Anda di halaman 1dari 9

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN DAN KURVA


PERTUMBUHAN ANAKAN PECUK HITAM (Phalacrocorax sulcirostris) DAN
PECUK KECIL (Phalacrocorax niger) DI SUAKA MARGASATWA
PULAU RAMBUT, TELUK JAKARTA
Erni Jumilawaty
Abstract
Chick growth of Black Cormorant and Javanese Cormorant were examinated during the
2001 breeding season (February-June 2001) in Pulau Rambut Wildlife Sanctuary. Sample
of Black Cormorant and Javanese Cormorant (n = 15) chicks were onserved during routine
visits (every 2 days). Chicks were measured for weight (g), length of culmen, tarsus, ulnar
(cm) by sending them down from the nest, started at hactching day until 33th days for black
cormorant and 26 th days for Javanese Cormorant. Young bird of Black Cormorant has
been known to fledge in 33 days, while Javanese Cormorant in 25 days. Growth rate was
examined by using either logistic, Gompertz and von Bertalanffy equation (Ricklefts, 1967).
Chicks weight of both spesies were fit to Gomertz curves, while the growth of culmen, tarsus
and ulnar was fit to logistic curve.
Key words: Black Cormorant, Javanese Cormorant, Growth
A. Pendahuluan
Kelestarian suatu spesies sangat ditentukan
oleh
keberhasilan
hidup
anakannya.
Sedangkan keberhasilan anakan untuk dapat
hidup sangat ditentukan oleh kemampuan
induknya dalam memperoleh makanan dan
merawat serta melindungi anakan dari
gangguan
predator
maupun
kondisi
lingkungan,
selama
musim
berbiak
berlangsung.
Musim berbiak Pecuk terjadi bersamaan
dengan burung air lainnya, sehingga
diperkiraan untuk memperoleh makanan
akan terjadi persaingan antara burung yang
sedang berbiak tersebut. Kedua anakan
Pecuk ini merupakan tipe altricial yaitu pada
saat lahir anakan belum ditumbuhi oleh bulu
down dan mata masih tertutup, keadaan
anakan sangat lemah dan membutuhkan
perhatian yang sangat intensif dari induknya
terutama untuk memperoleh makanan dan
menghindari predator dan pengaruh iklim
seperti hujan, panas, dan angin.
Walaupun sama-sama altricial diduga ada
perbedaan ciri perkembangan antara kedua
anakan Pecuk mulai saat menetas sampai
anakan lepas sarang serta strategi induk

untuk melestarikan dan mempertahankan


hidup anakannya. Sampai saat ini belum
diketahui bagian tubuh yang lebih dahulu
mengalami perkembangan dan bagaimana
pola pertumbuhan anakan pada kedua
spesies.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
membandingkan
ciri-ciri
utama
dan
perbedaan
morfologi
dalam
hal
pertumbuhan dan perkembangan anakan
dari kedua spesies Pecuk di Suaka
Margasatwa Pulau Rambut. Hasil penelitian
diharapkan dapat menjelaskan lebih lanjut
mengenai ciri perkembangan anakan dan
dapat dijadikan kunci identifikasi untuk
mengamati perkembangan anakan pada
waktu dan keadaan yang berbeda.
B. Metoda Penelitian
Waktu dan tempat penelitian
Penelitian
dilaksanakan
pada
bulan
Pebruari-Juni 2001 bertepatan dengan
musim biak 2001 di Suaka Margasatwa
Pulau Rambut, dengan peralatan peta lokasi
penelitian,
caliper (jangka sorong),
meteran, tali kain, kantung kain, timbangan
pegas pesola spring scale,
teropong
binokuler, kamera, dan alat tulis.

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Gambar 1. Sketsa Anakan Pecuk di Suaka Margasatwa Pulau


Rambut, Pebruari-Juni 2001
Metoda
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode pengamatan langsung
sedangkan pengambilan sampel anakan
dilakukan secara acak pada lokasi penelitian.
Perkembangan 15 ekor anak burung kedua
spesies mulai diikuti saat menetas sampai
anak tersebut sudah bisa meninggalkan
sarang dan tidak dapat ditangkap lagi. Studi
perkembangan anakan ini dilakukan dengan
pemeriksaan setiap 2 hari sekali untuk
menghindari
kematian
akibat
stres.
Perubahan bagian-bagian tubuh anakan
yang diamati meliputi perubahan bulu,
perubahan warna kulit dan cakar.
Pertumbuhan anggota badan, yaitu; paruh
(pada culmen), sayap (pada ulnar) dan kaki
(pada
tarsometatarsus)
diukur
menggunakan kaliper,
sedangkan berat
tubuh anak ditimbang dengan menggunakan
pesola spring scale. Pengukuran dan
penimbangan anakan dilakukan setiap 2 hari
dengan cara menurunkan anakan ke bawah
menggunakan kantung kain, selanjutnya
ditimbang dengan menggunakan pesola
spring scale dengan kapasitas 60 sampai
1000 gram sehingga pertambahan berat
dapat diketahui begitu juga perkembangan
anggota
badan.
Untuk
mengetahui
perubahan dan perkembangan anggota
badan dilakukan dengan pemotretan
selanjutnya dibuat sketsa pertumbuhan
anakan berdasarkan usia (Gambar 1).
C. Hasil dan Pembahasan
a. Perkembangan Anakan Pecuk

Anakan Pecuk termasuk tipe altricial, waktu


menetas matanya tertutup, belum memiliki
bulu, sangat lemah sehingga tidak dapat
meninggalkan sarang dan memerlukan
pemeliharaan oleh induknya.
Proses penetasan dimulai saat anakan dalam
telur membuat lubang kecil di dinding telur
(kira-kira satu per tiga panjang telur),
keesokaan harinya lubang ini membesar dan
membentuk retakan yang melingkari telur,
proses ini membutuhkan waktu satu hari
baru anakan terbebas dari cangkang. Waktu
penetasan terjadi sore hari sekitar jam 16.00
WIB atau siang hari sekitar jam 13.00 WIB.
Pada beberapa anakan proses penetasan ini
tidak berhasil, anakan hanya mampu
membuat lubang kecil dan setelah itu proses
selanjutnya tidak berjalan lancar.
Berbeda dengan anakanan semi altricial,
anakan Pecuk pada saat menetas tidak
memiliki bulu dan matanya tertutup, bulu
natal baru mulai tumbuh pada saat anakan
berumur 11 hari sedangkan Kuntul dan
Bluwok saat menetas anakan telah memiliki
bulu
natal
dan
matanya
terbuka
(Imanuddin,1999 dan Sulistiani, 1991).
Persamaannya anakan masih sangat lemah
dan memerlukan perawatan dan perhatian
dari induknya. Perkembangan selanjutnya
sama dengan anakan Kuntul dan Bluwok
yaitu bulu lebih dahulu tumbuh pada bagian
humeral dan scapular, diikuti bagian sayap
primer dan sekunder serta bulu ekor dan
bagian ventral.
Karakteristik perkembangan tubuh anakan
Pecuk diringkas pada Tabel 1 dan Gambar 1.

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Sedangkan Perbedaan anakan Pecuk Hitam


dan Pecuk Kecil diringkas pada Tabel 2.
Umur anakan diketahui
berdasarkan
tanggal penetasannya (saat menetas =
0
hari), tetapi ada yang diduga umurnya
sesuai karakteristik tubuh yang dicocokan
dengan Tabel 1. Anakan Pecuk Hitam yang

berat telur). Data berat dan ukuran tubuh


yang diperoleh bagi anakan yang baru
menetas hanya satu, hal ini untuk
menghindari agar anakan tidak stres dan
dapat terhindar dari kematian.
Ada tiga faktor yang sangat mempengaruhi
ketersediaan makanan saat membesarkan

Tabel 1. Karakteristik Perkembangan Tubuh Anakan Pecuk Hitam dan


Pecuk Kecil di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001
Usia
ke
1

Keterangan
Mata tertutup, bulu belum tumbuh, warna tubuh merah tua sampai
coklat muda, kulit transparan.

Mata tertutup, warna tubuh hitam dan mulai tumbuh bintik-bintik


putih, telah dapat mengerakkan kepala dan mulai mengeluarkan suara.

11

Mata mulai terbuka, cakar mulai tajam. Bulu down di sekitar tubuh
mulai tumbuh berupa papila terutama di dekat bahu, mata terbuka
lebar, bulu sayap tumbuh berupa papila yang keluar dari selubung,
telah dapat bergerak dan lincah.
Bulu down bertambah panjang dan tersebar merata di seluruh tubuh
kecuali perut, leher dan kepala, warna bulu masih hitam kusam,
anakan sudah dapat berlari, cakar bertambah panjang, bulu ekor mulai
tumbuh berupa papilla. Bulu sayap tumbuh menjadi dua tingkat.

17

21

Cakar dan selaput renang tumbuh sempurna. Bulu sayap tumbuh


menjadi tiga tingkatan, bulu ekor sudah panjang.

25

Semua bulu tubuh sudah tumbuh sempurna, sayap sudah sempurrna,


ekor sudah sempurna dan bulu di kepala dan leher juga sudah
sempurna, anakan telah belajar terbang.

30

Anakan sudah sulit untuk dijangkau karena telah dapat terbang ke


pohon sebelahnya atau ranting lainnya.

35

Anakan sudah meninggalkan sarang.

Catatan: Perkembangan Anakan tidak berbeda, hanya setelah umur 25 hari anakan
Pecuk Kecil sudah tidak dapat ditangkap dan telah dapat terbang.

baru menetas beratnya 18,5 g (h=0)


ditambah sebagian cangkang yang melekat
ditubuhnya (66,7% dari berat telur),
sedangkan anakan Pecuk kecil yang baru
menetas (h=0) beratnya 13,5 g (73% dari

anakan, yaitu suplai makanan, jumlah anak


dalam satu sarang dan kemampuan induk
mencari makan (Platteeuw dan Van Eerden,
1995, Van Eerden, dan Voslamber, 1995).

Gambar 2A. Grafik Pertambahan Berat Badan Pecuk Hitam pada


Sarang No 3b (3 anakan) di Koloni Utara dan Barat Suaka Margasatwa
Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001 dengan Perbedaan Usia Satu Hari

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Jumlah telur yang diletakkan dalam sebuah


sarang oleh induk burung biasanya berkaitan
erat dengan jumlah anak yang dapat
dibesarkannya sesuai dengan kondisi
lingkungan terutama suplai makanan.
Kenyataannya suplai makanan kadangkadang sangat bervariasi dan sulit untuk
memprediksi ketersediaan makanan pada
saat membesarkan anak-anaknya nanti.
Untuk memecahkan masalah keterbatasan
makanan ini Pecuk memiliki stategi dengan
cara menetaskan telurnya tidak secara
bersamaan
(asynchronous
hatching),
sehingga anakan tumbuh dengan umur dan
ukuran yang berbeda. Pada saat jumlah
makanan berlimpah maka seluruh anakan
akan mendapat suplai makanan yang hampir

sama, tetapi saat makanan terbatas maka


anak pertama cenderung menghabiskan
makanan tanpa memberikan kepada anak
yang terkecil, hal ini dapat dilihat pada
Gambar 2A dan 2B.
Pada sarang yang berisi tiga anak burung
(Gambar 2A dan 2B), seringkali ditemukan
anak ketiga mati akibat kelaparan atau sakit.
Perbedaan umur dan ukuran antara anakan
dalam
sebuah
sarang
menimbulkan
kompetisi yang tidak seimbang dalam hal
memperoleh makanan dari induknya,
akibatnya yang termuda seringkali kalah dan
kelaparan, pertumbuhannya lambat, lemah
dan tidak sehat.

Tabel 2. Perbedaan Anakan Pecuk Hitam dan Pecuk Kecil di Suaka


Margasatwa Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001
P. sulcirostris

P. niger

Warna Kulit

Merah kehitaman

Merah pucat/merah
kecoklatan

Paruh

Hitam dan tumpul,


bulat

Runcing, pipih dan pada


ujungnya berwarna coklat

Bulu

Kusam dan berkutu

Bersih bercahaya

Gerakan

Kurang lincah dan


Sangat Lincah dan sulit
mudah ditangkap
untuk ditangkap
Gambar 2B. Grafik Pertambahan Berat Badan Pecuk Kecil pada Sarang
BeratNo
saat
18,5
+ cangkang
13,5 gRambut, Pebruari-Juni
19 ( 3 Anakan)
di gSuaka
Margasatwa Pulau
menetas
2001, Perbedaan Usia Satu Hari

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Gambar 3B. Grafik Pertambahan Berat Badan Pecuk Kecil pada Sarang
No 21b (2 Anakan) di Koloni Utara dan Barat Suaka Margasatwa
Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001 dengan Perbedaan Usia Satu Hari

Gambar 3A. Grafik Pertambahan Berat Badan Pecuk Kecil pada Sarang
No 3A (3 Anakan) di Koloni Utara dan Barat Suaka Margasatwa Pulau
Rambut, Pebruari-Juni 2001 dengan Perbedaan Usia Satu Hari
Gambar 2A dan 2B merupakan salah satu
contoh kurva pertumbuhan anakan Pecuk
Hitam dan Pecuk Kecil pada sebuah sarang
yang berisi tiga anakan, yang masing-masing
berbeda umur satu hari. Pertumbuhan anak
ketiga terlihat paling lambat antara ketiga
anak burung tersebut. Sedangkan pada
sarang yang berisi dua anak burung,
umumnya kedua anakan tumbuh dengan
baik dan kecepatan pertumbuhan tidak
berbeda jauh. Seperti pada gambar 3A dan
3B, perbedaan umur antara kedua anakan
adalah 1 hari.
Faktor lain yang juga mempengaruhi
ketersediaan makanan saat membesarkan
anakan tergantung kepada kemampuan
induk untuk memperoleh makanan dan

kekuatan induk untuk terbang serta jarak


mencari makan dengan sarang (Grau, 1995
dan Perrins, 1996).
Beberapa kali pengamatan ditemukan induk
pulang tanpa membawa makanan untuk
anaknya, selanjutnya fungsinya digantikan
oleh pasangannya yang segera pergi mencari
makan. Induk yang mengasuh anakan akan
meningkatkan trip (perjalan) penangkapan
ikan per harinya. Waktu yang digunakan
untuk menangkap ikan dapat diketahui
dengan cara mengurangkan waktu yang
dipergunakan untuk terbang dari lokasi
sarang ke tempat menangkap ikan dan
waktu yang digunakan untuk kembali lagi ke
sarang (Platteeuw dan Van Eerden, 1995).

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Pada gambar 5C dapat dilihat bahwa


defisiensi makanan pada anakan Pecuk
Kecil yang mengakibatkan kematian, di
mana anakan ketiga kalah berkompetisi

Pertambahan berat badan menunjukkan


pertumbuhan yang normal dan tidak
mengalami penurunan lagi setelah anakan
mencapai dewasa, sedang untuk anggota

Gambar 3C. Grafik Pertambahan Berat Badan Pecuk Kecil pada


Sarang No 21a (3 Anakan) di Koloni Utara dan Barat Suaka
Margasatwa Pulau Rambut yang Mengalami Defisiensi, PebruariJuni 2001 dengan Perbedaan Usia Tiga Hari
dalam mendapat makanan dari anakan yang
lebih besar. Perbedaan usia dengan anak
pertama 3 hari.
b. Kurva Pertumbuhan
Kurva pertumbuhan anakan Pecuk Hitam
dan Pecuk Kecil diringkas pada Gambar 3A,
3B dan 3C. Yang mengalami perkembangan
pesat pada anakan Pecuk Hitam dan Pecuk
Kecil adalah berat badan diikuti oleh ulnar.

badan yang lebih berkembang adalah ulnar


dibandingkan
dengan
culmen
dan
tarsometarsus, hal ini erat hubungannya
dengan fungsi ulnar untuk terbang dan
mencari makan.

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Gamba 4A. Grafik Pertambahan Berat Badan Pecuk Hitam dan


Pecuk Kecil di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001

Gambar 4B. Grafik Perkembangan Pecuk Hitam di Suaka


Margasatwa Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001

Gambar 4C. Grafik Perkembangan Pecuk Kecil di Suaka Margasatwa


Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001
Kurva
pertumbuhan
dirata-ratakan
berdasarkan persamaan yang dicocokkan ke
dalam kurva pertumbuhan menurut Ricklefs
(1967). Kurva pertambahan berat badan
terlihat membentuk persamaan Gompertz,
sedangkan kurva pertumbuhan culmen,
tarsometatarsus dan ulnar, lebih mendekati
persamaan logistik.

Berdasarkan Gambar 4A nampak bahwa


anakan Pecuk Hitam (n = 15) mulai berumur
0 hari mengalami penambahan berat badan
yang pesat dan berat mencapai maksimum
pada umur 25 hari mencapai 800 g (79,07%)
setelah itu terjadi fluktuasi penurunan dan
penambahan berat badan sampai hari ke
35 mencapai berat 730 g (85,88%).
Pada Gambar 4A terlihat penambahan berat
badan maksimum anakan Pecuk Kecil (n=15)

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

terjadi pada hari ke 23 mencapai 360 g


(74,50%). Terjadinya penurunan berat
badan anakan sangat dipengaruhi oleh
kemampuan induk untuk menyediakan
makanan setiap hari dan adanya persaingan
antara anakan dalam satu sarang, serta
anakan mengalami stres pada saat
penimbangan dan memuntahkan makanan
yang baru dikonsumsi.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
nilai asimtot (a), konstata kecepatan
pertumbuhan (K) dan interval waktu
pertumbuhan 10 hingga 90% dari Asimtot
(T10-90), semua data diringkas dalam
Lampiran 1 dan Lampiran 2. Berdasarkan
hasil perhitungan untuk mengetahui waktu
pertumbuhan 10-90% (T10-90), yang paling
dahulu mencapai pertumbuhan.
Pada Gambar 4A, 4B dan 4C terlihat bahwa
pertambahan berat badan meningkat lebih
cepat dibandingkan pertumbuhan ulnar,
tarsometarsus dan culmen, ini disebabkan
oleh kemampuan induk memperoleh
makanan
setiap
harinya.
Banyaknya
makanan yang dikonsumsi anakan tiap
harinya akan mempengaruhi peningkatan
berat
anakan
yang
diikuti
dengan
pertumbuhan ulnar yang lebih cepat
dibandingkan pertumbuhan tarsometarsus
dan culmen. Sedangkan pertumbuhan
culmen dan tarsometatarsus terlihat
meningkat secara perlahan sesuai dengan
pertambahan usia anakan. Pada Gambar 4A
terjadi fluktuasi pertambahan berat badan
setelah usia 25 hari, terjadi penurunan berat
badan ini diduga ada hubungan dengan
kelincahan anakan, pada usia ini anakan
telah banyak bergerak, mulai belajar berjalan
meninggalkan sarang dan belajar terbang.
Kurva pertumbuhan anakan Pecuk ini
hampir sama dengan kurva pertumbuhan
anakan Kuntul Kecil yang diteliti oleh
Sulistiani (1991) di mana pertumbuhan berat
badan mengikuti kurva pertumbuhan
Gompertz dan pertumbuhan ulnar, culmen
dan tarsometatarsus mengikuti persamaan
logistik.
Dari kedua kurva pertumbuhan antara
anakan Pecuk dan Kuntul yang diteliti oleh

Sulistiani (1991) dapat disimpulkan bahwa


tidak terdapat perbedaan model kurva
pertumbuhan antara anakan tipe altricial
dengan anakan tipe semi altricial.
D. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui
bahwa:
1. Anakan kedua Pecuk memperlihatkan
pertumbuhan yang sama dan ciri-ciri
pertumbuhan yang sama. Anakan sudah
dapat meninggalkan sarang pada saat
usia 33 hari untuk Pecuk Hitam dan 26
hari untuk Pecuk Kecil.
2. Kurva pertumbuhan Pecuk Hitam dan
Pecuk
Kecil
terlihat
membentuk
persamaan Gompertz, sedangkan kurva
pertumbuhan culmen, tarsometatarsus
dan ulnar lebih mendekati bentuk
persamaan logistik.
Saran
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan disarankan untuk melalukan
penelitian
mengenai
seberapa
jauh
kompetisi antaranakan kedua Pecuk dan
jenis-jenis makanan yang dikomsumsi kedua
anakan Pecuk tersebut.
E. Daftar Pustaka
Aebischer, N. J. (1992). Immediate and
Delayed Effects of Gale in Late Spring On
The Breeding of
Shags Phalacrocorax
aristotelis. Ibis 135: 225-232.
Debout, G; N.Rov and R.M. Sellers. (1995).
Status and Population Development of
Cormorants Phalacrocorax carbo carbo
Breeding on The Atlantic Coast of Europe.
Ardea 83: 47-59.
Grau, C.R. (1995). Nutritional Needs for Egg
Formation in the Shag Phalacrocorax
aristotelis. Ibis 138: 756-764.
Imanuddin.
(1999).
Beberapa
Aspek
Persarangan dan Perkembangan Anakan
Burung Wilwo (Mycteria cinerea Raffles) di
Suaka Margasatwa Pulau Rambut Jakarta.
Skripsi Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB.
Bogor.

Erni Jumilawaty

Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN


Volume 16 ( 5) 2004

Perrins, C. M. (1996). Eggs, Egg Formation


and the Timing of Breeding. Ibis 138: 2-15.
Platteeuw and M.R. Van Eerden. 1995. Time
and Energy Constraints of Fishing Behaviour
Lampiran 1. Parameter Kurva Pertumbuhan Anakan Pecuk Hitam di Koloni Utara dan
Barat Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001
Kurva
pertumbuhan

Kecepatan

Bentuk persamaan Asimtot

Persamaan

ti

t10-90

Berat

Gompertz

750

0,12

13,011

7,75

Culmen

Logistik

100

0,094

19,01

7,17

Tarsometatarsus

Logistik

70

0,13

13,04

17,41

Ulnar

Logistik

380

0,143

19,019

15,9

750e-0,12(t-13,011)
100
1+e-0,094(t-19,01)
70
1+e-0,13(t-13,04)
380
1+e-0,143(t-19,019)

Lampiran 2. Parameter Kurva Pertumbuhan Anakan Pecuk Kecil di Koloni Utara dan
Barat Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Pebruari-Juni 2001
Kurva
pertumbuhan

Bentuk
persamaan

Kecepatan

Asimtot

Persamaan

ti

t10-90

Berat

Gompertz

500

0,112

13,015

8,3

Culmen

Logistik

80

0,09

16,008

6,22

Tarsometatarsus

Logistik

70

0,138

15

16,44

Ulnar

Logistik

195

0,177

16,035

12,96

500e-0,112(t-13,015)
80
1+e-0,09(t-16,008)
70

in Breeding Cormorant Phalacrocorax


carbosinensis at Lake Ijsselmeer, The
Netherlands. Ardea 83: 223-234.
Ricklefs, R. E. (1967). A Graphical Method of
Fitting Equations to Growth Curves. Ecology
48 (6): 978-983.
Sulistiani, E. (1991). Beberapa Aspek Biologi
Perkembanganbiakan Kuntul Kecil (Egretta
garzetta Linnaeus 1766) Di Cagar Alam
Pulau Rambut. Skripsi Mahasiswa. Fakultas
Kehutanan IPB. Bogor.

1+e-0,138(t-15,00)
195
1+e-0,177(t-16,035)