Anda di halaman 1dari 18

Dokter Gigi Keluarga

Pelayanan kesehatan :
Yankes perseorangan ditujukan utk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kes
perseorangan dan keluarga.
Yankes masyarakat ditujukan utk memelihara dan meningkatkan kes serta mencegah penyakit
suatu kelompok dan masy.
Pelaksanaan yankes hrs mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien dibanding
kepentingan lainnya. (Ps 52)

Upaya kes/yankes perorg-masy dg pendekatan :


Yankes promotif adl suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kes yg lebih
mengutamakan kegiatan yg bersifat promosi kes.
Yankes preventif adl suatu kegiatan pencegahan thd suatu masalah kes/penyakit.
Yankes kuratif adl suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yg ditujukan utk
penyembuhan peny, pengurangan penderitaan akibat peny, pengendalian peny, atau pengendalian
kecacatan agar kualitas penderita dpt terjaga seoptimal mungkin.
Yankes rehabilitatif adl kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan utk mengembalikan bekas
penderita ke dlm masy sehingga dpt berfungsi lagi sbg anggota masy yg berguna utk dirinya dan masy
semaksimal mungkin sesuai dg kemampuannya.

Pengertian dokter gigi keluarga adalah dokter gigi yang mampu menyelenggarakan pelayanan
kesehatan gigi yang berorientasi pada komunitas dengan keluarga sebagai target utaama serta
memandang individu yang sakit maupun sehat sebagian dari unit keluarga dan komunitasnya . Dokter
gigi keluarga merupakan tenaga kesehatan yang proaktif mendatangi keluarga sesuai indikasi dan
melakukan perawatan serta asuhan pelayanan kedokteran gigi dasar. Layanan dokter gigi keluarga yang
diberikan harus terjaga mutu dengan mengutamakan pendekatan promotif dan preventif serta menerapkan
ilmu pengetahuan kedokteran gigi mutakhir secara rasional dan memperhatikan sistem rujukan. Prinsip
dari dokter gigi keluarga adalah : sebagai kontak pertama, layanan bersifat pribadi, pelayanan paripurna,
paradigm sehat, pelayanan berkesinambungan, koordinasi dan kolaborasi serta family and community
oriented.
Peran seorang dokter gigi keluarga berperan sebagai berikut, yaitu:

1.

Sebagai pemberi pelayanan dengan komitmen tinggi serta menunaikan tugasnya secara profesional dan
etis.

2.

Ujung tombak dalam sistem pelayanan kesehatan nasional dan berhadapan langsung dengan masyarakat
yang membutuhkan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Juga berfungsi sebagai penapis rujukan upaya
kesgilut keluarga ke fasilitas yang lebih mampu.

3.

Koordinator dalam pemeliharaan kesgilut pasien dan keluarganya, serta bekerja sama secara harmonis
dengan setiap individu dan institusi.

4.

Sebagai mitra yang beretika bagi pasiennya dalam mengambil keputusan medis dengan memilih dan
menggunakan teknologi kedokteran gigi secara rasioanl berdasarkan evidence-based dentistry.

5.

Penggalang peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesgilut.

6.

Memberikan rujukan pada unit yang lebih terfasilitasi.


Dokter Gigi Keluarga berperan sebagai unsur profesi kedokteran gigi yang menggalang peran
serta masyarakat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. Dalam menjalakan peran ini juga
melakukan beberapa fungsi :

1. Ujung tombak pemberi pelayanan dan asuhan keluarga serta sebagai penapis rujukan upaya kesehatan
gigi mulut.
2. Sumber informasi, edukasi dan advokasi dalam pemeliharaan kesehatn gigi dan mulut.
3. Perlindungan resiko terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut.
4. Meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga sesuai siklus hidup dan.
5. Penghematan biaya kesehatan.
6. Sebagai sumber informasi, edukasi akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut dalam masyarakat.

Prinsip Pelayanan Dokter Gigi Keluarga


1. Dokter gigi kontak pertama (Fist Contact)
Dokter gigi keluarga merupakan pemberi layanan kesehatan pertama yang ditemui oleh pasien
atau klien, dalam menyelesaikan masalah kesehatan gigi dan mulut. Umumnya masalah kesehatan gigi
dan mulut yang ada di masyarakat dapat ditangani pada strata pelayanan pertama, maka dokter gigi
keluarga berfungsi sebagai kontak pertama dan pelapis rujukan ke strata ke dua dan ke tiga.
2. Layanan bersifat pribadi (Personal Care)
Dokter gigi keluarga memberikan layanan perorangan dengan memperhatikan semua pasiennya
sebagai bagian dari keluargamya. Adanya hubungan baik dengan pasien dan seluruh keluarganya
memberi peluang pada seorang dikter gigi keluarga untuk memahami masalah pasien dengan lebih luas.
Maka dapat disimpulkan bahwa, keputusan medis tidak hanya dibuat dengan pertimbangan medis saja,
akan tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan ekonomi dari si pasien.

3. Pelayanan paripurna ( comprehensive)


Memberi memberikan pelayanan menyeluruh dengan pendekatan: peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan ( kuratif) dan pmulihan (rehabilitatif) yg
disesuai dengan kebutuhan pasien. Namun, pada prinsipnya pelayanan yang diberikan oleh seorang
dokter gigi keluarga lebih menekankan pada prawatan promotif dan preventif.
4. Pradigma sehat
Dokter gigi keluarga mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga
kesehatannya memalui kesadaran akan pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan
preventif.
5. Continuous Care
Pelayanan yag diberikan oleh dokter gigi keluarga berpusat pada pasien, hal ini melandasi
hubungan jangka panjang antara dokter gigi keluarga dan pasiennya dengan pelayanan kesehattan yang
berkesinanbungan dalam tahapan kehidupan pasien.
6. Koordinasi dan Kolaborasi
Dalam mengatasi masalah pasiennya seorang dokter gigi keluarga perlu berkonsultasi dgn disiplin
lain, merujuk ke spesialis dan memberi informasi yang sejelas-jelasnya pada pasien.
7. Family and Community Oriented
Dalam mengatasi masalah pasiennya seorang dokter gigi keluarga mempertimbangkan kondisi
pasien terhadap keluarga tanpa mengesampingkan pengaruh lingkungan sosial dan budaya tempat pasien
tinggal dan bekerja.

Rung Lingkup Dokter Gigi Keluarga


Pelayanan kedokteran gigi keluarga dilaksanakan dengan pola pelayanan berlapis melalui sistem
rujukan berjenjang (Level of Care) dengan pendekatan Primary Health Care. Tujuan pelayanan ini untuk
memberikan pelayanan yang menyeluruh dengan tingkat-tingkat pelayanan yang dikaitkan dengan
sumber daya yang ada di masyarakat.
Upaya tersebut di atas dimaksudkan untuk menjaga fungsi gigi dan mulut sebagai bagian dari
sistem cerna yang sangat penting untuk kesehatan seseorang, sebagai bagian dari sistem bicara dan
pembentukan estetika wajah. Di samping itu, upaya tersebut dimaksudkan untuk menjaga kondisi gigi
dan mulut agar tidak menjadi sumber penyakit (focal infection) bagi organ lainnya dan deteksi dini
penyakit sistemik yang bermanifestasi di rongga mulut.
Ruang lingkup kerja dokter gigi keluarga meliputi beberapa pelayanan yaitu :

a.

Pelayanan darurat / basic emergency care

Yaitu pelayanan darurat dasar yang harus dapat melayani siapa saja dan dimana saja. Pelayanan
yang diberikan yaitu :
1. Pertolongan pertama pada keadaan darurat dan gawat darurat untuk selanjutnya dilakukan rujukan bila
perlu.
2.

Mengurangi rasa sakit atau mengeliminasi infeksi / pertolongan pertama pada gigi dan mulut karena
penyakit / cedera

3. Reposisi dislokasi rahang


4. Replantasi gigi
5. Penyesuaian oklusi

b.

Pelayanan pencegahan / preventive care

Preventive care adalah pelayanan yang bersifat pencegahan. Pelayanan ini terdiri dari pelayanan
pencegahan yang ditujukan kepada komunitas, pelayanan pencegahan yang ditujukan kepada kelompok, dan
pelayanan pencegahan yang ditujukan kepada individu.
Pelayanan pencegahan yang ditujukan kepada komunitas meliputi:
1. Fluoridasi air minum.
2. Pemasaran pasta gigi yang berfluor.
3. Kampanyekesehatan gigi melalui media massa untuk memperbaiki kesadaran, pengetahuan, sikap dan prilaku
masyarakat.
Pelayanan pencegahan yang ditujukan kepada kelompok meliputi:
1. Promosi kesehatan gigi dan mulut melalui program pendidikan kepada kelompok tertentu.
2. Program pemberian tablet fluor.
3. Program kumur-kumur dengan fluor dan gerakan sikat gigi massal.
4. Pemberian fluor secara topikal.
5. Fissure sealant.
6. Pembersihan karang gigi (scalling).
Pelayanan pencegahan yang ditujukan kepada individu meliputi:
1. Pemeriksaan gigi dan mulut pada pasien perorangan, termasuk temuan-temuan penyakit gigi dan mulut serta
rujukan bila diperlukan.
2. Memberi nasehat dan petunjuk kepada perorangan mengenai kebersihan mulut, konsumsi fluor, diet, perilaku
yang membahayakan kesehatan dan pemeriksaan diri sendiri.
3. Aplikasi fluor secara topikal.
4. fissure sealant.
5. Pembersihan karang gigi (scalling).
6. Deteksi dini penyakit gigi; dan

7. Penumpatan ART (Atraumatic Restorative Treatment).


Menurut Depkes RI (2000), selain pelayanan pencegahan (preventive care) lapisan/jenjang yang lain
yaitu; basic emergency care, self care, simple care, moderate care, dan complex care. Basic emergency care
merupakan pelayanan pada lapis pertama yaitu merupakan pelayanan darurat dasar yang harus dapat melayani
siapa saja dan dimana saja. Upaya menghilangkan atau mengurangi rasa sakit dapat diberikan oleh kader
kesehatan, atau oleh petugas kesehatan misalnya bidan di desa.

c. Pelayanan medik gigi dasar / simple care


Simple Care merupakan suatu pelayanan profesional sederhana atau pelayanan medik gigi dasar
umum yang meliputi:
1. pembersihan karang gigi
2. ekstraksi tanpa komplikasi (gigi sulung persistensi/gigi tetap karena penyakit/keperluan ortodonti)
3. tumpatan gigi (glassionomer/komposit/kombinasi)
4. Tindakan interseptik ortodontik
5. Perawatan pulpa (pulpcapping/pulpotomi/perawatan saluran akar gigi anterior) Penanganan dry socket.
6. Mengobati ulkus recurent.
7. Pengelolaan halitosis
8. Pelayanan rujukan.

d. Pelayanan medik gigi khusus / moderate care


Yaitu suatu pelayanan profesional di bidang kedokteran gigi yang advance atau pelayanan medik
gigi dasar khusus seperti tingkat spesialistik kedokteran gigi. Pelayanan dokter gigi keluarga meliputi
bidang:
1.

Konservasi gigi

2.

Pedodonsia

3.

Periodonsia

4.

Bedah mulut

5.

Orthodonsia

6.

Prostodonsia

7.

Oral medicine
Pelayanan moderate care hanya dapat dilakukan pada tingkat rumah sakit kelas D dan C oleh tenaga

dokter gigi yang telah mendapat pendidikan tambahan dalam bidang kedokteran gigi (dokter gigi plus).

Prinsip-prinsip Dokter Gigi Keluarga

KEBIJAKAN PELAYANAN KEDOKTERAN GIGI KELUARGA


Tujuan pembangunan kesehatan Indonesia sehat 2010 -> Terciptanya masyarakat
Indonesia yang hidup dan berprilaku dalam lingkungan sehat dan mampu
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu.
4 Misi pembangunan kesehatan :
1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta
lingkungannya

Hasil studi morbiditas SKRT SURKESNAS 2001 :


1. Penyakit gigi dan mulut merupakan peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak
(60% penduduk) -> menurunkan produktifitas kerja
Hasil studi Suskernas 1998 :
1.P erilaku masyarakat tentang pelihara diri masyarakat terhadap kesehatan gigi diukur
dengan variabel menyikat gigi dan motivasi berobat gigi
2. 77,2 % yang menyikat gigi -> 8,1 yang memenuhi syarat -> 23% tidak menyikat
gigi
3. 71,3% anak usia 1-4 th tidak menyikat gigi dan 62,2% pada usia diatas 75 th.
4. Motivasi berobat hanya 13% dari penduduk yang mengeluh sakit gigi, 69,3
mengobati sendiri
--> Langkah yang diambil pemerintah Indonesia -> meningkatkan derajat kesehatan
gigi dan mulut penduduk Indonesia melalui pelayanan ditingkat pertama yang
dilaksanakan secara efisien, efektif dan berkualitas -> pendekatan PELAYANAN
KEDOKTERAN GIGI KELUARGA
DOKTER GIGI KELUARGA -> dokter gigi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
gigi yang berorientasi pada komunitas dengan keluarga sebagai sasarn utama dan
memandang individu baik yang sakit maupun yang sehat sebagai bagian dari unit
keluarga serta komunitasnya
Dokter Gigi Keluarga berperan sebagai "The five Star Doctor"
1. Care Provider (pemeliharaan Kesehatan)
2. Decission Maker (pengambil keputusan)
3. Communicator (komunikator)
4. Community leader (pemuka mmasyarakat)
5. Manager (manajer)
Prinsip Pelayanan Yang Diberikan Dokter Gigi Keluarga
1. Dilandasi kebutuhan seluruh anggota keluarga

2. Rencana Terapi dan Asuhan


3. Tindakan terapi dan asuhan
4. Tindakan terapi dan asuhan
profesional
5. Tindakan terapi dan asuhan

komprehensif
pelayanan yang bersifat menyeluruh
pelayanan dilaksanakan secara menyeluruh dan
pelayanan dilaksanakan berdasarkan SOP

PERAN DAN FUNGSI DOKTER GIGI KELUARGA:


1. Pemberi pelayanan dengan komitmen tinggi serta menunaikan tugasnya secara
profesional serta etis
2. Ujung tombak pada sitem pelayanan kesehatan nasional dan berhadapan langsung
dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan tingkat pertama. Sebagai
penapis rujukan kefasilitas yang lebih mampu
3. Koordinator dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pasien dan keluarganya
serta bekerja sama secara harmonis dengan setiap individu dan institusi
4. Sebagai mitra yang beretika bagi pasiennya dalam mengambil keputusan medis
dengan memilih dan menggunakan teknologi kedokteran gigi secara rasional
berdasar evidence based dentistry
5. Penggalang peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
gigi dan mulut
Bidang Garapan Dokter Gigi Keluarga
1. Individu sehat maupun sakit
2. Mengutamakan pendekatan promotif dan preventif
3. Pendekatan terpadu, holistik/menyeluruh dan berkesinambungan
4. Manajemen efisien, efektif biaya dan penjagaan mutu

Dalam dunia kedokteran atau kesehatan, dikenal pelayanan kesehatan Bidang Promotif, Preventif ,
Kuratif, Rehabilitatif.
Jika anda mencari artikel tentang apa itu istilah Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif anda
dapat membaca uraian itu dibawah ini.
Pengertian Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
Contoh Promotif adalah penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.
Pengertian Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah
kesehatan/penyakit.
Contoh Preventif adalah pengolesan fluor pada gigi.
Pengertian Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit,

pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal
mungkin.
Contoh Kuratif adalah penambalan gigi.
Pengertian Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota
masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya.
Contoh Rehabilitatif adalah pembuatan atau pemasangan gigi palsu.
Selain pelayanan bidang kedokteran diatas, ada lagi pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh
masyarakat umum, pelayanan kesehatan ini disebut dengan pelayanan kesehatan tradisional.
Pengertian Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan
obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Contoh Pelayanan Tradisional adalah pengobatan alternatif menggunakan obat herbal, bekam,
akupuntur dan lain-lain.
Demikianlah tentang pelayanan kesehatan bidang Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif,
semoga bermanfaat.

PROMOTIF,PREVENTIF,KURATIF,REHABILITATIF
A. PROMOSI KESEHATAN DALAM TEORI
Promosi kesehatan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu health promotion. Penerjemahan kata
health promotion atau tepatnya promotion of health kedalam bahasa Indonesia pertama kali dilakukan
ketika para ahli kesehatan masyarakat di Indonesia menerjemahkan lima tingkatan pencegahan (five
levels of prepention) dari H.R.Leavell dan E. G. Clark dalam buku preventive medicine for the doctor in
his community.
Promosi kesehatan adalah upaya meningkatkan kemampuan kesehatan masyarakat melalui
pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya sendiri,
serta mampu berperan secara aktif dalam masyarakat sesuai sosial budaya setempat yang didukung oleh
kebijakan public yang berwawasan. (Depkes RI)

Promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi,


kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan
kesehatan (Green dan Ottoson,1998).
Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik,
mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya,
kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan
sebagainya). Dalam konferensi ini ,health promotion di maknai sebagai perluasan dari healt education
atau pendidikan kesehatan.
Menurut Leavell dan Clark (1965), dari sudut pandang kesehatan masyarakat, terdapat 5 tingkat
pencegahan terhadap penyakit, yaitu :
1. Promotion of healt
2. Specifik protection
3. Early diagnosis and prompt treatment
4. Limitation of disability dan
5. Rehablitation.
Organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi
kesehatan :
Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve, their
health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or group must
be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment
.
(Ottawa Charter,1986).

B.

USAHA KESEHATAN MENURUT GARIS BESAR


Dalam garis besar usaha kesehatan, dapat dibagi dalam 3 golongan, yaitu :

1.

Usaha pencegahan (usaha preventif)


Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam mencegah terjadinya sesuatu
yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin, pravenire yang artinya datang
sebelum atau antisipasi atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas,
prevensi diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan,
kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat
Upaya preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.

Usaha-usaha yang dilakukan, yaitu :


a. Pemeriksaan kesehatan secara berkala (balita, bumil, remaja, usila,dll) melalui posyandu, puskesmas,
maupun kunjungan rumah
b. Pemberian Vitamin A, Yodium melalui posyandu, puskesmas, maupun dirumah
c. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui
d. Deteksi dini kasus dan factor resiko (maternal, balita, penyakit).
e. Imunisasi terhadap bayi dan anak balita serta ibu hamil

2.

Usaha pengobatan (usaha kuratif)


Upaya kuratif bertujuan untuk merawat dan mengobati anggota keluarga, kelompok yang menderita
penyakit atau masalah kesehatan.

Usaha-usaha yang dilakukan, yaitu :


a. Dukungan penyembuhan, perawatan, contohnya : dukungan psikis penderita TB
b. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas dan rumah sakit
c. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis dirumah, ibu bersalin dan nifas
d. Perawatan payudara
e. Perawatan tali pusat bayi baru lahir
f. Pemberian obat : Fe, Vitamin A, oralit.
3.

Usaha rehabilitasi
Merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-penderita yang dirawat dirumah, maupun
terhadap kelompok-kelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama.

Usaha yang dilakukan, yaitu:


a. Latihan fisik bagi yang mengalami gangguan fisik seperti, patah tulang, kelainan bawaan
b. Latihan fisik tertentu bagi penderita penyakit tertentu misalnya, TBC (latihan nafas dan batuk), Stroke
(fisioterapi).
Dari ketiga jenis usaha ini, usaha pencegahan penyakit mendapat tempat yang utama, karena dengan
usaha pencegahan akan diperoleh hasil yang lebih baik, serta memerlukan biaya yang lebih murah
dibandingkan dengan usaha pengobatan maupun rehabilitasi.

C. TINGKAT-TINGKAT USAHA PENCEGAHAN


Leavell dan Clark dalam bukunya Preventive Medicine for the Doctor in his Community ,
membagi usaha pencegahan penyakit dalam 5 tingkatan yang dapat dilakukan pada masa sebelum sakit
dan pada masa sakit.
Usaha-usaha pencegahan itu adalah :
a) Masa sebelum sakit
1. Mempertinggi Nilai Kesehatan (Health Promotion)
Promotif adalah usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat. Upaya promotif dilakukan
untuk meningkatkan kesehatan individu,keluarga, kelompok dan masyarakat. Setiap individu berhak
untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek
pemeliharaan kesehatannya.
Usaha ini merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya. Beberapa usaha
diantaranya :
a.

Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya.

b. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, seperti : penyediaan air rumah tangga yang baik, perbaikan
cara pembuangan sampah, kotoran dan air limbah dan sebagainya.
c.

Pendidikan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhannya.

d. Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang baik.


2. Memberikan Perlindungan Khusus Terhadap Suatu Penyakit (Specific Protection)
Usaha ini merupakan tindakan pencegahan terhadap penyakit-penyakit tertentu yang gangguan
kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Beberapa usaha diantaranya adalah :
a. Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah terhadap penyakit-penyakit tertentu.
Contohnya : imunisasi hepatitis diberikan kepada mahasiswi kebidanan yang akan praktek di rumah
sakit.
b. Isolasi terhadap penderita penyakit menular. Contohnya : isolasi terhadap pasien penyakit flu burung.
c. Perlindungan terhadap kemungkinan kecelakaan di tempat-tempat umum dan di tempat kerja. Contohnya
: di tempat umum, misalnya adanya rambu-rambu zebra cross agar pejalan kaki yang akan menyebrang
tidak tertabrak oleh kendaraan yang sedang melintas. Sedangkan di tempat kerja : para pekerja yang
memakai alat perlindungan diri.

d. Peningkatan keterampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik. Contohnya : kursuskursus peningkatan keterampilan, seperti kursus menjahit, kursus otomotif.
e. Penanggulangan stress. Contohnya : membiasakan pola hidup yang sehat , dan seringnya melakukan
relaksasi.
b) Pada masa sakit
1.

Mengenal dan Mengetahui Jenis Penyakit pada Tingkat Awal Serta Mengadakan Pengobatan
yang Tepat dan Segera (Early Diagnosis And Prompt Treatment)
Early diagnosis mengandung pengertian diagnosa dini atau tindakan pencegahan pada seseorang atau
kelompok yang memiliki resiko terkena penyakit.Tindakan yang berupaya untuk menghentikan proses
penyakit pada tingkat permulaan sehingga tidak akan menjadi parah. Prinsipnya diterapkan dalam
program pencegahan, pemberantasan dan pembasmian macam penyakit baik menular ataupun tidak dan
memperhatikan tingkat kerawanan penyakit terhadap masyarakat yang tinggi. Misalnya : TBC paru-paru,
kusta, kanker, diabetes, jantung dll. Sedangkan Prompt treatment memiliki pengertian pengobatan yang
dilakukan dengan tepat dan segera untuk menangani berbagai masalah yang terjadi. Prompt treatment
merupakan tindakan lanjutan dari early diagnosis. Pengobatan segera dilakukan sebagai penghalang agar
gejala tidak menimbulkan komplikasi yang lebih parah.
Tujuan utama dari usaha ini adalah :

a.

Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepatnya dari seytiap jenis penyakit sehingga tercapai
penyembuhan yang sempurna dan segera

b. Pencegahan menular kepada orang lain, bila penyakitnya menular


c.

Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan suatu penyakit

Beberapa usaha diantaranya :


a.

Mencari penderita di dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan misalnya pemeriksaan darah, rontgen,
paru-paru dsb, serta memberikan pengobatan

b. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact person) untuk
diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat diberikan segera pengobatan dan tindakan-tindakan yang lain
misalnya isolasi, desinfeksi, dsb.
c.

Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala penyakit pada tingkat awal
dan segera mencari pengobatan. Masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau tidaknya usaha
pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta keahlian tenaga kesehatnnya,

melainkan juga tergantung pada kapan pengobatan itu diberikan. Pengobatan yang terlambat akan
menyebabkan usaha penyembuhan menjadi lebih sulit, bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi
misalnya pengobatan kanker (neoplasma) yang terlambat. Kemungkinan kecacatan terjadi lebih besar
penderitaan si sakit menjadi lebih lama, biaya untuk pengobatan dan perawatan menjadi lebih besar.

2.

Pembatasan Kecacatan dan Berusaha Untuk Menghilangkan Gangguan Kemampuan Bekerja


yang Diakibatkan Suatu Penyakit (Disibility Limitation)
Usaha ini merupakan lanjutan dari usaha pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita
sembuh kembali dan tidak cacat. Bila sudah terjadi kecacatan, maka dicegah agar kecacatan tersebut
tidak bertamabah berat (dibatasi), fungsi dari alat tubuh yang menjadi cacat ini dipertahankan
semaksimal mungkin.peran bidan dalam hal tersebut yaitu memberikan pelayanan kesehatan secara
professional, melakukan pendampingan pada pasien untuk mendapatkan kesehatan secara sempurna,
serta memberikan pendidikan kesehatan untuk masyarakat sejak dini

3. Rehabilitasi (Rehabilitation)
Rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat, sehingga
dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat,
semaksimalnya sesuai dengan kemampuannya.
Rehabilitasi ini terdiri atas :
a. Rehabilitasi fisik
Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimalnya. Misalnya, seorang yang karena
kecelakaan,

patah

kakinya,

perlu

mendapatkan

rehabilitasi

dari

kaki

yang

patah

yaitu

denganmempergunakan kaki buatan yang fungsinya sama dengan kaki yang sesungguhnya.
b. Rehabilitasi mental
Yaitu agar bekas penderita dapat menyusuaikan diri dalam hubungan perorangan dan social secara
memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badania muncul pula kelainan-kelaianan atau
gangguan mental.untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali
kedalam masyarakat
c. Rehabilitasi social vokasional
Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat dengan kapasitas kerja
yang semaksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak mampuannya.
d. Rehabilitasi aesthetis

Usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan untuk mengembalikan rasa keindahan, walaupun kadangkadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya: misalnya penggunaan
mata palsu.

Usaha pengembalian bekas penderita ini kedalam masyarakat, memerlukan bantuan dan pengertian
dari segenap anggota masyarakat untuk dapat mengerti dan memahami keandaan mereka (fisik mental
dan kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses penyesuian dirinya dalam masyarakat
dalam keadan yang sekarang ini.

Sikap yang diharapkan dari warga masyarakat adalah sesuai dengan falsafah pancasila yang
berdasarkan unsur kemanusian dan keadailan social. Mereka yang direhabilitasi ini memerlukan bantuan
dari setiap warga masyarakat, bukan hanya berdasarkan belas kasian semata-mata, melainkan juga
berdasarkan hak asasinya sebagai manusia.
Sedangkan peran bidan dalam rehabilitasi (pemulihan) yaitu:
1. Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan melibatkan masyarakat
2. Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali
3. Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat mampu
mempertahankan diri.
4. Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh dari
suatu penyakit
5. Memberikan konseling pada penderita kecacatan
6. Memberikan keyakinan dalam kesembuhan, menumbuhkan kepercayaan diri untuk bersosialisasi dgn
masyarakat
7. Memberikan pendidikan kesehatan

Pengertian berikut dapat dijadikan referensi ilmiah suatu karya tulis karena pengertian ini sesuai UU
36/2009 tentang Kesehatan.

Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah
kesehatan/penyakit.
Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yang
ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian
penyakit,atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.
Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan
bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang
berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.
Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang
mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Unduh UU 36/2009 tentang Kesehatan

Dokter Gigi
Jakarta, Kesehatan gigi mempunyai peran vital bagi kesehatan secara keseluruhan. Kesehatan gigi dan
mulut akan berdampak pada kesehatan umum secara keseluruhan. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut
termasuk
dalam
pelayanan
kesehatan
dasar.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 sebanyak 89 dari 100 anak dengan usia kurang
dari 12 tahun menderita karies (gigi berlubang). Oleh karena itu pemerintah sedang mengupayakan
peningkatan akses masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Salah satu upaya untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat adalah

dengan program dokter gigi keluarga. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Indonesia No. 1415/MENKES/SK/X/2005 tentang Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga.
Pengertian pelayanan kedokteran gigi keluarga adalah suatu upaya kesehatan perorangan dalam
kesehatan gigi dan mulut secara paripurna yang memusatkan layanannya kepada setiap individu dalam
suatu
keluarga.
Pembahasan mengenai pentingnya penyelenggaraan dokter gigi keluarga tersebut disampaikan oleh
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY dr. Sarminto, M.Kes, melalui wakilnya saat pidato sambutan
dalam acara pelantikan dokter gigi 23 Agustus 2011 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas
Gadjah
Mada
(FKG
UGM).
Penanganan pelayanan kesehatan gigi dan mulut saat ini umumnya masih cenderung pada penyakit gigi,
belum bersifat komprehansif serta holistik. Pemberi pelayanan cenderung pasif, hanya menerima dan
mengobati
penderita
yang
datang
berobat.
Upaya-upaya promotif dan preventif masih kurang diperhatikan. Pendekatan pelayanan kedokteran gigi
keluarga merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan gigi dan mulut, yang dapat mempercepat
peningkatan
derajat
kesehatan
gigi
dan
mulut.
Tujuan dari dokter gigi keluarga, antara lain:
Tercapainya kemandirian keluarga dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut (self care)
Terpenuhinya kebutuhan keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan gigi yang optimal, bermutu,
dan berkesinambungan
3. Tertatanya pembiayaaan dalam pelayanan kedokteran gigi keluarga
4. Tertatanya administrasi dan manajemen pelayanan kedokteran gigi keluarga
5.
Terbinanya
profesionalisme
dokter
gigi
secara
berkesinambungan
1.
2.

Dokter Gigi Keluarga berperan sebagai unsur profesi kedokteran gigi yang menggalang peran serta
masyarakat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. Dokter gigi keluarga harus
mengutamakan upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara promotif dan preventif.
Sedangkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara kuratif dan rehabilitatif hanya disesuaikan dengan
keadaan atau kondisi. Seorang dokter gigi keluarga juga harus mengendalikan mutu dan biaya perawatan
gigi
dan
mulut.

1.
2.
3.
4.
5.

Dokter gigi keluarga harus melakukan beberapa fungsi antara lain:


Sebagai ujung tombak pemberi pelayanan dan asuhan keluarga serta sebagai penapis rujukan upaya
kesehatan gigi mulut
Sumber informasi, edukasi dan advokasi dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
Perlindungan risiko terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut
Meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga sesuai siklus hidup
Penghematan
biaya
kesehatan
Penyelenggaraan pelayanan kedokteran gigi keluarga diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat
untuk mendapat pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Sehingga dapat terjadi peningkatan derajat
kesehatan gigi dan mulut.
Untuk membahas tentang dokter gigi keluarga (DGK) kita harus tentang :
1. Landasan konsep pelayanan kedokteran gigi keluarga. Berdasarkan
1415/Menkes/SK/X/2005 tentang kebijakan pelayanan kedokteran gigi keluarga
2. Konsep dasar pelayanan kedokteran gigi keluarga

SK

Menkes

RI

Nomor

Didapatkan pengertian yaitu suatu upaya pelayanan bidang kesehatan gigi dan mulut secara paripurna yang
memusatkan layanannya kepada setiap individu dalam suatu keluarga binaan. Konsep ini adalah pendekatan baru
dalam upaya meningkatkan pelayanan kesgilut yang menggunakan ilmu dan teknologi kedokteran gigi dasar.
Apa sih DGK itu? yaitu dokter gigi yang memberikan pelayanan kesgilut dan asuhan berorientasi masyarakat
melalui unit keluarga sebagai kontak pertama.
Visinya adalah untuk menciptakan kemandirian keluarga dalam upaya pemeliharaan kesgi dan tercapainya
derajat kesehatan gigi setinggi-tingginya melalui pelayanan kedokteran gigi keluarga secara efisien, efektif, adilmerata, dan bermutu.
Misinya :
1. Mendorong kemandirian keluarga dalam menjaga dan memelihara kesgilut
2. Mengusahakan tersedianya pelayanan DGK yang merata, bermutu, dan terjangkau
3. Memberikan pelayanan, memelihara, meningkatkan kesgi perorangan serta masyarakat (keluarga binaan)
sehingga tercapai kesehatan gigi yang diharapkan
4. Meningkatkan profesionalisme DGK dalam mengemban peran, tugas, dan fungsinya
5. Meningkatkan kemitraan dengan profesi, institusi pendidikan, dan pihak-pihak lain.
Dalam paradigma lama pengobatan kesehatan gigi dan mulut (kesgilut) masih belum holistik, pemberi pelayanan
masih pasif, dan tindakan preventif kurang diperhatikan. Sedangkan dalam paradigma baru lebih mengutamakan
pemeliharaan, peningkatan, dan perlindungan, dan pasien di sini harus lebih banyak berperan. Yang dimaksudkan
dari pernyataan di atas adalah bila seorang pasien datang ke dokter gigi, hendaknya bukan karena terasa sakit.
Datanglah rutin untuk sekedar kontrol sebagai tindakan preventif (pencegahan) sehingga dokter gigi pun bisa
memberikan penanganan dini sebelum keluhan sakit muncul.
Sehingga peran dokter gigi ke depan adalah : healthcare provider, conselor/ advocate, melakukan health
education, adminsitrator/ manager, life-long learner/ researcher.
Pendekatan yang digunakan yang digunakan dalam pelayanan DGK menyeluruh (preventif, kuratif, rehabilitatif)
dengan memperhatikan faktor resiko dan sistem rujukan.
Hakikat DGK :
1. Punya keluarga binaan (KKB+AKB)
2. Mengenal keluarga binaan
3. Keluarga binaan setia (berkesinambungan)
4. Pelayanan yang profesional - ramah tamah, menyenangkan, tidak menakutkan, tidak menyakitkan (perawatan
dini)
5. Seluruh keluarga yang sakit dan sehat tertangani 100%
Prinsip pelayanan DGK yaitu:
1. Sebagai upaya kesehatan perorangan strata pertama, merupakan pelayanan paripurna dalam bidang kesgilut
yang bertujuan untuk meningkatkan kesgilut yang setinggi-tingginya dari pengguna jasa dalam konteks keluarga.
Caranya dicatat dalam kartu rekam medik untuk setiap individu dimasukkan dalam 1 arsip keluarga (family
folder).
2.Pelayanan dilandasi kebutuhan seluruh anggota keluarga - melakukan pemeriksaan kesgilut secara menyeluruh.
3. Rencana terapi dan asuhan komprehensif meliputi tingkat pencegahan secara rinci termasuk rujukannya dan
dikomunikasikan kepada keluarga binaan untuk persetujuan tindakan medik gigi. Penjadwalan tindakan/ terpai
dibuat bersama oleh pemberi dan penerima layanan.
4. Tindakan/ terapi dan asuhan pelayanan bersifat menyeluruh dengan memperhatikan kesgilut sebagai bagian
dari kesehatan secara utuh (holistik) untuk perawatan individu disertai dengan program asuhan kesehatan
komunitas keluarga binaan.
5. Tindakan/ terapi dan asuhan pelayanan dilaksanakan secara profesional dengan mengacu pada bukti-bukti
klinik dan epidemiologik yang ada
6. Tindakan/ terapi harus sesuai dengan prosedur standar baku yang harus selalu diikuti, dan selalu dievaluasi
untuk peningkatan mutu pelayanan.
Peran dan Fungsi DGK
1. Sebagai pemberi pelayanan dengan komitmen tinggi serta menunaikan tugasnya secara profesional dan etis
2. Ujung tombak dalam sistem pelayanan kesehatan nasional dan berhadapan langsung dengan masyarakat yang
membutuhkan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Juga berfungsi sebagai penapis rujukan upaya kesgilut
keluarga ke fasilitas yang lebih mampu

3. Koordinator dalam pemeliharaan kesgilut pasien dan keluarganya, serta bekerja sama secara harmonis dengan
setiap individu dan institusi.
4. Sebagai mitra yang beretika bagi pasiennya dalam mengambil keputusan medis dengan memilih dan
menggunakan teknologi kedokteran gigi secara rasioanl berdasarkan evidence-based dentistry.
5. Penggalang peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesgilut.
Bidang garap DGK
Fokus pelayanannya terletak pada unit keluarga dan komunitasnya. Struktur anggota yang menjadi target adalah
ibu, bapak, anak (janin-balita-remaja-dewasa) dan lansia. Karena berdasarkan fase tumbuh kembang keluarga
lingkup masalah dari kesehatan gigi keluarga dapat diurai sebagaimana berikut :
Dalam fase tumbuh kembang awal (gizi dan permasalahannya), fase anak-anak (Gizi, kebiasaan buruk dan
permasalahannya), remaja (masalah kesegilut terkait hormon, ortognatik, dan estetik), ibu dan ibu hamil
(masalah kesgilut terkait hormon, sistemik, penyakit gilut yang umum, dan gizi), bapak (masalah kesgilut umum
dan terkait sistemik, stress, dan merokok), lansia (masalah geriatri), Komponen perilaku kesehatan (kebutuhan
modifikasi perilaku dan konseling), Komponen mutu dan kompetensi (masalah standar profesi terkait)
Aspek filosfis yang mendasarinya yaitu :
1. Memandang individu baik yang sakit maupun sehat sebagai bagian dari unit keluarga dan komunitasnya
2. Mengutamakan pendekatan promotif-preventif melalui analisa biosikososial berdasarkan kebutuhan
perawatan dan asuhan sesuai dengan perkembangan iptekdokgi
3. Pendekatan terpadu, holistik/ menyeluruh, dan berkesinambungan
4. Manajemen efisien, efektif biaya dan penjagaan mutu.
Dokter gigi keluarga = dokter gigi
1. Mampu memberikan pelayanan kesgi yang berorientasi pada komunitas melalui unsur keluarga sebagai
TARGET UTAMA. Serta melihat individu sakit dan sehat sebagai bagian dari unit keluarga dan komunitasnya.
Dokter gigi harus proaktif mendatangi keluarga sesuai indikasi dan melakukan perawatan dan asuhan pelayanan
kesehatan gigi dasar.
2. Melayani masyarakat melalui unit keluarga yang berfungsi sebagai kontak pertama, menganalisa kebutuhan,
rencana perawatan, asuhan, serta melaksanakan pelayanan kedokteran gigi tingkat individu dan keluarganya
sesuai dengan lingkup kewenangannya - HARUS melakukan rujukan untuk menjaga keseimbangan pemeliharaan
kesehatan keluarga dengan mengutamakan pendektan promotif dan preventif, penerapan iptekdokgi yang
sesuai, benar, terpadu, holistik dan berkesinambungan, dengan memperhatikan pelayanan kesehatan gigi yang
terkendali mutu dan biayanya.

Contoh Promotif adalah penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.


Contoh Preventif adalah pengolesan flour pada gigi.
Contoh Kuratif adalah penambalan gigi
Contoh Rehabilitatif adalah pembuatan atau pemasangan gigi palsu. Selain pelayanan bidang kedokteran diatas,
ada lagi pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh masyarakat umum, pelayanan kesehatan ini disebut dengan
pelayanan kesehatan tradisional.