Anda di halaman 1dari 6

NAMA

: Agasetyo Manuhoro

NIM

: 14020111130053
PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah merupakan langkah awal dalam pembuatan suatu kebijakan publik.

Menurut William N. Dunn suatu perumusan masalah dapat memasok pengetahuan yang relevan
dengan kebijakan yang mempersoalkan asumsi-asumsi yang mendasari definisi masalah dan
memasuki proses pembuatan kebijakan melalui penyusunan agenda (agenda setting) (Dunn,
2003: 26). Hal tersebut menyimpulkan bahwa kebijakan publik dibuat dikarenakan adanya
masalah publik yang terjadi, sehingga permasalahan tersebut dapat diantisipasi dan mencapai
tujuan yang diharapkan. Dunn pun menjelaskan bahwa:
Perumusan masalah dapat membantu menemukan asumsi-asumsi yang tersembunyi,
mendiagnosis penyebab-penyebabnya, memetakan tujuan-tujuan yang memungkinkan
memadukan pandangan-pandangan yang bertentangan, dan merancang peluang-peluang
kebijakan yang baru (Dunn, 1993: 26).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah awal dari pembuatan
kebijakan publik adalah perumusan kebijakan publik dengan menyusun setiap permasalahan
publik yang terjadi seperti suatu agenda. Contohnya Rancangan Undang-Undang. Merumuskan
masalah publik yang benar dan tepat dapat didasarkan atau melihat dari karakteristik masalah
publik, yaitu:
Saling bergantung (interdependence), dalam arti bahwa suatu masalah kebijakan di suatu
bidang seringkali mempengaruhi masalah kebijakan lainnya.
Subjektifitas (subjective). Kondisi eksternal yang menimbulkan suatu masalah didefinisikan,
diklasifikasikan, dijelaskan dan dievaluasi secara selektif. Masalah kebijakan merupakan suatu
hasil pemikiran yang dibuat pada vsuatu lingkungan tertentu, masalah tersebut merupakan
elemen dariu suatu situasi masalah yang diabstrasikan sari situasi tersebut oleh analis.
Sifatnya buatan (artificial). Masalah kebijakan merupakan buah pandangan subjektif manusia,
cenderung diterima sebagai definisi yang sah mengenai kehidupan banyak orang. Masalahmasalah kebijakan hanya mungkin ketika manusia membuat penilaian mengenai keinginannya
untuk mengubah beberapa situasi masalah.
Dinamiss (Dynamics). Masalah dan pemecahannya berada dalam siatuasi peubahan yang terus
menerus. Ada banyak solusi yang bisa ditawarkan untuk memecahkan masalah sebagaimana
terdapat banyak definisis terhadap masalah tersebut. Cara pandang orang terhadap masalah akan
menentukan solusi yang ditawarkan.

Merumuskan masalah dapat dikatakan tidaklah mudah karena sifat dari masalah publik
bersifat kompleks. Oleh sebab itu lebih baik dalam merumuskan masalah mengetahui lebih dulu
karakteristik permasalahannya. Pertama, suatu masalah tidak dapat berdiri sendiri oleh sebab itu,
selalu ada keterkaitan antara masalah yang satu dengan yang lain. Sehingga dari hal tersebut
mengharuskan dalam analisis kebijakan untuk menggunakan pendekatan holistik dalam
memecahkan masalah dan dapat mengetahui akar dari permasalahan tersebut.
Kedua, masalah kebijakan haruslah bersifat subyektif, dimana masalah tersebut
merupakan hasil dari pemikiran dalam lingkungan tertentu. Ketiga, yaitu suatu fenomena yang
dianggap sebagai masalah karena adanya keinginan manusia untuk mengubah situasi. Keempat,
suatu masalah kebijakan solusinya dapat berubah-ubah. Maksudnya adalah kebijakan yang sama
untuk masalah yang sama belum tentu solusinya sama, karena mungkin dari waktunya yang
berbeda atau lingkungannya yang berbeda.
Dalam proses yang luas menurut Dunn (1999), beberapa fase yang perlu diperhatikan,
antara lain:
1.
2.
3.
4.
1.

Pencarian Masalah (Problem Search)


Pendefinisian Masalah (Problem-Definition)
Spesifikasi Masalah (Problem-Spesification)
Pengenalan Masalah (Problem-Sensing)

Yang terpenting adalah bahwa perumusan masalah dalam analisis kebijakan dapat
dipandang sebagai proses dengan tiga tahap yang berbeda tetapi saling bergantung yaitu,
konseptualisasi masalah, spesifikasi masalah, dan pengenalan masalah.

A. ISU PUBLIK
Isu kebijakan publik sangat penting dibahas untuk membedakan istilah yang dipahami awam
dalam perbincangan sehari-hari yang sering diartika sebagai kabar burung. Isu dalam sebuah
kebijakan sarat memiliki lingkup yang luas yang meliputi berbagai persoalan yang ada di tengah
masyarakat. Oleh karenanya Sekalipun harus diakui dalam pelbagai literatur istilah isu itu tidak
pernah dirumuskan dengan jelas, namun sebagai suatu "technical term' utamanya dalam konteks
kebijakan publik, muatan maknanya lebih kurang sama dengan apa yang kerap disebut sebagai
"masalah kebijakan" (policy problem). Dalam analisis kebijakan publik, konsep ini menempati posisi
sentral. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan fakta, bahwa proses pembuatan kebijakan publik apa
pun pada umumnya berawal dari adanya awareness of a problem (kesadaran akan adanya masalah
tertentu).
Charles O. Jones (1996) menyatakan bahwa masalah adalah kebutuhan-kebutuhan
manusia yang perlu di atasi, sedangkan issu adalah masalah-masalah umum yang bertentangan
satu sama lain (Contraversial Public Problems)

Jones menyatakan bahwa NOT ALL PROBLEMS BECOME PUBLIC, NOT ALL
PUBLIC PROBLEMS BECAME ISSUES, AND NOT ALL ISSUES ARE ACTED ON IN
GOVERNMENT.( tidak semua masalah dapat menjadi masalah umum/public, dan tidak semua
masalah public dapat menjadi issu, dan tidak semua issu dapat menjadi agenda pemerintah.)
Robert Seidman, Ann Seidman, dan Nalin Abeysekere (2005) menyatakan bahwa
masalah dapat terjadi oleh karena satu atau gabungan dari beberapa hal yang dithesiskan mereka
tidak berjalan dengan baik. Hal-hal tersebut, ialah: Rule (peraturan), Opportunity
(peluang/kesempatan), Capacity (kemampuan), Communication (Komunikasi), Interest
(kepentingan), Process (proses), dan Ideology (nilai dan/atau sikap), yang disingkat ROCCIPI.

B. MASALAH PUBLIK
Masalah adalah suatu kondisi atau keadaan yang tidak diinginkan atau menimbulkan
ketidakpuasan baik pada individu, kelompok atau keseluruhan masyarakat.
Masalah publik adalah masalah-masalah yang memiliki dampak sangat luas bagi
masyarakat dan mencakup konsekuensi-konsekuensi tertentu bagi orang-orang yang tidak
secara langsung terlibat dengan masalah tersebut.
Menurut Theodore Lowi (1964), masalah publik dapat dibedakan kedalam:
1. Masalah prosedural, dan masalah substantif.
Masalah prosedural berhubungan dengan bagaimana pemerintah diorganisasikan,
dan bagaimana pemerintah melaksanakan tugas-tugasnya.
Masalah substantif berkenaan dengan akibat-akibat nyata dari kegiatan manusia,
seperti: menyangkut kebebasan berbicara, perlindugan anak, lingkungan hidup
(global warming), dsb.
2. Berdasarkan asal-usul masalah:
Masalah dalam negeri pendidikan, kesehatan, transportasi, perpajakan,
kriminalitas, kemiskinan, dsb.
Masalah luar negeri menyangkut hubungan antara negara yang satu dengan
negara lain (perjanjian ekstradisi, free trade area, dsb.)
3. Berdasarkan jumlah orang yang dipengaruhi serta hubungannya antara satu dengan yang lain:
Masalah distributif mencakup sejumlah kecil orang, dan dapat ditanggulangi
satu per satu (drainase kota, ruang publik, dsb)
Masalah regulatif mendorong munculnya tuntutan-tuntutan yang diajukan dalam
rangka membatasi tindakan-tindakan pihak tertentu (pengaturan aksi demontrasi
buruh industri, pengaturan aksi FPI, dsb.)

Masalah redistributif menghendaki perubahan risorsis antara kelompokkelompok atau kelas-kelas dalam masyarakat (subsidi silang dalam hal pajak,
listrik, dsb)

C. KAPAN SUATU MASALAH BISA TAMPIL MENJADI MASALAH PUBLIK,


MASALAH PUBLIK BISA TAMPIL MENJADI ISU KEBIJAKAN, DAN ISU
KEBIJAKAN BISA MASUK DALAM AGENDA PEMERINTAH SEKALIGUS BISA
MENJADI KEBIJAKAN PUBLIK
Pada prinsipnya, sekalipun suatu peristiwa, keadaan, dan situasi tertentu mungkin dapat
menimbulkan satu atau beberapa masalah, tetapi agar dapat menjadi masalah umum ataupun
masalah kebijakan tidak hanya tergantung dari dimensi obyektifnya saja, tetapi juga secara
subyektif, baik oleh masyarakat maupun pembuat keputusan dipandang sebagai suatu masalah
yang patut dipecahkan atau dicari jalan keluarnya.
Perlu diperhatikan adalah pada seberapa jauh atau seberapa besar tingkat kesadaran dan
kepekaan masyarakat melihat masalahnya sendiri dan sampai seberapa besar tingkat kesadaran ,
kepekaan, dan kemampuan pembuat keputusan melihat masalah-masalah yang dihadapi
masyarakat itu sebagaisesuatu yang menjadi tanggungjawabnya untuk diatasi.
Hal yang perlu menjadi perhatian dalam melakukan kajian terhadap masalah-masalah
publik adalah bahwa tidak semua masalah mendapat tanggapan yang memadai oleh para
pembuat kebijakan. Sehingga timbul pertanyaan bagi kita, mengapa hal tersebut terhadi?; atau
mengapa hanya masalah-masalah tertentu yang dianggap sebagai masalah publik sedangkan
masalah-masalah lain tidak?
Untuk menyikapi hal itu, maka akan dikemukakan pendapat Charles O. Jones, bahwa
masalah-masalah publik (public problems) mempunyai dua tipe, yaitu:
1. Masalah-masalah tersebut dikarakteristikkan oleh adanya perhatian kelompok dan
warga kota yang terorganisasi yang bertujuan untuk melakukan tindakan (action).
2. Masalah-masalah tersebut tidak dapat dipecahkan secara individual/pribadi
(sehingga hal itu menjadi masalah publik), tetapi kurang terorganisasi dan kurang
mendapat dukungan. Pembedaan seperti ini,merupakan sesuatu yang kritis dalam
memahami kompleksitas proses yang berlangsung dimana beberapa masalah bisa
sampai kepada pemerintah,sedangkan beberapa masalah yang lain tidak
A. SUATU MASALAH BISA TAMPIL MENJADI MASALAH PUBLIK
Walker (dalam Widodo, 2007) menyatakan bahwa suatu masalah bisa tampil menjadi masalah
publik jika:
1. issues tersebut mempunyai dampak yang besar pada banyak orang.
2. ada bukti yang meyakinkan, agar lembaga legislatif mau memperhatikan masalah tersebut
sebagai masalah yang serius.
3. ada pemecahan yang mudah dipahami terhadap masalah yang sedang diperhatikan.

B. MASALAH PUBLIK BISA TAMPIL MENJADI ISU KEBIJAKAN


Jones (1984) mengemukakan bahwa masalah publik mudah menjadi isu kebijakan publik
manakala:
1. Scope dan kemungkinan dukungan terhadap issues tersebut dapat dikumpulkan.
2. Problem atau isues tersebut dinilai penting.
3. Ada kemungkinan masalah (issues) tersebut dapat terpecahkan
C. ISU KEBIJAKAN BISA MASUK DALAM AGENDA PEMERINTAH SEKALIGUS BISA
MENJADI KEBIJAKAN PUBLIK
(Kimber, 1974; Salesbury, 1976; Sandbach, 1980; Hogwood dan Gunn, 1986):
Suatu isu akan cenderung memperoleh respon dari pembuat kebijakan, untuk dijadikan agenda
kebijakan publik, kalau memenuhi beberapa kriteria tertentu:
1. Isu tersebut telah mencapai suatu titik kritis tertentu, sehingga ia praktis tidak lagi bisa
diabaikan begitu saja; atau ia telah dipersepsikan sebagai suatu ancaman serius yang jika tak
segera diatasi justru akan menimbulkan luapan krisis baru yang jauh lebih hebat di masa
datang.
2. Isu tersebut telah mencapai tingkat partikularitas tertentu yang dapat menimbulkan dampak
(impact) yang bersifat dramatik.
3. Isu tersebut menyangkut emosi tertentu dilihat dan sudut kepentingan orang banyak bahkan
umat manusia pada umumnya, dan mendapat dukungan berupa liputan media massa yang luas.
4. Isu tersebut menjangkau dampak yang amat luas.
5. Isu tersebut mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan (legitimasi) dalam masyarakat.
6. Isu tersebut menyangkut suatu persediaan yang fasionable, di mana posisinya sulit untuk
dijelaskan tapi mudah dirasakan kehadirannya
D. TAHAPAN PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK
(Charles Jones)
No Aktivitas

Pertanyaan-pertanyaan

1.

Persepsi

Apakah menjadi masalah sehingga muncul beberapa usulan dari masyarakat.

2.

Aggregasi

Berapa banyak orang yang merasa bahwa masalah yang diajukan itu penting
sekali.

3.

Organisasi

Bagaimanakah orang-orang tersebut mengorganisasikan diri mereka?

4.

Representasi

Bagaimana akses mereka terhadap lembaga perwakilan yang ada.

05/ Pembentukan
09/ Agenda
12

Bagaimana status agenda diperoleh?

(Randal B. Ripley (1985).


1. Pembentukan persepsi terhadap masalah yang berkembang dalam masyarakat, dan bagaimana
masyarakat memahami masalah tersebut, kemudian selanjutnya bagaimana masyarakat
memobilisasi dukungan agar masalah tersebut dibawakan kepada pemerintah sehingga
menjadi sebuah agenda pemerintah. Tahap ini disebut sebagai Agenda Building.
2. Penyusunan agenda pemerintah dimana pemerintah mengambil langkah-langkah tertentu,
terutama dalam memformulasikan dan melegitimasikan kebijakan yang akan ditempuh
sehingga mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat.
3. Tahap implementasi. Pada tahap ini diadakan interpretasi lebih lanjut dari kebijakan yang
dibuat, apakah diperlukan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis sehingga program dapat
dihantarkan kepada masyarakat, kemudian bagaimana dana dikerahkan, sarana dan prasarana
disediakan, serta ditentukan siapa yang paling bertanggung jawab melaksanakannya.
4. Evaluasi terhadap kebijakan yang sudah dijalankan (melakukan penilaian terhadap kinerja
sebuah kebijakan). Apakah kebijakan tersebut sudah dijalankan sebagaimana mestinya,
apakah membawa hasil seperti yang diharapkan atau tidak, apakah hasil yang dicapai sesuai
dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemeintah?. Evaluasi dapat dilakukan mencakup dua hal
yaitu evaluasi terhadap proses muncul dan penyelenggaraan dari kebijakan tersebut, serta
evaluasi yang menyangkut dampak dari kebiajakan tersebut.
5. Penentuan nasib dari kebijakan tersebut selanjutnya, apakah akan diteruskan ataukah
dihapuskan saja, ataukah diteruskan dengan penyesuaian seperlunya. Kalau kebijakan tersebut
membawa hasil yang sangat memuaskan maka dapat diteruskan, akan tetapi kalau kebijakan
itu tidak membawa hasil seperti yang diharapkan dan bahkan menimbulkan masalah yang
lebih besar lagi bagi pemerintah dan masyarakat maka sudah sewajarnya untuk dihapuskan.
Tentu saja keputusan itu dibuat atas dasar hasil penilaian yang dilakukan dengan serius.