Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH


PEMBUATAN KOMPOS

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I
1. Anadiya Morlina

(061330401007)

2. Ariyo Dwi Saputra

(061330401008)

3. Jannatul Fitri

(061330401011)

4. Mega Silvia

(0613304010

5. M. Dody Apriliyana

(0613304010

6. Rifa Nurjihanty

(0613304010

7. Siti Nurjannah

(0613304010

KELAS

: 2KD

INSTRUKTUR : Ir. Siti Chodijahh, M.T.

LABORATURIUM TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG

PEMBUATAN KOMPOS

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Membuat pupuk organik / kompos dengan menggunakan EM4 dengan bahan
tanah bakar.

II.

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


-

Alat
1. Kantong Polibag
2. Termometer
3. Batang pengaduk
4. Baskom
5. Gelas kimia
6. Neraca
7. Spatula
8. Mistar

Bahan
1. EM4 / stardex
2. Sampah kota
3. Tetes tebu / gula
4. Air secukupnya
5. Pupuk kandang/ tanah bakar

III.

DASAR TEORI

Pengomposan dapat didefinisikan sebagai degradasi biokimia bahan organik menjadi


humus. Bentuk sederhana pengomposan dilakukan secara anaerobik yang sering
menimbulkan gas seperti indol, skatol dan merkaptan pada suhu rendah. Proses
pengomposan secara aerobik membutuhkan oksigen yang cukup dan tidak menghasilkan
gas yang berbahaya seperti pada anaerobik (Gumbira, E, 1992).

Proses pengomposan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ukuran, bahan,


kadar air, aerasi, pH, suhu dan perbandingan C dan N. Ukuran partikel penting karena
bakteri dan jamur akan lebih mudah hidup pada ukuran partikel yang lebih kecil.
Kadar air yang optimum penting untuk menghasilkan kompos yang baik karena
semua organisme membutuhkan air bagi kelangsungan hidupnya. Air adalah bahan penting
protoplasma sel yang berfungsi sebagai pelarut makanan. Kadar air dibawah 20%
mengakibatkan proses metabolisme terhambat dan berjalan lambat jika kadar air diatas
60%.
Ketersediaan oksigen pada proses pengomposan secara aerobik merupakan hal
yang penting. Proses yang dilakukan secara aerobik lebih efisien daripada anaerobik dalam
menguraikan bahan organik.
Mikroorganisme sensitif terhadap perubahan suhu proses. Mikroorganisme
mesafilik hidup pada suhu 8-45C dan termofilik tumbuh dan aktif dibawah suhu 65C,
tetapi aktivitas biologisnya dapat berlangsung sampai suhu 65-90C.
Aktivitas organisme dipertinggi dengan adanya nutrien yaitu karbon (C) sebagai
sumber energi dan nitrogen (N) sebagai zat pembentuk protoplasma sehingga karbon lebih
banyak dibutuhkan daripada nitrogen, perbandingan C dengan N yang efektif untuk
pengomposan.

Teori tambahan
Macam Macam Pupuk Organik dan Anorganik Pengertian Serta Unsur Mikro
PENGERTIAN PUPUK
Dalam arti luas yang dimaksud pupuk ialah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah
sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan
tanaman.
Dalam pengertian yang khusus pupuk ialah suatu bahan yamg mengandung satu atau lebih
hara tanaman.
PENGERTIAN
PUPUK
SECARA
LAIN
PUPUK adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk
mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan
baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk
berbeda dari suplemen tambahan. Pupuk mengandung bahan baku pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormontumbuhan membantu
kelancaran proses metabolisme. Ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat
ditambahkan sejumlah material suplemen.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan

tidak mendapat terkaku banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyan zat
makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun
disemprotkan
ke
daun.

KATEGORI

PUPUK

Pupuk dapat dibedakan berdasarkan bahan asal, senyawa, fasa, cara penggunaan, reaksi
fisiologi,
jumlah
dan
macam
hara
yang
dikandungnya.
Berdasarkan asalnya dibedakan :
1. Pupuk alam ialah pupuk yang terdapat di alam atau dibuat dengan bahan alam
tanpa proses yang berarti. Misalnya : pupuk kompos, guano, pupuk hijau dan
pupuk batuan P.
2. Pupuk buatan ialah pupuk yang dibuat oleh pabrik. Misalnya TSP, urea, rustika dan
nitrophoska. Pupuk ini dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam
melalui proses fisika dan / atau kimia.

Berdasarkan senyawanya dibedakan :


1. Pupuk organik ialah pupuk yang berupa senyawa organik. Kebanyakan pupuk alam
tergolong pupuk organik ( pupuk kandang, kompos, guano ). Pupuk alam yang
tidak termasuk pupuk organik misalnya rock phosphat, umumnya berasal dari
batuan sejenis apatit [ Ca3(PO4)2].
2. Pupuk anorganik atau mineral merupakan pupuk dari senyawa anorganik. Hampir
semua pupuk buatan tergolong pupuk anorganik.

Berdasarkan fasa-nya dibedakan :


1. Pupuk padat. Pupuk padat umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai
yang mudah larut air sampai yang sukar larut.
2. Pupuk cair. Pupuk ini berupa cairan, cara penggunaannya dilarutkan dulu dengan
air. Umumnya pupuk ini disemprotkan ke daun. Karena mengandung banyak hara,
baik makro maupun mikro, harganya relatif mahal. Pupuk amoniak cair merupakan
pupuk cair yang kadar N nya sangat tinggi sekitar 83%, penggunaannya dapat
lewat tanah (injeksikan).

Berdasarkan cara penggunaannya dibedakan :


1. Pupuk daun ialah pupuk yang cara pemupukan dilarutkan dalam air dan
disemprotkan pada permukaan daun.
2. Pupuk aksr atau pupuk tanah ialah pupuk yang diberikan ke dalam tanah disekitar
akar agar diserap oleh akar tanaman.

Berdasarkan reaksi fisiologisnya dibedakan :


1. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologisnya masam artinya bila pupuk tersebut
diberikan ke dalam tanah ada kecenderungan tanah menjadi lebih masam (pH
menjadi lebih rendah). Misalnya Za dan urea.
2. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis basis ialah pupuk yang bila diberikan ke
dalam tanah menyebabkan pH tanah cenderung naik misalnya: pupuk chili salpeter,
calnitro, kalsium sianida.

Berdasarkan jumlah hara yang dikandungnya dibedakan :


1. Pupuk yang hanya mengandung satu hara tanaman saja. Misalnya : urea hanya
mengandung hara N, TSP hanya dipentingkan P saja (sebetulnya mengandung Ca).
2. Pupuk majemuk ialah pupuk yang mengandung dua atau lebih dua hara tanaman.
Contohnya: NPK, amophoska, Nitrophoska dan rustika.

Berdasarkan macam hara tanaman dibedakan :


1. Pupuk makro ialah pupuk yang mengandung hanya hara makro saja : NPK,
nitrophoska, gandasil.
2. Pupuk mikro ialah pupuk yang hanya mengandung hara mikro saja misalnya:
mikrovet, mikroplet, metalik.
3. Campuran makro dan mikro misalnya pupuk gandasil, bayfolan, rustika. Sering
juga ke dalam pupuk campur makro dan mikro ditambahkan juga zat pengatur
tumbuh (hormon tumbuh).

Macam macam pupuk organik


1. PUPUK HIJAU
Pupuk hijau terbuat dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam
tanah. Jenis tanaman yang banyak digunakan adalah dari familia Leguminoceae atau
kacang-kacangan dan jenis rumput-rumputan (rumput gajah). Jenis tersebut dapat
menghasilkan bahan organik lebih banyak, daya serap haranya lebih besar dan mempunyai
bintil akar yang membantu mengikat nitrogen dari udara.
Keuntungan penggunaan pupuk hijau antara lain:
1. Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air
2. Mencegah adanya erosi
3. Dapat membantu mengendalikan hama dan penyakit yang berasal dari tanah dan
gulma jika ditanam pada waktu tanah bero

4. Sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk
inorganik

Namun pupuk hijau juga memiliki kekurangan yaitu:


Tanaman hijau dapat sebagai kendala dalam waktu, tenaga, lahan, dan air pada pola tanam
yang menggunakan rotasi dengan tanaman legume dapat mengundang hama ataupun
penyakit dapat menimbulkan persaingan dengan tanaman pokok dalam hal tempa, air dan
hara pada pola pertanaman tumpang sari
2. PUPUK KOMPOS
Pupuk kompos merupakan bahan-bahan organik yang telah mengalami pelapukan, seperti
jerami, alang-alang, sekam padi, dan lain-lain termasuk kotoran hewan. Sebenarnya pupuk
hijau dan seresah dapat dikatakan sebagai pupuk kompos. Tetapi sekarang sudah banyak
spesifisikasi mengenai kompos.
Biasanya orang lebih suka menggunakan limbah atau sampah domestik yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan bahan yang dapat diperbaharui yang tidak tercampur logam dan
plastik. Hal ini juga diharapkan dapat menanggulangi adanya timbunan sampah yang
menggunung serta mengurangi polusi dan pencemaran di perkotaan.
3. PUPUK KANDANG
Para petani terbiasa membuat dan menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk karena
murah, mudah pengerjaannya, begitu pula pengaruhnya terhadap tanaman. Penggunaan
pupuk ini merupakan manifestasi penggabungan pertanian dan peternakan yang sekaligus
merupakan syarat mutlak bagi konsep pertanian. Pupuk kandang mempunyai keuntungan
sifat yang lebih baik daripada pupuk organik lainnya apalagi dari pupuk anorganik, yaitu
pupuk kandang merupakan humus banyak mengandung unsur-unsur organik yang
dibutuhkan di dalam tanah. Oleh karena itu dapat mempertahankan struktur tanah sehingga
mudah diolah dan banyak mengandung oksigen.
Penambahan pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan dan produksi pertanian. Hal
ini disebabkan tanah lebih banyak menahan air sehingga unsur hara akan terlarut dan lebih
mudah diserap oleh buluh akar. Sumber hara makro dan mikro dalam keadaan seimbang
yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur mikro yang
tidak terdapat pada pupuk lainnya bisa disediakan oleh pupuk kandang, misalnya S, Mn,
Co, Br, dan lain-lain. Pupuk kandang banyak mengandung mikroorganisme yang dapat
membanru pembetukan humus di dalam tanah dan mensintesa senyawa tertentu yang
berguna bagi tanaman, sehingga pupuk kandang merupakan suatu pupuk yang sangat
diperlukan bagi tanah dan tanaman dan keberadaannya dalam tanah tidak dapat digantikan
oleh pupuk lain.
4. PUPUK SERESAH
Pupuk seresah merupakan suatu pemanfaatan limbah atau komponen tanaman yang sudah
tidak terpakai. Misal jerami kering, bonggol jerami, rumput tebasan, tongkol jagung, dan
lain-lain. Pupuk seresah sering disebut pupuk penutup tanah karena pemanfaatannya dapat
secara langsung, yaitu ditutupkan pada permukaan tanah di sekitar tanaman (mulsa).
Peranan pupuk ini diantaranya :

Dapat menjaga kelembaban tanah, mengurangi penguapan, penghematan pengairan


Mencegah erosi, permukaan tanah yang tertutup mulsa tidak mudah larut dan
terbawa air
Menghambat adanya pencucian unsur hara oleh air dan aliran permukaan
Menjaga tekstur tanah tetap remah
Menghindari kontaminasi penyakit akibat percikan air hujan
Memperlancar kegiatan jasad renik tanah sehingga membantu menyuburkan tanah
dan sumber humus.

5. PUPUK CAIR
Pupuk organik bukan hanya berbentuk padat dapat berbentuk cair seperti pupuk anorganik.
Pupuk cair sepertinya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman karena unsur-unsur di
dalamnya sudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga manfaatnya
lebih cepat terasa. Bahan baku pupuk cair dapat berasal dari pupuk padat dengan perlakuan
perendaman. Setelah beberapa minggu dan melalui beberapa perlakuan, air rendaman
sudah dapat digunakan sebagai pupuk cair.

Pupuk organik bukan hanya berbentuk padat dapat berbentuk cair seperti pupuk anorganik.
Pupuk cair sepertinya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman karena unsur-unsur di
dalamnya sudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga manfaatnya
lebih cepat terasa. Bahan baku pupuk cair dapat berasal dari pupuk padat dengan perlakuan
perendaman. Setelah beberapa minggu dan melalui beberapa perlakuan, air rendaman
sudah
dapat
digunakan
sebagai
pupuk
cair.

PUPUK
ANORGANIK
Secara umum ada dua jenis pupuk anorganik yang tersedia di pasaran :
1. PUPUK TUNGGAL : Pupuk yang dibuat dari satu unsur secara dominan.
Contohnya : Urea yang mengandung N, TSP atau SP 36 dengan P, dan KCl atau ZK
dengan unsur K yang dominan.
2. PUPUK MAJEMUK : Pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur.
Contoh : pupuk DAP dan Amofos yang terbuat dari N dan P. Pupuk majemuk juga bisa
tersusun dari 3 unsur. Sebut juga Rustika Yellow dan Mutiara. Kedua pupuk itu dilengkapi
dengan kandungan N, P, dan K. Produsen pupuk biasanya juga menambahkan unsur-unsur
mikro seperti Fe, B, Mo, Mn, dan Cu.
JENIS-JENIS PUPUK DAN CARA APLIKASINYA
Pupuk didefinisikan sebagai material yang ditambahkan ketanah atau tajuk tanaman
dengan tujuan untuk melengkapi katersediaan unsur hara. Bahan pupuk yang paling awal
adalah kotoran hewan, sisa pelapukan tanaman dan arang kayu. Pemakaian pupuk kimia
kemudian berkembang seiring dengan ditemukannya deposit garam kalsium di Jerman
pada tahun 1839.
Dalam pemilihan pupuk perlu diketahui terlebih dahulu jumlah dan jenis unsur hara yang
dikandungnya, serta manfaat dari berbagai unsur hara pembentuk pupuk tersebut. Setiap
kemasan pupuk yang diberi label yang menunjukkan jenis dan unsur hara yang

dikandungnya. Kadangkala petunjuk pemakaiannya juga dicantumkan pada


kemasan.karena itu, sangat penting untuk membaca label kandungan pupuk sebelum
memutuskan untuk membelinya. Selain menentukan jenis pupuk yang tepat, perlu
diketahui juga cara aplikasinya yang benar, sehingga takaran pupuk yang diberikan dapat
lebih efisien. Kesalahan dalam aplikasi pupuk akan berakibat pada terganggunya
pertumbuhan tanaman. Bahkan unsur hara yang dikandung oleh pupuk tidak dapat
dimanfaatkan tanaman.
A. Penggolongan Pupuk
Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk
organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui
proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya adalah pupuk kompos
dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang
berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara
yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah. Sesuai dengan namanya,
kandungan bahan organik pupuk ini termasuk tinggi.
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan
cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki prosentase kandungan hara yang
tinggi. Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya, pupuk anorganik dapat dibagi
menjadi dua yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur
hara yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya berupa unsur hara makro primer,
misalnya urea hanya mengandung unsur nitrogen.
Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara.
Penggunaan pupuk ini lebih praktis karena hanya dengan satu kali penebaran, beberapa
jenis unsur hara dapat diberikan. Namun, dari sisi harga pupuk ini lebih mahal. Contoh
pupuk majemuk antara lain diamonium phospat yang mengandung unsur nitrogen dan
fosfor.
Menurut cara aplikasinya, pupuk buatan dibedakan menjadi dua yaitu pupuk daun dan
pupuk akar. Pupuk daun diberikan lewat penyemprotan pada daun tanaman. Contoh pupuk
daun adalah Gandasil B dan D, Grow More, dan Vitabloom. Pupuk akar diserap tanaman
lewat akar dengan cara penebaran di tanah. Contoh pupuk akar adalah urea, NPK, dan
Dolomit.
Menurut cara melepaskan unsur hara, pupuk akar dibedakan menjadi dua yakni pupuk fast
release dan pupuk slow release. Jika pupuk fast release ditebarkan ke tanah dalam waktu
singkat unsur hara yang ada atau terkandung langsung dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
Kelemahan pupuk ini adalah terlalu cepat habis, bukan hanya karena diserap oleh tanaman
tetapi juga menguap atau tercuci oleh air. Yang termasuk pupuk fast release antara lain
urea, ZA dan KCL.
Pupuk slow release atau yang sering disebut dengan pupuk lepas terkendali (controlled
release) akan melepaskan unsur hara yang dikandungnya sedikit demi sedikit sesuai
dengan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, manfaat yang dirasakan dari satu kali
aplikasi lebih lama bila dibandingkan dengan pupuk fast release. Mekanisme ini dapat
terjadi karena unsur hara yang dikandung pupuk slow release dilindungi secara kimiawi
dan mekanis.

Perlindungan secara mekanis berupa pembungkus bahan pupuk dengan selaput polimer
atau selaput yang mirip dengan bahan pembungkus kapsul. Contohnya, polimer coated
urea dan sulfur coated urea. Perlindungan secara kimiawi dilakukan dengan cara
mencampur bahan pupuk menggunakan zat kimia, sehingga bahan tersebut lepas secara
terkendali. Contohnya Methylin urea, Urea Formaldehide dan Isobutilidern Diurea. Pupuk
jenis ini harganya sangat mahal sehingga hanya digunakan untuk tanaman-tanaman yang
bernilai ekonomis tinggi.
B. Jenis-jenis Pupuk
1. Pupuk Sumber Nitrogen
Hampir seluruh tanaman dapat menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat atau amonium yang
disediakan oleh pupuk. Nitrogen dalam bentuk nitrat lebih cepat tersedia bagi tanaman.
Amonium juga akan diubah menjadi nitrat oleh mikroorganisme tanah, kecuali pada
tembakau dan padi. Tembakau tidak dapat mentoleransi jumlah amonium yang tinggi.
Untuk menyediakan nitrogen pada tembakau, gunakan pupuk berbentuk nitrat (NO3-)
dengan kandungan nitrogen minimal 50%. Pada padi sawah, lebih baik gunakan pupuk
berbentuk amonium (NH4+) karena pada tanah yang tergenang, nitrogen mudah berubah
menjadi gas N2. umumnya pupuk dengan kadar N yang tinggi dapat membakar daun
tanaman sehingga pemakaiannya perlu lebih hati-hati.
a. Amonium Nitrat
Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok untuk daerah dingin dan daerah panas.
Pupuk ini dapat membakar tanaman jika diberikan terlalu dekat dengan akara atau
langsung kontak dengan daun. Ketersediaan bagi tanaman sangat cepat sehingga frekuensi
pemberiannya harus lebih sering. Amonium nitrat bersifat higroskopis sehingga tidak
dapat disimpan terlalu lama.
b. Amonium Sulfat (NH4)2 SO4
Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA. Mengandung 21% nitrogen (N) dan 26% sulfur
(S), berbentuk kristal dan kurang higroskopis. Reaksi kerjanya agak lambat sehingga
cocok untuk pupuk dasar. Sifat reksinya asam, sehingga tidak disarankan untuk tanah berpH rendah. Selain itu, pupuk ini sangat baik untuk sumber sulfur. Lebih disarankan dipakai
didaerah panas.
c. Kalsium Nitrat
Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut didalam air, dan sebagai
sumber kalsium yang sangat baik karena mengandung 19% kalsium Ca. sifat lainnya
adalah bereaksi basa dan higroskopis.
d. Urea (CO(NH2)2)
Pupuk urea mengandung 46% nitrogen (N). Karena kandungan N yang tinggi
menyebabkan pupuk ini sangat higroskopis. Urea sangat mudah larut dalam air dan
bereaksi cepat, juga menguap dalam bentuk amonia.
2. Pupuk Sumber Fosfor
a. SP36
Mengandung 36% fosfor dalam bentuk P2O5.pupuk ini terbuat dari fosfat alam dan sulfat.
Berbentuk butiran dan berwarna abu-abu. Sifatnya agak sulit larut dalam air dan bereaksi

lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar. Reaksi kimianya tergolong netral,
tidak higroskopis dan bersifat membakar.
b. Amonium Phospat
Monoamonium Phospat (MAP) memiliki analisis 11.52.0. Diamonium Phospat memiliki
(DAP) analisis 16.48.0 atau 18.46.0. pupuk ini umumnya digunakan untuk merangsang
pertumbuhan awal tanaman (styarter fertillizer). Bentuknya berupa butiran berwarna
cokelat kekuningan. Reaksinya termasuk alkalis dan mudah larut di dalam air. Sifat
lainnya adalah tidak higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama dan tidak bersifat
membakar karena indeks garamnya rendah.
3. Pupuk Sumber Kalium
a. Kalium Chlorida (KCl)
Mengandung 45% K2O dan khlor, bereaksi agak asam, dan bersifat higroskopis. Khlor
berpengaruh negatif terhadap tanaman yang membutuhkannya, misalnya kentang, wortel
dan tembakau.
b. Kalium Sulfat (K2SO4)
Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK. Kadar K2O-nya sekitar 48-52%. Bentuknya
berupa tepung putih yang larut didalam air, sifatnya agak mengasamkan tanah. Dapat
digunakan untuk pupuk dasar sesudah tanam. Tanaman yang peka terhadap keracunan
unsur Cl, seperti tembakau disarankan untuk menggunakan pupuk ini.
c. Kalium Nitrat (KNO3
Mengandung 13% N dan 44% K2O. berbentuk butiran berwarna putih yang tidak bersifat
higroskopis dengan reaksi yang netral.
4. Pupuk Sumber Unsur Hara Sekunder
a. Kapur Dolomit
Berbentuk bubuk berwarna putih kekuningan. Dikenal sebagai bahan untuk menaikkan pH
tanah. Dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang cukup baik. Kelarutannya
agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh ukuran butiran. Semakin halus
butirannya akan semakin baik kualitasnya.
b. Kapur Kalsit
Berfungsi untuk meningkatkan pH tanah. Dikenal sebagai kapur pertanian yang berbentuk
bubuk. Warnanya putih dan butirannya halus. Pupuk ini mengandung 90-99% Ca. Bersifat
lebih cepat larut dalam air.
c. Paten Kali (Kalium Magnesium Sulfat)
Berbentuk butiran berwarna kuning. Mengandung 30% K2O, 12% S, dan 12% MgO.
Sifatnya agak sukar larut dalam air. Selain untuk memperbaiki defisiensi Mg, pupuk ini
juga bermanfaat untuk memperbaiki kejenuhan basa pada tanah asam.
d. Kapur Gypsum
Berbentuk bubuk dan berwarna putih. Mengandung 39% Ca, 53% S dan sedikit Mg.
Ditebarkan dalam sekali aplikasi. Jika terkena air, gypsum yang ditebarkan akan
menggumpal dan mengeras seperti tanah liat (cake). Gypsum digunakan untuk menetralisir

tanah yang terganggu karena kadar garam yang tinggi, misalnya pada tanah di daerah
pantai. Aplikasi gypsum tidak banyak berpengaruh pada perubahan pH tanah.
e. Bubuk Belerang (Elemental Sulfur)
Umumnya, sulfor disuplai dalam bentuk sulfat yang terdapat pada berbagai jenis pupuk.
Kandungan sulfat tersebut tidak berpengaruh dalam penurunan pH tanah. Selain terdapat
dalam berbagai jenis pupuk, bubuk belerang adalah sumber sulfur yang terbesar,
kandungannya dapat mencapai 909%. Namun, bubuk ini tidak lazim digunakan untuk
mengatasi masalah defisiensi sulfur, tetapi tidak lebih banyak digunakan untuk
menurunkan pH tanah. Penggunaannya tidak boleh melebihi 25 gram/m2, karena bubuk
sulfur dapat mengakibatkan gejala terbakarnya daun tanaman (burning effect).
5. Pupuk Sumber Unsur Hara Mikro
Saat ini kebutuhan pupuk mikro sudah mulai terasa di Indonesia. Beberapa hasil penelitian
melaporkan bahwa tanaman padi sawah dan teh di beberapa daerah di Jawa sudah memulai
membutuhkan tambahan Zn dari pupuk.
Pupuk sebagai unsur hara mikro tersedia dalam dua bentuk, yakni bentuk garam anorganik
dan bentuk organik sintesis. Kedua bentuk ini mudah larut dalam air. Contoh pupuk mikro
yang berbentuk garam organik adalah Cu, Fe, Zn dan Mn yang seluruhnya bergabung
dengan sulfat. Sebagai sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang
banyak digunakan sebagai pupuk daun. Sumber Mo umumnya menggunakan sodium atau
amonium molibdat.
Bentuk organik sintesis ditandai dengan adanya agen pengikat unsur logam yang disebut
chelat. Chelat adalah bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti yang
dilakukan oleh koloid tanah. Unsur hara mikro yang tersedia dalam bentuk chelat adalah
Fe, Mn, Cu, dan Zn.
Selain disediakan oleh kedua jenis pupuk diatas, unsur hara mikro juga disediakan oleh
pupuk majemuk yang beredar di pasaran. Pupuk slow release dan pupuk daun biasanya
dilengkapi dengan satu atau lebih unsur mikro.
a. Pupuk Majemuk
Pemakaian pupuk majemuk saat ini sudah sangat luas. Berbagai merk, kualitas dan analisis
telah tersedia di pasaran.kendati harganya relatif lebih mahal, pupuk majemuk tetap dipilih
karena kandungan haranya lebih lengkap. Pupuk majemuk berkualitas prima memiliki
besaran butiran yang seragam dan tidak terlalu higroskopis, sehingga tahan disimpan dan
tidak cepat menggumpal. Hampir semua pupuk majemuk bereaksi asam, kecuali yang
telah mendapatkan perlakuan khusus, seperti penambahan Ca dan Mg.
Variasi analisis pupuk mejemuk sangat banyak. Meskipun demikian, perbedaan variasinya
bisa jadi sangat kecil, misalnya antara NPK 15.15.15 dan NPK 16.16.16. Variasi analisis
pupuk, seperti 15.15.15, 16.16.16, dan 20.20.20 menunjukkan ketersediaaan unsur hara
yang seimbang. Fungsi pupuk majemuk dengan variasi analisis seperti ini antara lain untuk
mempercepat perkembangan bibit; sebagai pupuk pada awal peneneman; dan sebagai puk
susulan saat tanaman memasuki fase generatif, seperti saat mulai berbunga.

Dalam memilih pupuk majemuk perlu dipertimbangkan beberapa faktor, antara lain
kandungan unsur hara yang tinggi, kandungan unsur hara mikro dan harga
perkilogramnya.contoh cara mempertimbangkan pemilihan pupuk majemuk, variasi
analisis pupuk NPK 20.20.20 memiliki kandungan hara yang lebih tinggi daripada NPK
15.15.15, tetapi sifatnya sangat higroskopis sehingga mudah sekali menggumpal. Karena
itu, variasi analisis pupuk ini sebaiknya tidak dipilih karena bagian yang menggumpal
tidak dapat digunakan.
b. Pupuk Daun
Daun memiliki mulut yang dukenal dengan nama stomata. Sebagian besar stomata terletak
di bagian bawah daun. Mulut daun ini berfungsi untuk mengatur penguapan air dari
tanaman sehingga air dari akar dapat sampai daun. Saat suhu udara terlalu panas, stomata
akan menutup sehingga tanaman tidak akan mengalami kekeringan. Sebaliknya, jika udara
tidak terlalu panas, stomata akan membuka sehingga air yang ada di permukaan daun
dapat masuk dalam jaringan daun. Dengan sendirinya unsur hara yang disemprotkan ke
permukaan daun juga masuk ke dalam jaringan daun.
Sebenarnya, kandungan unsur hara pada pupuk daun identik dengan kandungan unsur hara
pada pupuk majemuk. Bahkan pupuk daun sering lebih lengkap karena ditambah oleh
beberapa unsur mikro. Pemilihan analisis yang tepat pada pupuk daun perlu
mempertimbangkan beberapa faktor yang sama dengan analisis pada pupuk majemuk.
Hanya saja, faktor sifat fisik dan kimia tanah tidak dijadikan sebagai faktor utama. Sebagai
faktor utamanya adalah manfaat tiap unsur hara yang dikandung oleh pupuk daun bagi
perkembangan tanaman dan peningkatan hasil panen.
Pupuk daun berbentuk serbuk dan cair. Kualitasnya dianggap baik jika mudah larut di
dalam air tanpa menyisakan endapan. Karena mudah larut dalam air, sifat pupuk daun
menjadi sangat higroskopis. Akibatnya tidak dapat disimpan terlalu lama jika kemasannya
telah dibuka.
Kentungan menggunakan pupuk daun antara lain respon terhadap tanaman sangat cepat
karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Selain itu, tidak menimbulkan kerusakan
sedikitpun pada tanaman, dengan catatan aplikasinya dilakukan secara benar. Dalam
pemakaian pupuk daun dikenal istilah konsentrasi pupuk atau kepekatan larutan pupuk.
Besarnya konsentrasi pupuk daun dinyatakan dalam bobot pupuk daun yang harus
dilarutkan kedalam satuan volume air. Penentuan volume air dapat diketahui dengan
membaca skala pada alat semprot. Angka konsentrasi ini sering dicantumkan p[ada
kemasan pupuk. Jika konsentrasi pupuk yang digunakan melebihi konsentrasi yang
disarankan, daun akan terbakar.
Penyemprotan pupuk daun idealnya dilakukan pada pagi atau pada sore hari karena
bertepatan pada saat membukanya stomata. Prioritaskan penyemprotan pada bagian bawah
daun karena paling banyak terdapat stomata. Faktor cuaca termasuk kunci sukses dalam
penyemprotan pupuk daun. Dua jam setelah penyemprotan jangan sampai terkena hujan
karena akan mengurangi efektifitas penyerapan pupuk. Tidak disarankan menyemprotkan
pupuk daun pada saat suhu udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk yang
sampai ke daun cepat meningkat sehingga daun dapat terbakar. Contoh pupuk daun yang
beredar di pasaran yaitu Gandasil Daun 14.12.14 dilengkapi dengan Mn, Mg, B, Cu dan
Zn.

c. Pupuk Organik
Kandungan unsur hara yang terdapat di dalam pupuk organik jauh lebih kecil daripada
yang sempat di dalam pupuk buatan. Cara aplikasinya juga lebih sulit karena pupuk
organik dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar daripada pupuk kimia dan tenaga kerja
yang diperlukan juga lebih banyak. Namun, hingga sekarang pupuk organik tetap
digunakan karena fungsinya belum tergantikan oleh pupuk buatan. Berikut ini beberapa
manfaat dari pupuk organik.
Mampu menyediakan unsur hara makro dan mikro meskipun dalam jumlah yang jauh
lebih kecil.
Memperbaiki granulasi tanah berpasir dan tanah padat sehingga dapat meningkatkan
kualitas aerasi, memperbaiki drainase tanah, dan meningkatkan kemampuan tanah dalam
menyimpan air.
Mengandung asam humat (humus) yang mampu meningkatkan kapasitas tukar kation
tanah.
Penambahan pupuk organik dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah.
Pada tanah asam, penambahan pupuk organik dapat membantu meningkatkan pH tanah.
Penggunaan pupuk organik tidak menyebabkan polusi tanah dan air.
Jenis pupuk organik yang banyak dikenal sebagai berikut
- Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak. Kualitas pupuk
kandang sangat tergantung pada jenis ternak, kualitas pakan ternak, dan cara penampungan
pupuk kandang.
Pupuk kandang dari ayam atau unggas memiliki unsur hara yang lebih besar daripada jenis
ternak lain. Penyebabnya adalah kotoran padat pada unggas tercampur dengan kotoran
cairnya. Umumnya, kandungan unsur hara pada urine selalu lebih tinggi daripada kotoran
padat.seperti kompos, sebelum digunakan, pupuk kandang perlu mengalami proses
penguraian. Dengan demikian kualitas pupuk kandang juga turut ditentukan oleh C/N
rasio.
Dalam dunia pupuk kandang, dikenal istilah pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk panas
adalah pupuk kandang yang proses penguraiannya berlangsung cepat sehingga terbentuk
panas. Pupuk dingin terjadi sebaliknya, C/N yang tinggi menyebabkan pupuk kandang
terurai lebih lama dan tidak menimbulkan panas.
Ciri-ciri pupuk kandang yang baik dapat dilihat secara fisik atau kimiawi. Ciri fisiknya
yaitu berwarna cokelat kehitaman, cukup kering, tidak menggumpal, dan tidak berbau
menyengat. Ciri kimiawinya adalah C/N rasio kecil (bahan pembentuknya sudah tidak
terlihat) dan temperaturnya relatif stabil.
- Kompos
Kompos adalah kasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas
mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos ditentukan oleh besarnya perbandingan antara
jumlah karbon dan nitrogen (C/N ratio).

Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna.
Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibanding
dengan C/N rasio rendah. Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara
12-15.
Bahan kompos seperti sekam, jerami padi, batang jagung dan serbuk gergaji memiliki C/N
rasio antara 50-100. daun segar memiliki C/N rasio sekitar 10-20. Proses pembuatan
kompos akan menurunkan C/N rasio hingga 12-15. sampai dengan proses penguraian
sempurna, tanaman akan bersaing dengan mikroorganisme tanah untuk memperebutkan
unsur hara. Karena itu disarankan untuk menambah pupuk buatan apabila bahan kompos
yang belum terurai sempurna terpaksa digunakan.
Kandungan unsur hara dalam kompos sangat bervariasi. Tergantung dari jenis bahan asal
yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Kandungan unsur hara kompos sebagai
berikut.
- Nitrogen 0,1 0,6%
- Fosfor 0,1 0,4%
- Kalium 0,8 1,5%
- Kalsium 0,8 1,5%
Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna cokelat kehitaman, agak lembab, gembur dan
bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi. Penggunaan dosis tertentu pada pupuk
kompos lebih berorientasi untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah daripada untuk
menyediakan unsur hara.
- Mikroba Penyubur Tanah
Kemajuan ilmu mikrobiologi tanah berhasil memperbanyak mikroba tanah yang
bermanfaat dan mengemasnya sebagai pupuk cair. Mikroba yang telah dikemas ini
kemudian disemprotkan ke tanah hingga berkembang biak dan memberi dampak positif
bagi kesuburan tanah.
Jenis bakteri dan jamur yang biasa digunakan diantaranya Rhizobium, Lactobacillus,
Streptomyces, Micoriza, dan Aspergillus. Jenis dan fungsi mikroba sangat beragam, cara
penggunaanpun berbeda-beda. Karena itu sebaiknya baca petunjuk pada label atau brosur
dengan seksamasebelum menggunakannya.
Mikroba juga membutuhkan waktu untuk berkembang biak sehingga hasil aplikasi
mikroba penyubur tanah tidak langsung terlihat pada tanaman. Jumlah mikroba yang telah
disemprotkan pun sangat mungkin akan berkurang karena faktor cuaca. Aplikasi mikroba
sebaiknya dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali. Alat semprot yang
digunakan sebaiknya bukan yang biasa dipakai untuk menyemprot pestisida, karena
pestisida akan mematikan mikroba. Selain itu, tidak disarankan menyemprotkan pestisida
terutama fungisida pada tanah yang telah diaplikasi mikroba.

C. Cara Aplikasi
1. Cara Aplikasi Pupuk Kimia
a. Larikan
Caranya, buat parit kecil disamping barisan tanaman sedalam 6-10 cm. Tempatkan pupuk
di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali. Cara ini dapat dilakukan pada satu atau
kedua sisi baris tanaman. Pada jenis pepohonan, larikan dapat dibuat melingkar di
sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk. Pupuk yang tidak mudah
menguap dapat langsung ditempatkan di atas tanah.
Setelah itu, larikan tidak perlu ditutup kembali dengan tanah. Hindari membuat larikan
hanya pada salah satu sisi baris tanam karena menyebabkan perkembangan akar tidak
seimbang. Karena itu, aplikasi pupuk kedua harus ditempatkan pada sisi yang belum
mendapatkan pupuk (bergantian). Biasanya cara ini dilakukan untuk memberikan pupuk
susulan. Tanaman dengan pertumbuhan cepat dan perakaran yang terbatas disarankan
untuk menggunakan cara larikan.
b. Penebaran Secara Merata di Atas Permukaan Tanah
Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman. Setelah penebaran pupuk, lanjutkan
dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur dan pupuk organik. Cara ini
menyebabkan distribusi unsur hara dapat merata sehingga perkembangan akarpun lebih
seimbang. Tidak disarankan untuk menebar pupuk urea karena sangat mudah menguap.
c. Pop Up
Caranya, pupuk dimasukkan ke lubang tanam pada saat penanaman benih atau bibit.
Pupuk yang digunakan harus memiliki indeks garam yang rendah agar tidak merusak
benih atau biji. Cara ini lazim menggunakan pupuk jenis SP36, pupuk organik, atau pupuk
slow release.
d. Penugalan
Caranya, tempatkan pupuk ke dalam lubang di samping tanaman sedalam 10-15 cm.
Lubang tersebut dibuat dengan alat tugal. Kemudian setelah pupuk dimasukkan, tutup
kembali lubang dengan tanah untuk menghindari penguapan. Cara ini dapat dilakukan
disamping kiri dan samping kanan baris tanaman atau sekeliling pohon. Jenis pupuk yang
dapat diaplikasikan dengan cara ini adalah pupuk slow release dan pupuk tablet.
e. Fertigasi
Pupuk dilarutkan dalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi. Lazimnya,
cara ini dilakukan untuk tanaman yang pengairannya menggunakan sistem sprinkle. Cara
ini telah banyak diterapkan pada pembibitan tanaman Hutan Tanaman Industri (HTI),
lapangan golf, atau nursery tanaman yang bernilai ekonomi tinggi. Lewat cara ini, akurasi
dan penyerapan pupuk oleh akar dapat lebih tinggi.
Pada pertanian intensif pemupukan sering dilakukan berkali-kali sehingga beberapa cara
diatas dapat dilakukan bersama-sama dalam satu musim tanam.
2. Cara Aplikasi Pupuk Organik
Tanah berpasir, bekas pertambangan, tanah tererosi, atau tanah sangat padat yang mudah
retak pada musim kemarau, sebaiknya diberi pupuk organik dalam jumlah besar sebelum
digunakan untuk bercocok tanam. Setelah diberi pupuk organik, dilanjutkan dengan

pengolahan tanah. Kedua perlakuan tersebut dilakukan supaya sifat fisik tanah membaik
dan pemakaian pupuk kimia menjadi lebih efisien.
Kebutuhan dosis pupuk organik yang sangat besar seringkali menyulitkan proses
penebarannya. Namun, sekarang telah dipasarkan pupuk organik yang dipadatkan dalam
bentuk pelet atau konsentrat. Pupuk organik dalam bentuk tersebut lebih mudah
diaplikasikan dan dosis yang diperlukan menjadi lebih kecil. Pupuk organik seperti ini
diantaranya dipasarkan dengan merk dagang Ostindo, OCF, dan Green Pride.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi pupuk organik adalah sebagai
berikut.
- penebaran pupuk organik sebaiknya diikuti dengan pengolahan tanah seperti pembajakan
atau penggemburan tanah agar pupuk organik dapat mencapai lapisan tanah yang lebih
dalam.
- Pemberian pupuk organik dengan dosis kecil tetapi sering lebih baik dari pada dosis
banyak yang diberikan sekaligus.
- Pada jagung, cabai, tomat, dan beberapa jenis sayuran, pupuk organik sebaiknya
ditempatkan pada lubang tanam satu minggu sebelum bibit ditanam.
- Pada media tanam dalam pot, perbandingan antara kompos dan tanah yang ideal adalah
1:1. sementara itu, perbandingan pupuk kandang dan tanah yang ideal adalah 1:3.
- Jika harus menggunakan pupuk organik yang belum terurai sempurna (rasio C/N masih
tinggi) harus diberi jeda waktu antara pemberian pupuk organik dan penanaman bibit
yakni minimal satu minggu. Hal itu dilakukan untuk menghindari dampak buruk yang
mungkin terjadi pada tanaman ketika proses penguraian pupuk organik berlangsung.
Kompos adalah hasil penguraian parsial/ tidak lengkap dari campuran bahan-bahan
organik yang dapat dipercepat secara arti fisial oleh populasi berbagai macam mikroba
dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan
pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis
khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai energi.
Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos
dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang
pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, penambahan aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata bahan
organik sampah mencapai 80%. Sehingga pengomposan merupakan alternatif
penanganan yang sesuai.
Bahan baku pengomposan adalah semua matrial yang mengandugn karbon dan
nitrogen seperti kotoran hewan, sampah hijau, sampah kota, lumpur cair, dan limbah
industri pertanian.

1. Pertanian
Limbah residu tanaman
Seperti : jeram dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung dan lain-lain
Limbah dan residu ternak
Seperti : kotoran padat lombah ternak cair pekan ternak cairan biogas
Tanaman air
Seperti : azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air
2. Industri
Limbah padat
Seperti : serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit.
Limbah cair
Seperti : alkohol, lombah pengolahan kertas dan lain-lain.
3. Rumah tangga
Sampah : sampah padat rumah tangga dan sampah kota rumah tangga
Limbah cair dan padat
Seperti : tinja atau urin
Manfaat kompos
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik
tanah akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandugan air tanah.
Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanah tanaman akan meningkatkan dan
menambahkan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur
hara dari tanah.
Kompos memiliki banyak manfaat ditinjau dari beberapa aspek:
1. Aspek ekonomi
-

Menghambat biaya utnuk transportasi dan penimbunan limbah

Mengurangi volume / ukuran limbah

Memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada bahan asalnya

2. Aspek lingkungan
-

Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana
dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri nitrogen di tempat
pembuangan sampah.

Mengurangi kebutuhan lahan penimbunan.

3. Aspek bagi tanah / tanaman


-

Meningkatkan kesuburan tanah

Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah

Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah

Meningkatkan aktivitas mikroba tanah

Meningkatkan kulaitas hasil panen

Menyediakan hormon dan aktivitas bagi tanaman

Menekan pertumbuhan / serangan penyakit tanah

Mutu Kompos
1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna
serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan.
2. Penggunaan kompos yang belum mortang akan menyebabkan terjadinya
persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
3. Komposisi yang baik memiliki beberapa air sebagai berikut :
-

Berwarna coklat tua, hingga mirip tanah

Tidak larut dalam air, meski sebagian dapat membentuk suspensi

Nisbah C/N sebesar 10-20, tergantung dari bahan baku

Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah

Suhunya suhu lingkungan

Tidak berbau

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan


1. Rasio C / N
Yang efektif utnuk proses pengomposan adalah rasio C/N 30 : 1 hingga 40 : 1,
mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan N untuk sintesis protein.
2. Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Ukuran partikel juga
menentukan besarnya ruang antar bahan untuk meningkatkan luas permukaan dapat
memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
3. Aerasi secara alami akan terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat
keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos.
4. Porositas

Merupakan ruang antara partikel di dalam kompos. Ruang rongga ini akan diisi
oleh air dan udara. Apabila rongga dipenuhi oleh air. Maka pasokan oksigen akan
berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
5. Kelembapan
Kelembapan 40-60% adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila
dibawah 40% aktivitas mikroba menurun bila lebih rendah pada 15%.
6. Temperatur
Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan
semakin cepat pula proses dekomposisi, sekitar 30-60C.
7. pH
proses pengomposan terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH optimum berkisar 6,57,5.
8. kandungan hara
kandungan P dan K juga penting dalam pengomposan.

IV.
-

PROSEDUR KERJA

Menghancurkan sampah kota lalu mencampurkannya dengan serbuk gergaji dan tanah
bakar secara merata.

Menyiramkan larutan EM4 ke dalam padatan tersebut hingga merata.

Memasukkannya ke dalam 2 polibag yang telah disiapkan,

Mengukur berat masing-masing kompos yang di dalam polibag.

Mengukur suhu, pH, tinggi, bau, warna dan teksturnya.

Pengamatan di lakukan sampai hari ke-7

Prosedur analisa
Analisa kadar air di dalam kompos
-

Menimbang 2 gram kompos yang telah jadi.

Lalu mengeringkannya di didalam oven selama 1,5 jam

Setelah itu menimbang kembali kompos yang telah di keringkan

Menghitung kadar air


% kadar air =

V.

DATA PENGAMATAN

VI.

PERHITUNGAN

VII.

ANALISA PERCOBAAN

VIII.

KESIMPULAN

IX.

DAFTAR PUSTAKA

X.

GAMBAR ALAT