Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM TEKNIK PENANGKAPAN IKAN

Disusun Oleh
Carissa Paresky Arisagy
12/334991/PN/12981
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Asisten :
Lukman Hakim

LABORATORIUM TEKNIK PENANGKAPAN IKAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Resmi Praktikum

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN

Disusun oleh :
CARISSA PARESKY ARISAGY
12 / 334991 / PN / 12981

Laporan ini telah disahkan dan diterima sebagai kelengkapan mata kuliah Teknik
Penangkapan Ikan (PIM ) yang diselenggarakan oleh Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .

Yogyakarta, Desember 2014

Asisten Praktikum

Praktikan

Teknik Penangkapan Ikan

( Lukman Hakim )

( Carissa Paresky Arisagy )

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan
rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Teknik
Penangkapan Ikan ini. Praktikum Teknik Penangkapan Ikan dilaksanakan sebagai upaya
pembelajaran serta pelatihan bagi Mahasiswa Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan
Universitas Gadjah Mada. Laporan ini disusun sebagai syarat untuk mengikuti responsi
Praktikum Teknik Penangkapan Ikan Tahun ajaran 2014/2015.
Laporan ini berisi laporan hasil praktikum yang telah dilakukan. Dalam penyusunan laporan
ini, tentunya saya memperoleh bantuan baik berupa fisik maupun materi sehingga laporan ini
dapat terselesaikan. Oleh karena itu, tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada orang
tua, teman-teman, serta Tim Asisten Laboratorium Teknik dan Alat Penangkapan Ikan yang
telah memberikan bimbingan di dalam praktikum dan pembuatan laporan ini.
Tidak ada gading yang tak retak, saya sangat menyadari bahwa masih ada kekurangan di
dalam pembuatan dan penyusunan laporan ini. Atas segala kekurangan tersebut saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan laporan ini. Saya
berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, Desember 2014

Carissa Paresky Arisagy

DAFTAR ISI

I.

1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kabupaten Trenggalek adalah salah satu daerah di Jawa Timur yang mempunyai potensi
sumberdaya alam yang cukup besar baik untuk peairan laut, perairan payau, maupun
periaran tawar. Luas perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Kabupaten Trenggalek
seluas 35.558 km2, dengan tingkat eksploitasi masih sekitar 9,8% dari potensi yang
tersedia (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003). Perairan Teluk Prigi merupakan
daerah perikanan penghasil ikan-ikan pelagis kecil (56,80%) yang potensial, serta ikanikan seperti ikan lemuru, layang, tembang, dan slengseng (PPN Prigi, 2002). Jenis-jenis
ikan tersebut pola hidupnya membentuk gerombolan dan merupakan salah satu target
dari alat tangkap pukat cincin di Prigi.
Pukat cincin (purse seine) merupakan salah satu alat tangkap yang produktif.
Pengoperasian pukat cincin di Prigi umumnya menggunakan sistem dua kapal (two boat
system). Kapal yang digunakan untuk kegiatan penangkapan terdiri atas kapal utama
yang berfungsi untuk melingkarkan pukat cincin serta kapal pembantu yang berperan
dalam proses penarikan purse line setelah pelingkaran pukat cincin selesai. Kapal
pembantu juga berfungsi sebagai tempat hasil tangkapan.
Berdasarkan data hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di PPN Prigi dalam lima
tahun terakhir menunjukkan jumlah produksi ikan terbanyak dibandingkan dengan alat
tangkap lainnya. Jumlah produksi ikan yang dihasilkan pukat cincin pada tahun 2002
mencapai 11.796,2 ton atau sekitar 77,55% dari total hasil tangkapan di Pelabuhan
Perikanan Nusantara Prigi (Priambodho, 2004). Hasil tangkapan yang banyak tertangkap
pukat cincin terutama untuk jenis ikan-ikan yang bersifat pelagic shoaling species,
seperti ikan ekor merah, tongkol, dan jenis ikan yang lain. Ikan-ikan tersebut merupakan
jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi.
Memperhatikan dan menyadari pentingnya pengelolaan perikanan tangkap tersebut
terhadap kelaberlanjutan usaha perikanan, maka dirasa perlu untuk mengetahui dan
memahami lebih lanjut tentang teknik penangkapan ikan, khususnya pada alat tangkap
pukat cincin (purse seine).

2.

Tujuan Praktikum
Praktikum Teknik Penangkapan Ikan ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi
umum dari alat tangkap pukat cincin (purse seine) serta mengetahui mekanisme
pengoperasian alat tangkap purse seine di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Jawa
Timur.

3.

Manfaat
Manfaat Praktikum Penangkapan Ikan ini adalah agar mahasiswa mengetahui
konstruksi umum alat tangkap ikan khususnya pukat cincin (purse seine) beserta
mekanisme pengoperasiannya dan mengetahui aktifitas nelayan dalam operasional
penangkapan ikan.

4.

Waktu dan Tempat


Praktikum Lapangan Teknik Penangkapan Ikan dilaksanakan pada hari Sabtu, 22
November 2014 sampai hari Senin, 24 November 2014. Adapun lokasi praktikum
lapangan ini bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Desa Tasikmadu,
Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.

II.

1.

TINJAUAN PUSTAKA

Perikanan Tangkap
Perikanan tangkap menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2003) adalah
kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan hewan atau tanaman air
yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas. Sementara menurut UU Nomor 9
Tahun 1985, penangkapan ikan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh
ikan diperairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun,
termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan,
mendinginkan, mengolah atau mengawetkan ikan. Definisi tersebut menunjukkan bahwa
kegiatan penangkapan ikan yang dimaksud bertujuan untuk memperoleh nilai tambah
lainnya, seperti penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan terhadap protein hewani,
devisa serta pendapatan negara (Monintja, 2002).
Kegiatan perikanan tangkap sangat tergantung pada tersedianya sumberdaya perikanan,
baik berupa sumberdaya alam, sumberdaya manusia, maupun sumberdaya buatan (sarana
dan prasarana pendukung). Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam
mewujudkan pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal adalah diterapkannya
pengelolaan yang rasional. Pengelolaan yang rasional menerapkan sistem pengelolaan
yang mencakup semua sumberdaya, termasuk diantaranya lingkungan sumberdaya ikan
yang dimanfaatkan, perencanaan, organisasi, dan kelembagaan, serta sumberdaya
manusia, terutama pelaku dan pemanfaat, baik lokal maupun pendatang (Nikijuluw,
2002).
Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries)
sesuai dengan Code of conduct for Responsible Fisheries (CCRF) maka eksploitasi
sumberdaya hayati laut harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (Responsible
fisheries). Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yang dicetuskan FAO
tahun 1995 menyebutkan beberapa prinsip mengenai pengelolaan perikanan yang
bertanggung jawab serta himbauan bagi negara-negara lain untuk mengelola sumberdaya
perikanannya. Butir-butir dalam prinsip-prinsip umum CCRF tersebut antara lain: 1)
melindungi ekosistem perairan; 2) menjamin ketersediaan sumberdaya perikanan secara
berkelanjutan; 3) pencegahan kondisi tangkap berlebih (overfishing); 4) rehabilitasi

populasi perikanan dan habitat kritis; 5) mengupayakan konservasi; 6) penggunaan alat


tangkap yang ramah lingkungan; 7) pengontrolan yang efektif terhadap upaya-upaya
penangkapan di laut; 8) mencegah konflik antara nelayan skala kecil, menengah dan
industri; 9) penjaminan mutu hasil tangkapan; 10) penjaminan terhadap keamanan dan
keselamatan kapal, alat tangkap dan ABK; dan 11) manajemen pengelolaan perikanan
tangkap yang terpadu antar instansi/lembaga (Wisudo dan Solihin , 2008).
2.

Purse Seine
Purse seine pertama kali dipatenkan atas nama Barent Velder dari Bergent, Norwegia
pada tanggal 12 Maret 1858. Tahun 1860 alat tangkap ini diperkenalkan di seluruh Pantai
Atlantik, Amerika Serikat terutama di perairan Rhode Island. Alat ini umumnya
digunakan untuk menangkap ikan menhaden (Brevoortia tyranus). Tahun 1870 bentuk
purse seine diperkenalkan di Negara Skandivaria. Selanjutnya dari Skandivaria purse
seine menjadi popular tahun 1880 di Norwegia, Swedia. Negara Denmark dan Jerman
mengenal alat tangkap purse seine pada tahun 1913. Purse seine pertama kali di
Indonesia diperkenalkan di pantai utara Jawa oleh Balai Penelitian Perikanan Laut
(BPPL) pada tahun 1970, kemudian diterapkan di Muncar dan berkembang pesat sampai
sekarang (Hidayat, 2004).
Menurut Ayodhyoa (1981), bahwa ikan yang menjadi tujuan penangkapan dari alat
tangkap purse seine ialah ikan-ikan pelagic shoaling species yang berarti ikan-ikan
tersebut haruslah membentuk sesuatu gerombolan, berada dekat dengan permukaan air
dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara
ikan dengan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin. dengan perkataan lain dapat juga
dikatakan persatuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. hal ini
dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk oleh jaring, akan dibatasi
oleh ukuran dari jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan. Jika ikan-ikan belum
terkumpul pada suatu catchabel area, dan ikan-ikan masih berada diluar kemampuan
tangkap jaring, maka haruslah diusahakan agar ikan-ikan itu datang berkumpul ke suatu
catchabel area. Hal ini dapat ditempuh misalnya dengan penggunaan cahaya, rumpon
dan lain sebagainya Purse seine dapat dibedakan atas berbagai segi. Ada yang
membedakan berdasarkan ada tidaknya kantong, sehingga dikenal ada purse seine
berkantong dan purse seine tanpa kantong. Akan tetapi, ada juga yang membedakan
berdasarkan jumlah kapal yang digunakan sehingga dikenal one boat purse seine dan two

boat purse seine. Ada pula yang menggolongkan berdasarkan jenis ikan yang menjadi
tujuan penangkapan sehingga kita kenal tuna purse seine, sardin purse seine, dan
sebagainya (Sudirman, 2004).
Alat tangkap ini memiliki ciri tali ris atas yang lebih pendek daripada tali ris bawahnya.
Berbeda dengan alat tangkap lain dalam kelompoknya seperti lampara yang memiliki tali
ris atas yang lebih panjang daripada tali ris bawah. Pukat cincin adalah suatu alat tangkap
yang berbentuk empat persegi panjang dengan dinding yang sangat panjang. Alat
tangkap pukat cincin terdiri atas badan jaring, jaring pada pinggir badan jaring
(selvedge), kantong (bunt), tali atas (float line), tali ris bawah (lead line), pemberat dan
pelampung, serta cincin-cincin yang menggantung pada bagian bawah jaring (Von
Brandt, 1984).
1. Badan Jaring
Badan jaring terdiri dari sayap (wing), perut, bahu dan kantong merupakan dagian utama
dari pukat cincin, biasanya bagian ini dibuat dengan menggunakan benang nylon (PA)
atau bahan lainnya. Ukuran mata jaring (mesh size) biasanya disesuaikan dengan ikan
yang menjadi tujuan penangkapan.
2. Pelampung (buoy)
Bahan yang dipergunakan sebagai pelampung biasanya memiliki berat jenis (Bj) yang
lebih kecil dibandingkan dengan Bj air laut, sehingga dapat mengapung di permukaan air
laut. Pada umumnya pelampung purse seine dibuat dari bahan plastik yang keras. Ukuran
pelampung disesuaikan dengan bentuk dan daya apung benda tersebut, pelampung yang
biasanya digunakan pada alat tangkap ini berbentuk oval. Sedangkan jumlah pelampung
tergantung dari extra buoyancy yang diinginkan. Pelampung biasanya dipasang pada tali
pelampung (buoy line) yang besar ukuranya sama dengan tali ris atas yang berbeda hanya
arah pintalan tali tersebut. Pelampung berfungsi untuk mengapungkan seluruh jaring
ditambah dengan kelebihan daya apung (extra buoyancy), sehingga alat ini tetap mampu
mengapung walaupun di dalamnya ada ikan hasil tangkapan.
3. Pemberat (Sinker)
Pemberat berfungsi untuk menenggelamkan badan jaring sewaktu dioperasikan, semakin
berat pemberat maka jaring utama akan semakin cepat tenggelamnya. Tetapi daya

tenggelam ini tidak sampai menenggelamkan pelampung jaring, sehingga pelampung


jaring harus memiliki extra buoyancy yang besar. Pemberat dibuat dari benda yang berat
jenisnya (Bj) lebih besar dari Bj air laut, sehingga benda ini tenggelam di dalam air laut.
Bahan yang biasa dipergunakan adalah timah, bila menggunakan pemberat lain harus
dipergunakan bahan yang tidak mudah berkarat.
4. Tali Ris
Bahan tali ris ini umumnya terbuat dari benang kuralon namun ada juga yang
menggunakan polyester. Tali ris atas dan tali pelampung harus berbeda arah pintalanya,
hal bertujuan agar jaring tetap lurus, hal tersebut juga berlaku untuk tali pemberat dan tali
ris bawah. Selain itu untuk memperkuat tali ris atas dengan tali pelampung dan jaring
serta untuk memperkuat tali ris bawah, tali pemberat dan jaring ditambah dengan tali
pengguat.
5. Mata Pengguat (Selvage)
Selvage merupakan jaring yang berfungsi untuk melindunggi bagian tepi jaring utama
agar tidak cepat rusak. Selvage biasanya dibuat dari benang polyester (PE) atau kadangkadang mempergunakan bahan jaring sama dengan jaring utamna yang memiliki ukuran
mata (mesh size) yang sama dengan jaring utama tetapi ukuran benangnya biasanya lebih
besar.
6. Cincin (Ring)
Cincin atau biasa disebut ring pada umumnya berbentuk bulan, dimana pada bagian
tenggahnya merupakan tempat untuk lewatnya tali kerut, agar ring terkumpul sehingga
jaring bagian bawah tertutup. Bahan yang dipergunakan biasanya dibuat dari besi dan
kadang-kadang kuningan. Ring ini selain memiliki fungsi seperti tersebut di atas
berfungsi juga sebagai pemberat.
7. Tali Kerut (Purse Line)
Tali kerut (purse line) yang biasa disebut oleh nelayan sebagai tali kolor biasanya terbuat
dari bahan kuralon (PVA) dan kadang-kadang menggunakan tali polyester (PE), dan
kadang-kadang untuk purse seine dengan ukuran besar menggunakan tali baja. Tali kerut
berfungsi untuk menggumpulkan ris, sehingga bagian bawah jaring tertutup dan ikan

tidak dapat meloloskan diri, oleh karena itu, tali kerut harus dibuat dari bahan yang kuat
sehingga pada umunya ukuranya relatif lebih besar (Mudztahid, 2011).
3.

Hasil Tangkapan
Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang
Pelagic Shoaling Species, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal
(gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) (Gunarso, 1985).
Menurut Rahardjo (1978), ikan-ikan ini yang biasanya tertangkap dengan purse seine
adalah hering (Clupea ap.), anchovy (Engraulis sp.), layang (Decapterus russeli), selar
(Caronx sp.), kembung laki-laki (Rastrelliger kanagurta), kembung perumpuan
(Rastrelliger negletus), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Scomberomorus spp.),
Sardin (Sardinella sp.), tongkol (Euthynnus spp.), salmon (Onchorynchus sp.).
Sumberdaya ikan pelagis kecil dapat disebut sebagai sumberdaya yang bersifat poorly
behaved (Merta, 1992), karena makanan utamanya adalah plankton, sehingga
kelimpahannya sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Oleh karena itu,
kelimpahan sumberdaya tersebut berfluktasi dan tergantung kepada terjadinya fenomena
El Nino yang mempengaruhi proses upwelling (pertemuan arus hangat dan arus dingin di
dalam laut) di perairan yang ada. Yusron (2005) menambahkan bahwa pada ikan Lemuru
di Selat Bali memberikan hasil yang lebih tinggi selama tahun-tahun El Nino, hal
tersebut dikarenakan adanya pergerakan arus dari laut Jawa dan Flores melalui Selat Bali,
Lombok, Alas dan Sape ke Samudera Hindia.

III. METODE PRAKTIKUM

1.

Metode Dasar
Metode dasar dilakukan menggunakan dua metode yaitu metode survei dan observasi
secara langsung kepada objek yang diamati. Metode survey merupakan upaya
pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi
tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan
sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Sedangkan observasi adalah
pengamatan dan pencatatan sesuatu objek dengan sistematika fenomena yang diselidiki.
Hasil observasi dicatat secara sistematis. Selain itu juga dilakukan pengambilan foto
untuk mendokumentasikan kegiatan nelayan serta melakukan survei dengan ikut dalam
kegiatan penangkapan.

2.

Metode Pengumpul Data


Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti kegiatan penangkapan ikan dan
melakukan wawancara kepada nelayan. Teknik wawancara yang digunakan yaitu
wawancara terstruktur dimana sudah tersedia daftar pertanyaan (kuisioner) yang akan
diajukan kepada nelayan. Data yang diajukan kepada nelayan meliputi jenis dan
komponen kapal yang digunakan untuk menangkap ikan, komponen alat tangkap yang
digunakan, dan jenis ikan sasaran sedangkan data yang lainnya bisa didapat dengan
metode survei (fishing ground dan skema pengoperasian alat tangkap selama 1 trip).

3.

Metode Analisis Data


Pengambilan data dalam praktikum ini meliputi data-data kualitatif dan data-data
kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, seperti data
metode pengoperasian alat tangkap purse seine dan alat tangkap serok serta aspek kapal.
Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan perhitungan seperti :
1.

Kapal Utama
a.

Ukuran Badan Kapal :


(

b.

Ukuran Geladak
(

Sehingga diperoleh ukuran kapal utama adalah sebagai berikut:

Keterangan :
GT = kekuatan kapal
P

= panjang kapal (m)

= lebar kapal (m)

Cb = koefisien jenis kapal

2.

Kapal Pembantu
(

Keterangan :
GT = kekuatan kapal
P

= panjang kapal (m)

= lebar kapal (m)

Cb = koefisien jenis kapal

3.

Pelampung
a.

Berat di udara
A = jumlah pelampung x berat pelampung

b.

Daya Apung
(

Di mana,
P

= Berat benda di air (kg)

= Berat benda di udara (kg)

=1
= -3,10

c.

Jarak antar Pelampung


( )
(

4.

Pemberat
a.

Berat di udara
A = jumlah pelampung x berat pelampung

b.

Daya Apung
(

Di mana,
P

= Berat benda di air (kg)

= Berat benda di udara (kg)


=1
= 0,91

c.

Jarak antar Pelampung


( )
(

Jaring mengapung jika bernilai positif


Jaring tenggelam jika bernilai negatif

5.

Jaring
a.

Slevedge
( )
( )

b.

Badan/tubuh jaring

( )
( )
( )
( )

6.

Format koordinat
aa mm dd
Keterangan :
aa

: posisi lintang /bujur

mm

: menit

dd

: detik

1 menit GPS = 1 mil laut = 1,8 km

IV. KEADAAN UMUM DAERAH

1.

Keadaan Wilayah
Perairan Prigi merupakan suatu daerah strategis yang ada di Kabupaten Trenggalek
tepatnya di Desa Tasikmadu yang terletak 47 km, sebelah tenggara dari Kota
Trenggalek yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Secara administratif perairan ini
termasuk dalam wilayah Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek
(PPN Prigi, 2007). Secara geografis perairan Prigi terletak pada 08 o1722 LS dan
111o4358 BT.

Gambar 4.1. Lokasi Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi


Perairan Prigi merupakan perairan teluk dengan dasar lumpur bercampur pasir dan
sedikit berbatu karang. Teluk ini dinamakan dengan Teluk Prigi yang mempunyai
kedalaman 6-45 meter (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, 2008),
dengan kemiringan tanah berkisar antara 15% sampai 25%. (BPS, 2010). Perairan Prigi
memiliki topografi pantai yang cukup landai yang menyebabkan ombak laut tenang, serta
keadaan perairan laut yang berwarna biru dan tidak terlalu keruh.

Perairan Prigi juga dikenal sebagai objek wisata perikanan dimana terdapat Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN) yang merupakan pendaratan ikan terbesar setelah Cilacap di
pantai selatan. Letak yang strategis baik ditinjau dari ketersediaan sumberdaya alam
maupun jalur transportasi dan pemasaran menyebabkan wilayah ini mengalami
perkembngan yang sangat cepat. Nelayan yang beroperasi di Prigi pun tidak hanya
penduduk setempat, namun juga para pendatang yang umumnya adalah nelayan dari
daerah lain seperti Banyuwangi, Sendang Biru, Pacitan, Sulawesi dan lain-lain.
Teluk Prigi mempunyai tiga pantai yang digunakan untuk wisata, yaitu Pantai Damas,
Pantai Prigi dan Pantai Karanggongso (Adhicipta Engineering Consultant, 2006).
Keindahan alam pada wilayah pantainya yang disempurnakan dengan hamparan pasir
putih yang luas dan perkampungan nelayan dengan segala kegiatannya merupakan
perpaduan yang khas kawasan perairan Prigi. Ditambah Upacara adat labuh Laut Larung
Sembonyo yang dilaksanakan setiap bulan Selo merupakan sajian ritual yang memberi
daya tarik tersendiri (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, 2008).
Karakteristik potensi sumberdaya di kawasan Prigi tersebut semestinya dapat
dikembangkan sebagai objek ekowisata yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
2.

Keadaan PPN Prigi


2.1. Sarana dan Prasarana
Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi dibangun sejak tahun 1981dan sampai
sekarang terus dilakukan pengembangan. Adapun pembangunan fasilitas yang
sudah tersedia, antara lain (PPN Prigi, 2002) :
1.

Fasilitas pokok merupakan sarana utama dalam penyelenggaraan dan


operasional PPN Prigi. Fasilitas ini dipergunakan untuk menjamin keselamatan
umum, termasuk untuk tempat berlabuh dan tempat tambat serta bongkar muat
hasil perikanan. Fasilitas pokok yang dimiliki PPN Prigi terdiri atas tanah
seluas 11,5 ha, kolam pelabuhan seluas 16 ha, breakwater sepanjang 710
meter, dermaga sepanjang 552 meter, jalan komplek dengan panjang 1.123,5
meter dan lebar 6 meter serta revetment sepanjang 830 meter.

2.

Fasilitas

fungsional

merupakan

fasilitas

yang

difungsikan

dalam

penyelenggaraan operasional pelabuahn. Fasilitas fungsional yang dimiliki


PPN Prigi terdiri atas kantor, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebanyak 2 unit,

yaitu 1 unit berada di sisi barat dengan luas 940 m2 dan 1 unit di susu timur
dengan luas 400 m2, pabrik es dengan kapasitas 20 ton/hari, instalasi BBM
dengan kapasitas tangki 50 ton, instalasi air tawar dengan kapasitas 70 ton
yang berasal dari sumur artesis dengan kedalaman 90 meter, bengkel,
jaringan listrik PLN berkapasitas 226,5 KVA, kamar mandi (MCK) umum, pos
keamanan, sarana komunikasi, dan lampu suar sebanyak 4 unit yang dipasang
pada pintu masuk kolam pelabuhan dengan warna merah dan hijau.
3.

Fasilitas penunjang merupakan sarana pelengkap dan mendukung keberadaan


dan penggunaan fasilitas pokok dan fasilitas fungsional (Lubis, 2006). Dengan
adanya fasilitas ini diharapkan operasional yang diselenggarakan oleh
pelabuhan dapat berjalan dengan baik dan optimal, sehingga sasaran dan pesan
pelayaran yang ingin dicapai oleh pelabuhan perikanan dapat dipenuhi.
Fasilitas penunjang yang dimiliki oleh PPN Prigi terdiri atas rumah dinas dan
mess operator, balai pertemuan nelayan seluas 200 m2 dan daya tampung 200
orang, kios BAP (Bahan Alat Penangkapan) berukuran 54 m2, dan kendaraan
dinas.

2.2. Keadaan Perikanan


Pelabuhan Perikanan NusantaraPrigi dibangun di atas lahan seluas 27,5 hektar
dengan luas tanah 11,5 hektar dan luas kolam labuh 16 hektar. Terletak pada posisi
koordinat 111o 43 58 BT dan 8o 17 22 LS. Pelabuhan Perikanan Nusantara
Prigi mempunyai batas-batas sebelah utara dengan pemukiman penduduk dan
daerah rawa-rawa yang sudah diolah menjadi lahan pertanian, sebelah timur
dengan muara dan hutan lindung yang juga merupakan kawasan milik Perum
Perhutani, sebelah selatan dengan Samudera Hindia dan sebelah barat dengan
lokasi pemukiman nelayan.
Fasilitas yang dimiliki dan dioperasikan di lingkungan PPN Prigi dalam
menyelenggarakan fungsi pelayanan pelabuhan meliputi fasilitas pokok (tanah,
kolam pelabuhan, break water, dermaga, jalan komplek, revetment), fasilitas
fungsional (kantor, tempat pelelangan ikan, pabrik es, instalasi BBM, instalasi air
tawar, bengkel, jaringan listrik PLN, kamar mandi umum, pos keamanan, sarana
komunikasi, lampu suar), dan fasilitas penunjang (rumah dinas dan mess operator,

balai pertemuan nelayan, kios BAP/ Bahan Alat Penangkapan dan kendaraan
dinas).
Kegiatan usaha perikanan yang ada di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi baik
bidang penangkapan maupun pengolahan pada umumnya masih bersifat
tradisional. Faktor utama untuk mendukung pengembangan usaha perikanan
tangkap adalah keberadaan pelabuhan perikanan sebagai tempat berlabuh bagi
kapal-kapal perikanan, mengisi perbekalan / bahan produksi, serta mendaratkan
ikan hasil tangkapan, sehingga dapat memberikan kemudahan dan jaminan
kelancaran sejak dimulai produksi sampai ke pemasaran.
Kegiatan usaha perikanan tangkap di PPN Prigi yang tergolong usaha kecil dan
menengah terdiri dari 912 unit usaha yaitu:
1. Usaha perikanan Purse Seine berjumlah 136 unit;
2. Usaha perikanan pancing ulur berjumlah 546 unit;
3. Usaha perikanan pancing tonda berjumlah 72 unit;
4. Usaha perikanan pukat pantai berjumlah 42 unit;
5. Usaha perikanan jaring insang berjumlah 43 unit
6. Usaha perikanan payang berjumlah 36 unit
7. Usaha perikanan jaring klitik berjumlah 53 unit.
Letak yang strategis baik ditinjau dari ketersediaan sumberdaya alam maupun jalur
transportasi dan pemasaran menyebabkan wilayah Prigi mengalami perkembangan
yang sangat cepat. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi sebagai sentra
kegiatan perikanan dan perekonomian masyarakat adalah tempat berkumpulnya
orang-orang yang berusaha dan bekerja dibidangnya masing-masing dalam
menunjang kegiatan perikanan di pelabuhan.
Armada kapal yang beroperasi di perairan Prigi umumnya sudah cukup maju, ini
dapat dilihat bahwa sudah semua kapal memakai mesin untuk menjalankan
kapalnya. Perahu motor, yaitu armada yang paling sederhana di perairan Prigi
mengalami penurunan. Pergantian armada kapal yang digunakan oleh nelayan di
Pantai Prigi dari armada yang sederhana ke armada yang lebih canggih dikarenakan
nelayan setempat sudah menyadari bahwa semakin canggih armada yang
digunakan maka aktivitas penangkapan dapat ditingkatkan dan penghasilan pun

dapat meningkat. Selain itu faktor ekonomi yang meningkat dikarenakan hasil
tangkapan yang banyak, mendorong nelayan untuk memperbaharui armadanya agar
lebih canggih dan dengan harapan hasil tangkapan dapat lebih meningkat.
Alat tangkap yang digunakan nelayan Prigi bervariasi jenisnya. Dari hasil laporan
tahunan PPN Prigi terdapat 6 jenis alat tangkap yang dioperasikan di perairan Prigi.
Alat tangkap yang pertama kali dioperasikan di perairan Prigi adalah pancing. Alat
tangkap ini memiliki konstruksi yang sangat sederhana dan pada mulanya hanya
dioperasikan di pinggir pantai menggunakan perahu dayung, tetapi saat ini pancing
dioperasikan dengan perahu motor. Seiring dengan berkembangnya sarana dan
prasarana transportasi termasuk perkembangan armada kapal, banyak armada kapal
dari luar Prigi yang datang dan menangkap ikan dengan menggunakan beragam
alat tangkap di sekitar Teluk Prigi yang memang kaya akan sumberdaya hayati
ikan. Alat tangkap yang berkembang dengan cepat adalah pancing dan pukat
cincin. Pancing diminati oleh nelayan setempat karena harganya yang murah dan
mudah dioperasikan, serta hasil tangkapannya yang banyak. Pukat cincin diminati
oleh nelayan lokal karena alat tangkap ini dapat memberikan hasil tangkapan dan
keuntungan yang besar dibanding alat tangkap lain yang beroperasi di Prigi.
Ditinjau dari daerah tempat penangkapan nelayan Prigi yang sangat luas (Samudera
Hindia) dan memiliki potensi yang sangat besar dan dengan didukung oleh
peralatan yang semakin modern dengan ukuran armada yang semakin besar dengan
disertai alat yang lengkap (multi gear) dan adanya peletakan rumpon-rumpon oleh
pemerintah dan juragan besar di daerah ruaya ikan-ikan ekonomis penting (tuna,
cakalang, tongkol, dan lain-lain) maka sangat mungkin sekali untuk terus
mengembangkan dan meningkatkan usaha dibidang penangkapan dan pengolahan
ikan di daerah ini.
Produksi perikanan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi pada lima tahun
terakhir mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak menentu. Menurut nelayan
hal ini disebabkan karena pada lima tahun terakhir ini musim tidak menentu dan
ada indikasi terjadi pencemaran akibat penangkapan ikan menggunakan potasium,
sehingga mempengaruhi hasil tangkap. Pada tahun 2008 produksi perikanan yang
didaratkan di PPN Prigi sebesar 26.355 ton dengan nilai produksi Rp
131.017.625.000 dibandingkan dengan data volume dan nilai produksi pada tahun

2007, volume produksi tahun 2008 meningkat sebesar 4.023 ton (18,01%).
Sedangkan nilai produksinya meningkat sebesar Rp 38.758.475.000 (42,01%).
Kenaikan produksi ikan ini dikarenakan pada tahun 2008 produksi ikan unggulan
seperti tongkol dan lemuru mengalami kenaikan. Namun, pada tahun 2009 nilai
produksi mengalami sedikit penurunan dan turun drastis di tahun 2010 sebesar Rp
61.306.426.750,- akibat musim paceklik (Ross,2011).
Musim penangkapan di daerah Prigi tergantung dari posisi bulan. Ketika bulan
terang atau bulan purnama nelayan tidak melakukan aktivitas penangkapan dan
jarang yang melaut kalaupun ada yang melaut biasanya mereka keluar dari daerah
perairan Prigi. Tetapi ketika bulan gelap, hampir semua nelayan dengan berbagai
armada kapal dan alat tangkapnya melakukan aktivitas penangkapan. Dalam satu
bilan biasanya hari penangkapan hanya berjumlah 22-25 hari hari. Musim
penangkapan tidak berlangsung sepanjung tahun, biasanya berlangsung sekitar 6-7
bulan dari bulan April sampai Oktober dimana sedang terjadi musim Timur.
Nelayan di Prigi membagi musim penangkapan ikan menjadi 3 musim, yaitu :
1.

Musim puncak yang terjadi dari bulan Juli sampai dengan Oktober. Pada
musim ini alat tangkap yang mendominasi adalah purse seine.

2.

Musim sedang yang terjadi dari bulan April sampai Juni. Pada musim ini
semua alat tangkap beroperasi untuk melakukan kegiatan penangkapan.

3.

Musim paceklik yang terjadi dari bulan November sampai Maret. Pada musim
ini terjadi musim barat dimana angin dan arus sangat kencang sehingga ikanikan tidak ada yang menyebabkan nelayan tidak melaut. Alat tangkap yang
beroperasi hanya pukat pantai yang dioperasikan di pinggir pantai. Karena
hanya pukat pantai yang beroperasi maka semua nelayan yang awalnya
menggunakan alat tangkap lain seperti purse seine, pancing, dan lain-lain
beralih menggunakan pukat pantai.

Daerah penangkapan nelayan di Prigi umumnya hanya disekitar Teluk Prigi, tetapi
ada juga yang keluar dari daerah sekitar teluk seperti ke Blitar, Tulungagung,
Pantai Selatan Pacitan, dan Malang. Daerah penangkapan ikan ini tergantung dari
alat tangkap yang digunakan oleh nelayan. Untuk nelayan purse seine misalnya
hanya beroperasi di sekitar teluk dan sepanjang Pantai Selatan Kabupaten

Trenggalek, begitu juga pancing dan gillnet yang beroperasi di sekitar teluk. Waktu
tempuh menuju fishing ground berkisar 1 sampai 2 jam, hal ini dikarenakan
nelayan setempat hanya melakukan one day fishing. Ada beberapa nelayan yang
melakukan penangkapan sampai satu minggu, umumnya nelayan seperti ini
menangkapn ikan mencapai ZEE dengan menggunakan alat tangkap pancai rawai.

V.

1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
1.1. Kapal Penangkapan Ikan
1.1.1. Jenis

: Kapal Motor (Slerek)

1.1.2. Nama kapal

: Lorena

1.1.3. Nama pemilik

: Pak Par

1.1.4. Alamat pemilik

: Desa Tasikmadu, Kec. Watulimo, Trenggalek

1.1.5. Nama nahkoda

: Pairan

1.1.6. Alamat nahkoda

: Desa Tasikmadu, Kec.Watulimo, Trenggalek

1.1.7. Bahan

: Kayu

1.1.8. Ukuran

a.

Kapal Utama
Badan Kapal
Panjang

: 15 m

Lebar

: 3,15 m

Tinggi/dalam

: 1,5 m

Cb kayu

: 0,425

Tonage (GT1)

:
=
= 10,63 GT

Geladak
Panjang

:5m

Lebar

:1m

Tinggi/dalam

:3m

Cb kayu

: 0,425

Tonage (GT1)

:
=
= 2,25 GT

GT = GT1 +GT2
= 10,63 GT + 2,25 GT
= 12,88 GT
b.

Kapal Pembantu
Panjang

: 12 m

Lebar

:3m

Tinggi/dalam

: 1,3 m

Cb kayu

: 0,425

Tonage (GT)

:
=
= 7,02 GT

1.2. Mesin Kapal


1.2.1. Kapal Utama
Merk

: Mitsubishi

Tenaga

: 160 PK

Bahan bakar

: Solar

Jumlah mesin : 2

1.2.2. Kapal Pembantu


Merk

: Mitsubishi dan Yamaha

Tenaga

: 120 PK

Bahan bakar

: Solar

Jumlah mesin : 2

1.3. Alat Tangkap


1.3.1. Nama Alat Tangkap

: Jaring Purse Seine

1.3.2. Alat Bantu Penangkapan : Serok atau Seser

1.3.3. Komponen Alat Tangkap : Jaring, tali ris, tali kolor, pelampung
Pemberat, cincin (ring),
1.3.4. Gambar Alat Tangkap

Gambar 5.1. Bentuk jaring purse seine


1.4. Tali Temali
1.5.1. Tali Pelampung
Bahan

: Kuralon

Diameter

: 9 mm

Panjang

: 450 m

1.5.2. Tali Ris Atas


Bahan

: Kuralon

Diameter

: 9 mm

Panjang

: 450 m

1.5.3. Tali Pemberat


Bahan

: Rues

Diameter

: 30 mm

Panjang

: 450 m

1.5.4. Tali Ris Bawah


Bahan

: Kuralon

Diameter

: 9 mm

Panjang

: 450 m

1.5.5. Tali Selambar Depan


Bahan

: Kuralon

Diameter

: 9 mm

Panjang

: 20 m

1.5.6. Tali Selambar Belakang


Bahan

: Kuralon

Diameter

: 9 mm

Panjang

: 20 m

1.5.7. Tali Kolor / Kerut


Bahan

: Rues

Diameter

: 30 mm

Panjang

: 450 m

1.5. Pelampung
1.5.1. Bahan

: Plastik

1.5.2. Bentuk

: Oval

1.5.3. Ukuran
Diameter lubang

: 1,5 cm

Diameter tebal

: 8 cm

Panjang

: 12 cm

Berat

: 0,25 kg

Daya Apung (P)

: 402,06 kg

BeratPelampung di Udara (A)


A = Jumlah pelampung x Berat pelampung
= 1216 x 0,25 kg
= 304 kg
Daya Apung (P)
P =A(
= 304 (

)
)

= 402,06 kg
1.5.4. Jarak Antar Pelampung

: 25 cm

1.5.5. Jumlah Pelampung

: 1216 buah

Jml Pelampung

=
= 1216 buah
1.5.6. Gambar

Gambar 5.2. Bentuk pelampung


1.6. Pemberat
1.6.1. Bahan

: Timah

1.6.2. Bentuk

: Bulat

1.6.3. Ukuran
Diameter lubang

: 1 cm

Diameter tebal

: 2-3 cm

Panjang

: 10 cm

Berat

: 0,33 kg

Daya Tenggelam (P) : -9,17 kg


Berat Pemberat di Udara (A)
A = Jumlah pelampung x Berat pelampung
= 281 x 0,33 kg
= 92,73 kg
Daya Tenggelam (P)
P =A(
= 92,73 (

)
)

)
(

= -9,17 kg
1.6.4. Jarak Antar Pemberat

: 1,5

1.6.5. Jumlah Pemberat


(

Jml Pemberat

=
= 281 buah
1.6.6. Gambar

Gambar 5.3. Bentuk Pemberat


Penentuan jaring mengapung atau tenggelam :
Ppelampung + Ppemberat = 402,06 + (-9,17)
= 392,89 (positif mengapung)
Jaring Purse Seine Mengapung
1.7. Cincin
1.7.1. Bahan

: Kuningan

1.7.2. Bentuk

: Cincin

1.7.3. Ukuran per buah


Diameter lubang

: 8 cm

Berat

: 0,5 kg

1.7.4. Jarak Antar Cincin : 1 m

)
(

1.7.5. Jumlah

: 412 buah

1.7.6. Gambar

Gambar 5.4. Bentuk cincin (ring)


1.8. Jaring
1.8.1. Bahan

: Nilon

1.8.2. Ukuran Mata Jaring

: 1 inch = 2,54 cm

1.8.3. Jumlah Mata Jaring ke Arah Panjang

P tali jaring = 41.000 cm


Jumlah mata jaring ke arah panjang

)
)

= 16.142 buah
1.8.4. Jumlah Mata Jaring ke Arah Lebar

L tali jaring = 5000 cm


Jumlah mata jaring ke arah lebar

= 1.969 buah

(
(

1.9. Jumlah ABK dan Tugasnya


1.9.1. Menurunkan Pelampung

: 2 orang

1.9.2. Penarik Jaring

: 14 orang

1.9.3. Penggulung Tali

: 3 orang

1.9.4. Penanggung Jawab Mesin : 1 orang


1.9.5. Pengemudi / Nahkoda

: 1 orang

1.9.6. Fishing Master

: 1 orang

1.9.7. Pemantau

:-

1.9.8. Jumlah ABK

: 22 orang

1.10. Fishing Ground


: S 8o17.215

1.10.1. Koordinat TPI

E 111o43,636
1.10.2. Koordinat FG1

: S 8o22.46
E 112o4.398

8o LS lebih 31,85
111o BT lebih 80,73
8o LS lebih 41,55
112o BT lebih 8,14

1.11. Operasional Alat Tangkap


1.11.1. Skema Pengoperasian Alat Tangkap

Gambar 5.5. Skema Pengoperasian Purse Seine


1.11.2. Waktu

Lamanya 1 Trip

: 8 jam 43 menit

Pelabuhan FG1

: 4 jam (39,4 km)

Setting

: 13 menit

Hauling

: 9 menit

Kantong mulai ditarik : 18 menit


Ikan Naik Kapal

: 10 menit

1.12. Jenis Ikan Sasaran


Nama Lokal

: Rengis / Tongkol

Nama Ilmiah

: Euthynnus sp.

Gambar

Gambar 5.6. Hasil tangkapan berupa ikan tongkol (Euhynnus sp.)

2.

Pembahasan
2.1. Konstruksi Alat Tangkap
Purse seine merupakan alat tangkap yang terbuat dari lembaran jaring berbentuk
segi empat yang pada bagian atasnya dipasang pelampung dan pada bagian bawah
dipasang pemberat, cincin (ring), dan tali kerut. Tali kerut (purse line) berguna
untuk menyatukan bagian bawah jaring sehingga ikan tidak dapat meloloskan ke
bawah dan samping. Ukuran mata jaring yang digunakan berbeda-beda,
disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap. Bukan hanya ukuran mata
jaring yang memiliki ukuran yang berbeda-beda namun juga ukuran benang yang
digunakan. Fungsi mata jaring dan jaring tersebut adalah sebagai dinding
penghadang, dan bukan sebagai pengerat ikan (Subani dan Barus, 1989).
Purse seine juga sering disebut dengan nama pukat cincin karena pada jaring
bagian bawah dipasangi cincin (ring) yang berguna untuk memasang tali kerut atau

tali kolor. Purse seine atau pukat cincin ini digolongkan dalam kelompok jaring
lingkar (surrounding net). Alat tangkap yang bersifat mengurung gerombolan ikan
ini dioperasikan dengan melingkari kumpulan ikan, baik dari bagian samping
maupun dari bagian bawah sehingga kumpulan ikan tersebut tidak dapat
meloloskan diri dari jaring (Partosuwiryo, 2008).
Di PPN Prigi kebanyakan purse seine yang digunakan termasuk yang berbentuk
segi empat dan dioperasikan dengan menggunakan sistem 2 kapal (two boat trawl).
Salah satu dari kedua kapal tersebut merupakan kapal utama yang bertugas
melingkarkan jaring ke arah kumpulan ikan sementara kapal lainnya merupakan
kapal pembantu yang bertugas mengangkut hasil tangkapan serta menarik tali kolor
agar ikan tidak lolos dari jaring. Prinsip penangkapan ikan dengan menggunakan
purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah
itu jaring bagian bawah dikerucutkan, sehingga ikan-ikan terkumpul di bagian
kantong. Dengan demikian ruang gerak ikan terbatasi, ikan-ikan tidak dapat
melarikan diri dan akhirnya tertangkap.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, jaring purse seine yang digunakan
kapal penangkapan Lorena memiliki panjang 450 meter dan kedalamannya
mencapai 50 meter. Komponen jaringnya terdiri dari selvadge dan badan jaring
yang berbahan nilon dengan ukuran mata jaring sebesar 1 inch. Komponen tali
temali yang digunakan rata-rata berbahan kuralon dengan panjang yang berbedabeda.
Tali pelampung yang digunakan dalam unit penangkapan dengan purse seine
terbuat dari bahan kuralon dengan diameter 9 mm dengan panjang 450 m. Untuk
tali ris atas adalah tali yang berfungsi untuk menempelnya bagian jaring serta tali
pelampung dimana terbuat dari tali kuralon dengan diameter 9 mm dan memiliki
panjang 450 m. Selanjutnya bagian purse seine memiliki tali pemberat dimana
berfungsi sebagai tempat menempelnya pemberat yang terbuat dari tali rues dengan
diameter tali sebeesar 30 mm dengan panjang 450 m. Diameter tali pemberat lebih
besar dibanding diameter tali pelampung sebab untuk menggantungkan pemberat
dibutuhkan kekuatan tali yang kuat dan tebal tali yang berdiameter besar. Tali ris
bawah adalah tali yang berfungsi menggantungkan bagian bawah jaring serta tali
pemberat dimana terbuat dari tali kuralon dengan diameter yang sama dengan tali

ris atas yakni sebesar 9 mm dan panjang 450 m. Selanjutnya yaitu tali selambar
depan dan belakang adalah tali yang menghubungkan kapal utama dan kapal
pembantu sehinggga kapal pembantu dapat menarik tali selambar terlebih dahulu
sebelum jaring diturunkan. Tali selambar ini terletak di bagian ujung jaring.
Kemudian yang terakhir adalah tali kolor/kerut, tali yang dapat bergerak bebas
melalui ring ini terbuat dari tali rues dengan diameter 30 mm dan panjang 450 m.
Komponen yang tidak kalah pentingnya adalah pelampung. Pelampung merupakan
alat untuk mengapungkan seluruh jaring ditambah dengan kelebihan daya apung
(extra buoyancy), sehingga alat ini tetap mampu mengapung walaupun di dalamnya
ada ikan hasil tangkapan. Bahan yang dipergunakan sebagai pelampung biasanya
memiliki berat jenis (Bj) yang lebih kecil dibandingkan dengan Bj air laut, selain
itu bahan tersebut tidak menyerap air. Pada umumnya pelampung purse seine
dibuat dari bahan plastik yang keras. Pelampung yang digunakan dalam
penangkapan kali ini terbuat dari bahan plastik dan berbentuk oval. Pelampung ini
memiliki diameter lubang 1,5 cm dengan diameter tebal 8 cm dan panjang 12 cm
serta berat 0,25 kg dan memiliki daya apung 402,06 kg. Berat pelampung di udara
yang didapatkan dengan memasukkan rumus adalah 304 kg. Jarak antar pelampung
yang dipasang pada jaring berjarak 25 cm antar pelampungnya dengan jumlah
pelampung sebanyak 1216 buah.
Komponen pemberat terdiri dari ring dengan jumlah 412 buah dan pemberat
dengan jumlah 281 buah. Ring yang digunakan berbahan dasar kuningan dengan
berat masing-masing 0,5 kg, sedangkan pemberat yang digunakan berbahan dasar
timah dengan berat masing-masing 0,33 kg. Pemberat (sinker) berfungsi untuk
menenggelamkan badan jaring sewaktu dioperasikan, semakin berat pemberat
maka jaring utama akan semakin cepat tenggelamnya. Tetapi daya tenggelam ini
tidak sampai menenggelamkan pelampung, sehingga pelampung harus memiliki
extra buoyancy yang besar. Pemberat dibuat dri benda yang berat jenisnya lebih
besar dari air laut, sehingga benda ini tenggelam di dalam air laut. Pemilihan
pemberat juga harus diperhatikan, yakni menggunakan bahan yang anti karat, sebab
air laut bersifat korosif pada logam. Cincin atau biasa disebut ring pada umunya
berbentuk bulat, dimana pada bagian tengahnya merupakan tempat untuk lewatnya
tali kerut, agar ring terkumpul sehingga jaring bagian bawah tertutup. Bahan yang
dipergunakan biasanya dibuat dari besi dan kadang-kadang kuningan. Ring ini

selain memiliki fungsi seperti tersebut di atas berfungsi juga sebagai pemberat.
Cincin yang digunakan dalam praktikum ini terbuat dari bahan kuningan dengan
bentuk bulat dimana memiliki diameter lubang sebesar 8 cm. Jarak antar cincin
yakni 1 m dan berjumah 412 buah.
Sayap (wing), perut, bahu dan kantong merupakan dagian utama dari pukat cincin,
biasanya bagian ini dibuat dengan menggunakan benang nylon (PA) atau bahan
lainnya. Ukuran mata jaring (mesh size) biasanya sama tetapi kadang kala berbeda.
Hal ini disesuaikan dengan ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Pada setiap
bagian jaring purse seine yang menggunakan ukuran jaring yang berbeda, biasanya
pada bagian sayap merupakan menggunakan ukuran mata jaring yang paling besar
dan makin kearah kantong semakin mengecil. Penggunaan benang pada umumnya
kebalikan dari mata jaring, yaitu dari sayap ke arah kantong semakin besar,
maksudnya agar jaring pada kantong lebih kuat. Sebab pada bagian kantong
merupakan tempat terkumpulnya ikan, sedangkan pada bagian sayap, perut dan
bahu ukuran benangnya relatif lebih kecil daripada ukuran beang pada kantong, hal
ini disebabkan pada bagian-bagian tersebut hanya merupakan bagian penggiring
ikan agar ikan berkumpul di kantong. Jaring yang digunakan pada penangkapan
kali ini diketahui memiliki mesh depth total sebesar 50 m. Badan tubuh jaring
terbuat dari nylon dengan jumlah mata jaring ke arah panjang sebanyak 16.142
buah dan ke arah lebar 1.969 buah.
Secara garis besar jaring purse seine terdiri atas :
a.

Kantong (bag)

: bagian jaring tempat berkumpulnya


ikan hasil tangkapan pada proses
pengambilan ikan (brailing)

b.

Tali pelampung (floating line)

: tali tempat menempelnya pelampung

c.

Wing (tubuh jaring)

: bagian keseluruhan jaring purse seine

d.

Tali pemberat (sinker line)

: tali tempat menempelnya pemberat

e.

Purse line

: tali yang bergerak bebas melalui ring

f.

Ring (cincin)

: cincin tempat bergeraknya purse line

g.

Bridle ring

: tali pengikat cincin

2.2. Deskripsi Operasi Penangkapan Ikan


2.2.1. Kapal Penangkapan Ikan
Operasi penangkapan di PPN Prigi dilakukan dengan two boat system atau
dengan menggunakan dua kapal yaitu kapal utama pembawa jaring dan
kapal pembantu yang membawa hasil tangkapan. Kapal-kapal tersebut
bahan utamanya terbuat dari kayu. Kapal utama berukuran 12,88 GT
dengan dua mesin fuso 6 silinder berbahan bakar solar, sedangkan kapal
pembantu berukuran 7,02 GT dengan 2 mesin bermerk Yamaha 4 silinder
berbahan bakar bensin. GT merupakan kepanjangan dari Gross Tonnage
yang berarti volume seluruh ruang yang terletak di bawah geladak dan
volume ruang tertutup di atas geladak. Semakin besar nilai GT berarti
ukuran kapal semakin besar. Kapal utama memiliki ukuran yang lebih besar
dan memiliki ruang khusus nahkoda untuk mengamati gerombolan ikan dan
memiliki geladak yang luas untuk mengangkut jaring. Selain itu kapal
utama memiliki mesin yang lebih kuat karena harus bermanuver ketika
mengepung gerombolan ikan. Kapal pembantu memiliki ukuran yang lebih
kecil dan pada bagian tengahnya terdapat rongga yang digunakan untuk
tempat menampung ikan hasil tangkapan. Pada saat mencari fishing ground,
kapal pembantu ditarik oleh kapal utama untuk menghemat bahan bakar.
2.2.2. Syarat dan Ciri-Ciri Penentuan Fishing Ground
Daerah penangkapan atau lazim disebut fishing ground adalah suatu
daerah dimana ikan dapat ditangkap dengan hasil tangkapan ikan yang
mengguntungkan. Adapun syarat daerah penangkapan pengoperasian purse
seine yaitu :
a. bukan daerah yang dilarang menangkap ikan
b. terdapat ikan pelagis yang bergerombol
c. perairannya relatif lebih dalam dibandingkan dengan dalamnya jaring
Pada siang hari penentuan fishing ground biasanya dengan melihat buih
dipermukaan, adanya burung disekitar tempat itu, dan warna air laut yang
agak gelap. Gerombolan ikan besar dapat ditandai dengan adanya ikan kecil
yang melompat-lompat di permukaan. Ketika keberadaan gerombolan ikan

diketahui nahkoda segera menginstruksikan untuk menurunkan alat tangkap


dan mulai bermanuver. Kegiatan penangkapan pada malam hari
menggunakan alat bantu berupa lampu untuk mengumpulkan ikan, teknik
ini disebut dengan teknik ngoncor. Teknik ngoncor merupakan
kegiatan penangkapan yang lebih pasif daripada penangkapan pada siang
hari karena kapal hanya menunggu ikan berkumpul disekitar lampu dan
tidak mengejar gerombolan ikan.
2.2.3. Alur Operasi Alat Tangkap
Kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap purse seine dimulai dari
menata jaring di geladak kapal utama. Sebelum berangkat kapal utama dan
kapal pembantu harus dicek kondisinya mulai dari bahan bakar hingga
mesin. Kapal penangkapan mulai berangkat pada pukul 17.30 WIB dari
PPN Prigi. Kapal utama dan pembantu menuju fishing ground yang
letaknya cukup jauh dari teluk Prigi. Kapal melaju dengan kecepatan 9,85
km/jam kearah Timur untuk menemukan fishing ground yang ditandai
dengan adanya riak kecil pada permukaan laut. Perjalanan menuju Fishing
Ground I ditempuh selama 4 jam. Lamanya waktu tempuh tersebut
dikarenakan sedang tidak musim ikan serta adanya pengaruh cuaca yang
buruk menyebabkan fishing master mengalami kesulitan dalam menemukan
gerombolan ikan. Menurut beberapa nelayan Prigi musim ikan terjadi pada
bulan Agustus.
Setelah ditemukannya Fishing ground I pada posisi antara 08o lebih 31,85
km LS dan 111o lebih 80,73 km BT, kedua kapal saling mendekat dengan
cepat dan pelampung utama mulai diturunkan. Kapal utama harus
melingkari gerombolan ikan dengan cepat agar ikan tidak lolos ke samping.
Setelah jaring utama melingkari gerombolan ikan, pelampung utama
langsung dinaikan dan ABK menakut-nakuti ikan agar ikan tidak lolos dari
celah sambungan ujung jaring. Kegiatan mengepung gerombolan ikan
tersebut termasuk dalam proses setting. Proses setting ini memakan waktu
kurang lebih 13 menit.

Gambar 5.7. Operasi Penangkapan Purse Seine (Candra, 2002)


Proses berikutnya adalah proses hauling atau pengangkatan jaring setelah
kegiatan setting. Sebelumnya tali kolor ditarik oleh kapal pembantu yang
berfungsi untuk membentuk mangkok sehingga ikan tidak lolos ke bawah.
Penarikan tali kolor harus sesegera mungkin setelah setting sehingga
gerombolan ikan tidak dapat lolos. Kemudian ABK mulai mengangkat
jaring utama sedikit demi sedikit. Proses ini berlangsung selama kurang
lebih 9 menit. Selagi mengangkat jaring, ABK menata kembali jaring agar
siap digunakan kembali. ABK yang mengangkat jaring sebanyak 14 orang
dan 3 orang ABK bertugas menaikan pemberat dan ring. Ketika seluruh
pemberat sudah terangkat kapal pembantu mulai mendekati kapal utama
untuk mengangkat hasil tangkapan. Jika ada ikan yang tersangkut di jaring
pada saat hauling, maka ikan harus segera dilepas agar tidak merusak jaring.
Setelah ikan terkumpul, pengambilan dilakukan dengan serok dan
ditampung dalam keranjang yang sudah disiapkan.
2.2.4. Ikan Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan yang didapat pada saat itu tidaklah banyak sepert pada
musim ikan. Pada saat praktikum, musim ikan sedang sedikit tetapi
kebanyakan hasil tangkapan didominasi oleh ikan tongkol berukuran kecil.

Ikan hasil tangkapan utama armada penangkapan Lorena berupa ikan


tongkol, sedangkan hasil tangkapan sampingan berupa ubur-ubur, dan ikan
teri. Penanganan ikan di atas kapal tidak menggunakan box sterofoam dan
es. Ikan hasil tangkapan langsung dimasukan ke dalam keranjang bambu
pada kapal pembantu. Oleh sebab itu kegiatan penangkapan tidak boleh
terlalu lama agar mutu dan kualitas ikan terjaga.
3.

Hubungan Konstruksi Alat Tangkap dengan Hasil Tangkapan dan Musim yang
sedang Berlangsung
Pengoperasian purse seine dilakukan dengan melingkari gerombolan ikan sehingga
membentuk sebuah dinding besar yang selanjutnya jaring akan ditarik dari bagian bawah
dan membentuk seperti sebuah kolam (Sainsbury 1996). Untuk memudahkan penarikan
jaring hingga membentuk kantong, alat tangkap ini mempunyai atau dilengkapi dengan
cincin sebagai tempat lewatnya tali kolor atau tali pengerut (Subani & Barus 1998).
Dengan bentuk konstruksi jaring seperti ini, memungkinkan jaring purse seine untuk
menangkap gerombolan ikan pelagis dalam jumlah yang besar dengan cara
mengumpulkannya pada kantong yang terbentuk oleh jaring purse seine ini. Dengan
demikian, hasil produksi yang diperoleh menggunakan alat tangkap jaring purse seine
akan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Von Brandt (1984) yang mengemukakan bahwa purse seine
merupakan alat tangkap yang lebih efektif untuk menangkap ikan-ikan pelagis di sekitar
permukaan air.
Menurut Suryana et.al (2013), panjang jaring purse seine juga mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap peningkatan nilai produksi karena semakin panjang jaring
semakin optimal juga hasil tangkapannya. Semakin panjang jaring maka area yang akan
ditebari jaring pun akan semakin luas sehingga ikan yang terjaring oleh purse seine akan
semakin optimal. Di samping itu, GT kapal juga berpengaruh terhadap peningkatan hasil
tangkapan yaitu semakin besar GT kapal semakin besar pula hasil tangkapan. Hal ini
dikarenakan bentuk dan ukuran suatu kapal akan berpengaruh terhadap kekuatan kapal
tersebut di atas laut. PK mesin juga mempunyai pengaruh, dimana semakin besar daya
mesin yang digunakan maka kecepatan saat setting akan semakin cepat. Dengan
demikian mangkok akan lebih cepat terbentuk, sehingga memperkecil kemungkinan ikan
untuk melepaskan diri.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di lapangan meskipun jaring yang


digunakan cukup panjang namun hasil yang diperoleh tidak menunjukkan nilai yang
tinggi. Hal tersebut dikarenakan hasil tangkapan tersebut dipengaruhi oleh musim.
Menurut data statistik PPN Prigi (2008), musim penangkapan ikan di Pelabuhan
Perikanan Nusantara Prigi terjadi pada bulan Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober
dengan puncak musim pada bulan September. Pada bulan-bulan tersebut terjadi kenaikan
produksi bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
4.

Sistem Bagi Hasil


Sistem bagi hasil merupakan cara yang sampai saat ini diterapkan oleh hampir semua
masyarakat nelayan yang pada dasarnya adalah alat kerjasama yang menghubungkan
antara pemilik armada penangkapan dengan para tenaga kerja yang melakukan
penangkapan. Sistem itu dapat disebut sebagai hubungan timbal balik antara juragan
terhadap nahkoda beserta ABK-nya. Menurut Priananta (2011), sistem pembagian hasil
usaha penangkapan dengan alat tangkap purse seine di PPN Prigi antara juragan darat
dengan dan awak kapalnya adalah sebesar 50% untuk juragan darat dan 50% untuk awak
kapal. Namun pada kenyataannya, apabila ikan hasil tangkapan sedikit, pembagian hasil
tangkapan biasanya dilakukan di dalam kapal dan langsung dibagi sama rata kepada
semua ABK yang ikut berlayar pada hari itu juga. Hasil tangkapan tersebut dibagi sama
rata dalam beberapa plastik sesuai dengan jumlah awak kapalnya, kemudian setiap ABK
mendapat 1 plastik ikan sementara nahkoda dan fishing master memperoleh masingmasing 2 plastik ikan. Sistem tersebut dapat disebut dengan sistem kresekan, di mana
dalam satu kantong plastik biasanya berisi 30 kg ikan. Sementara bila sedang musim
ikan dan hasil produksi penangkapan tinggi, hasil tangkapan tidak langsung dibagi
kepada ABK namun dilelang di TPI terlebih dahulu. Biasanya hasil penjualan ikan
tangkapan dikumpulkan selama 1 bulan, lalu dikurangi biaya BBM 1 bulan. Kemudian
keuntungan yang didapatkan tersebut dibagi lagi dengan pemilik kapal dan ABK. Sistem
bagi hasil untuk kapal yang memiliki juragan kapal akan berbeda dengan system bagi
hasil untuk kapal yang tidak memiliki juragan. Sistem bagi hasil untuk kapal yang
memiliki juragan akan dibagi antara juragan, nahkoda dan ABK sesuai kesepakatan
masing-masing. Seperti halnya pada unit penangkapan purse seine Lorena sistem bagi
hasil yang diterapkan adalah 60% untuk pemilik kapal dan 40% sisanya digunakan
sebagai upah ABK-nya. Sedangkan untuk kapal yang tidak memiliki juragan kapal hasil
tangkapan akan dibagi secara merata untuk masing-masing ABK sama.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

1.

Kesimpulan
Alat tangkap yang umum digunakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi adalah
purse seine. Purse seine termasuk dalam jaring lingkar dan merupakan alat tangkap yang
dioperasikan dengan melingkari gerombolan ikan. Mekanisme pengoperasian jaring
purse seine dilakukan dengan cara melingkarkan jaring ke perairan untuk mengumpulkan
ikan (setting) kemudian menarik dan mengambil hasil tangkapan (hauling). Konstruksi
jaring purse seine tersusun atas badan jaring, tali-temali, pelampung, pemberat, cincin,
dan tali kolor. Hasil tangkapan utama jaring purse seine berupa ikan tongkol.

2.

Saran
Sebaiknya praktikum lapangan TPI selanjutnya dilakukan dalam dua macam trip
penangkapan yaitu siang dan malam hari sehingga data yang diperoleh lebih beragam
dan dapat dibandingkan proses serta hasil penangkapan antara siang dan malam hari.
Kemudian, kegiatan praktikum akan lebih baik apabila asisten juga mendampingi
praktikan di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Adhicipta Engineering Consultant. 2006. Executive Summary (Detail Engineering Design


Studi Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi Kabupaten Trenggalek
Provinsi Jawa Timur). Surabaya. 28 hlm.
Ayodhyoa, A. U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
BPS. 2010. Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Propinsi Jawa Timur tahun 2011.
Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Jawa Timur.
Candra B.P. 2002. Analisis Sistem Perikanan Purse Seine di Pangambengan Kabupaten
Jembrana, Bali Skripsi. (Tidak dipublikasikan). FPIK IPB. Bogor.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Wilayah Pengelolaan Perikanan Laut Indonesia.
Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, 2008, Data Obyek Daya Tarik
Wisata Jawa Timur. Disbudpar. Jatim.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2003. Penyebaran Beberapa Sumberdaya Perikanan
di Indonesia. Departemen Pertanian. Jakarta.
DKP Kab. Trenggalek. 2008. Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten
Trenggalek Tahun 2007. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek,
Trenggalek. 60 hal
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat, Metoda dan
Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hidayat. 2004. Kajian Penangkapan Purse Seine dan Kemungkinan Pengembangannya di
Indramayu. Skripsi Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Departemen
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. IPB. Bogor.
Lubis E. 2006. Pengantar Pelabuhan Perikanan. FPIK IPB. Bogor. 110 hlm.
Merta, I.G.S. et.al. 1992. Sumberdaya Perikanan Pelagis Kecil dalam Potensi dan Penyebaran
Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.

Monintja, D. 2002. Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir dalam Bidang Perikanan Tangkap.


Prosiding Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Jakarta.
Mudztahid, A. 2011. Metode Penangkapan dan Alat Tangkap Pukat Cincin (Purse Seine).
BDS. Tegal.
Nikijuluw, V.P.H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Cidesindo. Jakarta.
Partosuwiryo, S. 2008. Pukat Cincin. PT. Intan Sejati. Klaten.
PPN Prigi. 2002. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Pelabuhan
Perikanan Nusantara Prigi. Prigi.
PPN Prigi. 2007. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Pelabuhan
Perikanan Nusantara Prigi. Prigi.
PPN Prigi. 2008. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Pelabuhan
Perikanan Nusantara Prigi. Prigi.
Priambodho. 2004. Kajian Unit Penangkapan Pukat Cincin di Prigi Kabupaten Trenggalek
Jawa Timur. IPB. Bogor.
Priananta, Y.E. 2011. Analisis Sistem Bagi Hasil Pada Usaha Penangkapan Dengan Alat
Tangkap Purse Seine Yang Menggunakan Alat Bantu Rumpon Di Pantai Prigi
Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. UB. Malang.
Rahardjo, B. 1978. Suatu Studi Pendahuluan Tentang Hidrodinamika dari Purse Seine.
Skripsi fakultas Perikanan Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. IPB.
Bogor. 114.
Ross, A. 2011. Model Pengelolaan Perikanan Pelagis Secara Berkelanjutan di PPN Prigi,
Trenggalek, Jawa Timur. IPB. Bogor.
Sainsbury, J.C. 1996. Commercials Fishing Methods. Fishing News Ltd. London.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal
Penelitian Perikanan Laut. Balai Riset Perikanan Laut, Departemen kelautan dan
Perikanan. Jakarta. 2(2):19-23.
Sudirman. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.

Suryana et.al. 2013. Pengaruh Panjang Jaring, Ukuran Kapal, PK Mesin dan Jumlah ABK
terhadap Produksi Ikan pada Alat Tangkap Purse Seine di Perairan Prigi, Kabupaten
Trenggalek. PSPK Student Journal. Universitas Brawijaya. Malang. 1(1) : 36-43.
Von Brandt, A. 1984. Fish Catching Methods of World. FAO Fishing News Books. Ltd.
Farnham, Jursey. England.
Wisudo dan Solihin I. 2008. Profil SDM Perikanan Tangkap Indonesia. KKP. Jakarta.
Yusron, M. 2005. Analisis Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Pelagis Kecil di Perairan
Kepulauan Samataha dan Sekitarnya. Tesis Program Pascasarjana Program Studi
Manajemen Sumberdaya Pantai. Universitas Diponegoro. Semarang.