Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI ORGANIK DAN FISIK (FA2212)


PERCOBAAN 11
HASIL KALI KELARUTAN (KSP)

Disusun oleh:
Eriani Wulandari / 10712026
Kelompok 10
Tanggal Praktikum

: 4 Maret 2014

Tanggal Pengumpulan

: 11 Maret 2014

Asisten Praktikum

: Maria Florencia/10710044

LABORATORIUM KIMIA FARMASI PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI


FARMASI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

PERCOBAAN 11
TETAPAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan Hkelarutan PbI2 pada suhu 20OC
2. Menentukan harga tetapan hasil kali kelarutan PbI2
II. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Pengamatan suhu yang dibutuhkan untuk melarutkan seluruh endapan

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

ml
Pb(NO3)2
0,075 M
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

Ada/Tidaknya
endapan

ml Kl 0,01 M
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4
4,5
5

Temperatur saat
mengendap
0

C
52
61
63
66
65
68
67

+
+
+
+
+
+
+

K
325
334
336
339
338
341
340

III. PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA


1. Pembuatan Larutan KI 0,01 M (50 ml)
Massa = M. V. Mr
= 0,01 M. 0,05 L. 166 gr/mol
= 0,083 g = 83 mg
2. Pembuatan Larutan Pb(NO3)2 0,075 M (120 ml) tetapi yang digunakan hanya 100 ml, sisanya
untuk membilas tabung
Massa = M. V. Mr
= 0,075 M. 0,1 L. 331,29 gr/mol
= 2,98161 g = 2981,61 mg
3. Terbentuk endapan pada saat penambahan 2 ml KI
[
[

]
(

Vtotal = volume Pb(NO3)2 + volume KI

]
]

[
[

PbI2 Pb2+ + 2IQsp = [Pb2+] [I-]2


Qsp = 1,73618. 10-07
4. Perhitungan pelarut endapan
a. Pada saat penambahan 2 ml KI
mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl

= V Kl x M Kl
= 2 mL x 0,01 M
= 0,02 mmol

Volume total

= 10 ml + 2 ml = 12 ml
Pb(NO3)2

2 Kl

Mula-mula :

0,75 mmol

0,02 mmol

Bereaksi :

0,01 mmol

0,02 mmol

Sisa :

0,74 mmol

Pbl2

2 KNO3
-

0,01 mmol

0,01 mmol

0,01 mmol

0,01 mmol

Pb(I)2(s)
Pb2+(aq)
+
2I-(aq)

0.01 mmol
0.01 mmol
0.02 mmol
2+
mmol Pb
0.01 mmol
[Pb2+] =
=
= 0.00083 M
Volume total
12 ml
mmol I0.02 mmol
[I-]
=
=
= 0.00167 M
Volume total
12 ml
Ksp = [Pb2+] [I-] = (0.00083) (0.00167)2 = 2.31 x 10-9
b. Pada saat penambahan 2,5 ml KI
mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl
= 2,5 mL x 0,01 M
= 0,025 mmol

Volume total

= 10 ml + 2,5 ml = 12,5 ml
Pb(NO3)2

2 Kl

Pbl2

2 KNO3

Mula-mula :

0,75 mmol

0,025 mmol

Bereaksi :

0,0125 mmol

0,025 mmol

0,0125 mmol

0,0125 mmol

Sisa :

0,7375 mmol

0,0125 mmol

0,0125 mmol

Pb(I)2(s)

Pb2+(aq)

0.0125 mmol

2I-(aq)

0.0125 mmol

0.025 mmol

2+

mmol Pb
0.0125 mmol
=
Volume total
12.5 ml
mmol I0.025 mmol
[I-]
=
=
Volume total
12.5 ml
Ksp = [Pb2+][I-] = (0.001) (0.002)2 = 4 x 10-9
[Pb2+]

0.001 M

0.002 M

c. Pada saat penambahan 3 ml KI


mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl
= 3 mL x 0,01 M
= 0,03 mmol

Volume total

= 10 ml + 3 ml = 13 ml
Pb(NO3)2

2 Kl

Pbl2

Mula-mula :

0,75 mmol

0,03 mmol

Bereaksi :

0,015 mmol

0,03 mmol

0,015 mmol

0,015 mmol

Sisa :

0,735 mmol

0,015 mmol

0,015 mmol

Pb(I)2(s)
0.015 mmol
[Pb2+]

[I-]

mmol Pb2+
Volume total
mmol IVolume total

Pb2+(aq)

0.03 mmol

0.015 mmol
13 ml
0.03 mmol
13 ml

Ksp = [Pb2+][I-] = (0.00115) (0.00231)2 = 6.14 x 10-9


d. Pada saat penambahan 3,5 ml KI
mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl

2I-(aq)

0.015 mmol
=

2 KNO3

0.00115 M

0.00231 M

= 3,5 mL x 0,01 M
= 0,035 mmol
Volume total

= 10 ml + 3,5 ml = 13,5 ml
Pb(NO3)2

2 Kl

Mula-mula :

0,75 mmol

0,035 mmol

Bereaksi :

0,0175 mmol

0,035 mmol

Sisa :

0,7325 mmol
Pb(I)2(s)
0.0175 mmol

[Pb2+]

[I-]

Pbl2

Pb2+(aq)
0.0175 mmol

mmol Pb2+
Volume total
mmol IVolume total

=
=

2 KNO3

0.0175 mmol
13.5 ml
0.035 mmol
13.5 ml

0,0175 mmol

0,0175 mmol

0,0175 mmol

0,0175 mmol

2I-(aq)
0.035 mmol
=

0.00130 M

0.00259 M

Ksp = [Pb2+][I-] = (0.00130) (0.00259)2 = 8.71 x 10-9


e. Pada saat penambahan 4 ml KI
mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl
= 4 mL x 0,01 M
= 0,04 mmol

Volume total

= 10 ml + 4 ml = 14 ml
Pb(NO3)2

2 Kl

Pbl2

2 KNO3

Mula-mula :

0,75 mmol

0,04 mmol

Bereaksi :

0,02 mmol

0,04 mmol

0,02 mmol

0,02 mmol

Sisa :

0,73 mmol

0,02 mmol

0,02 mmol

Pb(I)2(s)
0.02 mmol

Pb2+(aq)
0.02 mmol

2I-(aq)
0.04 mmol

mmol Pb2+
0.02 mmol
=
=
Volume total
14 ml
mmol I
0.04 mmol
[I-]
=
=
=
Volume total
14 ml
Ksp = [Pb2+][I-] = (0.00143) (0.00286)2 = 1.166 x 10[Pb2+]

0.00143 M
0.00286 M

f.

Pada saat penambahan 4,5 ml KI


mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl

= V KCl x M KCl
= 4 ,5mL x 0,01 M
= 0,045 mmol

Volume total

= 10 ml + 4,5 ml = 14,5 ml
Pb(NO3)2

2 Kl

Mula-mula :

0,75 mmol

0,045 mmol

Bereaksi :

0,0225 mmol

0,045 mmol

Sisa :

0,7275 mmol

Pb(I)2(s)
0.0225 mmol
[Pb2+]

[I-]

mmol Pb2+
Volume total
mmol IVolume total

0.0225 mmol
14.5 ml
0.045 mmol
14.5 ml

=
=

2 KNO3

0,0225 mmol

Pb2+(aq)
0.0225 mmol

Pbl2

0,0225 mmol

0,0225 mmol
0,0225 mmol

2I-(aq)
0.045 mmol
=

0.00155 M

0.00310 M

Ksp = [Pb2+][I-] = (0.00155) (0.00310)2 = 1.495 x 10-8


gg. Pada saat penambahan 5 ml KI
mmol Pb(NO3)2 = V Pb(NO3)2x M Pb(NO3)2
= 10 mL x 0,075 M
= 0,75 mmol
mmol KCl
= V KCl x M KCl
= 5mL x 0,01 M
= 0,05 mmol
Volume total = 10 ml + 5 ml = 15 ml
Pb(NO3)2
Mula-mula : 0,75 mmol
Bereaksi : 0,025 mmol
Sisa :
0,725 mmol
Pb(I)2(s)
0.025 mmol
[Pb2+]
[I-]

+ 2 Kl

0,045 mmol
0,045 mmol
-

Pb2+(aq)
0.025 mmol

mmolPb2+
= Volume
total
mmol I= Volume
total

Pbl2 +
0,025 mmol
0,025 mmol

2I-(aq)
0.05mmol

0.025mmol
=

15 ml

= 0,00167M

0.05mmol
=

15 ml

= 0,00333M

2 KNO3
0,025 mmol
0,025 mmol

Ksp = [Pb2+][I-] = (0.00167) (0,00333)2 = 1,852x 10-8


Tabel 2. Hasil Perhitungan Kelarutan [Pb2+] dan [I-] serta Ksp PbI2
Temperatur saat

ml
NO

Pb(NO3)2

ml Kl 0,01

mengendap

0,075 M

[Pb2+]

[I-]

Ksp

10

0,5

10

10

1,5

10

50

325

0,00083

0,00167

0,00000000231

10

2,5

61

334

0,00100

0,00200

0,00000000400

10

63

336

0,00115

0,00231

0,00000000614

10

3,5

66

339

0,00130

0,00259

0,00000000871

10

65

338

0,00143

0,00286

0,00000001166

10

4,5

68

341

0,00155

0,00310

0,00000001495

10

10

67

340

0,00167

0,00333

0,00000001852

Tabel 3. Tabel hasil perhitungan 1/T dan log Ksp


No

Temperatur (K)

1/T

Ksp

log Ksp

325

0,003077

0.00000000231

-8.63548375

334

0,002994

0.00000000400

-8.39794001

336

0,002976

0.00000000614

-8.21149629

339

0,00295

0.00000000871

-8.05982717

338

0,002959

0.00000001166

-7.93323413

341

0,002933

0.00000001495

-7.82549646

10

340

0,002941

0.00000001852

-7.73239376

Kurva 1. Kurva Kelarutan PbI2 terhadap Temperatur

Kelarutan PbI2

Kurva Kelarutan PbI2 terhadap


Temperatur
0.00180
0.00160
0.00140
0.00120
0.00100
0.00080
0.00060
0.00040
0.00020
0.00000

y = 5x10-5 x - 0.015
R = 0.789
320

325

330
335
Suhu (K)

340

345

Kurva 2. Kurva KelarutanLog Ksp terhadap 1/T


Kurva KelarutanLog Ksp terhadap 1/T
-7.6
0.0029
-7.8

0.00295

0.003

0.00305

0.0031

log Ksp

-8
-8.2
-8.4
-8.6

y = -6039.2x + 9.8566
R = 0.8497

-8.8

1/T

Dari grafik di atas di peroleh persamaan y = -6039,2x + 9,8566, sedangkan berdasarkan


persamaan Van Hoff :

Maka diperoleh :
-

x = 1/T
= -6039,2

(dengan R= 8,314 J/mol)


J/mol
J/mol = 115.63 kJ/mol

Konstanta = 9,8566

Bila yang dicari adalah Ksp PbI2pada suhu 200C ( 293 K)


log Ksp

- 10.75
Ksp = 1.76 x 10-11
IV. PEMBAHASAN

Suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu, tetapi jumlahnya selalu terbatas. Batas itu disebut
kelarutan. Arti kelarutan secara kualitatif dapat diartikan sebagai interaksi spontan antara dua atau
lebih senyawa membentuk suatu dispersi molekular yang homogen. Sedangkan kelarutan secara
kuantitatif adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuhnya pada temperatur dan tekanan
tertentu.
Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat
(zat terlarut). Suatu larutan tidak jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam
konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur dan
tekanan tertentu. Sedangkan larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut

dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur dan tekanan tertentu
sehingga terdapat zat yang tidak larut.
Untuk zat yang kelarutannya tidak diketahui pasti, harga kelarutannya digambarkan dengan
menggunakan istilah tertentu. Menurut Farmakope Indonesia IV, istilah tersebut yaitu:
Istilah kelarutan

Jumlah bagian pelarut yang diperlukan


untuk melarutkan 1 bagian zat

Sangat mudah larut

Kurang dari 1

Mudah larut

1 sampai 10

Larut

10 sampai 30

Agak sukar larut

30 sampai 100

Sukar larut

100 samapi 1000

Sangat sukar larut

10000 sampai 10.000

Praktis tidak larut

Lebih dari 10.000

Kelarutan zat padat di dalam zat cair dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
1. Temperatur
Temperatur dapat meningkatkan kelarutan zat padat terutama kelarutan garam dalam air,
sedangkan kelarutan senyawa non polar hanya sedikit sekali dipengaruhi oleh temperatur. Zat
padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut dikatakan bersifat
endoterm.. Beberapa zat yang lain justru dengan kenaikan temperatur menjadi tidak larut, zat
tersebut dikatakan bersifat eksoterm.
2. Penambahan zat lain (surfaktan, pembentuk kompleks, ion sejenis, dll)
Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikan kelarutan suatu zat. Molekul
surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian polar dan non polar. Apabila didispersikan dalam air
pada konsentrasi yang rendah, surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk
agregat yang dikenal sebagai misel. Kelarutan juga dapat menurun dengan adanya ion sejenis dan
meningkat dengan adanya ion tidak sejenis. Sedangkan pembentukan kompleks adalah peristiwa
terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam
kompleks.
3. Jenis pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Sesuai dengan penyataan like
dissolves like, pelarut polar akan melarutkan zat-zat polar dan ionik dengan baik. Begitu pula
sebaliknya, pelarut non polar akan melarutkan zat non polar dengan baik.
4. Konstanta dielektrik pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar mempunyai konstanta
dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar sukar larut di dalamnya, begitu pula
sebaliknya. Besarnya tetapan dielektrik ini menurut moore dapat diatur dengan penambahan
pelarut lain. Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan
pelarut tunggalnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana
dalam bentuk campuran dapat menaikkan kelarutan suatu zat disebut co-solvent.

5. Bentuk partikel
Konfigurasi molekul dan susunan kristal, bentuk yang simetri dan asimetri mempengaruhi
kelarutan suatu zat. Suatu zat dapat berada dalam beberapa bentuk kristal yang berbeda, hal ini
menyebabkan zat tersebut mempunyai sifat fisik yang berbeda pula. Keadaan ini disebut
polimorfisme. Bentuk amorf memiliki kelarutan yang lebih tinggi daripada kristal. Hal ini
disebabkan bentuk amorf yang tidak beraturan dan memiliki ruang-ruang kosong sehingga lebih
mudah berikatan dengan molekul pelarut.
Kelarutan zat-zat yang sukar larut dapat ditentukan berdasarkan harga Ksp zat tersebut. Demikian pula
harga Ksp dapat ditentukan jika konsentrasi ion-ion zat terlarut diketahui. Harga Ksp suatu zat dapat
di gunakan untuk meramalkan terjadi tidaknya endapan suatu zat jika dua larutan yang mengandung
ion-ion dari senyawa sukar larut dicampurkan dengan membandingkan antara nilai Ksp dan Qsp. Ksp
adalah hasi kali konsentrasi ion-ion dari larutan jenuh garam yang sukar larut dalam air, setelah
masing-masing konsentrasi dipangkatkan dengan koefisien reaksi ionnya pada suhu dan tekanan
tertentu. Qsp adalah hasil kali konsentrasi molar awal dari ion-ion dalam larutan dengan asumsi zat
terionisasi sempurna.
Q > Ksp : lewat jenuh, terjadi endapan
Q = Ksp : larutan tepat jenuh, siap mengendap
Q < Ksp : larutan belum jenuh, tidak terjadi endapan
Senyawa yang mempunyai Ksp adalah senyawa elektrolit yang sukar larut. Sedangkan senyawa
elektrolit yang mudah larut seperti NaCl, Na2SO4, KOH, HCl, atau H2SO4 tidak mempunyai Ksp. Hal
ini disebabkan karena senyawa seperti NaCl merupakan garam elektrolit kuat sehingga akan
terionisasi sempurna dalam air, banyaknya ion dalam air akan membuat kelarutannya besar. Selain itu,
senyawa yang sukar larut tetapi nonelektrolit seperti benzena, minyak atau eter juga tidak mempunyai
Ksp.
Pada percobaan penentuan hasil kali kelarutan, digunakan dua jenis larutan yaitu larutan Pb(NO3)2 dan
larutan KI. Larutan Pb(NO3)2 0,075 M dan KCl 0,1 M dimasukkan ke dalam dua buret yang berbeda.
Sebelum dimasukkan dalam buret, buret tersebut dibilas dengan larutan contoh untuk menyamakan
kondisi larutan dengan buret yang akan digunakan. Pada saat memasukkan larutan ke dalam buret,
diusahakan tidak ada gelembung pada buret karena dapat mempengaruhi jumlah volume sehingga
berpengaruh pada hasil perhitungan. Setiap tabung terlebih dahulu diisi dengan larutan Pb(NO3)2
masing-masing sebanyak 10 mL. Kemudian dilanjutkan dengan penambahan larutan KI dengan
volume yang berbeda-beda yaitu 0,5ml;1ml;1,5ml;2ml;2,5ml;3ml;3,5ml;4ml;4,5ml;5ml. Perlakuan
ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa volume KI yang diperlukan sampai keadaan jenuhnya
dilewati sehingga endapan mulai terbentuk. Setiap tabung reaksi yang telah diisi dengan dua macam
larutan tadi, dikocok sebentar kemudian didiamkan kurang lebih 4-5 menit, tujuannya adalah untuk
mengamati proses terbentuknya endapan.
Pada pencampuran 0,5ml;1ml;1,5ml KI belum terbentuk endapan, artinya hasil kali konsentrasi ionion dalam larutan belum memlewati nilai hasil kali kelarutan. Endapan baru terbentuk pada
penambahan 2ml;2,5ml;3ml;3,5ml;4ml;4,5ml;5ml KI yang berarti hasil kali konsentrasinya sudah
melewati hasil kali kelarutannya. Pemanasan tabung reaksi dimulai dari tabung yang memperlihatkan
terbentuknya endapan. Pada proses pemanasan yang harus diperhatikan adalah suhu larutan harus
diukur tepat ketika semua endapan melarut. Semakin banyak endapan yang terbentuk, semakin lama
proses pelarutan dan makin besar juga suhu yang dibutuhkan endapan untuk larut.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pembacaan skala, baik buret maupun skala termometer harus
tepat karena jika salah sedikit saja, maka akan sangat mempengaruhi data. Pada percobaan kali ini,

untuk memasukkan KI dan Pb(NO3)2 adalah dengan menggunakan buret. Hal ini bertujuan agar
volume yang digunakan akurat dan lebih presisi dibandingkan dengan alat ukur volume lainnya. Pada
penambahan KI, digunakan buret mikro yang mempunyai kapasitas volume 10 ml dengan ketelitian
0,02 ml sedangkan pada pengukuran volume Pb(NO3)2, digunakan buret makro dengan kapasitas 50
ml dan ketelitian 0,1 ml. Sedangkan apabila menggunakan gelas ukur ketelitiannya hanya 1 ml. Jika
dibandingkan,maka galat apabila menggunakan gelas ukur adalah 2%, sedangkan apabila
menggunakan buret hanya 0,2%.
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3, terletak di sudut
kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya
bernomor atom 22 sampai 92 dari periode 4 sampai 7. Logam dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu
logam esensial dan logam non esensial. Logam berikut ini termasuk logam yang esensial seperti Cu,
Zn, Se sedangkan yang non esensial seperti Hg, Pb, Cd, dan As. Dalam percobaan ini digunakan
logam berat Pb karena sifat Pb yang tahan terhadap asam dan dapat bereaksi dengan basa kuat.
Data yang diperoleh dari percobaan menunjukan bahwa kelarutan maupun hasil kali kelarutan
berbanding terbalik dengan suhu pelarutan. Semakin kecil kelarutan berarti semakin banyak endapan
yang terbentuk, maka suhu atau panas pelarutan yang dibutuhkan untuk melarutkan kembali endapan
tersebut semakin besar. Demikian pula sebaliknya. Tetapi dari seluruh data, terdapat dua data yang
menyimpang, yaitu pada penambahan KI 3,5 ml dan 5 ml. Pada saat tersebut, suhu pelarutannya lebih
besar 10 C dari data sebelumnya. Penyimpangan ini dapat terjadi karena kesalahan pada saat
menambahkan larutan KI, akibatnya endapan yang terbentuk lebih banyak dan suhu yang dibutuhkan
untuk melarutkan endapan lebih tinggi. Berdasarkan perhitungan diketahui
= 115.63 kJ/mol,ksp
o
-11
o
-11
pada 20 C PbI2 = 1.76 x 10 , dan pada 25 C ksp=3,8x10 . Sedangkan menurut literatur, Ksp PbI2
pada suhu 25oC ksp= 9,8 x 10-9. Perbedaaan ini dapat disebabkan karena kesalahan pembacaan skala
buret yang mengakibatkan volume titrasi penambahan KI yang kurang tepat. Selain itu, dapat juga
dikarenakan suhu di water bath yang tidak mengalami kenaikan lagi saat pelarutan endapan tabung
terakhir sehingga suhu yang didapat tidak akurat.
Penerapan hasil kali kelarutan dalam bidang farmasi diantaranya adalah untuk pemurnian NaCl,
analisis kation dan anion, analisis gravimetri, dan analisis kesehatan bidang forensik.
V. KESIMPULAN
-

Nilai
PbI2 adalah 115.63 kJ/mol
-11
Harga Ksp PbI2 pada suhu 20OC adalah 1.76 x 10

VI. DAFTAR PUSTAKA


Brady, James, dkk. 2012. CHEMISTRY 6th edition. US: John Wiley&Sons (hlm. 858)
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Depkes (hlm. 1)
Hadi, Daryono dkk. 2014. Organic and Physical Pharmaceutical Chemistry. Bandung: Sekolah
Farmasi, Institut Teknologi Bandung. (hlm 30-31)
Martin, et al. 2011. Dasar-dasar kimia fisik dalam ilmu farmasetik edisi ketiga. Jakarta : UIO
press.(halaman 558-565)
http:/www.academia.edu/4086294/Farmasi-fisika-kelarutan (diakses pada 5 Maret 2014 pkl 22.27
WIB)