Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kepada Allah SWT, atas kasih dan karunia-Nya yang telah dicurahkan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas Hukum Hak Asasi Manusia yang berjudul
Konvensi Anti Penyiksaan dan Penerapannya di Indonesia
Dalam menyelesaikan makalah ini tidak sedikit hambatan yang penulis alami. Untuk itu
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini
Akhir kata penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
Bandung, 12 Oktober 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman lain yang Kejam, Tidak
Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia telah diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB) dalam Resolusinya No. 39/46 tanggal 10 Desember 1984 dan mulai
diberlakukan tanggal 26 Juni 1987. Sampai dengan Juni 1992, Konvensi tersebut telah
diratifikasi untuk disetujui oleh 58 negara. Indonesia, juga telah melakukan ratifikasinya
terhadap Konvensi pada tanggal 28 September 1998 melalui UU No. 5 tahun 1998 dan
karenanya menjadi Negara Pihak (negara yang ikut dalam ketentuan) Konvensi.
Uraian sejarah dari Konvensi ini tak bias dilepaskan dari diumumkannya Deklarasi Umum
Hak Asasi Manusia (DUHAM) oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1948,
sebagai bagian dari usaha untuk makin menghargai hak asasi dan martabat kemanusiaan.
Menyusul dari deklarasi itu, Majelis Umum PBB menugaskan Komisi Hak Asasi Manusia (Komisi
HAM) PBB untuk melengkapi DUHAM dengan perjanjian internasional yang lebih mengingkat
(kovenan) dan perangkat untuk memenuhinya (protokol fakultatif).
Pada tahun 1952, Majelis Umum memutuskan agar Komisi HAM PBB menyusun dua
kovenan secara terpisah, yaitu Kovenan Hak Sipil dan Politik (yang mengacu pada Pasal 1-21
dari DUHAM), dan satu lagi adalah Kovenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (mengacu pada
Pasal 22-28 DUHAM). Lewat berbagai perjuangan dari forum ke forum, baru pada tahun 1966
akhirnya Kovenan Sipil danPolitik ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB.
Dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik inilah, maka hal tentang manusia bebas dari
penyiksaan diatur di dalamnya. Pasal 7 dalam Kovenan ini mengatur dengan sangat jelas
konsern tentang perlindungan manusia dari ancaman penyiksaan yang dilakukan pihak lain :
Tidak seorangpun boleh dikenai penyiksaan, atau perlakuan atau hukuman yang keji, tidak
manusiawi atau merendahkan martabatnya, khususnya tidak seorangpun, tanpa
persetujuannya secara sukarela dapat dijadikan eksperimen medis atau ilmiah.

Pasal inilah yang kemudian diperluas nantinya menjadi Konvensi khusus yang mengatur
masalah anti penyiksaan. Jadi perhatian terhadap masalah anti penyiksaan adalah kelanjutan
dari masalah dasar dalam hak-hak asasi manusia. Sejak 10 Desember 1984, isu tentang anti
penyiksaan menjadi bagian dari isu Hak Asasi Manusia yang telah diatur dengan sangat spesifik
dan mekanisme kontrol terhadap negara pihak di dalamnya.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan later belakang yang disampaikan diatas, makalah ini akan membahas
mengenai:
1. Bagaimanakah Penerapan Konvensi Menentang Penyiksaan di Indonesia?
2. Bagaimanakah Peran Hukum di Indonesia dalam menangani kasus para tahanan politik
yang dilakukan oleh para pejabat militer yang terlibat?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Penerapan Konvensi Menentang Penyiksaan di Indonesia


Indonesia telah menandatangani Konvensi Anti Penyiksaan pada 23 Oktober 1985 atau
kurang dari setahun setelah Konvensi tersebut ditetapkan pada 10 Desember 1984.
Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara pertama yangmenandatangani
Konvensi Anti Penyiksaan. Bahkan di kawasan Asia, Indonesia juga termasuk negara yang
paling cepat menandatanganinya. Cepatnya proses penandatanganan itu ternyata tidak diiringi
dengan kesigapan yang serupa untuk urusan ratifikasi isi Konvensi. Indonesia baru meratifikasi
Konvensi ini pada 28 September 1998, atau tiga belas tahun setelah proses penandatanganan,
melalui UU No. 5 tahun 1998.
Konsekuensi Ratifikasi bagi Indonesia antara lain :
1. Kewajiban negara Indonesia sebagai Negara Pihak untuk memajukan, melindungi, dan
memenuhi hak-hak asasi sebagaimana tersebut dalam Konvensi, kecuali jika dilakukan
reservasi (pensyaratan) atau deklarasi (pernyataan) khusus pada pasal-pasal tertentu.
2. Dimasukkannya Konvensi sebagai bagian dari instrumen hukum nasional positif
Indonesia, sehingga bias digunakan dalam proses litigasi.
3. Pelaporan secara berkala (periodic report) sebagai bagian dari State Self-Reporting
Mechanism yang disyaratkan oleh Konvensi.
Dengan diratifikasinya Konvensi Menentang Penyiksaan, selain memberikan landasan yang
kuat untuk menghapuskan segala bentuk penyiksaan di Indonesia, sedikitnya ada lima arti
penting dari langkah ratifikasi tersebut. Pertama, Indonesia mempunyai komitmen yang lebih
nyata untuk mencegah, mengatasi, dan mengakhiri fenomena penyiksaan. Kedua, Indonesia
harus menyempurnakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) agar sesuai dengan isi
Konvensi. Ketiga, Indonesia memberikan legitimasi hukum yang lebih memadai untuk
mencegah, mengatasi, dan mengakhiri penyiksaan yang melibatkan aparat negara, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Keempat, Indonesia menyadari bahwa upaya untukmengatasi

penyiksaan harus dilakukan secara multilateral. Kelima, Indonesia mengakui kewenangan


Komite Menentang Penyiksaan PBB untuk -- sampai tingkat tertentu menjamin efektifitas
setiap upaya untuk mencegah, mengatasi, dan mengakhiri penyiksaan.
Meskipun meratifikasinya, Indonesia tidak menerima seluruh pasal dalam Konvensi
Menentang Penyiksaan itu. Indonesia melakukan reservasi (pensyaratan) atau deklarasi
(pernyataan) khusus pada pasal-pasal tertentu. Menurut ketentuan, suatu negara memang
dapat melakukan pensyaratan, pernyataan, atau bahkan penolakan atas bagian tertentu dari
materi suatu instrumen internasional atau Konvensi yang akan diratifikasi, termasuk juga pada
Konvensi Menentang Penyiksaan.
Deklarasi dan reservasi yang dilakukan oleh Indonesia terhadap Konvensi Anti Penyiksaan
adalah :
a. Deklarasi terhadap pasal 20 ayat 1,2, dan 3 (prosedur penyelidikan), dimana Indonesia
tidak mengakui kewenangan Komite Menentang Penyiksaan untuk melakukan
penyelidikan jika ada petunjuk yang kuat bahwa telah atau terus terjadi penyiksaan
secara sistematik di wilayah Indonesia serta menyatakan bahwa hal-hal yang diatur
dalam pasal 20 ayat 1, 2, dan 3 dari Konvensi hanya dapat diimplementasikan jika tidak
membahayakan pada kedaulatan (sovereignty) dan integritas territorial Indonesia.
Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah dikaitkan dengan ketentuan untuk
menghormati kedaulatan nasional dan keutuhan wilayah negara peratifikasi.
b. Reservasi terhadap pasal 30 ayat (1) Konvensi; dimana Indonesia berpendirian bahwa
segala perselisihan Indonesia dengan Negara Pihak lain yang berkaitan dengan
penafsiran atau penerapan Konvensi ini yang tidak dapat diselesaikan melalui
perundingan, tidak dapat diajukan kepada arbitrasi hanya oleh salah satu pihak,
melainkan harus atas kesepakatan kedua belah pihak yang bertikai. Indonesia tidak
mengakui yurisdiksi International Court of Justice untuk menyelesaikan perselisihan
tersebut jika jalur arbitrasi gagal.
Adanya deklarasi dan reservasi ini memang bisa mengurangi keefektifan, bahkan mengebiri,
pelaksanaan Konvensi ini di Indonesia, karena tidak dimungkinkannya kontrol eksternal secara
langsung jika terjadi pelanggaran atau perselisihan dalam penerapan isi Konvensi. Namun
betapapun, ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan merupakan satu langkah besar bagi pemajuan,

penegakan, dan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia. Kendati hak setiap warga negara
untuk bebas dari tindak penyiksaan, terutama yang melibatkan aparat negara, tidak secara
langsung dapat berjalan baik. Tanpa adanya berbagai upaya baik di tataran sistem maupun
praktek seperti penyesuaian di bidang hukum administratif dan legislatif serta penyadaran dan
pendidikan baik terhadap aparat maupun warga negara pada umumnya, niscaya ratifikasi ini
tidak akan banyak berarti.

2. Peran Hukum di Indonesia Dalam Menangani Kasus Penyiksaan Para Tahanan


Politik yang Dilakukan oleh Para Aparat Penegak Hukum dan Aparat Keamanan
Berikut akan dipaparkan beberapa kasus mengenai penyiksaan terhadap para tahanan
politik yg terjadi di Indonesia.
a. Perlakuan buruk terhadap Tahanan Politik
Sepanjang tahun 2010, Polisi terus melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang di
Maluku dan Papua yang diduga memiliki aktifitas politik separatism; RMS (Republik Mauku
Selatan ) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka). Penangkapan ini dilakukan dengan
menggunakan pasal 106, 110 KUHP dan PP No. 77 tahun 2007 tentang Lambang Negara
atas dugaan melakukan aktivitas, diantaranya, berupa pengibaran bendera, diduga
merencanakan aksi demonstrasi dan memiliki bendera organisasinya. Bahkan penangkapan
juga didasari oleh alat kampanye Hak Asasi Manusia, seperti Poster Bebaskan Tahanan
Politik. Dalam proses penangkapan, dari hasil pemanatauan, laporan keluarga dan
investigasi KontraS, ditemukan banyak tindak kesalahan prosedur, seperti tidak ada surat
penangkapan, kekerasan berupa penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya selama masa
penahanan para Tapol, baik di Maluku maupun di Papua. Perlakuan buruk tersebut berupa
pembatasan akses keluarga untuk menjenguk para tahanan atau narapidana, minim akses
masyarakat untuk menjenguk para tahanan, minim akses terhadap kuasa hukum serta
buruknya kondisi tahanan dan pelayanan kesehatan. Banyak diantara tahanan atau
narapidana mengalami penurunan kesehatan yang diakibatkan oleh buruk system sanitasi
dan akibat penyiksaan didalam masa tahanan atau penjara. Pengecualian pernah diberikan
kepada Filep Karma (Papua), yang berobat ke rumah sakit di Jakarta, untuk pemeriksaan
lebih intensif. Namun, berbeda dengan Yusuf Sipakoli, tahanan RMS di Lapas Nania, Ambon.

Tindakan cepat tidak dilakukan oleh pihak lapas, sehingga Sipakoli meninggal dunia, setelah
menjalani perawatan intensif di RSU Kudamati, Ambon. Perawatan baru dilakukan setelah
pihak lapas kelas II Ambon menyerahkan pengobatan Yusuf ke pihak keluarganya, pada
minggu pertama September 2010.
b. Kekerasan di Papua
Kebijakan sekuritisasi di Papua memiliki implikasi langsung kepada jaminan perlindungan
HAM. Sepanjang tahun 2010, telah terjadi 11 kasus kekerasan, teremasuk praktek
Penghilangan orang secara paksa. Insiden kekerasan biasanya melibatkan TNI dan polisi
dalam penyisiran atas nama keamanan untuk menemukan TPN/OPM dan lokasi
persenjataan mereka. Kekerasan di Papua tidak saja dialami warga laki-laki, namun juga
warga perempuan dan anak-anak. Biasanya mereka mendapat ancaman fisik, psikis, hingga
pemerkosaan.
Salah satu kasus kekerasan di Papua, yang mendapat perhatian publik internasional, adalah
munculnya video-video penyiksaan yang beredar di situs Youtube, diantaranta video
penyiksaan Yawan Wayeni seorang aktivis politik Papua yang dituduh sebagai anggota
TPN/OPM. Video penyiksaan lainnya, terkait dengan 3 warga Tingginambut Papua yang
disiksa aparat TNI (nama-nama korban dalam video: Goliat Tabuni, Kotoran Wenda dan
Tives Tabuni).
Dalam kasus penyiksaan Yawan Wayeni, diduga kuat aparat Brimob Polda Papua menjadi
aktor penyiksaan. Sedangkan, dalam kasus penyiksaan warga Distrik Tingginambut, aparat
TNI AD menjadi aktor utama penyiksaan. Persidangan sempat digelar di pengadilan militer
(Permil) III-19 Kodam XVII/Cenderawasih, Jayapura pada bulan November 2010 dan
menghukum 4 terdakwa (Praka Syaiminan Lubis, Prada Joko Sulistiono, Prada Dwi Purwanto
dan Letda Cosmos); namun banyak pengabaian atas fakta peristiwa dan rasa keadilan
korban. Ditengah buruknya situasi HAM, Pemerintah Pusat, Presiden masih saja diam atas
keterpurukan masyarakat Papua.

Dari dua kasus diatas dapat dilihat seberapa buruknya sikap yang dilakukan oleh aparat
penegak hukum dan aparat keamanan sehingga mengakibatkan lahirnya kasus-kasus seputar
penyiksaan yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjaga para tersangka tersebut. Hal
ini jelas-jelas melanggar ketentuan dari Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman

or Degrading Treatment or Punishment.


Pada dasarnya hukum di Indonesia sendiri sudah mengatur permasalahan seputar
penyiksaan ini, yaitu pada UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang
mana pada pasal 7 huruf b dengan jelas dikatakan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan
tergolong kepada pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Kasus penyiksaan yang dilakukan
oleh aparat penegak hukum dan aparat keamanan ini telah melanggar ketentuan yang terdapat
pada pasal 34 UU No. 26 Tahun 2000 tentang perlindungan korban dan saksi, adapun isi dari
pasal yang dimaksud adalah:
Pasal 34:
(1) Setiap korban dan saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berat berhak atas
perlindungan fisik dan mental dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak
manapun.
(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilaksanakan oleh aparat
penegak hukum dan aparat keamanan secara cuma-cuma.
(3) ) Ketentuan mengenai tata cara perlindungan terhadap korban dan saksi diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Sungguh suatu ironi apabila para aparat-aparat yang seharusnya melindungi para korban
dan tersangaka seperti yang terdapat pada pasal (2) malah berbuat sebaliknya.
Para pelaku penyikasaan ini dapat di pidana sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada
pasal 42 UU No. 26 Tahun 2000 yang berbunyi:
(1) Komandan militer atau seseorang yang secara efektif bertindak sebagai komandan
militer dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang berada di dalam
yurisdiksi Pengadilan HAM, yang dilakukan oleh pasukan yang berada di bawah
komando dan pengendaliannya yang efektif, atau di bawah kekuasaan dan
pengendaliannya yang efektif dan tindak pidana tersebut merupakan akibat dari tidak
dilakukan pengendalian pasukan secara patut, yaitu :

a. komandan militer atau seseorang tersebut mengetahui atau atas dasar keadaan saat
itu seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja
melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat; dan
b. komandan militer atau seseorang tersebut tidak melakukan tindakan yang layak dan
diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya untuk mencegah atau menghentikan
perbuatan tersebut atau menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang
untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
(2) Seorang atasan, baik polisi maupun sipil lainnya, bertanggung jawab secara pidana
terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh bawahannya
yang berada di bawah kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif, karena atasan
tersebut tidak melakukan pengendalian terhadap bawahannya secara patut dan benar,
yakni :
a. atasan tersebut mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yang secara
jelas menunjukkan bahwa bawahan sedang melakukan atau baru saja melakukan
pelanggaran hak asasi manusia yang berat; dan
b. atasan tersebut tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang
lingkup kewenangannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut atau
menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan.
(3) Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diancam dengan pidana
yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, dan
Pasal 40.
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia,
bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan
tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun. Maka dari itu meskipun seorang
tahanan yang sejatinya adalah pelaku tindak pidana tetapi mereka juga seorang manusia yang
mempunyai hak asasi manusia yang tidak boleh dicabut oleh keadaan apapun.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Dengan ditandatanganinya Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or

Degrading Treatment or Punishment oleh Indonesia pada 23 Oktober 1985, maka


Indonesia menjadi Negara Asia Tenggara pertama yang menandatangani konvensi ini.
Tiga belas tahun setelah proses penandatanganan, Indonesia meratifikasi konvensi ini
pada 28 September 1998 melalui UU No. 5 Tahun 1998. Dengan diratifikasinya Konvensi
Menentang Penyiksaan, selain memberikan landasan yang kuat untuk menghapuskan
segala bentuk penyiksaan di Indonesia. Indonesia tidak menerima seluruh pasal dalam
Konvensi Menentang Penyiksaan itu. Indonesia melakukan reservasi (pensyaratan) atau
deklarasi (pernyataan) khusus pada pasal-pasal tertentu. Menurut ketentuan, suatu
negara memang dapat melakukan pensyaratan, pernyataan, atau bahkan penolakan
atas bagian tertentu dari materi suatu instrumen internasional atau Konvensi yang akan
diratifikasi, termasuk juga pada Konvensi Menentang Penyiksaan.
2. Pada dasarnya hukum di Indonesia sendiri sudah mengatur permasalahan seputar
tindakan penyiksaan, yaitu pada UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia yang mana pada pasal 7 huruf b dengan jelas dikatakan bahwa kejahatan
terhadap kemanusiaan tergolong kepada pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
Para pelaku tindak penyikasaan ini dapat di pidana sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada pasal 42 UU No. 26 Tahun 2000 dengan hukuman pidana penjara paling
lama 20 (dua puluh) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.
B. Saran
Dengan ikut sertanya Indonesia dalam penandatanganan Convention Against Torture and

Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment, kasus-kasus seputar penyiksaan


yang terjadi di Indonesia seharusnya ditangani dengan cepat dan dihapuskan. Keterlibatan
aparat-aparat penegak hukum tidak lepas dari lemahnya pantauan dari atasan-atasan mereka
yang alangkah lebih baik jika sering dilaksanakannya pemantauan langsung kelapangan oleh
para petinggi-petinggi militer.

DAFTAR PUSTAKA
Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or
Punishment 1984
UU No. 5 Tahun 1998 Tentang Pengesahan Convention Against Torture and Other Cruel,

Inhuman or Degrading Treatment or Punishment


UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Peradilan Hak Asasi Manusia
www.google.com
www.wikipedia.com
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2011/01/hampa-perlindungan-hak-asasiterhadap.html

DAFAR ISI

I.

PENDAHULUAN

II.

PEMBAHASAN

III.

KESIMPULAN DAN SARAN


DAFTAR PUSTAKA

Hukum Hak Asasi Manusia


KONVENSI ANTI PENYIKSAAN DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA

DEFIT ARCHILA
110111090069

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN