Anda di halaman 1dari 4

Analisis Kasus:

Hukum Administrasi materiil terletak diantara hukum privat dan hukum pidana.
Hukum pidana berisi norma-norma yang begitu penting (esensial) bagi kehidupan
masyarakat sehingga penegakan norma-norma tersebut tidak diserahkan pada para
pihak pertikelir tetapi harus dilakukan oleh penguasa. Hukum privat berisi norma-norma
yang penegakannya dapat diserahkan kepada pihak pertikelir. Diantara kedua bidang
hukum itu terletak hukum administrasi. Hukum administrasui dapat dikatakan sebagai
hukum antara.1
Keputusan Tata Usaha Negara/Keputusan Administratif merupakan suatu
pengertian yang sangat umum dan abstrak, yang dalam praktik tampak dalam bentuk
keputusan-keputusan yang sangat berbeda. Namun demikian keputusan-keputusan
administratif juga mengandung cirri-ciri yang sama, karena akhirnya dalam teori hanya
ada satu pengertian Keputusan Administratif.2 Sesuai dengan Pasal 1 angka 3 UU No.
5 Tahun 1986, Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang
dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha Negara yang berisi tindakan hukum
tata usaha Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat kongkrit, individual dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang
atau badan hukum perdata.
E. Utrecht membedakan ketetapan atas:
a) Ketetapan positif dan negative
b) Ketetapan deklaratur dan ketetapan kostitutif
c) Ketetapan kilat dan ketetapan yang tetap (blijvend)
Dalam kasus ini terdapat persinggungan antara Hukum Administrasi Negara
(HAN) dengan Hukum Agraria. Melihat kepada sengketa yang terjadi antara Sulastri,
dkk melawan PT. Cahaya Hijau Taman Indah diatas, persengketaan ini dimulai karena
Keputusan Tata Usaha Negara (beschikking) yang dikeluarkan oleh kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten Gresik menuai kontroversi, dimana ketidak-telitiannya

Sjachran Basah. 2008. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Introduction to the Indonesian Administrative
Law). Yogyakarta: Gajah Mada University Press, hlm. 45.
2
Sjachran Basah. Op.cit, hlm. 124-125

mengakibatkan terjadinya Sertipikat Ganda, yang pada akhirnya merugikan PT. Cahaya
Hijau Taman Indah.
Kantor Pertanahan Kabupaten Gresik dalam hal ini bertentangan dengan prinsip
kepastian hukum, perlindungan hukum dan tertib administrasi pertanahan sebagaimana
dimaksud oleh Pasal 3 dan Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah. Akibat tindakan yang tidak hati-hati, dan tidak cermat
menyebabkan adanya Sertipikat Ganda dan hal ini utamanya sangat merugikan
kepentingan PT. Cahaya Hijau Taman Indah.
Pada dasarnya tindakan Kantor Pertanahan Kabupaten Kudus menerbitkan
Obyek Sengketa melanggar tata cara pelaksanaan pendaftaran tanah dan penerbitan
sertipikat hak atas tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 14 dan Pasal 31 ayat 1
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997. Dalam Pasal 14 Peraturan Pemerintah No.
24 Tahun 1997 telah menguraikan tentang prosedur penerbitan sertipikat melalui
pengumpulan dan pengolahan data fisik dengan kegiatan pengukuran dan pemetaan,
sedangkan apabila proses pengukuran dan pemetaan telah selesai dilakukan, maka
sertipikat bisa diterbitkan demi kepentingan hak yang bersangkutan sesuai dengan data
fisik dan data yuridis.
Sebagaimana hal tersebut diatas secara garis besar dalam hal ini Kantor
Pertanahan Kabupaten Kudus secara nyata mengabaikan hak PT. Cahaya Hijau
Taman Indah sebagai Pemilik Tanah yang sah. Keputusan yang dengan sangat mudah
menerbitkan Sertipikat Hak Milik No. 303/Desa Laban atas nama Sulastri dan kawankawan tanpa memperhatikan prosedur hukum yang berlaku dibidang Pertanahan jelasjelas melanggar ketentuan dasar pelaksanaan pendaftaran tanah.
Pendaftaran tanah menurut Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah No. 24
Tahun 1997 adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus
menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan,
pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis dalam bentuk
peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susu,
termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah
ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang
membebaninya. Dari pengertian diatas dengan jelas disebutkan bahwa pemberian

surat tanda bukti bagi bidang-bidang tanah menjadi suatu bagian penting yang
tidakboleh dilewatkan dalam pendaftaran tanah.
Sertifikat Ganda adalah sertifikat-sertifikat yang menguraikan satu bidang tanah
yang sama. Jadi dengan demikian satu bidang tanah diuraikan dengan 2 (dua) sertifikat
atau lebih yang berlainan datanya. Hal semacam ini disebut pula Sertifikat Tumpang
Tindih (overlapping), baik tumpang tindih seluruh bidang maupun tumpang tindih
sebagian dari tanah tersebut.3
Upaya untuk mencegah timbulnya sertifikat ganda yaitu melalui program
Pengadaan Peta Pendaftaran Tanah yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional.
Namun demikian dalam melaksanakan pengadaan peta pendaftaran tanah ini
memerlukan dana dan waktu, maka pengadaannya dilakukan secara bertahap melalui
pendekatan pengukuran desa demi desa, sebagai tercantum dalam ketentuan PP
10/1961 tanggal 23 Maret 1961 tentang Pendaftaran Tanah.
Adapun cara untuk menyelesaikan sengketa ini adalah dengan pembatalan hak
atas tanah. Pembatalan Hak Atas tanah dalam Pasal 1 angka 12 Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 3 Tahun 1999 tentang
Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas
Tanah, selanjutnya disebut PMNA/KBPN 3/1999, yaitu, Pembatalan keputusan
mengenai pemberian suatu hak atas tanah karena keputusan tersebut mengandung
cacat hukum dalam penerbitannya atau melaksanakan putusan pengadilan yang telah
berkekuatan hukum tetap.
Pasal 1 angka 14 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor : 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak
Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan, selanjutnya disebut PMNA/KBPN 9/1999,
pengertian Pembatalan Hak Atas Tanah yaitu, Pembatalan keputusan pemberian hak
atas tanah atau sertifikat hak atas tanah karena keputusan tersebut mengandung cacat
hukum administrasi dalam penerbitannya atau untuk melaksanakan putusan pengadilan
yang telah berkekuatan hukum tetap.

Ali Achmad Chomzah. 2002. Hukum Pertanahan Seri Hukum Pertanahan I-Pemberian Hak Atas Tanah Negara
dan Seri Hukum Pertanahan II-Sertifikat Dan Permasalahannya. Jakarta. Prestasi Pustaka, hlm. 122

Maka sudah seharusnyalah Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Gresik


melakukan pembatalan atas sertipikat tanah yang telah ia berikan kepada Sulastri, dkk.
Sepertihalnya dengan aturan yang terdapat pada ketentuan-ketentuan Hukum
Administrasi, dimana keputusan (beschikking) diganti dengan keputusan (beschikking)
baru, yaitu berupa pembatalan sertipikat tanah yang telah diterbitkan oleh Kepala
Kantor Kabupaten Gresik.