabaya. Photo by Kristupa Saragih


Fotografi dan arsitektur, dua hal yang berhubungan erat. Demikianlah fotografi arsitektur
mengabadikan subyek-subyek arsitektur dalam bungkus estetika fotografi. Tak hanya
menonjolkan subyek arsitektural, tapi juga mengindahkan kaidah-kaidah fotografi.
Hal terpenting dalam fotografi arsitektur, dan cabangcabang fotografi lainnya, adalah cahaya. Cahaya bisa
menampilkan wujud dan bentuk, yang bermuara pada
visualisasi dimensi. Cahaya melahirkan bayangan,
yang jangan dihilangkan, melainkan dimainkan dengan
cantik. Permainan bayangan niscaya tak kalah ampuh
untuk juga menampilkan wujud, bentuk dan dimensi.
- Fort Rotterdam, Makassar. Photo by Kristupa
Saragih
Panjang pendek bayangan dan keras lembut cahaya
memegang peranan penting dalam pencahayaan
fotografi arsitektur. Kerap kali ada kendala beda
kontras tinggi, semisal dalam foto interior, yang bisa
diatasi dengan pemahaman mumpuni tentang
pencahayaan. Demikian pula dengan karakter material
bangunan dan interior, yang bisa tampil baik dengan
pemahaman pencahayaan yang baik pula.

Tanpa pemahaman baik tentang pencahayaan, fotografi arsitektur hanya berupa foto
dokumentasi biasa yang kebetulan bersubyek karya arsitektur.
Selain kaidah-kaidah pencahayaan, fotografi arsitektur patut menempatkan komposisi
fotografi pada posisi penting. Elemen-elemen titik, garis, bentuk dan wujud dalam karya
arsitektur mudah diramu jadi sajian komposisi yang sedap dipandang. Komposisi berhadapan
dengan persepsi, dan persepsi berdiri di atas imajinasi. Demikianlah fotografi arsitektur
berdiri kokoh di atas pemahaman estetika visual.
Karya arsitektur mudah dijumpai dan merupakan hal menyenangkan untuk mengabadikannya
dalam karya foto. Lagipula, fotografi arsitektur tak hanya bersubyek bangunan, melainkan
juga pemukiman, kawasan dan kota. Akan lebih bermakna dan bernas jika fotografi arsitektur
memvisualisasikan keberadaan karya arsitektur dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Dual View - Fort Rotterdam, Makassar. Photo by Kristupa Saragih

Colourful Windows - Singapore. Photo


by Kristupa Saragih

View From Ban Po Thar - Penang.


Photo by Kristupa Saragih

Tengkera Mosque - Malacca. Photo by Kristupa Saragih

9 Tips Fotografi Arsitektur

Fotografi aristektur klasik atau kontemporer bisa jadi merupakan fotografi yang Sobat sukai,
sebelum mulai mari kita lihat 9 tips fotografi arsitektur di bawah ini yang dilansir digitalphotography-school.com:
1. Peka terhadap arah cahaya karena hal ini dapat meningkatkan kontras, bayangan, tekstur dan
refleksi. Tingginya kadar kontras dapat menipu kamera untuk mengekspos adegan dengan tidak
benar, tapi Sobat dapat dengan mudah mengatasi hal ini dengan menerapkan kompensasi eksposur.
Trik lainnya adalah dengan shoot braket dengan nilai eksposur yang berbeda (mengekspos satu
untuk highlight, satu untuk midtones dan satu untuk shadow) dan kemudian menggabungkan
mereka dalam program HDR khusus (seperti Photomatix atau Photoshop).
2. Lensa fish eye atau wide-angle (dan focal length) sangat ideal untuk genre ini karena
memungkinkan fotografer untuk membingkai seluruh bangunan dalam lingkungannya. Namun
kadang-kadang lensa Sobat mungkin tidak dapat mencakup seluruh adegan, untuk itu format
panorama mungkin dapat dimanfaatkan. Kamera kompak sekarang banyak menawarkan mode Jenis
khusus untuk menggabungkan bersama beberapa tembakan di kamera (Panorama), tapi efek yang
sama dapat dicapai pasca-pemotretan dengan software panorama khusus seperti; Hugin atau PTgui
jika Sobat memotret dengan DSLR.
3. Dalam fotografi arsitektur bagian dalam dari bangunan tidak kalah penting dengan bagian luar. Ini
bisa sulit untuk pengaturan white balance pada interior, terutama yang bergantung pada
pencahayaan buatan, jadi ingatlah untuk kompensasi sesuai dalam menu White Balance atau
gunakan grey card. Gambar interior dalam bangunan tua cenderung lebih menjengkelkan karena
secara tradisional menampilkan jendela dan pintu kecil sehingga dapat kekurangan cahaya alami.
Cobalah gunakan tripod dan pergunakan long-exposure dan Sobat bisa memanfaatkan filter ND
untuk menghentikan highlight masuk saat pengambilan gambar di siang hari. Atau Sobat bisa
menggunakan pencahayaan tambahan, seperti flash tapi hati-hati karena hal ini dapat merusak
scene dari atmosfer dan detail.
4. Ketika matahari terbenam bentuk baru dari fotografer arsitektur dapat muncul. Untuk memotret
struktur sebagai siluet saat matahari terbenam, posisikan arsitektur/bangunan antara Sobat dan
matahari. Pastikan lampu flash dinonaktifkan dan mengekspose langit. Jika latar depan terlalu terang
atur kompensasi eksposur pada nilai negatif untuk menggelapkannya. Efek ini dapat menghasilkan
hasil yang sangat misterius. Gambar malam bisa sangat dramatis dengan atmosfirnya, tapi ingat
untuk memotretnya ketika masih ada cahaya dan warna yang tersisa di langit untuk menambahkan
tone pada latar belakang dan membantu untuk menerangi rincian. Stur posisi yang baik, atur kamera
pada tripod dan tunggu tampilan lampu kota dari jendela, lampu jalan, lampu sinyal semua ini
dalam pelangi warna neon akan menambah suasana lebih dramatis dan misterius. Gunakan wide
aperture dan long exposure, jika kamera Sobat didukung menggunakan ISO rendah untuk
memastikan detail tidak hilang oleh noise.

5. Tidak seperti bentuk lain dari fotografi, gambar arsitektur yang menarik dan dapat diproduksi
dalam segala cuaca. Dengan memotret gedung yang sama dalam berbagai kondisi cuaca, fotografer
dapat menghasilkan portofolio yang hebat mungkin Sobat dapat memilih tiga foto terbaik untuk
dijadikan fortofolio.
6. Refleksi menambahkan dimensi ekstra pada gambar arsitektur dan memungkinkan fotografer
untuk menciptakan sebuah kanvas di mana bangunan tersebut terlihat terdistorsi. Lingkungan
perkotaan yang penuh dengan banyak permukaan reflektif, sehingga Sobat tidak harus melihat
terlalu jauh untuk berlatih, misalnya: jendela, fitur air, genangan air dan jalan-jalan basah, kacamata
hitam, sungai dan lain-lain.

Tervuren, Belgium by fatboyke (Luc)


7. alasan mengapa arsitektur tetap eksis- Sobat akan terkejut betapa sedikit informasi bagaimana
bakground dapat memicu banyak inspirasi. Bangunan yang memiliki arsitektur indah biasanya
memuat focal point, jadi cobalah croping sedekat mungkin untuk untuk mendapatkan gambar
abstrak. Selanjutnya Sobat mungkin ingin memasukkan artefak berulang yang berserakan di seluruh
bagian eksterior, misalnya; bata rumit atau checker papan jendela. Gunakan lensa tele untuk zoom
in dan jangan lupa tripod untuk mendukung focal length yang panjang.
8. Bangunan rata-rata jauh lebih tinggi dari fotografer sehingga pasti akan ada beberapa unsur
distorsi dalam sebuah foto arsitektur, tetapi ini dapat digunakan untuk menciptakan sumber
ketegangan dalam frame. Cukup memposisikan diri Sobat sedekat mungkin pada dasar bangunan
dan memotret dengan lurus ke atas, untuk mendapatkan perspektif yang indah. Atau cobalah untuk
berdiri jauh dari gedung agar dapat memotret gedung dengan tambahan benda sehari-hari seperti
orang, transportasi pohon, bangku-bangku, dll. Untuk mempertahankan rinci seluruh adegan dengan
aperture kecil (f stop besar) seperti F14, atau coba buang ketajaman (blur) foreground atau
background dengan memilih aperture besar (f-stop kecil).

Finance Central by HKmPUA


9. Gambar arsitektur seharusnya tidak hanya menjadi estetika dan grafis, gambar ini juga harus
menyediakan dinamisme dan gerakan jadi, bermain-mainlah dengan garis, cahaya dan bayangan
untuk memberikan perhatian dan mempertimbangkan hirarki level dan area. Arsitektur dibangun
pada prinsip simetri, sehingga memotret simetri ini pada akhirnya akan memperkuat subjek dan
mudah-mudahan memperkuat komposisi. Temukan pusat simetri dengan menempatkan tangan
Sobat di antara garis mata dan membuat frame Sobat di sekitar pusat itu. Atau membebaskan diri
dari garis-garis lurus steril dan sudut bujursangkar dengan mengikuti prinsip-prinsip alam misalkan
memasukan kurva dan lingkaran dalam bentuk bayangan atau refleksi, dapat membantu untuk
melunakkan struktur.