Anda di halaman 1dari 5

1.

Teori Keagenan
Teori keagenan mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan mereka
sendiri dan agen (manajer perusahaan) diasumsikan menerima kepuasan bukan saja dari
kompensasi keuangan tetapi juga dari syarat-syarat yang terlibat dalam hubungan keagenan.
Menurut Brigham dan Houston (2006), hubungan keagenan dapat timbul di antara :
a) Pemegang saham dengan manajer.
b)Pemegang saham (melalui manajer) dengan kreditur.
Pemicu konflik kepentingan dan masalah keagenan yang timbul
Harus dapat dihindari agar permasalahan yang mengganggu kemajuan perusahaan di masa
mendatang. atau disebabkan oleh perbedaan keputusan investasi antara investor dengan manajer
(Bathala, et. al., 1994). Investor memilih resiko tinggi untuk mendapatkan return tinggi
sedangkan manajer memilih resiko rendah untuk mempertahankan posisi atau sebaliknya di
dalam perusahaan (Crutchley dan Hansen, 1989). Masalah keagenan menurut Demsey dan Laber
(1993) banyak dipengaruhi oleh insider ownership. Insider ownership adalah pemilik perusahaan
sekaligus menjadi pengelola perusahaan.

2. Peran tata kelola dan tata kelola bisnis untuk mengatasi konflik kepentingan
Konflik kepentingan terjadi ketika penilaian independen atau pengambil keputusan seseorang
goyah atau ada kemungkinan goyah karena adnya kepentingan lain yang bergantung pada
penilaian tersebut. Sumber utama konflik kepentingan adalah hubungan keluarga dan kepentingan
ekonomi. Untuk mengatasi masalah konflik kepentingan, ada tiga pendekatan umum yang harus
dipertimbangkan, yaitu:
(1) menghindari,
(2) memperlihatkan kepada mereka stakeholder bergantung pada keputusan, dan
(3) Pengelolaan konflik kepentingan agar manfaat penghakiman yang dibuat lebih penting
dari biaya.
Prinsip-prinsip tatakelola perusahaan yang baik ini antara lain :
(a). Akuntabilitas (accountability) Prinsip ini memuat kewenangan-kewenangan yang harus
dimiliki oleh dewan komisaris dan direksi beserta kewajiban-kewajibannya kepada pemegang
saham dan stakeholders lainnya.

(b) Pertanggungan-jawab ( responsibility). Prinsip ini menuntut perusahaan maupun pimpinan


dan manajer perusahaan melakukan kegiatannya secara bertanggung jawab.
(c) Keterbukaan (transparancy). Dalam prinsip ini, informasi harus diungkapkan secara tepat
waktu dan akurat. Informasi yang diungkapkan antara lain keadaan keuangan, kinerja keuangan,
kepemilikan dan pengelolaan perusahaan.
(c) Kewajaran (fairness). Seluruh pemangku kepentingan harus memiliki kesempatan untuk
mendapatkan perlakuan yang adil dari perusahaan.
(d) Kemandirian (independency). Prinsip ini menuntut para pengelola perusahaan agar dapat
bertindak secara mandiri sesuai peran dan fungsi yang dimilikinya tanpa ada tekanan-tekanan dari
pihak manapun yang tidak sesuai dengan sistem operasional perusahaan yang berlaku.
Secara internal, struktur maupun prosedur pelaksanaannya diatur dalam Keputusan
Direksi No.29 Tahun 2007 yang memuat kerangka kerja operasional terpadu untuk memastikan
agar setiap transaksi yang dilakukan baik internal maupun eksternal telah dilakukan sesuai
dengan etika maupun praktik tata kelola perusahaan yang baik dan benar.
Struktur tata kelola Perusahaan terdiri atas:
Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris, Direksi, Komite-Komite di Bawah
Dewan Komisaris, Komite-Komite di Bawah Direksi, Sekretaris Perusahaan/Investor
Relations

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) , Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) baik RUPS Tahunan (RUPST) maupun RUPS
Luar Biasa (RUPSLB) bertindak sebagai lembaga yang memiliki wewenang tertinggi
dalam organisasi tata kelola perusahaan sekaligus merupakan forum utama bagi para
pemegang saham untuk menggunakan hak dan wewenangnya terhadap manajemen
perusahaan.
Dewan Komisaris, bertanggung jawab secara kolektif kepada pemegang saham dan memiliki
kewajiban untuk melakukan pengawasan serta memberikan nasehat kepada Direksi.
Dewan Komisaris Telkom memiliki wewenang dan tanggung jawab sebagai berikut:
1. Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan Perusahaan yang dijalankan oleh Direksi,
termasuk perencanaan dan pengembangan, operasi dan anggaran, sesuai dengan
kepatuhan terhadap Anggaran Dasar Perusahaan dan pelaksanaan mandat dan keputusan
RUPST dan RUPSLB. Dewan Komisaris tidak berwenang untuk menjalankan maupun
mengelola Perusahaan, kecuali dalam situasi apabila seluruh anggota Direksi
diberhentikan sementara karena suatu sebab;
2. Memberikan saran dan pendapat RUPST mengenai pelaporan keuangan tahunan, rencana
pengembangan Perusahaan, penunjukan kantor akuntan publik sebagai auditor dan halhal penting serta strategis lainnya terkait dengan aksi korporasi Perusahaan;
3. Melakukan evaluasi atas rencana kerja dan anggaran Perusahaan, mengikuti
perkembangan Perusahaan, dan melakukan koordinasi dengan pihak Direksi jika ada
gejala yang menunjukkan Perusahaan sedang dalam masalah sehingga Direksi dapat
segera mengumumkannya kepada para pemegang saham dan memberikan rekomendasi
untuk langkah-langkah perbaikan yang harus ditempuh; dan
4. Memastikan program pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan telah diterapkan dan
terpelihara dengan baik sesuai peraturan yang berlaku.

Direksi juga berhak untuk mengambil tindakan untuk dan atas nama Perusahaan baik
di dalam maupun di luar pengadilan atas hal atau kejadian apapun, dengan pihak lain.
Direksi : Direktur Utama, Direktur Keuangan, Direktur Human Capital & General
Affair, Direktur Network & Solution, Direktur Konsumer, Direktur Enterprise &
Wholesale, Direktur Compliance & Risk Management, Direktur IT Solution & Strategic
Portofolio

Prinsip-prinsip OECD, 1999 dan 2004


Ketetapan pertama prinsip OCED dikembangkan pada tahun 1999, hal tersebut telah
menjadi tolak ukur internasional bagi para regulator, investor, perusahaan dan pemangku
kepentingan lainnya di seluruh dunia.
Prinsip tata kelola perusahaan OECD (revisi)
I.
Memastikan dasar kerangka tata kelola perusahaan yang efektif.
II.
Hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan utama.
III.
Perlakuan adil pemegang saham.
IV.
Peran pemangku kepentingan dalam tata kelola perusahaan.
V.
Pengungkapan dan transparansi.
VI.
Tanggung jawab dewan.

Otoritas Jasa Keuangan, Jakarta, 24 Juni 2014: Forum Regulator Pasar Modal se-ASEAN
atau ASEAN Capital Market Forum (ACMF) akhir pekan lalu telah merilis edisi kedua the
ASEAN Corporate Governance Scorecard Country Report and Assessments 20132014, yang
merupakan Laporan Pemeringkatan dan Penilaian Tata Kelola Perusahaan-Perusahaan di Negara
ASEAN. Pada penilaian tahun ke-3 ini, ACMF melaporkan terdapat 529 perusahaan terbuka yang
tercatat di bursa-bursa ASEAN dengan kapitalisasi pasar lebih dari 1 miliar dolar AS.
Di tingkat ASEAN, perusahaan terbuka dari Thailand memperoleh hasil penilaian tertinggi, yang
diikuti oleh Malaysia dan Singapura. Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Singapura,
sebagai negara yang mengalami perbaikan terbesar atau signifikan dalam penilaian tata kelola
perusahaan

(corporate

governance/CG)

tersebut.

Inisiatif ASEAN CG Scorecard ini dimulai pada 2011. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan
standar CG dan pelaksanaannya pada perusahaan-perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek,
serta meningkatkan daya jual internasional dari perusahaan terbuka ASEAN dengan praktik tata
kelola yang baik (well governed public listed companies/PLCs). ASEAN CG Scorecard menjadi
alat diagnostik yang penting dan bermanfaat dalam mengindentifikasi gap dan meningkatkan

standar

tata

kelola

di

antara

perusahaan

terbuka

di

kawasan

ASEAN.