Anda di halaman 1dari 8

Sistem Pertahanan Rongga Mulut

Sistem pertahanan rongga mulut terdiri dari sel-sel dan zat-zat yang bisa larut. Sel-sel utama dari sistem
kekebalan adalah sel-sel darah putih, yaitu makrofag, neutrofil dan limfosit. Zat -zat yang bisa larut adalah
molekul-molekul yang tidak terdapat di dalam sel tetapi larut dalam suatu cairan (misalnya plasma). Zat-zat
terlarut yang utama adalah antibodi, protein komplemen dan sitokinesis. Beberapa zat terlarut bertindak
sebagai pembawa pesan (messenger) untuk menarik dan mengaktifkan sel-sel lainnya.
1. Komponen Pertahanan Rongga Mulut
a. Makrofag
Makrofag adalah sel darah putih yang berukuran besar, yang mencerna mikroba, antigen dan zatzat lainnya. Antigen adalah setiap zat yang bisa merangsang suatu respon kekebalan; antigen bisa
merupakan bakteri, virus, protein, karbohidrat, sel-sel kanker dan racun. Sitoplasma makrofag
mengandung granula yang terdiri dari beberapa bahan kimia dan enzim yang terbungkus dalam
suatu selaput.Enzim dan bahan kimia ini memungkinkan makrofag mencerna dan
menghancurkan mikroba yangtertelan olehnya. Makrofag tidak ditemukan di dalam darah, tetapi
terdapat di tempat-tempat strategis, dimana organ tubuh berhubungan dengan aliran darah atau
dunia luar. Misalnya makrofag ditemukan di daerah dimana paru-paru menerima udara dari luar
dan sel-sel hati berhubungan dengan pembuluh darah.
b. Neutrofil
Neutrofil adalah sel darah putih yang berukuran besar, yang mencerna mikroba dan antigen
lainnya.Neutrofil memiliki granula yang mengandung enzim untuk menghancurkan antigen yang
ditelan olehnya. Neutrofil ditemukan di dalam darah; untuk keluar dari darah dan masuk ke
dalam jaringan, neutrofil memerlukan rangsangan khusus. Makrofag dan neutrofil seringkali
bekerja sama; makrofag memulai suatu respon kekebalan dan mengirimkan sinyal untuk menarik
neutrofil bergabung dengannya di daerah yang mengalami gangguan. Jika neutrofil telah tiba,
mereka menghancurkan benda asing dengan cara mencernanya. Penimbunan neutrofil serta
pemusnahan dan pencernaan mikroba menyebabkan pembentukan nanah.
c. Limfosit
Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening, memiliki ukuran yang relatif lebih kecil
daripada makrofag dan neutrofil. Neutrofil memiliki umur tidak lebih dari 7-10 hari, tetapi
limfosit bisa hidup selama bertahun-tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun. Limfosit dibagi
ke dalam 3 kelompok utama:
1) Limfosit B berasal dari sel stem di dalam sumsum tulang dan tumbuh menjadi sel plasma,
yang menghasilkan antibodi.
2) Limfosit T terbentuk jika sel stem dari sumsum tulang pindah ke kelenjar thymus, dimana
mereka mengalami pembelahan dan pematangan. Di dalam kelenjar thymus, limfosit T
belajar membedakan mana benda asing dan mana bukan benda asing. Limfosit T dewasa
meninggalkan kelenjar thymus dan masuk ke dalam pembuluh getah bening dan berfungsi
sebagai bagian dari sistem pengawasan kekebalan.
3) Sel-sel pemusnah alami, memiliki ukuran yang agak lebih besar daripada limfosit T dan B,
dinamai sel pemusnah karena sel-sel ini membunuh mikroba dan sel-sel kanker tertentu.
Istilah alami digunakan karena mereka siap membunuh sejumlah sel target segera setelah
mereka terbentuk, tidak perlu melewati pematangan dan proses belajar seperti pada limfosit T
dan limfosit B. Sel pembunuh alami juga menghasilkan beberapa sitokinesis (zat-zat
pembawa pesan yang mengatur sebagian fungsi limfosit T, limfosit B dan makrofag).
d. Antibodi
Jika dirangsang oleh suatu antigen, limfosit B akan mengalami pematangan menjadi sel-sel yang
menghasilkan antibodi. Antibodi merupakan protein yang bereaksi dengan antigen yang
sebelumnya merangsang limfosit B. Antibodi juga disebut immunoglobulin. Setiap molekul
antibodi memiliki suatu bagian yang unik, yang terikat kepada suatu antigen khusus dan suatu
bagian yang strukturnya menerangkan kelompok antibody.

Terdapat 5 kelompok antibodi:


1) IgM adalah antibodi yang dihasilkan pada pemaparan awal oleh suatu antigen. Contohnya,
jika seorang anak menerima vaksinasi tetanus I, maka 10-14 hari kemudian akan terbentuk
antibodi antitetanus IgM (respon antibodi primer). IgM banyak terdapat di dalam darah tetapi
dalam keadaan normal tidak ditemukan di dalam organ maupun jaringan.
2) IgG merupakan jenis antibodi yang paling umum, yang dihasilkan pada pemaparan antigen
berikutnya. Contohnya, setelah mendapatkan suntikan tetanus II (booster), maka 5-7 hari
kemudian seorang anak akan membentuk antibodi IgG. Respon antibodi sekunder ini lebih
cepat dan lebih berlimpah dibandingkan dengan respon antibodi primer. IgG ditemukan di
dalam darah dan jaringan. IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dipindahkan melalui
plasenta dari ibu ke janin di dalam kandungannya. IgG ibu melindungi janin dan bayi baru
lahir sampai sistem kekebalan bayi bisa menghasilkan antibodi sendiri.
3) IgA adalah antibodi yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadp
masuknya mikroorganisme melalui permukaan yang dilapisi selaput lendir, yaitu hidung,
mata, paru-paru dan usus. IgA ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh (pada saluran
pencernaan, hidung, mata, paru-paru, ASI).
4) IgE adalah antibodi yang menyebabkan reaksi alergi akut (reaksi alergi segera).
IgE penting dalam melawan infeksi parasit (misalnya river blindness dan skistosomiasis),
yang banyak ditemukan di negara berkembang.
5) IgD adalah antibodi yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam darah.
Fungsinya belum sepenuhnya dimengerti.
e. Sistem Komplemen
Sistem komplemen mengandung lebih dari 18 macam protein. Protein-protein ini bertindak
dalam suatu kaskade, dimana satu protein mengaktifkan protein berikutnya. Sistem komplemen
berfungsi menghancurkan benda asing, baik secara langsung maupun bergabung dengan
komponen
sistem
kekebalan
lainnya.
Sistem komplemen bisa diaktifkan melalui 2 cara yang berbeda:
1) Jalur alternatif: diaktifkan oleh produk mikroba tertentu atau antigen.
2) Jalur klasik: diaktifkan oleh antibodi khusus yang terikat pada antigen (kompleks imun).
2. Mekanisme Pertahanan Gingiva
Jaringan gingival mendapat iritasi mekanis dan bakteri secara terus menerus. Oleh karena itu saliva,
permukaan epitel, dan tahap awal dari respon inflamasi membuat gingival resisten terhadap segala
jenis iritan tersebut. Di sini akan dijelaskan mengenai permeabilitas dari junctional epithelium dan
sulkuler epithelium, pertemuan dento-gingiva dan peranan dari cairan sulkuler,leukosit,serta saliva.
a. Cairan Sulkuler
Komponennya berupa protein individual, antibody specific, antigen, dan enzim dengan beberapa
spesifitasnya. Mempunyai elemen seluler yaitu bakteri, epitel sel deskuamatif, leukosit ( PMN,
limposit, monosit/macrophage). Terdapat juga elektrolit seperti potassium, sodium dan calcium.
b. Pertemuan Dento-Alveolar
Serabut gingival memiliki fungsi penting untuk menahan perlekatan gingival dan epitel ke
permukaan gigi. Epitellium jungsional dan serabut gingival bertindak sebagai satu unit
fungsional, yaitu dentogingival junction.
c. Permeabilitas dari Junctional Epithelium dan Sulkuler Epithelium
Perpindahan antar sel dari molekul-molekul dan ion sepanjang ruang antar sel tampak sebagai
mekanisme yang memungkinkan.Substansi yang berpindah ini tidak melewati membran sel.
Epitellium jungsional adalah sel sel basal dari stratum spinosum tidak berkeratin yang
menyerupai seberkas kerah dengan ketebalan bervariasi antara 15-20 sel di korona hingga 1-2 sel
di apical.
d. Saliva
Saliva mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut seperti
fungsi lubrikasi,aliran saliva yang memberi efek self cleansing dalam rongga mulut,serta adanya

berbagai substansi anti bakteri seperti IgA, lizosim, dan laktoperidase. Seperti cairan crevikular
gingival,saliva terdiri dari antibody yang bersifat reaktif terhadap terhadap flora normal dalam
rongga mulut. Walaupun didalam saliva juga ditemukan Imunoglobin G dan IgM, tapi jenis
imonoglobin yang terbanyak adalah imunoglobin A, sedangkan IgG prevalensinya lebih banyak
pada cairan crevicular gingival(GCF). Kelenjar saliva mayor dan minor berperan pada sekresi
IgA,disamping memproduksi IgG dan IgM dalam jumlah yang kecil. Sebagai tambahan dari sel
epitel deskuamasi,saliva mengandung semua jenis leukosit,dimana sel PMN merupakan sel
utama. Jumlah sel PMN bervariasi antara tiap orang dan dalam waktu tertentu,dan biasanya
meningkat pada kasus gingivitis. Sel PMN mencapai rongga mulut melalui sulkus gingival.Sel
PMN yang terdapat dalam saliva kadang-kadang disebut sebagai orogranulosit,dan tingkat
perpindahannya ke dalam rongga mulut disebut orogranulosit migrate rate.Beberapa peneliti
beranggapan bahwa tingkat perpindahan ini berkorelasi dengan berbagai inflamasi,sehingga
dapat dijadikan sebagai indeks penyakit gingivitis yang akurat.
3. Mekanisme Pertahanan Spesifik dan Non-Spesifik
a. Mekanisme Pertahanan Spesifik
Manusia mempunyai ketahanan dan sistem penyerang yang disebut imun. Sistem ini dapat
melindungi tubuh terhadap serangan bakteri, virus, dan sel-sel kanker. Sistem ini mempunyai tiga
karasteristik:
1) Dapat saling membedakan baik,antara sistem itu sendiri atau musuh-musuhnya,misalnya
antara sistem dan non-sistem sehingga tidak saling menyerang.
2) Sistem pertahanan mengandung elemen spesifik terhadap antigen tertentu.Ini dimungkinkan
karena masing-masing antigen mempunyai susunan kimia permukaan yang khas.
3) Sistem mempunyai memori.Kontak pertama dengan akan menhasilkan respon primer dimana
limfosit yang masih murni(sel utama pada sistem imun) akan berproliferasi dan menjadi
matang,dan antigen akan dimasukkan ke memori sehingga pada kontak selanjutnya akan
menghasilkan respon sekunder yang sudah dipersiapkan.
b. Mekanisme Pertahanan Non-Spesifik
Ada lima mekanisme perlindungan non-spesifik:
1) Keseimbangan bakteri
Rongga mulut dapat dianggap suatu ekosistem yang memiliki keseimbangan. Gangguan
keseimbangan paling sering terjadi setelah fase penggunaan antibiotika yang cukup lama
yang menekan beberapa tipe bakteri dan memungkinkan tipe bakteri lainnya tumbuh sampai
merusak jaringan,misalnya produksi infeksi jamur kandida (thrush) setelah penggunaan
beberapa antibiotik. Mekanisme aksi bakteri:
a) Invasi
Banyak bakteri yang melekat ke permukaan gigi di sekitar gingival dalam jangka waktu
yang lama hingga membuat jaringan terpapar produk toksin yang dihasilkan.
b) Agen sitotoksik
Substansi lipopolisakarida yang terdapat dalam dinding sel bakteri gram negatif dapat
menjadi penyebab langsung nekrosis jaringan, selain sebagai pencetus terjadinya proses
inflamasi dengan mengaktifkan sistem komplemen.
c) Enzim
- Enzim kolagenase
Elemen utama pembentuk gingival dan ligament periodontal
- Enzim Hialuronidase
Faktor yang mempermudah peningkatan permiabilitas jaringan
- Enzim kondroitinase
Polisakarida untuk melekatkan jaringan
- Protease
Merusak protein kolagen dan menambah permiabilitas kapiler
d) Aksi gabungan
2) Integritas Permukaan

Integritas permukaan dari kulit dan membrane mukosa termasuk gingival dapat
dipertahankan melalui proses penggantian epithelium yang terus menerus dan deskuamasi
lapisan permukaan.Kedua aktivitas ini seimbang sehingga ketebalan epithelium akan tetap
konstan.
3) Enzim dan Cairan Permukaan
Semua permukaan vital dibasahi oleh cairan yang merupakan produk dari glandula
permukaan dan mengandung substansi yang dapat menyerang benda asing seperti misalnya
asam lambung, lizosim dalam air mata yang membasahi bola mata dan sebum dari folikel
kulit rambut. Saliva membasahi mukosa mulut dan mengandung substansi antibakteri.
Eksudat cairan gingival mengalir melalui epithelium jungsional ke leher gingival dan cairan
ini mengandung leukosit fagositik dan enzim-enzimnya.
4) Fagositosis
Sel-sel tertentu dalam aliran darah dan jaringan mampu menghancurkan dan menghilangkan
benda asing. Kedua sel fagosit yang terpenting adalah leukosit polimorfonuklear dan
makrofag.
5) Reaksi Inflamasi
Reaksi inflamasi dirangsang oleh trauma jaringan dan infeksi dan dapat menimbulkan
perubahan pada mikrosirkulasi local.Keadaan ini akan menimbulkan hyperemia,kenaikan
permeabilitas vaskuler,dan pembentukan cairan serta eksudat selular.Dengan ini protein
serum dan sel fagositik akan berkumpul di sekitar daerah iritan.
PERAWATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT:
PENDEKATAN BIOLOGI MULUT KEKINIAN
DAN INDIGENOUS WISDOM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Gadjah Mada
Disampaikan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar
Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 10 Agustus 2009
di Yogyakarta
Oleh: Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc.
Imunitas rongga mulut
Fungsi utama sistem imun rongga mulut adalah melindungi geligi, rahang, gusi dan mukosa mulut guna
melawan infeksi. Mukosa mulut tersebut bersifat lunak, halus dan dilapisi sel epitel yang terjaga
kelembabannya dan didukung oleh lapisan jaringan ikat sehingga dapat berkontak dengan lingkungan
eksternal. Pertahanan sel pejamu bervariasi tergantung perbedaan lingkungan yang dipresentasikan oleh
mukosa mulut, saliva maupun celah gusi beserta cairannya (gingival crevicular fluid = GCF). Komponen
seluler utama GCF adalah neutropil dan sedikit sel limposit B dan T. Lebih dari 80% neutropil pada celah
gusi ini sangat berfungsi dan mampu menelan mikroorganisma. Aliran saliva mempunyai efek mekanik
melumasi mukosa mulut terhadap iritasi dan membantu fungsi bicara maupun penelanan (Bagg dkk., 2003).
Saliva mengandung bahan anti-mikroorganisma, dan 85% antibodi secretory IgA (s-IgA), yang berfungsi
menghambat perlekatan, aglutinasi bakteri dan menetralisir virus. Sementara IgA sendiri lebih banyak
ditemukan pada cairan celah gusi. Saliva juga mengandung laktoferin untuk pengikat besi dan bersifat
bakteriostatik. Kandungan lainnya seperti lisosim sangat efektif berguna melawan bakteri Streptococcus
mutans bakteri utama penyebab gigi karies. Dalam saliva terdapat pula agglutinin, sistim myeloperoxidase,
sistim salivary peroxsidase, complements dan 98% leukosit. Pada gingival sehatpun, selalu ada lalu lintas
yang kontinyu oleh neutropil (sel darah sebagai pertahanan) dari kapiler gingiva masuk ke celah gingiva
yang tergerak baik oleh peptida bakteri plak gigi maupun IL-8 epitel gingiva dan sel tersebut akan berfungsi
aktif serta berkemampuan membasmi mikroorganisma (Page, 1998). Belum lama ini Oudoff dkk. (2008)
menemukan histatin suatu protein kecil yang terkandung dalam saliva merupakan komponen yang
bertanggung jawab untuk penyembuhan. Penemuan tersebut tidak hanya menjawab pertanyaan mengapa
binatang selalu menjilati lukanya sendiri, namun jugamenjelaskan mengapa luka dalam rongga mulut seperti

pencabutan gigi, menunjukkan sembuh lebih cepat dibandingkan luka pada kulit maupun tulang (Weissman,
2008 editor Jurnal FASEB).
Permukaan geligi dan rongga mulut sebagai bagian integral tubuh dipengaruhi oleh mekanisme imunitas
saliva yang diperantarai oleh s-IgA dan imunitas sistemik yang melibatkan semua variasi komponen
imunitas dalam darah. Masing-masing komponen anatomi dalam rongga mulut dengan gigi-geligi serta
glandula salivarius mempunyai lingkungan mikro yang berbeda dalam spesialisasi sistem imunnya dan ini
telah terancang sedemikian rupa untuk menjaga kesehatan mulut. Integritas mukosa mulut, limponodi, saliva
dan cairan celah gusi serta imunitas seluler dan humoral adalah kunci utama untuk kesehatan rongga mulut
(Bagg dkk., 2003).
Ekologi kesehatan rongga mulut
Penyakit mulut seperti karies dan periodontitis harus dipertimbangkan pula sebagai konsekuensi ekologi
karena tidak adanya keseimbangan mikroorganisma mulut pada biofilm. Karies, terjadi karena pH
lingkungan yang sangat rendah. Sementara itu komunitas mikroorganisma yang terlibat pada periodontitis
disebabkan meningkatnya aliran cairan celah gusi dan nutrisi serta perubahan pH. Ekologi kesehatan
merupakan jejaring hidup yang unik, dan inipun berkaitan antara individu dengan lingkungannya ataupun
dengan komunitas sosialnya. Ekologi kesehatan mulut merupakan interaksi pada semua tingkat organisasi
pada rongga mulut tetapi konsekuensinya dapat terjadi tidak sebatas pada mulut. Kesehatan mulut pada aras
molekuler tergantung pada imunitas yang melibatkan interaksi kompleks antara antigen baik humoral
maupun seluler. Struktur kesehatan yang membentuk rongga mulut yaitu misalnya gigi geligi termasuk
perlekatannya pada tulang rahang, mukosa mulut dan lidah telah membentuk suatu wujud kompleksitas yang
sedemikian baik dan mampu menjalankan fungsinya. Kesehatan rongga mulut tersebut sangat tergantung
pada faktor internal (imunitas dan mikroorganisma), saliva dengan pencernaan, pelumas dan bahan lain serta
faktor lainnya seperti nutrisi, kebiasaan dan gaya hiduptermasuk stress dan kegagalan. Adiksi merokok
masih merupakan catatan terbaik sebagai faktor penentu kesehatan mulut (Jhonson dan Bain, 2000). Di
samping itu, faktor sosial dan budaya juga dapat berpengaruh baik langsung dan tidak langsung pada
kesehatan mulut.
.
Sistem Imunitas Rongga Mulut
Menurut Roeslan (2002), sistem imunitas rongga mulut dipengaruhi oleh :
a. Membran mukosa.
Mukosa rongga mulut terdiri atas epitel skuamosa yang berguna sebagai
barier mekanik terhadap infeksi. Mekanisme proteksinya tergantung
pada deskuamasinya sehingga bakteri sulit melekat pada sel epitel dan
derajat keratinisasinya yang sangat efisien menahan penetrasi microbial.
b. Nodus Limfatik
Jaringan lunak rongga mulut berhubungan dengan nodus limfatik ekstra
oral dan agregasi limfoid intra oral. Kapiler limfatik yang terdapat pada
permukaan mukosa lidah, dasar mulut, palatum, pipi dan bibir, mirip
yang berasal dari ginggiva dan pulpa gigi. Kapiler ini bersatu
membentuk pembuluh limfatik besar dan bergabung dengan pembuluh
lmfatik yangberasal dari bagian dalam otot lidah dan struktur lainnya.
Di dalam rongga mulut terdapat tonsil palatel.
c. Saliva

Sakresi saliva merupakan perlindungan alamiah karena fungsinya


memelihara jaringan keras dan lunak rongga mulut agar tetap dalam
keadaan fisiologis. Saliva yang disekresikan oleh kalenjar parotis,
submandibularis dan beberapa kelenjar saliva kecil yang tersebar
dibawah mukosa, berperan dalam membersihkan rongga mulut
mikroorganisme, selain bertindak sebagai pelumas pada saat

dari debris dan

mengunyah dan berbicara.


d.

Celah Ginggiva

Epitel jangsional dapat dilewati oleh komponen seluler dan humoral


dari daerah dalam bentuk cairan celah ginggiva (CCG). Aliran CCG
merupakan proses fisiologik atau meriapakan espon terhadap inflamasi.
Fagositosis
Fagositosis adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel-sel fagosit, dengan
jalan mencernamikroorganisme/partikel asing hingga menghancurkannya berkeping-keping. Sel fagosit ini terdiri dari 2
jenis, yaitufagosit mononuklear dan polimorfonuklear. Fagosit mononuklear contohnya adalah monosit (di
darah) dan jikabermigrasi ke jaringan menjadi makrofag. Contoh fagosit polimorfonuklear
adalah granulosit, yaitu netrofil, eusinofil, basofil dan cell mast (di jaringan). Supaya proses ini bisa
terjadi, suatu mikroorgansime harus berjarakdekat dengan sel fagositnya.Proses fagositosis adalah sebagai berikut:1.
pengenalan (recognition), yaitu proses dimana mikroorganisme/partikel asing terdeteksi oleh
sel-selfagosit.
2.
Pergerakan (chemotaxis); setelah suatu partikel mikroorganisme dikenali, maka sel fagosit akan
bergerakmenuju partikel tersebut. Proses ini sebenarnya belum dapat dijelaskan, akan tetapi kemungkinan
adalahkarena bakteri/mikroorganisme mengeluarkan semacam zat
chemo-attract
seperti kemokin yang dapatmemikat sel hidup seperti fagosit untuk menghampirinya.3. Perlekatan (adhesion);
setelah sel fagosit bergerak menuju partikel asing, partikel tersebut akan melekatdengan reseptor pada
membran sel fagosit. Proses ini akan dipemudah apabila mikroorganisme tersebutberlekatan dengan mediator
komplemen seperti opsonin yang dihasilkan komplemen C3b di dalam plasma(opsonisasi).4. Penelanan (ingestion);
ketika partikel asing telah berikatan dengan reseptor di membran plasma sel fagosit, seketika
membran sel fagosit tersebut akan menyelubungi seluruh permukaan partikel asing danmenelannya hiduphidup ke dalam sitoplasma. Sekali telan, partikel tersebut akan masuk ke sitoplasmadi dalam sebuah gelembung
mirip vakuola yang disebut fagosom.
5.
Pencernaan (digestion); fagosom yang berisi partikel asing di dalam sitoplasma sel fagosit, dengan segeramengundang
kedatangan lisosom. Lisosom yang berisi enzim-enzim penghancur seperti
acid hydrolase
dan peroksidase, berfusi dengna fagosom membentuk fagolisosom. Enzim-enzim tersebut pun tumpah
kedalam fagosom dan mencerna seluruh permukaan partikel asing hingga hancur berkepingkeping.Sebagian epitop/ bagian dari partikel asing tersebut, akan berikatan dengan sebuah molekul
kompleksyang bertugas mempresentasikan epitop tersebut ke permukaan, molekul ini dikenal dengan MHC
(majorhistocompatibility complex) untuk dikenali oleh sistem imunitas spesifik.
6.
Pengeluaran (releasing); produk sisa partikel asing yang tidak dicerna akan dikeluarkan oleh sel fagosit.(gambar 1 proses
fagositosis)
Inflamasi

Inflamasi merupakan respon yang terjadi untuk melindungi tubuh dari penyebab kerusakan sel, seperti
mikrobaatau toksin, dan konsekuensi dari kerusakan sel tersebut, seperti nekrosis sel atau jaringan. Respon
inflamasiterjadi pada jaringan ikat yang mempunyai pembuluh darah, dan melibatkan pembuluh darah,
plasma dan sel-seldalam sirkulasi. Selain itu, inflamasi juga melibatkan matriks ekstra seluler di
jaringan, seperti protein yang berstruktur serat (kolagen dan elastin), molekul adhesi dan proteoglikan.
ANATOMI RONGGA MULUT
Tonsil adalah satu struktur yang sangat penting dalam sistem pertahanan
tubuh terutama pada protein asing yang dimakan atau dihirup. Sifat mekanisme
pertahanan pada tonsil adalah secara spesifik atau non spesifik. Sel-sel fagositik
mononuklear akan mengenal dan mengeliminasi antigen apabila patogen
menembus lapisan epitel. Tonsil berbentuk oval dan berada di ruang berbentuk
segitiga yang dibentuk oleh palatum dan lidah (palatoglossus) yang juga dikenal
sebagai plika anterior dan ruang antara palatum dan faring (palatofaringeus) yang
juga dikenali sebagai plika posterior. Pada masa anak, ukuran tonsil adalah paling
1. Tonsil palatum : Tonsil palatum merupakan massa limfoid yang berpasangan
antara mulut dan faring yang tertanam di antara glosso-palatinal dan
lengkungan faringopalatinal. Tonsil ini dibungkus oleh sel-sel gepeng yang
menyusup ke dalam jaringan limfoid membentuk 10-20 lubang. Sel-sel
retikulum dan limfosit ditemukan di bawah epitel. Peningkatan permeabilitas
benda-benda asing dikawal oleh epitel kripta yang dapat ditemukan di dalam
makrofag. Folikel limfoid mengandung sel-sel B yang berpoliferasi dalam
pusat germinal dan bergerak sebagai limfosit B atau sel plasma; karena itu selsel ini berkembang secara lokal di dalam tonsil. Studi imunofluresensi
menunjukkan bahwa sel selaput IgG yang terwarnai jauh lebih banyak
dibanding dengan IgA dan selaput IgA sebaliknya lebih banyak dibandingkan
dengan sel IgM, IgD sedangkan yang paling jarang adalah sel IgF. Antigen
besar dan ukuran ini akan mengecil secara bertahap pada saat pubertas (Farokah et
al., 2007).
Jaringan limfoid di dalam mulut tidak berhubungan dengan mulut, tidak
seperti jaringan limfoid pada usus yang berhubungan dengan usus (gut-associated
lymphoid tissues) serta jaringan limfoid pada paru-paru yang berhubungan dengan
bronkus. Agregasi limfoid di dalam mulut terdiri dari 3 tipe yang utama dan

berperanan sebagai pengawasan imunologi jaringan mulut.


erta mitogen sel-T dan sel-B yang dapat menimbulkan kekebalan primer dan
sekunder bereaksi in vintro dengan sel tonsil yang menyerupai kelenjar getah
bening. Jalur aferen antigen langsung melewati kripta, sehingga hanya antigen
lokal yang dapat masuk. Antibodi dan sel-sel yang peka dapat melewati epitel
dan oleh itu mempunyai fungsi perlindungan lokal dalam membentengi saluran
pencernaan dan pernafasan.
2. Tonsil lidah : Merupakan struktur yang kurang menonjol pada tiap sisi lidah, di
belakang papilla sirkumvalat. Kripta terhasil daripada epitel-epitel gepeng yang
menyusup masuk ke dalam jaringan limfoid. Sel-sel dibersihkan dengan
adanya duktus kelenjar mukosa yang bermuara ke dalam kripta. Semua ini
memungkinkan tonsil lidah bebas dari sisa-sisa kotoran dan infeksi.
3. Tonsil faring (adenoid) : Merupakan massa jaringan limfoid yang sederhana,
terdapat di bawah mukosa nasofaring. Walaupun terdapat di luar rongga mulut,
adenoid melengkapi cincin jaringan limfoid yang memisahkan mulut dan
hidung dari faring (Lehner, 1995).