Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Obesitas telah menjadi masalah kesehatan dan gizi masyarakat dunia, baik di
negara maju maupun di negara berkembang. Review atas epidemiologi obesitas
yang dilakukan Low, Chin dan Deurenberg-Yap melaporkan bahwa prevalensi
kelebihan berat (overweight) di negara maju berkisar dari 23,2 persen di Jepang
hingga 66,3 persen di Amerika Serikat, sedangkan di negara berkembang berkisar
dari 13,4 persen di Indonesia hingga 72,5 persen di Saudi Arabia. Adapun
prevalensi obesitas di negara maju berkisar dari 2,4 persen di Korea Selatan
sampai 32,2 persen di Amerika Serikat, sedangkan di negara berkembang berkisar
dari 4,2 persen di Indonesia sampai 35,6 persen di Saudi Arabia.(1)
World Health Organization (WHO) memperkirakan, di dunia ada sekitar 1,6
milyar orang dewasa berumur 15 tahun kelebihan berat dan setidak-tidaknya
sebanyak 400 juta orang dewasa obesitas pada tahun 2005.(2) Di Indonesia,
diperkiraan 237 juta penduduk pada tahun 2010.(3) Menurut Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa 8,8 persen orang dewasa berumur
15 tahun kelebihan berat dan 10,3 persen obesitas.(4)
Obesitas secara umum adalah kelebihan lemak tubuh yang dialami seseorang
secara kronis. Pada kondisi normal, lemak tubuh berfungsi sebagai cadangan
energi, pengatur suhu tubuh, pelindung dari trauma dan fungsi fungsi lainnya.
Secara ideal, komposisi lemak pada perempuan adalah 25-30% dan pada laki-laki
18-23 %. Apabila lemak tubuh melebihi komposisi normal, maka orang tersebut
dapat dikategorikan overweight hingga obesitas.(5)
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya obesitas pada seseorang yaitu
keturunan, asupan gizi berlebih, konsumsi makanan berlemak, konsumsi makanan
mengandung karbohidrat berlebihan, kurang konsumsi sayur dan buah, kurang
aktifitas fisik, obat-obatan.(6)
Kolesterol merupakan suatu lemak atau lipid golongan sterol yang diproduksi
oleh tubuh. Dalam kadar tertentu kolesterol diperlukan oleh tubuh untuk
pembentukan komponen-komponen penting dalam tubuh. Kadar kolesterol

normal dalam darah berkisar 160-200 mg/dL,namun apabila kadar kolesterol


dalam darah berlebihan, akan mengakibatkan penyakit jantung koroner dan
stroke. Kolesterol secara alami bisa dibentuk oleh tubuh sendiri, selebihnya
didapat dari makanan hewani, seperti daging, unggas, ikan, margarin, keju, dan
susu.(7)
Untuk dapat mengetahui hubungan antara gizi lebih dan obesitas terhadap
kadar kolesterol total, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk
tindakan promotif maupun preventif agar dapat mengurangi resiko penyakit yang
dapat disebabkan dari kadar kolesterol total yang meningkat.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian adalah :
Apakah ada hubungan antara gizi lebih dan obesitas terhadap kadar kolesterol
total ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum
Menurunkan angka obesitas dan hiperkolesterolemia .
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mengetahui hubungan antara gizi lebih dan obesitas terhadap kadar
kolesterol total.
b. Mengetahui faktor resiko obesitas .
c. Mengetahui faktor resiko peningkatan kadar kolesterol total.

1.4 Hipotesis
a. Terdapat hubungan antara kadar kolesterol total dan obesitas.
b. Kadar kolesterol total meningkat pada gizi berlebih atau obesitas.
c. Kadar kolesterol total normal pada gizi ideal.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Manfaat untuk ilmu pengetahuan
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
hubungan gizi lebih dan obesitas terhadap kadar kolesterol total.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
masukan penelitian berikutnya.
1.5.2

Manfaat untuk profesi


a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
mahasiswa FK dan juga dokter .

1.5.3

Manfaat untuk masyarakat


a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai
pertimbangan dalam upaya deteksi dini kadar kolesterol total
terhadap obesitas .

BAB II
TINJAUAN DAN RINGKASAN PUSTAKA
2.1 Status gizi
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat
dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam
tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi
normal, dan gizi lebih.(8)
Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat
keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang
dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Energi yang masuk
ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya.
Status gizi normal merupakan keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang.
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi
baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi
yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,
perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum.

2.2 Gizi lebih dan obesitas


Status gizi lebih merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami
kelebihan berat badan, yang terjadi karena kelebihan jumlah asupan energi yang
disimpan dalam bentuk cadangan berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa
masalah gizi lebih identik dengan obesitas. Obesitas dapat menimbulkan dampak
yang sangat berbahaya yaitu munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes
mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih banyak
lagi.(9)
Obesitas merupakan kondisi ketidaknormalan atau kelebihan akumulasi lemak
dalam jaringan adiposa. Obesitas terjadi ketika seseorang mengkonsumsi jumlah
kalori lebih banyak dari pada yang ia keluarkan. Berdasarkan Indeks Massa
Tubuh (IMT), obesitas dibagi menjadi tiga kategori, yakni pre obesitas, obesitas
grade I dan obesitas grade II. Adapun berdasarkan distribusi lemak, obesitas
dibagi menjadi dua kategori, yakni: obesitas sentral dan obesitas umum. Untuk

penduduk Barat, seseorang dikatakan obesitas apabila IMT-nya 30 kg/m2 atau


lingkar perut 102 cm pada laki-laki dan 88 cm pada perempuan, sedangkan
untuk penduduk Asia, IMT-nya >25 kg/m2 atau lingkar perut 90 cm pada lakilaki dan 80 cm pada perempuan.(2)
Tabel 2.1. Kategori status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut WHO
Asia-Pasific(10)
IMT
Status Gizi
< 18,5
Gizi kurang (underweight)
18,5 - 22,9
Normal
23,0 24,9
Gizi lebih (overweight)
25,0 29,9
Obesitas Kelas I
> 30,0
Obesitas Kelas II
2.2.1 Penyebab Obesitas(11-12)
Dasar dari obesitas merupakan gangguan keseimbangan antara asupan gizi
dengan kebutuhan energi. Asupan gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam
tubuh yang merupakan sistem kompleks. Karbohidrat merupakan sumber energi
utama, dalam keadaan normal karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi
sistem syaraf termasuk otak. Pembakaran lemak menurun jika tersedia cukup
glukosa bagi sumber energi sel tubuh. Kelebihan Karbohidrat akan dipergunakan
untuk

de novo lipogenesis.

Sebaliknya kekurangan Karbohidrat akan

menghambat lipolysis.

2.2.2 Faktor resiko obesitas


a. Aktivitas fisik
Didefinisikan sebagai pergerakan tubuh khususnya otot yang membutuhkan
energi dan olahraga merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik. Rekomendasi
dari Physical Activity and Health menyatakan bahwa aktivitas fisik sedang
sebaiknya dilakukan sekitar 30 menit atau lebih dalam seminggu. Aktivitas fisik
sedang antara lain berjalan, jogging, berenang, dan bersepeda.(12) Aktivitas fisik
yang dilakukan setiap hari bermanfaat bukan hanya untuk mendapatkan kondisi
tubuh yang sehat tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan mental,hiburan dalam
mencegah stres.

b. Kebiasaan Konsumsi Sayur dan Buah


Sayur dan buah merupakan sumber serat yang penting dalam masa
pertumbuhan, khususnya berhubungan dengan obesitas. Pada overweight dan
obesitas membutuhkan makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.(13)
Berdasarkan PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang), konsumsi sayur dan buah
minimal 3 porsi/hari. Pola konsumsi sayur dan buah pada penduduk Indonesia
memang masih rendah daripada jumlah yang dianjurkan.(14) Hasil penelitian ini
juga menunjukkan bahwa sekitar 90% anak mengkonsumsi sayur dan buah
dengan ukuran <3 porsi/hari. Selain itu ternyata anak perempuan lebih sering
mengkonsumsi sayur dan buah dibandingkan dengan anak laki-laki. Konsumsi
serat secara linier akan mengurangi asupan lemak dan garam yang selanjutnya
akan menurunkan tekanan darah dan mencegah peningkatan berat badan.
2.2.3 Metode dan pengukuran obesitas
a. Indeks massa tubuh(15)
Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara
berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi
indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang. IMT tidak
mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa
IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti
underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry. IMT merupakan
altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah serta metode
skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan.
Indeks Massa Tubuh diukur dengan cara membagi berat badan dalam satuan
kilogram dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat .

Berat badan (kg)


IMT =
Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)

Untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun keatas, IMT diinterpretasi


menggunakan kategori status berat badan standard yang sama untuk semua umur
bagi pria dan wanita. Untuk anak-anak dan remaja, intrepretasi IMT adalah
spesifik mengikut usia dan jenis kelamin .
Indeks massa tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator yang dapat
dipercayai untuk mengukur lemak tubuh. Walau bagaimana pun, terdapat
beberapa kekurangan dan kelebihan dalam menggunakan IMT sebagai indikator
pengukuran lemak tubuh.
Kekurangan indeks massa tubuh adalah,
1. Pada olahragawan terutama atlet bina tidak akurat akan cenderung berada pada
kategori obesitas dalam IMT disebabkan mereka mempunyai massa otot yang
berlebihan walaupun presentase lemak tubuh mereka dalam kadar yang rendah.
Sedangkan dalam pengukuran berdasarkan berat badan dan tinggi badan, kenaikan
nilai IMT adalah disebabkan oleh lemak tubuh.
2. Pada anak-anak tidak akurat karena jumlah lemak tubuh akan berubah seiringan
dengan pertumbuhan dan perkembangan tubuh badan seseorang. Jumlah lemak
tubuh pada lelaki dan perempuan juga berbeda selama pertumbuhan. Oleh karena
itu, pada anak-anak dianjurkan untuk mengukur berat badan berdasarkan nilai
persentil yang dibedakan atas jenis kelamin dan usia.
Sedangkan kelebihan indeks massa tubuh adalah,
1. Biaya yang diperlukan tidak mahal
2. Untuk mendapat nilai pengukuran, hanya diperlukan data berat badan dan
tinggi badan seseorang.
3. Mudah dikerjakan dan hasil bacaan adalah sesuai nilai standar yang telah
dinyatakan pada tabel IMT.

2.3 Kadar kolesterol total


2.3.1 Definisi kolesterol
Kolesterol adalah lemak bewarna kekuningan dan berupa seperti lilin yang
disintesis oleh tubuh manusia terutama di dalam hati. Kolesterol termasuk zat gizi
yang sukar diserap tubuh seperti halnya lemak, kolesterol masuk ke dalam organ

tubuh melalui sistem limpatik. Dalam plasma darah kolesterol terutama dijumpai
berkaitan dengan asam lemak dan ikut bersirkulasi dari bentuk ester kolesterol.(16)
Kolesterol ada dua sumbernya, pertama kolesterol yang ada dalam makanan,
kedua hati dan usus yang mensintesis kolesterol dari senyawa-senyawa yang
konfigurasi molekulnya berbeda dari kolesterol. Kolesterol penting dalam struktur
dinding sel dan dalam bahan yang membuat kulit kedap air. Banyak kolesterol
terdapat pada asam-asam empedu, steroid-steroid dan cortex gl. suprarenalis,
estrogen dan androgen.
2.3.2 Fungsi kolesterol
Kolesterol dalam tubuh mempunyai fungsi yang penting, diantaranya adalah
sebagai pelindung otak, 11 % dari berat otak adalah kolesterol. Bersama zat gizi
lainnya kolesterol dan sinar matahari membentuk vitamin D. Merupakan zat
esensial untuk membran sel, bahan pokok untuk pembuatan garam empedu yang
diperlukan untuk pencernaan makanan, bahan baku pembentukan hormon steroid,
misalnya progesterone dan estrogen pada wanita, testosteron pada laki-laki. Untuk
mencegah penguapan air pada kulit dan membawa lemak keseluruh tubuh melalui
peredaran darah.(17)
2.3.3 Pembentukan kolesterol
Kolesterol dibentuk melalui asetat yang diproduksi dari nutrien dan energi
beserta hasil metabolisme lainnya. Disamping kolesterol, asam lemak akan
menjadi lemak tubuh dalam proses metabolisme energi. Pembentukan kolesterol
melalui asetat merupakan proses yang kompleks, diantaranya yang memegang
peranan penting adalah enzim reduktase HMG-CoA.
Agar dapat diangkut dalam aliran darah, kolesterol bersama dengan lemaklemak lain (trigliserida dan fosfolipid) harus berikatan dengan protein untuk
membentuk senyawa yang larut dan disebut dengan lipoprotein.(18)
Kilomikron merupakan lipoprotein yang mengangkut lemak menuju ke hati.
Dalam hati, ikatan lemak tersebut akan diuraikan sehingga terbentuk kembali
keempat unsur lemak tersebut, sedangkan asam lemak yang terbentuk akan
dipakai sebagai sumber energi atau bila jumlahnya berlebih akan disimpan dalam
jaringan lemak. Bila asupan kolesterol tidak mencukupi, sel hati akan

memproduksinya. Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama


LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan
termasuk ke sel otot jantung, otak, dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana
mestinya. Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang
disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa ke hati yang selanjutnya
akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam empedu.(19)
LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga LDL akan
mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B
(apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang tidak baik karena apabila
jumlah LDL tersebut melebihi batas aman yang dapat ditoleransi oleh tubuh, ada
kemungkinan kolesterol tertinggal di dinding pembuluh darah membentuk plak
yang lama kelamaan dapat menyumbat pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh
darah ini disebut arteriosklerosis. Apabila penyumbatan tersebut terjadi di
pembuluh darah yang menuju ke jantung, maka akan memicu terjadinya penyakit
jantung, sedangkan bila penyumbatan terjadi di pembuluh darah yang menuju ke
otak, akan memicu terjadinya stroke. Sebaliknya HDL disebut sebagai lemak yang
baik karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding
pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang
membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein). HDL ini mempunyai
kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi atau lebih berat.
Berdasarkan uraian di atas, maka LDL dan HDL dapat diklasifikasikan sesuai
dengan tabel di bawah ini:
Tabel 2.2. Klasifikasi LDL,HDL,dan kolesterol total(20)
LDL
Kurang dari 100
100-129
130-159
160-189
Lebih dari 190

Optimal
Mendekati optimal
Batas normal tertinggi
Tinggi
Sangat Tinggi
HDL

Kurang dari 40
Lebih dari 60

Rendah
Tinggi

Kolesterol Total
Kurang dari 200
200-239
Lebih dari 240

Yang diperlukan
Batas normal tertinggi
Tinggi

2.3.4 Bahaya kolesterol


Kadar kolesterol darah bisa dipengaruhi oleh apa yang kita makan. Jika
kolesterol yang ada lebih banyak dibanding mekanisme alami tubuh untuk
menghadapinya, kolesterol bisa menempel di dinding dalam pembuluh darah,
membuatnya menjadi lebih sempit. Karena digunakan oleh hati untuk
menghasilkan kolesterol, konsumsi lemak jenuh dalam jumlah berlebihan bisa
meningkatkan kadar kolesterol darah secara signifikan.(21) Daging merah
berlemak dan produk susu merupakan sumber utama kolesterol dan lemak jenuh
dari makanan. Selain itu, lemak jenuh yang telah digunakan atau telah digoreng,
diasap, diawetkan, atau disimpan, juga tepung telur dan moldly cheese,
mengandung jumlah oksi-kolesterol yang tinggi dan meningkatkan kadar
kolesterol darah.
Kolesterol dalam jumlah seimbang sangat penting bagi tubuh. Terlalu sedikit
kolesterol tidaklah sehat, sama dengan terlalu banyak. Kadar kolesterol di bawah
135 bisa merupakan tanda adanya stres kalenjer adrenal, kerusakan hati yang berat
(akibat bahan kimia, obat, atau hepatitis), serta gangguan autoimun atau seperti
alergi, lupus, dan artritis rematoid. Kolesterol rendah juga sangat berpengaruh
pada kondisi psikologis dan salah satu efek yang cukup berbahaya adalah
rusaknya fungsi sistem syaraf yang mencakup rusaknya konduktor pada sistem
syaraf, sistem pertahanan tubuh yang lemah dan kerja otak yang tidak maksimal.
Vitamin juga tidak akan bisa terserap di tubuh dengan maksimal. Berdasarkan
studi, kolesterol yang terlalu rendah dapat berakibat pada Parkinson dan bahkan
kanker.(22)
Riset selama dekade menjunjukkan bahwa kolesterol hanya bersembunyi
dalam sel-sel yang melapisi arteri, tidak selalu berubah menjadi plak yang
menyumbat arteri. Kini diduga proses oksidasi yang membuat komponen LDL
dari kolesterol menjadi begitu berbahaya. Oksidasi terjadi bila sistem antioksidan

10

dalam tubuh tidak dapat menetralkan molekul-molekul tak stabil yang berubah
secara negatif dan bernama radikal bebas. Radikal bebas terjadi secara alamiah
dalam tubuh atau bisa diawali oleh paparan terhadap polutan lingkungan seperti
asap rokok, bahan kimia, obat bebas dan obat resep dokter, logam berat, dan stres.
Tanpa perlindungan antioksidan yang cukup, kolesterol HDL bergabung
dengan oksigen dan membentuk oksi-kolesterol. Substansi ini bekerja di dalam
dinding arteri radikal bebas yang sangat reaktif, di mana substansi ini mengiritasi
dinding arteri, yang memulai proses peradangan, dan akhirnya turut menyebabkan
pembentukan plak. Jika tidak diatasi, plak ini akhirnya akan sama sekali menutup
arteri yang terkena atau pecah dan hancur, menyebabkan angina, dan mungkin
serangan jantung stroke.

11

2.4 Ringkasan pustaka


Tabel 2.3. Ringkasan pustaka dari peneliti terdahulu(23) ;
No

Peneliti

Lokasi
penelitian

1.

Andri S, Kelurahan
Anggrai KORPRI
ni H.
Sambiroto
Semarang

Studi
Desain
Deskriptif
dengan
desain
cross
sectional

Subjek
Studi

Variabel
yang
diteliti
Penderita Variabel
obesitas di bebas:
RW 8
Obesitas
Kelurahan
sambiroto Variabel
Semarang tergantung
yang
:Kadar
diambil
kolesterol
secara
total
total
populasi

Waktu
(Lama)

Hasil

2010

Dari hasil yang


diperoleh
berdasarkan
Indeks
Massa
Tubuh
(IMT)
bahwa
penderita
obesitas
tidak
selalu
kadar
kolesterolnya
tinggi

12

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka konsep


Kurang aktifitas fisik

Kurang konsumsi buah dan sayur

Gizi lebih dan obesitas

Kadar kolesterol
Tinggi

Gambar 3.1. Kerangka konsep

3.2 Variabel penelitian


3.2.1 Variabel tergantung
Kadar kolesterol total pada mahasiswa angkatan 2010-2011 fakultas
kedokteran universitas Trisakti
3.2.2 Variabel Bebas
1. Status gizi lebih dan obesitas pada mahasiswa angkatan 2010-2011
fakultas kedokteran universitas Trisakti
2. Aktifitas fisik
3. Konsumsi buah dan sayur

13

3.3 Definisi operasional


Tabel 3.1. Definisi operasional
Variabel
1 Umur

Definisi Operasional
Hidup responden yang
dihitung sejak lahir hingga
saat ini

Alat ukur
Wawancara

Cara ukur
Responden akan
ditanyakan umurnya

Hasil ukur
Dalam Tahun

Skala
Rasio

2 Berat badan

ukuran tubuh dalam sisi


beratnya

Timbangan
digital
(Camry)

Dalam kg , dengan
ketelitian 0,1 kg

Rasio

3 Tinggi badan

ukuran tinggi tubuh yang


diukur dari ujung kaki hingga
ujung kepala

Meteran

Dalam meter , dengan


ketelitian 0,01 m

Rasio

4 Kadar kolesterol
total

jumlah kolesterol yang


terdapat di dalam semua
partikel lipoprotein tubuh
(HDL dan LDL)
nilai yang diambil dari
perhitungan berat badan
dalam kilogram dibagi dengan
kuadrat tinggi badan dalam
meter (kg/m2)

Tes
kolesterol
(Nesco)

Responden akan
ditimbang dalam
keadaan berpakaian
minimal tanpa
perlengkapan
Responden berdiri
tegak tanpa
menggunakan alas
kaki , lalu diukur .
Serum sampel
diambil lalu dicek
dengan alat ukur

Dalam mg/dl

Rasio

Peneliti menghitung
hasil dari
pengukuran berat
dan tinggi badan
dengan cara
membagi berat

1. 23,0 24,9 =
Overweight
2. 24,9 29,9 =
Obesitas Kelas I
3. >30 = Obesitas
kelas II

Ordinal

5 Gizi lebih dan


obesitas
berdasarkan Indeks
massa tubuh (IMT)

Kalkulator

14

badan dengan tinggi


badan kuadrat
6 Aktifitas fisik

Pergerakan tubuh khususnya


otot yang membutuhkan
energi
7 Konsumsi buah dan Konsumsi buah dan sayur
sayur
perhari minimal 3xsehari

Wawancara

Wawancara

Responden akan
ditanyakan tentang
aktifitas fisik
Responden akan
ditanyakan tentang
konsumsi buah dan
sayur

Dalam menit/ minggu

Rasio

Dalam kali/hari

Rasio

15

BAB IV
METODE

4.1 Desain penelitian


Penelitian ini menggunakan studi observasi metode analitik dengan pendekatan
secara Cross-sectional.

4.2 Lokasi dan waktu penelitian


Penelitian berlokasi di kampus B universitas Trisakti, Grogol Jakarta Barat mulai
dari bulan September 2013 hingga Januari 2014

4.3 Populasi dan sampel penelitian


4.3.1 Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah mahasiswa fakultas
kedokteran universitas Trisakti angkatan 2010-2011 .
4.3.2 Sampel penelitian
Kriteria inklusi dalam penelitian adalah :
1. Mahasiswa angkatan 2010-2011 yang memiliki nilai status gizi ideal.
2. Mahasiswa angkatan 2010-2011 yang overweight
3. Mahasiswa angkatan 2010-2011 yang obesitas
Kriteria ekslusi dalam penelitian adalah :
1. Mahasiswa angkatan 2010-2011 yang memiliki nilai status gizi
kurang.

Pemilihan sampel dilakukan dengan metode Non-Probabilty sampling , yaitu


consecutive sampling, dimana semua subyek yang datang secara berurutan dan
memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai subek yang
diperlukan terpenuhi.(24)

16

Besar sampel
Jumlah mahasiswa angkatan 2010-2011 yaitu 171 orang. Sampel penelitian ini
adalah mahasiswa yang memiliki IMT >23 dan IMT 18,5-22,9 . Jumlah sampel
ditentukan berdasarkan rumus simple random sampling sehingga didapatkan hasil
sebagai berikut :

no=

=
n=

= 236,48
=

= 99,36 dibulatkan menjadi 99

Keterangan:
Z

= tingkat kemaknaan [ditetapkan = 1,96]

no = besar sampel optimal yang dibutuhkan


n = besar sampel
N = besar populasi mahasiswa angkatan 2010-2011
d = tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan (0,05)
p = prevalensi overweight dan obesitas
q = prevalensi yang tidak mengalami overweight dan obesitas

Dari rumus di atas, maka sampel dalam penelitian ini berjumlah 99 orang.
Untuk kemungkinan Drop Out maka ditambah 10% menjadi 99 + 10 = 109 orang.
Peneliti menetapkan 50 orang untuk sampel yang overweight dan obesitas dan 59
orang untuk kontrol yaitu sampel yang berat badan normal atau ideal.

4.4 Bahan dan instrumen penelitian


4.4.1 Bahan
a. Sampel serum
4.4.2 Instrumen
a. Meteran
17

b. Timbangan badan digital merk camry


c. Alat cek kolesterol total portable dengan merk nesco
d. Kapas alkohol
e. Kalkulator

4.5 Analisis data


Analisi data akan menggunakan metode Chi Square untuk mengetahui ada
tidaknya hubungan antara variable bebas dengan variable tergantung. Teknik
pengolahan data dalam penelitian ini dibantu penghitungan komputasi program
SPSS ( Statistical Product and Service Solution ) karena program ini memiliki
kemampuan analisis statistik cukup tinggi dan kotak-kotak dialog sederhana,
sehingga mudah dipahami cara pengoperasiannya.

4.6 Alur kerja penelitian


Mahasiswa angkatan
2010-2011 FK USAKTI

Informed Consent

Wawancara

Pengukuran IMT

Pengukuran kolesterol total

Pengumpulan data

Analisis Data
Gambar 4.1. Alur kerja penelitian

18

4.7 Etika Penelitian


Dalam penelitian ini data subjek penelitian akan dijamin kerahasiaannya dan
subjek penelitian sudah diminta persetujuan setelah penjelasan (informed consent)
untuk ikut serta dalam penelitian secara sukarela.

4.8 Penjadwalan penelitian


Tabel 4.1. Penjadwalan penelitian
Waktu
Kegiatan

Agustus

September Oktober

November

Desember

Januari

Persiapan dan
pengumpulan
data
Penyusunan
BAB I-VI
Persiapan
ujian skripsi
Penyusunan
manuskrip
publikasi ejurnal

4.9 Pembiayaan
Biaya penelitian ditanggung oleh peneliti dengan rincian sebagai berikut :
1. 1 buah alat cek kolesterol total merk nesco :

Rp.350.000

2. 109 Strip kolesterol total merk nesco

: 109xRp.11.000=Rp.1.199.000

3. Meteran

Rp. 15.000

4. Timbangan digital merk camry

Rp. 125.000

5. Percetakan

Rp. 100.000

Rp. 1.789.000

Total

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Low S, Chin MC, Deurenberg-Yap M. Review on epidemic of obesity.


Ann Acad Med Singapore. 2009; 38: 57-65.
2. WHO.Obesity Preventing and Managing the Global Epidemic. Report of a
WHO consultation. Geneva, Switzerland: WHO, 2000.
3. Badan Pusat Statistik: Sensus Penduduk 2010.Indonesia:BPS,2013.
4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Riset
Kesehatan Dasar 2007. Jakarta: Balitbangkes Depkes RI, 2008
5. Retnaningsih,E. Jurnal Pembangunan Manusia Vol 10 No.1 Tahun 2010
6. Mahlan, L.K., Escott-Stump,S. Food, Nutrition, and Diet Therapy 11th,
Edition. Elseviers health Science, USA. 2004
7. Uneputty, J. P., Paulina V. Y,Stien K.N, Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT
Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
8. Supariasa. (2001). Gizi dalam Masyarakat. Jakarta: PT. Elex Media.
9. Soerjodibroto W. Lemak dalam Pola Makanan Masyarakat Indonesia Dan
Masyarakat Kawasan Asia Pasifik Lainnya : Hubungannya dengan
Kesehatan Kardiovaskuler. [Ph.D thesis] Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2005
10. International Obesity Task Force/World Health Organization. The AsianPacific perspective: redefining obesity and its treatment. Sydney,
Australia: Health Communications Australia.
11. Nurullah A. Bom Waktu Obesitas. Available at:
http://www.jurnas.com/halaman/6/2012-07-16/215504.Accesed July 19,
2013.
12. Mustelin L, Silventoinen K, Pietilainen K, Rissanen A, Kaprio J. Physical
Activity Reduces the Influence of Genetic Effects on BMI and Waist
Circumference: a Study in Young Adult Twins. Int. J. Obes. 2009; 33: 2936
13. Field AE, Gilman MW, Rosner B, Rockett HR, Colditz GA. Association
between Fruit and Vegetable Intake and Change in Body Mass Index
among a Large Sample of Children and Adolescents in the United States.
Int. J. Relat. Metab. Disord. 2003; 27(1):821-826.
14. Soegondo, Sidartawan. Berbagai Penyakit dan Dampaknya terhadap
Kesehatan dan Ekonomi. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG)
IX. Jakarta, 2008.
15. Somdat M, David B, Laura L, Mark R, William C, Beverly C and Philip
R. Body Mass Index, percent body fat, and regional body fat distribution
in relation to leptin concentrations in healthy, non-smoking

20

postmenopausal women in a feeding study. Available at :


http://www.nutritionj.com/content/6/1/3 Accessed July 19,2013.
16. Singh IM, Shishehbor MH, Ansell BJ: High-density lipoprotein as a
therapeutic target: a systematic review. Jama 2007, 298(7):786-798.
17. Amit V., Marina C., Amrith Rodrigues, Kashif J., Benjamin C.
Cholesterol Efflux Capacity, High-Density Lipoprotein Function, and
Atherosclerosis. N Engl J Med 2011; 364:127-135
18. Sasahara T, Nestel P, Fidge N, Sviridov D: Cholesterol transport between
cells and high density lipoprotein subfractions from obese and lean
subjects. J Lipid Res 1998, 39(3):544-554.
19. Attie AD, Kastelein JP, Hayden MR: Pivotal role of ABCA1 in reverse
cholesterol transport influencing HDL levels and susceptibility to
atherosclerosis. J Lipid Res 2001, 42(11):1717-1726
20. Yayasan Jantung Indonesia.Klasifikasi LDL,HDL,dan kolesterol total.
2003
21. Horton JD. Cohen JC, Hobbs HH. Molecular biology of PCSK9: its role in
LDL metabolism. Trends Biochem Sci 2007; 32:71-77.
22. Yang X, So WY, Ko GT, Ma RC, Kong AP, Chow CC, Tong PC, Chan
JC. Independent associations between low-density lipoprotein cholesterol
and cancer among patients with type 2 diabetes mellitus. CMAJ
2008;179:427-437
23. Sukeksi A, Anggraini H. Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita Obesitas
di kelurahan KORPRI Sambiroto Semarang. Fakultas Ilmu Keperawatan
dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang.2010
24. Sastroasmoro S.,Ismael S.2011. Dasar-dasar metodologi penelitian
klinis.Jakarta:Sagung Seto

21